Setiap kali hendak berangkat
sekolah, ibu tak pernah lupa membisikkan doa di kedua telingaku setelah aku
mencium tangannya dengan penuh khidmat. Aku tak pernah mengerti apa maksud dari
doa itu. Tapi aku sangat yakin, bahwa doa semua ibu kepada anaknya selalu
berisi kebaikan dan diikuti oleh ketulusan hati.
“Ibu, aku berangkat dulu ya,” aku memandang mata ibu yang sangat teduh
layaknya pohon akasia.
Saat itu, Ibu pasti membelai
rambutku dengan cinta kasih yang utuh. Cinta kasih yang tak pernah berkurang di
segala musim. Musim rindu, musim luka, atau bahkan musim rahasia yang
dibicarakan oleh batu-batu. Semuanya akan tetap sempurna.
Sejak dua tahun lalu, aku
kehilangan seorang ayah akibat kecelakan tragis yang dialami oleh bis jurusan
madura-jakarta. Bis yang memuat orang yang biasa kusebut bapak harus
bergelinding akibat rem blong yang tak disangka-sangka. Sungguh peristiwa yang
takkan pernah kulupakan sepanjang hayat.
Dari dulu, aku selalu
diajarkan untuk hidup mandiri dan hemat dalam segala sesuatu. Kehidupan
keluarga yang pas-pasan memaksaku untuk menahan hasrat memiliki sepeda yang
bisa mengantarkanku ke tempat tujuan dengan lebih cepat. Aku harus berjalan
kaki selama sepuluh menit untuk sampai di sekolah.
Cuaca hari ini sangat cerah.
Mentari tersenyum manis layaknya seorang perawan yang baru saja keluar dari
ruang perawatan. Sinarnya yang tak terlalu panas membuat energi tubuh menjadi
lebih segar. Beberapa kicauan burung terdengar mendendangkan kuasa Tuhan yang
tak bisa dituliskan. Desir angin pun tak mau kalah mengabarkan berita kerinduan
seorang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Sesampainya di sekolah, Bu
guru tak mengajarkan materi yang seharusnya dipelajari hari ini. Beliau lebih
banyak bercerita tentang sebuah kehidupan dunia masa depan yang dikemas dengan
sangat baik hingga bisa dipahami oleh kami.
“Anak-anak, sekarang kita tidak akan belajar materi di buku. Cuma
sekarang ibu pengen tahu, apa cita-cita kalian?”
Semuanya terdiam. Tidak ada
yang bersuara kecuali jangkrik yang kebetulan lewat di meja paling belakang.
Seolah kami mendapatkan pertanyaan paling sulit yang jawabannya berada di ujung
dunia. Pikiran kami saat itu masih sebatas anak-anak. Hingga akhirnya aku
memberanikan diri untuk menjawab.
“Aku ingin abadi bu,” jawabku singkat.
Spontan semua teman-teman
yang hadir langsung tertawa mendengar pernyataanku. Sepasang mata yang tadinya
tertuju ke segala arah kini terpusat padaku. Seolah aku menjawab pertanyaan ibu
dengan jawaban yang salah.
“Maksudmu gimana nak?” ibu guru itu mendekatiku.
Aku sedikit gugup. Tapi
dengan keberanian yang tersisa, kucoba untuk tetap teguh dan tegap menghadapi
segala hujatan dari teman-teman. Sepertinya mereka masih belum paham dengan apa
yang kumaksud.
Kemudian aku membuka tas, memberikan sebuah catatan panjang yang kumulai
dari hal-hal yang tidak penting dan masih tanpa akhir.
##@@##
Catatan hidup.
Aku telah banyak menonton
film kartun yang ditayangkan di televisi. Mulai dari spongebob, doraemon, dora,
hingga upin ipn yang selalu memberikan pelajaran di setiap episode. Hingga aku
paham, mana yang baik, mana yang pura-pura baik, dan mana yang jahat. Semuanya
terlihat dari beberapa adegan yang sengaja ditampilkan dan sengaja
disembunyikan.
Kelak apabila aku sudah
dewasa, ingin sekali kuajak anak-anak bermain dalam ciptaanku yang entah akan
berujung pada pujian atau hinaan. Aku tak peduli dengan semua itu. Intinya di
sini aku ingin menghabiskan hidup dengan tertawa dan terus bahagia. Dengan
catatan tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar agama.
Sekarang tidak penting
berapa banyak uang yang kau punya, berapa pangkat yang kau sandang, dan berapa
hutang yang masih kau tanggung. Sebab kehidupan masih berjalan. Bisa jadi hal
itu tetap, berubah dalam jangka waktu panjang, atau bahkan berubah di waktu
yang tak disangka-sangka. Intinya kehidupan itu untuk dijalani, bukan
dipungkiri.
Ibu guru yang membaca
sekilas tulisan ini sedikit tercengang. Dia heran mengapa anak sekecil aku
sudah mampu merangkai kata dari sebuah fakta menjadi sedmikian rupa. Seolah aku
adalah anak ajaib yang diberikan kelebihan oleh Tuhan. Padahal tidak, ibu guru
itu tak pernah tau apa yang sebenarnya. Sebab dia tak mau bertanya, apa yang
sebanrnya ada di balik itu.
Kemduian dia kembalikan
kertas itu ke mejaku. Teman-teman yang lain berebutan ingin melihat apa isi
tulisan kertas itu. Tapi dengan cepat semuanya kuamankan. Aku hanya tak ingin
teman-temanku tahu saja. Selebihnya tak
ada apapun yang kusembunyikan.
“Ini nak,”
Aku menerima kertas itu
dengan senyum. Sepertinya Bu Guru sudah mengerti dengan apa yang kumaksud. Dan
tapi tampaknya dia juga tidak tahu siapa yang berada di balik semua itu. Sebab
dia memang sengaja tidak meninggalkan identitas. Karena baginya, identitas
hanya sebuah bentuk eksistensi yang tak bernilai dibanding keikhlasan.
“Ibu,Ibu,” panggil anak di pojok kanan.
Ibu guru mengalihkan pandangan padanya.
“Iya nak?”
“Aku ingi jadi pilot,” dia menunjukkan sebuah gambar pesawat dan orang
yang ada di pinggirnya.
Ibu guru dan sebagian yang
lain tertawa mendengar itu. Bukan berarti kami meragukan mimpinya. Tapi jika
dipandang dengan kaca mata sederhana, mana ada orang pelosok yang mampu
menembus kekejaman kota yang komplit kemudian menjadi orang di balik kemudi
pesawat.
##@@##
Aku pulang dengan keadaan
tak karuan. Tas hitam pemberian ayah tiga tahun lalu kuletakkan di gantungan.
Segera kurebahkan badan sambil membayangkan masa depan yang masih menggantung
di langit. Sebuah kemungkinan yang berpotensi gagal.
Kubuka kembali lembaran itu.
Lembaran kusam yang menyimpan sebuah mimpi tak terwujud akibat terkubur oleh
takdir. Orang yang ada di sana mungkin akan marah sebab karyanya telah kupakai
tadi di sekolah. Tapi aku dengan sangat yakin, orang itu akan ikhlas dengan apa
yang baru saja kulakukan.
“Aku merindukanmu,” batinku berbicara.
Kulihat kembali foto lama
yang kusimpan di balik tumpukan buku. Kau tersenyum dengan begitu indah. Seolah
tak pernah ada beban dalam pikiranmu. Padahal tidak, semua hanya kau
tutup-tutupi saja agar kau terlihat baik-baik saja. Foto itu adalah
satu-satunya media yang bisa mengobati rindu. Rindu yang tak sama dengan rindu
para bucin kepada kekasihnya.
Setelah beberapa kali
kubolak-balik kertas itu. Kemungkinan semuanya aman. Kututup erat-erat semuanya
dan kembali kubersihkan pikiran dari segala hal yang mengganggu: kenangan,
senyuman, hingga kematian yang tak pernah berpamitan. Ah sungguh semuanya
sangat menyebalkan.
Tanpa kusadari ternyata saat
aku sudah nyenyak, ibu selalu masuk ke kamar dan duduk di samping ranjangku.
Beliau menatapku, kemudian mengelus-mengelus pipiku yang sering menjadi sasaran
tetangga saat aku masih balita. Begitulah seorang ibu, akan selalu menganggap
anaknya sebagai balita kecil yang perlu dibimbing meski sebenarnya sudah
dewasa.
