Senin, 20 Januari 2020

PUNYA SIAPA?


Setiap kali hendak berangkat sekolah, ibu tak pernah lupa membisikkan doa di kedua telingaku setelah aku mencium tangannya dengan penuh khidmat. Aku tak pernah mengerti apa maksud dari doa itu. Tapi aku sangat yakin, bahwa doa semua ibu kepada anaknya selalu berisi kebaikan dan diikuti oleh ketulusan hati.
“Ibu, aku berangkat dulu ya,” aku memandang mata ibu yang sangat teduh layaknya pohon akasia.
Saat itu, Ibu pasti membelai rambutku dengan cinta kasih yang utuh. Cinta kasih yang tak pernah berkurang di segala musim. Musim rindu, musim luka, atau bahkan musim rahasia yang dibicarakan oleh batu-batu. Semuanya akan tetap sempurna.
Sejak dua tahun lalu, aku kehilangan seorang ayah akibat kecelakan tragis yang dialami oleh bis jurusan madura-jakarta. Bis yang memuat orang yang biasa kusebut bapak harus bergelinding akibat rem blong yang tak disangka-sangka. Sungguh peristiwa yang takkan pernah kulupakan sepanjang hayat.
Dari dulu, aku selalu diajarkan untuk hidup mandiri dan hemat dalam segala sesuatu. Kehidupan keluarga yang pas-pasan memaksaku untuk menahan hasrat memiliki sepeda yang bisa mengantarkanku ke tempat tujuan dengan lebih cepat. Aku harus berjalan kaki selama sepuluh menit untuk sampai di sekolah.
Cuaca hari ini sangat cerah. Mentari tersenyum manis layaknya seorang perawan yang baru saja keluar dari ruang perawatan. Sinarnya yang tak terlalu panas membuat energi tubuh menjadi lebih segar. Beberapa kicauan burung terdengar mendendangkan kuasa Tuhan yang tak bisa dituliskan. Desir angin pun tak mau kalah mengabarkan berita kerinduan seorang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Sesampainya di sekolah, Bu guru tak mengajarkan materi yang seharusnya dipelajari hari ini. Beliau lebih banyak bercerita tentang sebuah kehidupan dunia masa depan yang dikemas dengan sangat baik hingga bisa dipahami oleh kami.
“Anak-anak, sekarang kita tidak akan belajar materi di buku. Cuma sekarang ibu pengen tahu, apa cita-cita kalian?”
Semuanya terdiam. Tidak ada yang bersuara kecuali jangkrik yang kebetulan lewat di meja paling belakang. Seolah kami mendapatkan pertanyaan paling sulit yang jawabannya berada di ujung dunia. Pikiran kami saat itu masih sebatas anak-anak. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab.
“Aku ingin abadi bu,” jawabku singkat.
Spontan semua teman-teman yang hadir langsung tertawa mendengar pernyataanku. Sepasang mata yang tadinya tertuju ke segala arah kini terpusat padaku. Seolah aku menjawab pertanyaan ibu dengan jawaban yang salah.
“Maksudmu gimana nak?” ibu guru itu mendekatiku.
Aku sedikit gugup. Tapi dengan keberanian yang tersisa, kucoba untuk tetap teguh dan tegap menghadapi segala hujatan dari teman-teman. Sepertinya mereka masih belum paham dengan apa yang kumaksud.
Kemudian aku membuka tas, memberikan sebuah catatan panjang yang kumulai dari hal-hal yang tidak penting dan masih tanpa akhir.
##@@##
Catatan hidup.
Aku telah banyak menonton film kartun yang ditayangkan di televisi. Mulai dari spongebob, doraemon, dora, hingga upin ipn yang selalu memberikan pelajaran di setiap episode. Hingga aku paham, mana yang baik, mana yang pura-pura baik, dan mana yang jahat. Semuanya terlihat dari beberapa adegan yang sengaja ditampilkan dan sengaja disembunyikan.
Kelak apabila aku sudah dewasa, ingin sekali kuajak anak-anak bermain dalam ciptaanku yang entah akan berujung pada pujian atau hinaan. Aku tak peduli dengan semua itu. Intinya di sini aku ingin menghabiskan hidup dengan tertawa dan terus bahagia. Dengan catatan tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar agama.
Sekarang tidak penting berapa banyak uang yang kau punya, berapa pangkat yang kau sandang, dan berapa hutang yang masih kau tanggung. Sebab kehidupan masih berjalan. Bisa jadi hal itu tetap, berubah dalam jangka waktu panjang, atau bahkan berubah di waktu yang tak disangka-sangka. Intinya kehidupan itu untuk dijalani, bukan dipungkiri.
Ibu guru yang membaca sekilas tulisan ini sedikit tercengang. Dia heran mengapa anak sekecil aku sudah mampu merangkai kata dari sebuah fakta menjadi sedmikian rupa. Seolah aku adalah anak ajaib yang diberikan kelebihan oleh Tuhan. Padahal tidak, ibu guru itu tak pernah tau apa yang sebenarnya. Sebab dia tak mau bertanya, apa yang sebanrnya ada di balik itu.
Kemduian dia kembalikan kertas itu ke mejaku. Teman-teman yang lain berebutan ingin melihat apa isi tulisan kertas itu. Tapi dengan cepat semuanya kuamankan. Aku hanya tak ingin teman-temanku  tahu saja. Selebihnya tak ada apapun yang kusembunyikan.
“Ini nak,”
Aku menerima kertas itu dengan senyum. Sepertinya Bu Guru sudah mengerti dengan apa yang kumaksud. Dan tapi tampaknya dia juga tidak tahu siapa yang berada di balik semua itu. Sebab dia memang sengaja tidak meninggalkan identitas. Karena baginya, identitas hanya sebuah bentuk eksistensi yang tak bernilai dibanding keikhlasan.
“Ibu,Ibu,” panggil anak di pojok kanan.
Ibu guru mengalihkan pandangan padanya.
“Iya nak?”
“Aku ingi jadi pilot,” dia menunjukkan sebuah gambar pesawat dan orang yang ada di pinggirnya.
Ibu guru dan sebagian yang lain tertawa mendengar itu. Bukan berarti kami meragukan mimpinya. Tapi jika dipandang dengan kaca mata sederhana, mana ada orang pelosok yang mampu menembus kekejaman kota yang komplit kemudian menjadi orang di balik kemudi pesawat.
##@@##
Aku pulang dengan keadaan tak karuan. Tas hitam pemberian ayah tiga tahun lalu kuletakkan di gantungan. Segera kurebahkan badan sambil membayangkan masa depan yang masih menggantung di langit. Sebuah kemungkinan yang berpotensi gagal.
Kubuka kembali lembaran itu. Lembaran kusam yang menyimpan sebuah mimpi tak terwujud akibat terkubur oleh takdir. Orang yang ada di sana mungkin akan marah sebab karyanya telah kupakai tadi di sekolah. Tapi aku dengan sangat yakin, orang itu akan ikhlas dengan apa yang baru saja kulakukan.
“Aku merindukanmu,” batinku berbicara.
Kulihat kembali foto lama yang kusimpan di balik tumpukan buku. Kau tersenyum dengan begitu indah. Seolah tak pernah ada beban dalam pikiranmu. Padahal tidak, semua hanya kau tutup-tutupi saja agar kau terlihat baik-baik saja. Foto itu adalah satu-satunya media yang bisa mengobati rindu. Rindu yang tak sama dengan rindu para bucin kepada kekasihnya.
Setelah beberapa kali kubolak-balik kertas itu. Kemungkinan semuanya aman. Kututup erat-erat semuanya dan kembali kubersihkan pikiran dari segala hal yang mengganggu: kenangan, senyuman, hingga kematian yang tak pernah berpamitan. Ah sungguh semuanya sangat menyebalkan.
Tanpa kusadari ternyata saat aku sudah nyenyak, ibu selalu masuk ke kamar dan duduk di samping ranjangku. Beliau menatapku, kemudian mengelus-mengelus pipiku yang sering menjadi sasaran tetangga saat aku masih balita. Begitulah seorang ibu, akan selalu menganggap anaknya sebagai balita kecil yang perlu dibimbing meski sebenarnya sudah dewasa.
Keesokan harinya, aku kembali seperti biasa mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah. Sebab aku yakin, terdapat nilai lebih yang ada di sana. Nilai yang tak bisa ditukar dengan harga dan panjang usia. Sungguh sebuah keistimewaan sendiri yang dimiliki oleh perempuan yang bernama ibu bagi anaknya.
Kemudian aku kembali berjalan menyapa bunga, langit, dan mentari yang tak secerah kemarin. Entahlah, tampaknya dia sedang mengalami masalah yang tak bisa dipahami dengan mudah. Hanya para penyair yang mengerti betul-betul.
Sesampainya di sekolah, ibu guru kembali meminta lembaran itu yang sempat membuatnya terkejut. Apakah benar ini adalah karya seorang anak kecil seumuranku yang masih suka bermain tanpa merasakann pahitnya berjuang? Tulisan yang berisi mimpi bertabur diksi yang menyatu di bawah naungan kenangan.
Dengan cepat kuberikan lembaran itu. Tapi aku masih menutupi semuanya. Menutupi siapakah pemilik karya itu sebenarnya. Dan jika seandainya bu guru tahu, mungkin dia tak akan kaget lagi. Sebab semuanya akan berubah menjadi sebuah kewajaran yang biasa.
“Apa yang kau simpan dari semua ini?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Aku tak menjawab. Biarkan sepi menjadi batas antara pertanyaan dan jawaban yang biasanya bertemu. Biarkan ragu dan curiga bercampur menjadi satu membentuk alis yang lebih dekat. Padahal aku hanyalah seorang murid, tapi bodo amat, menurutku itu lebih baik.
##@@##
Dari peristiwa itu, aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku disangka orang pintar yang mampu mengubah dunia dengan kata-kata. Seolah aku adalah generasi penyair yang siap menyingsong zaman dengan segala keterbatasan. Biarlah, biarlah semuanya melebur dalam kenangan.
Pada akhirnya, aku hanya bisa menulis kembali dengan keadaanku yang jauh dari sempurna. Mmberikan sebuah penjelasan kepda Bu Guru bahwasanya semua itu bohong. Tak ada kehebatan, tak ada kebaikan, dan kukembalikan semua pujian itu pada yang berhak menerimanya: yakni Tuhan.
            Dengan berat hati harus kusampaikan bahwasanya, tulisan itu berasal dari tangan seorang laki-laki yang biasa kupanggil kakak. Kakak yang selalu membuly adeknya, kakak yang selalu menjewer adeknya, dan tentu kakak yang sangat sayang terhadap adiknya.
Jadi, tulisan itu sebenarnya hanya sebuah tulisan berisi  mimpi untk menjadi seorang penulis kece. Berawal dari tahap awal, kakak selalu belajar dari pengalaman dan masukan dari orang lain. Semua itu sempat kakak rangkum dalam selembar kertas itu.
Namun seiring perjalanan waktu, ternyata takdir tak selamanya berpihak pada kita. Kakak satu-satunya yang kusayangi harus menelan kematian setelah dirawat di rumah sakit selama tujuh hari. Entah penyakit apa yang dia terima. Tapi yang jelas, wajahnya selalu mencairkan aura positif pada sekitarnya.
Beberapa minggu kemudian aku menemukan kertas itu tergeletak di kamar kakak. Kuambil dan kubaca karya itu. Anehnya, entah karena apa, aku tiba-tiba ingin menjadi abadi seperti kakak dulu. Apapun caranya, aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin.
Maafkan aku bapak, ibu, dan kakak yang tentu pasti sudah tahu dengan apa yang kulakukan. Semoga saja Tuhan mengampuni semua ini. Meski aku hanyalah seorang hamba yang sering melakukan kesalahan dan dosa. Tapi apa salahnya saling mengingatkan, toh semuanya tanpa ada promosi.
Setelah selesai menulis, segera kukirimkan segara kunci kehidupan yang kusimpan rapat-rapat. Semoga semuanya lancar.

Sabtu, 18 Januari 2020

UNTUK SANG KEKASIH

Aku tidak mengerti harus mengawali semua ini dengan kata apa. Sebab sudah telalu banyak kata-kata indah yang dituliskan para penyair sebelumnya. Sedangkan aku, hanyalah seorang yang biasa saja dalam segala hal: rupa, harta, tahta, dan segala hal yang mungkin belum kuketajui juga.
Di sini, aku ingin mengatakan bahwa rindu sering bertamu di setiap malam tanpa absen. Dia menjelma bayang-bayang yang tak mampu kulukis dengan segala warna dan tak mampu kutulis dengan segala kata. Mungkin hanya semesta yang mampu menerjemahkannya dalam bentuk rahasia. Rahasia yang disembunyikan oleh angin, batu-batu, dan daun-daun yang baru saja gugur.
Kasih, bila tiba saatnya kita berjumpa di hari yang entah dinamai apa, aku ingin sekali memelukmu dengan segenap kerinduan yang sangat hebat. Dengan sentuhan-sentuhan ajaib yang mampu mengantarkan kita ke keharibaan cinta yang sesungguhnya. Di sana kita bisa berlama-lama memenuhi segala hasrat yang sebelumnya tak kunjung terlaksana.
Di kejauhan yang berbeda, mungkin surat ini lebih dulu kutulis dan kutanda tangani sendiri sebelum surat kepemilikan hati yang sah. Sebuah buku yang tertulis nama dan tergambar wajah kita dengan senyum bahagia tanpa pura-pura. Atau mungkin kau sedang menulis juga di kejauhan sana? Entahlah, aku hanya bisa mengira-ngira.
Dari banyak pengalaman yang telah kualami, ternyata benar cinta hanya menuju pada satu tujuan utama: bahagia. Hanya saja banyak jalan yang tak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lain. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan yang tahu persis bagaimana keadaan hambanya sekarang dan di masa yang akan datang. Tinggal bagaimana diri mengelola rasa itu menjadi bibit cinta istimewa dan tumbuh menjadi pohon kebahagiaan.
Di segala cuaca, aku sering menulis pesan kerinduan yang tak bisa kuselesaikan dengan sempurna. Dalam hujan yang rintiknya membisikkan namamu, dalam senja yang cahayanya membiaskan wajahmu, atau dalam dzikir pasir yang membentuk istana kita dan diamini oleh burung-burung tak bernama. Semuanya masih belum sempat kusatukan. Bukan apa-apa, karena diri ini terlalu cacat untuk menjadi cinta sejati dalam hatimu.
Pernah suatu ketika, aku duduk dengan tenang di pinggir sungai yang sangat jernih mengalirkan kenangan. Di dalamnya ikan-ikan bermain kejar-kejaran sebagaimana anak kecil di pinggir pantai yang berusaha menerbangkan layangan. Sungguh sangat indah. Dan mungkin kau takkan pernah tahu, bahwa ikan-ikan itu menyemburkan cahaya senja yang dipadu dengan jernih air, arus sederhana, dan cuaca yang tak terlalu terik saat itu. Fenomena ini sangat langka dan mungkin hanya terjadi satu kali di dunia.
Di sana, aku sempat menemukanmu di balik cahaya semesta yang memantul di balik ruang-ruang kehidupan. Sayang, saat itu aku sedang tak membawa pena yang cukup tangguh untuk menahan segala kecantikan yang kau pancarkan. Aku hanya bisa mematung sejenak, diikat waktu kemudian terhempas begitu saja. Ini adalah satu-satunya momen aku bisa membayangkanmu dengan sempurna.
Tanpa kata pengantar dan pendahuluan, di sini aku dengan berani mengucapkan syahadat cinta yang disaksikan oleh badai panjang, gelombang kencang, dan dada yang tak pernah berhenti berguncang. Segala kalimat indah telah kubunuh dan kukubur dalam keheningan malam yang tak pernah sudi kehilangan. Sedangkan kata-kata, telah kuhapus semuanya saat mentari naik di waktu duha. Sebab semuanya terlalu kerdil untuk mengungkapkan cintaku padamu.
##@@##
Di sini aku bingung akan bercakap-cakap dengan siapa. Sebab tak ada siapapun kecuali diriku sendiri yang bisa kupahami sepenuhnya. Orang-orang satu persatu meninggalkanku. Bapak pergi bekerja ke sawah yang telah dirawatnya sejak tiga tahun terakhir. Ibu pergi ke pasar membeli perlengkapan dapur yang sudah habis. Dan adikku masih belum pulang sekolah.
Kasih, kuucapkan terima kasih padamu meski tanpa alamat yang jelas. Di umurku yang sudah masuk dua puluh tahun ini, kau mengajarkan arti rindu yang sebenarnya. Tak hanya itu, kau juga mengajariku cara menyepi yang baik dan benar di tengah huru-hara penduduk millenial. Rasanya, rasa terima kasih ini saja tak cukup untukmu.
Bunga-bunga di depan rumahku kini mekar menunjukkan kecantikannya pada semesta. Setiap pagi titik embun hinggap di atasnya membawa kesejukan dan kesucian. Warnanya yang bermacam-macam membuatku betah berlama-lama di sana sambil menulis puisi. Kehidupan para bunga yang sangat rukun sangat berbeda dengan kehidupan manusia yang sering saling pukul.
Duhai kasih, jika dihitung-hitung dari awal, aku telah menulis ratusan bahkan ribuan puisi yang tak kuhafal judulnya satu persatu. Ada yang bahagia, ada yang terluka, dan ada yang pura-pura. Semuanya kutulis dengan usaha maksimal sesuai kerja akal dan perasaan. Semua itu kutulis sebab termotivasi darimu. Perempuan yang masih belum kukenal sepenuhnya dan kuyakini memiliki hal yang luar biasa.
Di hari yang berbeda, aku ingin sekali kau melihat karya-karyaku dan tertawa geli karenanya. Entah itu karena memang karyaku bagus, atau mungkin karena karyaku masih tak pantas disebut sebuah karya. Aku tak peduli itu. Yang terpenting, karyaku bisa langsung kembali ke pemiliknya. Perempuan muslimah yang selalu dilirik ribuan mata.
Sekarang aku ingin mengajakmu jalan-jalan di area pikiranku. Di dalam sini, terdapat beberapa kenyataan dan kebohongan yang mungkin kau akan menyukainya. Bukankah perempuan menyukai keindahan? Di sini bukan hanya sebatas indah, tapi mampu melewati batas itu. Batas yang akan membuatmu candu tanpa ada obat untuk menyembuhkannya.
Aku ingin bercerita tentang banyak hal: gunung kembar yang di tengah-tengahnya terdapat jalan setapak yang biasa dilukis oleh anak kecil, burung-burung kecil yang mengelilingi cakrawala sambil mengicaukan nama kita, dan senja di musim salju saat santa claus sedang asyik membagi-bagikan hadiah di bawah pohon natal semua orang. Ah tentu akan sangat seru sekali, kasih.
Tidak hanya itu, aku akan membawamu pada hal-hal sederhana yang biasa disulap oleh para penyair menjadi ide baru yang sangat segar dan menggemaskan. Layaknya bayi kecil yang tak pernah selesai lahir di dunia namun selalu menyimpan lucu di setiap lekuk senyumnya. Tawanya yang khas, tangisnya yang memekik telinga, dan tumbuhnya yang selalu membawa dinamika pada seluruh aspek kehidupan. Sepanjang itu, sayang.
Ini bukan sekedar indahnya pantai losari, syahdunya gelombang nihiwatu, dan nikmatnya senja di atas bentang pulau weh, namun lebih dari itu, kasih. Ini adalah keajaiban yang tak bisa kau searching di mesin pencari yang sangat pintar dan cerdas. Sebab kau tahu sendiri, google hanyalah ciptaan manusia yang jauh dari kesempurnaan.
Semoga saja kau suka dengan semua ini.
##@@##
Di halaman terakhir ini, aku takkan berlama-lama dengan pesan yang ingin kusampaikan. Sebab inti dari semuanya ada di halaman terakhir ini.
Malam telah terlalu sering mengajarkan kita bagaimana menyatu dengan sunyi. Mempelajari kehidupan yang pernah terjadi dan merangkai masa depan yang masih belum pasti. Aku tak tahu pasti apakah kamu juga melakukan hal yang sering kulakukan. Yaitu ngopi, diskusi, dan menjadi puisi abadi. Jika seandainya tidak, aku takkan menyuruhmu berubah karena memang itulah dirimu. Diri yang tumbuh di antara cinta kasih seorang bapak dan ibu.
Kasih, hujan telah terlalu sering menciptakan kenangan sejak nabi adam dan siti hawa. Hingga saat ini, hujan selalu menjadi tumpuan bagi seseorang untuk menjadi puitis seketika. Maka jangan heran, jika saat hujan akan lahir caption-caption menarik di balik status orang-orang. Karena memang begitulah hujan, di dalam rintiknya terkandung kata-kata yang tak pernah berdusta.
Kasih, senja pun juga telah terlalu sering menjadi panorama yang dinanti-nanti oleh sepasang kekasih. Suasana langit kekuning-kuningan yang muncul beberapa saat dan hilang dalam sesaat. Jejaknya tak pernah ada yang tahu. Sebab Tuhan memang sengaja menyembunyikannya sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Ketiga hal di atas adalah media yang sering mengingatkanku padamu. Perempuan muslimah yang malu-malu saat matanya dipandang oleh lelaki. Dan mungkin juga perempuan yang selalu melafadzkan ayat-ayat suci al-quran di setiap waktu. Dari sini, aku bisa bahagia lebih dulu sebelum waktunya. Sebab membayangkanmu lebih menyenangkan dari girangnya anak-anak saat bermain komedi putar.
Saat sudah tiba waktunya, mari kita selesaikan semuanya sesuai dengan aturan agama. Menjalin ikatan yang sah dan suci sebagaimana diajarkan Tuhan dalam kitabnya. Menghadapi segala kemungkinan bersama tanpa rasa takut dan bimbang. Kemudian tertawa di bawah kuning senja depan rumah.  
Saat ini, telah kusiapkan cincin emas yang terbuat dari cahaya dan ketulusan hati. Aku yakin cincin ini akan sangat pas di jari manismu. Sebagai bentuk cinta yang tak pernah redup, semangat yang tak pernah gugup, dan hasrat yang selalu meletup-letup. Percayalah kasih, cincin ini hanya ada satu di dunia ini. Lebih tepatnya di jari manismu.
Kasih, kau tak perlu ragu bagaimana nanti rumah kita di tengah materialisme yang semakin mengakar di batin masyarakat. Sebab mulai saat ini, aku sudah perlahan-lahan menata batu berlapis emas yang nantinya akan menjadi dinding dan cagak rumah di mana kita berlindung. Berlindung dari hujan, terik, dan omongan tetangga yang sangat tajam.
Setiap seminggu sekali, aku akan mengajakmu mengelilingi semesta agar kau tahu kuasa Tuhan yang sebenarnya. Tidak hanya itu, aku akan mengajakmu berkenalan dengan ikan-ikan di kedalaman laut. Asal kau tahu, mereka juga mempunyai nama yang tak bisa dipahami oleh manusia. Bahkan mereka lebih mengerti bagaimana cara bertatakrama dibanding kita.
Tak lupa juga, aku akan senantiasa setia mengingatkanmu perihal kehidupan kita kelak. Kehidupan abadi yang disediakan Tuhan untuk hambanya sebagai balasan terhadap apa yang telah diperbuat selama di dunia. Sebisa mungkin, aku akan melindungimu dari jilatan api neraka yang selalu menyerang dosa-dosa kita. Semoga saja aku mampu.
##@@##
Maka dari itu, atas nama embun yang suci, atas nama senja yang abadi, dan atas nama Tuhan yang maha mengasihi, aku melamarmu kasih, dengan segala kesederhanaan yang akan membuatmu bahagia hingga ujung usia. Tanpa dusta, tanpa luka, dan tanpa segala keburukan yang pernah ada.
Semua ini, bukan atas dasar aku adalah orang yang sempurna. Aku tetaplah manusia biasa yang banyak salah dan dosa. Namun kasih, dengan usaha yang hebat dan tawakkal yang kuat, aku yakin Tuhan berada di pihak kita. Kita yang akan bahagia di bawah naungan yang kuasa. AMIIN. 

Selasa, 14 Januari 2020

LAMPU KECIL

Saat malam tiba
Lampu berbicara tentang banyak hal
Mulai dari pintu, kaca, jendela, hingga puisi yang hampir sempurna: dalam hidupnya

Saat pagi tiba
Lampu menjadi bisu dan tak mau menyapa
Sebab semuanya sudah jelas: dalam matinya

Saat rindu datang
Lampu mulai remang-remang
Ia mulai ragu,
“Apakah aku hidup saja atau mati saja?” katanya
Kemudian timbul tanda tanya

Apa kabar?


Senin, 13 Januari 2020

TRAGEDI 12 JANUARI 2020

Perjalanan yang menyenangkan. Mahasiswa berjumlah sembilan orang yang sedang disibukkan oleh kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kini hendak berlibur di hari minggu. Hari di mana kebanyakan orang berkumpul dengan keluarga, piknik ke tempat wisata, atau mendaki gunung yang membelai langit.
Setelah melalui proses panjang, tujuan liburan kali ini adalah Sumber Maron. Tempat wisata yang berisi arung jeram di mana pengunjung dapat berteriak sekeras mungkin melepaskan lara. Dan juga tempat berisi kolam renang di mana pengunjung dapat membasuh luka dari janji-janji yang berujung dusta. Atau dalam bentuk motif luka yang lainnya. Semuanya dapat lebur di sini.
Sejak awal, kami hanyalah orang berbeda yang didekatkan oleh takdir dan garis waku yang bersamaan. Tidak ada yang kenal sama sekali sebelumnya. Oleh sebab itu, kami harus saling mencoba menurunkan ego, membuka diri, dan menyamakan persepsi yang berbenturan dengan kehendak pribadi. Hal itu tentu bukan hal mudah yang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Semuanya butuh waktu.
Langit masih tersenyum menyambut kami yang hendak bepergian. Padahal sebelumnya, langit sempat berduka atas kelakuan manusia di muka bumi yang semakin tidak karuan. Tapi langit masih berpihak pada kami. Saat itu cuaca sedang cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Setelah menyiapkan perlatan, konsumsi, dan transportasi, kami pun memutuskan untuk berangkat menjemput kenangan.
Empat motor melesat menembus angin yang semakin kencang jika pedal gas semakin ditarik. Beberapa kali sapaan klakson dari pengendara lain terdengar memekikkan telinga. Asap polusi menyebar ke mana-mana. Dan di pinggir-pinggir jalan, berbagai jenis pohon rindang masih setia meneduhkan kata-kata demi rangkaian kenangan kami nanti. Sebab tanpa kata, kadang beberapa hal tak bisa dipahami dengan sempurna.
Sekitar lima belas menit perjalanan di atas kendaraan. Dari situ kami melihat berbagai fenomena sosial yang tak bisa dilihat di penginapan. Seperti orang-orang yang hendak berangkat kerja, sekumpulan orang yang meminta amal untuk masjid, dan bapak yang sedang sibuk membenarkan letak posisi sepeda pengunjung. Semuanya tersaji begitu saja.
Entah tepat pada jam berapa kami sampai di lokasi. Intinya, semua sedang tidak mempedulikan waktu yang terus berjalan saat itu. Kami terus menikmati canda tawa yang terukir di setiap bibir rona merah muda. Meski semisal semua akan berakhir berbeda, tapi intinya kami masih menikmati semuanya. Itulah inti dari kehidupan.
Seorang bapak bertopi hijau memegang bendera mengarahkan kami ke tempat parkir. Tempat kami bisa menitipkan kendaraan dengan aman tanpa ada rasa was-was akan dicuri orang. Hari minggu sebagai hari libur sekolah dan kuliah membuat suasana parkir sesak di mana-mana. Untung sumber maron menyediakan banyak lahan parkir. Jika tidak, mungkin akan terjadi banjir motor di setiap hari minggu bagi penduduk setempat.
Dari kami ada yang sudah pernah beberapa kali ke Sumber Maron dan ada yang masih baru pertama kali. Bagi yang sudah, pemandangan seperti itu menjadi sesuatu yang biasa mengingat tidak terdapat perubahan di sana. Dan bagi yang masih baru, mungkin rasa takjub akan keindahan panorama masih ada dan tumbuh seketika. Haya saja ada yang terungap dan ada yang tidak.
##@@##
Lokasi Sumber Maron yang sangat luas membuat kami harus berjalan cukup jauh menuju posko. Dari tempat pembayaran karcis, kami harus melewati beberapa anak tangga yang tak terhitung oleh kami. Tak lupa kami ambil beberapa tempat untuk dokumentasi di masa depan. Sebab bagi anak muda, jalan-jalan tanpa ada foto adalah sebuah kebodohan yang sangat mutlak.
“Heh sini, foto dulu,” ujar salah satu di antara kami.
Kami pun kompak berkumpul membentuk setengah lingkaran di tangga tempat keluar. Dengan cepat senyum manis terukir dan jepretan pun terjadi. Tak cukup hanya satu, kami mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda-beda. Ah, sungguh gila kami waktu itu.
Foto-foto ini mungkin dalam waktu dekat masih tidak kelihatan apa gunanya. Tapi percayalah, bahwa kelak di waktu yang sangat panjang, kenangan-kenangan itu akan muncul membasahi pikiran. Sekelumit rindu pun hadir melengkapi keinginan untuk kembali berkumpul, tertawa bersama, dan bahkan sampai ada yang ngambek.
Kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan kami menemui banyak sekali penjual dan pengunjung yang berlalu lalalang. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tua, dan ada yang muda. Semuanya berbaur dalam satu tujuan. Yakni berlibur.
“Ayok cepetan hee,” Rohman mengajak teman-temannya yang masih melihat-lihat barang.
Di tempat wisata, jangan heran jika harga sebuah barang bisa lebih mahal dibanding dengan biasanya. Sebab selain menjual barang, mereka juga mengambil kesempatan dari suasana liburan dan tempat indah yang disuguhkan oleh pihak setempat. Apalagi namanya liburan pasti membawa banyak uang dan tak setiap hari ke lokasi.
Perjalanan dilanjutkan.
Rupanya, dari sekian banyak pengunjung yang datang, wisata Sumber Maron lebih didominasi oleh komplotan ibu-ibu yang memakai seragam khas masing-masing. Ada yang kuning, merah, bahkan ungu cerah yang sangat tidak sinkron dengan keadaan umur mereka. Tapi biarlah, namanya juga ingin senang-senang tak memandang umur.
Di lokasi dalam, terdapat banyak posko yang berjejer dengan beraneka macam jualan. Mulai dari makanan ringan, makanan berat, hingga beberapa aksesoris yang bisa digunakan saat bermain arung jeram. Padatnya pengunjung membuat kami harus terus berjalan mencari posko yang sepi. Sebab tak mungkin kami menaruh barang-barang yang ramai orang demi menjaga keamanan.
“Di sana aja rek,” tunjuk Harun ke posko yang didominasi warna biru.
“Oh iya, “ jawab yang lain.
Kami langsung bergerak di sela-sela keramaian. Ban-ban besar yang digunakan arung jeram melintas dari arah depan dan belakang kami. Tubuh-tubuh basah sesekali bergesekan dengan salah satu di antara kami. Serta tak lupa siaran para penjual yang tak pernah letih menarik pelanggan. Mereka seperti sudah biasa dan memiliki kuota bicara lebih banyak dari manusia biasa.
“Nah, taruh sini aja,” Rizal menaruh tasnya lebih dulu.
Spontan kami mengikuti Rizal. Dari sekian banyak loker, kami hanya menyewa satu loker untuk tempat barang berharga seperti HP dan dompet. Untuk baju, jaket, dan yang lain kami taruh luar demi menghemat biaya. Lagi pula siapa juga yang akan mencurinya. Barang-barang itu tak laku jika dijual.
Aroma berbagai makanan menyerang. Mulai dari sosis goreng, pentol bakar, dan beberapa makanan yang tak bisa disebutkan satu persatu. Membuat kami lapar tak karuan dan tak sabar memakan bekal yang kami bawa dari penginapan. Pasti di dalam plastik itu sudah dingin.
Setelah menaruh barang, mengganti baju, dan menyewa ban untuk arung jeram, kami menuju titik start arung jeram. Di sana juga terlihat beberapa mahasiswa KKM yang sedang meliburkan diri dari setumpuk proker yang bisa membuat kepala tua lebih cepat.
“Hey, kamu ke sini juga ternyata,” Rahma menyalami temannya yang entah siapa namanya.
“Iya nih sama anak-anak KKM juga,” temannya tertawa memperlihatkan gigi putihnya.
“Aku duluan ya,”
“Ok,” dia pun berlalu.
Sungai mengalir cukup deras membawa cerita yang entah akan singgah di bagian mana. Batu-batu kecil hingga besar menyaksikan tawa lepas para pengunjung dan jerit histeris mereka yang pertama kali datang. Angin juga tak mau ketinggalan, beberapa kali ia terasa kencang menabrak kulit orang-orang. Hanya saja mereka tak menghiraukan kehadiran angin.
“Sek, aku dulu,” Rohman meletakkan bannya di bagian depan.
Petugas yang berdiam di sana membantu kami membentuk barisan panjang yang saling terikat satu sama lain. Meski di bagian samping terdapat wadah untuk jasa penataan ban, tapi kami tak sedikit pun melirik ke sana. Seolah kami tidak melakukan dosa dan tak tahu apa-apa. Padahal kita telah merepotkan orang lain.
“Awas, pegang kakiku boy,” Harun berada di belakang Rohman.
Posisinya empat laki-laki di depan kemudian diikuti lima perempuan di belakangnya. Sembari menata ban, salah satu dari kami sempat terperosok akibat dihantam oleh arus dan keseimbangan tubuh yang kurang stabil.
“Hati-hati hee,” ucap Ratna pada yang lain.
Bapak agak tua dengan sabar menata ban kami agar bisa tersambung di tengah arus yang dengan cepat bisa memisahkan. Beberapa kali gagal dan harus diulang kembali. Namun tak sedikit pun dia mengeluh. Sebab prinsip mereka, kenyamanan pengunjung adalah yang paling utama.
“Gimana? Udah?” Teriak Harun.
“Gass”
“Budal,”
Entah dengan atau tanpa basmalah, kami pun dilepas menghadapi rintangan arus di tengah-tengah bebatuan yang bisa membuat pantat benjol seketika. Lima hingga sepuluh detik kami masih utuh tersambung. Tepat pada detik ke sebelas kami pun menjadi dua bagian setelah menabrak pasukan lain yang memaksa kami untuk berpisah.
“Yaaahh,” nada kekecewaan muncul dari Rohman.
Teriakan demi teriakan terdengar memenuhi telinga semua orang. Ada yang pelan, ada yang biasa, dan ada yang sangat kencang. Di antara kami, Ratna adalah mahasiswi yang teriakannya paling kencang. Entah karena dia ketakutan atau hanya mencari sensasi, yang jelas dia benar-benar meluapkan semuanya.
Sejenak pikiran tentang pengajuan proposal dan uang yang belum cair untuk proker hilang dari ingatan. Kami seolah menjadi manusia paling bahagia di muka bumi. Tak ada yang cemberut. Semuanya tertawa riang seriang mentari di pagi hari.
Kami melewati beberapa tanjakan dan turunan. Meski tak terlalu tajam, tapi arus yang lumayan kencang dan batu-batu yang membuat pantat sakit tetap tak menurunkan volume teriakan kami, apalagi Ratna. Dia sungguh membuang pikiran mumetnya ke udara kemudian dibawa oleh angin menuju langit. Di sana ada tempat khusus untuk penampungan pikiran mumet. Syaratnya hanya satu, teriakkan saja tanpa ragu-ragu.
Tak lupa selama perjalanan, kami menjepret beberapa momen yang sengaja dibuat dan tak sengaja terbuat. Beberapa ekspresi terlihat lucu jika dilihat dengan teliti. Semuanya meluapkan kebahagiaan dengan cara masing-masing.
“He gaes hadap sini,” perintah Rahma yang membawa HP dan langsung menjepret momen itu.
Di separuh perjalanan, kami menemukan sebuah tulisan besar bernama “Sumber maron” yang di bawahnya terdapat batu besar yang dialiri air segar dengan sangat deras. Orang-orang terlihat duduk di sana dan mengambil foto juga dengan sangat semangat. Semoga saja arusnya tidak terlalu kencang hingga mampu membalikkan orang besar.
Satu, dua hingga lima kali kami melakukan arung jeram. Sesampainya di atas, sebagian dari kami ada yang juga masih mengerang kesakitan. Entah itu hanya pencitraan atau benar-benar sakit, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, semuanya berharap agar semua baik-baik saja.
Di putaran terakhir, kami memutuskan pergi ke bagian tengah untuk berfoto di atas batu besar yang dialiri air. Di atasnya terdapat tulisan “Sumber Maron” berwarna orange. Sebelumnya sudah banyak orang lain yang mengambil foto di sana. Dan tentu, kami juga tidak ingin ketinggalan.
Harun berada di posisi paling depan. Diikuti, Rohman, Rizal, dan beberapa perempuan yang lain. Sungguh dalam melangkah kami harus berhati-hati jika tidak ingin tertusuk oleh beling liar dan batu cadas yang siap merobek kulit dan membuka luka. Di samping itu, kami juga harus berhati-hati dengan banyaknya ban yang melintas dari berbagai sisi.
“Sini,” Harun mengulurkan tangannya membantu Rohman naik.
Semuanya bergantian saling membantu yang lain naik ke batu yang dituju. Kami mengambil posisi yang pas agar tidak tergelincir sebab ada batu yang sangat licin. Tentu akan sangat tragis jika sampai ada yang jatuh di antara kami. Tapi untungnya semua selamat. Dengan cepat kami melakukan persiapan kemudian mengambil kenangan di sana.
##@@##
Waktunya pulang.
Setelah membersihkan badan di kamar mandi posko, kami mengalami tragedi yang tak disangka-sanga. Salah satu teman kami bernama Ratna dan Dyah hilang. Ah, sungguh kepanikan langsung menyerang kepala kami. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi mencari mereka bersama-sama.
Beberapa usaha kami lakukan. Mulai dari bertanya pada orang-orang, melihat semua sisi sumber, hingga laporan pada petugas informasi. Tapi sayang, mereka tetap tidak ditemukan. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke parkiran. Barang kali mereka udah ada di sana. Tidak ada yang berbicara sama sekali di antara kami.
Ternyata benar. Sesampainya di sana, dua teman itu telah duduk dengan lemas seperti tidak makan tiga hari. Kami pun menghampirinya. Tapi ekspresi mereka berbeda. Tida tampak semburat bahagia sama sekali di wajah mereka.
Mereka merajuk.
“Ya sudah mbak, kami minta maaf telah ninggalin kalian tadi. Kami tadi juga bingung nyariin kalian. Kalian cari kami, kami cari kalian,” Rahma mencoba menenangkan keduanya.
Rizal yang juga ada di sana mengeluarkan lawakannya dari raut wajahnya yang aneh. Beberapa kali mereka membisu saat ditawari makan.
“Ayo dah mbak makan, tidak usum ngambek-ngambekan sekarang,” Rahma terus mencoba sambil membuka beberapa bungkusan nasi.
Alhasil, mereka akhirnya luluh dan tertawa meski juga ada tangis di mata mereka.
Perlu diketahui, sebelum itu, mereka tertinggal saat pindah ke posko kedua. Sedangkan mereka berada dalam posisi mandi. Tiba saat mereka keluar, barang-barang dan yang lain sudah menghilang tanpa jejak. Sungguh hal itu membuat mereka kesal. Apalagi saat itu mereka dalam posisi tidak memegang apa-apa.
Kami pun tertawa kembali dan pulang membawa kenangan yang akan terus abadi dalam hati.  

Minggu, 12 Januari 2020

DI BALIK USAHA


Setiap orang yang lahir di dunia ini memiliki garis takdirnya masing-masing. Tidak perlu iri dengan keadaan orang lain yang lebih baik dan tak perlu sombong dengan keadaan diri yang lebih baik. Tuhan bisa dengan cepat mengubah jalan kehidupan seseorang dalam jangka waktu yang tak terduga.
“Sesungguhnya Dia tiak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri” (Q.S. An-Nahl: 23).
Begitu pula dengan Fani, dia adalah keturunan seorang pengemis kota yang pekerjaannya hanya menengadahkan kantong plastik di hadapan orang-orang berharap sedikit belas kasih dari banyaknya uang mereka. Berjalan dari toko ke toko, bis ke bis, atau diam di depan indomaret yang pasti ramai akan orang.
Bedanya, jika orang tua Fani asli mengemis tanpa melakukan apa-apa, maka Fani sedikit melakukan usaha dengan menjual suaranya yang lumayan bagus sambil bermain pecahan tutup botol yang telah ditindih. Usia Fani yang masih menginjak sepuluh tahun tak membuatnya takut menghadapi kerasnya kehidupan. Ia sudah melalang buana di bis-bis kota dengan alat musiknya itu dan sekantong plastik untuk mengais harapan dari orang-orang.
“Semoga hari ini dapat banyak,” batin Fani ketika hendak pergi dari rumahnya yang tak pantas di sebut rumah.
Tempat tinggalnya hanyalah sebuah cagak kayu yang ditutup dengan triplek tipis dilapisi koran tanpa genting sebab tepat berada di bawah pohon yang daunnya sangat lebat. Letaknya berada di dekat jembatan besar dan di samping sungai yang banyak sampahnya. Jika hujan datang, maka dapat dipastikan titik air akan masuk membasahi apa saja yang ada di dalam. Parahnya, ketika terjadi hujan lebat disertai angin kencang yang menggugurkan daun-daun, maka seluruh penghuni harus mengungsi ke emperan toko orang.
Pagi itu, Fani duduk di pinggir jalan seperti biasa dengan celana pendek se lutut warna hitam dan kaos merah yang sudah tiga hari belum dicuci. Bukan apa-apa, dia dan orang tuanya sangat menghemat pengeluaran uang walau sekedar membeli rinso demi sesuap nasi. Karena itu adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya. Ditambah lagi di sini adalah kota Jakarta.
Fani melambaikan tangannya saat melihat bis kota menuju ke arahnya. Bis itu berhenti.
Tampak semua kursi telah terisi penuh oleh penumpang. Mulai dari yang tua, muda, remaja, bahkan anak-anak. Dengan demikian, peluang untuk mendapatkan receh lebih banyak akan lebih banyak pula. Sejurus kemudian ia melakukan aksinya.
“Pemisi bapak-bapak, ibu-ibu, penumpang bis jurusan pasar baru dan sekitarnya, saya di sini ingin mengamen mengharap keikhlasan bapak ibu semua walau hanya receh-receh, rokok, permen, asalkan ikhlas, halal bagi kami. Selamat menikmati,” pungkas Fani.
Ia pun langsung menyanyi salah satu lagu Rhoma Irama setelah beberapa gesekan dimulai.
Ia berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada penumpang. Suara yang sudah terlatih selama 2 tahun yang lalu terdengar lebih enak dari yang sebelumnya. Beberapa penumpang menikmati dengan betul pertunjukan Fani yang hanya bermodal tutup botol yang ditempelkan pada sebatang kayu. Sebagian yang lain acuh tak acuh, dan yang lainnya tidur.
Lagu selesai.
Fani mulai menyisir para penumpag dengan menyuguhkan kantong plastik yang tadi ia bawa dari rumah. Ia berharap semua penumpang bis ini adalah orang dermawan yang ikhlas mengeluarkan uang-uang recehnya untuk membantu dirinya bertahan hidup.
“Terima kasihh pak,”
“Terima kasih bu,”
“Terima kasih,”
Ucapan itu Fani ulang-ulang setiap kali ada yang memberi. Tapi ternyata, ucapan itu hanya berakhir tiga kali dari sekian banyak penumpang yang ada.
“Alhamdulillah,” batin Fani.
Fani berdiri di barisan paling belakang setelah mengamankan kantong plastiknya di celana hitamnya. Kernet bis terlihat bertanya sekaligus menarik uang pada penumpang yang masih belum bayar. Disampingnya ada seorang ibu-ibu yang menggendong bayi sekitar umur sepuluh bulan. Terpancar cahaya masa depan dari mata anak itu. Mungkin kelak dia akan menjadi orang besar.
Selama perjalanan Fani tak ada niat untuk membuka kantong plastiknya tuk sekedar memastikan berapa rupiah yang ia dapatkan. Fani hanya sesekali bersiul mengusir jenuh yang datang tanpa aba-aba. Ia berharap ada pengamen perempuan yang masuk kemudian bernyanyi sebagai hiburan bagi dirinya.
Bis berjalan pelan. Harapan Fani tak terkabul. Sepuluh menit kemudian bis berhenti di pasar baru dan Fani pun turun dengan santainya.
Pas ketika Fani menginjakkan kakinya ke tanah, matahari langsung menyambutnya dengan sinar panas yang membuat kulit Fani hitam jika terus berlama-lama di bawahnya. Lima orang yang menunggu di pinggir jalan langsung masuk ke pintu di mana Fani keluar. Nafas Fani seolah terlepas dari beban begitu sepenuhnya keluar dari bis.
Kebetulan di depan sana, Fani menemukan tempat duduk umum yang dihiasi oleh bunga-bunga dan pohon cemara yang agak besar. Fani memutuskan untuk istirahat di sana sekaligus melepas lelah dan menghitung rupiah yang baru saja dia dapatkan.
Tiga ribu rupiah.
Nomial yang didapatkan hari ini jauh lebih sedikit dibanding hari kemarin. Di hati paling dalam dia merasa sedih menerima itu semua, tapi apalah daya, semua yang diberikan Tuhan harus disyukuri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Jam segitu biasanya Fani langsung pulang menuju rumah. Dia memang tidak seharian bekerja mengamen, apalagi di usianya yang masih tergolong kanak-kanak. Namun bedanya kali ini, terintas dalam benak Fani untuk kembali berjuang di bis berikutnya.
Selama menunggu bis, Fani hanya duduk santai menikmati panas yang sebenarnya bukan sebuah kenikmatan. Pohon cemara yang berada di sekitarnya tak mampu tuk melindunginya dari sengatan panas yang semakin menggila. Gerobak bakso berwarna biru tampak ramai di seberang jalan. Dan perut Fani sebenarnya sedang keroncong tapi sengaja ia tahan.
##@@##
Bis akhirnya datang. Di kaca depan tak tertera tujuan mana yang akan disinggahi terakhir. Dan Fani memang terpikir untuk itu.
Fani kembali melambaikan tangan. Bis berhenti. Ia kembali masuk dengan membawa harapan yang lebih besar dari sebelumnya.
Semoga saja.
Dalam segala hal, melakukan hal yang kedua kalinya biasanya akan lebih enjoy dari yang pertama. Sebab sudah mendapat pengalaman di moment yang pertama. Tapi anehnya, Fani merasakan hal yang berbeda. Ia merasakan ada sebuah ancaman yang sedang mengincar dirinya. Entah itu apa.
Kursi-kursi di bis tidak sepenuh tadi. Kasihan sekali nasib bis ini. lebih banyak yang kosong dibanding yang terisi. Sempat harapan besar di saat masuk itu musnah, tapi Fani tetap berusaha optimis. Ia bermain dengan sebaik mungkin. Sebelum itu, ia meminta kepada kernet untuk mematikan musik yang sedang diputar oleh supir dengan nada yang sangat sopan.
Tiga menit Fani menghibur penumpang, atau yang lebih tepatnya mengganggu penumpang yang tidur. Sebab dari mereka kebanyakan yang sudah pergi ke dunia mimpi.
Pelan-pelan Fani berjalan melakukan hal yang sama dengan tadi. Menyuguhkan sekantong plastik untuk meminta keikhlasan rupiah dari penumpang yang peduli. Mulai dari depan semuanya masih terlihat biasa saja. Sampai pada barisan belakang, seorang laki-laki dengan topi ala koboy dan kaca mata hitam membuat Fani tak enak hati. Hal yang membuat Fani bahagia, dia memberikan uang sepuluh ribuan. Namun tatapannya seolah masih ada sesuatu yang belum selesai. dan itu akan terjadi pada diri Fani.
Fani kembali duduk dengan tenang atau yang lebih tepatnya berusaha tenang. Posisinya tepat berada di belakang laki-laki itu di barisan bagian kanan. Entah mengapa Fani tiba-tiba memilih tempat duduk itu. Kemudian seorang bapak tua menawarinya kacang seharga lima ratus rupiah dengan nada sedikit memaksa. Tapi Fani tetap tidak mau.
Bis berhenti sejenak, tampaknya ada penumpang yang ingin ikut bis itu menuju suatu tempat. Fani bersikap biasa saja. Dia masih belum ingin turun di situ. Seorang wanita sekitar berumur dua puluh tahun berkerudung hitam, baju coklat, dan dengan bawahan hitam pula masuk. Tas yang dibawanya tampak berat. Terlihat dari keringat dan mimik wajahnya yang bersungguh-sungguh untuk mengangkatnya. Dengan cepat kernet membantunya meletakkan barang dan dia duduk di depan orang misterius tadi. Kuharap laki-laki itu tidak berbuat jahat pada wanita itu.
“Terima kasih,” ucap wanita itu setelah menerima kembalian dari kernet.
Bis kembali berjalan seperti biasa.
Jika diperhatikan dengan seksama, perempuan itu tampaknya adalah seorang mahasiswi semester tiga yang hendak pulang kampung. Fani yang masih tergolong kanak-kanak tentu tidak sesuai dengan perempuan itu. Ia butuh tambahan umur sekitar sepuluh atau sebelas tahun lagi untuk bisa mendekati perempuan itu. Kemudian menjadikannya teman hidup.
Di dekat supir, si kernet duduk manis sambil menikmati gorengan yang ia beli saat bis berhenti sejenak. Fani yang melihat itu langsung direspon oleh perutnya. Tapi lagi-lagi dia harus menahan hasrat itu karena masih ada yang lebih penting. Yaitu makanan pokok.
##@@##
Jauh di sana, Ibu telah sampai di rumah dari tempatnya mengemis. Sedang bapak masih berada di tempat biasa dia mengemis. Meskipun begitu, keluarga dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan ini masih bisa tetap bahagia. Ini bukti bahwa bahagia tidak sepenuhnya datang dari kecukupan harta, tingginya jabatan, dan hal-hal yang berbau duniawi. Mereka masih bisa tersenyum dengan keadaan yang sangat sulit.
“Fani kok belum datang ya?” tanya Ibu pada dirinya sendiri.
“Ah, mungkin masih bermain di sungai,” jawabnya sendiri berpikir positif.
Fani sejak dulu memang sering bermain di sungai. Jika seandainya jam pulang dia belum datang, maka sembian puluh persen dapat dipastikan dia berada di sungai. Kadang bersama dengan teman-temannya yang lain, dan kadang pula sendirian. Memandang ikan-ikan yang berenang dengan begitu indahnya di antara aliran air yang dapat membasuh kenangan.
Ibu memutuskan untuk pergi ke dapur. Dapur yang didesain oleh tangan bapak sendiri dengan bahan sederhana dan ala kadarnya. Hanya ada batu, wajan, dan beberapa kayu hasil tebangan bapak di sore hari. Masakan yang paling sering dimunculkan hanya tahu dan tempe goreng. Sebab hanya itu yang mampu dibeli dan simple dalam pembuatannya. Dilengkapi dengan sambal terasi yang mampu menggoyang mulut. Maka makan pun akan menjadi sangat nikmat.
Satu jam berlalu.
Bapak akhirnya datang membawa uang seribuan lengkap dengan keringat akibat jalan kaki di siang hari. Daerah jakarta memang akan sangat menyiksa di waktu siang. Cuaca akan membakar kulit hingga masak bahkan gosong. Tapi hal tersebut sudah biasa bagi keluarga Fani, hingga semuanya sudah tak terasa lagi.
Ibu menyambut bapak dengan senyum yang sangat indah. Bapak langsung mengecup kening ibu dengan penuh perasaan. Sungguh moment yang sangat istimewa dimiliki oleh mereka yang sudah resmi menikah atas dasar cinta yang sesungguhnya.
“Fani ke mana dek?” tanya  pada Ibu dengan nada halus.
“Kurang tahu ya pak, jam segini biasanya sudah pulang, paling masih main di sungai,” jawab Ibu tak kalah halus.
Sungguh keberanian yang sangat luar biasa dimiliki oleh Bapak dan Ibu yang membiarkan anaknya mandiri di usia yang masih kanak-kanak dan perlu pengawasan ketat dari orang tua. Sungguh karena himpitan ekonomi dan tidak adanya orang atas yang sadar atas kemelaratan mereka membuat semuanya harus seperti itu.
“Ya sudah aku istirahat dulu,” kata Bapak yang kemudan berdiri.
 “Oh, enggeh,”
##@@##
Bis berhenti. Fani turun dan orang misterius itu juga ikut turun. Perasaan tidak enak mulai mendatangi Fani. Meski masih kecil, ia dapat merasakannya. Fani sudah tak mengenal ia berada di lingkungan mana. Rupanya dia terlalu menikmati perjalanan hingga lupa kembali.
Dia membuntuti dari belakang, Fani semakin mempercepat langkah. Hingga akhirnya Fani berubah berlari. Dan orang itu juga ikut berlari. Ternyata benar, dia memang mengincar Fani.
“Hey nak, tunggu,” kata orang itu sambil berlari.
Fani tak menghiraukan. Ia semakin mempercepat langkah. Tapi sayang, cengkeraman laki-laki itu berhasil menangkap Fani.
“Lepaskan!” berontak Fani sambil mengayun-ayunkan tangannya dengan kuat.
“Hey, dengarkan saya dulu, saya bukan orang jahat,” laki-laki itu berusaha menjelaskan siapa dirinya.
“Tidak pak, jangan bunuh saya. Tolong.. Tolong..,” jerit Fani.
Laki-laki itu dengan cepat langsung mendekap mulut Fani dan menggendongnya dengan paksa ke tempat yang aman. Melewati jalanan sempit, pohon-pohon lebat, dan bekas hujan semalam yang bercipratan ke mana-mana.
“Aku bisa membantumu, setelah mendengar kamu menyanyi tadi, tampaknya kamu punya potensi yag sangat kuat. Lelaki itu memegang dua pundak Fani meyakinkan.
“Aku punya dapur rekaman, dan kebetulan saya lagi orang untuk mengisi itu. Dan tampaknya kamu cocok untuk itu,”
Fani yang dari tadi ngoceh akhirnya berhenti tiba-tiba.
##@@##n
Waktu dengan cepat berlalu.
Fani akhirnya menjadi bintang setelah melewati beberapa fase yang sulit.
Pertama, dia telah membuat khawatir kedua orang tua karena tidak kembali ke rumah selama sebulan. Dalam waktu yang cukup lama itu, Fani dikabarkan sudah hilang atau meninggal diterkam kehidupan.
Kedua, sekembalinya ke rumah, dia tidak mendapat restu untuk melanjutkan karier menjadi seorang penyanyi yang biasa nongol di TV dengan penampilan yang sangat mempesona.
Ketiga, dia harus terus berlatih menjadi seperti apa yang diinginkan pihak produsen dengan diam-diam.
Keempat, waktu tidak dengan mudah mengubah hati orang tua Fani untuk bisa mengubah keputusan.
Dan yang terakhir dia harus terus menjaga nama baik keluarga. Karena sebagai apapun dan dalam keadaan bagaimana pun, keluarga Fani menekankan bahwa jangan sampai merusak kehormatan.
Dengan penuh kesabaran tantangan itu berhasil Fani lalui.