Senin, 13 Januari 2020

TRAGEDI 12 JANUARI 2020

Perjalanan yang menyenangkan. Mahasiswa berjumlah sembilan orang yang sedang disibukkan oleh kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kini hendak berlibur di hari minggu. Hari di mana kebanyakan orang berkumpul dengan keluarga, piknik ke tempat wisata, atau mendaki gunung yang membelai langit.
Setelah melalui proses panjang, tujuan liburan kali ini adalah Sumber Maron. Tempat wisata yang berisi arung jeram di mana pengunjung dapat berteriak sekeras mungkin melepaskan lara. Dan juga tempat berisi kolam renang di mana pengunjung dapat membasuh luka dari janji-janji yang berujung dusta. Atau dalam bentuk motif luka yang lainnya. Semuanya dapat lebur di sini.
Sejak awal, kami hanyalah orang berbeda yang didekatkan oleh takdir dan garis waku yang bersamaan. Tidak ada yang kenal sama sekali sebelumnya. Oleh sebab itu, kami harus saling mencoba menurunkan ego, membuka diri, dan menyamakan persepsi yang berbenturan dengan kehendak pribadi. Hal itu tentu bukan hal mudah yang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Semuanya butuh waktu.
Langit masih tersenyum menyambut kami yang hendak bepergian. Padahal sebelumnya, langit sempat berduka atas kelakuan manusia di muka bumi yang semakin tidak karuan. Tapi langit masih berpihak pada kami. Saat itu cuaca sedang cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Setelah menyiapkan perlatan, konsumsi, dan transportasi, kami pun memutuskan untuk berangkat menjemput kenangan.
Empat motor melesat menembus angin yang semakin kencang jika pedal gas semakin ditarik. Beberapa kali sapaan klakson dari pengendara lain terdengar memekikkan telinga. Asap polusi menyebar ke mana-mana. Dan di pinggir-pinggir jalan, berbagai jenis pohon rindang masih setia meneduhkan kata-kata demi rangkaian kenangan kami nanti. Sebab tanpa kata, kadang beberapa hal tak bisa dipahami dengan sempurna.
Sekitar lima belas menit perjalanan di atas kendaraan. Dari situ kami melihat berbagai fenomena sosial yang tak bisa dilihat di penginapan. Seperti orang-orang yang hendak berangkat kerja, sekumpulan orang yang meminta amal untuk masjid, dan bapak yang sedang sibuk membenarkan letak posisi sepeda pengunjung. Semuanya tersaji begitu saja.
Entah tepat pada jam berapa kami sampai di lokasi. Intinya, semua sedang tidak mempedulikan waktu yang terus berjalan saat itu. Kami terus menikmati canda tawa yang terukir di setiap bibir rona merah muda. Meski semisal semua akan berakhir berbeda, tapi intinya kami masih menikmati semuanya. Itulah inti dari kehidupan.
Seorang bapak bertopi hijau memegang bendera mengarahkan kami ke tempat parkir. Tempat kami bisa menitipkan kendaraan dengan aman tanpa ada rasa was-was akan dicuri orang. Hari minggu sebagai hari libur sekolah dan kuliah membuat suasana parkir sesak di mana-mana. Untung sumber maron menyediakan banyak lahan parkir. Jika tidak, mungkin akan terjadi banjir motor di setiap hari minggu bagi penduduk setempat.
Dari kami ada yang sudah pernah beberapa kali ke Sumber Maron dan ada yang masih baru pertama kali. Bagi yang sudah, pemandangan seperti itu menjadi sesuatu yang biasa mengingat tidak terdapat perubahan di sana. Dan bagi yang masih baru, mungkin rasa takjub akan keindahan panorama masih ada dan tumbuh seketika. Haya saja ada yang terungap dan ada yang tidak.
