Di Kabupaten
Malang, khususnya di Kecamatan Lawang, terdapat organisasi independen yang
bergerak di bidang sosial masyarakat yang bernama Lingkar Sosial (LINKSOS).
Organisasi ini lahir pada tahun 2019 yang dikomandani oleh Ken Kerta sebagai Founder. Secara khusus, pergerakan
LINKSOS terletak pada ranah penciptaan lingkungan inklusivitas bagi para
penyandang disabilitas. Tentunya, gerakan kemanusiaan ini dibentuk dari banyak
arah, salah satunya ialah melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Melalui akses
UMKM, penyandang disabilitas mampu membuat batik yang berhasil terpajang di
Hotel IBIS. Tidak hanya itu, UMKM penyandang disabilitas Lingkar Sosial juga
telah bekerja sama dengan pihak Jasa Tirta dan Batik Sundari Pasuruan.
Kolaborasi tersebut merupakan buah dari hasil kerja keras yang panjang dalam
berkarya. Mengingat penyandang disabilitas masuk dalam kategori kelompok rentan
dan keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, konsistensi
mereka dalam membatik sungguh sangat luar biasa.
Menurut cerita
salah satu penyandang disabilitas pengrajin batik bernama Qodarul Irma Yulia,
setiap hari rabu pengrajin batik dari kalangan penyandang disabilitas rutin
datang ke bengkel produksi untuk membatik. Meski tidak ada target tertentu
produk yang harus dihasilkan, tapi semangat mereka dalam berkarya dan
menghasilkan sebuah produk sangatlah besar. Sehingga, tak heran jika melalui
produktivitas tersebut banyak perusahaan luar yang melirik dan bekerja sama
dengan LINKSOS. Jika sudah demikian, maka target pembuatan batik pun akan
disesuaikan dengan keinginan pihak mitra.
Melalui lajur
edukasi, Linksos mengkampanyekan kesadaran inklusif disabilitas melalui aktif
berjejaring dengan mahasiswa dan kerjasama dengan media massa. Selain itu, para
penyandang disabilitas juga bergerak sebagai pecinta alam yang tak segan-segan
untuk mendaki gunung setiap minggu. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah di tengah
keterbatasan fisik dan stereotipe masyarakat tentang penyandang disabilitas
yang katanya “Lemah”, “Tidak mampu”, dan sejenisnya. Padahal nyatanya, tidak
demikian.
Melalui jalan
kesehatan, Linksos berhasil membuat posyandu disabilitas. Perlu diketahui, di
Kabupaten Malang, di setiap desa dampingan, terdapat Surat Keputusan (SK) yang
mengesahkan kepengurusan posyandu disabilitas. Sehingga pengurus posyandu ini
berhak mengikuti rapat desa. Seperti Karang Taruna, Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga (PKK), dan lain sebagainya. Dengan adanya SK tersebut, secara otomatis
mereka berhak ikut rapat dan menyampaikan pendapat di muka rapat. Serta juga
berhak mendapatkan anggaran di setiap tahunnya. Dengan demikian, posisi
penyandang disabilitas benar-benar ditempatkan setara dengan masyarakat non
disabilitas.
Sebagai
informasi tambahan, dari tiga wilayah cakupan yang telah disebutkan di atas,
Linksos menaungi 37 kelurahan. 15 desa di Pasuruan, 1 kelurahan di Kota Malang,
dan sisanya di Kabupaten Malang. Dari 37 Kelurahan tersebut, Linksos memiliki
12 posyandu disabilitas. Sedangkan total disabilitas sampai saat ini berjumlah
1.859 orang. Dan juga melibatkan 195 kader (relawan). Data tersebut terus
diupdate setiap bulan secara konsisten.
Semua komponen
di atas baik yang bersifat UMKM, edukasi masyarakat, kesehatan, dan kelestarian
alam akan melakukan kolaborasi massif dan bersatu menjadi sebuah proyek film
Nasional Bandhagiri yang tentunya, tak lepas dari menyuarakan lingkungan
inklusivitas sebagai ide besar guna membawa nasib para penyandang disabilitas
ke arah yang lebih baik di masa depan. Selain itu, ini juga akan berdampak
positif terhadap UMKM lingkungan sekitar per-filman sebagai bentuk kebangkitan
bersama. Secara tidak langsung, UMKM sekitar kawasan per-filman juga akan
kecipratan efek positif dari proyek Nasional ini. Entah itu berbentuk pelanggan
yang baru, informasi penting, calon mitra usaha masa depan, dan lain
sebagainya.
Sementara itu,
Bandhagiri sendiri adalah bahasa sansekerta yang memiliki dua arti. Bhanda
yang berarti sabuk pengikat/ dikelilingi, dan Giri yang berarti Gunung. Dalam
artian, gunung menjadi salah satu icon penting dalam proses pembuatan ini.
Adapun beberapa gunung yang dimaksud ialah Gunung Semeru, Gunung Arjuno, Gunung Kawi, Gunung
Tengger, Gunung Anjasmoro, Gunung Kendeng Selatan. Wilayah episentrum kawasan
Bhandagiri tersebut adalah Malang Raya. Dan, yang lebih hebatnya adalah proses
pembuatan film ini direncanakan akan melibatkan Dian Sastrwowardoyo sebagai
salah satu pemeran film.
Proyek pembuatan film ini
merupakan bentuk optimalisasi potensi yang ada di Malang raya. Mulai dari pariwisata, destinasi
kreatif, kelestarian lingkungan alam, infrastruktur, kebudayaan, pendidikan,
kesejahteraan sosial dan lain-lainnya. Semua itu bersatu padu menjadi sebuah
karya yang dikemas dalam bentuk film sebagai bahan tontonan publik dan ajang
edukasi tentang kesetaraan dan kekuatan yang dimiliki para penyandang
disabilitas. Mengingat sebagian kelompok dalam film tersebut akan diperankan
oleh para penyandang disabilitas itu sendiri.
Oleh sebab itu, tak heran jika
persiapan pembuatan film Bhandagiri ini membutuhkan waktu yang panjang dan
sinergitas antar sektor yang solid. Selain tiga
kepala daerah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang & Kota Batu), juga
harus melibatkan Bakorwil Jawa Timur, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS),
Badan Pelayanan Pendapatan Daerah (BPPD), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jasa Tirta, dan seluruh Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) dari tingkat daerah Malang Raya hingga Provinsi Jawa
Timur. Bahkan, juga harus melibatkan elemen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
mempunyai tujuan untuk membangun Kawasan Bhandagiri. Selanjutnya, juga harus melibatkan Kementerian terkait untuk
program kerja pembangunan secara Nasional.
Semangat
bergerak dan bangkit bersama yang ditunjukkan oleh LINKSOS dan beragam unit di
dalamnya, serta beberapa organ yang disebutkan di atas adalah bentuk
manifestasi masa depan yang perlu dijaga, dirawat, dan ditumbuh-kembangkan
seiring perkembangan zaman. Dan mungkin nantinya, tidak hanya UMKM atau
organisasi yang disebutkan di atas yang bisa terlibat dalam produksi film
Nasional Bhandagiri, tapi juga unit usaha atau organisasi lainnya. Termasuk JNE
dalam proses pengiriman barang misalnya.
Perlu
diketahui, produksi film Nasional Bhandagiri ini tentunya melibatkan seluruh
unit yang ada di dalam LINKSOS. Baik dari sisi UMKM, kelurahan inklusi,
posyandu disabilitas, maupun dari kelompok pecinta alam. Semua itu dikemas
dalam satu kesatuan menjadi alur yang apik, cerita yang menarik, dan pastinya
mengandung misi kemanusiaan dalam bentuk film Nasional Bhandagiri. Berangkat
dari narasi tersebut, secara jelas ini adalah bentuk kebangkitan bersama,
termasuk di bidang UMKM untuk tidak sekadar mencari banyak keuntungan, tapi
juga menembak akal sehat dan hati nurani agar sadar akan pentingnya
inklusivitas.
Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kolaborasi dan sinergitas
lintas sektor dalam upaya bangkit bersama menjadi sebuah keniscayaan yang harus
dilakukan secara matang, terukur, dan membawa dampak positif bagi seluruh
elemen yang terlibat. Baik terhadap UMKM lintas usaha, pemerintah daerah,
pemerintah pusat, organisasi independen, dan lain sebagainya. Lebih-lebih produksi film Nasional
Bhandagiri ini didominasi dan dikhususkan bagi kalangan disabilitas yang ingin
menyuarakan keluh-kesahnya tentang kesetaraan dan lingkungan inklusif.
#JNE32tahun
#JNEBangkitBersama
#jnecontentcompetition2023
#ConnectingHappiness






