Minggu, 21 Mei 2023

SINERGITAS LINTAS SEKTOR DALAM MENYONGSONG PRODUKSI FILM NASIONAL BHANDAGIRI

Di Kabupaten Malang, khususnya di Kecamatan Lawang, terdapat organisasi independen yang bergerak di bidang sosial masyarakat yang bernama Lingkar Sosial (LINKSOS). Organisasi ini lahir pada tahun 2019 yang dikomandani oleh Ken Kerta sebagai Founder. Secara khusus, pergerakan LINKSOS terletak pada ranah penciptaan lingkungan inklusivitas bagi para penyandang disabilitas. Tentunya, gerakan kemanusiaan ini dibentuk dari banyak arah, salah satunya ialah melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Melalui akses UMKM, penyandang disabilitas mampu membuat batik yang berhasil terpajang di Hotel IBIS. Tidak hanya itu, UMKM penyandang disabilitas Lingkar Sosial juga telah bekerja sama dengan pihak Jasa Tirta dan Batik Sundari Pasuruan. Kolaborasi tersebut merupakan buah dari hasil kerja keras yang panjang dalam berkarya. Mengingat penyandang disabilitas masuk dalam kategori kelompok rentan dan keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, konsistensi mereka dalam membatik sungguh sangat luar biasa.

Menurut cerita salah satu penyandang disabilitas pengrajin batik bernama Qodarul Irma Yulia, setiap hari rabu pengrajin batik dari kalangan penyandang disabilitas rutin datang ke bengkel produksi untuk membatik. Meski tidak ada target tertentu produk yang harus dihasilkan, tapi semangat mereka dalam berkarya dan menghasilkan sebuah produk sangatlah besar. Sehingga, tak heran jika melalui produktivitas tersebut banyak perusahaan luar yang melirik dan bekerja sama dengan LINKSOS. Jika sudah demikian, maka target pembuatan batik pun akan disesuaikan dengan keinginan pihak mitra.

Melalui lajur edukasi, Linksos mengkampanyekan kesadaran inklusif disabilitas melalui aktif berjejaring dengan mahasiswa dan kerjasama dengan media massa. Selain itu, para penyandang disabilitas juga bergerak sebagai pecinta alam yang tak segan-segan untuk mendaki gunung setiap minggu. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah di tengah keterbatasan fisik dan stereotipe masyarakat tentang penyandang disabilitas yang katanya “Lemah”, “Tidak mampu”, dan sejenisnya. Padahal nyatanya, tidak demikian.

Melalui jalan kesehatan, Linksos berhasil membuat posyandu disabilitas. Perlu diketahui, di Kabupaten Malang, di setiap desa dampingan, terdapat Surat Keputusan (SK) yang mengesahkan kepengurusan posyandu disabilitas. Sehingga pengurus posyandu ini berhak mengikuti rapat desa. Seperti Karang Taruna, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan lain sebagainya. Dengan adanya SK tersebut, secara otomatis mereka berhak ikut rapat dan menyampaikan pendapat di muka rapat. Serta juga berhak mendapatkan anggaran di setiap tahunnya. Dengan demikian, posisi penyandang disabilitas benar-benar ditempatkan setara dengan masyarakat non disabilitas.

Sebagai informasi tambahan, dari tiga wilayah cakupan yang telah disebutkan di atas, Linksos menaungi 37 kelurahan. 15 desa di Pasuruan, 1 kelurahan di Kota Malang, dan sisanya di Kabupaten Malang. Dari 37 Kelurahan tersebut, Linksos memiliki 12 posyandu disabilitas. Sedangkan total disabilitas sampai saat ini berjumlah 1.859 orang. Dan juga melibatkan 195 kader (relawan). Data tersebut terus diupdate setiap bulan secara konsisten.

Semua komponen di atas baik yang bersifat UMKM, edukasi masyarakat, kesehatan, dan kelestarian alam akan melakukan kolaborasi massif dan bersatu menjadi sebuah proyek film Nasional Bandhagiri yang tentunya, tak lepas dari menyuarakan lingkungan inklusivitas sebagai ide besar guna membawa nasib para penyandang disabilitas ke arah yang lebih baik di masa depan. Selain itu, ini juga akan berdampak positif terhadap UMKM lingkungan sekitar per-filman sebagai bentuk kebangkitan bersama. Secara tidak langsung, UMKM sekitar kawasan per-filman juga akan kecipratan efek positif dari proyek Nasional ini. Entah itu berbentuk pelanggan yang baru, informasi penting, calon mitra usaha masa depan, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Bandhagiri sendiri adalah bahasa sansekerta yang memiliki dua arti. Bhanda yang berarti sabuk pengikat/ dikelilingi, dan Giri yang berarti Gunung. Dalam artian, gunung menjadi salah satu icon penting dalam proses pembuatan ini. Adapun beberapa gunung yang dimaksud ialah Gunung Semeru, Gunung Arjuno, Gunung Kawi, Gunung Tengger, Gunung Anjasmoro, Gunung Kendeng Selatan. Wilayah episentrum kawasan Bhandagiri tersebut adalah Malang Raya. Dan, yang lebih hebatnya adalah proses pembuatan film ini direncanakan akan melibatkan Dian Sastrwowardoyo sebagai salah satu pemeran film.

Proyek pembuatan film ini merupakan bentuk optimalisasi potensi yang ada di Malang raya. Mulai dari pariwisata, destinasi kreatif, kelestarian lingkungan alam, infrastruktur, kebudayaan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan lain-lainnya. Semua itu bersatu padu menjadi sebuah karya yang dikemas dalam bentuk film sebagai bahan tontonan publik dan ajang edukasi tentang kesetaraan dan kekuatan yang dimiliki para penyandang disabilitas. Mengingat sebagian kelompok dalam film tersebut akan diperankan oleh para penyandang disabilitas itu sendiri.

Oleh sebab itu, tak heran jika persiapan pembuatan film Bhandagiri ini membutuhkan waktu yang panjang dan sinergitas antar sektor yang solid. Selain tiga kepala daerah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang & Kota Batu), juga harus melibatkan Bakorwil Jawa Timur, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Badan Pelayanan Pendapatan Daerah (BPPD), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jasa Tirta, dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari tingkat daerah Malang Raya hingga Provinsi Jawa Timur. Bahkan, juga harus melibatkan elemen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai tujuan untuk membangun Kawasan Bhandagiri. Selanjutnya, juga harus melibatkan Kementerian terkait untuk program kerja pembangunan secara Nasional.

Semangat bergerak dan bangkit bersama yang ditunjukkan oleh LINKSOS dan beragam unit di dalamnya, serta beberapa organ yang disebutkan di atas adalah bentuk manifestasi masa depan yang perlu dijaga, dirawat, dan ditumbuh-kembangkan seiring perkembangan zaman. Dan mungkin nantinya, tidak hanya UMKM atau organisasi yang disebutkan di atas yang bisa terlibat dalam produksi film Nasional Bhandagiri, tapi juga unit usaha atau organisasi lainnya. Termasuk JNE dalam proses pengiriman barang misalnya.

Perlu diketahui, produksi film Nasional Bhandagiri ini tentunya melibatkan seluruh unit yang ada di dalam LINKSOS. Baik dari sisi UMKM, kelurahan inklusi, posyandu disabilitas, maupun dari kelompok pecinta alam. Semua itu dikemas dalam satu kesatuan menjadi alur yang apik, cerita yang menarik, dan pastinya mengandung misi kemanusiaan dalam bentuk film Nasional Bhandagiri. Berangkat dari narasi tersebut, secara jelas ini adalah bentuk kebangkitan bersama, termasuk di bidang UMKM untuk tidak sekadar mencari banyak keuntungan, tapi juga menembak akal sehat dan hati nurani agar sadar akan pentingnya inklusivitas.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kolaborasi dan sinergitas lintas sektor dalam upaya bangkit bersama menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan secara matang, terukur, dan membawa dampak positif bagi seluruh elemen yang terlibat. Baik terhadap UMKM lintas usaha, pemerintah daerah, pemerintah pusat, organisasi independen, dan lain sebagainya. Lebih-lebih produksi film Nasional Bhandagiri ini didominasi dan dikhususkan bagi kalangan disabilitas yang ingin menyuarakan keluh-kesahnya tentang kesetaraan dan lingkungan inklusif.

 

#JNE32tahun

#JNEBangkitBersama

#jnecontentcompetition2023

#ConnectingHappiness

Selasa, 19 Juli 2022

LUAR BIASA! BERIKUT 5 MANFAAT RUTINITAS MEMBACA BUKU BERSAMA ANAK SEJAK DINI

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Mungkin kalimat itulah yang cocok dengan apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Sebagaimana yang dilakukan kakak perempuan saya, bahwa membaca buku bersama anak adalah salah satu usahanya untuk mengawal tumbuh kembang anak tanpa terlewat. Tentunya, proses tersebut harus melewati proses yang cukup panjang.       

Menurut cerita yang saya gali dari kakak perempuan saya, tidak ada duka dalam membaca buku bersama anak. Karena membacakan buku adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun, rutinitas tersebut tentu mengandung berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi saat masih proses awal pengenalan pentingnya literasi bagi anak usia dini. Di fase tersebut, orang tua akan mendapati anak yang tidak peduli, acuh, bahkan lari saat dibacakan buku. Dan yang tak kalah susah adalah menjaga rutinitas tersebut agar terus konsisten membacakan buku dengan segala respon anak yang seringkali tidak sesuai harapan.

Namun, ketika orang tua mampu bersabar menghadapi tingkah sang anak, mampu menjaga konsistensi aktivitas membaca buku bersama anak, dan terus belajar tentang cara-cara atau strategi agar anak menyukai buku, maka perlahan-lahan anak akan takluk dan akhirnya menyukai buku. Jika hal itu sudah terjadi, maka ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh berbagi pihak.

Adapun manfaat yang bisa dipetik dari rutinitas membaca buku bersama anak ialah sebagai berikut:

  • 1.      Ketika anak mulai ketagihan dibacakan buku setiap hari

Pastinya, orang tua mana yang tidak senang ketika melihat anaknya mulai suka atau bahkan ketagihan dengan buku. Meski sering kali diawali dengan sekadar membolak-balikkan buku, melempar buku, dan tidak membaca buku sebagaimana mestinya, namun kedekatan anak dengan buku sudah menjadi benih kebahagiaan yang akan terus tumbuh seiring tumbuh-kembang anak. Apalagi di era saat ini yang sudah sangat canggih dan banyak menghadirkan game-game online dalam HP.

  • 2.      Mulai menghubungkan bahan bacaan dengan kenyataan

Seiring berjalannya waktu, saat anak sudah suka dibacakan buku, maka secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku dalam kesehariannya. Tentu, hal ini akan menjadi sangat lucu saat anak menemukan sesuatu dalam kesehariannya yang berhubungan atau bertentangan dengan buku. Sang anak akan mempertanyakan jika fakta di depannya tidak sesuai dengan buku, atau akan mengingat kembali apa yang pernah dia baca jika fakta di depannya memiliki kemiripan dengan bukunya.

  • 3.      Anak jadi lebih kritis

Secara otomatis, saat anak semakin banyak membaca atau dibacakan buku, anak akan menjadi lebih kritis dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga tak heran jika nantinya anak akan protes atau mengingatkan siapa saja yang tidak sesuai dengan apa yang pernah dia baca, termasuk perkataan dan perbuatan kedua orang tuanya sendiri. Jika sudah demikian, maka pasti kedua orang tua akan bangga melihat perkembangan anaknya ke arah yang lebih baik. Tidak hanya itu, kedua orang tua juga harus lebih hati-hati dalam bersikap atau bertutur kata di hadapan anaknya.

  • 4.      Banyak bertanya dan ingin tau banyak hal

Menurut hemat saya, setelah anak selesai membaca satu buku, maka akan tumbuh dalam pikirannya berbagai pertanyaan tentang banyak hal yang itu bisa saja tumpah secara tiba-tiba. Oleh sebab itu, saat anak sudah gemar membaca dan pandai bertanya tentang banyak hal, kedua orang tua juga harus tetap siaga tidak kalah cerdas dengan anaknya.

  • 5.      Bisa quality time bareng anak

Setiap orang tua pasti mempunyai caranya sendiri untuk berkumpul dan bercanda-ria dengan anak. Baik melalui media aneka jenis mainan, melakukan perjalanan ke suatu tempat, atau dengan membaca buku bersama anak. Tentunya, selama proses pendekatan yang dilakukan itu baik, maka itu sah-sah saja dilakukan. Namun, jika orang tua bisa membahagiakan sekaligus mencerdaskan anak, mengapa tidak? Salah satunya ialah dengan cara membaca buku bersama tentang suatu tema yang cocok dengan kehidupan anak.

Dengan usia yang masih terbilang dini, awalnya saya sebagai paman menganggap membaca buku bersama anak adalah kegiatan yang akan sulit diterima oleh anak. Apalagi Nadzif (Ponaan saya) waktu itu masih berusia tiga tahun. Masa-masa dimana bermain adalah prioritas utama dalam hidup. Namun, berkat ketekunan dan kesabaran kakak perempuan saya (Nazila), akhirnya membaca buku bersama anak sudah menjadi rutinitas menyenangkan antara kakak perempuan saya dan anaknya. Adapun jenis buku yang saat ini dibacakan kakak perempuan saya terhadap anaknya ialah Buku Wow Amazing Series, Ensiklopedi Bocah Muslim, dan Halo Balita. Katanya, rutinitas membacakan buku untuk anak dilakukan minimal satu kali dalam sehari. Kegiatan tersebut menghabiskan satu buku dengan rentan waktu 15 sampai 30 menit.

Menurut saya, motivasi membaca buku bersama anak yang dilakukan oleh kakak perempuan saya juga dilatarbelakangi oleh riwayat pendidikan. Ya, kakak perempuan saya sudah menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana di UIN Sunan Ampel Surabaya pada beberapa tahun yang lalu. Mungkin dengan bekal pendidikan itu, kakak perempuan saya semakin paham dan sadar tentang bagaimana pentingnya pengenalan literasi sejak usia dini. Salah satu bentuknya ialah dengan rutinitas membaca buku bersama anak hingga kemudian menjadi konsultan buku.  

Selain itu, disadari atau tidak, rutinitas membaca buku bersama anak merupakan langkah awal untuk mempersiapkan anak sebelum terjun ke sekolah. Dilansir dari artikel Generos.id, bahwa sekolah merupakan tempat atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberikan pelajaran. Sekolah menjadi tempat anak belajar, maka kemampuan belajar merupakan poin penting dalam keberlangsungan proses tersebut.

Sebelum masuk ke sekolah, tentunya anak membutuhkan persiapan atau yang biasa disebut pra sekolah. Hal ini terjadi pada anak usia 3 sampai 5 tahun yang sedang mengalami perkembangan motorik, bahasa, emosi dan sosial secara pesat. Sebab, di sekolah, anak akan dihadapkan dengan teman-teman yang memiliki karakter berbeda, tugas-tugas sekolah sesuai dengan usia, dan peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh peserta didik.

Sementara itu, dokter Lucy menjelaskan bahwa yang paling penting ialah kesiapan anak secara fisik, mental, kognitif dan motorik pada anak. Adapun yang dimaksud kesiapan fisik ialah kondisi tubuh anak dalam keadaan sehat dan bebas penyakit. Jika seandainya anak dalam kondisi sakit, maka alangkah lebih baiknya dikonsultasikan terlebih dahulu sebelum masuk sekolah. Sedangkan kesiapan mental adalah emosi dari anak itu sendiri berdasarkan usia dan kebiasaan sehari-harinya. Sementara aspek kognitif berupa kemandirian anak dalam melakukan berbagai kegiatan ringan seperti mencuci tangan atau makan dan minum sendiri. Dan motorik berbentuk kemampuan anak berdasarkan usianya. Seperti anak TK yang diharapkan sudah bisa menendang, berlari, memegang sendok, dan lain sebagainya.

Dalam dunia pendidikan anak, pasti tidak ada orang tua yang mau anaknya mengalami gangguan belajar. Baik dalam skala kecil atau besar. Adapun yang dimaksud dengan gangguan belajar menurut artikel yang dikutip dari Generos.id ialah ketika seorang anak mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang, ia lebih sulit belajar dengan cara belajar konvensional. Bahkan kecerdasan anak atau motivasi orang sekitar secara keseluruhan tidak dapat memengaruhi kemampuan belajarnya.

Oleh sebab itu, untuk lebih meningkatkan kecerdasan anak dalam persiapan menghadapi sekolah, maka perlu adanya tambahan nutrisi untuk mendukung tumbuh-kembang anak. Salah satunya bisa dengan mengkonsumsi suplemen herbal Generos sebagai nutrisi kecerdasan anak. Hal ini terbukti manjur berdasarkan pengalaman salah satu konsumen Generos yang menyatakan adanya perubahan signifikan yang terjadi pada anaknya.

Namanya Riya. Dia mempunyai anak bernama Fathir yang mengalami speech delay. Fathir yang sudah menginjak kelas 1 Sekolah Dasar (SD) masih belum bisa lancar membaca. Tentu hal itu membuat sang ibu sempat khawatir. Setelah mendapatkan rekomendasi dari kakaknya, akhirnya Riya memutuskan untuk membeli satu box suplemen Generos.

Waktu itu, kebetulan Fathir menyukai rasa asam manis yang ada dalam suplemen herbal itu. Akhirnya, rutinitas meminumkan Generos pada Fathir tanpa dicampur air dilaksanakan setiap pagi dan malam. Tak disangka, dua minggu kemudian hasil dari meminum suplemen itu mulai terlihat. Fathir mengalami perkembangan yang cukup pesat. Fathir yang dulunya membaca masih tersendat-sendat, kini sudah lancar dan tamapk semakin percaya diri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rutinitas membaca buku bersama anak sejak dini yang diikuti dengan mengkonsumsi suplemen herbal Generos, dapat meningkatkan kecerdasan anak guna menyongsong persiapan sekolah dan masa depan yang lebih baik.

 


 DAFTAR REFRENSI

https://generos.id/2022/06/08/dokter-berikan-5-ciri-ciri-kesiapan-anak-sekolah/

https://generos.id/2022/05/26/gangguan-belajar-pada-anak/

https://generos.id/2022/06/16/nyata-setelah-minum-generos-jadi-lebih-pd-lancar-membaca/

 

 

 

 

   Media pendukung





 

Minggu, 10 April 2022

Sepeda Merah Milik Nadziva


"Yah, aku pengen sepeda seperti punya Mbak Yolan," rengek Nadziva pada suatu sore.

Aku tak bisa langsung menjawab. Meng-iyakan permintaan Nadziva sama dengan menghabiskan anggaran belanja untuk bulan ini. Sedangkan menolak permintaannya pasti hanya membuatnya bersedih. Dan aku tak mau itu terjadi.

“Jalan-jalan ke pondok aja yuk. Nanti ketemu sama pak Yai dan Mbak Fara," ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Nadziva menolak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Di usianya yang masih 3 tahun, tentu tak akan bisa mengajaknya berdiskusi tuk memahami keadaan ekonomi keluarga. Bagaimana susahnya mencari uang. Banyaknya kebutuhan rumah yang harus dipehuhi. Belum lagi tagihan utang yang datang dari arah sana-sini.

"Yaah.. mau beli sepeda kayak punya mbak Yolan," rengek lagi Nadziva.

Aku kembali tertegun. Bingung hendak melakukan apa. Hingga akhirnya Sofi (istriku) datang dan berhasil mendiamkan Nadziva.

"Sayaaang, ini bunda punya-punya," ucap Sofi dengan nada yang membuat penasaran.

Nadziva langsung tertarik. Matanya berbinar-binar. Senyumnya kembali mengembang. Mungkin memang seperti itu, setiap anak kecil selalu suka dengan kejutan. Tak peduli apapun itu. Murah atau mahal, kecil atau besar, baru atau lawas, selama itu masih baru menurut anak kecil, maka akan selalu terlihat menyenangkan.

Dan benar saja, jajanan cokelat bernama Pocky sanggup menghapus duka dan air mata Nadziva. Biasanya, jajan kesukaan Nadziva adalah Oreo, Crispy, dan Slai O’lai yang sering kali mengisi toples di meja tengah.

Sesudah tiga suapan jajan Pocky, kuajak Nadziva untuk bermain ke pondok. Pondok Al-Hidayah itu menyimpan kenangan yang sangat berkesan bagiku. Berawal dari tempat itu, pertemuan antara aku dan Sofi dimulai. Kalau tidak salah, semuanya bermula dari acara gabungan antara OSIS putra dan putri.

Ini sudah ketiga kalinya aku mengajak Nadziva bermain ke pondok. Gus Ali selaku putra pengasuh kebetulan juga mempunyai anak kecil yang seumuran dengan Nadziva. Namanya Fara. Buah hati antara Gus Ali dan Neng Najmah. Dulu, aku dan Gus Ali sama-sama aktif di OSIS. Berkat organisasi itulah kami menemukan pasangan hidup meski harus dengan cara sedikit nakal.

Perjalanan menuju pondok ditempuh selama 15 menit. Aku dan Nadziva harus melewati pertokoan, pertigaan jalan raya, dan keramaian pasar Senin. Lalu masuk ke gang VI dan belok kiri sejauh 50 meter. Setelah itu barulah tampak bangunan megah dengan nama Al-HIDAYAH yang ditulis dengan huruf arab. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju dhalem.

"Assalamualaikum," ucapku dengan sopan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara air mancur dari kolam depan dhalem yang terdengar. Juga suara hentak kaki para santri yang sepertinya hendak pergi mengaji. Ada pula suara percakapan, candaan, dan kebingungan santri mencari sandal yang tertukar. Ya, mendengar suara gemuruh itu, spontan mengembalikan ingatanku pada beberapa tahun silam. Dimana aku masih berstatus santri dan belum ada Sofi dan Nadziva di sampingku.

Aku kembali mengucap salam. Nadziva mulai gelisah dalam pangkuanku. Matanya menangkap banyak hal yang membuatnya tertarik untuk turun. Menjamah banyak benda tanpa peduli apakah diizinkan atau tidak oleh sang pemilik. Tak lama dari itu, pintu dhalem terbuka. Gus Ali muncul dengan Fara yang ada di pangkuannya.

"Masyaallah Ahmad. Monggo silahkan masuk. Nggak kabar-kabar kamu Mad kalau mau ke sini," ucap Gus Ali.

"Ya sebenarnya nggak ada rencana sih Gus. Spontanitas aja tadi mau ke sini. Sekalian kangen sama pondok," jawabku.

Setelah masuk ruang tengah, Nadziva langsung turun. Begitu melihat Fara, keduanya sepakat untuk bermain di belakang. Ya, keduanya langsung kompak menuju ruang bermain di belakang dhalem. Sedangkan aku dan Gus Ali melanjutkan perbincangan tentang banyak hal.

"Tapi loh Mad. Kalau kita dulu itu nggak nakal, sepertinya nggak mungkin kita bisa ketemu sama istri kita," ujar Gus Ali.

"Betul Gus, sungguh kenakalan yang sangat menguntungkan," jawabku sambil terkekeh.

Tak hanya tentang masa lalu, Gus Ali juga menyampaikan beberapa rencana ke depan terkait pondoknya. Mulai dari pembangunan gedung baru, pembuatan mading, dan penambahan kamar mandi.

"Kalau bisa jangan hanya dari segi infrastruktur Gus. Tapi kualitas pembelajaran juga harus terus ditingkatkan. Itu yang sangat penting. Jadi bagaimana kiranya santri keluaran Al-HIDAYAH mempunyai kekuatan tersendiri. Jangan sampai nanti kayak saya,"

Gus Ali terkekeh.

"Halah kamu itu mesti merendah. Wong tulisanmu di koran keren-keren kok," balasnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Nadziva keluar ruangan dalam keadaan menangis.

"Yah.. pengen sepeda kayak punya mbak Fara," rengek Nadziva yang menghampiriku.

Di belakangnya, Fara ikut keluar. Dia nggak nangis. Tapi langsung menghamburkan dirinya ke Gus Ali.

"Cup cup cup.. iya nanti ayah belikan ya, nunggu uangnya dulu," jawabku.

"Kira-kira berapa harganya sepeda seperti itu Gus?" Tanyaku mesti sebenarnya tak tahu rupa sepeda yang Nadziva maksud.

"Sekitar dua jutaan,"

Aku tertegun. Honor sebagai penulis lepas rasa-rasanya tak cukup jika ditabung penuh selama satu minggu. Baru kalau sebulan mungkin cukup. Sementara itu, tangis Nadziva masih sedikit terdengar di telingaku. Sedangkan kepalaku terus berpikir.

"Gus, ngapunten, di sini mungkin ada pekerjaan yang bisa saya lakukan? Kasian Nadziva pengen banget beli sepeda," ucapku dengan harap-harap cemas.

"Oh ada Mad. Tapi sebagai kuli bangunan. Kalau mau, malamnya kamu juga bisa bantu ngajar di sini. Tapi ya bayarannya nggak sebesar di pondok modern," kata beliau.

"Nggak apa-apa Gus. Yang penting bisa buat tambah-tambah untuk beli sepedanya Nadziva,"

Setelah dirasa cukup, aku dan Nadziva langsung pamit pulang. Tak lupa Nadziva melambaikan tangan pada Fara. Dan senyum sumringah juga tampak dari kedua bibir mereka.

***

Besoknya aku langsung mulai bekerja. Dengan niat membelikan sepeda untuk anak, semangat dalam diri ini sepertinya bertambah dua kali lipat. Tak peduli pada panas yang semakin menyengat, keringat yang mengalir semakin deras, juga rasa capek yang hinggap di seluruh anggota tubuh. Bagiku, kebahagiaan Nadziva lebih penting untuk diperjuangkan.

Malamnya aku memutuskan untuk mengajar di pondok. Awalnya Sofi sempat melarangku dengan alasan menjaga kesehatan.

"Jangan terlalu diforsir Mas, Sofi khawatir nanti Mas malah sakit," katanya.

"Insyaallah semuanya aman Dek. Doakan saja Mas bisa kuat dan selalu sehat," balasku dengan senyum meneguhkan.

Tak seperti yang dibayangkan, satu minggu kerja tambahan ternyata tak cukup untuk menabung dan membelikan sepeda untuk Nadziva. Mau tidak mau, aku harus menambah hari kerja. Mungkin sekitar tiga hari.

***

Setelah susah payah kerja tambahan selama sepuluh hari, alhamdulillah uang untuk membeli sepeda Nadziva bisa terkumpul. Kebahagiaan yang terpancar dari kedua mata Nadziva saat mendengar kabar itu, telah berhasil menghapus melaratnya hidup.

"Besok kita ke Kota. Nanti Nadziva sendiri yang pilih mau sepeda seperti apa," ucapku padanya di ruang tengah.

"Horeeee...beli sepedaa..," Nadziva meloncat-loncat bahagia.

Hari kembali berganti. Setelah makan pagi dan bersiap-siap, aku dan Nadziva langsung meluncur ke Kota. Sebelum itu, informasi tempat jual sepeda anak telah berhasil kudapat dari Facebook.

Begitu sampai di lokasi, Nadziva langsung girang sambil lompat-lompat. Dengan penuh semangat dia berkeliling melihat semua jenis sepeda yang terpajang di sana.

Setelah cukup lama melihat-lihat, juga setelah mendengar pemaparan dari penjual, akhirnya Nadziva memutuskan untuk membeli sepeda warna merah bertuliskan hello kitty. Harganya dua juta rupiah. Namun setelah proses tawar-menawar, akhirnya harga itu berhasil turun menjadi satu juta tujuh ratus ribu rupiah.

***

Sesampainya di rumah, Nadziva masih terlihat sangat senang. Bahkan dari saking senang dan cintanya pada sepeda baru itu, Nadziva langsung menempelkan sebuah tulisan dengan hutuf kapital yang berbunyi "SEPEDA MERAH MILIK NADZIVA".

Aku dan Sofi yang melihat itu langsung tersenyum. Dalam hati aku berdoa, semoga keluarga ini senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan oleh Yang Maha Kuasa. Amiin.


Jumat, 01 April 2022

Surat Terakhir


Rutin setiap minggu, Ale selalu mengirim surat tuk sekadar berkabar tentang keadaan hari ini. Bahkan dari saking rutinnya dia mengirim surat, aku sudah mulai berani mengadu Ale dengan penulis-penulis kekinian yang selalu memanfaatkan warna senja, debur ombak, dan bising sepeda motor di jalanan sebagai bahan tulisan. Bahkan, lama-kelamaan, membaca surat Ale sama seperti membaca cerpen di ruang sastra. 

Surat itu sudah sampai satu jam yang lalu. Namun aku tak langsung membacanya karena ada pekerjaan dapur yang harus diselesaikan. Seperti menggoreng telur, mencuci piring, dan menata barang yang berantakan. 

Setelah urusan dapur selesai, aku kembali ke ruang tengah. Duduk santai sambil membuka surat yang sejak tadi dianggurkan. Timbul tanda tanya tentang kalimat apa yang sedang ditulis Ale. Seorang pemuda yang bersikeras keluar rumah untuk menantang kehidupan di luar.
Untuk kakakku tersayang.. 

"Ah, kalimat itu yang pasti berada di paling atas," kataku. 

Di Kota, aku merasa menjadi orang lain yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seperti ngopi sampai dini hari, minum arak, begadang di diskotik terdekat, hingga melupakan identitas keagamaan yang dulu pernah diajarkan oleh Bapak. Setelah kupikir-pikir kembali, rasa-rasanya perubahan ini lebih mengarah pada hal negatif. 

Kakak tahu sendiri kan, dulu aku itu orangnya suka ngaji di masjid, suka belajar di sore hari, suka nulis di malam hari. Tapi semua itu kini berubah. Tidak ada lagi baca buku atau nulis puisi. Aku seperti terhanyut oleh kebiasaan orang-orang sekitar. Jujur kadang aku bingung sendiri kak. Apakah aku lebih baik beradaptasi terus menerus? Atau berbalik arah tuk memegang prinsip hidup walau harus melawan arus? 

Di sini, orang paling banyak bicaranya yang dihormati, orang paling anti agama yang disegani, orang paling banyak minum araknya yang ditakuti, ya aku rasa kakak akan tahu bagaimana kelanjutannya. Sedangkan orang-orang sepertiku dulu malah tidak mendapatkan tempat. Keberadaannya hanya sebagai pelengkap cerita yang sering disuruh ini dan itu. 

Berawal dari itu, sebenarnya aku ingin cepat pulang. Kembali ke masa lalu yang penuh dengan ketenanangan. Kembali ke rumah sederhana yang sanggup membuatku bahagia. Dan kembali pada Tuhan yang katanya sudah menyiapkan surga untuk hambanya yang taat beragama. 

(TTD: Ale Setiawan) 

Aku tertegun membaca surat dari Ale. Bukan apa-apa, surat itu tak seperti biasanya yang hanya menanyakan kabar dan menjelaskan indahnya kehidupan Kota. Mulai dari gemerlap malamnya yang tak pernah redup, keramaian yang tak pernah surut, atau diskon terbaru yang bisa membuat dompet kehilangan penduduknya. 

Tapi tidak untuk kali ini. Ungkapan itu seperti sebuah rasa yang sudah terpendam lama. Sengaja dikubur untuk bisa tetap hidup normal seperti halnya yang lain. Agar bisa berbaur dengan yang lain. Agar bisa dihargai dan dihormati sama yang lain. Namun perlahan-lahan gundukan itu semakin besar dan meledak pada tulisan itu. 

Belum sempat aku menulis surat balasan, Rozi (anak pertamaku) yang masih berumur 3 bulan terdengar menangis. Arahnya dari kamar dekat dapur. Spontan kuletakkan lagi kertas dan pulpen di atas meja. Kemudian menghampiri Rozi yang terbangun dari tidurnya. 

Sesampainya di kamar, benar saja, Rozi sudah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Kristal di kedua matanya sudah pecah. Layaknya ibu pada umumnya, kuangkat Rozi dari tempat tidur. Dan begitu kuangkat Rozi, tempat tidurnya sudah basah. Dengan bau khas yang tak bisa dipungkiri hidung, aku langsung mencuci tempat tidur Rozi. 

Sekitar setengah jam kemudian, urusan Rozi sudah selesai. Dia kembali tertidur setelah dibawa jalan-jalan di depan rumah. Memang sejak lahir ke dunia, cara mendiamkan Rozi adalah dengan dibawa jalan-jalan ke luar. Entah itu ke taman depan rumah, pasar belakang rumah, atau lapangan sepak bola samping rumah. 

*
Malam sudah tiba. Kini waktunya menulis surat balasan untuk Ale. Seseorang yang kuanggap adik sejak 3 tahun yang lalu. Berawal dari event kepenulisan tingkat Nasional, kami berkenalan setelah rasa penasaran. 

"Kamu sejak kapan suka nulis?" Tanya Ale dengan santai.
"Sejak SMA. Kalau sampean?" Jawabku lalu bertanya balik.
"Wah mantap. Baru-baru ini sih, mungkin sekitar satu tahun yang lalu," ucap Ale. 

Kami pun berdiskusi tentang dunia kepenulisan yang sempat kami lalui. Seperti bagaimana cara mencari ide, cara menyusun kata menjadi kalimat yang baik, mempertahankan konsistensi, hingga tujuan besar hidup yang ingin dicapai dalam dunia kepenulisan. 

"Sebenarnya, dalam menulis itu, teori tak terlalu penting," kataku setelah banyak teori yang dijelaskan Ale.
"Iya sih, cuma kita harus tahu bagaimana memulai dan mengakhiri sesuatu," balasnya.
"Maksudnya?"
"Jadi begini, teori secara tidak langsung adalah pedoman atau jalan untuk mencapai sesuatu secara lebih hebat. Kita bisa saja berjalan tanpa panduan, tapi kemungkinan besar itu akan berlangsung lama," katanya panjang lebar.
"Ok lah," 

Sejak saat itu, kami berkenalan lebih dalam. Bukan sebagai seorang kekasih yang selalu meninggalkan emot love di akhir chat. Tapi lebih kepada saudara yang saling tukar pendapat dan pemikiran. 

"Kak, aku dikontrak Jawa Pos Radar Surabaya," ucap Ale dalam kolom chat WA. 

Aku yang kebetulan sedang bersantai di ruang tengah spontan terkejut. 

"Wah, keren. Gimana tuh kok bisa masuk di sana?" Tanyaku dengan penuh antusias.
"Panjang ceritanya kak. Tapi ada satu hal yang kurasa nggak enak," emot sedih mewakili perasaan Ale saat itu.
"Apa tuh?"
"Jadi aku ditugaskan untuk mengungkap satu kasus besar," katanya.
"Wadduh. Taruhannya pasti juga besar,"
"Iya kak. Bisa jadi nyawa melayang di pinggir jalan," 

Aku masih ingat betul, saat itu percakapan kita terus berlanjut hingga aku lupa batasnya. Segala macam tugas, beban, kegagalan, keberhasilan, dan apapun itu pasti Ale ceritakan dengan rinci. Dan entah mengapa, meskipun Ale bisa dikatakan terlalu sering mengganggu waktuku, aku tak pernah merasa keberatan. 

Hingga tiba pada suatu waktu. Ale ditugaskan di sebuah tempat yang susah sinyal. Satu hari sebelum berangkat, dia bilang kalau akan mengirim pesan lewat surat. Secara rutin dikirim setiap minggu. Entahlah, saat itu aku tak terlalu yakin dengan apa yang disampaikan Ale. Hingga akhirnya aku percaya dengan bukti yang sampai di depan rumah. 

Surat pertama:
Halo kakak. Bagaimana kabarmu disana? Alhamdulillah di sini aku baik-baik saja. Oh iya, aku tadi berhasil menyelesaikan naskah tentang politik. Dan ternyata mendapatkan apresiasi yang besar dari pemimpin redaksi. 

Surat kedua:
Halo kakak. Bagaimana nih kabarnya? Denger-denger kakak udah nikah yaa? Wah selamat ya kak. Semoga selalu bahagia di dunia sampai akhirat. Oh iya nih, aku baru saja memenangkan kejuaran sastra tingkat nasional. Yang ngadakan lomba dari kampus UB. Lebih lengkapnya bisa dilihat di akun instagramku dong. 

Surat ketiga:
Hay hay hay. Wah udah lama nggak ketemu nih kak. Katanya kakak mau buat buku, mana nih kok aku nggak dikasih? Apa harus nunggu aku dulu biar cepet selesai? Wkwkwk. 

Persisnya, surat-surat yang dikirm setiap minggu tak hanya berisi itu saja. Namun aku tak bisa menggambarkan secara jelas dan detail. Hingga akhirnya tiba pada suatu waktu, isi surat itu tak lagi tentang pertanyaan kabar, capaian terbaru, atau mungkin pengalaman paling menyenangkan dan menyakitkan. 

Surat itu benar-benar berbeda. Seperti ada ledakan yang tersimpan di dalamnya. Seperti ada luka yang begitu dalam. Seperti ada masa depan yang begitu suram. Dan ada keinginan yang tak bisa dijelaskan secara total. Maka sejak itulah sampai waktu yang tak pernah ditentukan.


Selasa, 22 Maret 2022

Yang Paling Salah Menurut Mereka


Selepas pulang sekolah, Andre, Mita, dan Amel tak langsung pulang ke rumah. Tapi mereka pergi ke kebun pisang Pak Tholib yang berada di desa sebelah. Selain untuk makan pisang gratis, mereka ingin mendengarkan cerita dari Pak Tholib yang sudah dijanjikan sejak satu minggu lalu.

"Ayo cepet mel, lama banget," gerutu Andre.

Di antara mereka bertiga, memang Amel yang jalannya paling lambat. Selain karena faktor fisik yang gemuk, langkah kaki Amel juga lebih pendek dibanding yang lain. Jadi tak jarang Amel sering ketinggalan.

"Iya iya, sebentar," balasnya.

Sepanjang perjalanan, mereka bercerita tentang pelajaran yang baru saja didapat di sekolah. Yaitu tentang kewajiban haji bagi orang islam yang mampu. Mereka juga sempat membayangkan bagaimana wujud ka'bah yang katanya berbentuk persegi dan ditutupi kain hitam.

"Tapi katanya di sana itu panas," ucap Andre.

"Bukannya di sana ada payung yang bisa buka-tutup ya?" Tanya Mita.

"Itu dibuka kalau pas hujan saja katanya Bu guru tadi," timpal Amel.

Sebagai anak SD kelas 6, mereka masih belum mengerti bagaimana memahami situasi, menghargai pendapat orang lain, dan menahan ego sendiri. Yang mereka tahu hanyalah berpendapat sesuka hati. Semuanya serba menurut mereka sendiri.

Sesekali mereka berhenti sejenak. Bergurau ala anak-anak kecil yang tak tahu aturan. Mengamati lingkungan sekitar yang penuh dengan pepohonan, penuh dengan hewan-hewan kecil, juga tak jarang lalu lalang masyarakat yang sebagian menyapa.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai di lokasi. Tidak ada tanda-tanda Pak Tholib di sana. Berawal dari Andre, akhirnya mereka langsung menuju gubuk yang terbuat dari kayu. Gubuk yang sudah berumur sekitar 20 tahun. Di sanalah mereka biasa bersantai dan istirahat.

Tak lama dari itu, Pak Tholib datang sambil membawa satu kresek berwarna hitam. Jika dilihat secara sekilas, sepertinya Pak Tholib membawa pisang madu hasil dari kebunnya sendiri. Dan benar saja, saat kresek itu mendarat di gubuk, ketiganya langsung menyerbu tanpa aba-aba.

"Heee jangan rebutan. Semuanya pasti kebagian," ucap Pak Tholib.

Kebetulan hari ini Pak Tholib membawa pisang dalam jumlah banyak. Khusus hari ini ia memang sengaja siapkan untuk tiga orang anak yang sebentar lagi katanya mau mendengarkan suatu kisah. Cerita yang dipetik dari riwayat masa lalu.

"Ok, jadi apakah teman-teman udah siap mendengarkan cerita?" Pancing Pak Tholib.

"Belum Pak. Bentar mau makan dulu," jawab Andre mewakili yang lain.

Mendengar jawaban itu, Pak Tholib tersenyum. Rupanya pisang gratis lebih menarik bagi mereka dibanding cerita yang sudah disiapkan sejak tiga hari yang lalu. Meskipun demikian, Pak Tholib merasa senang saat melihat mereka sangat lahap memakan pisang.

"Udah Pak, ayo dimulai ceritanya," ucap Mita.

Setelah itu mereka duduk dengan rapi. Meninggalkan satu kresek hitam yang tadinya membuat mereka sibuk tak menghiraukan Pak Tholib.

"Ok. Kita santai aja. Enggak apa-apa sambil makan kok," jelas Pak Tholib.

Wajah mereka tersenyum. Sejak dulu, mereka memang paling suka mendengarkan cerita. Dan baru pertama kali ini mereka akan mendengarkannya dari Pak Tholib. Seseorang yang sudah mereka anggap sebagai bapak sendiri. Berkat beliaulah, setiap minggu mereka selalu mendapatkan jatah makan pisang gratis.

"Jadi anak-anak, di sebuah hutan yang lebat dan luas, hiduplah seekor kancil dan buaya. Mereka sudah berteman sejak lama. Saat sore hari, mereka sering bermain di pinggir sungai," ucap Pak Tholib.

Sejenak Pak Tholib mengambil nafas, kemudian melanjutkan kembali ceritanya.

"Namun pada suatu ketika, di saat tidak ada mangsa yang bisa dimakan, saat buaya dalam keadaan sangat lapar, dengan penuh tega dia memangsa kancil yang saat itu berada di pinggir sungai. Kancil yang berusaha memberontak dengan dalih pertemanan tak mampu membuat buaya berubah pikiran. Beberapa kali kancil hampir lolos dari cengkraman buaya, namun sayang, takdir hidupnya harus berakhir di perut temannya sendiri," pungkas Pak Tholib.

"Duh kasian banget si kancil," ucap Amel.

"Iya. Tapi ceritanya kok pendek banget pak?" Tanya Andre sambil cekikikan.

"Iya pak. Kayak cerita nggak niat," timpal Mita.

Mendengar komentar itu, Pak Tholib hanya bisa tertawa lepas.

"Jadi menurut kalian siapa yang salah dari cerita tadi?" Tanya Pak Tholib.

Mereka tak langsung menjawab. Seperti sedang berpikir sejenak. Mencari jawaban yang sepertinya masih berputar-putar di kepala mereka.

"Si buaya dong. Masa iya tega makan temannya sendiri," jawab Mita.

"Nggak sih. Dia kan lagi lapar. Salahnya si kancil ngapain dekat-dekat sama buaya dari awal," protes Amel.

"Kalian semua salah. Yang paling salah itu Pak Tholib. Ngapain ceritanya kayak gitu coba. Udah pendek banget lagi," jawab Andre sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Spontan semuanya ikut tertawa lepas.


Senin, 21 Maret 2022

Lupakan Sebanyak Tiga Kali


Apa yang lebih menakutkan dari kenangan mantan yang selalu gentayangan?

Apa yang lebih menyakitkan dari perpisahan menuju kematian?

Juga yang lebih mengkhawatirkan dari rasa was-was untuk bisa hidup layak di masa depan?

***

Doni masih duduk terdiam di kamarnya. Rasanya ia tak mampu lagi tuk sekedar mendongakkan kepala. Seperti ada beban yang begitu berat. Beban yang perlahan-lahan akan membawa Doni pada pintu kegilaan.

Semua itu bermula dari perpisahan Doni dan pacarnya yang bernama Dela. Kisah cinta mereka dimulai sejak berada di kelas satu SMA. Waktu itu, dengan sedikit keberanian dan kegilaan, Doni berhasil menaklukkan hati Dela setelah percobaan yang kesekian kali. Sungguh luar biasa.

Layaknya orang yang dirundung asmara, Doni dan Dela mulai banyak meluangkan waktu untuk berdua. Walaupun hanya sebentar dan membahas hal-hal yang tidak penting. Karena menurut mereka, bersama dengan kekasih adalah suatu kepentingan dan kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apapun.

"Kamu akan selalu setia kan?" Tanya Dela pada suatu waktu.

"Pasti. Sampai tak ada lagi waktu bagiku tuk menghirup udara segar," jawab Doni dengan senyum gombalnya.

Keduanya melanjutkan percakapan tentang banyak hal. Seperti rencana masa depan saat sudah menikah, nama anak pertama, kedua, dan seterusnya. Bahkan juga tata letak rumah yang katanya akan dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, sepertinya konsep hidup mereka sudah tuntas dibahas dalam satu kali duduk.

***

Layaknya seperti hubungan yang lain, badai itu datang memporak-porandakan pondasi yang sudah dibangun. Ibu Dela tidak merestui hubunganya dengan Doni. Bukan apa-apa, berhubung Doni masih berstatus sebagai pemuda nganggur yang kerjaannya hanya nongkrong dari cafe ke cafe.

"Tapi bu, Doni kan orangnya baik. Dela sangat mencintainya," jelasnya dengan nada memelas.

Sang ibu tak menggubris. Dengan alasan agar Dela bisa hidup layak di masa depan, sang Ibu tetap tak merestui. Tak hanya itu, sang ibu malah sudah menyiapkan calon lain yang siap untuk dia angkat menjadi seorang menantu. Namanya Ridho. Anak seorang pengusaha kaya yang sekaligus teman akrab dari ibunya dulu.

"Sudahlah. Kamu percaya saja sama ibu. Ibu sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu, Nak" jawab sang ibu setelah Dela berkali-kali membantah.

"Apakah Ibu sudah menyiapkan calon buat Dela?" Tanyanya dengan mata yang mulai mengkristal.

"Iya. Namanya Ridho. Anak teman ibu dulu,"

Dela langsung terdiam. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Di sisi yang lain, Dela selalu merasa tak bisa melawan keputusan ibunya dalam hal apapun itu. Tanpa berkata-kata lagi, Dela langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan sang ibu hanya bisa melihat dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

Kabar dengan cepat melesat bagai angin. Berbagai persiapan telah dilakukan dengan matang. Mulai dari dekorasi, konsumsi undangan, foto preweed, dan hal-hal yang sekiranya diperlukan menuju acara pernikahan. Sungguh, semuanya terasa begitu cepat. Dela harus rela menerima keputusan kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Doni, dia harus rela menerima garis takdir yang sudah ditetapkan untuknya.

***

Di hari-hari yang baru tanpa Dela, Doni tampak kehilangan gairah hidup untuk banyak hal. Bahkan untuk sekedar melakukan hal-hal kecil saja seperti tak mampu. Tidak ada lagi makan tepat waktu, istirahat yang cukup, tertawa yang lepas, juga mimpi-mimpi yang sempat dibangun demi masa depan. Semuanya hancur seketika.

Kini, kebiasaan Doni hanyalah duduk di taman belakang rumah saat sore hari. Membayangkan momen indah bersama Dela datang kembali. Tersenyum sambil memandang hewan-hewan kecil yang melintas, rombongan awan yang beriringan, juga harapan dan janji yang sempat disumpahkan untuk selalu bersama.

"Aku masih di sini Del. Kenangan bersamamu masih begitu hangat. Aku tak percaya kau pergi begitu cepat. Padahal sudah cukup lama kita bersama. Merajut mimpi-mimpi masa depan yang besar. Dan sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aku pun tak tahu, apakah aku sanggup mewujudkan mimpi-mimpi itu sendiri," ucap Doni dengan pelan.

Waktu terus berlalu. Doni masih sibuk meratapi nasibnya yang malang. Senja tak lagi indah dan angin tak lagi dingin. Doni merasa jiwanya hampa tanpa rasa. Seperti ingin menangis, seperti ingin mengumpat, seperti ingin bunuh diri saja. Waktu berhasil ia lalui tanpa sedikit pun mendengar detiknya.

Malam sudah datang. Doni beranjak dari tempat duduknya. Mengambil secarik kertas dan pulpen di pojok kamar. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada satu lembar putih itu. Entahlah, ia hanya tak bisa menyusun bahan apa saja yang akan ditulis. Tapi Doni yakin, satu lembar putih itu tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup.

Ungkapan hati yang entah bersifat apa:

"Terimakasih telah sempat menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Menjadi bagian yang selalu aku jaga sepanjang waktu, hingga aku lupa menjaga diriku sendiri. Hingga aku lupa bahwa aku juga punya tangis yang sewaktu-waktu bisa tumpah di banyak tempat.

Terimakasih atas semua kesempatan yang pernah ada. Kesempatan bersama dan bercerita tentang kehidupan. Sejak saat itu, aku sudah berhasil mengantongi senyummu untuk kubawa kemana saja hingga sekarang. Dan sekarang aku tak tahu bagaimana cara melupakan semuanya.

***

Waktu kembali berganti. Doni berhasil menghapus sebagian masa lalunya dan menerima masa depan untuk hidup bersama orang lain. Namanya Nada. Perempuan yang datang saat Doni terpuruk dan menarik tangannya untuk bangkit. Meskipun berawal dari saling merasa asing, keduanya berhasil mengikat janji suci pernikahan.

"Aku mau ke luar dulu Mas," ucap Nada yang langsung berlalu.

"Iya dek. Hati-hati di jalan," balas Doni.

Usia pernikahan mereka masih tiga hari. Perlahan-lahan Doni sudah mulai melupakan Dela. Semua kenangan itu telah terkubur rapi di dadanya. Dan berkat menikah dengan Nada pula, kehidupan Doni berubah menjadi lebih baik. Terutama dari segi ekonomi.

Kabar buruk kembali melanda Doni. Angin berkabar bahwa Nada telah meninggal akibat terjatuh dari sepeda motor. Tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana kronologisnya. Seperti sengaja disembunyikan. Seperti ada kekuatan lain yang menutupi itu semua. Tiba-tiba saja, Nada sudah terkapar tanpa nafas.

"Apa?? Dimana?? Kok bisa??" Tanya Doni dengan nada super cemas.

Tanpa pikir panjang lagi, Doni langsung menuju TKP. Disana, ia sudah mendapati istrinya dalam keadaan mata tertutup dan kepala penuh darah. Dengan cepat jenazah langsung dibawa ke kamar mayat. Doni hanya bisa bersedih tanpa air mata. Sebentar lagi istrinya akan berada dalam pelukan tanah. 

***

Doni kembali sendirian. Semuanya terjadi begitu cepat. Gairah mencari pasangan hidup lagi sudah menghilang. Kini hanya tersisa rasa was-was untuk hidup nyaman di masa depan. Doni mulai membayangkan masa-masa tua nanti.

"Bagaimana nanti jika aku sakit, terus siapa yang akan merawat? Bagaimana jika nanti aku kesepian, siapa yang akan membuatku merasa nyaman? Bagaimana nanti kalau aku hampir mati, siapa yang akan membisikkan kalimat Tuhan di telingaku?" Ucap Doni dalam batinnya.

Di kamarnya, Doni hanya bisa duduk meratapi nasib. Meskipun dia mempunyai banyak tetangga yang baik, yang selalu menyapa di pagi hari, tapi tetap saja ia merasa kosong saat berada di kamar. Seperti tidak ada kehidupan. Seperti ada mantan dan mendiang istrinya yang gentayangan.

"Lupakan, lupakan, lupakan," ucap Doni pada dirinya sendiri sebelum tidur.


Sabtu, 12 Maret 2022

Cafe, Diskusi, dan Semangkok Mie

Aku duduk di bangku paling depan bagian tengah. Bersama satu teman dan tiga orang asing yang membuatku bertanya-tanya. Namanya siapa, asal dari mana, apa motivasi mereka datang ke sini, dan lain sebagainya. Ah, jika aku menjelaskan semuanya satu persatu, mungkin satu cerpen ini tidak akan cukup.

Di bagian depan, terpampang banner tentang bedah buku cerpen berjudul "Rembulan di Bibir Teluk". Ya, aku memang belum mengenal betul siapa penulisnya. Pikirku, apakah dia memang layak menjadi seorang penulis? Atau hanya sekedar kebanyakan sekarang yang iseng-iseng menulis, lalu diterbitkan di salah satu penerbit lewat orang dalam. Entahlah, semoga saja tidak begitu.

Cafe yang baru pertama kali kusinggahi ini, sungguh unik dan estetik. Lampu-lampu kuningnya yang memanjakan mata, hiasan tembok yang membuatku bertanya-tanya apa itu maksudnya, dan sapuan warna kacamata perempuan yang sempat melihatku. Sungguh, tatapan itu sangat membingungkan.

"Selamat sore. Salam sejahtera untuk kita semua. Mari kita mulai acara ini dengan pembacaan basmalah," ucapnya yang kemudian kukenal dengan nama Andika.

Tak lama dari itu, dua orang datang kemudian duduk di depan banner dengan empat buku cerpen berjenis sama. Percakapan pun dimulai dengan basa-basi yang singkat namun hangat. Tak seperti cuaca yang sedang terjadi. Angin yang membuat tubuh terasa dingin menjadi-jadi.

Awalnya, dari sekian banyak orang yang ada di sini, aku menduga mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ternyata tidak. Hanya sebagian saja yang sudah saling mengenal secara sempurna. Selebihnya sama seperti aku. Orang asing yang hanya ingin mencari diksi baru atau mungkin sekedar mengisi kegabutan hari ini.

Ok mari kita mulai. 13 judul dari buku cerpen perdana ini rupanya memuat tentang banyak tema. Seperti kemacetan jalan, pantai Malang selatan, eksistensi mikrolet, TKI/TKW, dan kejadian-kejadian yang sangat biasa terjadi sehari-hari.

Tak lama kemudian, semangkok mie kuah yang kupesan datang. Namun sayang, ada yang cacat di situ. Aku tak menemukan sepotong telur yang kupesan dari perut lapar.

"Mbak maaf, ini kok nggak ada telurnya, ya?" Tanyaku dengan halus.

"Oh, tadi pesannya sama telur Mas?" Tanyanya memastikan.

"Iya Mbak," jawabku tegas.

"Sebentar Mas ya," perempuan itu kemudian berlalu.

Rencanaku menyantap mie kuah harus tertunda. Untungnya, teh hangat yang juga kupesan sudah tiba dari tadi. Jika tidak, mungkin aku akan protes. Mungkin aku akan bercerita ke teman-teman bahwa cafe ini tak becus melayani pelanggan. Atau mungkin reflek-reflek lain yang entah berbentuk apa.

Perbicangan hangat berlanjut. Penulis menyampaikan bagaimana proses kreatif dalam menulis, deskripsi singkat buku, dan hal-hal receh lain yang membuat suasana semakin bersahabat. Dan tanpa sengaja, percakapan mereka membuatku sadar satu hal. Bahwa aku dan mereka ternyata berasal dari kampus yang sama. Sebuah kebetulan yang sebenarnya tidak begitu penting.

Satu orang bertambah. Kini di meja depan berjejer tiga orang yang katanya sudah berpengalaman di dunia kepenulisan. Sekilas aku percaya, namun batin yang lain aku meragukan. Seperti ada kemungkinan-kemungkinan lain yang lagi-lagi membuatku ragu.

Kemudian satu orang baru itu bercerita. Tentang pandangannya terkait buku baru yang saat ini sedang dibedah. Jika kuhitung-hitung, komentarnya lebih banyak mengapresiasi karya penulis. Memuji penulis. Bahkan juga menilai bagus karya penulis yang ada di bagian yang lain. Sejak saat itu aku penasaran. Seperti apa sih buku pertama yang diterbitkan oleh penulis yang baru kukenal ini?

Tanpa kuingat waktu, semangkok mie kuah pakai telur yang kupesan datang. Aromanya begitu menggoda. Sedangkan orang yang mengantar sudah berbeda.

"Ini Mas pesanannya," ucapnya halus sambil menaruh semangkok mie itu di depanku.

"Siap mbak. Terimakasih," balasku.

Dengan cepat pikiranku beralih dari forum diskusi ke semangkok mie kuah di depan mata. Aroma sedap itu mengalahkan narasi panjang penulis. Kuahnya yang hangat mengalahkan lelucon singkat pembawa acara. Juga tekstur lembut mie dan telur itu mengalahkan diksi dan paparan halus dari pembedah buku. Ah pokoknya saat itu pikiranku ingin langsung makan. Tapi sayang, terlebih dahulu aku harus meniupnya agar tak terlalu panas.

Tanpa diduga, gerimis dan hembus angin datang. Menyempurnakan kombinasi mie kuah telur dan narasi-narasi diksi. Aku tak tahu bagaimana rupa kenikmatan itu. Hanya saja, yang kurasakan ini sangat luar biasa.

Pelan-pelan namun pasti, aku semakin lahap menghabiskan semangkok mie pakai telur itu. Kawan-kawan sekitar sudah kutawarkan, namun merekanya saja yang nggak mau. Maka dari itu, tanpa ragu-ragu lagi kuhabiskan semangkok mie itu dengan menggebu-gebu. Sesekali aku minum teh hangat, lalu melanjutkan makan lagi hingga tandas.

Diskusi semakin melebar. Banyak hal yang dibahas dalam forum kali ini. Seperti alasan penulis menerbitkan buku. Lelucon-lelucon kecil dari pembedah dan pembawa acara. Juga tak lupa kalimat promosi yang kadang membuat telingaku geli. Sumpah meskipun hal tersebut lumrah dilakukan banyak orang, tapi telingaku sepertinya tak bisa menerima itu.

Saat semangkok mie kuah itu tandas, perutku terasa nyaman. Materi dari penulis kembali masuk ke telinga dengan lancar. Meskipun perutku tidak sepenuhnya kenyang, paling tidak ini sudah bisa mengganjal lapar hingga nanti malam.

Aku melihat orang-orang sekitar tertawa. Aku pun ikut tertawa simpul. Padahal aku tidak tahu hal apa yang sedang ditertawakan. Bukan apa-apa, aku hanya ingin berbaur. Beradaptasi dengan lingkungan agar tidak dikira gila karena terlalu serius sendiri.

Kemudian aku mengeluarkan sebungkus rokok dari tas kecil. Isi rokok hanya tersisa dua batang. Yah namanya anak muda, numpang rokok pada teman sudah menjadi hal yang biasa.

"Cukuplah untuk forum kali ini," batinku.

Aku melihat suasana sekitar. Temanku yang kebetulan tukang rokok hanya tersenyum ngece. Sepertinya ia sedang menertawaiku dengan kondisi rokok yang begitu tragis. Dasar bangsat!

Dengan santai aku menyalakan rokok. Menjadikan mangkok kosong itu menjadi asbak. Oh tidak, ternyata bukan hanya asbak, tapi juga tempat sampah. Sampah-sampah kecil di mejaku seperti tisu dan lain-lain kumasukkan saja dalam mangkok itu. Toh nggak ada undang-undang yang mengatur pelarangan buang sampah dalam mangkok.

Semakin lama, aku tambah yakin bahwa M. Rosyid H.W yang berposisi sebagai penulit itu bukan orang yang sembarangan. Bacaan bukunya banyak. Terlihat dari bagaimana dia berbicara dan menarasikan sesuatu.

"Jadi untuk karya perdana saya ini, saya rasa masih banyak kekurangan baik dari segi ide dan diksi," ucap Rosyid dengan santai.

Setelah itu sesi tanya jawab dimulai. Aku langsung bertanya tentang cerpen mana yang paling disukai penulis dalam buku itu. Cerpen yang dirasa paling sulit penulisannya. Dan cerpen yang mungkin menyimpan ledakan yang siap membumi hanguskan dada pembaca.

Penulis tersenyum. Lalu memperbaiki posisi duduknya. Jika dilihat dari tatapannya, dia lumayan tertarik dengan pertanyaanku. Atau mungkin ngece mendengar pertanyaanku yang ecek-ecek. Entahlah, aku tak tahu secara pasti.

Lama-kelamaan, suasana cafe semakin ramai. Berbagai pertanyaan tumpah begitu saja. Tak hanya tentang bagaimana teknik menulis yang baik, juga tentang konsep berpikir, gagasan dalam tulisan, dan menyelesaikan semuanya dengan cantik. Ah begitulah kira-kira.