##@@##
Lokasi Sumber Maron yang sangat luas membuat kami harus berjalan cukup jauh menuju posko. Dari tempat pembayaran karcis, kami harus melewati beberapa anak tangga yang tak terhitung oleh kami. Tak lupa kami ambil beberapa tempat untuk dokumentasi di masa depan. Sebab bagi anak muda, jalan-jalan tanpa ada foto adalah sebuah kebodohan yang sangat mutlak.
“Heh sini, foto dulu,” ujar salah satu di antara kami.
Kami pun kompak berkumpul membentuk setengah lingkaran di tangga tempat keluar. Dengan cepat senyum manis terukir dan jepretan pun terjadi. Tak cukup hanya satu, kami mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda-beda. Ah, sungguh gila kami waktu itu.
Foto-foto ini mungkin dalam waktu dekat masih tidak kelihatan apa gunanya. Tapi percayalah, bahwa kelak di waktu yang sangat panjang, kenangan-kenangan itu akan muncul membasahi pikiran. Sekelumit rindu pun hadir melengkapi keinginan untuk kembali berkumpul, tertawa bersama, dan bahkan sampai ada yang ngambek.
Kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan kami menemui banyak sekali penjual dan pengunjung yang berlalu lalalang. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tua, dan ada yang muda. Semuanya berbaur dalam satu tujuan. Yakni berlibur.
“Ayok cepetan hee,” Rohman mengajak teman-temannya yang masih melihat-lihat barang.
Di tempat wisata, jangan heran jika harga sebuah barang bisa lebih mahal dibanding dengan biasanya. Sebab selain menjual barang, mereka juga mengambil kesempatan dari suasana liburan dan tempat indah yang disuguhkan oleh pihak setempat. Apalagi namanya liburan pasti membawa banyak uang dan tak setiap hari ke lokasi.
Perjalanan dilanjutkan.
Rupanya, dari sekian banyak pengunjung yang datang, wisata Sumber Maron lebih didominasi oleh komplotan ibu-ibu yang memakai seragam khas masing-masing. Ada yang kuning, merah, bahkan ungu cerah yang sangat tidak sinkron dengan keadaan umur mereka. Tapi biarlah, namanya juga ingin senang-senang tak memandang umur.
Di lokasi dalam, terdapat banyak posko yang berjejer dengan beraneka macam jualan. Mulai dari makanan ringan, makanan berat, hingga beberapa aksesoris yang bisa digunakan saat bermain arung jeram. Padatnya pengunjung membuat kami harus terus berjalan mencari posko yang sepi. Sebab tak mungkin kami menaruh barang-barang yang ramai orang demi menjaga keamanan.
“Di sana aja rek,” tunjuk Harun ke posko yang didominasi warna biru.
“Oh iya, “ jawab yang lain.
Kami langsung bergerak di sela-sela keramaian. Ban-ban besar yang digunakan arung jeram melintas dari arah depan dan belakang kami. Tubuh-tubuh basah sesekali bergesekan dengan salah satu di antara kami. Serta tak lupa siaran para penjual yang tak pernah letih menarik pelanggan. Mereka seperti sudah biasa dan memiliki kuota bicara lebih banyak dari manusia biasa.
“Nah, taruh sini aja,” Rizal menaruh tasnya lebih dulu.
Spontan kami mengikuti Rizal. Dari sekian banyak loker, kami hanya menyewa satu loker untuk tempat barang berharga seperti HP dan dompet. Untuk baju, jaket, dan yang lain kami taruh luar demi menghemat biaya. Lagi pula siapa juga yang akan mencurinya. Barang-barang itu tak laku jika dijual.
Aroma berbagai makanan menyerang. Mulai dari sosis goreng, pentol bakar, dan beberapa makanan yang tak bisa disebutkan satu persatu. Membuat kami lapar tak karuan dan tak sabar memakan bekal yang kami bawa dari penginapan. Pasti di dalam plastik itu sudah dingin.
Setelah menaruh barang, mengganti baju, dan menyewa ban untuk arung jeram, kami menuju titik start arung jeram. Di sana juga terlihat beberapa mahasiswa KKM yang sedang meliburkan diri dari setumpuk proker yang bisa membuat kepala tua lebih cepat.
“Hey, kamu ke sini juga ternyata,” Rahma menyalami temannya yang entah siapa namanya.
“Iya nih sama anak-anak KKM juga,” temannya tertawa memperlihatkan gigi putihnya.
“Aku duluan ya,”
“Ok,” dia pun berlalu.
Sungai mengalir cukup deras membawa cerita yang entah akan singgah di bagian mana. Batu-batu kecil hingga besar menyaksikan tawa lepas para pengunjung dan jerit histeris mereka yang pertama kali datang. Angin juga tak mau ketinggalan, beberapa kali ia terasa kencang menabrak kulit orang-orang. Hanya saja mereka tak menghiraukan kehadiran angin.
“Sek, aku dulu,” Rohman meletakkan bannya di bagian depan.
Petugas yang berdiam di sana membantu kami membentuk barisan panjang yang saling terikat satu sama lain. Meski di bagian samping terdapat wadah untuk jasa penataan ban, tapi kami tak sedikit pun melirik ke sana. Seolah kami tidak melakukan dosa dan tak tahu apa-apa. Padahal kita telah merepotkan orang lain.
“Awas, pegang kakiku boy,” Harun berada di belakang Rohman.
Posisinya empat laki-laki di depan kemudian diikuti lima perempuan di belakangnya. Sembari menata ban, salah satu dari kami sempat terperosok akibat dihantam oleh arus dan keseimbangan tubuh yang kurang stabil.
“Hati-hati hee,” ucap Ratna pada yang lain.
Bapak agak tua dengan sabar menata ban kami agar bisa tersambung di tengah arus yang dengan cepat bisa memisahkan. Beberapa kali gagal dan harus diulang kembali. Namun tak sedikit pun dia mengeluh. Sebab prinsip mereka, kenyamanan pengunjung adalah yang paling utama.
“Gimana? Udah?” Teriak Harun.
“Gass”
“Budal,”
Entah dengan atau tanpa basmalah, kami pun dilepas menghadapi rintangan arus di tengah-tengah bebatuan yang bisa membuat pantat benjol seketika. Lima hingga sepuluh detik kami masih utuh tersambung. Tepat pada detik ke sebelas kami pun menjadi dua bagian setelah menabrak pasukan lain yang memaksa kami untuk berpisah.
“Yaaahh,” nada kekecewaan muncul dari Rohman.
Teriakan demi teriakan terdengar memenuhi telinga semua orang. Ada yang pelan, ada yang biasa, dan ada yang sangat kencang. Di antara kami, Ratna adalah mahasiswi yang teriakannya paling kencang. Entah karena dia ketakutan atau hanya mencari sensasi, yang jelas dia benar-benar meluapkan semuanya.
Sejenak pikiran tentang pengajuan proposal dan uang yang belum cair untuk proker hilang dari ingatan. Kami seolah menjadi manusia paling bahagia di muka bumi. Tak ada yang cemberut. Semuanya tertawa riang seriang mentari di pagi hari.
Kami melewati beberapa tanjakan dan turunan. Meski tak terlalu tajam, tapi arus yang lumayan kencang dan batu-batu yang membuat pantat sakit tetap tak menurunkan volume teriakan kami, apalagi Ratna. Dia sungguh membuang pikiran mumetnya ke udara kemudian dibawa oleh angin menuju langit. Di sana ada tempat khusus untuk penampungan pikiran mumet. Syaratnya hanya satu, teriakkan saja tanpa ragu-ragu.
Tak lupa selama perjalanan, kami menjepret beberapa momen yang sengaja dibuat dan tak sengaja terbuat. Beberapa ekspresi terlihat lucu jika dilihat dengan teliti. Semuanya meluapkan kebahagiaan dengan cara masing-masing.
“He gaes hadap sini,” perintah Rahma yang membawa HP dan langsung menjepret momen itu.
Di separuh perjalanan, kami menemukan sebuah tulisan besar bernama “Sumber maron” yang di bawahnya terdapat batu besar yang dialiri air segar dengan sangat deras. Orang-orang terlihat duduk di sana dan mengambil foto juga dengan sangat semangat. Semoga saja arusnya tidak terlalu kencang hingga mampu membalikkan orang besar.
Satu, dua hingga lima kali kami melakukan arung jeram. Sesampainya di atas, sebagian dari kami ada yang juga masih mengerang kesakitan. Entah itu hanya pencitraan atau benar-benar sakit, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, semuanya berharap agar semua baik-baik saja.
Di putaran terakhir, kami memutuskan pergi ke bagian tengah untuk berfoto di atas batu besar yang dialiri air. Di atasnya terdapat tulisan “Sumber Maron” berwarna orange. Sebelumnya sudah banyak orang lain yang mengambil foto di sana. Dan tentu, kami juga tidak ingin ketinggalan.
Harun berada di posisi paling depan. Diikuti, Rohman, Rizal, dan beberapa perempuan yang lain. Sungguh dalam melangkah kami harus berhati-hati jika tidak ingin tertusuk oleh beling liar dan batu cadas yang siap merobek kulit dan membuka luka. Di samping itu, kami juga harus berhati-hati dengan banyaknya ban yang melintas dari berbagai sisi.
“Sini,” Harun mengulurkan tangannya membantu Rohman naik.
Semuanya bergantian saling membantu yang lain naik ke batu yang dituju. Kami mengambil posisi yang pas agar tidak tergelincir sebab ada batu yang sangat licin. Tentu akan sangat tragis jika sampai ada yang jatuh di antara kami. Tapi untungnya semua selamat. Dengan cepat kami melakukan persiapan kemudian mengambil kenangan di sana.
##@@##
Waktunya pulang.
Setelah membersihkan badan di kamar mandi posko, kami mengalami tragedi yang tak disangka-sanga. Salah satu teman kami bernama Ratna dan Dyah hilang. Ah, sungguh kepanikan langsung menyerang kepala kami. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi mencari mereka bersama-sama.
Beberapa usaha kami lakukan. Mulai dari bertanya pada orang-orang, melihat semua sisi sumber, hingga laporan pada petugas informasi. Tapi sayang, mereka tetap tidak ditemukan. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke parkiran. Barang kali mereka udah ada di sana. Tidak ada yang berbicara sama sekali di antara kami.
Ternyata benar. Sesampainya di sana, dua teman itu telah duduk dengan lemas seperti tidak makan tiga hari. Kami pun menghampirinya. Tapi ekspresi mereka berbeda. Tida tampak semburat bahagia sama sekali di wajah mereka.
Mereka merajuk.
“Ya sudah mbak, kami minta maaf telah ninggalin kalian tadi. Kami tadi juga bingung nyariin kalian. Kalian cari kami, kami cari kalian,” Rahma mencoba menenangkan keduanya.
Rizal yang juga ada di sana mengeluarkan lawakannya dari raut wajahnya yang aneh. Beberapa kali mereka membisu saat ditawari makan.
“Ayo dah mbak makan, tidak usum ngambek-ngambekan sekarang,” Rahma terus mencoba sambil membuka beberapa bungkusan nasi.
Alhasil, mereka akhirnya luluh dan tertawa meski juga ada tangis di mata mereka.
Perlu diketahui, sebelum itu, mereka tertinggal saat pindah ke posko kedua. Sedangkan mereka berada dalam posisi mandi. Tiba saat mereka keluar, barang-barang dan yang lain sudah menghilang tanpa jejak. Sungguh hal itu membuat mereka kesal. Apalagi saat itu mereka dalam posisi tidak memegang apa-apa.
Kami pun tertawa kembali dan pulang membawa kenangan yang akan terus abadi dalam hati.  

Tidak ada komentar: