Minggu, 23 Februari 2020

DI MATA DUA ORANG CUCU


Nenek selalu mengajarkan cucu-cucunya untuk sabar saat menerima musibah dan bersyukur saat menerima nikmat.
“Seberapa besar musibah yang menimpa kita, kita harus bisa sabar menerimanya. Dan seberapa kecil nikmat yang kita terima, kita, kita harus pandai mensyukurinya. Semua itu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang terbaik bagi semua hambanya. Tak terkecuali kalian,” nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk.
Rani dan Rino hanya mengangguk-ngangguk mendengar petuah neneknya. Sebagai anak yang baru memsuki usia remaja, tentu untuk memahami kehidupan secara mendalam masih belum terlalu bisa. Paling tidak, mereka telah diberikan pemahaman sejak masih labil. Dengan begitu mereka tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.
Rino tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan tangguh menghadapi takdir. Di pundaknya tertanggung adik kembarnya sekaligus nenek yang sudah hampir membuka pintu baru. Untung masih ada paman. Beliaulah yang menggantikan posisi bapak dan ibu. Tak jarang paman harus pontang-panting mati-matian demi menghidupi keluarga sudaranya yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Semua itu dia lakukan dengan ikhlas tanpa embel-embel apapun.
Sedangkan Rani tumbuh menjadi perempuan cantik yang pemalu. Di wajahnya seperti terlukis senja paling indah dan dzikir angin yang membentuk gelombang rindu bagi siapapun yang melihatnya. Kedua perawakan anak ini memang asli diturunkan oleh kedua orang tua mereka. orang tua yang belum sempat melihat mereka bisa tegak berdiri.
Sejak tiga tahun terakhir, nenek memang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Mulai dari penyakit luar hingga dalam, semuanya bercampur menjadi satu dalam diri nenek. Rino dan Rani sebenarnya tidak tega saat mendengar batuk nenek yang mengisyaratkan kematian. Tapi umur tidak ada yang tahu. Buktinya, kedua orang tua mereka telah lebih dulu menemui Tuhan dibanding neneknya.
Rino dan Rani banyak belajar kehidupan kepada neneknya. Usia beliau yang sudah mencapai angka 70 tentu telah banyak menampung pengalaman dan penuh perjuangan. Konon katanya, orang dulu jika mau makan harus mencari bahan-bahannya sendiri langsung di sawah-sawah. Tanaman pagar dijadikan menu pelengkap rasa. Tapi anehnya, orang-orang dulu tetap saja sehat meski dalam keadaan seperti itu. Tidak seperti sekarang yang semuanya serba tersedia dan penyakit semakin merajalela.
“Kami berangkat ke sekolah dulu Nek,” pamit Rino sekaligus Rani mengikuti di belakangnya.
Diciumnya tangan sang nenek yang sudah bau tanah dan dipenuhi keriput. Mata beliau yang masih tergolong sehat memancarkan cahaya keikhlasan melepas cucu-cucunya pergi menuntut ilmu. Tak lupa sang nenek mengusap kepala kedua cucunya sambil membaca doa keselamatan agar mereka senantiasa berada dalam lindungan Tuhan. Doa itu sudah turun-temurun dari keluarga mereka.
Tidak ada yang bisa dikendarai selain kaki sendiri. Satu buku dan satu pulpen menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang melarat. Tidak ada tas yang bisa digunakan untuk menampung segala barang yang dibawa. Jadi mereka harus membawa dengan tangan mereka sendiri.
Matahari masih belum terlalu panas. Wajar saja, mereka berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi sebab jarak yang lumayan jauh. Dan tentu mereka tidak ingin telat masuk sekolah walau hanya satu menit. Jiwa disiplin dan tanggung jawab benar-benar telah melakat dalam diri mereka.
##@@##
Berbagai macam pelajaran mereka terima dengan pikiran jernih. Dalam diri mereka tersimpan keiikhlasan dan daya juang yang sangat tinggi. Tak peduli pada teman-temannya yang menang dalam segi ekonomi dan fasilitas, mereka tetap pada prinsip yang dipegang teguh “Menjadi Yang Terbaik” dalam bidang keilmuan.
Di semester satu pertama, mereka langsung berhasil meraih peringkat satu dan dua di kelas. Mereka seperti bermain di taman permainan yang isinya adalah berbagai jenis ilmu. Kenikmatan belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar mendorong mereka untuk terus membaca dan menghafalkan. Sungguh prestasi yang sangat gemilang oleh dua anak kembar miskin itu.
Satu semester berlalu dengan sangat cepat hingga tiba pemberian nilai.
“Wah, nilaimu bagus-bagus nak,” salah satu orang tua yang hadir memuji nilai Rani.
“Kamu juga tidak kalah saing,” kata bapak yang lain pada Rino.
Keduanya mendapatkan penghargaan khusus dari kepala sekolah dan beberapa guru. Teman-teman yang lain ada yang iri melihat kebahagiaan Rani dan Rino. Apablagi kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan kalah dengan keluarga melarat.
Sesampainya di rumah, kabar itu langsug disampaikan pada nenek yang batuknya sudah semakin nyaring. Mendengar kabar itu, senyum nenek spontan semakin mengembang. Terlihat raut kebahagiaan di wajah beliau yang semakin tua. Hingga kemudian beliau menyampaikan petuah lagi.
“Selamat cu atas prestasinya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian ingat, bahwa inti dari kalian mencari ilmu adalah bukan tentang prestasi. Kalian akan menghadapi perjuangan yang lebih hebat setelah menerima ilmu di sekolah. Tidak hanya sebatas mengamalkan dan mempertahankan, tapi juga bagaimana kalian bisa membersihkan hati dari segala penyakit dalam menggapai ridho-NYA,”  nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk yang semakin parau.
Keduanya mengangguk. Kebanggan yang awalnya menggebu-gebu mulai menurun setelah mendapatkan penjelasan dari sang nenek. Kemudian mereka keluar menuju kamarnya meninggalkan nenek sendirian.
Di dalam kamar, seperti biasa mereka kembali membaca beberapa buku kemudian mendiskusikannya bersama. Beberapa persoalan mereka temukan jawabannya, dan beberapa lagi masih belum terungkap. Selain menjadi ruang belajar, kamar mereka sekaligus menjadi ruang imajinasi di mana cinta dan kata-kata bersetubuh melahirkan puisi. Ya, mereka kadang-kadang suka menjadi penyair.
Senja beranjak pulang dari tempat bermainnya. Di sudut-sudut langit, gelap mulai menunjukkan wajahnya. Sebentar lagi pasukan bulan dan bintang akan segera menyerbu Rani dan Rino serta penduduk setempat.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, paman Rani datang membawa kabar buruk yang akan menjadi awal dari kesedihan yang lain. Wajahnya yang sudah lelah tampak semakin kusut dengan berita yang entah akan disampaikan bagaimana pada yang lain. 
Ya, sang paman telah kehilangan pekerjaannya setelah melakukan kesalahan. Dengan begitu, dia sudah tidak bisa lagi membiayai sekolah Rani dan Rino. Dan mirisnya, pembayaran uang sekolah sudah tinggal tiga hari lagi.
##@@##
Semester kembali berganti.
Mau tidak mau, akhirnya paman meyampaikan berita itu pada mereka. kabar yang bertolak belakang dengan kegembiraan mereka beberapa waktu yang lalu.
“Jadi bagaimana paman?” tanya Rani.
“Untuk sementara kalian berhenti sekolah dulu,” ucapan itu sulit sekali keluar dari mulut paman.
Keduanya langsung terdiam. Tidak ada suara apapun kecuali angin yang lewat kemudian berlalu. Mata Rani dan Rino saling berpandangan. Tampak sebuah kekecewaan yang sangat mendalam dari mata mereka. tapi mereka hanya diam tanpa kata-kata menahan tangis agar tidak tumpah di hadapan paman yang baik hati.
Esok harinya paman langsung pergi ke sekolah untuk memberikan kabar bahwa Rani dan Rino tidak bisa membayar SPP sekolah. Dengan begitu berarti Rani dan Rino terpaksa tidak bisa mengikuti sekolah. Keputusan sekolah yang begitu ketat seolah memutus cita-cita Rani dan Rino. Padahal mereka termasuk anak rajin berprestasi yang layak diperjuangkan. Tapi apalah daya, peraturan tetaplah peraturan.
“Dengan mohon maaf yang sebesar-besarnya, anak bapak tidak bisa melanjutkan sekolah di sini,” tegas kepala sekolah.
Rino yang mendengarnya dari arah luar spontan sangat terpukul. Cita-citanya untuk menjadi orang sukses di masa depan sedang dilanda kabut hitam.
Akhirnya paman Rani pulang dengan membawa sedih yang sangat mendalam. Tatapannya mulai redup tak seperti saat baru berangkat dari rumah. Pikirannya lanhsung tertuju para Rni dan Rino yang sangat semangat belajar. Apa jadinya dua anak berprestasi harus berhenti gara-gara masalah ekonomi.
Di rumah, nenek sudah duduk di ruang tengah sambil menonton berita TV. Di depannya tersaji buah mangga yang sudah dipotong kecil-kecil. Tak lupa sebotol air mineral juga ada di sana. Paman masuk dengan raut wajah berbeda.
“Ada apa?” tanya lirih nenek sambil menatap paman.
Paman tak langsung menjawab. Dia menatap nenek sejenak. Kemudian dia duduk di samping nenek. Berusaha menyusun strategi agar apa yang disampaikan tidak menyakiti hati nenek. Tapi sayang, nenek pasti lebih paham bagaimana makna raut wajah seseorang.
Akhirnya paman menceritakan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Perihal dirinya yang dipecat akibat melakukan kesalahan, perihal Rino dan Rani yang dikeluarkan dari sekolah, dan segala kesuh kesah yang hampir membuatnya gila. Mendengar hal itu, nenek hanya terdiam. Di matanya seperti terbakar api kesedihan yang masih ditutup-tutupi.
Paman Rani mulai paham. Ia tidak ingin membawa suasana menjadi lebih buruk. Dialihkannya pembicaraan pada sebuah acara televisi yang sudah berganti.
Sedangkan di dalam kamar, Rino dan Rani sudah berderai air mata. Bantal yang mereka jadikan alas sudah basah sampai ke dalam-dalam. Suasana kamar yang biasanya selalu riang gembira kini berganti sunyi dan mengerikan. Imajinasi telah pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka berdua harus menghapus harapan yang sempat dibangun.
##@@##
Takdir tak bisa ditolak. Rasa kecewa yang didukung oleh penyakit dan restu dari maut membuat nenek harus pulang ke rumah keabadian. Awalnya, nenek mengalami pusing yang sangat berat, kemudian beliau tidak enak makan, hingga akhirnya dan masuk rumah sakit.
Lagi-lagi keluarga Rani harus menanggung biaya yang tidak sedikit. Musibah demi musibah berganti menghampiri. Belum selesai tangis kemarin kering, kini sudah datang tangis yang lebih deras lagi. Nenek divonis meninggal beberapa menit setelah tidak ada kepastian perawatan lebih intensif dengan biaya yang lebih tinggi.
Tangis pun meledak dari semua orang. Terutama Rani dan Rino yang masih belum menginjak dewasa dan belum siap menghadapi kerasnya kehidupan. Takkan terdengar lagi petuah nenek di beberapa kesempatan yang membuat mereka menjadi lebih baik. Doa demi doa dipanjatkan untuk keselamatan nenek di alam kubur hingga aalam akhirat.
Prosesi jenazah dilakukan beramai-ramai oleh pendduk sekitar. Banyak dari para tengga yang ikut berpartisipasi menguburkan jenazah nenek Rino. Bagi mereka, nenek ini hanyalah orang biasa yang meninggalkan dunia. Tapi di mata Rani dan Rino, beliau tidak hanya sekedar nenek, tapi juga sebagai pahlawan moral yang akan selalu hidup sepanjang masa.

Tidak ada komentar: