Jauh sebelum dunia
diciptakan, mungkin banyak sekali yang Tuhan rencanakan dari awal sampai akhir.
Mulai dari pertemuan hingga perpisahan, persahabatan hingga permusuhan, dan
rasa cinta yang selalu saja menyimpan rahasia. Semua itu tertulis lengkap di
lauh mahfudz yang menjadi rahasia paling sempurna.
Di sini, aku sebagai
laki-laki kuat tidak pernah mau menjadi seperti ini. Entah apa yang sebenarnya
direncanakan Tuhan, aku pun tak pernah tahu. Rasa itu selalu saja hadir
mengganggu konsentrasi yang selalu kususun dengan rapi. Aku sempat berpikir,
bagaimana orang-orang hebat itu melakukannya? Apa mungkin aku berbeda dari yang
lainnya? Ah entahlah. Semuanya sangat membingungkan.
Sebagai anak satu-satunya,
biasanya seluruh perhatian dan kasih sayang orang tua sepenuhnya aku didapatkan.
Sebab tidak ada pesaing yang akan mengurangi jatah uang dan barang-barang yang
harus dibeli. Tapi sayang itu tak terjadi padaku. Sebagai anak satu-satunya,
aku dituntut banyak hal dengan batas waktu yang ditentukan. Ah sial.
Hal pertama-tama yang harus
dibangun oleh seorang laki-laki dalam menghadapi semua situasi adalah rasa
berani. Kelihatannya ini memang mudah, tapi jangan salah, aku sudah mencobanya
beberapa kali tapi selalu saja gagal. Aku harus mampu bertarung dengan diriku
sendiri saat keadaan bersekutu dengan orang lain dan aku hanya sendirian.
“Ayo lah, aku pasti bisa,” ucapku pada diri sendiri saat tampil di
festival lomba menyanyi.
Ini bukan pertama kali aku
mencoba ikut lomba. Terhitung sudah tiga kali aku mencoba naik panggung di
depan banyak pasang mata. Dan semuanya berakhir dengan memalukan. Sungguh aku
harus banyak memperbaiki diri lagi.
“Halah, kamu tidak akan bisa. Sudah lah, tidak usah memaksakan diri,”
diriku yang lain memberikan suntikan negatif.
Setelah membaca doa sambil
memejamkan mata, mengambil nafas, akhirnya aku melangkah menuju panggung. Lampu
kelap-kelip dan lampu sorot langsung tertuju padaku. Riuh gemuruh penonton
bercampur dengan aroma makanan yang dijual oleh pedagang asongan. Semuanya
lebur dalam euforia malam minggu yang sangat menakjubkan.
Aku berdiri tepat di depan
ribuan pasang mata. Kulihat sejanak satu persatu wajah penonton yang tidak
jelas siapakah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan kaum muda yang
sedang dahaga cinta. Tak lupa kuingat kembali Tuhan. Dzat yang telah
menciptakan dan menyempatkan aku berdiri di sini.
Setelah menyiapkan segala
sesuatu ke operator, aku pun mulai bernyanyi salah satu lagu kesukaanku.
Judulnya “Surat Cinta Untuk Starla”. Lagu ini sekaligus menjadi bahan
nostalgiaku dengan seorang perempuan istimewa yang sempat singgah di hidupku.
Siapa tahu dengan begitu aku bisa menghayati lagu yang sedang kunyanyikan.
Lagu dimulai. Aku bernyanyi
selama kurang lebih 5 menit degan gaya khasku sendiri. Awalnya masih baik-baik
saja. Tepat saat memasuki menit ketiga, rasa itu kembali hadir mengganggu
semuanya. Aku dihantui rasa khawatir dan diikat rasa takut yang menjakar ke
seluruh peredaran darah. Sepertinya sebentar lagi darah ini akan mendidih dan
meluap ke mana-mana.
Akhirnya, suaraku tak senada
dengan musik ditambah lagi suaraku yang cempreng membuat banyak telinga
tersiksa.
##@@##
Hari baru kabar baru.
Sekolahku langsung geger dipenuhi berita ketakutanku tadi malam di atas
panggung. Rupanya banyak teman-teman sekolah yang juga ikut menonton di sana.
Apa mungkin rasa khawatir itu timbul sebab adanya mereka? Ah entahlah, rasa ini
masih belum bisa kubunuh sepenuhnya sejak beberapa tahun yang lalu.
Sebanyak 100 lebih siswa
yang ada di sekolah, sepertinya lebih separuh yang sudah tahu perihal kejadian
semalam. Mulut orang-orang zaman sekarang emang lebih cepat dari HP bahkan
angin sekalipun. Sebagian teman ada yang memberikan motivasi untuk terus
belajar, dan sebagian yang lain ada yang malah menjatuhkan.
“Dasar bodoh!”
“Makanya latihan dulu sebelum tampil,”
“Ya udah tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirin,”
Dari peristiwa itu, aku
menemukan banyak respon dari banyak kepala. Hingga akhirnya aku paham, mana
yang benar-benar teman, dan mana yang sekedar datang saat butuh saja. Ingin
rasanya aku lempar kepala orang yang menghinaku dengan batu bata yang sangat
besar.
Aku pulang dengan perasaan
sedih. Bayangkan, teman-teman kelasku banyak yang menertawakanku saat jam
istirahat. Seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat melakukan.
Padahal menurutku, aku masih belajar menjadi lebih baik. Oh Tuhan, berikan
hamba kekuatan.
Sepanjang jalan pulang aku hanya
bisa menangis sambil menunduk memperhatikan jalan. Sesekali aku menendang
batu-batu kecil yang menghalangi jalanku. Aku sempat berpikir hidup ini memang
tidak adil. Banyak sekali perbedaan antara aku dan yang lain. Dan dalam posisi
sekarang, akulah yang dirugikan. Aku tak sanggup tuk sekedar mengalahkan diriku
sendiri, apalagi orang lain.
Perjalanan terasa lebih
lama. Pikiranku mulai pergi kemana-mana. Membandingkan hidup teman yang satu
dengan yang lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu
bangunan di pinggir jalan. Entah bangunan apa itu, yang jelas banyak sekali
orang yang berhenti di sana.
Ada yang sibuk berduaan
dengan pacar, ada yang menyuapi anaknya, dan ada yang hanya sibuk sendiri
memandangi HP dan menscroll status teman satu persatu. Aku kemudian bergabung
ke sana dan lebih memilih duduk dan diam sejenak. Kuletakkan tas yang berisi
buku dan alat tulis di samping kananku. Aku pun diam.
Jam masih menunjukkan pukul
14.00 WIB. Biasanya, aku sudah pulang sejak sejam yang lalu. Tapi karena aku
materi tambahan pada kelas akhir, akhirnya aku baru pulang. Angin berdesir
pelan. Suara klakson terdengar bersahut-sahutan antara yang satu dan yang lain.
Bercampur dengan debu-debu yang selalu menerbangkan cerita ke sudut cakrawala.
“Kacangnya dek?” seorang bapak tua datang menawarkan kacang.
“Oh tidak pak, terima kasih,” tolakku halus.
##@@##
Sesampainya di rumah, aku
menceritakan semuanya pada ibu. Perihal teman-teman yang mengejekku atas
kejadian semalam, perihal guru-guru yang sudah meragukan kemampuan bicaraku,
dan perihal segala sesuatu yang kurasakan dalam hati. Semua itu kuungkapkan
dengan harapan ibu bisa memberiku motivasi agar tetap kuat bertahan dan
berjuang menggapai harapan. Tapi sayang, ibu hanya menanggapi semua itu dengan
biasa saja.
“Sudahlah, kamu ini laki-laki, masak seperti itu saja sudah ngeluh,” Ibu
kemudian berlalu ke dapur.
Aku kembali menundukkan
kepala di ruang tengah. Seseorang yang kukira akan mampu untuk memadamkan bara
luka ternyata malah semakin mengobarkan api di setiap sudut hati. Aku sekarang
mulai berpikir apakah di dunia ini memang tidak ada sama sekali orang yang
peduli padaku?
Satu menit kemudian bapak
datang. Sebagai seorang sales, dia harus banyak bicara seharian menawarkan
suatu barang pada orang-orang. Jika untung maka akan banyak pembeli yang
berminat pada barang bapak. Sebaliknya, jika tidak ada orang yang tertarik,
maka hanya suara saja yang habis.
Beliau kemudian duduk di
depanku. Melepas bajunya hingga terlihat kaos putih tipis yang melekat di
badannya. Keringat berucucuran dari setiap arah tubuh beliau. Kuperhatikan
sejenak wajah beliau. Tampak bahwa beliau benar-benar lelah setelah seharian
berjalan mencari palanggan dan berusaha tersenyum di hadapan mereka. Aku merasa
bersalah jika menyerah saat melihat wajah beliau.
“Ada apa?” tanya bapak setelah sadar aku manatapnya dari tadi.
Pikiranku kabur. Akhirnya
aku memutuskan untuk menceritakan kembali apa yang telah kuceritakan pada ibu.
Semoga saja bapak mau memberikan solusi terbaik atas permasalahan ini. namun
lagi-lagi sayang, bapak malah menambah beban berat di pikiranku.
“Gitu saja sudah sakit hati! Kamu ini laki-laki! Harus kuat!” bapak
langsung beranjak.
Deg. Aku merasakan ada beban besar yang jatuh pada kepala dan hatiku
secara bersamaan.
Aku pun pergi ke kamar dan
menguncinya dari dalam. Saat ini tidak ada yang boleh masuk. Aku ingin
menenangkan diri sejenak bersama kata-kata yang selalu mau menerimaku apa
adanya. Sebelum itu, aku ingin mandi tuk membasuh segala luka yang dari tadi
bertubi-tubi diberikan oleh banyak orang.
Di dalam kamar, aku hanya
duduk di balik jendela sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang.
Tak lupa bulan juga ada di sana. Mereka seperti sebuah keluarga yag sangat
rukun menghiasi semesta. Ada yang besar, kecil, dan ada yang sangat kecil.
Konon katanya jika ada bintang jatuh maka segeralah berdoa, sebab waktu itu
adalah salah satu waktu mustajab. Entah benar atau tidak, aku pun tak tahu.
Aku mulai berpikir tentang
diriku sendiri. Sudah banyak percobaan yang kulakukan tapi selalu berujung
kegagalan. Mungkin setelah ini akan ada gagal lagi yang harus kurasakan. Ingin
sekali aku bertemu dengan rasa itu kemudian membunuhnya secara terang-terangan
agar tidak datang lagi saat aku tampil di depan umum. Tak peduli pada apapun
resikonya. Sebab ini sudah terlalu sakit.
Malam ini aku tidak berhasil
menemukan apa-apa dari perenungn terhadap malam. Hanya saja, emosi terus
membuncah dalam dada hingga aku tertidur dalam kemarahan besar.
##@@##
Aku sekarang bisa
melihatnya. Dia berupa semacam manusia yang sangat mengerikan dan selalu
bersedih di manapun berada. Tak jelas apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang
jelas, dia tidak pernah mau tersenyum sedikit pun. Sebab dia memang tercipta
dari luka, kesedihan, dan beberapa dendam yang sangat dalam.
Pelan-pelan aku mengikutinya
dari belakang. Dia semakin cepat berlari, aku pun mengikutinya. Aku berpikir
sekarang adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya. Dia pun berhenti pada
sebuah pemakaman di salah satu kuburan kosong dan tampak masih baru seleai
digali.
Aku mulai merasa takut. Dia
berhenti tanpa bergerak sedikit pun. Di tanganku sudah siap sebilah pisau yang
sudah kuasah dengan air mata. Sedikit saja kulit manusia terkena ujung pisau
ini, maka niscaya darah segar akan langsung mengalir. Tinggal menunggu beberapa
menit lagi, rasa itu akan menghilang untuk selamanya.
Aroma kematian semakin
tercium. Tanpa menunggu waktu lagi, kugores pisau ini tepat di lehernya seperti
sedang menyembelih hewan. Dia pun menggelepar-gelepar layaknya ayam yang baru
selesai disembelih. Aku melihatnya dengan perasaan menang karena telah
menyelesaikan misi.
Namun apa yang selanjutnya terjadi?
Dia kemudian menarikku ke lubang itu hingga aku tidak bisa bangun lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar