Selasa, 04 Februari 2020

PENGALAMAN MENULIS

Menjadi seorang penulis adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Di sini saya bisa berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan yang mungkin para pembaca belum tahu. Selain itu, saya juga bisa mengungkapkan segala sesuatu dengan lebih bebas dan tuntas tanpa harus peduli bagaimana respon orang-orang.
Banyak hal yang harus dipersiapkan dalam menulis. Seperti refrensi, ketulusan hati, dan semangat yang tak kunjung berhenti. Sebab ada sebagian penulis yang hanya mampu bertahan di waktu yang singkat. Hal tersebut terjadi bisa dikarenakan beberapa hal: kekurangan bahan, bosan, maupun kesibukan lain hingga lupa untuk menulis. Semua itu adalah sebuah fakta yang dialami oleh kebanyakan penulis.
Dari berbagai tulisan yang telah berhasil saya ciptakan, terdapat banyak respon yang disampaikan oleh khalayak umum. Mulai dari kalangan teman, dosen, maupun orang yang belum saya kenal. Ini merupakan salah satu bentuk resiko yang harus penulis terima, entah itu baik atau buruk. Syukur-syukur kritik yang disampaikan bersifat membangun.
Perlu diketahui, bahwa jenis tulisan secara umum terbagi menjadi dua bagian. Yaitu fiksi dan non fiksi. Fiksi berisi tentang sebuah karangan bebas yang tidak terikat fakta dan data bahkan tidak terikat oleh akal yang hanya mampu menjangkau batas normal. Fiksi boleh jadi menembus batas kenormalan yang telah disepakati oleh semua orang secara tidak langsung.
Sedangkan non fiksi adalah karya yang lebih bersifat ilmiah. Di dalamnya berisi sebuah kenyataan dan kadang diikuti oleh beberapa data dan teori yang telah dicetuskan oleh para ahli. Dari tulisan ini, kita dapat banyak belajar tentang keilmuan terbaru yang diikuti oleh bukti nyata yang diberitakan oleh banyak media.
Berdasarkan pembagian di atas, saya pribadi lebih suka menulis sesuatu yang bersifat fiksi. Di sana saya bermain-main dengan pikiran dan imajinasi saya sendiri. Mulai dari hal kecil, besar, hingga hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang. Sebab bagi seorang penulis, hal yang paling istimewa adalah mencari sudut pandang spesial sebagaimana dikatakan oleh Darwis (Tere Liye). Misalnya tentang hujan yang rintiknya mendendangkan kenangan, angin yang meniupkan kerinduan, maupun indahnya ilalang saat musim semi. Tentu semuanya akan sangat indah sekali.
Selanjutnya, dari sini saya juga mulai belajar mengasah nalar, menjadi lebih peka pada keadaan, dan berusaha menafsirkan segala sesuatu yang masih menjadi rahasia. Penulis yang baik selalu paham keadaan yang biasanya oleh kebanyakan orang dianggap sesuatu yang tidak penting. Padahal di dalamnya terdapat ide istimewa yang jika dijabarkan akan menjadi sesuatu yang luar biasa.
Perjalanan kepenulisan saya masih bisa dikatakan tergolong muda. Semangat kepenulisan saya bermula sejak saya menjadi mahasiswa baru. Seseorang yang masih baru keluar dari ikatan seragam, larangan membawa HP, dan tentu seseorang yang baru membangun idealisme baru di tengah-tengah kekacauan moral yang melanda negeri ini.
Dengan semangat baru, akhirnya saya mencoba menulis karya sederhana seperti halnya puisi, cerpen, hingga sempat merangkai novel meskipun akhirnya saya buang naskahnya karena dilanda kebingungan. Dari sini saya banyak belajar bagaimana cara mennulis yang baik mulai dari mendapatkan ide, merangkai alur, dan mengeksekusinya dengan kata-kata yang dapat dipaham.
Selain belajar otodidak, saya juga mengikuti beberapa komunitas kepenulisan baik yang bersifat online maupun offline. Seperti halnya Komunitas Sastra Titik Koma, Sahabat Lingkar Penulis, Anak Sastra Indonesia, dan masih banyak lagi yang lain. Hal ini bertujuan untuk mengeruk ilmu lebih banyak pada yang lebih berpengalaman maupun yang sepantaran.
Sempat suatu ketika, salah satu karya kumpulan puisiku diolok-olok oleh teman komunitas. Mereka mengatakan bahwa karyaku masih belum pantas untuk dipublikasikan. Rasa sakit pastinya kurasakan saat itu. Mengingat itu adalah sebuah perjuanganku sendiri dalam mencapai tujuan, yaitu menerbitkan buku. Tapi dari situ saya belajar, bahwa masih banyak hal-hal yang harus saya benahi dalam hal kepenulisan.
Dari komunitas ini saya belajar mengenal kata lebih dalam. Memahami makna sebuah isyarat dengan berbagai dasar yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Merenungi bagaimana angin bertiup, daun-daun berguguran, maupun gelombang pantai yang tak pernah bosan melagukan kerinduan. Aku di sini seperti orang sakti yang bisa mengubah segala sesuatu sesuai keinginanku.
Namun yang perlu diingat, dalam menulis jangan sampai kita menyebarkan kebencian maupun informasi-informasi palsu yang masih tidak jelas sumbernya. Sebab banyak di zaman sekarang yang bertengkar lewat tulisan, saling menghina lewat tulisan, maupun menyebarkan kesesatan lewat tuisan. Itulah hal-hal yang harus kita hindari dalam menulis.
Banyak orang yang masih bingung untuk memulai menulis. Baik itu dari ide, bagaimana merangkai kata, maupun di sesi finishing. Kebingungan-kebingungan itu yang banyak membuat para penulis pemula berhenri menulis. Padahal itu bukanlah alasan jika memang benar-benar ingin menjadi penulis. Sebab dalam menulis, hal yang paling penting adalah bagaimana kita terus melatih skill menulis diikuti dengan membaca banyak buku berkualitas.

1 komentar:

Deddy HuSein mengatakan...

Mantab mas Kholil. Semangat!