Keesokan harinya, aku
kembali seperti biasa mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah. Sebab aku
yakin, terdapat nilai lebih yang ada di sana. Nilai yang tak bisa ditukar
dengan harga dan panjang usia. Sungguh sebuah keistimewaan sendiri yang
dimiliki oleh perempuan yang bernama ibu bagi anaknya.
Kemudian aku kembali
berjalan menyapa bunga, langit, dan mentari yang tak secerah kemarin. Entahlah,
tampaknya dia sedang mengalami masalah yang tak bisa dipahami dengan mudah.
Hanya para penyair yang mengerti betul-betul.
Sesampainya di sekolah, ibu
guru kembali meminta lembaran itu yang sempat membuatnya terkejut. Apakah benar
ini adalah karya seorang anak kecil seumuranku yang masih suka bermain tanpa
merasakann pahitnya berjuang? Tulisan yang berisi mimpi bertabur diksi yang
menyatu di bawah naungan kenangan.
Dengan cepat kuberikan
lembaran itu. Tapi aku masih menutupi semuanya. Menutupi siapakah pemilik karya
itu sebenarnya. Dan jika seandainya bu guru tahu, mungkin dia tak akan kaget
lagi. Sebab semuanya akan berubah menjadi sebuah kewajaran yang biasa.
“Apa yang kau simpan dari semua ini?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Aku tak menjawab. Biarkan
sepi menjadi batas antara pertanyaan dan jawaban yang biasanya bertemu. Biarkan
ragu dan curiga bercampur menjadi satu membentuk alis yang lebih dekat. Padahal
aku hanyalah seorang murid, tapi bodo amat, menurutku itu lebih baik.
##@@##
Dari peristiwa itu, aku
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku disangka orang pintar yang mampu
mengubah dunia dengan kata-kata. Seolah aku adalah generasi penyair yang siap
menyingsong zaman dengan segala keterbatasan. Biarlah, biarlah semuanya melebur
dalam kenangan.
Pada akhirnya, aku hanya
bisa menulis kembali dengan keadaanku yang jauh dari sempurna. Mmberikan sebuah
penjelasan kepda Bu Guru bahwasanya semua itu bohong. Tak ada kehebatan, tak
ada kebaikan, dan kukembalikan semua pujian itu pada yang berhak menerimanya:
yakni Tuhan.
Dengan berat hati harus kusampaikan
bahwasanya, tulisan itu berasal dari tangan seorang laki-laki yang biasa
kupanggil kakak. Kakak yang selalu membuly adeknya, kakak yang selalu menjewer
adeknya, dan tentu kakak yang sangat sayang terhadap adiknya.
Jadi, tulisan itu sebenarnya
hanya sebuah tulisan berisi mimpi untk
menjadi seorang penulis kece. Berawal dari tahap awal, kakak selalu belajar
dari pengalaman dan masukan dari orang lain. Semua itu sempat kakak rangkum
dalam selembar kertas itu.
Namun seiring perjalanan
waktu, ternyata takdir tak selamanya berpihak pada kita. Kakak satu-satunya
yang kusayangi harus menelan kematian setelah dirawat di rumah sakit selama
tujuh hari. Entah penyakit apa yang dia terima. Tapi yang jelas, wajahnya
selalu mencairkan aura positif pada sekitarnya.
Beberapa minggu kemudian aku
menemukan kertas itu tergeletak di kamar kakak. Kuambil dan kubaca karya itu.
Anehnya, entah karena apa, aku tiba-tiba ingin menjadi abadi seperti kakak
dulu. Apapun caranya, aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin.
Maafkan aku bapak, ibu, dan
kakak yang tentu pasti sudah tahu dengan apa yang kulakukan. Semoga saja Tuhan
mengampuni semua ini. Meski aku hanyalah seorang hamba yang sering melakukan
kesalahan dan dosa. Tapi apa salahnya saling mengingatkan, toh semuanya tanpa
ada promosi.
Setelah selesai menulis,
segera kukirimkan segara kunci kehidupan yang kusimpan rapat-rapat. Semoga
semuanya lancar.




