Sabtu, 22 Februari 2020

MATI DALAM MIMPI


Jauh sebelum dunia diciptakan, mungkin banyak sekali yang Tuhan rencanakan dari awal sampai akhir. Mulai dari pertemuan hingga perpisahan, persahabatan hingga permusuhan, dan rasa cinta yang selalu saja menyimpan rahasia. Semua itu tertulis lengkap di lauh mahfudz yang menjadi rahasia paling sempurna.
Di sini, aku sebagai laki-laki kuat tidak pernah mau menjadi seperti ini. Entah apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan, aku pun tak pernah tahu. Rasa itu selalu saja hadir mengganggu konsentrasi yang selalu kususun dengan rapi. Aku sempat berpikir, bagaimana orang-orang hebat itu melakukannya? Apa mungkin aku berbeda dari yang lainnya? Ah entahlah. Semuanya sangat membingungkan.
Sebagai anak satu-satunya, biasanya seluruh perhatian dan kasih sayang orang tua sepenuhnya aku didapatkan. Sebab tidak ada pesaing yang akan mengurangi jatah uang dan barang-barang yang harus dibeli. Tapi sayang itu tak terjadi padaku. Sebagai anak satu-satunya, aku dituntut banyak hal dengan batas waktu yang ditentukan. Ah sial.
Hal pertama-tama yang harus dibangun oleh seorang laki-laki dalam menghadapi semua situasi adalah rasa berani. Kelihatannya ini memang mudah, tapi jangan salah, aku sudah mencobanya beberapa kali tapi selalu saja gagal. Aku harus mampu bertarung dengan diriku sendiri saat keadaan bersekutu dengan orang lain dan aku hanya sendirian.
“Ayo lah, aku pasti bisa,” ucapku pada diri sendiri saat tampil di festival lomba menyanyi.
Ini bukan pertama kali aku mencoba ikut lomba. Terhitung sudah tiga kali aku mencoba naik panggung di depan banyak pasang mata. Dan semuanya berakhir dengan memalukan. Sungguh aku harus banyak memperbaiki diri lagi.
“Halah, kamu tidak akan bisa. Sudah lah, tidak usah memaksakan diri,” diriku yang lain memberikan suntikan negatif.
Setelah membaca doa sambil memejamkan mata, mengambil nafas, akhirnya aku melangkah menuju panggung. Lampu kelap-kelip dan lampu sorot langsung tertuju padaku. Riuh gemuruh penonton bercampur dengan aroma makanan yang dijual oleh pedagang asongan. Semuanya lebur dalam euforia malam minggu yang sangat menakjubkan.
Aku berdiri tepat di depan ribuan pasang mata. Kulihat sejanak satu persatu wajah penonton yang tidak jelas siapakah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan kaum muda yang sedang dahaga cinta. Tak lupa kuingat kembali Tuhan. Dzat yang telah menciptakan dan menyempatkan aku berdiri di sini.
Setelah menyiapkan segala sesuatu ke operator, aku pun mulai bernyanyi salah satu lagu kesukaanku. Judulnya “Surat Cinta Untuk Starla”. Lagu ini sekaligus menjadi bahan nostalgiaku dengan seorang perempuan istimewa yang sempat singgah di hidupku. Siapa tahu dengan begitu aku bisa menghayati lagu yang sedang kunyanyikan.
Lagu dimulai. Aku bernyanyi selama kurang lebih 5 menit degan gaya khasku sendiri. Awalnya masih baik-baik saja. Tepat saat memasuki menit ketiga, rasa itu kembali hadir mengganggu semuanya. Aku dihantui rasa khawatir dan diikat rasa takut yang menjakar ke seluruh peredaran darah. Sepertinya sebentar lagi darah ini akan mendidih dan meluap ke mana-mana.
Akhirnya, suaraku tak senada dengan musik ditambah lagi suaraku yang cempreng membuat banyak telinga tersiksa.
##@@##
Hari baru kabar baru. Sekolahku langsung geger dipenuhi berita ketakutanku tadi malam di atas panggung. Rupanya banyak teman-teman sekolah yang juga ikut menonton di sana. Apa mungkin rasa khawatir itu timbul sebab adanya mereka? Ah entahlah, rasa ini masih belum bisa kubunuh sepenuhnya sejak beberapa tahun yang lalu.
Sebanyak 100 lebih siswa yang ada di sekolah, sepertinya lebih separuh yang sudah tahu perihal kejadian semalam. Mulut orang-orang zaman sekarang emang lebih cepat dari HP bahkan angin sekalipun. Sebagian teman ada yang memberikan motivasi untuk terus belajar, dan sebagian yang lain ada yang malah menjatuhkan.
“Dasar bodoh!”
“Makanya latihan dulu sebelum tampil,”
“Ya udah tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirin,”
Dari peristiwa itu, aku menemukan banyak respon dari banyak kepala. Hingga akhirnya aku paham, mana yang benar-benar teman, dan mana yang sekedar datang saat butuh saja. Ingin rasanya aku lempar kepala orang yang menghinaku dengan batu bata yang sangat besar.
Aku pulang dengan perasaan sedih. Bayangkan, teman-teman kelasku banyak yang menertawakanku saat jam istirahat. Seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat melakukan. Padahal menurutku, aku masih belajar menjadi lebih baik. Oh Tuhan, berikan hamba kekuatan.
Sepanjang jalan pulang aku hanya bisa menangis sambil menunduk memperhatikan jalan. Sesekali aku menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalanku. Aku sempat berpikir hidup ini memang tidak adil. Banyak sekali perbedaan antara aku dan yang lain. Dan dalam posisi sekarang, akulah yang dirugikan. Aku tak sanggup tuk sekedar mengalahkan diriku sendiri, apalagi orang lain.
Perjalanan terasa lebih lama. Pikiranku mulai pergi kemana-mana. Membandingkan hidup teman yang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangunan di pinggir jalan. Entah bangunan apa itu, yang jelas banyak sekali orang yang berhenti di sana.
Ada yang sibuk berduaan dengan pacar, ada yang menyuapi anaknya, dan ada yang hanya sibuk sendiri memandangi HP dan menscroll status teman satu persatu. Aku kemudian bergabung ke sana dan lebih memilih duduk dan diam sejenak. Kuletakkan tas yang berisi buku dan alat tulis di samping kananku. Aku pun diam.
Jam masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Biasanya, aku sudah pulang sejak sejam yang lalu. Tapi karena aku materi tambahan pada kelas akhir, akhirnya aku baru pulang. Angin berdesir pelan. Suara klakson terdengar bersahut-sahutan antara yang satu dan yang lain. Bercampur dengan debu-debu yang selalu menerbangkan cerita ke sudut cakrawala.
“Kacangnya dek?” seorang bapak tua datang menawarkan kacang.
“Oh tidak pak, terima kasih,” tolakku halus.
##@@##
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada ibu. Perihal teman-teman yang mengejekku atas kejadian semalam, perihal guru-guru yang sudah meragukan kemampuan bicaraku, dan perihal segala sesuatu yang kurasakan dalam hati. Semua itu kuungkapkan dengan harapan ibu bisa memberiku motivasi agar tetap kuat bertahan dan berjuang menggapai harapan. Tapi sayang, ibu hanya menanggapi semua itu dengan biasa saja.
“Sudahlah, kamu ini laki-laki, masak seperti itu saja sudah ngeluh,” Ibu kemudian berlalu ke dapur.
Aku kembali menundukkan kepala di ruang tengah. Seseorang yang kukira akan mampu untuk memadamkan bara luka ternyata malah semakin mengobarkan api di setiap sudut hati. Aku sekarang mulai berpikir apakah di dunia ini memang tidak ada sama sekali orang yang peduli padaku?
Satu menit kemudian bapak datang. Sebagai seorang sales, dia harus banyak bicara seharian menawarkan suatu barang pada orang-orang. Jika untung maka akan banyak pembeli yang berminat pada barang bapak. Sebaliknya, jika tidak ada orang yang tertarik, maka hanya suara saja yang habis.
Beliau kemudian duduk di depanku. Melepas bajunya hingga terlihat kaos putih tipis yang melekat di badannya. Keringat berucucuran dari setiap arah tubuh beliau. Kuperhatikan sejenak wajah beliau. Tampak bahwa beliau benar-benar lelah setelah seharian berjalan mencari palanggan dan berusaha tersenyum di hadapan mereka. Aku merasa bersalah jika menyerah saat melihat wajah beliau.
“Ada apa?” tanya bapak setelah sadar aku manatapnya dari tadi.
Pikiranku kabur. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kembali apa yang telah kuceritakan pada ibu. Semoga saja bapak mau memberikan solusi terbaik atas permasalahan ini. namun lagi-lagi sayang, bapak malah menambah beban berat di pikiranku.
“Gitu saja sudah sakit hati! Kamu ini laki-laki! Harus kuat!” bapak langsung beranjak.
Deg. Aku merasakan ada beban besar yang jatuh pada kepala dan hatiku secara bersamaan.
Aku pun pergi ke kamar dan menguncinya dari dalam. Saat ini tidak ada yang boleh masuk. Aku ingin menenangkan diri sejenak bersama kata-kata yang selalu mau menerimaku apa adanya. Sebelum itu, aku ingin mandi tuk membasuh segala luka yang dari tadi bertubi-tubi diberikan oleh banyak orang.
Di dalam kamar, aku hanya duduk di balik jendela sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang. Tak lupa bulan juga ada di sana. Mereka seperti sebuah keluarga yag sangat rukun menghiasi semesta. Ada yang besar, kecil, dan ada yang sangat kecil. Konon katanya jika ada bintang jatuh maka segeralah berdoa, sebab waktu itu adalah salah satu waktu mustajab. Entah benar atau tidak, aku pun tak tahu.
Aku mulai berpikir tentang diriku sendiri. Sudah banyak percobaan yang kulakukan tapi selalu berujung kegagalan. Mungkin setelah ini akan ada gagal lagi yang harus kurasakan. Ingin sekali aku bertemu dengan rasa itu kemudian membunuhnya secara terang-terangan agar tidak datang lagi saat aku tampil di depan umum. Tak peduli pada apapun resikonya. Sebab ini sudah terlalu sakit.
Malam ini aku tidak berhasil menemukan apa-apa dari perenungn terhadap malam. Hanya saja, emosi terus membuncah dalam dada hingga aku tertidur dalam kemarahan besar.
##@@##
Aku sekarang bisa melihatnya. Dia berupa semacam manusia yang sangat mengerikan dan selalu bersedih di manapun berada. Tak jelas apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang jelas, dia tidak pernah mau tersenyum sedikit pun. Sebab dia memang tercipta dari luka, kesedihan, dan beberapa dendam yang sangat dalam.
Pelan-pelan aku mengikutinya dari belakang. Dia semakin cepat berlari, aku pun mengikutinya. Aku berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya. Dia pun berhenti pada sebuah pemakaman di salah satu kuburan kosong dan tampak masih baru seleai digali.
Aku mulai merasa takut. Dia berhenti tanpa bergerak sedikit pun. Di tanganku sudah siap sebilah pisau yang sudah kuasah dengan air mata. Sedikit saja kulit manusia terkena ujung pisau ini, maka niscaya darah segar akan langsung mengalir. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, rasa itu akan menghilang untuk selamanya.
Aroma kematian semakin tercium. Tanpa menunggu waktu lagi, kugores pisau ini tepat di lehernya seperti sedang menyembelih hewan. Dia pun menggelepar-gelepar layaknya ayam yang baru selesai disembelih. Aku melihatnya dengan perasaan menang karena telah menyelesaikan misi.
Namun apa yang selanjutnya terjadi?
Dia kemudian menarikku ke lubang itu hingga aku tidak bisa bangun lagi.

Tidak ada komentar: