Sabtu, 12 Maret 2022

Cafe, Diskusi, dan Semangkok Mie

Aku duduk di bangku paling depan bagian tengah. Bersama satu teman dan tiga orang asing yang membuatku bertanya-tanya. Namanya siapa, asal dari mana, apa motivasi mereka datang ke sini, dan lain sebagainya. Ah, jika aku menjelaskan semuanya satu persatu, mungkin satu cerpen ini tidak akan cukup.

Di bagian depan, terpampang banner tentang bedah buku cerpen berjudul "Rembulan di Bibir Teluk". Ya, aku memang belum mengenal betul siapa penulisnya. Pikirku, apakah dia memang layak menjadi seorang penulis? Atau hanya sekedar kebanyakan sekarang yang iseng-iseng menulis, lalu diterbitkan di salah satu penerbit lewat orang dalam. Entahlah, semoga saja tidak begitu.

Cafe yang baru pertama kali kusinggahi ini, sungguh unik dan estetik. Lampu-lampu kuningnya yang memanjakan mata, hiasan tembok yang membuatku bertanya-tanya apa itu maksudnya, dan sapuan warna kacamata perempuan yang sempat melihatku. Sungguh, tatapan itu sangat membingungkan.

"Selamat sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Mari kita mulai acara ini dengan pembacaan basmalah," ucapnya yang kemudian kukenal dengan nama Andika.

Tak lama dari itu, dua orang datang kemudian duduk di depan banner dengan empat buku cerpen berjenis sama. Percakapan pun dimulai dengan basa-basi yang singkat namun hangat. Tak seperti cuaca yang sedang terjadi. Angin yang membuat tubuh terasa dingin menjadi-jadi.

Awalnya, dari sekian banyak orang yang ada di sini, aku menduga mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ternyata tidak. Hanya sebagian saja yang sudah saling mengenal secara sempurna. Selebihnya sama seperti aku. Orang asing yang hanya ingin mencari diksi baru atau mungkin sekedar mengisi kegabutan hari ini.

Ok mari kita mulai. 13 judul dari buku cerpen perdana ini rupanya memuat tentang banyak tema. Seperti kemacetan jalan, pantai Malang selatan, eksistensi mikrolet, TKI/TKW, dan kejadian-kejadian yang sangat biasa terjadi sehari-hari.

Tak lama kemudian, semangkok mie kuah yang kupesan datang. Namun sayang, ada yang cacat di situ. Aku tak menemukan sepotong telur yang kupesan dari perut lapar.

"Mbak maaf, ini kok nggak ada telurnya, ya?" Tanyaku dengan halus.

"Oh, tadi pesannya sama telur Mas?" Tanyanya memastikan.

"Iya Mbak," jawabku tegas.

"Sebentar Mas ya," perempuan itu kemudian berlalu.

Rencanaku menyantap mie kuah harus tertunda. Untungnya, teh hangat yang juga kupesan sudah tiba dari tadi. Jika tidak, mungkin aku akan protes. Mungkin aku akan bercerita ke teman-teman bahwa cafe ini tak becus melayani pelanggan. Atau mungkin reflek-reflek lain yang entah berbentuk apa.

Perbicangan hangat berlanjut. Penulis menyampaikan bagaimana proses kreatif dalam menulis, deskripsi singkat buku, dan hal-hal receh lain yang membuat suasana semakin bersahabat. Dan tanpa sengaja, percakapan mereka membuatku sadar satu hal. Bahwa aku dan mereka ternyata berasal dari kampus yang sama. Sebuah kebetulan yang sebenarnya tidak begitu penting.

Satu orang bertambah. Kini di meja depan berjejer tiga orang yang katanya sudah berpengalaman di dunia kepenulisan. Sekilas aku percaya, namun batin yang lain aku meragukan. Seperti ada kemungkinan-kemungkinan lain yang lagi-lagi membuatku ragu.

Kemudian satu orang baru itu bercerita. Tentang pandangannya terkait buku baru yang saat ini sedang dibedah. Jika kuhitung-hitung, komentarnya lebih banyak mengapresiasi karya penulis. Memuji penulis. Bahkan juga menilai bagus karya penulis yang ada di bagian yang lain. Sejak saat itu aku penasaran. Seperti apa sih buku pertama yang diterbitkan oleh penulis yang baru kukenal ini?

Tanpa kuingat waktu, semangkok mie kuah pakai telur yang kupesan datang. Aromanya begitu menggoda. Sedangkan orang yang mengantar sudah berbeda.

"Ini Mas pesanannya," ucapnya halus sambil menaruh semangkok mie itu di depanku.

"Siap mbak. Terimakasih," balasku.

Dengan cepat pikiranku beralih dari forum diskusi ke semangkok mie kuah di depan mata. Aroma sedap itu mengalahkan narasi panjang penulis. Kuahnya yang hangat mengalahkan lelucon singkat pembawa acara. Juga tekstur lembut mie dan telur itu mengalahkan diksi dan paparan halus dari pembedah buku. Ah pokoknya saat itu pikiranku ingin langsung makan. Tapi sayang, terlebih dahulu aku harus meniupnya agar tak terlalu panas.

Tanpa diduga, gerimis dan hembus angin datang. Menyempurnakan kombinasi mie kuah telur dan narasi-narasi diksi. Aku tak tahu bagaimana rupa kenikmatan itu. Hanya saja, yang kurasakan ini sangat luar biasa.

Pelan-pelan namun pasti, aku semakin lahap menghabiskan semangkok mie pakai telur itu. Kawan-kawan sekitar sudah kutawarkan, namun merekanya saja yang nggak mau. Maka dari itu, tanpa ragu-ragu lagi kuhabiskan semangkok mie itu dengan menggebu-gebu. Sesekali aku minum teh hangat, lalu melanjutkan makan lagi hingga tandas.

Diskusi semakin melebar. Banyak hal yang dibahas dalam forum kali ini. Seperti alasan penulis menerbitkan buku. Lelucon-lelucon kecil dari pembedah dan pembawa acara. Juga tak lupa kalimat promosi yang kadang membuat telingaku geli. Sumpah meskipun hal tersebut lumrah dilakukan banyak orang, tapi telingaku sepertinya tak bisa menerima itu.

Saat semangkok mie kuah itu tandas, perutku terasa nyaman. Materi dari penulis kembali masuk ke telinga dengan lancar. Meskipun perutku tidak sepenuhnya kenyang, paling tidak ini sudah bisa mengganjal lapar hingga nanti malam.

Aku melihat orang-orang sekitar tertawa. Aku pun ikut tertawa simpul. Padahal aku tidak tahu hal apa yang sedang ditertawakan. Bukan apa-apa, aku hanya ingin berbaur. Beradaptasi dengan lingkungan agar tidak dikira gila karena terlalu serius sendiri.

Kemudian aku mengeluarkan sebungkus rokok dari tas kecil. Isi rokok hanya tersisa dua batang. Yah namanya anak muda, numpang rokok pada teman sudah menjadi hal yang biasa.

"Cukuplah untuk forum kali ini," batinku.

Aku melihat suasana sekitar. Temanku yang kebetulan tukang rokok hanya tersenyum ngece. Sepertinya ia sedang menertawaiku dengan kondisi rokok yang begitu tragis. Dasar bangsat!

Dengan santai aku menyalakan rokok. Menjadikan mangkok kosong itu menjadi asbak. Oh tidak, ternyata bukan hanya asbak, tapi juga tempat sampah. Sampah-sampah kecil di mejaku seperti tisu dan lain-lain kumasukkan saja dalam mangkok itu. Toh nggak ada undang-undang yang mengatur pelarangan buang sampah dalam mangkok.

Semakin lama, aku tambah yakin bahwa M. Rosyid H.W yang berposisi sebagai penulit itu bukan orang yang sembarangan. Bacaan bukunya banyak. Terlihat dari bagaimana dia berbicara dan menarasikan sesuatu.

"Jadi untuk karya perdana saya ini, saya rasa masih banyak kekurangan baik dari segi ide dan diksi," ucap Rosyid dengan santai.

Setelah itu sesi tanya jawab dimulai. Aku langsung bertanya tentang cerpen mana yang paling disukai penulis dalam buku itu. Cerpen yang dirasa paling sulit penulisannya. Dan cerpen yang mungkin menyimpan ledakan yang siap membumi hanguskan dada pembaca.

Penulis tersenyum. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Jika dilihat dari tatapannya, dia lumayan tertarik dengan pertanyaanku. Atau mungkin ngece mendengar pertanyaanku yang ecek-ecek. Entahlah, aku tak tahu secara pasti.

Lama-kelamaan, suasana cafe semakin ramai. Berbagai pertanyaan tumpah begitu saja. Tak hanya tentang bagaimana teknik menulis yang baik, juga tentang konsep berpikir, gagasan dalam tulisan, dan menyelesaikan semuanya dengan cantik. Ah begitulah kira-kira.

Tidak ada komentar: