"Yah, aku pengen
sepeda seperti punya Mbak Yolan," rengek Nadziva pada suatu sore.
Aku tak bisa langsung
menjawab. Meng-iyakan permintaan Nadziva sama dengan menghabiskan anggaran
belanja untuk bulan ini. Sedangkan menolak permintaannya pasti hanya membuatnya
bersedih. Dan aku tak mau itu terjadi.
“Jalan-jalan ke pondok
aja yuk. Nanti ketemu sama pak Yai dan Mbak Fara," ucapku mencoba
mengalihkan pembicaraan.
Nadziva menolak.
Tangisnya semakin menjadi-jadi. Di usianya yang masih 3 tahun, tentu tak akan bisa
mengajaknya berdiskusi tuk memahami keadaan ekonomi keluarga. Bagaimana
susahnya mencari uang. Banyaknya kebutuhan rumah yang harus dipehuhi. Belum
lagi tagihan utang yang datang dari arah sana-sini.
"Yaah.. mau beli
sepeda kayak punya mbak Yolan," rengek lagi Nadziva.
Aku kembali tertegun.
Bingung hendak melakukan apa. Hingga akhirnya Sofi (istriku) datang dan
berhasil mendiamkan Nadziva.
"Sayaaang, ini bunda
punya-punya," ucap Sofi dengan nada yang membuat penasaran.
Nadziva langsung
tertarik. Matanya berbinar-binar. Senyumnya kembali mengembang. Mungkin memang
seperti itu, setiap anak kecil selalu suka dengan kejutan. Tak peduli apapun
itu. Murah atau mahal, kecil atau besar, baru atau lawas, selama itu masih baru
menurut anak kecil, maka akan selalu terlihat menyenangkan.
Dan benar saja, jajanan
cokelat bernama Pocky sanggup menghapus duka dan air mata Nadziva. Biasanya,
jajan kesukaan Nadziva adalah Oreo, Crispy, dan Slai O’lai yang sering kali
mengisi toples di meja tengah.
Sesudah tiga suapan jajan
Pocky, kuajak Nadziva untuk bermain ke pondok. Pondok Al-Hidayah itu menyimpan
kenangan yang sangat berkesan bagiku. Berawal dari tempat itu, pertemuan antara
aku dan Sofi dimulai. Kalau tidak salah, semuanya bermula dari acara gabungan
antara OSIS putra dan putri.
Ini sudah ketiga kalinya
aku mengajak Nadziva bermain ke pondok. Gus Ali selaku putra pengasuh kebetulan
juga mempunyai anak kecil yang seumuran dengan Nadziva. Namanya Fara. Buah hati
antara Gus Ali dan Neng Najmah. Dulu, aku dan Gus Ali sama-sama aktif di OSIS.
Berkat organisasi itulah kami menemukan pasangan hidup meski harus dengan cara
sedikit nakal.
Perjalanan menuju pondok ditempuh
selama 15 menit. Aku dan Nadziva harus melewati pertokoan, pertigaan jalan
raya, dan keramaian pasar Senin. Lalu masuk ke gang VI dan belok kiri sejauh 50
meter. Setelah itu barulah tampak bangunan megah dengan nama Al-HIDAYAH yang
ditulis dengan huruf arab. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju dhalem.
"Assalamualaikum,"
ucapku dengan sopan.
Tidak ada jawaban. Hanya
suara air mancur dari kolam depan dhalem
yang terdengar. Juga suara hentak kaki para santri yang sepertinya hendak pergi
mengaji. Ada pula suara percakapan, candaan, dan kebingungan santri mencari
sandal yang tertukar. Ya, mendengar suara gemuruh itu, spontan mengembalikan
ingatanku pada beberapa tahun silam. Dimana aku masih berstatus santri dan
belum ada Sofi dan Nadziva di sampingku.
Aku kembali mengucap
salam. Nadziva mulai gelisah dalam pangkuanku. Matanya menangkap banyak hal
yang membuatnya tertarik untuk turun. Menjamah banyak benda tanpa peduli apakah
diizinkan atau tidak oleh sang pemilik. Tak lama dari itu, pintu dhalem terbuka. Gus Ali muncul dengan
Fara yang ada di pangkuannya.
"Masyaallah Ahmad.
Monggo silahkan masuk. Nggak kabar-kabar kamu Mad kalau mau ke sini," ucap
Gus Ali.
"Ya sebenarnya nggak
ada rencana sih Gus. Spontanitas aja tadi mau ke sini. Sekalian kangen sama
pondok," jawabku.
Setelah masuk ruang
tengah, Nadziva langsung turun. Begitu melihat Fara, keduanya sepakat untuk
bermain di belakang. Ya, keduanya langsung kompak menuju ruang bermain di
belakang dhalem. Sedangkan aku dan
Gus Ali melanjutkan perbincangan tentang banyak hal.
"Tapi loh Mad. Kalau
kita dulu itu nggak nakal, sepertinya nggak mungkin kita bisa ketemu sama istri
kita," ujar Gus Ali.
"Betul Gus, sungguh
kenakalan yang sangat menguntungkan," jawabku sambil terkekeh.
Tak hanya tentang masa
lalu, Gus Ali juga menyampaikan beberapa rencana ke depan terkait pondoknya.
Mulai dari pembangunan gedung baru, pembuatan mading, dan penambahan kamar
mandi.
"Kalau bisa jangan
hanya dari segi infrastruktur Gus. Tapi kualitas pembelajaran juga harus terus
ditingkatkan. Itu yang sangat penting. Jadi bagaimana kiranya santri keluaran
Al-HIDAYAH mempunyai kekuatan tersendiri. Jangan sampai nanti kayak saya,"
Gus Ali terkekeh.
"Halah kamu itu
mesti merendah. Wong tulisanmu di koran keren-keren kok," balasnya.
Sekitar sepuluh menit
kemudian, Nadziva keluar ruangan dalam keadaan menangis.
"Yah.. pengen sepeda
kayak punya mbak Fara," rengek Nadziva yang menghampiriku.
Di belakangnya, Fara ikut
keluar. Dia nggak nangis. Tapi langsung menghamburkan dirinya ke Gus Ali.
"Cup cup cup.. iya
nanti ayah belikan ya, nunggu uangnya dulu," jawabku.
"Kira-kira berapa
harganya sepeda seperti itu Gus?" Tanyaku mesti sebenarnya tak tahu rupa
sepeda yang Nadziva maksud.
"Sekitar dua
jutaan,"
Aku tertegun. Honor
sebagai penulis lepas rasa-rasanya
tak cukup jika ditabung penuh selama satu minggu. Baru kalau sebulan mungkin
cukup. Sementara itu, tangis Nadziva masih sedikit terdengar di telingaku. Sedangkan
kepalaku terus berpikir.
"Gus, ngapunten, di sini mungkin ada pekerjaan
yang bisa saya lakukan? Kasian Nadziva pengen banget beli sepeda," ucapku
dengan harap-harap cemas.
"Oh ada Mad. Tapi
sebagai kuli bangunan. Kalau mau, malamnya kamu juga bisa bantu ngajar di sini.
Tapi ya bayarannya nggak sebesar di pondok modern," kata beliau.
"Nggak apa-apa Gus.
Yang penting bisa buat tambah-tambah untuk
beli sepedanya Nadziva,"
Setelah dirasa cukup, aku
dan Nadziva langsung pamit pulang. Tak lupa Nadziva melambaikan tangan pada
Fara. Dan senyum sumringah juga tampak dari kedua bibir mereka.
***
Besoknya aku langsung
mulai bekerja. Dengan niat membelikan sepeda untuk anak, semangat dalam diri
ini sepertinya bertambah dua kali lipat. Tak peduli pada panas yang semakin
menyengat, keringat yang mengalir semakin deras, juga rasa capek yang hinggap
di seluruh anggota tubuh. Bagiku, kebahagiaan Nadziva lebih penting untuk
diperjuangkan.
Malamnya aku memutuskan
untuk mengajar di pondok. Awalnya Sofi sempat melarangku dengan alasan menjaga
kesehatan.
"Jangan terlalu
diforsir Mas, Sofi khawatir nanti Mas malah sakit," katanya.
"Insyaallah semuanya
aman Dek. Doakan saja Mas bisa kuat dan selalu sehat," balasku dengan
senyum meneguhkan.
Tak seperti yang
dibayangkan, satu minggu kerja tambahan ternyata tak cukup untuk menabung dan
membelikan sepeda untuk Nadziva. Mau tidak mau, aku harus menambah hari kerja.
Mungkin sekitar tiga hari.
***
Setelah susah payah kerja
tambahan selama sepuluh hari, alhamdulillah
uang untuk membeli sepeda Nadziva bisa terkumpul. Kebahagiaan yang terpancar
dari kedua mata Nadziva saat mendengar kabar itu, telah berhasil menghapus
melaratnya hidup.
"Besok kita ke Kota.
Nanti Nadziva sendiri yang pilih mau sepeda seperti apa," ucapku padanya
di ruang tengah.
"Horeeee...beli
sepedaa..," Nadziva meloncat-loncat bahagia.
Hari kembali berganti.
Setelah makan pagi dan bersiap-siap, aku dan Nadziva langsung meluncur ke Kota.
Sebelum itu, informasi tempat jual sepeda anak telah berhasil kudapat dari
Facebook.
Begitu sampai di lokasi,
Nadziva langsung girang sambil lompat-lompat. Dengan penuh semangat dia
berkeliling melihat semua jenis sepeda yang terpajang di sana.
Setelah cukup lama melihat-lihat,
juga setelah mendengar pemaparan dari penjual, akhirnya Nadziva memutuskan
untuk membeli sepeda warna merah bertuliskan hello kitty. Harganya dua juta
rupiah. Namun setelah proses tawar-menawar, akhirnya harga itu berhasil turun
menjadi satu juta tujuh ratus ribu rupiah.
***
Sesampainya di rumah,
Nadziva masih terlihat sangat senang. Bahkan dari saking senang dan cintanya
pada sepeda baru itu, Nadziva langsung menempelkan sebuah tulisan dengan hutuf
kapital yang berbunyi "SEPEDA MERAH MILIK NADZIVA".
Aku dan Sofi yang melihat
itu langsung tersenyum. Dalam hati aku berdoa, semoga keluarga ini senantiasa
diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Yang Maha Kuasa. Amiin.

