Sabtu, 04 Januari 2020

DI DESAKU

Di desaku; desa yang terkenal dengan senja merah jingga telah menanggalkan kata indahnya. Setelah angin yang tak lagi membelai, tapi menampar, setelah pohon yang tak lagi meneduhkan, tapi meremukkan, dan setelah air yang tak lagi menyegarkan, tapi menenggelamkan.

Padahal baru kemarin, para nelayan menggelar layar untuk berselancar bersama ikan-ikan, kemudian membawanya pulang demi keluarga yang sedang lapar. Padahal baru kemarin, para petani menanam benih harapan dari setiap hembusan tanah, yang kelak akan menjadi nafas pula di setiap langkah, tapi kini semuanya sirna menjelma darah merah yang kental dengan aroma amis di setiap tangis.

Entah berapa lama lagi kata indah itu akan kembali. Membawa senyum warga pada singgasana paling mulia; bersyukur pada-NYA. Atas segala nikmat yang telah hinggap, atas segala panorama yang telah ada, dan atas segala tawa yang tak terhingga.