Selepas
pulang sekolah, Andre, Mita, dan Amel tak langsung pulang ke rumah. Tapi mereka
pergi ke kebun pisang Pak Tholib yang berada di desa sebelah. Selain untuk
makan pisang gratis, mereka ingin mendengarkan cerita dari Pak Tholib yang
sudah dijanjikan sejak satu minggu lalu.
"Ayo
cepet mel, lama banget," gerutu Andre.
Di antara
mereka bertiga, memang Amel yang jalannya paling lambat. Selain karena faktor
fisik yang gemuk, langkah kaki Amel juga lebih pendek dibanding yang lain. Jadi
tak jarang Amel sering ketinggalan.
"Iya
iya, sebentar," balasnya.
Sepanjang
perjalanan, mereka bercerita tentang pelajaran yang baru saja didapat di
sekolah. Yaitu tentang kewajiban haji bagi orang islam yang mampu. Mereka juga
sempat membayangkan bagaimana wujud ka'bah yang katanya berbentuk persegi dan
ditutupi kain hitam.
"Tapi
katanya di sana itu panas," ucap Andre.
"Bukannya
di sana ada payung yang bisa buka-tutup ya?" Tanya Mita.
"Itu
dibuka kalau pas hujan saja katanya Bu guru tadi," timpal Amel.
Sebagai
anak SD kelas 6, mereka masih belum mengerti bagaimana memahami situasi,
menghargai pendapat orang lain, dan menahan ego sendiri. Yang mereka tahu
hanyalah berpendapat sesuka hati. Semuanya serba menurut mereka sendiri.
Sesekali
mereka berhenti sejenak. Bergurau ala anak-anak kecil yang tak tahu aturan.
Mengamati lingkungan sekitar yang penuh dengan pepohonan, penuh dengan
hewan-hewan kecil, juga tak jarang lalu lalang masyarakat yang sebagian menyapa.
Sepuluh
menit kemudian mereka sampai di lokasi. Tidak ada tanda-tanda Pak Tholib di
sana. Berawal dari Andre, akhirnya mereka langsung menuju gubuk yang terbuat
dari kayu. Gubuk yang sudah berumur sekitar 20 tahun. Di sanalah mereka biasa
bersantai dan istirahat.
Tak lama
dari itu, Pak Tholib datang sambil membawa satu kresek berwarna hitam. Jika
dilihat secara sekilas, sepertinya Pak Tholib membawa pisang madu hasil dari
kebunnya sendiri. Dan benar saja, saat kresek itu mendarat di gubuk, ketiganya
langsung menyerbu tanpa aba-aba.
"Heee
jangan rebutan. Semuanya pasti kebagian," ucap Pak Tholib.
Kebetulan
hari ini Pak Tholib membawa pisang dalam jumlah banyak. Khusus hari ini ia
memang sengaja siapkan untuk tiga orang anak yang sebentar lagi katanya mau
mendengarkan suatu kisah. Cerita yang dipetik dari riwayat masa lalu.
"Ok,
jadi apakah teman-teman udah siap mendengarkan cerita?" Pancing Pak
Tholib.
"Belum
Pak. Bentar mau makan dulu," jawab Andre mewakili yang lain.
Mendengar
jawaban itu, Pak Tholib tersenyum. Rupanya pisang gratis lebih menarik bagi
mereka dibanding cerita yang sudah disiapkan sejak tiga hari yang lalu.
Meskipun demikian, Pak Tholib merasa senang saat melihat mereka sangat lahap
memakan pisang.
"Udah
Pak, ayo dimulai ceritanya," ucap Mita.
Setelah itu
mereka duduk dengan rapi. Meninggalkan satu kresek hitam yang tadinya membuat
mereka sibuk tak menghiraukan Pak Tholib.
"Ok.
Kita santai aja. Enggak apa-apa sambil makan kok," jelas Pak Tholib.
Wajah
mereka tersenyum. Sejak dulu, mereka memang paling suka mendengarkan cerita.
Dan baru pertama kali ini mereka akan mendengarkannya dari Pak Tholib.
Seseorang yang sudah mereka anggap sebagai bapak sendiri. Berkat beliaulah,
setiap minggu mereka selalu mendapatkan jatah makan pisang gratis.
"Jadi
anak-anak, di sebuah hutan yang lebat dan luas, hiduplah seekor kancil dan
buaya. Mereka sudah berteman sejak lama. Saat sore hari, mereka sering bermain
di pinggir sungai," ucap Pak Tholib.
Sejenak Pak
Tholib mengambil nafas, kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Namun
pada suatu ketika, di saat tidak ada mangsa yang bisa dimakan, saat buaya dalam
keadaan sangat lapar, dengan penuh tega dia memangsa kancil yang saat itu
berada di pinggir sungai. Kancil yang berusaha memberontak dengan dalih
pertemanan tak mampu membuat buaya berubah pikiran. Beberapa kali kancil hampir
lolos dari cengkraman buaya, namun sayang, takdir hidupnya harus berakhir di
perut temannya sendiri," pungkas Pak Tholib.
"Duh
kasian banget si kancil," ucap Amel.
"Iya.
Tapi ceritanya kok pendek banget pak?" Tanya Andre sambil cekikikan.
"Iya
pak. Kayak cerita nggak niat," timpal Mita.
Mendengar
komentar itu, Pak Tholib hanya bisa tertawa lepas.
"Jadi
menurut kalian siapa yang salah dari cerita tadi?" Tanya Pak Tholib.
Mereka tak
langsung menjawab. Seperti sedang berpikir sejenak. Mencari jawaban yang
sepertinya masih berputar-putar di kepala mereka.
"Si
buaya dong. Masa iya tega makan temannya sendiri," jawab Mita.
"Nggak
sih. Dia kan lagi lapar. Salahnya si kancil ngapain dekat-dekat sama buaya dari
awal," protes Amel.
"Kalian
semua salah. Yang paling salah itu Pak Tholib. Ngapain ceritanya kayak gitu
coba. Udah pendek banget lagi," jawab Andre sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Spontan
semuanya ikut tertawa lepas.
