Selasa, 22 Maret 2022

Yang Paling Salah Menurut Mereka


Selepas pulang sekolah, Andre, Mita, dan Amel tak langsung pulang ke rumah. Tapi mereka pergi ke kebun pisang Pak Tholib yang berada di desa sebelah. Selain untuk makan pisang gratis, mereka ingin mendengarkan cerita dari Pak Tholib yang sudah dijanjikan sejak satu minggu lalu.

"Ayo cepet mel, lama banget," gerutu Andre.

Di antara mereka bertiga, memang Amel yang jalannya paling lambat. Selain karena faktor fisik yang gemuk, langkah kaki Amel juga lebih pendek dibanding yang lain. Jadi tak jarang Amel sering ketinggalan.

"Iya iya, sebentar," balasnya.

Sepanjang perjalanan, mereka bercerita tentang pelajaran yang baru saja didapat di sekolah. Yaitu tentang kewajiban haji bagi orang islam yang mampu. Mereka juga sempat membayangkan bagaimana wujud ka'bah yang katanya berbentuk persegi dan ditutupi kain hitam.

"Tapi katanya di sana itu panas," ucap Andre.

"Bukannya di sana ada payung yang bisa buka-tutup ya?" Tanya Mita.

"Itu dibuka kalau pas hujan saja katanya Bu guru tadi," timpal Amel.

Sebagai anak SD kelas 6, mereka masih belum mengerti bagaimana memahami situasi, menghargai pendapat orang lain, dan menahan ego sendiri. Yang mereka tahu hanyalah berpendapat sesuka hati. Semuanya serba menurut mereka sendiri.

Sesekali mereka berhenti sejenak. Bergurau ala anak-anak kecil yang tak tahu aturan. Mengamati lingkungan sekitar yang penuh dengan pepohonan, penuh dengan hewan-hewan kecil, juga tak jarang lalu lalang masyarakat yang sebagian menyapa.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai di lokasi. Tidak ada tanda-tanda Pak Tholib di sana. Berawal dari Andre, akhirnya mereka langsung menuju gubuk yang terbuat dari kayu. Gubuk yang sudah berumur sekitar 20 tahun. Di sanalah mereka biasa bersantai dan istirahat.

Tak lama dari itu, Pak Tholib datang sambil membawa satu kresek berwarna hitam. Jika dilihat secara sekilas, sepertinya Pak Tholib membawa pisang madu hasil dari kebunnya sendiri. Dan benar saja, saat kresek itu mendarat di gubuk, ketiganya langsung menyerbu tanpa aba-aba.

"Heee jangan rebutan. Semuanya pasti kebagian," ucap Pak Tholib.

Kebetulan hari ini Pak Tholib membawa pisang dalam jumlah banyak. Khusus hari ini ia memang sengaja siapkan untuk tiga orang anak yang sebentar lagi katanya mau mendengarkan suatu kisah. Cerita yang dipetik dari riwayat masa lalu.

"Ok, jadi apakah teman-teman udah siap mendengarkan cerita?" Pancing Pak Tholib.

"Belum Pak. Bentar mau makan dulu," jawab Andre mewakili yang lain.

Mendengar jawaban itu, Pak Tholib tersenyum. Rupanya pisang gratis lebih menarik bagi mereka dibanding cerita yang sudah disiapkan sejak tiga hari yang lalu. Meskipun demikian, Pak Tholib merasa senang saat melihat mereka sangat lahap memakan pisang.

"Udah Pak, ayo dimulai ceritanya," ucap Mita.

Setelah itu mereka duduk dengan rapi. Meninggalkan satu kresek hitam yang tadinya membuat mereka sibuk tak menghiraukan Pak Tholib.

"Ok. Kita santai aja. Enggak apa-apa sambil makan kok," jelas Pak Tholib.

Wajah mereka tersenyum. Sejak dulu, mereka memang paling suka mendengarkan cerita. Dan baru pertama kali ini mereka akan mendengarkannya dari Pak Tholib. Seseorang yang sudah mereka anggap sebagai bapak sendiri. Berkat beliaulah, setiap minggu mereka selalu mendapatkan jatah makan pisang gratis.

"Jadi anak-anak, di sebuah hutan yang lebat dan luas, hiduplah seekor kancil dan buaya. Mereka sudah berteman sejak lama. Saat sore hari, mereka sering bermain di pinggir sungai," ucap Pak Tholib.

Sejenak Pak Tholib mengambil nafas, kemudian melanjutkan kembali ceritanya.

"Namun pada suatu ketika, di saat tidak ada mangsa yang bisa dimakan, saat buaya dalam keadaan sangat lapar, dengan penuh tega dia memangsa kancil yang saat itu berada di pinggir sungai. Kancil yang berusaha memberontak dengan dalih pertemanan tak mampu membuat buaya berubah pikiran. Beberapa kali kancil hampir lolos dari cengkraman buaya, namun sayang, takdir hidupnya harus berakhir di perut temannya sendiri," pungkas Pak Tholib.

"Duh kasian banget si kancil," ucap Amel.

"Iya. Tapi ceritanya kok pendek banget pak?" Tanya Andre sambil cekikikan.

"Iya pak. Kayak cerita nggak niat," timpal Mita.

Mendengar komentar itu, Pak Tholib hanya bisa tertawa lepas.

"Jadi menurut kalian siapa yang salah dari cerita tadi?" Tanya Pak Tholib.

Mereka tak langsung menjawab. Seperti sedang berpikir sejenak. Mencari jawaban yang sepertinya masih berputar-putar di kepala mereka.

"Si buaya dong. Masa iya tega makan temannya sendiri," jawab Mita.

"Nggak sih. Dia kan lagi lapar. Salahnya si kancil ngapain dekat-dekat sama buaya dari awal," protes Amel.

"Kalian semua salah. Yang paling salah itu Pak Tholib. Ngapain ceritanya kayak gitu coba. Udah pendek banget lagi," jawab Andre sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Spontan semuanya ikut tertawa lepas.


Senin, 21 Maret 2022

Lupakan Sebanyak Tiga Kali


Apa yang lebih menakutkan dari kenangan mantan yang selalu gentayangan?

Apa yang lebih menyakitkan dari perpisahan menuju kematian?

Juga yang lebih mengkhawatirkan dari rasa was-was untuk bisa hidup layak di masa depan?

***

Doni masih duduk terdiam di kamarnya. Rasanya ia tak mampu lagi tuk sekedar mendongakkan kepala. Seperti ada beban yang begitu berat. Beban yang perlahan-lahan akan membawa Doni pada pintu kegilaan.

Semua itu bermula dari perpisahan Doni dan pacarnya yang bernama Dela. Kisah cinta mereka dimulai sejak berada di kelas satu SMA. Waktu itu, dengan sedikit keberanian dan kegilaan, Doni berhasil menaklukkan hati Dela setelah percobaan yang kesekian kali. Sungguh luar biasa.

Layaknya orang yang dirundung asmara, Doni dan Dela mulai banyak meluangkan waktu untuk berdua. Walaupun hanya sebentar dan membahas hal-hal yang tidak penting. Karena menurut mereka, bersama dengan kekasih adalah suatu kepentingan dan kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apapun.

"Kamu akan selalu setia kan?" Tanya Dela pada suatu waktu.

"Pasti. Sampai tak ada lagi waktu bagiku tuk menghirup udara segar," jawab Doni dengan senyum gombalnya.

Keduanya melanjutkan percakapan tentang banyak hal. Seperti rencana masa depan saat sudah menikah, nama anak pertama, kedua, dan seterusnya. Bahkan juga tata letak rumah yang katanya akan dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, sepertinya konsep hidup mereka sudah tuntas dibahas dalam satu kali duduk.

***

Layaknya seperti hubungan yang lain, badai itu datang memporak-porandakan pondasi yang sudah dibangun. Ibu Dela tidak merestui hubunganya dengan Doni. Bukan apa-apa, berhubung Doni masih berstatus sebagai pemuda nganggur yang kerjaannya hanya nongkrong dari cafe ke cafe.

"Tapi bu, Doni kan orangnya baik. Dela sangat mencintainya," jelasnya dengan nada memelas.

Sang ibu tak menggubris. Dengan alasan agar Dela bisa hidup layak di masa depan, sang Ibu tetap tak merestui. Tak hanya itu, sang ibu malah sudah menyiapkan calon lain yang siap untuk dia angkat menjadi seorang menantu. Namanya Ridho. Anak seorang pengusaha kaya yang sekaligus teman akrab dari ibunya dulu.

"Sudahlah. Kamu percaya saja sama ibu. Ibu sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu, Nak" jawab sang ibu setelah Dela berkali-kali membantah.

"Apakah Ibu sudah menyiapkan calon buat Dela?" Tanyanya dengan mata yang mulai mengkristal.

"Iya. Namanya Ridho. Anak teman ibu dulu,"

Dela langsung terdiam. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Di sisi yang lain, Dela selalu merasa tak bisa melawan keputusan ibunya dalam hal apapun itu. Tanpa berkata-kata lagi, Dela langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan sang ibu hanya bisa melihat dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

Kabar dengan cepat melesat bagai angin. Berbagai persiapan telah dilakukan dengan matang. Mulai dari dekorasi, konsumsi undangan, foto preweed, dan hal-hal yang sekiranya diperlukan menuju acara pernikahan. Sungguh, semuanya terasa begitu cepat. Dela harus rela menerima keputusan kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Doni, dia harus rela menerima garis takdir yang sudah ditetapkan untuknya.

***

Di hari-hari yang baru tanpa Dela, Doni tampak kehilangan gairah hidup untuk banyak hal. Bahkan untuk sekedar melakukan hal-hal kecil saja seperti tak mampu. Tidak ada lagi makan tepat waktu, istirahat yang cukup, tertawa yang lepas, juga mimpi-mimpi yang sempat dibangun demi masa depan. Semuanya hancur seketika.

Kini, kebiasaan Doni hanyalah duduk di taman belakang rumah saat sore hari. Membayangkan momen indah bersama Dela datang kembali. Tersenyum sambil memandang hewan-hewan kecil yang melintas, rombongan awan yang beriringan, juga harapan dan janji yang sempat disumpahkan untuk selalu bersama.

"Aku masih di sini Del. Kenangan bersamamu masih begitu hangat. Aku tak percaya kau pergi begitu cepat. Padahal sudah cukup lama kita bersama. Merajut mimpi-mimpi masa depan yang besar. Dan sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aku pun tak tahu, apakah aku sanggup mewujudkan mimpi-mimpi itu sendiri," ucap Doni dengan pelan.

Waktu terus berlalu. Doni masih sibuk meratapi nasibnya yang malang. Senja tak lagi indah dan angin tak lagi dingin. Doni merasa jiwanya hampa tanpa rasa. Seperti ingin menangis, seperti ingin mengumpat, seperti ingin bunuh diri saja. Waktu berhasil ia lalui tanpa sedikit pun mendengar detiknya.

Malam sudah datang. Doni beranjak dari tempat duduknya. Mengambil secarik kertas dan pulpen di pojok kamar. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada satu lembar putih itu. Entahlah, ia hanya tak bisa menyusun bahan apa saja yang akan ditulis. Tapi Doni yakin, satu lembar putih itu tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup.

Ungkapan hati yang entah bersifat apa:

"Terimakasih telah sempat menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Menjadi bagian yang selalu aku jaga sepanjang waktu, hingga aku lupa menjaga diriku sendiri. Hingga aku lupa bahwa aku juga punya tangis yang sewaktu-waktu bisa tumpah di banyak tempat.

Terimakasih atas semua kesempatan yang pernah ada. Kesempatan bersama dan bercerita tentang kehidupan. Sejak saat itu, aku sudah berhasil mengantongi senyummu untuk kubawa kemana saja hingga sekarang. Dan sekarang aku tak tahu bagaimana cara melupakan semuanya.

***

Waktu kembali berganti. Doni berhasil menghapus sebagian masa lalunya dan menerima masa depan untuk hidup bersama orang lain. Namanya Nada. Perempuan yang datang saat Doni terpuruk dan menarik tangannya untuk bangkit. Meskipun berawal dari saling merasa asing, keduanya berhasil mengikat janji suci pernikahan.

"Aku mau ke luar dulu Mas," ucap Nada yang langsung berlalu.

"Iya dek. Hati-hati di jalan," balas Doni.

Usia pernikahan mereka masih tiga hari. Perlahan-lahan Doni sudah mulai melupakan Dela. Semua kenangan itu telah terkubur rapi di dadanya. Dan berkat menikah dengan Nada pula, kehidupan Doni berubah menjadi lebih baik. Terutama dari segi ekonomi.

Kabar buruk kembali melanda Doni. Angin berkabar bahwa Nada telah meninggal akibat terjatuh dari sepeda motor. Tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana kronologisnya. Seperti sengaja disembunyikan. Seperti ada kekuatan lain yang menutupi itu semua. Tiba-tiba saja, Nada sudah terkapar tanpa nafas.

"Apa?? Dimana?? Kok bisa??" Tanya Doni dengan nada super cemas.

Tanpa pikir panjang lagi, Doni langsung menuju TKP. Disana, ia sudah mendapati istrinya dalam keadaan mata tertutup dan kepala penuh darah. Dengan cepat jenazah langsung dibawa ke kamar mayat. Doni hanya bisa bersedih tanpa air mata. Sebentar lagi istrinya akan berada dalam pelukan tanah. 

***

Doni kembali sendirian. Semuanya terjadi begitu cepat. Gairah mencari pasangan hidup lagi sudah menghilang. Kini hanya tersisa rasa was-was untuk hidup nyaman di masa depan. Doni mulai membayangkan masa-masa tua nanti.

"Bagaimana nanti jika aku sakit, terus siapa yang akan merawat? Bagaimana jika nanti aku kesepian, siapa yang akan membuatku merasa nyaman? Bagaimana nanti kalau aku hampir mati, siapa yang akan membisikkan kalimat Tuhan di telingaku?" Ucap Doni dalam batinnya.

Di kamarnya, Doni hanya bisa duduk meratapi nasib. Meskipun dia mempunyai banyak tetangga yang baik, yang selalu menyapa di pagi hari, tapi tetap saja ia merasa kosong saat berada di kamar. Seperti tidak ada kehidupan. Seperti ada mantan dan mendiang istrinya yang gentayangan.

"Lupakan, lupakan, lupakan," ucap Doni pada dirinya sendiri sebelum tidur.


Sabtu, 12 Maret 2022

Cafe, Diskusi, dan Semangkok Mie

Aku duduk di bangku paling depan bagian tengah. Bersama satu teman dan tiga orang asing yang membuatku bertanya-tanya. Namanya siapa, asal dari mana, apa motivasi mereka datang ke sini, dan lain sebagainya. Ah, jika aku menjelaskan semuanya satu persatu, mungkin satu cerpen ini tidak akan cukup.

Di bagian depan, terpampang banner tentang bedah buku cerpen berjudul "Rembulan di Bibir Teluk". Ya, aku memang belum mengenal betul siapa penulisnya. Pikirku, apakah dia memang layak menjadi seorang penulis? Atau hanya sekedar kebanyakan sekarang yang iseng-iseng menulis, lalu diterbitkan di salah satu penerbit lewat orang dalam. Entahlah, semoga saja tidak begitu.

Cafe yang baru pertama kali kusinggahi ini, sungguh unik dan estetik. Lampu-lampu kuningnya yang memanjakan mata, hiasan tembok yang membuatku bertanya-tanya apa itu maksudnya, dan sapuan warna kacamata perempuan yang sempat melihatku. Sungguh, tatapan itu sangat membingungkan.

"Selamat sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Mari kita mulai acara ini dengan pembacaan basmalah," ucapnya yang kemudian kukenal dengan nama Andika.

Tak lama dari itu, dua orang datang kemudian duduk di depan banner dengan empat buku cerpen berjenis sama. Percakapan pun dimulai dengan basa-basi yang singkat namun hangat. Tak seperti cuaca yang sedang terjadi. Angin yang membuat tubuh terasa dingin menjadi-jadi.

Awalnya, dari sekian banyak orang yang ada di sini, aku menduga mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ternyata tidak. Hanya sebagian saja yang sudah saling mengenal secara sempurna. Selebihnya sama seperti aku. Orang asing yang hanya ingin mencari diksi baru atau mungkin sekedar mengisi kegabutan hari ini.

Ok mari kita mulai. 13 judul dari buku cerpen perdana ini rupanya memuat tentang banyak tema. Seperti kemacetan jalan, pantai Malang selatan, eksistensi mikrolet, TKI/TKW, dan kejadian-kejadian yang sangat biasa terjadi sehari-hari.

Tak lama kemudian, semangkok mie kuah yang kupesan datang. Namun sayang, ada yang cacat di situ. Aku tak menemukan sepotong telur yang kupesan dari perut lapar.

"Mbak maaf, ini kok nggak ada telurnya, ya?" Tanyaku dengan halus.

"Oh, tadi pesannya sama telur Mas?" Tanyanya memastikan.

"Iya Mbak," jawabku tegas.

"Sebentar Mas ya," perempuan itu kemudian berlalu.

Rencanaku menyantap mie kuah harus tertunda. Untungnya, teh hangat yang juga kupesan sudah tiba dari tadi. Jika tidak, mungkin aku akan protes. Mungkin aku akan bercerita ke teman-teman bahwa cafe ini tak becus melayani pelanggan. Atau mungkin reflek-reflek lain yang entah berbentuk apa.

Perbicangan hangat berlanjut. Penulis menyampaikan bagaimana proses kreatif dalam menulis, deskripsi singkat buku, dan hal-hal receh lain yang membuat suasana semakin bersahabat. Dan tanpa sengaja, percakapan mereka membuatku sadar satu hal. Bahwa aku dan mereka ternyata berasal dari kampus yang sama. Sebuah kebetulan yang sebenarnya tidak begitu penting.

Satu orang bertambah. Kini di meja depan berjejer tiga orang yang katanya sudah berpengalaman di dunia kepenulisan. Sekilas aku percaya, namun batin yang lain aku meragukan. Seperti ada kemungkinan-kemungkinan lain yang lagi-lagi membuatku ragu.

Kemudian satu orang baru itu bercerita. Tentang pandangannya terkait buku baru yang saat ini sedang dibedah. Jika kuhitung-hitung, komentarnya lebih banyak mengapresiasi karya penulis. Memuji penulis. Bahkan juga menilai bagus karya penulis yang ada di bagian yang lain. Sejak saat itu aku penasaran. Seperti apa sih buku pertama yang diterbitkan oleh penulis yang baru kukenal ini?

Tanpa kuingat waktu, semangkok mie kuah pakai telur yang kupesan datang. Aromanya begitu menggoda. Sedangkan orang yang mengantar sudah berbeda.

"Ini Mas pesanannya," ucapnya halus sambil menaruh semangkok mie itu di depanku.

"Siap mbak. Terimakasih," balasku.

Dengan cepat pikiranku beralih dari forum diskusi ke semangkok mie kuah di depan mata. Aroma sedap itu mengalahkan narasi panjang penulis. Kuahnya yang hangat mengalahkan lelucon singkat pembawa acara. Juga tekstur lembut mie dan telur itu mengalahkan diksi dan paparan halus dari pembedah buku. Ah pokoknya saat itu pikiranku ingin langsung makan. Tapi sayang, terlebih dahulu aku harus meniupnya agar tak terlalu panas.

Tanpa diduga, gerimis dan hembus angin datang. Menyempurnakan kombinasi mie kuah telur dan narasi-narasi diksi. Aku tak tahu bagaimana rupa kenikmatan itu. Hanya saja, yang kurasakan ini sangat luar biasa.

Pelan-pelan namun pasti, aku semakin lahap menghabiskan semangkok mie pakai telur itu. Kawan-kawan sekitar sudah kutawarkan, namun merekanya saja yang nggak mau. Maka dari itu, tanpa ragu-ragu lagi kuhabiskan semangkok mie itu dengan menggebu-gebu. Sesekali aku minum teh hangat, lalu melanjutkan makan lagi hingga tandas.

Diskusi semakin melebar. Banyak hal yang dibahas dalam forum kali ini. Seperti alasan penulis menerbitkan buku. Lelucon-lelucon kecil dari pembedah dan pembawa acara. Juga tak lupa kalimat promosi yang kadang membuat telingaku geli. Sumpah meskipun hal tersebut lumrah dilakukan banyak orang, tapi telingaku sepertinya tak bisa menerima itu.

Saat semangkok mie kuah itu tandas, perutku terasa nyaman. Materi dari penulis kembali masuk ke telinga dengan lancar. Meskipun perutku tidak sepenuhnya kenyang, paling tidak ini sudah bisa mengganjal lapar hingga nanti malam.

Aku melihat orang-orang sekitar tertawa. Aku pun ikut tertawa simpul. Padahal aku tidak tahu hal apa yang sedang ditertawakan. Bukan apa-apa, aku hanya ingin berbaur. Beradaptasi dengan lingkungan agar tidak dikira gila karena terlalu serius sendiri.

Kemudian aku mengeluarkan sebungkus rokok dari tas kecil. Isi rokok hanya tersisa dua batang. Yah namanya anak muda, numpang rokok pada teman sudah menjadi hal yang biasa.

"Cukuplah untuk forum kali ini," batinku.

Aku melihat suasana sekitar. Temanku yang kebetulan tukang rokok hanya tersenyum ngece. Sepertinya ia sedang menertawaiku dengan kondisi rokok yang begitu tragis. Dasar bangsat!

Dengan santai aku menyalakan rokok. Menjadikan mangkok kosong itu menjadi asbak. Oh tidak, ternyata bukan hanya asbak, tapi juga tempat sampah. Sampah-sampah kecil di mejaku seperti tisu dan lain-lain kumasukkan saja dalam mangkok itu. Toh nggak ada undang-undang yang mengatur pelarangan buang sampah dalam mangkok.

Semakin lama, aku tambah yakin bahwa M. Rosyid H.W yang berposisi sebagai penulit itu bukan orang yang sembarangan. Bacaan bukunya banyak. Terlihat dari bagaimana dia berbicara dan menarasikan sesuatu.

"Jadi untuk karya perdana saya ini, saya rasa masih banyak kekurangan baik dari segi ide dan diksi," ucap Rosyid dengan santai.

Setelah itu sesi tanya jawab dimulai. Aku langsung bertanya tentang cerpen mana yang paling disukai penulis dalam buku itu. Cerpen yang dirasa paling sulit penulisannya. Dan cerpen yang mungkin menyimpan ledakan yang siap membumi hanguskan dada pembaca.

Penulis tersenyum. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Jika dilihat dari tatapannya, dia lumayan tertarik dengan pertanyaanku. Atau mungkin ngece mendengar pertanyaanku yang ecek-ecek. Entahlah, aku tak tahu secara pasti.

Lama-kelamaan, suasana cafe semakin ramai. Berbagai pertanyaan tumpah begitu saja. Tak hanya tentang bagaimana teknik menulis yang baik, juga tentang konsep berpikir, gagasan dalam tulisan, dan menyelesaikan semuanya dengan cantik. Ah begitulah kira-kira.