Nenek
selalu mengajarkan cucu-cucunya untuk sabar saat menerima musibah dan bersyukur
saat menerima nikmat.
“Seberapa besar musibah yang menimpa kita, kita harus
bisa sabar menerimanya. Dan seberapa kecil nikmat yang kita terima, kita, kita
harus pandai mensyukurinya. Semua itu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang
terbaik bagi semua hambanya. Tak terkecuali kalian,” nenek mengakhiri petuahnya
dengan batuk.
Rani
dan Rino hanya mengangguk-ngangguk mendengar petuah neneknya. Sebagai anak yang
baru memsuki usia remaja, tentu untuk memahami kehidupan secara mendalam masih
belum terlalu bisa. Paling tidak, mereka telah diberikan pemahaman sejak masih
labil. Dengan begitu mereka tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.
Rino
tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan tangguh menghadapi takdir. Di
pundaknya tertanggung adik kembarnya sekaligus nenek yang sudah hampir membuka
pintu baru. Untung masih ada paman. Beliaulah yang menggantikan posisi bapak
dan ibu. Tak jarang paman harus pontang-panting mati-matian demi menghidupi
keluarga sudaranya yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Semua itu dia lakukan
dengan ikhlas tanpa embel-embel apapun.
Sedangkan
Rani tumbuh menjadi perempuan cantik yang pemalu. Di wajahnya seperti terlukis
senja paling indah dan dzikir angin yang membentuk gelombang rindu bagi
siapapun yang melihatnya. Kedua perawakan anak ini memang asli diturunkan oleh
kedua orang tua mereka. orang tua yang belum sempat melihat mereka bisa tegak
berdiri.
Sejak
tiga tahun terakhir, nenek memang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Mulai
dari penyakit luar hingga dalam, semuanya bercampur menjadi satu dalam diri
nenek. Rino dan Rani sebenarnya tidak tega saat mendengar batuk nenek yang
mengisyaratkan kematian. Tapi umur tidak ada yang tahu. Buktinya, kedua orang
tua mereka telah lebih dulu menemui Tuhan dibanding neneknya.
Rino
dan Rani banyak belajar kehidupan kepada neneknya. Usia beliau yang sudah
mencapai angka 70 tentu telah banyak menampung pengalaman dan penuh perjuangan.
Konon katanya, orang dulu jika mau makan harus mencari bahan-bahannya sendiri
langsung di sawah-sawah. Tanaman pagar dijadikan menu pelengkap rasa. Tapi
anehnya, orang-orang dulu tetap saja sehat meski dalam keadaan seperti itu.
Tidak seperti sekarang yang semuanya serba tersedia dan penyakit semakin
merajalela.
“Kami berangkat ke sekolah dulu Nek,” pamit Rino
sekaligus Rani mengikuti di belakangnya.
Diciumnya
tangan sang nenek yang sudah bau tanah dan dipenuhi keriput. Mata beliau yang
masih tergolong sehat memancarkan cahaya keikhlasan melepas cucu-cucunya pergi
menuntut ilmu. Tak lupa sang nenek mengusap kepala kedua cucunya sambil membaca
doa keselamatan agar mereka senantiasa berada dalam lindungan Tuhan. Doa itu
sudah turun-temurun dari keluarga mereka.
Tidak
ada yang bisa dikendarai selain kaki sendiri. Satu buku dan satu pulpen
menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang melarat. Tidak ada tas yang bisa
digunakan untuk menampung segala barang yang dibawa. Jadi mereka harus membawa
dengan tangan mereka sendiri.
Matahari
masih belum terlalu panas. Wajar saja, mereka berangkat dari rumah pukul
setengah enam pagi sebab jarak yang lumayan jauh. Dan tentu mereka tidak ingin
telat masuk sekolah walau hanya satu menit. Jiwa disiplin dan tanggung jawab
benar-benar telah melakat dalam diri mereka.
##@@##
Berbagai
macam pelajaran mereka terima dengan pikiran jernih. Dalam diri mereka
tersimpan keiikhlasan dan daya juang yang sangat tinggi. Tak peduli pada
teman-temannya yang menang dalam segi ekonomi dan fasilitas, mereka tetap pada
prinsip yang dipegang teguh “Menjadi Yang Terbaik” dalam bidang keilmuan.
Di
semester satu pertama, mereka langsung berhasil meraih peringkat satu dan dua
di kelas. Mereka seperti bermain di taman permainan yang isinya adalah berbagai
jenis ilmu. Kenikmatan belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar mendorong
mereka untuk terus membaca dan menghafalkan. Sungguh prestasi yang sangat
gemilang oleh dua anak kembar miskin itu.
Satu semester berlalu dengan sangat cepat hingga tiba
pemberian nilai.
“Wah, nilaimu bagus-bagus nak,” salah satu orang tua
yang hadir memuji nilai Rani.
“Kamu juga tidak kalah saing,” kata bapak yang lain pada
Rino.
Keduanya
mendapatkan penghargaan khusus dari kepala sekolah dan beberapa guru.
Teman-teman yang lain ada yang iri melihat kebahagiaan Rani dan Rino. Apablagi
kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan kalah dengan keluarga
melarat.
Sesampainya
di rumah, kabar itu langsug disampaikan pada nenek yang batuknya sudah semakin
nyaring. Mendengar kabar itu, senyum nenek spontan semakin mengembang. Terlihat
raut kebahagiaan di wajah beliau yang semakin tua. Hingga kemudian beliau
menyampaikan petuah lagi.
“Selamat cu atas
prestasinya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian ingat, bahwa inti dari kalian
mencari ilmu adalah bukan tentang prestasi. Kalian akan menghadapi perjuangan
yang lebih hebat setelah menerima ilmu di sekolah. Tidak hanya sebatas
mengamalkan dan mempertahankan, tapi juga bagaimana kalian bisa membersihkan
hati dari segala penyakit dalam menggapai ridho-NYA,” nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk yang
semakin parau.
Keduanya
mengangguk. Kebanggan yang awalnya menggebu-gebu mulai menurun setelah
mendapatkan penjelasan dari sang nenek. Kemudian mereka keluar menuju kamarnya
meninggalkan nenek sendirian.
Di
dalam kamar, seperti biasa mereka kembali membaca beberapa buku kemudian
mendiskusikannya bersama. Beberapa persoalan mereka temukan jawabannya, dan
beberapa lagi masih belum terungkap. Selain menjadi ruang belajar, kamar mereka
sekaligus menjadi ruang imajinasi di mana cinta dan kata-kata bersetubuh
melahirkan puisi. Ya, mereka kadang-kadang suka menjadi penyair.
Senja
beranjak pulang dari tempat bermainnya. Di sudut-sudut langit, gelap mulai
menunjukkan wajahnya. Sebentar lagi pasukan bulan dan bintang akan segera
menyerbu Rani dan Rino serta penduduk setempat.
Tepat
saat adzan maghrib berkumandang, paman Rani datang membawa kabar buruk yang
akan menjadi awal dari kesedihan yang lain. Wajahnya yang sudah lelah tampak
semakin kusut dengan berita yang entah akan disampaikan bagaimana pada yang
lain.
Ya,
sang paman telah kehilangan pekerjaannya setelah melakukan kesalahan. Dengan
begitu, dia sudah tidak bisa lagi membiayai sekolah Rani dan Rino. Dan
mirisnya, pembayaran uang sekolah sudah tinggal tiga hari lagi.
##@@##
Semester kembali berganti.
Mau
tidak mau, akhirnya paman meyampaikan berita itu pada mereka. kabar yang
bertolak belakang dengan kegembiraan mereka beberapa waktu yang lalu.
“Jadi bagaimana paman?” tanya Rani.
“Untuk sementara kalian berhenti sekolah dulu,” ucapan
itu sulit sekali keluar dari mulut paman.
Keduanya
langsung terdiam. Tidak ada suara apapun kecuali angin yang lewat kemudian
berlalu. Mata Rani dan Rino saling berpandangan. Tampak sebuah kekecewaan yang
sangat mendalam dari mata mereka. tapi mereka hanya diam tanpa kata-kata
menahan tangis agar tidak tumpah di hadapan paman yang baik hati.
Esok
harinya paman langsung pergi ke sekolah untuk memberikan kabar bahwa Rani dan
Rino tidak bisa membayar SPP sekolah. Dengan begitu berarti Rani dan Rino
terpaksa tidak bisa mengikuti sekolah. Keputusan sekolah yang begitu ketat
seolah memutus cita-cita Rani dan Rino. Padahal mereka termasuk anak rajin
berprestasi yang layak diperjuangkan. Tapi apalah daya, peraturan tetaplah
peraturan.
“Dengan mohon maaf yang sebesar-besarnya, anak bapak
tidak bisa melanjutkan sekolah di sini,” tegas kepala sekolah.
Rino yang mendengarnya dari arah luar spontan sangat
terpukul. Cita-citanya untuk menjadi orang sukses di masa depan sedang dilanda
kabut hitam.
Akhirnya
paman Rani pulang dengan membawa sedih yang sangat mendalam. Tatapannya mulai
redup tak seperti saat baru berangkat dari rumah. Pikirannya lanhsung tertuju
para Rni dan Rino yang sangat semangat belajar. Apa jadinya dua anak
berprestasi harus berhenti gara-gara masalah ekonomi.
Di
rumah, nenek sudah duduk di ruang tengah sambil menonton berita TV. Di depannya
tersaji buah mangga yang sudah dipotong kecil-kecil. Tak lupa sebotol air
mineral juga ada di sana. Paman masuk dengan raut wajah berbeda.
“Ada apa?” tanya lirih nenek sambil menatap paman.
Paman
tak langsung menjawab. Dia menatap nenek sejenak. Kemudian dia duduk di samping
nenek. Berusaha menyusun strategi agar apa yang disampaikan tidak menyakiti
hati nenek. Tapi sayang, nenek pasti lebih paham bagaimana makna raut wajah
seseorang.
Akhirnya
paman menceritakan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Perihal dirinya yang
dipecat akibat melakukan kesalahan, perihal Rino dan Rani yang dikeluarkan dari
sekolah, dan segala kesuh kesah yang hampir membuatnya gila. Mendengar hal itu,
nenek hanya terdiam. Di matanya seperti terbakar api kesedihan yang masih
ditutup-tutupi.
Paman
Rani mulai paham. Ia tidak ingin membawa suasana menjadi lebih buruk.
Dialihkannya pembicaraan pada sebuah acara televisi yang sudah berganti.
Sedangkan
di dalam kamar, Rino dan Rani sudah berderai air mata. Bantal yang mereka
jadikan alas sudah basah sampai ke dalam-dalam. Suasana kamar yang biasanya
selalu riang gembira kini berganti sunyi dan mengerikan. Imajinasi telah pulang
ke rumahnya masing-masing. Mereka berdua harus menghapus harapan yang sempat
dibangun.
##@@##
Takdir
tak bisa ditolak. Rasa kecewa yang didukung oleh penyakit dan restu dari maut
membuat nenek harus pulang ke rumah keabadian. Awalnya, nenek mengalami pusing
yang sangat berat, kemudian beliau tidak enak makan, hingga akhirnya dan masuk
rumah sakit.
Lagi-lagi
keluarga Rani harus menanggung biaya yang tidak sedikit. Musibah demi musibah
berganti menghampiri. Belum selesai tangis kemarin kering, kini sudah datang
tangis yang lebih deras lagi. Nenek divonis meninggal beberapa menit setelah
tidak ada kepastian perawatan lebih intensif dengan biaya yang lebih tinggi.
Tangis
pun meledak dari semua orang. Terutama Rani dan Rino yang masih belum menginjak
dewasa dan belum siap menghadapi kerasnya kehidupan. Takkan terdengar lagi
petuah nenek di beberapa kesempatan yang membuat mereka menjadi lebih baik. Doa
demi doa dipanjatkan untuk keselamatan nenek di alam kubur hingga aalam
akhirat.
Prosesi
jenazah dilakukan beramai-ramai oleh pendduk sekitar. Banyak dari para tengga
yang ikut berpartisipasi menguburkan jenazah nenek Rino. Bagi mereka, nenek ini
hanyalah orang biasa yang meninggalkan dunia. Tapi di mata Rani dan Rino,
beliau tidak hanya sekedar nenek, tapi juga sebagai pahlawan moral yang akan
selalu hidup sepanjang masa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar