Senin, 31 Agustus 2020

BERSEPAKAT DALAM PIKIRAN

 


Fina masih saja duduk di tempat yang penuh dengan luka dan kecewa. Ia tak pernah berharap laki-laki itu akan datang dan duduk di sampingnya untuk sekedar menghapus tetes air mata yang jatuh. Dan seandainya itu terjadi, mungkin Fina akan pindah dan mencari tempat duduk lain yang lebih tenang tanpa ada seorang pun.

Beberapa orang melintas di depan Fina. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda, dan ada yang merangkak sebab tak punya betis di sisi kanan dan kiri. Sedangkan tatapan Fina, masih saja menghadap kenangan yang terjadi beberapa minggu lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya lupa cara tertawa.

"Permisi Neng, boleh saya duduk di sini?" Tanya seorang lelaki paruh baya dengan kacamata bening yang menempel di kedua matanya.

Fina hanya menoleh. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan untuk sekedar menghargai orang yang baru dikenal, Fina sudah merasa enggan. Kata-kata dan suara telah menghilang dari dalam dirinya.

Kemudian laki-laki itu duduk di samping kanan Fina. Membuat Fina harus sedikit bergeser ke arah kiri. Sedangkan jarak di antara keduanya hanya berkisar satu jengkal.

Tak lama dari itu, suasana langsung terasa berbeda. Angin telah berhasil mengirim kesepian dari lubuk Fina ke batin laki-laki itu. Membuat laki-laki itu terdiam, kehilangan kata-kata, dan bingung harus memulai percakapan dari arah mana. Padahal, laki-laki itu adalah salah satu playboy ternama yang dengan mudah mengalihkan perasaan perempuan ke hadapannya.

Pikiran Fina semakin menjauh. Ia sudah tak merasa bahwa ada orang lain yang sedang ada di sampingnya. Ingatan tentang janji yang hampir membuatnya mati sungguh akan selalu membekas di kepala Fina. Tentang rencana indah, senyum rekah, dan kehilangan yang berhasil membuatnya patah.

Keduanya masih terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali laki-laki itu melirik ke arah Fina. Mencoba menafsirkan jenis tatapan yang Fina pakai saat itu. Sedangkan senja sebentar lagi akan datang. Memaksa keduanya untuk kembali ke rumah.

"Saya pamit dulu Neng," ucap laki-laki itu sambil berdiri.

Sejenak Fina menoleh. Tidak ada jawaban dari mulutnya. Hanya isyarat mata yang seolah-olah memberikannya izin untuk pergi. Tanpa menunggu balasan, laki-laki itu langsung pergi ke arah barat. Menuju senja yang sebentar lagi akan tenggelam.

Fina kembali menggeser posisi duduknya ke arah semula. Tiba-tiba Fina merasakan sesuatu di tangan kanannya. Ya, sebuah kacamata bening tergeletak di samping kanannya. Pikiran Fina langsung teringat pada laki-laki itu.

"Ah, payah, kok bisa dia lupa dengan kacamatanya," kesal Fina dalam hati.J

Fina memutuskan untuk membawa kacamata itu pulang ke rumah. Menyimpannya untuk beberapa waktu ke depan. Dan mungkin akan mengembalikannya saat bertemu kembali dengan laki-laki itu.

***

Masih tidak ada yang bisa mengubah kondisi hati Fina. Bahkan bapak dan ibunya sendiri. Sudah beberapa kali si ibu membawa laki-laki baru dari berbagai penjuru dengan beragam kelebihan. Ada yang tampan seperti artis, ada yang kaya seperti raja, dan ada yang sholih seperti kyai. Namun sayang, semua itu tak sanggup membasuh luka yang masih menganga di dada Fina.

"Ayo lah Nak, kamu harus bisa keluar dari masa lalumu itu. Teman-temanmu sudah banyak yang menikah. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus?" Si Ibu sedikit mengiba pada Fina.

Fina hanya diam di kursi ruang tengah. Beberapa kali ia merespon perkataan sang ibu untuk menjaga perasaannya. Tapi jika menyangkut masalah perasaan, sepertinya Fina masih perlu berpikir jauh. Sejauh kenangan yang telah berlalu.

Usia Fina sudah masuk angka 28. Sebuah angka yang sudah sangat matang untuk menikah dan membangun rumah tangga. Tetangga sebelah yang baru masuk usia 20 sudah melaksanakan pernikahan beberapa hari lalu. Sejak saat itu, cibiran-cibiran masyarakat mulai mampir ke telinga Fina.

Setelah berbicara tentang banyak hal, si ibu kemudian pergi ke dapur. Fina masih saja duduk dengan HP dan satu buah buku fiksi yang baru dibeli kemarin. Suasana rumah terasa sepi. Bapak masih belum datang dari pasar. Mencari penghidupan untuk keluarga kecilnya.

Setelah lulus dari kampus, rutinitas Fina hanya membantu ibu, membaca buku, dan menonton TV jika ada sinetron yang ia sukai. Kegiatan Fina bertambah satu sejak luka akibat sebuah kehilanga. Yaitu duduk di kursi panjang taman di sore hari. Waktu pertama kali ia mendengar fakta yang menyakitkan.

***

Di sore selanjutnya, Fina kembali lagi ke taman itu dan duduk sebagaimana biasa. Ia tak memerlukan seorang teman atau sebuah urusan untuk keluar dari rumah dan duduk di kursi masa lalu itu.

Belum sampai sepuluh menit, Fina tiba-tiba teringat pada laki-laki itu. Laki-laki misterius yang tidak bersalah dan telah ia cuekin kemarin. Kemudian Fina mengeluarkan kacamata bening milik laki-laki itu dari sakunya. Berharap ia datang walau hanya sebentar untuk mengambil barangnya.

Cuaca sedang sangat cerah. Burung-burung beterbangan membawa doa dari rumah-rumah menuju langit. Menembus awan dan angin yang terus bertiup dari segala arah. Sedangkan pikiran Fina mulai memikirkan laki-laki itu. Fina merasa bersalah.

"Apakah mungkin ia tak akan kembali?" Ucap Fina dalam hatinya.

Tak lama dari itu, seorang laki-laki datang dan duduk di sebelah kanan Fina. Meski Fina tidak mengubah arah pandangan, Ia tetap bisa merasakannya. Namun entah mengapa, rasanya sangat berbeda dengan kemarin.

Tidak ada percapakan dari laki-laki itu. Ia hanya datang dan sedikit mengobati kerinduang Fina secara diam-diam. Laki-laki itu datang dari alam yang berbeda dan hanya menemani dalam waktu yg singkat. Tiba-tiba Fina tersenyum bahagia akibat kehadirannya. Siapakah dia?

Laki-laki itu masuk dalam pikiran Fina. Menghidupkan segala jenis kenangan yang pernah terjadi selama kurun waktu satu bulan. Ya, tiga puluh hari itu sudah menjadi hari terbaik Fina sebelum hidup. Hari yang selanjutnya menjadi kesedihan yang begjtu panjang.

Keduanya menyatu dalam dimensi dunia lain. Meski duduk secara bersebelahan, tapi tidak ada interaksi secara langsung di antara keduanya. Mereka menyelesaikan masalah yang sempat terjadi dalam sebuah tempat tak terlihat yang menghubungkan dua pikiran menjadi satu.

"Maaf Neng, apa sampean lihat kacamata bening saya kemarin?" Tanya laki-laki kemarin yang tiba-tiba datang.

Tidak ada jawaban dari Fina dan laki-laki di sampingnya. Keduanya masih tetap fokus melihat ke arah depan dengan tatapan kosong. Seperti ada sesuatu yang sedang dikerjakan secara tersembunyi. Laki-laki itu tidak mau ikut campur urusan mereka. Ia hanya mengambil kacamatanya yg kebetulan terlihat di saku Fina. Lantas pergi meninggal keduanya dengan perasaan tenang.

Di dalam pikiran Fina dan laki-laki itu, mereka bersepakat untuk tetap saling setia hingga ujung usia. Tak peduli pada perkataan orang-orang yang mengecap mereka gila

 

Al-Muhasibi, 30-08-2020


Tidak ada komentar: