Aku
tidak mengerti harus mengawali semua ini dengan kata apa. Sebab sudah telalu
banyak kata-kata indah yang dituliskan para penyair sebelumnya. Sedangkan aku,
hanyalah seorang yang biasa saja dalam segala hal: rupa, harta, tahta, dan
segala hal yang mungkin belum kuketajui juga.
Di
sini, aku ingin mengatakan bahwa rindu sering bertamu di setiap malam tanpa
absen. Dia menjelma bayang-bayang yang tak mampu kulukis dengan segala warna
dan tak mampu kutulis dengan segala kata. Mungkin hanya semesta yang mampu
menerjemahkannya dalam bentuk rahasia. Rahasia yang disembunyikan oleh angin, batu-batu,
dan daun-daun yang baru saja gugur.
Kasih,
bila tiba saatnya kita berjumpa di hari yang entah dinamai apa, aku ingin
sekali memelukmu dengan segenap kerinduan yang sangat hebat. Dengan
sentuhan-sentuhan ajaib yang mampu mengantarkan kita ke keharibaan cinta yang
sesungguhnya. Di sana kita bisa berlama-lama memenuhi segala hasrat yang
sebelumnya tak kunjung terlaksana.
Di
kejauhan yang berbeda, mungkin surat ini lebih dulu kutulis dan kutanda tangani
sendiri sebelum surat kepemilikan hati yang sah. Sebuah buku yang tertulis nama
dan tergambar wajah kita dengan senyum bahagia tanpa pura-pura. Atau mungkin
kau sedang menulis juga di kejauhan sana? Entahlah, aku hanya bisa
mengira-ngira.
Dari
banyak pengalaman yang telah kualami, ternyata benar cinta hanya menuju pada
satu tujuan utama: bahagia. Hanya saja banyak jalan yang tak bisa disamakan
antara yang satu dengan yang lain. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak
Tuhan yang tahu persis bagaimana keadaan hambanya sekarang dan di masa yang
akan datang. Tinggal bagaimana diri mengelola rasa itu menjadi bibit cinta
istimewa dan tumbuh menjadi pohon kebahagiaan.
Di
segala cuaca, aku sering menulis pesan kerinduan yang tak bisa kuselesaikan
dengan sempurna. Dalam hujan yang rintiknya membisikkan namamu, dalam senja
yang cahayanya membiaskan wajahmu, atau dalam dzikir pasir yang membentuk
istana kita dan diamini oleh burung-burung tak bernama. Semuanya masih belum
sempat kusatukan. Bukan apa-apa, karena diri ini terlalu cacat untuk menjadi
cinta sejati dalam hatimu.
Pernah
suatu ketika, aku duduk dengan tenang di pinggir sungai yang sangat jernih
mengalirkan kenangan. Di dalamnya ikan-ikan bermain kejar-kejaran sebagaimana
anak kecil di pinggir pantai yang berusaha menerbangkan layangan. Sungguh
sangat indah. Dan mungkin kau takkan pernah tahu, bahwa ikan-ikan itu
menyemburkan cahaya senja yang dipadu dengan jernih air, arus sederhana, dan
cuaca yang tak terlalu terik saat itu. Fenomena ini sangat langka dan mungkin
hanya terjadi satu kali di dunia.
Di
sana, aku sempat menemukanmu di balik cahaya semesta yang memantul di balik
ruang-ruang kehidupan. Sayang, saat itu aku sedang tak membawa pena yang cukup
tangguh untuk menahan segala kecantikan yang kau pancarkan. Aku hanya bisa
mematung sejenak, diikat waktu kemudian terhempas begitu saja. Ini adalah
satu-satunya momen aku bisa membayangkanmu dengan sempurna.
Tanpa
kata pengantar dan pendahuluan, di sini aku dengan berani mengucapkan syahadat
cinta yang disaksikan oleh badai panjang, gelombang kencang, dan dada yang tak
pernah berhenti berguncang. Segala kalimat indah telah kubunuh dan kukubur
dalam keheningan malam yang tak pernah sudi kehilangan. Sedangkan kata-kata, telah
kuhapus semuanya saat mentari naik di waktu duha. Sebab semuanya terlalu kerdil
untuk mengungkapkan cintaku padamu.
##@@##
Di
sini aku bingung akan bercakap-cakap dengan siapa. Sebab tak ada siapapun
kecuali diriku sendiri yang bisa kupahami sepenuhnya. Orang-orang satu persatu
meninggalkanku. Bapak pergi bekerja ke sawah yang telah dirawatnya sejak tiga
tahun terakhir. Ibu pergi ke pasar membeli perlengkapan dapur yang sudah habis.
Dan adikku masih belum pulang sekolah.
Kasih,
kuucapkan terima kasih padamu meski tanpa alamat yang jelas. Di umurku yang
sudah masuk dua puluh tahun ini, kau mengajarkan arti rindu yang sebenarnya.
Tak hanya itu, kau juga mengajariku cara menyepi yang baik dan benar di tengah
huru-hara penduduk millenial. Rasanya, rasa terima kasih ini saja tak cukup
untukmu.
Bunga-bunga
di depan rumahku kini mekar menunjukkan kecantikannya pada semesta. Setiap pagi
titik embun hinggap di atasnya membawa kesejukan dan kesucian. Warnanya yang
bermacam-macam membuatku betah berlama-lama di sana sambil menulis puisi.
Kehidupan para bunga yang sangat rukun sangat berbeda dengan kehidupan manusia
yang sering saling pukul.
Duhai
kasih, jika dihitung-hitung dari awal, aku telah menulis ratusan bahkan ribuan
puisi yang tak kuhafal judulnya satu persatu. Ada yang bahagia, ada yang
terluka, dan ada yang pura-pura. Semuanya kutulis dengan usaha maksimal sesuai
kerja akal dan perasaan. Semua itu kutulis sebab termotivasi darimu. Perempuan
yang masih belum kukenal sepenuhnya dan kuyakini memiliki hal yang luar biasa.
Di
hari yang berbeda, aku ingin sekali kau melihat karya-karyaku dan tertawa geli
karenanya. Entah itu karena memang karyaku bagus, atau mungkin karena karyaku
masih tak pantas disebut sebuah karya. Aku tak peduli itu. Yang terpenting,
karyaku bisa langsung kembali ke pemiliknya. Perempuan muslimah yang selalu
dilirik ribuan mata.
Sekarang
aku ingin mengajakmu jalan-jalan di area pikiranku. Di dalam sini, terdapat
beberapa kenyataan dan kebohongan yang mungkin kau akan menyukainya. Bukankah
perempuan menyukai keindahan? Di sini bukan hanya sebatas indah, tapi mampu
melewati batas itu. Batas yang akan membuatmu candu tanpa ada obat untuk
menyembuhkannya.
Aku
ingin bercerita tentang banyak hal: gunung kembar yang di tengah-tengahnya
terdapat jalan setapak yang biasa dilukis oleh anak kecil, burung-burung kecil
yang mengelilingi cakrawala sambil mengicaukan nama kita, dan senja di musim
salju saat santa claus sedang asyik membagi-bagikan hadiah di bawah pohon natal
semua orang. Ah tentu akan sangat seru sekali, kasih.
Tidak
hanya itu, aku akan membawamu pada hal-hal sederhana yang biasa disulap oleh
para penyair menjadi ide baru yang sangat segar dan menggemaskan. Layaknya bayi
kecil yang tak pernah selesai lahir di dunia namun selalu menyimpan lucu di
setiap lekuk senyumnya. Tawanya yang khas, tangisnya yang memekik telinga, dan
tumbuhnya yang selalu membawa dinamika pada seluruh aspek kehidupan. Sepanjang
itu, sayang.
Ini
bukan sekedar indahnya pantai losari, syahdunya gelombang nihiwatu, dan
nikmatnya senja di atas bentang pulau weh, namun lebih dari itu, kasih. Ini
adalah keajaiban yang tak bisa kau searching di mesin pencari yang sangat
pintar dan cerdas. Sebab kau tahu sendiri, google hanyalah ciptaan manusia yang
jauh dari kesempurnaan.
Semoga saja kau suka dengan semua ini.
##@@##
Di
halaman terakhir ini, aku takkan berlama-lama dengan pesan yang ingin
kusampaikan. Sebab inti dari semuanya ada di halaman terakhir ini.
Malam
telah terlalu sering mengajarkan kita bagaimana menyatu dengan sunyi.
Mempelajari kehidupan yang pernah terjadi dan merangkai masa depan yang masih
belum pasti. Aku tak tahu pasti apakah kamu juga melakukan hal yang sering
kulakukan. Yaitu ngopi, diskusi, dan menjadi puisi abadi. Jika seandainya
tidak, aku takkan menyuruhmu berubah karena memang itulah dirimu. Diri yang
tumbuh di antara cinta kasih seorang bapak dan ibu.
Kasih,
hujan telah terlalu sering menciptakan kenangan sejak nabi adam dan siti hawa. Hingga
saat ini, hujan selalu menjadi tumpuan bagi seseorang untuk menjadi puitis
seketika. Maka jangan heran, jika saat hujan akan lahir caption-caption menarik
di balik status orang-orang. Karena memang begitulah hujan, di dalam rintiknya
terkandung kata-kata yang tak pernah berdusta.
Kasih,
senja pun juga telah terlalu sering menjadi panorama yang dinanti-nanti oleh
sepasang kekasih. Suasana langit kekuning-kuningan yang muncul beberapa saat
dan hilang dalam sesaat. Jejaknya tak pernah ada yang tahu. Sebab Tuhan memang
sengaja menyembunyikannya sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Ketiga
hal di atas adalah media yang sering mengingatkanku padamu. Perempuan muslimah
yang malu-malu saat matanya dipandang oleh lelaki. Dan mungkin juga perempuan
yang selalu melafadzkan ayat-ayat suci al-quran di setiap waktu. Dari sini, aku
bisa bahagia lebih dulu sebelum waktunya. Sebab membayangkanmu lebih
menyenangkan dari girangnya anak-anak saat bermain komedi putar.
Saat
sudah tiba waktunya, mari kita selesaikan semuanya sesuai dengan aturan agama.
Menjalin ikatan yang sah dan suci sebagaimana diajarkan Tuhan dalam kitabnya. Menghadapi
segala kemungkinan bersama tanpa rasa takut dan bimbang. Kemudian tertawa di
bawah kuning senja depan rumah.
Saat
ini, telah kusiapkan cincin emas yang terbuat dari cahaya dan ketulusan hati.
Aku yakin cincin ini akan sangat pas di jari manismu. Sebagai bentuk cinta yang
tak pernah redup, semangat yang tak pernah gugup, dan hasrat yang selalu
meletup-letup. Percayalah kasih, cincin ini hanya ada satu di dunia ini. Lebih
tepatnya di jari manismu.
Kasih,
kau tak perlu ragu bagaimana nanti rumah kita di tengah materialisme yang
semakin mengakar di batin masyarakat. Sebab mulai saat ini, aku sudah
perlahan-lahan menata batu berlapis emas yang nantinya akan menjadi dinding dan
cagak rumah di mana kita berlindung. Berlindung dari hujan, terik, dan omongan
tetangga yang sangat tajam.
Setiap
seminggu sekali, aku akan mengajakmu mengelilingi semesta agar kau tahu kuasa
Tuhan yang sebenarnya. Tidak hanya itu, aku akan mengajakmu berkenalan dengan
ikan-ikan di kedalaman laut. Asal kau tahu, mereka juga mempunyai nama yang tak
bisa dipahami oleh manusia. Bahkan mereka lebih mengerti bagaimana cara
bertatakrama dibanding kita.
Tak
lupa juga, aku akan senantiasa setia mengingatkanmu perihal kehidupan kita
kelak. Kehidupan abadi yang disediakan Tuhan untuk hambanya sebagai balasan
terhadap apa yang telah diperbuat selama di dunia. Sebisa mungkin, aku akan
melindungimu dari jilatan api neraka yang selalu menyerang dosa-dosa kita.
Semoga saja aku mampu.
##@@##
Maka
dari itu, atas nama embun yang suci, atas nama senja yang abadi, dan atas nama
Tuhan yang maha mengasihi, aku melamarmu kasih, dengan segala kesederhanaan
yang akan membuatmu bahagia hingga ujung usia. Tanpa dusta, tanpa luka, dan
tanpa segala keburukan yang pernah ada.
Semua ini, bukan atas dasar aku adalah orang
yang sempurna. Aku tetaplah manusia biasa yang banyak salah dan dosa. Namun
kasih, dengan usaha yang hebat dan tawakkal yang kuat, aku yakin Tuhan berada
di pihak kita. Kita yang akan bahagia di bawah naungan yang kuasa. AMIIN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar