Aku duduk
di bangku paling depan bagian tengah. Bersama satu teman dan tiga orang asing
yang membuatku bertanya-tanya. Namanya siapa, asal dari mana, apa motivasi
mereka datang ke sini, dan lain sebagainya. Ah, jika aku menjelaskan semuanya
satu persatu, mungkin satu cerpen ini tidak akan cukup.
Di bagian
depan, terpampang banner tentang bedah buku cerpen berjudul "Rembulan di
Bibir Teluk". Ya, aku memang belum mengenal betul siapa penulisnya.
Pikirku, apakah dia memang layak menjadi seorang penulis? Atau hanya sekedar
kebanyakan sekarang yang iseng-iseng menulis, lalu diterbitkan di salah satu
penerbit lewat orang dalam. Entahlah, semoga saja tidak begitu.
Cafe yang
baru pertama kali kusinggahi ini, sungguh unik dan estetik. Lampu-lampu
kuningnya yang memanjakan mata, hiasan tembok yang membuatku bertanya-tanya apa
itu maksudnya, dan sapuan warna kacamata perempuan yang sempat melihatku.
Sungguh, tatapan itu sangat membingungkan.
"Selamat
sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Mari kita mulai acara ini dengan
pembacaan basmalah," ucapnya yang kemudian kukenal dengan nama Andika.
Tak lama
dari itu, dua orang datang kemudian duduk di depan banner dengan empat buku
cerpen berjenis sama. Percakapan pun dimulai dengan basa-basi yang singkat
namun hangat. Tak seperti cuaca yang sedang terjadi. Angin yang membuat tubuh
terasa dingin menjadi-jadi.
Awalnya,
dari sekian banyak orang yang ada di sini, aku menduga mereka sudah saling
mengenal satu sama lain. Ternyata tidak. Hanya sebagian saja yang sudah saling
mengenal secara sempurna. Selebihnya sama seperti aku. Orang asing yang hanya
ingin mencari diksi baru atau mungkin sekedar mengisi kegabutan hari ini.
Ok mari
kita mulai. 13 judul dari buku cerpen perdana ini rupanya memuat tentang banyak
tema. Seperti kemacetan jalan, pantai Malang selatan, eksistensi mikrolet,
TKI/TKW, dan kejadian-kejadian yang sangat biasa terjadi sehari-hari.
Tak lama
kemudian, semangkok mie kuah yang kupesan datang. Namun sayang, ada yang cacat
di situ. Aku tak menemukan sepotong telur yang kupesan dari perut lapar.
"Mbak
maaf, ini kok nggak ada telurnya, ya?" Tanyaku dengan halus.
"Oh,
tadi pesannya sama telur Mas?" Tanyanya memastikan.
"Iya Mbak,"
jawabku tegas.
"Sebentar
Mas ya," perempuan itu kemudian berlalu.
Rencanaku
menyantap mie kuah harus tertunda. Untungnya, teh hangat yang juga kupesan
sudah tiba dari tadi. Jika tidak, mungkin aku akan protes. Mungkin aku akan
bercerita ke teman-teman bahwa cafe ini tak becus melayani pelanggan. Atau
mungkin reflek-reflek lain yang entah berbentuk apa.
Perbicangan
hangat berlanjut. Penulis menyampaikan bagaimana proses kreatif dalam menulis,
deskripsi singkat buku, dan hal-hal receh lain yang membuat suasana semakin
bersahabat. Dan tanpa sengaja, percakapan mereka membuatku sadar satu hal.
Bahwa aku dan mereka ternyata berasal dari kampus yang sama. Sebuah kebetulan
yang sebenarnya tidak begitu penting.
Satu orang
bertambah. Kini di meja depan berjejer tiga orang yang katanya sudah
berpengalaman di dunia kepenulisan. Sekilas aku percaya, namun batin yang lain
aku meragukan. Seperti ada kemungkinan-kemungkinan lain yang lagi-lagi
membuatku ragu.
Kemudian
satu orang baru itu bercerita. Tentang pandangannya terkait buku baru yang saat
ini sedang dibedah. Jika kuhitung-hitung, komentarnya lebih banyak mengapresiasi
karya penulis. Memuji penulis. Bahkan juga menilai bagus karya penulis yang ada
di bagian yang lain. Sejak saat itu aku penasaran. Seperti apa sih buku pertama
yang diterbitkan oleh penulis yang baru kukenal ini?
Tanpa
kuingat waktu, semangkok mie kuah pakai telur yang kupesan datang. Aromanya
begitu menggoda. Sedangkan orang yang mengantar sudah berbeda.
