Menjadi
seorang penulis adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Di sini saya bisa
berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan yang mungkin para pembaca belum
tahu. Selain itu, saya juga bisa mengungkapkan segala sesuatu dengan lebih
bebas dan tuntas tanpa harus peduli bagaimana respon orang-orang.
Banyak
hal yang harus dipersiapkan dalam menulis. Seperti refrensi, ketulusan hati,
dan semangat yang tak kunjung berhenti. Sebab ada sebagian penulis yang hanya
mampu bertahan di waktu yang singkat. Hal tersebut terjadi bisa dikarenakan
beberapa hal: kekurangan bahan, bosan, maupun kesibukan lain hingga lupa untuk
menulis. Semua itu adalah sebuah fakta yang dialami oleh kebanyakan penulis.
Dari
berbagai tulisan yang telah berhasil saya ciptakan, terdapat banyak respon yang
disampaikan oleh khalayak umum. Mulai dari kalangan teman, dosen, maupun orang
yang belum saya kenal. Ini merupakan salah satu bentuk resiko yang harus
penulis terima, entah itu baik atau buruk. Syukur-syukur kritik yang
disampaikan bersifat membangun.
Perlu
diketahui, bahwa jenis tulisan secara umum terbagi menjadi dua bagian. Yaitu
fiksi dan non fiksi. Fiksi berisi tentang sebuah karangan bebas yang tidak
terikat fakta dan data bahkan tidak terikat oleh akal yang hanya mampu
menjangkau batas normal. Fiksi boleh jadi menembus batas kenormalan yang telah
disepakati oleh semua orang secara tidak langsung.
Sedangkan
non fiksi adalah karya yang lebih bersifat ilmiah. Di dalamnya berisi sebuah
kenyataan dan kadang diikuti oleh beberapa data dan teori yang telah dicetuskan
oleh para ahli. Dari tulisan ini, kita dapat banyak belajar tentang keilmuan
terbaru yang diikuti oleh bukti nyata yang diberitakan oleh banyak media.
Berdasarkan
pembagian di atas, saya pribadi lebih suka menulis sesuatu yang bersifat fiksi.
Di sana saya bermain-main dengan pikiran dan imajinasi saya sendiri. Mulai dari
hal kecil, besar, hingga hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan
orang. Sebab bagi seorang penulis, hal yang paling istimewa adalah mencari
sudut pandang spesial sebagaimana dikatakan oleh Darwis (Tere Liye). Misalnya
tentang hujan yang rintiknya mendendangkan kenangan, angin yang meniupkan
kerinduan, maupun indahnya ilalang saat musim semi. Tentu semuanya akan sangat
indah sekali.
Selanjutnya,
dari sini saya juga mulai belajar mengasah nalar, menjadi lebih peka pada
keadaan, dan berusaha menafsirkan segala sesuatu yang masih menjadi rahasia.
Penulis yang baik selalu paham keadaan yang biasanya oleh kebanyakan orang
dianggap sesuatu yang tidak penting. Padahal di dalamnya terdapat ide istimewa
yang jika dijabarkan akan menjadi sesuatu yang luar biasa.
Perjalanan
kepenulisan saya masih bisa dikatakan tergolong muda. Semangat kepenulisan saya
bermula sejak saya menjadi mahasiswa baru. Seseorang yang masih baru keluar
dari ikatan seragam, larangan membawa HP, dan tentu seseorang yang baru
membangun idealisme baru di tengah-tengah kekacauan moral yang melanda negeri
ini.
Dengan
semangat baru, akhirnya saya mencoba menulis karya sederhana seperti halnya
puisi, cerpen, hingga sempat merangkai novel meskipun akhirnya saya buang
naskahnya karena dilanda kebingungan. Dari sini saya banyak belajar bagaimana
cara mennulis yang baik mulai dari mendapatkan ide, merangkai alur, dan mengeksekusinya
dengan kata-kata yang dapat dipaham.
Selain
belajar otodidak, saya juga mengikuti beberapa komunitas kepenulisan baik yang
bersifat online maupun offline. Seperti halnya Komunitas Sastra Titik Koma,
Sahabat Lingkar Penulis, Anak Sastra Indonesia, dan masih banyak lagi yang
lain. Hal ini bertujuan untuk mengeruk ilmu lebih banyak pada yang lebih
berpengalaman maupun yang sepantaran.
Sempat
suatu ketika, salah satu karya kumpulan puisiku diolok-olok oleh teman
komunitas. Mereka mengatakan bahwa karyaku masih belum pantas untuk
dipublikasikan. Rasa sakit pastinya kurasakan saat itu. Mengingat itu adalah
sebuah perjuanganku sendiri dalam mencapai tujuan, yaitu menerbitkan buku. Tapi
dari situ saya belajar, bahwa masih banyak hal-hal yang harus saya benahi dalam
hal kepenulisan.
Dari
komunitas ini saya belajar mengenal kata lebih dalam. Memahami makna sebuah
isyarat dengan berbagai dasar yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Merenungi
bagaimana angin bertiup, daun-daun berguguran, maupun gelombang pantai yang tak
pernah bosan melagukan kerinduan. Aku di sini seperti orang sakti yang bisa
mengubah segala sesuatu sesuai keinginanku.
Namun
yang perlu diingat, dalam menulis jangan sampai kita menyebarkan kebencian
maupun informasi-informasi palsu yang masih tidak jelas sumbernya. Sebab banyak
di zaman sekarang yang bertengkar lewat tulisan, saling menghina lewat tulisan,
maupun menyebarkan kesesatan lewat tuisan. Itulah hal-hal yang harus kita
hindari dalam menulis.
Banyak
orang yang masih bingung untuk memulai menulis. Baik itu dari ide, bagaimana
merangkai kata, maupun di sesi finishing. Kebingungan-kebingungan itu yang
banyak membuat para penulis pemula berhenri menulis. Padahal itu bukanlah
alasan jika memang benar-benar ingin menjadi penulis. Sebab dalam menulis, hal
yang paling penting adalah bagaimana kita terus melatih skill menulis diikuti
dengan membaca banyak buku berkualitas.
1 komentar:
Mantab mas Kholil. Semangat!
Posting Komentar