Senin, 20 Januari 2020

PUNYA SIAPA?


Setiap kali hendak berangkat sekolah, ibu tak pernah lupa membisikkan doa di kedua telingaku setelah aku mencium tangannya dengan penuh khidmat. Aku tak pernah mengerti apa maksud dari doa itu. Tapi aku sangat yakin, bahwa doa semua ibu kepada anaknya selalu berisi kebaikan dan diikuti oleh ketulusan hati.
“Ibu, aku berangkat dulu ya,” aku memandang mata ibu yang sangat teduh layaknya pohon akasia.
Saat itu, Ibu pasti membelai rambutku dengan cinta kasih yang utuh. Cinta kasih yang tak pernah berkurang di segala musim. Musim rindu, musim luka, atau bahkan musim rahasia yang dibicarakan oleh batu-batu. Semuanya akan tetap sempurna.
Sejak dua tahun lalu, aku kehilangan seorang ayah akibat kecelakan tragis yang dialami oleh bis jurusan madura-jakarta. Bis yang memuat orang yang biasa kusebut bapak harus bergelinding akibat rem blong yang tak disangka-sangka. Sungguh peristiwa yang takkan pernah kulupakan sepanjang hayat.
Dari dulu, aku selalu diajarkan untuk hidup mandiri dan hemat dalam segala sesuatu. Kehidupan keluarga yang pas-pasan memaksaku untuk menahan hasrat memiliki sepeda yang bisa mengantarkanku ke tempat tujuan dengan lebih cepat. Aku harus berjalan kaki selama sepuluh menit untuk sampai di sekolah.
Cuaca hari ini sangat cerah. Mentari tersenyum manis layaknya seorang perawan yang baru saja keluar dari ruang perawatan. Sinarnya yang tak terlalu panas membuat energi tubuh menjadi lebih segar. Beberapa kicauan burung terdengar mendendangkan kuasa Tuhan yang tak bisa dituliskan. Desir angin pun tak mau kalah mengabarkan berita kerinduan seorang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Sesampainya di sekolah, Bu guru tak mengajarkan materi yang seharusnya dipelajari hari ini. Beliau lebih banyak bercerita tentang sebuah kehidupan dunia masa depan yang dikemas dengan sangat baik hingga bisa dipahami oleh kami.
“Anak-anak, sekarang kita tidak akan belajar materi di buku. Cuma sekarang ibu pengen tahu, apa cita-cita kalian?”
Semuanya terdiam. Tidak ada yang bersuara kecuali jangkrik yang kebetulan lewat di meja paling belakang. Seolah kami mendapatkan pertanyaan paling sulit yang jawabannya berada di ujung dunia. Pikiran kami saat itu masih sebatas anak-anak. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab.
“Aku ingin abadi bu,” jawabku singkat.
Spontan semua teman-teman yang hadir langsung tertawa mendengar pernyataanku. Sepasang mata yang tadinya tertuju ke segala arah kini terpusat padaku. Seolah aku menjawab pertanyaan ibu dengan jawaban yang salah.
“Maksudmu gimana nak?” ibu guru itu mendekatiku.
Aku sedikit gugup. Tapi dengan keberanian yang tersisa, kucoba untuk tetap teguh dan tegap menghadapi segala hujatan dari teman-teman. Sepertinya mereka masih belum paham dengan apa yang kumaksud.
Kemudian aku membuka tas, memberikan sebuah catatan panjang yang kumulai dari hal-hal yang tidak penting dan masih tanpa akhir.
##@@##
Catatan hidup.
Aku telah banyak menonton film kartun yang ditayangkan di televisi. Mulai dari spongebob, doraemon, dora, hingga upin ipn yang selalu memberikan pelajaran di setiap episode. Hingga aku paham, mana yang baik, mana yang pura-pura baik, dan mana yang jahat. Semuanya terlihat dari beberapa adegan yang sengaja ditampilkan dan sengaja disembunyikan.
Kelak apabila aku sudah dewasa, ingin sekali kuajak anak-anak bermain dalam ciptaanku yang entah akan berujung pada pujian atau hinaan. Aku tak peduli dengan semua itu. Intinya di sini aku ingin menghabiskan hidup dengan tertawa dan terus bahagia. Dengan catatan tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar agama.
Sekarang tidak penting berapa banyak uang yang kau punya, berapa pangkat yang kau sandang, dan berapa hutang yang masih kau tanggung. Sebab kehidupan masih berjalan. Bisa jadi hal itu tetap, berubah dalam jangka waktu panjang, atau bahkan berubah di waktu yang tak disangka-sangka. Intinya kehidupan itu untuk dijalani, bukan dipungkiri.
Ibu guru yang membaca sekilas tulisan ini sedikit tercengang. Dia heran mengapa anak sekecil aku sudah mampu merangkai kata dari sebuah fakta menjadi sedmikian rupa. Seolah aku adalah anak ajaib yang diberikan kelebihan oleh Tuhan. Padahal tidak, ibu guru itu tak pernah tau apa yang sebenarnya. Sebab dia tak mau bertanya, apa yang sebanrnya ada di balik itu.
Kemduian dia kembalikan kertas itu ke mejaku. Teman-teman yang lain berebutan ingin melihat apa isi tulisan kertas itu. Tapi dengan cepat semuanya kuamankan. Aku hanya tak ingin teman-temanku  tahu saja. Selebihnya tak ada apapun yang kusembunyikan.
“Ini nak,”
Aku menerima kertas itu dengan senyum. Sepertinya Bu Guru sudah mengerti dengan apa yang kumaksud. Dan tapi tampaknya dia juga tidak tahu siapa yang berada di balik semua itu. Sebab dia memang sengaja tidak meninggalkan identitas. Karena baginya, identitas hanya sebuah bentuk eksistensi yang tak bernilai dibanding keikhlasan.
“Ibu,Ibu,” panggil anak di pojok kanan.
Ibu guru mengalihkan pandangan padanya.
“Iya nak?”
“Aku ingi jadi pilot,” dia menunjukkan sebuah gambar pesawat dan orang yang ada di pinggirnya.
Ibu guru dan sebagian yang lain tertawa mendengar itu. Bukan berarti kami meragukan mimpinya. Tapi jika dipandang dengan kaca mata sederhana, mana ada orang pelosok yang mampu menembus kekejaman kota yang komplit kemudian menjadi orang di balik kemudi pesawat.
##@@##
Aku pulang dengan keadaan tak karuan. Tas hitam pemberian ayah tiga tahun lalu kuletakkan di gantungan. Segera kurebahkan badan sambil membayangkan masa depan yang masih menggantung di langit. Sebuah kemungkinan yang berpotensi gagal.
Kubuka kembali lembaran itu. Lembaran kusam yang menyimpan sebuah mimpi tak terwujud akibat terkubur oleh takdir. Orang yang ada di sana mungkin akan marah sebab karyanya telah kupakai tadi di sekolah. Tapi aku dengan sangat yakin, orang itu akan ikhlas dengan apa yang baru saja kulakukan.
“Aku merindukanmu,” batinku berbicara.
Kulihat kembali foto lama yang kusimpan di balik tumpukan buku. Kau tersenyum dengan begitu indah. Seolah tak pernah ada beban dalam pikiranmu. Padahal tidak, semua hanya kau tutup-tutupi saja agar kau terlihat baik-baik saja. Foto itu adalah satu-satunya media yang bisa mengobati rindu. Rindu yang tak sama dengan rindu para bucin kepada kekasihnya.
Setelah beberapa kali kubolak-balik kertas itu. Kemungkinan semuanya aman. Kututup erat-erat semuanya dan kembali kubersihkan pikiran dari segala hal yang mengganggu: kenangan, senyuman, hingga kematian yang tak pernah berpamitan. Ah sungguh semuanya sangat menyebalkan.
Tanpa kusadari ternyata saat aku sudah nyenyak, ibu selalu masuk ke kamar dan duduk di samping ranjangku. Beliau menatapku, kemudian mengelus-mengelus pipiku yang sering menjadi sasaran tetangga saat aku masih balita. Begitulah seorang ibu, akan selalu menganggap anaknya sebagai balita kecil yang perlu dibimbing meski sebenarnya sudah dewasa.
Keesokan harinya, aku kembali seperti biasa mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah. Sebab aku yakin, terdapat nilai lebih yang ada di sana. Nilai yang tak bisa ditukar dengan harga dan panjang usia. Sungguh sebuah keistimewaan sendiri yang dimiliki oleh perempuan yang bernama ibu bagi anaknya.
Kemudian aku kembali berjalan menyapa bunga, langit, dan mentari yang tak secerah kemarin. Entahlah, tampaknya dia sedang mengalami masalah yang tak bisa dipahami dengan mudah. Hanya para penyair yang mengerti betul-betul.
Sesampainya di sekolah, ibu guru kembali meminta lembaran itu yang sempat membuatnya terkejut. Apakah benar ini adalah karya seorang anak kecil seumuranku yang masih suka bermain tanpa merasakann pahitnya berjuang? Tulisan yang berisi mimpi bertabur diksi yang menyatu di bawah naungan kenangan.
Dengan cepat kuberikan lembaran itu. Tapi aku masih menutupi semuanya. Menutupi siapakah pemilik karya itu sebenarnya. Dan jika seandainya bu guru tahu, mungkin dia tak akan kaget lagi. Sebab semuanya akan berubah menjadi sebuah kewajaran yang biasa.
“Apa yang kau simpan dari semua ini?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Aku tak menjawab. Biarkan sepi menjadi batas antara pertanyaan dan jawaban yang biasanya bertemu. Biarkan ragu dan curiga bercampur menjadi satu membentuk alis yang lebih dekat. Padahal aku hanyalah seorang murid, tapi bodo amat, menurutku itu lebih baik.
##@@##
Dari peristiwa itu, aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku disangka orang pintar yang mampu mengubah dunia dengan kata-kata. Seolah aku adalah generasi penyair yang siap menyingsong zaman dengan segala keterbatasan. Biarlah, biarlah semuanya melebur dalam kenangan.
Pada akhirnya, aku hanya bisa menulis kembali dengan keadaanku yang jauh dari sempurna. Mmberikan sebuah penjelasan kepda Bu Guru bahwasanya semua itu bohong. Tak ada kehebatan, tak ada kebaikan, dan kukembalikan semua pujian itu pada yang berhak menerimanya: yakni Tuhan.
            Dengan berat hati harus kusampaikan bahwasanya, tulisan itu berasal dari tangan seorang laki-laki yang biasa kupanggil kakak. Kakak yang selalu membuly adeknya, kakak yang selalu menjewer adeknya, dan tentu kakak yang sangat sayang terhadap adiknya.
Jadi, tulisan itu sebenarnya hanya sebuah tulisan berisi  mimpi untk menjadi seorang penulis kece. Berawal dari tahap awal, kakak selalu belajar dari pengalaman dan masukan dari orang lain. Semua itu sempat kakak rangkum dalam selembar kertas itu.
Namun seiring perjalanan waktu, ternyata takdir tak selamanya berpihak pada kita. Kakak satu-satunya yang kusayangi harus menelan kematian setelah dirawat di rumah sakit selama tujuh hari. Entah penyakit apa yang dia terima. Tapi yang jelas, wajahnya selalu mencairkan aura positif pada sekitarnya.
Beberapa minggu kemudian aku menemukan kertas itu tergeletak di kamar kakak. Kuambil dan kubaca karya itu. Anehnya, entah karena apa, aku tiba-tiba ingin menjadi abadi seperti kakak dulu. Apapun caranya, aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin.
Maafkan aku bapak, ibu, dan kakak yang tentu pasti sudah tahu dengan apa yang kulakukan. Semoga saja Tuhan mengampuni semua ini. Meski aku hanyalah seorang hamba yang sering melakukan kesalahan dan dosa. Tapi apa salahnya saling mengingatkan, toh semuanya tanpa ada promosi.
Setelah selesai menulis, segera kukirimkan segara kunci kehidupan yang kusimpan rapat-rapat. Semoga semuanya lancar.

Tidak ada komentar: