Jumat, 21 Februari 2020

DIBUNUH ATAU TIDAK?


Tidak ada yang pernah tahu sebelumnya tentang ini. Perihal senyum yang tak lagi seindah dulu, tawa yang tak lagi selebar dulu, dan kecantikan yang tak lagi sesuci dulu.
“Ada apa Nak?” tanya ibu dengan cemas.
“Tidak ada apa-apa kok bu,” jawabnya berbohong.
Semua orang mungkin tidak akan mengerti. Tapi perlahan-lahan, semuanya akan terungkap dengan jelas. Siapa yang jujur dan siapa yang bohong. Siapa yang berusaha menutupi derita di balik mata indah itu, dan siapa yang pantas menerima hukuman atas semua ini. Sungguh ini akan menjadi sangat berat bagi mereka.
Malam yang indah dengan purnama yang bertengger di angkasa tak seperti suasana hati Fitri. Perempuan itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar sambil menulis sesuatu di kertas kosong. Kejadian beberapa hari yang lalu sungguh telah membuatnya syok. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi apalah daya, kejadian kemarin akan tetap tumbuh menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak.
Hari-hari di penuhi dengan tangis dalam sunyi. Fitri tidak berani untuk berbicara banyak kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang terkenal galak bisa saja memakannya hidup-hidup jika sampai mengerti inti masalah yang sedang terjadi. Ditambah lagi omongan tetangga yang lebih tajam dari samurai pendekar.
Fitri teringat pada seseorang. Dia adalah ahli ramal yang terkenal bisa memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Beberapa orang percaya dengan orang itu dan sebagian yang lain tidak percaya. Awalnya, Fitri adalah bagian dari yang tidak percaya dengan itu. Tapi sejak kejadian beberapa minggu yang lalu, ia mencoba sesuatu yang mungkin bisa menolong dirinya dalam bertindak.
Di hari minggu, Fitri harus rela mengorbankan jatah bermainnya demi menyelesaikan sesuatu yang belakangan ini membuat dirinya tidak nyaman. Sesuatu yang menurut sebagian orang adalah hal lumrah sebagai anak muda. Tidak mungkin jika dia masih menunda-nunda lagi masalah ini. Sebab menunda berarti memperbesar masalah dan mempersulit solusi bagi Fitri.
“Hati-hati kalau mau bertemu dengan beliau,” saran salah satu tetangga yang tahu Fitri akan ke sana.
“Kenapa emang?” Fitri tidak mengerti.
“Tidak sedikit dari kalangan perempuan yag tiba-tiba menghilang selepas pergi dari tempat beliau. Entah itu karena alasan ekonomi, hukum, budaya, maupun yang lain. Saya harap kamu bisa menjaga diri dengan baik. Apalagi kamu masih muda,” perempuan ber-anak satu itu mengingatkan.
“Terus saya harus bagaimana?”
“Perbanyak baca sholawat,” ibu itu kemudian pergi.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Fitri tanyakan tentang beliau. Tapi sayang ibu keburu pergi tanpa jejak sedikit pun. Fitri memandangi sekitar. Beberpa kupu-kupu melintas membawa doa seorang kekasih pada kekasihnya. Fitri berharap semoga kelak ia juga bisa seperti itu.
Suasana desa Fitri tergolong agamis. Setiap waktu sholat, masjid pasti selalu ramai dengan orang berjamaah. Setiap minggu ada kajian keislaman yang dalam rangka meningkatkan pemahaman sekaligus nilai spritual keagamaan warga. Tak jarang tokoh ulama terkemuka hadir di tengah-tengah mereka. menciptakan suasana indah sebagaimana islam datang sebagai rahmatan lil alamin.
##@@##
Fitri berhadapan dengan bapak tua berjenggot putih dan kulit keriput. Di depannya terdapat dupa dengan kembang tujuh rupa diiringi asap dan bau yang sudah akrab di hidung Fitri. Batinnya bergejolak. Ini adalah hal yang paling dia benci dulu, tapi sekarang dirinya sudah mau masuk dalam pintu alam ghaib. Sungguh perasaannya tak karuan.
Bapak tua itu memejamkan mata, kepalanya mengangguk-ngangguk, dan mulutnya bergetar seperti sedang membaca mantra yang entah itu apa. Sesekali tangannya terangkat dan bergoyang-goyang seperti sedang memanggil roh-roh ghaib dari alam lain. Suasana ruangan itu benar-benar sedikit menegangkan. Tapi Fitri berusaha untuk tetap tenang dengan segala apapun yang terjadi.
“Mbah..,” Fitri memanggil pelan.
“Aku sudah tahu apa maksud kedatanganmu ke sini,” si Mbah langsung memotong kata-kata yang hendak diucapkan Fitri.
Fitri langsung terdiam. Ia menegakkan posisi duduknya. Membenarkan letak tas yang dibawanya dari rumah. Kemudian menunduk layaknya seorang santri yang sedang berhadapan dengan kyai.
“Kenapa bisa jadi seperti itu?” si Mbah bertanya dalam posisi mata terpejam.
Fitri mengambil nafas. Kemudian menjawab pertanyaan Mbah dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin seorang pun yang tahu, bahkan seekor semut sekalipun.
“Itu sebuah kecelakaan Mbah,” Fitri sedikit tergugup.
Suasana sunyi sejenak.
“Hahaha..,” si Mbah langsung tertawa setelah enabur bunga merah di atas dupa.
Fitri tidak mengerti. Terbersit dalam benaknya bahwa si Mbah adalah orang gila yang kebetulan saja menjadi ahli ramal. Tapi mungkin dirinya lebih gila lagi karena percaya saja dengan orang gila.
“Tidak usah membohongi Mbah nak, semuanya bisa terlihat di sini,” si Mbah menunjukkan cermil kecil di samping dupa.
Fitri mencoba mendekat. Dilihatnya cermin kecil yang ada di samping dupa. Tapi Fitri tida melihat apapun kecuali wajahnya sendiri. Matanya memicing mencoba mencari sesuatu yang mungkin terselip di antara debu-debu yang menempel di kaca. Tapi sayang Fitri tetap tidak menemukan apa-apa.
“Sudahlah, jujur saja pada Mbah, toh Mbah tetap tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hahaha..,” suara Mbah terdengar semakin bersemangat ketika tertawa.
Fitri merasa terpojok. Tidak ada gunanya dia berbohong pada si Mbah. Kelihatanya si Mbah memang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fitri menarik nafas sejenak. Menghilangkan rasa takut dan was-was yang bisa hinggap dengan cepat. Sedangkan posisi keduanya masih tetap sama seperti tadi.
Tiga detik berlalu. Akhirnya Fitri memutuskan untuk bercerita panjang lebar. Entah konsekuensi apa yang akan dia terima. Intinya, dia benar-benar ingin aman dari segala tuduhan dan cemoohan. Di samping itu, dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi di generasi selanjutnya.
##@@##
Ternyata benar. Ramalan dari si Mbah dua puluh tahun yang lalu menjadi kenyataan. Rumah besar dan mobil mewah menghiasi kehidupan Fitri dan keluarganya. Tidak ada satu pun barang urahan yang terpajang di setiap sudut rumah. Semuanya serba mewah dengan kualitas terbaik baik dari produk dalam negeri hingga luar negeri.
Dua anak Fitri tumbuh subur dan menjadi idola di sekolahnya masing-masing. Prestasi dicapai dengan mudah bahkan berturut-turut tak terkalahkan. Senyum bahagia dan tawa gembira tumpah ruah di keluarga Fitri. Sebagai keluarga berkecukupan, tak jarang Fitri dan suaminya memberikan santunan pada anak yatim sekitar yang kekurangan. Tidak hanya itu, mereka juga tak segan-segan untuk mensedekahkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid.
“Alhamdulillah ya mas, semuanya berjalan lancar,” ucap Fitri pada suatu pagi yang tak terlalu dingin.
“Iya dek, semua ini berkat pertolongan Tuhan,” balas suami Fitri setelah menyeruput kopi yag masih hangat.
Keduanya duduk di taman belakang rumah yang dipenuhi bunga-bunga. Disampingnya terdapat kolam yang cukup besar dengan air yang sangat jernih. Di sisi kanan juga terdapat cangkruk kayu untuk bersantai menikmati kebersamaan keluarga, teman, maupun kerabat jauh yang datang untuk menyambung silaturrahmi.
Matahari semakin naik. Panas semakin mnyengat seiring jarum jam yang terus berputar menunjuka angka-angka. Sesekali angin datang membawa kabar pada ingatan tentang kenangan yang sempat terjadi tempo lalu. Sejenak pikiran Fitri kembali pada dua puluh tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya harus menghapus banyak air mata dan mengobati luka dengan doa-doa.
“Ada apa sayang?” tanya suami Fitri setelah mengetahui istrinya melamun.
“Oh, tidak apa-apa kok Mas,” jawab Fitri galagapan.
Keduanya kembali menikmati pagi. Hari minggu adalah hari libur sekolah dan libur kerja. Rencananya mereka sekeluarga akan pergi jalan-jalan ke pantai. Tempat di mana senja tinggal dan gelombang rindu bertaburan.
Dari arah pintu belakang, putri kedua Fitri datang sambil membawa hasil gambarnya yang dia kerjakan tadi shubuh. Anak yang satu ini memang memiliki jiwa seni yang sangat luar biasa. Sehingga tak heran di kelas dia dijuluki dengan nama si tangan ajaib. Dari tangannya lahir beberapa gambar yang sangat bagus. Namun anehnya, dia tidak pernah mengikutkan hasil karyanya pada lomba-lomba yang ada.
“Ini Ma, bagus nggak?” Putri keduanya menjuurkan sebuah gambar pada Fitri.
Fitri menerima gambar itu dengan tersenyum. Begitu ia buka secara lebih jelas, Fitri langsung terperanjat dengan apa yang ada di dalam gambar itu. Yaitu orang pertama yang telah berhasil membuatnya merasakan luka yang sangat lama. Padahal jauh sebelum itu, kehidupan Fitri masih sangat indah dipenuhi dengan cinta dan canda tawa.
“Wulan tahu dari mana wajah ini?” tanya Fitri dengan halus.
Raut wajah Wulan sedikit berubah. Tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi terkait gambar ini.
“Sini sini, duduk dulu,” suami Fitri yang tiada lain ayah Wulan menyuruhnya duduk.
Setelah berada di posisi yang tepat, akhirnya Wulan menceritakan asal muasal gambar itu. Sebenarnya itu adalah wajah seorang lelaki yang hadir daalam mimpi Wulan semalam. Di mimpi Wulan, laki-laki itu akan datang dengan niat jahat untuk menghancurkan keluarga Fitri. Laki-laki itu sempat mengancam dengan berbagai kalimat yang membuat Wulan takut. Tai sayang Wulan tidak bisa mengingat persis bagaimana alur dan percakapan yang terjadi dalam mimpi.
“Oh ya Tuhan..,” Fitri memandang dengan tatapan kosong.
Sang suami kemudian mengambil gamabr itu dari tangan Fitri. Dilihatnya gambar itu dengan serius seperti sedang mengerjakan soal matematika yang paling sulit. Wajah itu sangat asing bagi suami Fitri. Dalam benaknya dia berpikir, mungkin dia adalah bagian dari masa lalu istrinya yang tidak terlalu penting diungkit.
“Oh iya ada satu lagi,” celetuk Wulan setelah dari tadi mengingat-ingat.
Mata Fitri dan suaminya spontan tertuju pada Wulan secara bersamaan.
“Apa nak?” suami Fitri mengubah posisi duduknya.
“Laki-laki itu sempat mengancam akan membunuh Mama,” mata Fitri mulai berkaca-kaca.
Kedua orang tua Wulan terkejut, terutama Fitri. Sebab dia adalah target utama dari laki-laki itu. Kejadian ini benar-benar persis dengan apa yang pernah diramalkan oleh si Mbah dua puluh tahun yang lalu. Fitri kemudian beranjak pergi kemar dan menguncinya dari dalam. Rupanya kenangan itu telah berhasil masuk dalam pikiran Fitri sepenuhnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dulu, jauh sebelum Fitri mendatangi si Mbah, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang sangat ia cintai. Dua bulan lamanya mereka menjalani kisah cinta sebagaimana sepasang kekasih yang memiliki dunianya sendiri. Tapi sayang, keduanya terjerumus dalam lubang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka melakukan hubungan intim hingga melahirkan Wulan yang saat itu masih tidak tahu apa-apa.
Kemudian Fitri konsultasi pada dukun, apakah lebih baik bayi itu dibunuh atau dibiarkan saja. Ternyata, si Mbah menyarankan agar bayi itu terus dirawat karena akan mendatangkan keberuntungan. Dengan cepat Fitri meminta nikah pada orang tuanya agar janinnya yang masih sangat kecil tidak ketahuan oleh semua orang. Sedangkan kekasih Fitri langsung menghilang setelah mengetahui dia hamil.
Dan sekarang, dia akan datang lagi dengan membawa ancaman yang baru.



Tidak ada komentar: