Senin, 31 Agustus 2020

BERSEPAKAT DALAM PIKIRAN

 


Fina masih saja duduk di tempat yang penuh dengan luka dan kecewa. Ia tak pernah berharap laki-laki itu akan datang dan duduk di sampingnya untuk sekedar menghapus tetes air mata yang jatuh. Dan seandainya itu terjadi, mungkin Fina akan pindah dan mencari tempat duduk lain yang lebih tenang tanpa ada seorang pun.

Beberapa orang melintas di depan Fina. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda, dan ada yang merangkak sebab tak punya betis di sisi kanan dan kiri. Sedangkan tatapan Fina, masih saja menghadap kenangan yang terjadi beberapa minggu lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya lupa cara tertawa.

"Permisi Neng, boleh saya duduk di sini?" Tanya seorang lelaki paruh baya dengan kacamata bening yang menempel di kedua matanya.

Fina hanya menoleh. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan untuk sekedar menghargai orang yang baru dikenal, Fina sudah merasa enggan. Kata-kata dan suara telah menghilang dari dalam dirinya.

Kemudian laki-laki itu duduk di samping kanan Fina. Membuat Fina harus sedikit bergeser ke arah kiri. Sedangkan jarak di antara keduanya hanya berkisar satu jengkal.

Tak lama dari itu, suasana langsung terasa berbeda. Angin telah berhasil mengirim kesepian dari lubuk Fina ke batin laki-laki itu. Membuat laki-laki itu terdiam, kehilangan kata-kata, dan bingung harus memulai percakapan dari arah mana. Padahal, laki-laki itu adalah salah satu playboy ternama yang dengan mudah mengalihkan perasaan perempuan ke hadapannya.

Pikiran Fina semakin menjauh. Ia sudah tak merasa bahwa ada orang lain yang sedang ada di sampingnya. Ingatan tentang janji yang hampir membuatnya mati sungguh akan selalu membekas di kepala Fina. Tentang rencana indah, senyum rekah, dan kehilangan yang berhasil membuatnya patah.

Keduanya masih terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali laki-laki itu melirik ke arah Fina. Mencoba menafsirkan jenis tatapan yang Fina pakai saat itu. Sedangkan senja sebentar lagi akan datang. Memaksa keduanya untuk kembali ke rumah.

"Saya pamit dulu Neng," ucap laki-laki itu sambil berdiri.

Sejenak Fina menoleh. Tidak ada jawaban dari mulutnya. Hanya isyarat mata yang seolah-olah memberikannya izin untuk pergi. Tanpa menunggu balasan, laki-laki itu langsung pergi ke arah barat. Menuju senja yang sebentar lagi akan tenggelam.

Fina kembali menggeser posisi duduknya ke arah semula. Tiba-tiba Fina merasakan sesuatu di tangan kanannya. Ya, sebuah kacamata bening tergeletak di samping kanannya. Pikiran Fina langsung teringat pada laki-laki itu.

"Ah, payah, kok bisa dia lupa dengan kacamatanya," kesal Fina dalam hati.J

Fina memutuskan untuk membawa kacamata itu pulang ke rumah. Menyimpannya untuk beberapa waktu ke depan. Dan mungkin akan mengembalikannya saat bertemu kembali dengan laki-laki itu.

***

Masih tidak ada yang bisa mengubah kondisi hati Fina. Bahkan bapak dan ibunya sendiri. Sudah beberapa kali si ibu membawa laki-laki baru dari berbagai penjuru dengan beragam kelebihan. Ada yang tampan seperti artis, ada yang kaya seperti raja, dan ada yang sholih seperti kyai. Namun sayang, semua itu tak sanggup membasuh luka yang masih menganga di dada Fina.

"Ayo lah Nak, kamu harus bisa keluar dari masa lalumu itu. Teman-temanmu sudah banyak yang menikah. Mau sampai kapan kamu seperti ini terus?" Si Ibu sedikit mengiba pada Fina.

Fina hanya diam di kursi ruang tengah. Beberapa kali ia merespon perkataan sang ibu untuk menjaga perasaannya. Tapi jika menyangkut masalah perasaan, sepertinya Fina masih perlu berpikir jauh. Sejauh kenangan yang telah berlalu.

Usia Fina sudah masuk angka 28. Sebuah angka yang sudah sangat matang untuk menikah dan membangun rumah tangga. Tetangga sebelah yang baru masuk usia 20 sudah melaksanakan pernikahan beberapa hari lalu. Sejak saat itu, cibiran-cibiran masyarakat mulai mampir ke telinga Fina.

Setelah berbicara tentang banyak hal, si ibu kemudian pergi ke dapur. Fina masih saja duduk dengan HP dan satu buah buku fiksi yang baru dibeli kemarin. Suasana rumah terasa sepi. Bapak masih belum datang dari pasar. Mencari penghidupan untuk keluarga kecilnya.

Setelah lulus dari kampus, rutinitas Fina hanya membantu ibu, membaca buku, dan menonton TV jika ada sinetron yang ia sukai. Kegiatan Fina bertambah satu sejak luka akibat sebuah kehilanga. Yaitu duduk di kursi panjang taman di sore hari. Waktu pertama kali ia mendengar fakta yang menyakitkan.

***

Di sore selanjutnya, Fina kembali lagi ke taman itu dan duduk sebagaimana biasa. Ia tak memerlukan seorang teman atau sebuah urusan untuk keluar dari rumah dan duduk di kursi masa lalu itu.

Belum sampai sepuluh menit, Fina tiba-tiba teringat pada laki-laki itu. Laki-laki misterius yang tidak bersalah dan telah ia cuekin kemarin. Kemudian Fina mengeluarkan kacamata bening milik laki-laki itu dari sakunya. Berharap ia datang walau hanya sebentar untuk mengambil barangnya.

Cuaca sedang sangat cerah. Burung-burung beterbangan membawa doa dari rumah-rumah menuju langit. Menembus awan dan angin yang terus bertiup dari segala arah. Sedangkan pikiran Fina mulai memikirkan laki-laki itu. Fina merasa bersalah.

"Apakah mungkin ia tak akan kembali?" Ucap Fina dalam hatinya.

Tak lama dari itu, seorang laki-laki datang dan duduk di sebelah kanan Fina. Meski Fina tidak mengubah arah pandangan, Ia tetap bisa merasakannya. Namun entah mengapa, rasanya sangat berbeda dengan kemarin.

Tidak ada percapakan dari laki-laki itu. Ia hanya datang dan sedikit mengobati kerinduang Fina secara diam-diam. Laki-laki itu datang dari alam yang berbeda dan hanya menemani dalam waktu yg singkat. Tiba-tiba Fina tersenyum bahagia akibat kehadirannya. Siapakah dia?

Laki-laki itu masuk dalam pikiran Fina. Menghidupkan segala jenis kenangan yang pernah terjadi selama kurun waktu satu bulan. Ya, tiga puluh hari itu sudah menjadi hari terbaik Fina sebelum hidup. Hari yang selanjutnya menjadi kesedihan yang begjtu panjang.

Keduanya menyatu dalam dimensi dunia lain. Meski duduk secara bersebelahan, tapi tidak ada interaksi secara langsung di antara keduanya. Mereka menyelesaikan masalah yang sempat terjadi dalam sebuah tempat tak terlihat yang menghubungkan dua pikiran menjadi satu.

"Maaf Neng, apa sampean lihat kacamata bening saya kemarin?" Tanya laki-laki kemarin yang tiba-tiba datang.

Tidak ada jawaban dari Fina dan laki-laki di sampingnya. Keduanya masih tetap fokus melihat ke arah depan dengan tatapan kosong. Seperti ada sesuatu yang sedang dikerjakan secara tersembunyi. Laki-laki itu tidak mau ikut campur urusan mereka. Ia hanya mengambil kacamatanya yg kebetulan terlihat di saku Fina. Lantas pergi meninggal keduanya dengan perasaan tenang.

Di dalam pikiran Fina dan laki-laki itu, mereka bersepakat untuk tetap saling setia hingga ujung usia. Tak peduli pada perkataan orang-orang yang mengecap mereka gila

 

Al-Muhasibi, 30-08-2020


Minggu, 23 Februari 2020

DI MATA DUA ORANG CUCU


Nenek selalu mengajarkan cucu-cucunya untuk sabar saat menerima musibah dan bersyukur saat menerima nikmat.
“Seberapa besar musibah yang menimpa kita, kita harus bisa sabar menerimanya. Dan seberapa kecil nikmat yang kita terima, kita, kita harus pandai mensyukurinya. Semua itu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang terbaik bagi semua hambanya. Tak terkecuali kalian,” nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk.
Rani dan Rino hanya mengangguk-ngangguk mendengar petuah neneknya. Sebagai anak yang baru memsuki usia remaja, tentu untuk memahami kehidupan secara mendalam masih belum terlalu bisa. Paling tidak, mereka telah diberikan pemahaman sejak masih labil. Dengan begitu mereka tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.
Rino tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan tangguh menghadapi takdir. Di pundaknya tertanggung adik kembarnya sekaligus nenek yang sudah hampir membuka pintu baru. Untung masih ada paman. Beliaulah yang menggantikan posisi bapak dan ibu. Tak jarang paman harus pontang-panting mati-matian demi menghidupi keluarga sudaranya yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Semua itu dia lakukan dengan ikhlas tanpa embel-embel apapun.
Sedangkan Rani tumbuh menjadi perempuan cantik yang pemalu. Di wajahnya seperti terlukis senja paling indah dan dzikir angin yang membentuk gelombang rindu bagi siapapun yang melihatnya. Kedua perawakan anak ini memang asli diturunkan oleh kedua orang tua mereka. orang tua yang belum sempat melihat mereka bisa tegak berdiri.
Sejak tiga tahun terakhir, nenek memang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Mulai dari penyakit luar hingga dalam, semuanya bercampur menjadi satu dalam diri nenek. Rino dan Rani sebenarnya tidak tega saat mendengar batuk nenek yang mengisyaratkan kematian. Tapi umur tidak ada yang tahu. Buktinya, kedua orang tua mereka telah lebih dulu menemui Tuhan dibanding neneknya.
Rino dan Rani banyak belajar kehidupan kepada neneknya. Usia beliau yang sudah mencapai angka 70 tentu telah banyak menampung pengalaman dan penuh perjuangan. Konon katanya, orang dulu jika mau makan harus mencari bahan-bahannya sendiri langsung di sawah-sawah. Tanaman pagar dijadikan menu pelengkap rasa. Tapi anehnya, orang-orang dulu tetap saja sehat meski dalam keadaan seperti itu. Tidak seperti sekarang yang semuanya serba tersedia dan penyakit semakin merajalela.
“Kami berangkat ke sekolah dulu Nek,” pamit Rino sekaligus Rani mengikuti di belakangnya.
Diciumnya tangan sang nenek yang sudah bau tanah dan dipenuhi keriput. Mata beliau yang masih tergolong sehat memancarkan cahaya keikhlasan melepas cucu-cucunya pergi menuntut ilmu. Tak lupa sang nenek mengusap kepala kedua cucunya sambil membaca doa keselamatan agar mereka senantiasa berada dalam lindungan Tuhan. Doa itu sudah turun-temurun dari keluarga mereka.
Tidak ada yang bisa dikendarai selain kaki sendiri. Satu buku dan satu pulpen menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang melarat. Tidak ada tas yang bisa digunakan untuk menampung segala barang yang dibawa. Jadi mereka harus membawa dengan tangan mereka sendiri.
Matahari masih belum terlalu panas. Wajar saja, mereka berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi sebab jarak yang lumayan jauh. Dan tentu mereka tidak ingin telat masuk sekolah walau hanya satu menit. Jiwa disiplin dan tanggung jawab benar-benar telah melakat dalam diri mereka.
##@@##
Berbagai macam pelajaran mereka terima dengan pikiran jernih. Dalam diri mereka tersimpan keiikhlasan dan daya juang yang sangat tinggi. Tak peduli pada teman-temannya yang menang dalam segi ekonomi dan fasilitas, mereka tetap pada prinsip yang dipegang teguh “Menjadi Yang Terbaik” dalam bidang keilmuan.
Di semester satu pertama, mereka langsung berhasil meraih peringkat satu dan dua di kelas. Mereka seperti bermain di taman permainan yang isinya adalah berbagai jenis ilmu. Kenikmatan belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar mendorong mereka untuk terus membaca dan menghafalkan. Sungguh prestasi yang sangat gemilang oleh dua anak kembar miskin itu.
Satu semester berlalu dengan sangat cepat hingga tiba pemberian nilai.
“Wah, nilaimu bagus-bagus nak,” salah satu orang tua yang hadir memuji nilai Rani.
“Kamu juga tidak kalah saing,” kata bapak yang lain pada Rino.
Keduanya mendapatkan penghargaan khusus dari kepala sekolah dan beberapa guru. Teman-teman yang lain ada yang iri melihat kebahagiaan Rani dan Rino. Apablagi kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan kalah dengan keluarga melarat.
Sesampainya di rumah, kabar itu langsug disampaikan pada nenek yang batuknya sudah semakin nyaring. Mendengar kabar itu, senyum nenek spontan semakin mengembang. Terlihat raut kebahagiaan di wajah beliau yang semakin tua. Hingga kemudian beliau menyampaikan petuah lagi.
“Selamat cu atas prestasinya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian ingat, bahwa inti dari kalian mencari ilmu adalah bukan tentang prestasi. Kalian akan menghadapi perjuangan yang lebih hebat setelah menerima ilmu di sekolah. Tidak hanya sebatas mengamalkan dan mempertahankan, tapi juga bagaimana kalian bisa membersihkan hati dari segala penyakit dalam menggapai ridho-NYA,”  nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk yang semakin parau.
Keduanya mengangguk. Kebanggan yang awalnya menggebu-gebu mulai menurun setelah mendapatkan penjelasan dari sang nenek. Kemudian mereka keluar menuju kamarnya meninggalkan nenek sendirian.
Di dalam kamar, seperti biasa mereka kembali membaca beberapa buku kemudian mendiskusikannya bersama. Beberapa persoalan mereka temukan jawabannya, dan beberapa lagi masih belum terungkap. Selain menjadi ruang belajar, kamar mereka sekaligus menjadi ruang imajinasi di mana cinta dan kata-kata bersetubuh melahirkan puisi. Ya, mereka kadang-kadang suka menjadi penyair.
Senja beranjak pulang dari tempat bermainnya. Di sudut-sudut langit, gelap mulai menunjukkan wajahnya. Sebentar lagi pasukan bulan dan bintang akan segera menyerbu Rani dan Rino serta penduduk setempat.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, paman Rani datang membawa kabar buruk yang akan menjadi awal dari kesedihan yang lain. Wajahnya yang sudah lelah tampak semakin kusut dengan berita yang entah akan disampaikan bagaimana pada yang lain. 
Ya, sang paman telah kehilangan pekerjaannya setelah melakukan kesalahan. Dengan begitu, dia sudah tidak bisa lagi membiayai sekolah Rani dan Rino. Dan mirisnya, pembayaran uang sekolah sudah tinggal tiga hari lagi.
##@@##
Semester kembali berganti.
Mau tidak mau, akhirnya paman meyampaikan berita itu pada mereka. kabar yang bertolak belakang dengan kegembiraan mereka beberapa waktu yang lalu.
“Jadi bagaimana paman?” tanya Rani.
“Untuk sementara kalian berhenti sekolah dulu,” ucapan itu sulit sekali keluar dari mulut paman.
Keduanya langsung terdiam. Tidak ada suara apapun kecuali angin yang lewat kemudian berlalu. Mata Rani dan Rino saling berpandangan. Tampak sebuah kekecewaan yang sangat mendalam dari mata mereka. tapi mereka hanya diam tanpa kata-kata menahan tangis agar tidak tumpah di hadapan paman yang baik hati.
Esok harinya paman langsung pergi ke sekolah untuk memberikan kabar bahwa Rani dan Rino tidak bisa membayar SPP sekolah. Dengan begitu berarti Rani dan Rino terpaksa tidak bisa mengikuti sekolah. Keputusan sekolah yang begitu ketat seolah memutus cita-cita Rani dan Rino. Padahal mereka termasuk anak rajin berprestasi yang layak diperjuangkan. Tapi apalah daya, peraturan tetaplah peraturan.
“Dengan mohon maaf yang sebesar-besarnya, anak bapak tidak bisa melanjutkan sekolah di sini,” tegas kepala sekolah.
Rino yang mendengarnya dari arah luar spontan sangat terpukul. Cita-citanya untuk menjadi orang sukses di masa depan sedang dilanda kabut hitam.
Akhirnya paman Rani pulang dengan membawa sedih yang sangat mendalam. Tatapannya mulai redup tak seperti saat baru berangkat dari rumah. Pikirannya lanhsung tertuju para Rni dan Rino yang sangat semangat belajar. Apa jadinya dua anak berprestasi harus berhenti gara-gara masalah ekonomi.
Di rumah, nenek sudah duduk di ruang tengah sambil menonton berita TV. Di depannya tersaji buah mangga yang sudah dipotong kecil-kecil. Tak lupa sebotol air mineral juga ada di sana. Paman masuk dengan raut wajah berbeda.
“Ada apa?” tanya lirih nenek sambil menatap paman.
Paman tak langsung menjawab. Dia menatap nenek sejenak. Kemudian dia duduk di samping nenek. Berusaha menyusun strategi agar apa yang disampaikan tidak menyakiti hati nenek. Tapi sayang, nenek pasti lebih paham bagaimana makna raut wajah seseorang.
Akhirnya paman menceritakan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Perihal dirinya yang dipecat akibat melakukan kesalahan, perihal Rino dan Rani yang dikeluarkan dari sekolah, dan segala kesuh kesah yang hampir membuatnya gila. Mendengar hal itu, nenek hanya terdiam. Di matanya seperti terbakar api kesedihan yang masih ditutup-tutupi.
Paman Rani mulai paham. Ia tidak ingin membawa suasana menjadi lebih buruk. Dialihkannya pembicaraan pada sebuah acara televisi yang sudah berganti.
Sedangkan di dalam kamar, Rino dan Rani sudah berderai air mata. Bantal yang mereka jadikan alas sudah basah sampai ke dalam-dalam. Suasana kamar yang biasanya selalu riang gembira kini berganti sunyi dan mengerikan. Imajinasi telah pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka berdua harus menghapus harapan yang sempat dibangun.
##@@##
Takdir tak bisa ditolak. Rasa kecewa yang didukung oleh penyakit dan restu dari maut membuat nenek harus pulang ke rumah keabadian. Awalnya, nenek mengalami pusing yang sangat berat, kemudian beliau tidak enak makan, hingga akhirnya dan masuk rumah sakit.
Lagi-lagi keluarga Rani harus menanggung biaya yang tidak sedikit. Musibah demi musibah berganti menghampiri. Belum selesai tangis kemarin kering, kini sudah datang tangis yang lebih deras lagi. Nenek divonis meninggal beberapa menit setelah tidak ada kepastian perawatan lebih intensif dengan biaya yang lebih tinggi.
Tangis pun meledak dari semua orang. Terutama Rani dan Rino yang masih belum menginjak dewasa dan belum siap menghadapi kerasnya kehidupan. Takkan terdengar lagi petuah nenek di beberapa kesempatan yang membuat mereka menjadi lebih baik. Doa demi doa dipanjatkan untuk keselamatan nenek di alam kubur hingga aalam akhirat.
Prosesi jenazah dilakukan beramai-ramai oleh pendduk sekitar. Banyak dari para tengga yang ikut berpartisipasi menguburkan jenazah nenek Rino. Bagi mereka, nenek ini hanyalah orang biasa yang meninggalkan dunia. Tapi di mata Rani dan Rino, beliau tidak hanya sekedar nenek, tapi juga sebagai pahlawan moral yang akan selalu hidup sepanjang masa.

Sabtu, 22 Februari 2020

MATI DALAM MIMPI


Jauh sebelum dunia diciptakan, mungkin banyak sekali yang Tuhan rencanakan dari awal sampai akhir. Mulai dari pertemuan hingga perpisahan, persahabatan hingga permusuhan, dan rasa cinta yang selalu saja menyimpan rahasia. Semua itu tertulis lengkap di lauh mahfudz yang menjadi rahasia paling sempurna.
Di sini, aku sebagai laki-laki kuat tidak pernah mau menjadi seperti ini. Entah apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan, aku pun tak pernah tahu. Rasa itu selalu saja hadir mengganggu konsentrasi yang selalu kususun dengan rapi. Aku sempat berpikir, bagaimana orang-orang hebat itu melakukannya? Apa mungkin aku berbeda dari yang lainnya? Ah entahlah. Semuanya sangat membingungkan.
Sebagai anak satu-satunya, biasanya seluruh perhatian dan kasih sayang orang tua sepenuhnya aku didapatkan. Sebab tidak ada pesaing yang akan mengurangi jatah uang dan barang-barang yang harus dibeli. Tapi sayang itu tak terjadi padaku. Sebagai anak satu-satunya, aku dituntut banyak hal dengan batas waktu yang ditentukan. Ah sial.
Hal pertama-tama yang harus dibangun oleh seorang laki-laki dalam menghadapi semua situasi adalah rasa berani. Kelihatannya ini memang mudah, tapi jangan salah, aku sudah mencobanya beberapa kali tapi selalu saja gagal. Aku harus mampu bertarung dengan diriku sendiri saat keadaan bersekutu dengan orang lain dan aku hanya sendirian.
“Ayo lah, aku pasti bisa,” ucapku pada diri sendiri saat tampil di festival lomba menyanyi.
Ini bukan pertama kali aku mencoba ikut lomba. Terhitung sudah tiga kali aku mencoba naik panggung di depan banyak pasang mata. Dan semuanya berakhir dengan memalukan. Sungguh aku harus banyak memperbaiki diri lagi.
“Halah, kamu tidak akan bisa. Sudah lah, tidak usah memaksakan diri,” diriku yang lain memberikan suntikan negatif.
Setelah membaca doa sambil memejamkan mata, mengambil nafas, akhirnya aku melangkah menuju panggung. Lampu kelap-kelip dan lampu sorot langsung tertuju padaku. Riuh gemuruh penonton bercampur dengan aroma makanan yang dijual oleh pedagang asongan. Semuanya lebur dalam euforia malam minggu yang sangat menakjubkan.
Aku berdiri tepat di depan ribuan pasang mata. Kulihat sejanak satu persatu wajah penonton yang tidak jelas siapakah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan kaum muda yang sedang dahaga cinta. Tak lupa kuingat kembali Tuhan. Dzat yang telah menciptakan dan menyempatkan aku berdiri di sini.
Setelah menyiapkan segala sesuatu ke operator, aku pun mulai bernyanyi salah satu lagu kesukaanku. Judulnya “Surat Cinta Untuk Starla”. Lagu ini sekaligus menjadi bahan nostalgiaku dengan seorang perempuan istimewa yang sempat singgah di hidupku. Siapa tahu dengan begitu aku bisa menghayati lagu yang sedang kunyanyikan.
Lagu dimulai. Aku bernyanyi selama kurang lebih 5 menit degan gaya khasku sendiri. Awalnya masih baik-baik saja. Tepat saat memasuki menit ketiga, rasa itu kembali hadir mengganggu semuanya. Aku dihantui rasa khawatir dan diikat rasa takut yang menjakar ke seluruh peredaran darah. Sepertinya sebentar lagi darah ini akan mendidih dan meluap ke mana-mana.
Akhirnya, suaraku tak senada dengan musik ditambah lagi suaraku yang cempreng membuat banyak telinga tersiksa.
##@@##
Hari baru kabar baru. Sekolahku langsung geger dipenuhi berita ketakutanku tadi malam di atas panggung. Rupanya banyak teman-teman sekolah yang juga ikut menonton di sana. Apa mungkin rasa khawatir itu timbul sebab adanya mereka? Ah entahlah, rasa ini masih belum bisa kubunuh sepenuhnya sejak beberapa tahun yang lalu.
Sebanyak 100 lebih siswa yang ada di sekolah, sepertinya lebih separuh yang sudah tahu perihal kejadian semalam. Mulut orang-orang zaman sekarang emang lebih cepat dari HP bahkan angin sekalipun. Sebagian teman ada yang memberikan motivasi untuk terus belajar, dan sebagian yang lain ada yang malah menjatuhkan.
“Dasar bodoh!”
“Makanya latihan dulu sebelum tampil,”
“Ya udah tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirin,”
Dari peristiwa itu, aku menemukan banyak respon dari banyak kepala. Hingga akhirnya aku paham, mana yang benar-benar teman, dan mana yang sekedar datang saat butuh saja. Ingin rasanya aku lempar kepala orang yang menghinaku dengan batu bata yang sangat besar.
Aku pulang dengan perasaan sedih. Bayangkan, teman-teman kelasku banyak yang menertawakanku saat jam istirahat. Seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat melakukan. Padahal menurutku, aku masih belajar menjadi lebih baik. Oh Tuhan, berikan hamba kekuatan.
Sepanjang jalan pulang aku hanya bisa menangis sambil menunduk memperhatikan jalan. Sesekali aku menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalanku. Aku sempat berpikir hidup ini memang tidak adil. Banyak sekali perbedaan antara aku dan yang lain. Dan dalam posisi sekarang, akulah yang dirugikan. Aku tak sanggup tuk sekedar mengalahkan diriku sendiri, apalagi orang lain.
Perjalanan terasa lebih lama. Pikiranku mulai pergi kemana-mana. Membandingkan hidup teman yang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangunan di pinggir jalan. Entah bangunan apa itu, yang jelas banyak sekali orang yang berhenti di sana.
Ada yang sibuk berduaan dengan pacar, ada yang menyuapi anaknya, dan ada yang hanya sibuk sendiri memandangi HP dan menscroll status teman satu persatu. Aku kemudian bergabung ke sana dan lebih memilih duduk dan diam sejenak. Kuletakkan tas yang berisi buku dan alat tulis di samping kananku. Aku pun diam.
Jam masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Biasanya, aku sudah pulang sejak sejam yang lalu. Tapi karena aku materi tambahan pada kelas akhir, akhirnya aku baru pulang. Angin berdesir pelan. Suara klakson terdengar bersahut-sahutan antara yang satu dan yang lain. Bercampur dengan debu-debu yang selalu menerbangkan cerita ke sudut cakrawala.
“Kacangnya dek?” seorang bapak tua datang menawarkan kacang.
“Oh tidak pak, terima kasih,” tolakku halus.
##@@##
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada ibu. Perihal teman-teman yang mengejekku atas kejadian semalam, perihal guru-guru yang sudah meragukan kemampuan bicaraku, dan perihal segala sesuatu yang kurasakan dalam hati. Semua itu kuungkapkan dengan harapan ibu bisa memberiku motivasi agar tetap kuat bertahan dan berjuang menggapai harapan. Tapi sayang, ibu hanya menanggapi semua itu dengan biasa saja.
“Sudahlah, kamu ini laki-laki, masak seperti itu saja sudah ngeluh,” Ibu kemudian berlalu ke dapur.
Aku kembali menundukkan kepala di ruang tengah. Seseorang yang kukira akan mampu untuk memadamkan bara luka ternyata malah semakin mengobarkan api di setiap sudut hati. Aku sekarang mulai berpikir apakah di dunia ini memang tidak ada sama sekali orang yang peduli padaku?
Satu menit kemudian bapak datang. Sebagai seorang sales, dia harus banyak bicara seharian menawarkan suatu barang pada orang-orang. Jika untung maka akan banyak pembeli yang berminat pada barang bapak. Sebaliknya, jika tidak ada orang yang tertarik, maka hanya suara saja yang habis.
Beliau kemudian duduk di depanku. Melepas bajunya hingga terlihat kaos putih tipis yang melekat di badannya. Keringat berucucuran dari setiap arah tubuh beliau. Kuperhatikan sejenak wajah beliau. Tampak bahwa beliau benar-benar lelah setelah seharian berjalan mencari palanggan dan berusaha tersenyum di hadapan mereka. Aku merasa bersalah jika menyerah saat melihat wajah beliau.
“Ada apa?” tanya bapak setelah sadar aku manatapnya dari tadi.
Pikiranku kabur. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kembali apa yang telah kuceritakan pada ibu. Semoga saja bapak mau memberikan solusi terbaik atas permasalahan ini. namun lagi-lagi sayang, bapak malah menambah beban berat di pikiranku.
“Gitu saja sudah sakit hati! Kamu ini laki-laki! Harus kuat!” bapak langsung beranjak.
Deg. Aku merasakan ada beban besar yang jatuh pada kepala dan hatiku secara bersamaan.
Aku pun pergi ke kamar dan menguncinya dari dalam. Saat ini tidak ada yang boleh masuk. Aku ingin menenangkan diri sejenak bersama kata-kata yang selalu mau menerimaku apa adanya. Sebelum itu, aku ingin mandi tuk membasuh segala luka yang dari tadi bertubi-tubi diberikan oleh banyak orang.
Di dalam kamar, aku hanya duduk di balik jendela sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang. Tak lupa bulan juga ada di sana. Mereka seperti sebuah keluarga yag sangat rukun menghiasi semesta. Ada yang besar, kecil, dan ada yang sangat kecil. Konon katanya jika ada bintang jatuh maka segeralah berdoa, sebab waktu itu adalah salah satu waktu mustajab. Entah benar atau tidak, aku pun tak tahu.
Aku mulai berpikir tentang diriku sendiri. Sudah banyak percobaan yang kulakukan tapi selalu berujung kegagalan. Mungkin setelah ini akan ada gagal lagi yang harus kurasakan. Ingin sekali aku bertemu dengan rasa itu kemudian membunuhnya secara terang-terangan agar tidak datang lagi saat aku tampil di depan umum. Tak peduli pada apapun resikonya. Sebab ini sudah terlalu sakit.
Malam ini aku tidak berhasil menemukan apa-apa dari perenungn terhadap malam. Hanya saja, emosi terus membuncah dalam dada hingga aku tertidur dalam kemarahan besar.
##@@##
Aku sekarang bisa melihatnya. Dia berupa semacam manusia yang sangat mengerikan dan selalu bersedih di manapun berada. Tak jelas apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang jelas, dia tidak pernah mau tersenyum sedikit pun. Sebab dia memang tercipta dari luka, kesedihan, dan beberapa dendam yang sangat dalam.
Pelan-pelan aku mengikutinya dari belakang. Dia semakin cepat berlari, aku pun mengikutinya. Aku berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya. Dia pun berhenti pada sebuah pemakaman di salah satu kuburan kosong dan tampak masih baru seleai digali.
Aku mulai merasa takut. Dia berhenti tanpa bergerak sedikit pun. Di tanganku sudah siap sebilah pisau yang sudah kuasah dengan air mata. Sedikit saja kulit manusia terkena ujung pisau ini, maka niscaya darah segar akan langsung mengalir. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, rasa itu akan menghilang untuk selamanya.
Aroma kematian semakin tercium. Tanpa menunggu waktu lagi, kugores pisau ini tepat di lehernya seperti sedang menyembelih hewan. Dia pun menggelepar-gelepar layaknya ayam yang baru selesai disembelih. Aku melihatnya dengan perasaan menang karena telah menyelesaikan misi.
Namun apa yang selanjutnya terjadi?
Dia kemudian menarikku ke lubang itu hingga aku tidak bisa bangun lagi.

Jumat, 21 Februari 2020

DIBUNUH ATAU TIDAK?


Tidak ada yang pernah tahu sebelumnya tentang ini. Perihal senyum yang tak lagi seindah dulu, tawa yang tak lagi selebar dulu, dan kecantikan yang tak lagi sesuci dulu.
“Ada apa Nak?” tanya ibu dengan cemas.
“Tidak ada apa-apa kok bu,” jawabnya berbohong.
Semua orang mungkin tidak akan mengerti. Tapi perlahan-lahan, semuanya akan terungkap dengan jelas. Siapa yang jujur dan siapa yang bohong. Siapa yang berusaha menutupi derita di balik mata indah itu, dan siapa yang pantas menerima hukuman atas semua ini. Sungguh ini akan menjadi sangat berat bagi mereka.
Malam yang indah dengan purnama yang bertengger di angkasa tak seperti suasana hati Fitri. Perempuan itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar sambil menulis sesuatu di kertas kosong. Kejadian beberapa hari yang lalu sungguh telah membuatnya syok. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi apalah daya, kejadian kemarin akan tetap tumbuh menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak.
Hari-hari di penuhi dengan tangis dalam sunyi. Fitri tidak berani untuk berbicara banyak kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang terkenal galak bisa saja memakannya hidup-hidup jika sampai mengerti inti masalah yang sedang terjadi. Ditambah lagi omongan tetangga yang lebih tajam dari samurai pendekar.
Fitri teringat pada seseorang. Dia adalah ahli ramal yang terkenal bisa memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Beberapa orang percaya dengan orang itu dan sebagian yang lain tidak percaya. Awalnya, Fitri adalah bagian dari yang tidak percaya dengan itu. Tapi sejak kejadian beberapa minggu yang lalu, ia mencoba sesuatu yang mungkin bisa menolong dirinya dalam bertindak.
Di hari minggu, Fitri harus rela mengorbankan jatah bermainnya demi menyelesaikan sesuatu yang belakangan ini membuat dirinya tidak nyaman. Sesuatu yang menurut sebagian orang adalah hal lumrah sebagai anak muda. Tidak mungkin jika dia masih menunda-nunda lagi masalah ini. Sebab menunda berarti memperbesar masalah dan mempersulit solusi bagi Fitri.
“Hati-hati kalau mau bertemu dengan beliau,” saran salah satu tetangga yang tahu Fitri akan ke sana.
“Kenapa emang?” Fitri tidak mengerti.
“Tidak sedikit dari kalangan perempuan yag tiba-tiba menghilang selepas pergi dari tempat beliau. Entah itu karena alasan ekonomi, hukum, budaya, maupun yang lain. Saya harap kamu bisa menjaga diri dengan baik. Apalagi kamu masih muda,” perempuan ber-anak satu itu mengingatkan.
“Terus saya harus bagaimana?”
“Perbanyak baca sholawat,” ibu itu kemudian pergi.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Fitri tanyakan tentang beliau. Tapi sayang ibu keburu pergi tanpa jejak sedikit pun. Fitri memandangi sekitar. Beberpa kupu-kupu melintas membawa doa seorang kekasih pada kekasihnya. Fitri berharap semoga kelak ia juga bisa seperti itu.
Suasana desa Fitri tergolong agamis. Setiap waktu sholat, masjid pasti selalu ramai dengan orang berjamaah. Setiap minggu ada kajian keislaman yang dalam rangka meningkatkan pemahaman sekaligus nilai spritual keagamaan warga. Tak jarang tokoh ulama terkemuka hadir di tengah-tengah mereka. menciptakan suasana indah sebagaimana islam datang sebagai rahmatan lil alamin.
##@@##
Fitri berhadapan dengan bapak tua berjenggot putih dan kulit keriput. Di depannya terdapat dupa dengan kembang tujuh rupa diiringi asap dan bau yang sudah akrab di hidung Fitri. Batinnya bergejolak. Ini adalah hal yang paling dia benci dulu, tapi sekarang dirinya sudah mau masuk dalam pintu alam ghaib. Sungguh perasaannya tak karuan.
Bapak tua itu memejamkan mata, kepalanya mengangguk-ngangguk, dan mulutnya bergetar seperti sedang membaca mantra yang entah itu apa. Sesekali tangannya terangkat dan bergoyang-goyang seperti sedang memanggil roh-roh ghaib dari alam lain. Suasana ruangan itu benar-benar sedikit menegangkan. Tapi Fitri berusaha untuk tetap tenang dengan segala apapun yang terjadi.
“Mbah..,” Fitri memanggil pelan.
“Aku sudah tahu apa maksud kedatanganmu ke sini,” si Mbah langsung memotong kata-kata yang hendak diucapkan Fitri.
Fitri langsung terdiam. Ia menegakkan posisi duduknya. Membenarkan letak tas yang dibawanya dari rumah. Kemudian menunduk layaknya seorang santri yang sedang berhadapan dengan kyai.
“Kenapa bisa jadi seperti itu?” si Mbah bertanya dalam posisi mata terpejam.
Fitri mengambil nafas. Kemudian menjawab pertanyaan Mbah dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin seorang pun yang tahu, bahkan seekor semut sekalipun.
“Itu sebuah kecelakaan Mbah,” Fitri sedikit tergugup.
Suasana sunyi sejenak.
“Hahaha..,” si Mbah langsung tertawa setelah enabur bunga merah di atas dupa.
Fitri tidak mengerti. Terbersit dalam benaknya bahwa si Mbah adalah orang gila yang kebetulan saja menjadi ahli ramal. Tapi mungkin dirinya lebih gila lagi karena percaya saja dengan orang gila.
“Tidak usah membohongi Mbah nak, semuanya bisa terlihat di sini,” si Mbah menunjukkan cermil kecil di samping dupa.
Fitri mencoba mendekat. Dilihatnya cermin kecil yang ada di samping dupa. Tapi Fitri tida melihat apapun kecuali wajahnya sendiri. Matanya memicing mencoba mencari sesuatu yang mungkin terselip di antara debu-debu yang menempel di kaca. Tapi sayang Fitri tetap tidak menemukan apa-apa.
“Sudahlah, jujur saja pada Mbah, toh Mbah tetap tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hahaha..,” suara Mbah terdengar semakin bersemangat ketika tertawa.
Fitri merasa terpojok. Tidak ada gunanya dia berbohong pada si Mbah. Kelihatanya si Mbah memang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fitri menarik nafas sejenak. Menghilangkan rasa takut dan was-was yang bisa hinggap dengan cepat. Sedangkan posisi keduanya masih tetap sama seperti tadi.
Tiga detik berlalu. Akhirnya Fitri memutuskan untuk bercerita panjang lebar. Entah konsekuensi apa yang akan dia terima. Intinya, dia benar-benar ingin aman dari segala tuduhan dan cemoohan. Di samping itu, dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi di generasi selanjutnya.
##@@##
Ternyata benar. Ramalan dari si Mbah dua puluh tahun yang lalu menjadi kenyataan. Rumah besar dan mobil mewah menghiasi kehidupan Fitri dan keluarganya. Tidak ada satu pun barang urahan yang terpajang di setiap sudut rumah. Semuanya serba mewah dengan kualitas terbaik baik dari produk dalam negeri hingga luar negeri.
Dua anak Fitri tumbuh subur dan menjadi idola di sekolahnya masing-masing. Prestasi dicapai dengan mudah bahkan berturut-turut tak terkalahkan. Senyum bahagia dan tawa gembira tumpah ruah di keluarga Fitri. Sebagai keluarga berkecukupan, tak jarang Fitri dan suaminya memberikan santunan pada anak yatim sekitar yang kekurangan. Tidak hanya itu, mereka juga tak segan-segan untuk mensedekahkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid.
“Alhamdulillah ya mas, semuanya berjalan lancar,” ucap Fitri pada suatu pagi yang tak terlalu dingin.
“Iya dek, semua ini berkat pertolongan Tuhan,” balas suami Fitri setelah menyeruput kopi yag masih hangat.
Keduanya duduk di taman belakang rumah yang dipenuhi bunga-bunga. Disampingnya terdapat kolam yang cukup besar dengan air yang sangat jernih. Di sisi kanan juga terdapat cangkruk kayu untuk bersantai menikmati kebersamaan keluarga, teman, maupun kerabat jauh yang datang untuk menyambung silaturrahmi.
Matahari semakin naik. Panas semakin mnyengat seiring jarum jam yang terus berputar menunjuka angka-angka. Sesekali angin datang membawa kabar pada ingatan tentang kenangan yang sempat terjadi tempo lalu. Sejenak pikiran Fitri kembali pada dua puluh tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya harus menghapus banyak air mata dan mengobati luka dengan doa-doa.
“Ada apa sayang?” tanya suami Fitri setelah mengetahui istrinya melamun.
“Oh, tidak apa-apa kok Mas,” jawab Fitri galagapan.
Keduanya kembali menikmati pagi. Hari minggu adalah hari libur sekolah dan libur kerja. Rencananya mereka sekeluarga akan pergi jalan-jalan ke pantai. Tempat di mana senja tinggal dan gelombang rindu bertaburan.
Dari arah pintu belakang, putri kedua Fitri datang sambil membawa hasil gambarnya yang dia kerjakan tadi shubuh. Anak yang satu ini memang memiliki jiwa seni yang sangat luar biasa. Sehingga tak heran di kelas dia dijuluki dengan nama si tangan ajaib. Dari tangannya lahir beberapa gambar yang sangat bagus. Namun anehnya, dia tidak pernah mengikutkan hasil karyanya pada lomba-lomba yang ada.
“Ini Ma, bagus nggak?” Putri keduanya menjuurkan sebuah gambar pada Fitri.
Fitri menerima gambar itu dengan tersenyum. Begitu ia buka secara lebih jelas, Fitri langsung terperanjat dengan apa yang ada di dalam gambar itu. Yaitu orang pertama yang telah berhasil membuatnya merasakan luka yang sangat lama. Padahal jauh sebelum itu, kehidupan Fitri masih sangat indah dipenuhi dengan cinta dan canda tawa.
“Wulan tahu dari mana wajah ini?” tanya Fitri dengan halus.
Raut wajah Wulan sedikit berubah. Tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi terkait gambar ini.
“Sini sini, duduk dulu,” suami Fitri yang tiada lain ayah Wulan menyuruhnya duduk.
Setelah berada di posisi yang tepat, akhirnya Wulan menceritakan asal muasal gambar itu. Sebenarnya itu adalah wajah seorang lelaki yang hadir daalam mimpi Wulan semalam. Di mimpi Wulan, laki-laki itu akan datang dengan niat jahat untuk menghancurkan keluarga Fitri. Laki-laki itu sempat mengancam dengan berbagai kalimat yang membuat Wulan takut. Tai sayang Wulan tidak bisa mengingat persis bagaimana alur dan percakapan yang terjadi dalam mimpi.
“Oh ya Tuhan..,” Fitri memandang dengan tatapan kosong.
Sang suami kemudian mengambil gamabr itu dari tangan Fitri. Dilihatnya gambar itu dengan serius seperti sedang mengerjakan soal matematika yang paling sulit. Wajah itu sangat asing bagi suami Fitri. Dalam benaknya dia berpikir, mungkin dia adalah bagian dari masa lalu istrinya yang tidak terlalu penting diungkit.
“Oh iya ada satu lagi,” celetuk Wulan setelah dari tadi mengingat-ingat.
Mata Fitri dan suaminya spontan tertuju pada Wulan secara bersamaan.
“Apa nak?” suami Fitri mengubah posisi duduknya.
“Laki-laki itu sempat mengancam akan membunuh Mama,” mata Fitri mulai berkaca-kaca.
Kedua orang tua Wulan terkejut, terutama Fitri. Sebab dia adalah target utama dari laki-laki itu. Kejadian ini benar-benar persis dengan apa yang pernah diramalkan oleh si Mbah dua puluh tahun yang lalu. Fitri kemudian beranjak pergi kemar dan menguncinya dari dalam. Rupanya kenangan itu telah berhasil masuk dalam pikiran Fitri sepenuhnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dulu, jauh sebelum Fitri mendatangi si Mbah, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang sangat ia cintai. Dua bulan lamanya mereka menjalani kisah cinta sebagaimana sepasang kekasih yang memiliki dunianya sendiri. Tapi sayang, keduanya terjerumus dalam lubang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka melakukan hubungan intim hingga melahirkan Wulan yang saat itu masih tidak tahu apa-apa.
Kemudian Fitri konsultasi pada dukun, apakah lebih baik bayi itu dibunuh atau dibiarkan saja. Ternyata, si Mbah menyarankan agar bayi itu terus dirawat karena akan mendatangkan keberuntungan. Dengan cepat Fitri meminta nikah pada orang tuanya agar janinnya yang masih sangat kecil tidak ketahuan oleh semua orang. Sedangkan kekasih Fitri langsung menghilang setelah mengetahui dia hamil.
Dan sekarang, dia akan datang lagi dengan membawa ancaman yang baru.



Selasa, 11 Februari 2020

KEMBALI YANG MENAKUTKAN



Setiap malam Arin selalu didatangi ketakutan. Hal itu bermula sejak kematian neneknya yang sudah dapat tujuh hari. Padahal sebelumnya, Arin dikenal sebagai perempuan pemberani meski disuruh berjalan sendiri di tengah malam dengan jarak yang sangat jauh.
“Yang sabar ya Nak,” salah satu tetangga menguatkan Arin saat itu.
Kata-kata itu sering datang ke telinga Arin selepas jasad neneknya sudah dipeluk tanah.
Sebagai cucu satu-satunya, Arin masih ingat betul bagaimana dulu ia sering bergurau dengan neneknya. Tak peduli meski selisih umur yang sangat jauh, tapi nenek-cucu itu seolah teman akrab yang bisa mengerti satu sama lain.
Biasanya, setiap malam nenek akan menceritakan banyak hal kepada Arin. Mulai dari pangeran dari negeri mekkah yang mencari kekasihnya, si kancil yang suka mencuri, hingga daun-daun yang jatuh selalu tabah menerima takdir. Entah cerita itu benar-benar terjadi atau hanya dibuat-buat, yang jelas Arin sangat menikmati cerita nenek.
Dari saking dekatnya dengan nenek, Arin lebih sering tidur dengan nenek ketimbang ibunya. Padahal kamar nenek sangat sempit jika ditempati lebih dari satu orang. Ditambah lagi suasana pengap yang membuat tidur tidak enak, tapi Arin malah bisa tidur nyenyak di sana.
Ibu Arin yang hanya bekerja sebagai penjual nasi pecel tak bisa melarang Arin untuk terus dengan neneknya. Meski kadang terbersit rasa iri dalam hati. Sebagai seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, membimbingnya berjalan, dan mengajarinya banyak hal, tentu akan tersa sakit bila diduakan dengan neneknya.
Tak jarang Arin menolak permintaan ibunya untuk tidur bersama. Alasannya adalah karena tidur bersama nenek lebih enak dan lebih menyenangkan. Sungguh sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi Ibu Arin berusaha berskiap baik-baik saja, meski jauh di dalam hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di suatu sore, Ibu Arin memutuskan untuk tidak berjualan untuk keperluan suatu hal. Keperluan yang sebenarnya cukup aneh tapi sangat penting untuk diketahui. Dia akan pergi ke orang pintar untuk menanyakan beberapa hal terkait fenomena dia, anak, kemudian nenek. Sebab menjadi tidak wajar apabila anak lebih sayang kepada neneknya dibanding ibunya. Apalagi usia Arin yang masih belum sepenuhnya dewasa.
Rumah orang pintar (Ki Japrak) lumayan jauh dari desa Ibu Arin. Menurut cerita, jika ingin datang dan bertanya sesuatu pada Ki Japrak, maka syarat utamanaya adalah harus jalan kaki dari tempat tinggal menuju rumah beliau. Tak peduli jaraknya puluhan,ratusan, bahkan ribuan kilo meter. Semuanya tetap sama.
Sebelum berangkat, Arin seperti biasa mencium tangan ibunya dengan penuh ta’dzim. Kemudian mencium tangan neneknya ditambah cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Beberapa pesan disampaikan oleh nenek. Terakhir Arin berangkat ke sekolah bersama teman-teman.
Setelah itu, nenek akan pergi ke kamarnya emudian mengunci dari dalam. Ibu Arin tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Setiap kali Ibu Arin mengajak duduk bersama dan berbicara, ada saja alasan untuk menolak. Terkadang ngantuk, kadang pusing, dan kadang marah-marah sendiri tidak jelas.
Malam harinya, keluarga kecil itu seperti biasa makan bersama di meja tua yang sudah berumur puluhan tahun. Bukan karena tidak mau mengganyi meja, tapi memang mereka kekurangan dana untuk membeli perlengkapan baru. Jangankan perlengkapan baru, biaya sekolah Arin saja masih sering cari utangan ke tetangga.
“Bagaimana sekolahmu nduk?” Nenek bertanya pelan.
“Alhamdulillah lancar nek,” Arin menjawab dengan sangat antusias.
 Pertanyaan itu diulang setiap malam oleh nenek. Ibu Arin yang mendengar itu sampai muak seperti tidak ada pertanyaan lain yang bisa dilontarkan. Anehnya Arin selalu menjawabnya dengan riang gembira kemudian berlanjut pada pembahasan yang lain.
Sedangkan Ibu Arin lebih banyak diam mendengarkan dua orang di sampingnya berbicara puas. Jika seandainya bukan dirinya yang bersiasat untuk bicara, niscaya dia tidak akan diajak bicara oleh Arin dan nenek. Sungguh sesuatu yang sangat ganjal bagi sebuah keluarga masa kini.
“Ibu besok kayaknya tidak jualan,” Ibu Arin angkat bicara saat keduanya diam.
Tidak ada yang menjawab antara Arin dan nenek. Haya suara jangkrik yang menyaut pernyataan dari ibu tadi. Hingga beberapa suapan kemudian nenek menyambung pernyataan Ibu Arin.
“Kenapa?” mata nenek seperti sedang curiga.
Ibu Arin hanya menggeleng. Ia tidak mau rencananya diketahui oleh dua orang yang telah membuatnya asing di rumah sendiri. Jika mereka tahu, tentu akan menggagalkan rencana yang telah disusun dengan matang. Makan malam berakhir dengan ucapan “Selamat tidur” dari Arin. Entah untuk siapa. Yang jelas bukan untuk Ibunya.
Di dalam kamar, Arin tidur di sebelah nenek sambil memeluk pinggangnya yang sudah kurus. Nenek seperti biasa menggunakan pakaian yang sedikit terbuka yang biasa digunakan sehari-hari di rumah. Sedangkan Arin sudah siap tidur dengan baju tidurnya.
Sedangkan di kamar sebelah, Ibu Arin hanya menahan tangis yang entah mengapa datang tiba-tiba tanpa aba-aba. Keharmonisan Arin dengan neneknya sangat dekat membuat hati tidak terima sebagai ibu kandung. Seharusnya dia yang paling dekat dengan Arin, baru kemudian neneknya. Tapi sayang kenyataan berbicara lain.
Kamar Ibu Arin lumayan besar. Itu karena memang pilihan dirinya saat menikah dengan Satram yang sekarang hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi yang bisa dipeluk selain guling dan boneka. Andai saja Arin ada di sisinya, mungkin suasana akan teras berbeda. Lebih nikmat, lebih hangat, dan lebih nayaman.
“Kisah malam ini tentang sepasang kekasih yang menjalin cinta tanpa restu orang tua,” nenek Arin membenarkan letak berbaringnya.
Arin hanya tersenyum, dari beberapa cerita kemarin, batu dan daun saja bisa menjadi cerita yang menarik. Apalagi ada cinta-cintanya, pastinya akan lebih seru. Arin memjamkan mata dan melebarkan telinga. Bersiap menerima apa yang akan disampaikan oleh nenek. Dirinya seperti mempunyai mesin cerita yang bisa dipesan cerita apa yang dipesan.
##@@##
 Ibu Arin menyiapkan semuanya. Mulai dari bekal perjalanan, uang, dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi nanti. Nenek Arin yang menyaksikan itu merasa janggal dengan perlakuan anaknya. Seperti orang yang mau pindh rumah saja.
“Mau kemana?” suara nenek mengagetkan Ibu Arin.
“Oh, ini ada urusan sebentar,” Ibu Arin sedikit tergagap.
Untungnya, nenek Arin tak terlalu kepo dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan anaknya. Nenek pun berlalu menuju kamarnya.
Perjalanan di mulai. Ibu Arin harus melalui hutan yang lumayan besar untuk sampai di sana. Beberapa hewan melata menatap Ibu Arin dengn tatapan aneh. Semoga saja mereka tidak sedang kelaparan.
Satu jam perjalanan akhirnya selesai. Ibu Arin telah sampai di lokasi. Di hadapannya telah duduk bersila Ki Japrak. Seketika Ki Japrak menjelaskan pokok permasalahan.
“Jadi di mata Arin nenek itu adalah kamu, dan  kamu adalah nenek,” Ki Japrak menaburkan bunga-bunga.
Setelah paham dengan semua pokok permasalahan, Ibu Arin memutuskan untuk mengembalikan semuanya pada keadaan semula. Resikonya, sang nenek kemungkinan besar akan meninggal dunia dan Arin akan mengalami kelainan.
Dengan biaya yang telah ditentukan, Ibu Arin akhirnya mengambil jalan itu. Jalan yang akan mengubah segalanya.
##@@##
Seminggu kemudian. Nenek ditemukan meninggal di dalam kamar dalam keadaan mata terbuka. Sungguh mengerikan. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan di sana. Beberapa polisi berusaha mempelajari apa yang baru saja terjadi. Tapi sayang gagal.
Sejak saat itu, penglihatan Arin kembali normal. Dan saat itu pula, ia merasakan ketakutan sepanjang malam akibat sering didatangi oleh sang nenek. Seolah ia mau mengajaknya pergi entah ke mana.