Sabtu, 18 Januari 2020

UNTUK SANG KEKASIH

Aku tidak mengerti harus mengawali semua ini dengan kata apa. Sebab sudah telalu banyak kata-kata indah yang dituliskan para penyair sebelumnya. Sedangkan aku, hanyalah seorang yang biasa saja dalam segala hal: rupa, harta, tahta, dan segala hal yang mungkin belum kuketajui juga.
Di sini, aku ingin mengatakan bahwa rindu sering bertamu di setiap malam tanpa absen. Dia menjelma bayang-bayang yang tak mampu kulukis dengan segala warna dan tak mampu kutulis dengan segala kata. Mungkin hanya semesta yang mampu menerjemahkannya dalam bentuk rahasia. Rahasia yang disembunyikan oleh angin, batu-batu, dan daun-daun yang baru saja gugur.
Kasih, bila tiba saatnya kita berjumpa di hari yang entah dinamai apa, aku ingin sekali memelukmu dengan segenap kerinduan yang sangat hebat. Dengan sentuhan-sentuhan ajaib yang mampu mengantarkan kita ke keharibaan cinta yang sesungguhnya. Di sana kita bisa berlama-lama memenuhi segala hasrat yang sebelumnya tak kunjung terlaksana.
Di kejauhan yang berbeda, mungkin surat ini lebih dulu kutulis dan kutanda tangani sendiri sebelum surat kepemilikan hati yang sah. Sebuah buku yang tertulis nama dan tergambar wajah kita dengan senyum bahagia tanpa pura-pura. Atau mungkin kau sedang menulis juga di kejauhan sana? Entahlah, aku hanya bisa mengira-ngira.
Dari banyak pengalaman yang telah kualami, ternyata benar cinta hanya menuju pada satu tujuan utama: bahagia. Hanya saja banyak jalan yang tak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lain. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan yang tahu persis bagaimana keadaan hambanya sekarang dan di masa yang akan datang. Tinggal bagaimana diri mengelola rasa itu menjadi bibit cinta istimewa dan tumbuh menjadi pohon kebahagiaan.
Di segala cuaca, aku sering menulis pesan kerinduan yang tak bisa kuselesaikan dengan sempurna. Dalam hujan yang rintiknya membisikkan namamu, dalam senja yang cahayanya membiaskan wajahmu, atau dalam dzikir pasir yang membentuk istana kita dan diamini oleh burung-burung tak bernama. Semuanya masih belum sempat kusatukan. Bukan apa-apa, karena diri ini terlalu cacat untuk menjadi cinta sejati dalam hatimu.
Pernah suatu ketika, aku duduk dengan tenang di pinggir sungai yang sangat jernih mengalirkan kenangan. Di dalamnya ikan-ikan bermain kejar-kejaran sebagaimana anak kecil di pinggir pantai yang berusaha menerbangkan layangan. Sungguh sangat indah. Dan mungkin kau takkan pernah tahu, bahwa ikan-ikan itu menyemburkan cahaya senja yang dipadu dengan jernih air, arus sederhana, dan cuaca yang tak terlalu terik saat itu. Fenomena ini sangat langka dan mungkin hanya terjadi satu kali di dunia.
Di sana, aku sempat menemukanmu di balik cahaya semesta yang memantul di balik ruang-ruang kehidupan. Sayang, saat itu aku sedang tak membawa pena yang cukup tangguh untuk menahan segala kecantikan yang kau pancarkan. Aku hanya bisa mematung sejenak, diikat waktu kemudian terhempas begitu saja. Ini adalah satu-satunya momen aku bisa membayangkanmu dengan sempurna.
Tanpa kata pengantar dan pendahuluan, di sini aku dengan berani mengucapkan syahadat cinta yang disaksikan oleh badai panjang, gelombang kencang, dan dada yang tak pernah berhenti berguncang. Segala kalimat indah telah kubunuh dan kukubur dalam keheningan malam yang tak pernah sudi kehilangan. Sedangkan kata-kata, telah kuhapus semuanya saat mentari naik di waktu duha. Sebab semuanya terlalu kerdil untuk mengungkapkan cintaku padamu.
##@@##
Di sini aku bingung akan bercakap-cakap dengan siapa. Sebab tak ada siapapun kecuali diriku sendiri yang bisa kupahami sepenuhnya. Orang-orang satu persatu meninggalkanku. Bapak pergi bekerja ke sawah yang telah dirawatnya sejak tiga tahun terakhir. Ibu pergi ke pasar membeli perlengkapan dapur yang sudah habis. Dan adikku masih belum pulang sekolah.
Kasih, kuucapkan terima kasih padamu meski tanpa alamat yang jelas. Di umurku yang sudah masuk dua puluh tahun ini, kau mengajarkan arti rindu yang sebenarnya. Tak hanya itu, kau juga mengajariku cara menyepi yang baik dan benar di tengah huru-hara penduduk millenial. Rasanya, rasa terima kasih ini saja tak cukup untukmu.
Bunga-bunga di depan rumahku kini mekar menunjukkan kecantikannya pada semesta. Setiap pagi titik embun hinggap di atasnya membawa kesejukan dan kesucian. Warnanya yang bermacam-macam membuatku betah berlama-lama di sana sambil menulis puisi. Kehidupan para bunga yang sangat rukun sangat berbeda dengan kehidupan manusia yang sering saling pukul.
Duhai kasih, jika dihitung-hitung dari awal, aku telah menulis ratusan bahkan ribuan puisi yang tak kuhafal judulnya satu persatu. Ada yang bahagia, ada yang terluka, dan ada yang pura-pura. Semuanya kutulis dengan usaha maksimal sesuai kerja akal dan perasaan. Semua itu kutulis sebab termotivasi darimu. Perempuan yang masih belum kukenal sepenuhnya dan kuyakini memiliki hal yang luar biasa.
Di hari yang berbeda, aku ingin sekali kau melihat karya-karyaku dan tertawa geli karenanya. Entah itu karena memang karyaku bagus, atau mungkin karena karyaku masih tak pantas disebut sebuah karya. Aku tak peduli itu. Yang terpenting, karyaku bisa langsung kembali ke pemiliknya. Perempuan muslimah yang selalu dilirik ribuan mata.
Sekarang aku ingin mengajakmu jalan-jalan di area pikiranku. Di dalam sini, terdapat beberapa kenyataan dan kebohongan yang mungkin kau akan menyukainya. Bukankah perempuan menyukai keindahan? Di sini bukan hanya sebatas indah, tapi mampu melewati batas itu. Batas yang akan membuatmu candu tanpa ada obat untuk menyembuhkannya.
Aku ingin bercerita tentang banyak hal: gunung kembar yang di tengah-tengahnya terdapat jalan setapak yang biasa dilukis oleh anak kecil, burung-burung kecil yang mengelilingi cakrawala sambil mengicaukan nama kita, dan senja di musim salju saat santa claus sedang asyik membagi-bagikan hadiah di bawah pohon natal semua orang. Ah tentu akan sangat seru sekali, kasih.
Tidak hanya itu, aku akan membawamu pada hal-hal sederhana yang biasa disulap oleh para penyair menjadi ide baru yang sangat segar dan menggemaskan. Layaknya bayi kecil yang tak pernah selesai lahir di dunia namun selalu menyimpan lucu di setiap lekuk senyumnya. Tawanya yang khas, tangisnya yang memekik telinga, dan tumbuhnya yang selalu membawa dinamika pada seluruh aspek kehidupan. Sepanjang itu, sayang.
Ini bukan sekedar indahnya pantai losari, syahdunya gelombang nihiwatu, dan nikmatnya senja di atas bentang pulau weh, namun lebih dari itu, kasih. Ini adalah keajaiban yang tak bisa kau searching di mesin pencari yang sangat pintar dan cerdas. Sebab kau tahu sendiri, google hanyalah ciptaan manusia yang jauh dari kesempurnaan.
Semoga saja kau suka dengan semua ini.
##@@##
Di halaman terakhir ini, aku takkan berlama-lama dengan pesan yang ingin kusampaikan. Sebab inti dari semuanya ada di halaman terakhir ini.
Malam telah terlalu sering mengajarkan kita bagaimana menyatu dengan sunyi. Mempelajari kehidupan yang pernah terjadi dan merangkai masa depan yang masih belum pasti. Aku tak tahu pasti apakah kamu juga melakukan hal yang sering kulakukan. Yaitu ngopi, diskusi, dan menjadi puisi abadi. Jika seandainya tidak, aku takkan menyuruhmu berubah karena memang itulah dirimu. Diri yang tumbuh di antara cinta kasih seorang bapak dan ibu.
Kasih, hujan telah terlalu sering menciptakan kenangan sejak nabi adam dan siti hawa. Hingga saat ini, hujan selalu menjadi tumpuan bagi seseorang untuk menjadi puitis seketika. Maka jangan heran, jika saat hujan akan lahir caption-caption menarik di balik status orang-orang. Karena memang begitulah hujan, di dalam rintiknya terkandung kata-kata yang tak pernah berdusta.
Kasih, senja pun juga telah terlalu sering menjadi panorama yang dinanti-nanti oleh sepasang kekasih. Suasana langit kekuning-kuningan yang muncul beberapa saat dan hilang dalam sesaat. Jejaknya tak pernah ada yang tahu. Sebab Tuhan memang sengaja menyembunyikannya sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Ketiga hal di atas adalah media yang sering mengingatkanku padamu. Perempuan muslimah yang malu-malu saat matanya dipandang oleh lelaki. Dan mungkin juga perempuan yang selalu melafadzkan ayat-ayat suci al-quran di setiap waktu. Dari sini, aku bisa bahagia lebih dulu sebelum waktunya. Sebab membayangkanmu lebih menyenangkan dari girangnya anak-anak saat bermain komedi putar.
Saat sudah tiba waktunya, mari kita selesaikan semuanya sesuai dengan aturan agama. Menjalin ikatan yang sah dan suci sebagaimana diajarkan Tuhan dalam kitabnya. Menghadapi segala kemungkinan bersama tanpa rasa takut dan bimbang. Kemudian tertawa di bawah kuning senja depan rumah.  
Saat ini, telah kusiapkan cincin emas yang terbuat dari cahaya dan ketulusan hati. Aku yakin cincin ini akan sangat pas di jari manismu. Sebagai bentuk cinta yang tak pernah redup, semangat yang tak pernah gugup, dan hasrat yang selalu meletup-letup. Percayalah kasih, cincin ini hanya ada satu di dunia ini. Lebih tepatnya di jari manismu.
Kasih, kau tak perlu ragu bagaimana nanti rumah kita di tengah materialisme yang semakin mengakar di batin masyarakat. Sebab mulai saat ini, aku sudah perlahan-lahan menata batu berlapis emas yang nantinya akan menjadi dinding dan cagak rumah di mana kita berlindung. Berlindung dari hujan, terik, dan omongan tetangga yang sangat tajam.
Setiap seminggu sekali, aku akan mengajakmu mengelilingi semesta agar kau tahu kuasa Tuhan yang sebenarnya. Tidak hanya itu, aku akan mengajakmu berkenalan dengan ikan-ikan di kedalaman laut. Asal kau tahu, mereka juga mempunyai nama yang tak bisa dipahami oleh manusia. Bahkan mereka lebih mengerti bagaimana cara bertatakrama dibanding kita.
Tak lupa juga, aku akan senantiasa setia mengingatkanmu perihal kehidupan kita kelak. Kehidupan abadi yang disediakan Tuhan untuk hambanya sebagai balasan terhadap apa yang telah diperbuat selama di dunia. Sebisa mungkin, aku akan melindungimu dari jilatan api neraka yang selalu menyerang dosa-dosa kita. Semoga saja aku mampu.
##@@##
Maka dari itu, atas nama embun yang suci, atas nama senja yang abadi, dan atas nama Tuhan yang maha mengasihi, aku melamarmu kasih, dengan segala kesederhanaan yang akan membuatmu bahagia hingga ujung usia. Tanpa dusta, tanpa luka, dan tanpa segala keburukan yang pernah ada.
Semua ini, bukan atas dasar aku adalah orang yang sempurna. Aku tetaplah manusia biasa yang banyak salah dan dosa. Namun kasih, dengan usaha yang hebat dan tawakkal yang kuat, aku yakin Tuhan berada di pihak kita. Kita yang akan bahagia di bawah naungan yang kuasa. AMIIN. 

Tidak ada komentar: