Fina masih saja duduk di tempat yang
penuh dengan luka dan kecewa. Ia tak pernah berharap laki-laki itu akan datang
dan duduk di sampingnya untuk sekedar menghapus tetes air mata yang jatuh. Dan
seandainya itu terjadi, mungkin Fina akan pindah dan mencari tempat duduk lain
yang lebih tenang tanpa ada seorang pun.
Beberapa orang melintas di depan Fina.
Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda, dan ada yang merangkak sebab tak
punya betis di sisi kanan dan kiri. Sedangkan tatapan Fina, masih saja
menghadap kenangan yang terjadi beberapa minggu lalu. Sebuah kejadian yang
membuatnya lupa cara tertawa.
"Permisi Neng, boleh saya duduk di sini?"
Tanya seorang lelaki paruh baya dengan kacamata bening yang menempel di kedua
matanya.
Fina hanya menoleh. Tidak ada satu kata
pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan untuk sekedar menghargai orang yang baru
dikenal, Fina sudah merasa enggan. Kata-kata dan suara telah menghilang dari
dalam dirinya.
Kemudian laki-laki itu duduk di samping
kanan Fina. Membuat Fina harus sedikit bergeser ke arah kiri. Sedangkan jarak
di antara keduanya hanya berkisar satu jengkal.
Tak lama dari itu, suasana langsung
terasa berbeda. Angin telah berhasil mengirim kesepian dari lubuk Fina ke batin
laki-laki itu. Membuat laki-laki itu terdiam, kehilangan kata-kata, dan bingung
harus memulai percakapan dari arah mana. Padahal, laki-laki itu adalah salah
satu playboy ternama yang dengan mudah mengalihkan perasaan perempuan ke
hadapannya.
Pikiran Fina semakin menjauh. Ia sudah
tak merasa bahwa ada orang lain yang sedang ada di sampingnya. Ingatan tentang
janji yang hampir membuatnya mati sungguh akan selalu membekas di kepala Fina.
Tentang rencana indah, senyum rekah, dan kehilangan yang berhasil membuatnya
patah.
Keduanya masih terdiam. Sibuk dengan
pikirannya masing-masing. Sesekali laki-laki itu melirik ke arah Fina. Mencoba
menafsirkan jenis tatapan yang Fina pakai saat itu. Sedangkan senja sebentar
lagi akan datang. Memaksa keduanya untuk kembali ke rumah.
"Saya pamit dulu Neng," ucap laki-laki itu
sambil berdiri.
Sejenak Fina menoleh. Tidak ada jawaban
dari mulutnya. Hanya isyarat mata yang seolah-olah memberikannya izin untuk
pergi. Tanpa menunggu balasan, laki-laki itu langsung pergi ke arah barat.
Menuju senja yang sebentar lagi akan tenggelam.
Fina kembali menggeser posisi duduknya
ke arah semula. Tiba-tiba Fina merasakan sesuatu di tangan kanannya. Ya, sebuah
kacamata bening tergeletak di samping kanannya. Pikiran Fina langsung teringat
pada laki-laki itu.
"Ah, payah, kok bisa dia lupa dengan
kacamatanya," kesal Fina dalam hati.J
Fina memutuskan untuk membawa kacamata
itu pulang ke rumah. Menyimpannya untuk beberapa waktu ke depan. Dan mungkin
akan mengembalikannya saat bertemu kembali dengan laki-laki itu.
***
Masih tidak ada yang bisa mengubah
kondisi hati Fina. Bahkan bapak dan ibunya sendiri. Sudah beberapa kali si ibu
membawa laki-laki baru dari berbagai penjuru dengan beragam kelebihan. Ada yang
tampan seperti artis, ada yang kaya seperti raja, dan ada yang sholih seperti
kyai. Namun sayang, semua itu tak sanggup membasuh luka yang masih menganga di
dada Fina.
"Ayo lah Nak, kamu harus bisa keluar dari masa
lalumu itu. Teman-temanmu sudah banyak yang menikah. Mau sampai kapan kamu
seperti ini terus?" Si Ibu sedikit mengiba pada Fina.
Fina hanya diam di kursi ruang tengah.
Beberapa kali ia merespon perkataan sang ibu untuk menjaga perasaannya. Tapi
jika menyangkut masalah perasaan, sepertinya Fina masih perlu berpikir jauh.
Sejauh kenangan yang telah berlalu.
Usia Fina sudah masuk angka 28. Sebuah
angka yang sudah sangat matang untuk menikah dan membangun rumah tangga.
Tetangga sebelah yang baru masuk usia 20 sudah melaksanakan pernikahan beberapa
hari lalu. Sejak saat itu, cibiran-cibiran masyarakat mulai mampir ke telinga
Fina.
Setelah berbicara tentang banyak hal, si
ibu kemudian pergi ke dapur. Fina masih saja duduk dengan HP dan satu buah buku
fiksi yang baru dibeli kemarin. Suasana rumah terasa sepi. Bapak masih belum
datang dari pasar. Mencari penghidupan untuk keluarga kecilnya.
Setelah lulus dari kampus, rutinitas
Fina hanya membantu ibu, membaca buku, dan menonton TV jika ada sinetron yang
ia sukai. Kegiatan Fina bertambah satu sejak luka akibat sebuah kehilanga.
Yaitu duduk di kursi panjang taman di sore hari. Waktu pertama kali ia mendengar
fakta yang menyakitkan.
***
Di sore selanjutnya, Fina kembali lagi
ke taman itu dan duduk sebagaimana biasa. Ia tak memerlukan seorang teman atau
sebuah urusan untuk keluar dari rumah dan duduk di kursi masa lalu itu.
Belum sampai sepuluh menit, Fina
tiba-tiba teringat pada laki-laki itu. Laki-laki misterius yang tidak bersalah
dan telah ia cuekin kemarin. Kemudian Fina mengeluarkan kacamata bening milik
laki-laki itu dari sakunya. Berharap ia datang walau hanya sebentar untuk
mengambil barangnya.
Cuaca sedang sangat cerah. Burung-burung
beterbangan membawa doa dari rumah-rumah menuju langit. Menembus awan dan angin
yang terus bertiup dari segala arah. Sedangkan pikiran Fina mulai memikirkan
laki-laki itu. Fina merasa bersalah.
"Apakah
mungkin ia tak akan kembali?" Ucap Fina dalam hatinya.
Tak lama dari itu, seorang laki-laki
datang dan duduk di sebelah kanan Fina. Meski Fina tidak mengubah arah
pandangan, Ia tetap bisa merasakannya. Namun entah mengapa, rasanya sangat berbeda
dengan kemarin.
Tidak ada percapakan dari laki-laki itu.
Ia hanya datang dan sedikit mengobati kerinduang Fina secara diam-diam.
Laki-laki itu datang dari alam yang berbeda dan hanya menemani dalam waktu yg
singkat. Tiba-tiba Fina tersenyum bahagia akibat kehadirannya. Siapakah dia?
Laki-laki itu masuk dalam pikiran Fina.
Menghidupkan segala jenis kenangan yang pernah terjadi selama kurun waktu satu
bulan. Ya, tiga puluh hari itu sudah menjadi hari terbaik Fina sebelum hidup.
Hari yang selanjutnya menjadi kesedihan yang begjtu panjang.
Keduanya menyatu dalam dimensi dunia
lain. Meski duduk secara bersebelahan, tapi tidak ada interaksi secara langsung
di antara keduanya. Mereka menyelesaikan masalah yang sempat terjadi dalam
sebuah tempat tak terlihat yang menghubungkan dua pikiran menjadi satu.
"Maaf Neng, apa sampean lihat kacamata bening
saya kemarin?" Tanya laki-laki kemarin yang tiba-tiba datang.
Tidak ada jawaban dari Fina dan
laki-laki di sampingnya. Keduanya masih tetap fokus melihat ke arah depan
dengan tatapan kosong. Seperti ada sesuatu yang sedang dikerjakan secara
tersembunyi. Laki-laki itu tidak mau ikut campur urusan mereka. Ia hanya
mengambil kacamatanya yg kebetulan terlihat di saku Fina. Lantas pergi
meninggal keduanya dengan perasaan tenang.
Di dalam pikiran Fina dan laki-laki itu,
mereka bersepakat untuk tetap saling setia hingga ujung usia. Tak peduli pada
perkataan orang-orang yang mengecap mereka gila
Al-Muhasibi,
30-08-2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar