Perjalanan yang
menyenangkan. Mahasiswa berjumlah sembilan orang yang sedang disibukkan oleh
kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kini hendak berlibur di hari minggu. Hari
di mana kebanyakan orang berkumpul dengan keluarga, piknik ke tempat wisata,
atau mendaki gunung yang membelai langit.
Setelah melalui proses
panjang, tujuan liburan kali ini adalah Sumber Maron. Tempat wisata yang berisi
arung jeram di mana pengunjung dapat berteriak sekeras mungkin melepaskan lara.
Dan juga tempat berisi kolam renang di mana pengunjung dapat membasuh luka dari
janji-janji yang berujung dusta. Atau dalam bentuk motif luka yang lainnya.
Semuanya dapat lebur di sini.
Sejak awal, kami hanyalah
orang berbeda yang didekatkan oleh takdir dan garis waku yang bersamaan. Tidak
ada yang kenal sama sekali sebelumnya. Oleh sebab itu, kami harus saling
mencoba menurunkan ego, membuka diri, dan menyamakan persepsi yang berbenturan
dengan kehendak pribadi. Hal itu tentu bukan hal mudah yang bisa dilakukan
dalam waktu yang singkat. Semuanya butuh waktu.
Langit masih tersenyum
menyambut kami yang hendak bepergian. Padahal sebelumnya, langit sempat berduka
atas kelakuan manusia di muka bumi yang semakin tidak karuan. Tapi langit masih
berpihak pada kami. Saat itu cuaca sedang cerah dan tidak ada tanda-tanda akan
turun hujan. Setelah menyiapkan perlatan, konsumsi, dan transportasi, kami pun
memutuskan untuk berangkat menjemput kenangan.
Empat motor melesat menembus
angin yang semakin kencang jika pedal gas semakin ditarik. Beberapa kali sapaan
klakson dari pengendara lain terdengar memekikkan telinga. Asap polusi menyebar
ke mana-mana. Dan di pinggir-pinggir jalan, berbagai jenis pohon rindang masih
setia meneduhkan kata-kata demi rangkaian kenangan kami nanti. Sebab tanpa
kata, kadang beberapa hal tak bisa dipahami dengan sempurna.
Sekitar lima belas menit
perjalanan di atas kendaraan. Dari situ kami melihat berbagai fenomena sosial
yang tak bisa dilihat di penginapan. Seperti orang-orang yang hendak berangkat
kerja, sekumpulan orang yang meminta amal untuk masjid, dan bapak yang sedang
sibuk membenarkan letak posisi sepeda pengunjung. Semuanya tersaji begitu saja.
Entah tepat pada jam berapa
kami sampai di lokasi. Intinya, semua sedang tidak mempedulikan waktu yang
terus berjalan saat itu. Kami terus menikmati canda tawa yang terukir di setiap
bibir rona merah muda. Meski semisal semua akan berakhir berbeda, tapi intinya
kami masih menikmati semuanya. Itulah inti dari kehidupan.
Seorang bapak bertopi hijau
memegang bendera mengarahkan kami ke tempat parkir. Tempat kami bisa menitipkan
kendaraan dengan aman tanpa ada rasa was-was akan dicuri orang. Hari minggu
sebagai hari libur sekolah dan kuliah membuat suasana parkir sesak di
mana-mana. Untung sumber maron menyediakan banyak lahan parkir. Jika tidak,
mungkin akan terjadi banjir motor di setiap hari minggu bagi penduduk setempat.
Dari kami ada yang sudah
pernah beberapa kali ke Sumber Maron dan ada yang masih baru pertama kali. Bagi
yang sudah, pemandangan seperti itu menjadi sesuatu yang biasa mengingat tidak
terdapat perubahan di sana. Dan bagi yang masih baru, mungkin rasa takjub akan
keindahan panorama masih ada dan tumbuh seketika. Haya saja ada yang terungap
dan ada yang tidak.
##@@##
Lokasi Sumber Maron yang
sangat luas membuat kami harus berjalan cukup jauh menuju posko. Dari tempat
pembayaran karcis, kami harus melewati beberapa anak tangga yang tak terhitung
oleh kami. Tak lupa kami ambil beberapa tempat untuk dokumentasi di masa depan.
Sebab bagi anak muda, jalan-jalan tanpa ada foto adalah sebuah kebodohan yang
sangat mutlak.
“Heh sini, foto dulu,” ujar salah satu di antara kami.
Kami pun kompak berkumpul
membentuk setengah lingkaran di tangga tempat keluar. Dengan cepat senyum manis
terukir dan jepretan pun terjadi. Tak cukup hanya satu, kami mengambil beberapa
foto dengan gaya yang berbeda-beda. Ah, sungguh gila kami waktu itu.
Foto-foto ini mungkin dalam
waktu dekat masih tidak kelihatan apa gunanya. Tapi percayalah, bahwa kelak di
waktu yang sangat panjang, kenangan-kenangan itu akan muncul membasahi pikiran.
Sekelumit rindu pun hadir melengkapi keinginan untuk kembali berkumpul, tertawa
bersama, dan bahkan sampai ada yang ngambek.
Kami melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan kami menemui banyak sekali penjual dan pengunjung yang berlalu
lalalang. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tua, dan ada yang muda.
Semuanya berbaur dalam satu tujuan. Yakni berlibur.
“Ayok cepetan hee,” Rohman mengajak teman-temannya yang masih
melihat-lihat barang.
Di tempat wisata, jangan
heran jika harga sebuah barang bisa lebih mahal dibanding dengan biasanya. Sebab
selain menjual barang, mereka juga mengambil kesempatan dari suasana liburan
dan tempat indah yang disuguhkan oleh pihak setempat. Apalagi namanya liburan
pasti membawa banyak uang dan tak setiap hari ke lokasi.
Perjalanan dilanjutkan.
Rupanya, dari sekian banyak pengunjung
yang datang, wisata Sumber Maron lebih didominasi oleh komplotan ibu-ibu yang
memakai seragam khas masing-masing. Ada yang kuning, merah, bahkan ungu cerah
yang sangat tidak sinkron dengan keadaan umur mereka. Tapi biarlah, namanya
juga ingin senang-senang tak memandang umur.
Di lokasi dalam, terdapat
banyak posko yang berjejer dengan beraneka macam jualan. Mulai dari makanan
ringan, makanan berat, hingga beberapa aksesoris yang bisa digunakan saat
bermain arung jeram. Padatnya pengunjung membuat kami harus terus berjalan
mencari posko yang sepi. Sebab tak mungkin kami menaruh barang-barang yang
ramai orang demi menjaga keamanan.
“Di sana aja rek,” tunjuk Harun ke posko yang didominasi warna biru.
“Oh iya, “ jawab yang lain.
Kami langsung bergerak di
sela-sela keramaian. Ban-ban besar yang digunakan arung jeram melintas dari
arah depan dan belakang kami. Tubuh-tubuh basah sesekali bergesekan dengan
salah satu di antara kami. Serta tak lupa siaran para penjual yang tak pernah
letih menarik pelanggan. Mereka seperti sudah biasa dan memiliki kuota bicara
lebih banyak dari manusia biasa.
“Nah, taruh sini aja,” Rizal menaruh tasnya lebih dulu.
Spontan kami mengikuti
Rizal. Dari sekian banyak loker, kami hanya menyewa satu loker untuk tempat
barang berharga seperti HP dan dompet. Untuk baju, jaket, dan yang lain kami
taruh luar demi menghemat biaya. Lagi pula siapa juga yang akan mencurinya.
Barang-barang itu tak laku jika dijual.
Aroma berbagai makanan
menyerang. Mulai dari sosis goreng, pentol bakar, dan beberapa makanan yang tak
bisa disebutkan satu persatu. Membuat kami lapar tak karuan dan tak sabar
memakan bekal yang kami bawa dari penginapan. Pasti di dalam plastik itu sudah
dingin.
Setelah menaruh barang,
mengganti baju, dan menyewa ban untuk arung jeram, kami menuju titik start
arung jeram. Di sana juga terlihat beberapa mahasiswa KKM yang sedang
meliburkan diri dari setumpuk proker yang bisa membuat kepala tua lebih cepat.
“Hey, kamu ke sini juga ternyata,” Rahma menyalami temannya yang entah
siapa namanya.
“Iya nih sama anak-anak KKM juga,” temannya tertawa memperlihatkan gigi
putihnya.
“Aku duluan ya,”
“Ok,” dia pun berlalu.
Sungai mengalir cukup deras
membawa cerita yang entah akan singgah di bagian mana. Batu-batu kecil hingga
besar menyaksikan tawa lepas para pengunjung dan jerit histeris mereka yang
pertama kali datang. Angin juga tak mau ketinggalan, beberapa kali ia terasa
kencang menabrak kulit orang-orang. Hanya saja mereka tak menghiraukan
kehadiran angin.
“Sek, aku dulu,” Rohman meletakkan bannya di bagian depan.
Petugas yang berdiam di sana
membantu kami membentuk barisan panjang yang saling terikat satu sama lain.
Meski di bagian samping terdapat wadah untuk jasa penataan ban, tapi kami tak
sedikit pun melirik ke sana. Seolah kami tidak melakukan dosa dan tak tahu
apa-apa. Padahal kita telah merepotkan orang lain.
“Awas, pegang kakiku boy,” Harun berada di belakang Rohman.
Posisinya empat laki-laki di
depan kemudian diikuti lima perempuan di belakangnya. Sembari menata ban, salah
satu dari kami sempat terperosok akibat dihantam oleh arus dan keseimbangan
tubuh yang kurang stabil.
“Hati-hati hee,” ucap Ratna pada yang lain.
Bapak agak tua dengan sabar
menata ban kami agar bisa tersambung di tengah arus yang dengan cepat bisa
memisahkan. Beberapa kali gagal dan harus diulang kembali. Namun tak sedikit
pun dia mengeluh. Sebab prinsip mereka, kenyamanan pengunjung adalah yang
paling utama.
“Gimana? Udah?” Teriak Harun.
“Gass”
“Budal,”
Entah dengan atau tanpa
basmalah, kami pun dilepas menghadapi rintangan arus di tengah-tengah bebatuan
yang bisa membuat pantat benjol seketika. Lima hingga sepuluh detik kami masih
utuh tersambung. Tepat pada detik ke sebelas kami pun menjadi dua bagian
setelah menabrak pasukan lain yang memaksa kami untuk berpisah.
“Yaaahh,” nada kekecewaan muncul dari Rohman.
Teriakan demi teriakan
terdengar memenuhi telinga semua orang. Ada yang pelan, ada yang biasa, dan ada
yang sangat kencang. Di antara kami, Ratna adalah mahasiswi yang teriakannya
paling kencang. Entah karena dia ketakutan atau hanya mencari sensasi, yang
jelas dia benar-benar meluapkan semuanya.
Sejenak pikiran tentang
pengajuan proposal dan uang yang belum cair untuk proker hilang dari ingatan.
Kami seolah menjadi manusia paling bahagia di muka bumi. Tak ada yang cemberut.
Semuanya tertawa riang seriang mentari di pagi hari.
Kami melewati beberapa
tanjakan dan turunan. Meski tak terlalu tajam, tapi arus yang lumayan kencang
dan batu-batu yang membuat pantat sakit tetap tak menurunkan volume teriakan
kami, apalagi Ratna. Dia sungguh membuang pikiran mumetnya ke udara kemudian dibawa
oleh angin menuju langit. Di sana ada tempat khusus untuk penampungan pikiran
mumet. Syaratnya hanya satu, teriakkan saja tanpa ragu-ragu.
Tak lupa selama perjalanan,
kami menjepret beberapa momen yang sengaja dibuat dan tak sengaja terbuat.
Beberapa ekspresi terlihat lucu jika dilihat dengan teliti. Semuanya meluapkan
kebahagiaan dengan cara masing-masing.
“He gaes hadap sini,” perintah Rahma yang membawa HP dan langsung
menjepret momen itu.
Di separuh perjalanan, kami
menemukan sebuah tulisan besar bernama “Sumber maron” yang di bawahnya terdapat
batu besar yang dialiri air segar dengan sangat deras. Orang-orang terlihat
duduk di sana dan mengambil foto juga dengan sangat semangat. Semoga saja
arusnya tidak terlalu kencang hingga mampu membalikkan orang besar.
Satu, dua hingga lima kali
kami melakukan arung jeram. Sesampainya di atas, sebagian dari kami ada yang
juga masih mengerang kesakitan. Entah itu hanya pencitraan atau benar-benar
sakit, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, semuanya berharap agar semua baik-baik
saja.
Di putaran terakhir, kami
memutuskan pergi ke bagian tengah untuk berfoto di atas batu besar yang dialiri
air. Di atasnya terdapat tulisan “Sumber Maron” berwarna orange. Sebelumnya
sudah banyak orang lain yang mengambil foto di sana. Dan tentu, kami juga tidak
ingin ketinggalan.
Harun berada di posisi
paling depan. Diikuti, Rohman, Rizal, dan beberapa perempuan yang lain. Sungguh
dalam melangkah kami harus berhati-hati jika tidak ingin tertusuk oleh beling
liar dan batu cadas yang siap merobek kulit dan membuka luka. Di samping itu,
kami juga harus berhati-hati dengan banyaknya ban yang melintas dari berbagai
sisi.
“Sini,” Harun mengulurkan tangannya membantu Rohman naik.
Semuanya bergantian saling
membantu yang lain naik ke batu yang dituju. Kami mengambil posisi yang pas
agar tidak tergelincir sebab ada batu yang sangat licin. Tentu akan sangat
tragis jika sampai ada yang jatuh di antara kami. Tapi untungnya semua selamat.
Dengan cepat kami melakukan persiapan kemudian mengambil kenangan di sana.
##@@##
Waktunya pulang.
Setelah membersihkan badan
di kamar mandi posko, kami mengalami tragedi yang tak disangka-sanga. Salah
satu teman kami bernama Ratna dan Dyah hilang. Ah, sungguh kepanikan langsung
menyerang kepala kami. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi mencari mereka bersama-sama.
Beberapa usaha kami lakukan.
Mulai dari bertanya pada orang-orang, melihat semua sisi sumber, hingga laporan
pada petugas informasi. Tapi sayang, mereka tetap tidak ditemukan. Kami
akhirnya memutuskan untuk kembali ke parkiran. Barang kali mereka udah ada di
sana. Tidak ada yang berbicara sama sekali di antara kami.
Ternyata benar. Sesampainya
di sana, dua teman itu telah duduk dengan lemas seperti tidak makan tiga hari. Kami
pun menghampirinya. Tapi ekspresi mereka berbeda. Tida tampak semburat bahagia
sama sekali di wajah mereka.
Mereka merajuk.
“Ya sudah mbak, kami minta maaf telah ninggalin kalian tadi. Kami tadi
juga bingung nyariin kalian. Kalian cari kami, kami cari kalian,” Rahma mencoba
menenangkan keduanya.
Rizal yang juga ada di sana mengeluarkan lawakannya
dari raut wajahnya yang aneh. Beberapa kali mereka membisu saat ditawari makan.
“Ayo dah mbak makan, tidak usum ngambek-ngambekan sekarang,” Rahma terus
mencoba sambil membuka beberapa bungkusan nasi.
Alhasil, mereka akhirnya luluh dan tertawa meski juga ada tangis di mata
mereka.
Perlu diketahui, sebelum
itu, mereka tertinggal saat pindah ke posko kedua. Sedangkan mereka berada
dalam posisi mandi. Tiba saat mereka keluar, barang-barang dan yang lain sudah
menghilang tanpa jejak. Sungguh hal itu membuat mereka kesal. Apalagi saat itu
mereka dalam posisi tidak memegang apa-apa.
Kami pun tertawa kembali dan pulang membawa kenangan yang akan terus
abadi dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar