Minggu, 10 April 2022

Sepeda Merah Milik Nadziva


"Yah, aku pengen sepeda seperti punya Mbak Yolan," rengek Nadziva pada suatu sore.

Aku tak bisa langsung menjawab. Meng-iyakan permintaan Nadziva sama dengan menghabiskan anggaran belanja untuk bulan ini. Sedangkan menolak permintaannya pasti hanya membuatnya bersedih. Dan aku tak mau itu terjadi.

“Jalan-jalan ke pondok aja yuk. Nanti ketemu sama pak Yai dan Mbak Fara," ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Nadziva menolak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Di usianya yang masih 3 tahun, tentu tak akan bisa mengajaknya berdiskusi tuk memahami keadaan ekonomi keluarga. Bagaimana susahnya mencari uang. Banyaknya kebutuhan rumah yang harus dipehuhi. Belum lagi tagihan utang yang datang dari arah sana-sini.

"Yaah.. mau beli sepeda kayak punya mbak Yolan," rengek lagi Nadziva.

Aku kembali tertegun. Bingung hendak melakukan apa. Hingga akhirnya Sofi (istriku) datang dan berhasil mendiamkan Nadziva.

"Sayaaang, ini bunda punya-punya," ucap Sofi dengan nada yang membuat penasaran.

Nadziva langsung tertarik. Matanya berbinar-binar. Senyumnya kembali mengembang. Mungkin memang seperti itu, setiap anak kecil selalu suka dengan kejutan. Tak peduli apapun itu. Murah atau mahal, kecil atau besar, baru atau lawas, selama itu masih baru menurut anak kecil, maka akan selalu terlihat menyenangkan.

Dan benar saja, jajanan cokelat bernama Pocky sanggup menghapus duka dan air mata Nadziva. Biasanya, jajan kesukaan Nadziva adalah Oreo, Crispy, dan Slai O’lai yang sering kali mengisi toples di meja tengah.

Sesudah tiga suapan jajan Pocky, kuajak Nadziva untuk bermain ke pondok. Pondok Al-Hidayah itu menyimpan kenangan yang sangat berkesan bagiku. Berawal dari tempat itu, pertemuan antara aku dan Sofi dimulai. Kalau tidak salah, semuanya bermula dari acara gabungan antara OSIS putra dan putri.

Ini sudah ketiga kalinya aku mengajak Nadziva bermain ke pondok. Gus Ali selaku putra pengasuh kebetulan juga mempunyai anak kecil yang seumuran dengan Nadziva. Namanya Fara. Buah hati antara Gus Ali dan Neng Najmah. Dulu, aku dan Gus Ali sama-sama aktif di OSIS. Berkat organisasi itulah kami menemukan pasangan hidup meski harus dengan cara sedikit nakal.

Perjalanan menuju pondok ditempuh selama 15 menit. Aku dan Nadziva harus melewati pertokoan, pertigaan jalan raya, dan keramaian pasar Senin. Lalu masuk ke gang VI dan belok kiri sejauh 50 meter. Setelah itu barulah tampak bangunan megah dengan nama Al-HIDAYAH yang ditulis dengan huruf arab. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju dhalem.

"Assalamualaikum," ucapku dengan sopan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara air mancur dari kolam depan dhalem yang terdengar. Juga suara hentak kaki para santri yang sepertinya hendak pergi mengaji. Ada pula suara percakapan, candaan, dan kebingungan santri mencari sandal yang tertukar. Ya, mendengar suara gemuruh itu, spontan mengembalikan ingatanku pada beberapa tahun silam. Dimana aku masih berstatus santri dan belum ada Sofi dan Nadziva di sampingku.

Aku kembali mengucap salam. Nadziva mulai gelisah dalam pangkuanku. Matanya menangkap banyak hal yang membuatnya tertarik untuk turun. Menjamah banyak benda tanpa peduli apakah diizinkan atau tidak oleh sang pemilik. Tak lama dari itu, pintu dhalem terbuka. Gus Ali muncul dengan Fara yang ada di pangkuannya.

"Masyaallah Ahmad. Monggo silahkan masuk. Nggak kabar-kabar kamu Mad kalau mau ke sini," ucap Gus Ali.

"Ya sebenarnya nggak ada rencana sih Gus. Spontanitas aja tadi mau ke sini. Sekalian kangen sama pondok," jawabku.

Setelah masuk ruang tengah, Nadziva langsung turun. Begitu melihat Fara, keduanya sepakat untuk bermain di belakang. Ya, keduanya langsung kompak menuju ruang bermain di belakang dhalem. Sedangkan aku dan Gus Ali melanjutkan perbincangan tentang banyak hal.

"Tapi loh Mad. Kalau kita dulu itu nggak nakal, sepertinya nggak mungkin kita bisa ketemu sama istri kita," ujar Gus Ali.

"Betul Gus, sungguh kenakalan yang sangat menguntungkan," jawabku sambil terkekeh.

Tak hanya tentang masa lalu, Gus Ali juga menyampaikan beberapa rencana ke depan terkait pondoknya. Mulai dari pembangunan gedung baru, pembuatan mading, dan penambahan kamar mandi.

"Kalau bisa jangan hanya dari segi infrastruktur Gus. Tapi kualitas pembelajaran juga harus terus ditingkatkan. Itu yang sangat penting. Jadi bagaimana kiranya santri keluaran Al-HIDAYAH mempunyai kekuatan tersendiri. Jangan sampai nanti kayak saya,"

Gus Ali terkekeh.

"Halah kamu itu mesti merendah. Wong tulisanmu di koran keren-keren kok," balasnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Nadziva keluar ruangan dalam keadaan menangis.

"Yah.. pengen sepeda kayak punya mbak Fara," rengek Nadziva yang menghampiriku.

Di belakangnya, Fara ikut keluar. Dia nggak nangis. Tapi langsung menghamburkan dirinya ke Gus Ali.

"Cup cup cup.. iya nanti ayah belikan ya, nunggu uangnya dulu," jawabku.

"Kira-kira berapa harganya sepeda seperti itu Gus?" Tanyaku mesti sebenarnya tak tahu rupa sepeda yang Nadziva maksud.

"Sekitar dua jutaan,"

Aku tertegun. Honor sebagai penulis lepas rasa-rasanya tak cukup jika ditabung penuh selama satu minggu. Baru kalau sebulan mungkin cukup. Sementara itu, tangis Nadziva masih sedikit terdengar di telingaku. Sedangkan kepalaku terus berpikir.

"Gus, ngapunten, di sini mungkin ada pekerjaan yang bisa saya lakukan? Kasian Nadziva pengen banget beli sepeda," ucapku dengan harap-harap cemas.

"Oh ada Mad. Tapi sebagai kuli bangunan. Kalau mau, malamnya kamu juga bisa bantu ngajar di sini. Tapi ya bayarannya nggak sebesar di pondok modern," kata beliau.

"Nggak apa-apa Gus. Yang penting bisa buat tambah-tambah untuk beli sepedanya Nadziva,"

Setelah dirasa cukup, aku dan Nadziva langsung pamit pulang. Tak lupa Nadziva melambaikan tangan pada Fara. Dan senyum sumringah juga tampak dari kedua bibir mereka.

***

Besoknya aku langsung mulai bekerja. Dengan niat membelikan sepeda untuk anak, semangat dalam diri ini sepertinya bertambah dua kali lipat. Tak peduli pada panas yang semakin menyengat, keringat yang mengalir semakin deras, juga rasa capek yang hinggap di seluruh anggota tubuh. Bagiku, kebahagiaan Nadziva lebih penting untuk diperjuangkan.

Malamnya aku memutuskan untuk mengajar di pondok. Awalnya Sofi sempat melarangku dengan alasan menjaga kesehatan.

"Jangan terlalu diforsir Mas, Sofi khawatir nanti Mas malah sakit," katanya.

"Insyaallah semuanya aman Dek. Doakan saja Mas bisa kuat dan selalu sehat," balasku dengan senyum meneguhkan.

Tak seperti yang dibayangkan, satu minggu kerja tambahan ternyata tak cukup untuk menabung dan membelikan sepeda untuk Nadziva. Mau tidak mau, aku harus menambah hari kerja. Mungkin sekitar tiga hari.

***

Setelah susah payah kerja tambahan selama sepuluh hari, alhamdulillah uang untuk membeli sepeda Nadziva bisa terkumpul. Kebahagiaan yang terpancar dari kedua mata Nadziva saat mendengar kabar itu, telah berhasil menghapus melaratnya hidup.

"Besok kita ke Kota. Nanti Nadziva sendiri yang pilih mau sepeda seperti apa," ucapku padanya di ruang tengah.

"Horeeee...beli sepedaa..," Nadziva meloncat-loncat bahagia.

Hari kembali berganti. Setelah makan pagi dan bersiap-siap, aku dan Nadziva langsung meluncur ke Kota. Sebelum itu, informasi tempat jual sepeda anak telah berhasil kudapat dari Facebook.

Begitu sampai di lokasi, Nadziva langsung girang sambil lompat-lompat. Dengan penuh semangat dia berkeliling melihat semua jenis sepeda yang terpajang di sana.

Setelah cukup lama melihat-lihat, juga setelah mendengar pemaparan dari penjual, akhirnya Nadziva memutuskan untuk membeli sepeda warna merah bertuliskan hello kitty. Harganya dua juta rupiah. Namun setelah proses tawar-menawar, akhirnya harga itu berhasil turun menjadi satu juta tujuh ratus ribu rupiah.

***

Sesampainya di rumah, Nadziva masih terlihat sangat senang. Bahkan dari saking senang dan cintanya pada sepeda baru itu, Nadziva langsung menempelkan sebuah tulisan dengan hutuf kapital yang berbunyi "SEPEDA MERAH MILIK NADZIVA".

Aku dan Sofi yang melihat itu langsung tersenyum. Dalam hati aku berdoa, semoga keluarga ini senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Yang Maha Kuasa. Amiin.


Jumat, 01 April 2022

Surat Terakhir


Rutin setiap minggu, Ale selalu mengirim surat tuk sekadar berkabar tentang keadaan hari ini. Bahkan dari saking rutinnya dia mengirim surat, aku sudah mulai berani mengadu Ale dengan penulis-penulis kekinian yang selalu memanfaatkan warna senja, debur ombak, dan bising sepeda motor di jalanan sebagai bahan tulisan. Bahkan, lama-kelamaan, membaca surat Ale sama seperti membaca cerpen di ruang sastra. 

Surat itu sudah sampai satu jam yang lalu. Namun aku tak langsung membacanya karena ada pekerjaan dapur yang harus diselesaikan. Seperti menggoreng telur, mencuci piring, dan menata barang yang berantakan. 

Setelah urusan dapur selesai, aku kembali ke ruang tengah. Duduk santai sambil membuka surat yang sejak tadi dianggurkan. Timbul tanda tanya tentang kalimat apa yang sedang ditulis Ale. Seorang pemuda yang bersikeras keluar rumah untuk menantang kehidupan di luar.
Untuk kakakku tersayang.. 

"Ah, kalimat itu yang pasti berada di paling atas," kataku. 

Di Kota, aku merasa menjadi orang lain yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seperti ngopi sampai dini hari, minum arak, begadang di diskotik terdekat, hingga melupakan identitas keagamaan yang dulu pernah diajarkan oleh Bapak. Setelah kupikir-pikir kembali, rasa-rasanya perubahan ini lebih mengarah pada hal negatif. 

Kakak tahu sendiri kan, dulu aku itu orangnya suka ngaji di masjid, suka belajar di sore hari, suka nulis di malam hari. Tapi semua itu kini berubah. Tidak ada lagi baca buku atau nulis puisi. Aku seperti terhanyut oleh kebiasaan orang-orang sekitar. Jujur kadang aku bingung sendiri kak. Apakah aku lebih baik beradaptasi terus menerus? Atau berbalik arah tuk memegang prinsip hidup walau harus melawan arus? 

Di sini, orang paling banyak bicaranya yang dihormati, orang paling anti agama yang disegani, orang paling banyak minum araknya yang ditakuti, ya aku rasa kakak akan tahu bagaimana kelanjutannya. Sedangkan orang-orang sepertiku dulu malah tidak mendapatkan tempat. Keberadaannya hanya sebagai pelengkap cerita yang sering disuruh ini dan itu. 

Berawal dari itu, sebenarnya aku ingin cepat pulang. Kembali ke masa lalu yang penuh dengan ketenanangan. Kembali ke rumah sederhana yang sanggup membuatku bahagia. Dan kembali pada Tuhan yang katanya sudah menyiapkan surga untuk hambanya yang taat beragama. 

(TTD: Ale Setiawan) 

Aku tertegun membaca surat dari Ale. Bukan apa-apa, surat itu tak seperti biasanya yang hanya menanyakan kabar dan menjelaskan indahnya kehidupan Kota. Mulai dari gemerlap malamnya yang tak pernah redup, keramaian yang tak pernah surut, atau diskon terbaru yang bisa membuat dompet kehilangan penduduknya. 

Tapi tidak untuk kali ini. Ungkapan itu seperti sebuah rasa yang sudah terpendam lama. Sengaja dikubur untuk bisa tetap hidup normal seperti halnya yang lain. Agar bisa berbaur dengan yang lain. Agar bisa dihargai dan dihormati sama yang lain. Namun perlahan-lahan gundukan itu semakin besar dan meledak pada tulisan itu. 

Belum sempat aku menulis surat balasan, Rozi (anak pertamaku) yang masih berumur 3 bulan terdengar menangis. Arahnya dari kamar dekat dapur. Spontan kuletakkan lagi kertas dan pulpen di atas meja. Kemudian menghampiri Rozi yang terbangun dari tidurnya. 

Sesampainya di kamar, benar saja, Rozi sudah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Kristal di kedua matanya sudah pecah. Layaknya ibu pada umumnya, kuangkat Rozi dari tempat tidur. Dan begitu kuangkat Rozi, tempat tidurnya sudah basah. Dengan bau khas yang tak bisa dipungkiri hidung, aku langsung mencuci tempat tidur Rozi. 

Sekitar setengah jam kemudian, urusan Rozi sudah selesai. Dia kembali tertidur setelah dibawa jalan-jalan di depan rumah. Memang sejak lahir ke dunia, cara mendiamkan Rozi adalah dengan dibawa jalan-jalan ke luar. Entah itu ke taman depan rumah, pasar belakang rumah, atau lapangan sepak bola samping rumah. 

*
Malam sudah tiba. Kini waktunya menulis surat balasan untuk Ale. Seseorang yang kuanggap adik sejak 3 tahun yang lalu. Berawal dari event kepenulisan tingkat Nasional, kami berkenalan setelah rasa penasaran. 

"Kamu sejak kapan suka nulis?" Tanya Ale dengan santai.
"Sejak SMA. Kalau sampean?" Jawabku lalu bertanya balik.
"Wah mantap. Baru-baru ini sih, mungkin sekitar satu tahun yang lalu," ucap Ale. 

Kami pun berdiskusi tentang dunia kepenulisan yang sempat kami lalui. Seperti bagaimana cara mencari ide, cara menyusun kata menjadi kalimat yang baik, mempertahankan konsistensi, hingga tujuan besar hidup yang ingin dicapai dalam dunia kepenulisan. 

"Sebenarnya, dalam menulis itu, teori tak terlalu penting," kataku setelah banyak teori yang dijelaskan Ale.
"Iya sih, cuma kita harus tahu bagaimana memulai dan mengakhiri sesuatu," balasnya.
"Maksudnya?"
"Jadi begini, teori secara tidak langsung adalah pedoman atau jalan untuk mencapai sesuatu secara lebih hebat. Kita bisa saja berjalan tanpa panduan, tapi kemungkinan besar itu akan berlangsung lama," katanya panjang lebar.
"Ok lah," 

Sejak saat itu, kami berkenalan lebih dalam. Bukan sebagai seorang kekasih yang selalu meninggalkan emot love di akhir chat. Tapi lebih kepada saudara yang saling tukar pendapat dan pemikiran. 

"Kak, aku dikontrak Jawa Pos Radar Surabaya," ucap Ale dalam kolom chat WA. 

Aku yang kebetulan sedang bersantai di ruang tengah spontan terkejut. 

"Wah, keren. Gimana tuh kok bisa masuk di sana?" Tanyaku dengan penuh antusias.
"Panjang ceritanya kak. Tapi ada satu hal yang kurasa nggak enak," emot sedih mewakili perasaan Ale saat itu.
"Apa tuh?"
"Jadi aku ditugaskan untuk mengungkap satu kasus besar," katanya.
"Wadduh. Taruhannya pasti juga besar,"
"Iya kak. Bisa jadi nyawa melayang di pinggir jalan," 

Aku masih ingat betul, saat itu percakapan kita terus berlanjut hingga aku lupa batasnya. Segala macam tugas, beban, kegagalan, keberhasilan, dan apapun itu pasti Ale ceritakan dengan rinci. Dan entah mengapa, meskipun Ale bisa dikatakan terlalu sering mengganggu waktuku, aku tak pernah merasa keberatan. 

Hingga tiba pada suatu waktu. Ale ditugaskan di sebuah tempat yang susah sinyal. Satu hari sebelum berangkat, dia bilang kalau akan mengirim pesan lewat surat. Secara rutin dikirim setiap minggu. Entahlah, saat itu aku tak terlalu yakin dengan apa yang disampaikan Ale. Hingga akhirnya aku percaya dengan bukti yang sampai di depan rumah. 

Surat pertama:
Halo kakak. Bagaimana kabarmu disana? Alhamdulillah di sini aku baik-baik saja. Oh iya, aku tadi berhasil menyelesaikan naskah tentang politik. Dan ternyata mendapatkan apresiasi yang besar dari pemimpin redaksi. 

Surat kedua:
Halo kakak. Bagaimana nih kabarnya? Denger-denger kakak udah nikah yaa? Wah selamat ya kak. Semoga selalu bahagia di dunia sampai akhirat. Oh iya nih, aku baru saja memenangkan kejuaran sastra tingkat nasional. Yang ngadakan lomba dari kampus UB. Lebih lengkapnya bisa dilihat di akun instagramku dong. 

Surat ketiga:
Hay hay hay. Wah udah lama nggak ketemu nih kak. Katanya kakak mau buat buku, mana nih kok aku nggak dikasih? Apa harus nunggu aku dulu biar cepet selesai? Wkwkwk. 

Persisnya, surat-surat yang dikirm setiap minggu tak hanya berisi itu saja. Namun aku tak bisa menggambarkan secara jelas dan detail. Hingga akhirnya tiba pada suatu waktu, isi surat itu tak lagi tentang pertanyaan kabar, capaian terbaru, atau mungkin pengalaman paling menyenangkan dan menyakitkan. 

Surat itu benar-benar berbeda. Seperti ada ledakan yang tersimpan di dalamnya. Seperti ada luka yang begitu dalam. Seperti ada masa depan yang begitu suram. Dan ada keinginan yang tak bisa dijelaskan secara total. Maka sejak itulah sampai waktu yang tak pernah ditentukan.