"Ini Mas
pesanannya," ucapnya halus sambil menaruh semangkok mie itu di depanku.
"Siap
mbak. Terimakasih," balasku.
Dengan
cepat pikiranku beralih dari forum diskusi ke semangkok mie kuah di depan mata.
Aroma sedap itu mengalahkan narasi panjang penulis. Kuahnya yang hangat
mengalahkan lelucon singkat pembawa acara. Juga tekstur lembut mie dan telur
itu mengalahkan diksi dan paparan halus dari pembedah buku. Ah pokoknya saat
itu pikiranku ingin langsung makan. Tapi sayang, terlebih dahulu aku harus meniupnya
agar tak terlalu panas.
Tanpa
diduga, gerimis dan hembus angin datang. Menyempurnakan kombinasi mie kuah
telur dan narasi-narasi diksi. Aku tak tahu bagaimana rupa kenikmatan itu.
Hanya saja, yang kurasakan ini sangat luar biasa.
Pelan-pelan
namun pasti, aku semakin lahap menghabiskan semangkok mie pakai telur itu.
Kawan-kawan sekitar sudah kutawarkan, namun merekanya saja yang nggak mau. Maka
dari itu, tanpa ragu-ragu lagi kuhabiskan semangkok mie itu dengan
menggebu-gebu. Sesekali aku minum teh hangat, lalu melanjutkan makan lagi
hingga tandas.
Diskusi
semakin melebar. Banyak hal yang dibahas dalam forum kali ini. Seperti alasan
penulis menerbitkan buku. Lelucon-lelucon kecil dari pembedah dan pembawa
acara. Juga tak lupa kalimat promosi yang kadang membuat telingaku geli. Sumpah
meskipun hal tersebut lumrah dilakukan banyak orang, tapi telingaku sepertinya
tak bisa menerima itu.
Saat
semangkok mie kuah itu tandas, perutku terasa nyaman. Materi dari penulis
kembali masuk ke telinga dengan lancar. Meskipun perutku tidak sepenuhnya
kenyang, paling tidak ini sudah bisa mengganjal lapar hingga nanti malam.
Aku melihat
orang-orang sekitar tertawa. Aku pun ikut tertawa simpul. Padahal aku tidak
tahu hal apa yang sedang ditertawakan. Bukan apa-apa, aku hanya ingin berbaur.
Beradaptasi dengan lingkungan agar tidak dikira gila karena terlalu serius
sendiri.
Kemudian
aku mengeluarkan sebungkus rokok dari tas kecil. Isi rokok hanya tersisa dua
batang. Yah namanya anak muda, numpang rokok pada teman sudah menjadi hal yang
biasa.
"Cukuplah
untuk forum kali ini," batinku.
Aku melihat
suasana sekitar. Temanku yang kebetulan tukang rokok hanya tersenyum ngece.
Sepertinya ia sedang menertawaiku dengan kondisi rokok yang begitu tragis.
Dasar bangsat!
Dengan
santai aku menyalakan rokok. Menjadikan mangkok kosong itu menjadi asbak. Oh
tidak, ternyata bukan hanya asbak, tapi juga tempat sampah. Sampah-sampah kecil
di mejaku seperti tisu dan lain-lain kumasukkan saja dalam mangkok itu. Toh
nggak ada undang-undang yang mengatur pelarangan buang sampah dalam mangkok.
Semakin
lama, aku tambah yakin bahwa M. Rosyid H.W yang berposisi sebagai penulit itu
bukan orang yang sembarangan. Bacaan bukunya banyak. Terlihat dari bagaimana
dia berbicara dan menarasikan sesuatu.
"Jadi
untuk karya perdana saya ini, saya rasa masih banyak kekurangan baik dari segi
ide dan diksi," ucap Rosyid dengan santai.
Setelah itu
sesi tanya jawab dimulai. Aku langsung bertanya tentang cerpen mana yang paling
disukai penulis dalam buku itu. Cerpen yang dirasa paling sulit penulisannya.
Dan cerpen yang mungkin menyimpan ledakan yang siap membumi hanguskan dada pembaca.
Penulis
tersenyum. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Jika dilihat dari tatapannya, dia
lumayan tertarik dengan pertanyaanku. Atau mungkin ngece mendengar pertanyaanku
yang ecek-ecek. Entahlah, aku tak tahu secara pasti.
Lama-kelamaan,
suasana cafe semakin ramai. Berbagai pertanyaan tumpah begitu saja. Tak hanya
tentang bagaimana teknik menulis yang baik, juga tentang konsep berpikir,
gagasan dalam tulisan, dan menyelesaikan semuanya dengan cantik. Ah begitulah
kira-kira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar