Tidak ada yang pernah tahu
sebelumnya tentang ini. Perihal senyum yang tak lagi seindah dulu, tawa yang
tak lagi selebar dulu, dan kecantikan yang tak lagi sesuci dulu.
“Ada apa Nak?” tanya ibu dengan cemas.
“Tidak ada apa-apa kok bu,” jawabnya berbohong.
Semua orang mungkin tidak
akan mengerti. Tapi perlahan-lahan, semuanya akan terungkap dengan jelas. Siapa
yang jujur dan siapa yang bohong. Siapa yang berusaha menutupi derita di balik
mata indah itu, dan siapa yang pantas menerima hukuman atas semua ini. Sungguh
ini akan menjadi sangat berat bagi mereka.
Malam yang indah dengan
purnama yang bertengger di angkasa tak seperti suasana hati Fitri. Perempuan
itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar sambil menulis sesuatu di kertas
kosong. Kejadian beberapa hari yang lalu sungguh telah membuatnya syok. Ia
berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi apalah daya, kejadian kemarin akan
tetap tumbuh menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak.
Hari-hari di penuhi dengan tangis dalam sunyi. Fitri
tidak berani untuk berbicara banyak kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang
terkenal galak bisa saja memakannya hidup-hidup jika sampai mengerti inti
masalah yang sedang terjadi. Ditambah lagi omongan tetangga yang lebih tajam
dari samurai pendekar.
Fitri teringat pada
seseorang. Dia adalah ahli ramal yang terkenal bisa memprediksi sesuatu yang
akan terjadi di masa yang akan datang. Beberapa orang percaya dengan orang itu
dan sebagian yang lain tidak percaya. Awalnya, Fitri adalah bagian dari yang
tidak percaya dengan itu. Tapi sejak kejadian beberapa minggu yang lalu, ia
mencoba sesuatu yang mungkin bisa menolong dirinya dalam bertindak.
Di hari minggu, Fitri harus
rela mengorbankan jatah bermainnya demi menyelesaikan sesuatu yang belakangan
ini membuat dirinya tidak nyaman. Sesuatu yang menurut sebagian orang adalah
hal lumrah sebagai anak muda. Tidak mungkin jika dia masih menunda-nunda lagi
masalah ini. Sebab menunda berarti memperbesar masalah dan mempersulit solusi
bagi Fitri.
“Hati-hati kalau mau bertemu dengan beliau,” saran salah satu tetangga
yang tahu Fitri akan ke sana.
“Kenapa emang?” Fitri tidak mengerti.
“Tidak sedikit dari kalangan perempuan yag tiba-tiba menghilang selepas
pergi dari tempat beliau. Entah itu karena alasan ekonomi, hukum, budaya,
maupun yang lain. Saya harap kamu bisa menjaga diri dengan baik. Apalagi kamu
masih muda,” perempuan ber-anak satu itu mengingatkan.
“Terus saya harus bagaimana?”
“Perbanyak baca sholawat,” ibu itu kemudian pergi.
Sebenarnya masih banyak hal
yang ingin Fitri tanyakan tentang beliau. Tapi sayang ibu keburu pergi tanpa
jejak sedikit pun. Fitri memandangi sekitar. Beberpa kupu-kupu melintas membawa
doa seorang kekasih pada kekasihnya. Fitri berharap semoga kelak ia juga bisa
seperti itu.
Suasana desa Fitri tergolong
agamis. Setiap waktu sholat, masjid pasti selalu ramai dengan orang berjamaah.
Setiap minggu ada kajian keislaman yang dalam rangka meningkatkan pemahaman
sekaligus nilai spritual keagamaan warga. Tak jarang tokoh ulama terkemuka
hadir di tengah-tengah mereka. menciptakan suasana indah sebagaimana islam
datang sebagai rahmatan lil alamin.
##@@##
Fitri berhadapan dengan
bapak tua berjenggot putih dan kulit keriput. Di depannya terdapat dupa dengan
kembang tujuh rupa diiringi asap dan bau yang sudah akrab di hidung Fitri.
Batinnya bergejolak. Ini adalah hal yang paling dia benci dulu, tapi sekarang
dirinya sudah mau masuk dalam pintu alam ghaib. Sungguh perasaannya tak karuan.
Bapak tua itu memejamkan
mata, kepalanya mengangguk-ngangguk, dan mulutnya bergetar seperti sedang
membaca mantra yang entah itu apa. Sesekali tangannya terangkat dan
bergoyang-goyang seperti sedang memanggil roh-roh ghaib dari alam lain. Suasana
ruangan itu benar-benar sedikit menegangkan. Tapi Fitri berusaha untuk tetap
tenang dengan segala apapun yang terjadi.
“Mbah..,” Fitri memanggil pelan.
“Aku sudah tahu apa maksud kedatanganmu ke sini,” si Mbah langsung
memotong kata-kata yang hendak diucapkan Fitri.
Fitri langsung terdiam. Ia
menegakkan posisi duduknya. Membenarkan letak tas yang dibawanya dari rumah.
Kemudian menunduk layaknya seorang santri yang sedang berhadapan dengan kyai.
“Kenapa bisa jadi seperti itu?” si Mbah bertanya dalam posisi mata
terpejam.
Fitri mengambil nafas.
Kemudian menjawab pertanyaan Mbah dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin
seorang pun yang tahu, bahkan seekor semut sekalipun.
“Itu sebuah kecelakaan Mbah,” Fitri sedikit tergugup.
Suasana sunyi sejenak.
“Hahaha..,” si Mbah langsung tertawa setelah enabur bunga merah di atas
dupa.
Fitri tidak mengerti.
Terbersit dalam benaknya bahwa si Mbah adalah orang gila yang kebetulan saja
menjadi ahli ramal. Tapi mungkin dirinya lebih gila lagi karena percaya saja
dengan orang gila.
“Tidak usah membohongi Mbah nak, semuanya bisa terlihat di sini,” si
Mbah menunjukkan cermil kecil di samping dupa.
Fitri mencoba mendekat.
Dilihatnya cermin kecil yang ada di samping dupa. Tapi Fitri tida melihat
apapun kecuali wajahnya sendiri. Matanya memicing mencoba mencari sesuatu yang
mungkin terselip di antara debu-debu yang menempel di kaca. Tapi sayang Fitri
tetap tidak menemukan apa-apa.
“Sudahlah, jujur saja pada Mbah, toh Mbah tetap tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Hahaha..,” suara Mbah terdengar semakin bersemangat ketika tertawa.
Fitri merasa terpojok. Tidak
ada gunanya dia berbohong pada si Mbah. Kelihatanya si Mbah memang benar-benar
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fitri menarik nafas sejenak. Menghilangkan
rasa takut dan was-was yang bisa hinggap dengan cepat. Sedangkan posisi keduanya
masih tetap sama seperti tadi.
Tiga detik berlalu. Akhirnya
Fitri memutuskan untuk bercerita panjang lebar. Entah konsekuensi apa yang akan
dia terima. Intinya, dia benar-benar ingin aman dari segala tuduhan dan
cemoohan. Di samping itu, dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi di generasi
selanjutnya.
##@@##
Ternyata benar. Ramalan dari
si Mbah dua puluh tahun yang lalu menjadi kenyataan. Rumah besar dan mobil
mewah menghiasi kehidupan Fitri dan keluarganya. Tidak ada satu pun barang
urahan yang terpajang di setiap sudut rumah. Semuanya serba mewah dengan
kualitas terbaik baik dari produk dalam negeri hingga luar negeri.
Dua anak Fitri tumbuh subur
dan menjadi idola di sekolahnya masing-masing. Prestasi dicapai dengan mudah
bahkan berturut-turut tak terkalahkan. Senyum bahagia dan tawa gembira tumpah
ruah di keluarga Fitri. Sebagai keluarga berkecukupan, tak jarang Fitri dan
suaminya memberikan santunan pada anak yatim sekitar yang kekurangan. Tidak
hanya itu, mereka juga tak segan-segan untuk mensedekahkan sebagian hartanya
untuk pembangunan masjid.
“Alhamdulillah ya mas, semuanya berjalan lancar,” ucap Fitri pada suatu
pagi yang tak terlalu dingin.
“Iya dek, semua ini berkat pertolongan Tuhan,” balas suami Fitri setelah
menyeruput kopi yag masih hangat.
Keduanya duduk di taman
belakang rumah yang dipenuhi bunga-bunga. Disampingnya terdapat kolam yang
cukup besar dengan air yang sangat jernih. Di sisi kanan juga terdapat cangkruk
kayu untuk bersantai menikmati kebersamaan keluarga, teman, maupun kerabat jauh
yang datang untuk menyambung silaturrahmi.
Matahari semakin naik. Panas
semakin mnyengat seiring jarum jam yang terus berputar menunjuka angka-angka.
Sesekali angin datang membawa kabar pada ingatan tentang kenangan yang sempat
terjadi tempo lalu. Sejenak pikiran Fitri kembali pada dua puluh tahun yang
lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya harus menghapus banyak air mata dan
mengobati luka dengan doa-doa.
“Ada apa sayang?” tanya suami Fitri setelah mengetahui istrinya melamun.
“Oh, tidak apa-apa kok Mas,” jawab Fitri galagapan.
Keduanya kembali menikmati
pagi. Hari minggu adalah hari libur sekolah dan libur kerja. Rencananya mereka
sekeluarga akan pergi jalan-jalan ke pantai. Tempat di mana senja tinggal dan
gelombang rindu bertaburan.
Dari arah pintu belakang,
putri kedua Fitri datang sambil membawa hasil gambarnya yang dia kerjakan tadi
shubuh. Anak yang satu ini memang memiliki jiwa seni yang sangat luar biasa.
Sehingga tak heran di kelas dia dijuluki dengan nama si tangan ajaib. Dari
tangannya lahir beberapa gambar yang sangat bagus. Namun anehnya, dia tidak
pernah mengikutkan hasil karyanya pada lomba-lomba yang ada.
“Ini Ma, bagus nggak?” Putri keduanya menjuurkan sebuah gambar pada
Fitri.
Fitri menerima gambar itu
dengan tersenyum. Begitu ia buka secara lebih jelas, Fitri langsung terperanjat
dengan apa yang ada di dalam gambar itu. Yaitu orang pertama yang telah
berhasil membuatnya merasakan luka yang sangat lama. Padahal jauh sebelum itu,
kehidupan Fitri masih sangat indah dipenuhi dengan cinta dan canda tawa.
“Wulan tahu dari mana wajah ini?” tanya Fitri dengan halus.
Raut wajah Wulan sedikit berubah. Tampaknya ada sesuatu yang baru saja
terjadi terkait gambar ini.
“Sini sini, duduk dulu,” suami Fitri yang tiada lain ayah Wulan
menyuruhnya duduk.
Setelah berada di posisi
yang tepat, akhirnya Wulan menceritakan asal muasal gambar itu. Sebenarnya itu
adalah wajah seorang lelaki yang hadir daalam mimpi Wulan semalam. Di mimpi
Wulan, laki-laki itu akan datang dengan niat jahat untuk menghancurkan keluarga
Fitri. Laki-laki itu sempat mengancam dengan berbagai kalimat yang membuat
Wulan takut. Tai sayang Wulan tidak bisa mengingat persis bagaimana alur dan
percakapan yang terjadi dalam mimpi.
“Oh ya Tuhan..,” Fitri memandang dengan tatapan kosong.
Sang suami kemudian
mengambil gamabr itu dari tangan Fitri. Dilihatnya gambar itu dengan serius
seperti sedang mengerjakan soal matematika yang paling sulit. Wajah itu sangat
asing bagi suami Fitri. Dalam benaknya dia berpikir, mungkin dia adalah bagian
dari masa lalu istrinya yang tidak terlalu penting diungkit.
“Oh iya ada satu lagi,” celetuk Wulan setelah dari tadi mengingat-ingat.
Mata Fitri dan suaminya spontan tertuju pada Wulan secara bersamaan.
“Apa nak?” suami Fitri mengubah posisi duduknya.
“Laki-laki itu sempat mengancam akan membunuh Mama,” mata Fitri mulai
berkaca-kaca.
Kedua orang tua Wulan
terkejut, terutama Fitri. Sebab dia adalah target utama dari laki-laki itu.
Kejadian ini benar-benar persis dengan apa yang pernah diramalkan oleh si Mbah
dua puluh tahun yang lalu. Fitri kemudian beranjak pergi kemar dan menguncinya
dari dalam. Rupanya kenangan itu telah berhasil masuk dalam pikiran Fitri
sepenuhnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dulu, jauh sebelum Fitri
mendatangi si Mbah, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang
sangat ia cintai. Dua bulan lamanya mereka menjalani kisah cinta sebagaimana
sepasang kekasih yang memiliki dunianya sendiri. Tapi sayang, keduanya terjerumus
dalam lubang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka melakukan hubungan intim
hingga melahirkan Wulan yang saat itu masih tidak tahu apa-apa.
Kemudian Fitri konsultasi
pada dukun, apakah lebih baik bayi itu dibunuh atau dibiarkan saja. Ternyata,
si Mbah menyarankan agar bayi itu terus dirawat karena akan mendatangkan
keberuntungan. Dengan cepat Fitri meminta nikah pada orang tuanya agar janinnya
yang masih sangat kecil tidak ketahuan oleh semua orang. Sedangkan kekasih
Fitri langsung menghilang setelah mengetahui dia hamil.
Dan sekarang, dia akan datang lagi dengan membawa ancaman yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar