Setiap orang yang lahir di
dunia ini memiliki garis takdirnya masing-masing. Tidak perlu iri dengan
keadaan orang lain yang lebih baik dan tak perlu sombong dengan keadaan diri
yang lebih baik. Tuhan bisa dengan cepat mengubah jalan kehidupan seseorang
dalam jangka waktu yang tak terduga.
“Sesungguhnya Dia tiak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri” (Q.S. An-Nahl: 23).
Begitu pula dengan Fani, dia
adalah keturunan seorang pengemis kota yang pekerjaannya hanya menengadahkan
kantong plastik di hadapan orang-orang berharap sedikit belas kasih dari
banyaknya uang mereka. Berjalan dari toko ke toko, bis ke bis, atau diam di depan
indomaret yang pasti ramai akan orang.
Bedanya, jika orang tua Fani
asli mengemis tanpa melakukan apa-apa, maka Fani sedikit melakukan usaha dengan
menjual suaranya yang lumayan bagus sambil bermain pecahan tutup botol yang
telah ditindih. Usia Fani yang masih menginjak sepuluh tahun tak membuatnya
takut menghadapi kerasnya kehidupan. Ia sudah melalang buana di bis-bis kota
dengan alat musiknya itu dan sekantong plastik untuk mengais harapan dari
orang-orang.
“Semoga hari ini dapat banyak,” batin Fani ketika hendak pergi dari
rumahnya yang tak pantas di sebut rumah.
Tempat tinggalnya hanyalah
sebuah cagak kayu yang ditutup dengan triplek tipis dilapisi koran tanpa
genting sebab tepat berada di bawah pohon yang daunnya sangat lebat. Letaknya
berada di dekat jembatan besar dan di samping sungai yang banyak sampahnya.
Jika hujan datang, maka dapat dipastikan titik air akan masuk membasahi apa
saja yang ada di dalam. Parahnya, ketika terjadi hujan lebat disertai angin
kencang yang menggugurkan daun-daun, maka seluruh penghuni harus mengungsi ke
emperan toko orang.
Pagi itu, Fani duduk di
pinggir jalan seperti biasa dengan celana pendek se lutut warna hitam dan kaos
merah yang sudah tiga hari belum dicuci. Bukan apa-apa, dia dan orang tuanya
sangat menghemat pengeluaran uang walau sekedar membeli rinso demi sesuap nasi.
Karena itu adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya. Ditambah
lagi di sini adalah kota Jakarta.
Fani melambaikan tangannya saat melihat bis kota menuju ke arahnya. Bis
itu berhenti.
Tampak semua kursi telah
terisi penuh oleh penumpang. Mulai dari yang tua, muda, remaja, bahkan
anak-anak. Dengan demikian, peluang untuk mendapatkan receh lebih banyak akan
lebih banyak pula. Sejurus kemudian ia melakukan aksinya.
“Pemisi bapak-bapak, ibu-ibu, penumpang bis jurusan
pasar baru dan sekitarnya, saya di sini ingin mengamen mengharap keikhlasan
bapak ibu semua walau hanya receh-receh, rokok, permen, asalkan ikhlas, halal
bagi kami. Selamat menikmati,” pungkas Fani.
Ia pun langsung menyanyi salah satu lagu Rhoma Irama setelah beberapa
gesekan dimulai.
Ia berusaha semaksimal
mungkin memberikan yang terbaik pada penumpang. Suara yang sudah terlatih
selama 2 tahun yang lalu terdengar lebih enak dari yang sebelumnya. Beberapa
penumpang menikmati dengan betul pertunjukan Fani yang hanya bermodal tutup
botol yang ditempelkan pada sebatang kayu. Sebagian yang lain acuh tak acuh,
dan yang lainnya tidur.
Lagu selesai.
Fani mulai menyisir para
penumpag dengan menyuguhkan kantong plastik yang tadi ia bawa dari rumah. Ia
berharap semua penumpang bis ini adalah orang dermawan yang ikhlas mengeluarkan
uang-uang recehnya untuk membantu dirinya bertahan hidup.
“Terima kasihh pak,”
“Terima kasih bu,”
“Terima kasih,”
Ucapan itu Fani ulang-ulang
setiap kali ada yang memberi. Tapi ternyata, ucapan itu hanya berakhir tiga
kali dari sekian banyak penumpang yang ada.
“Alhamdulillah,” batin Fani.
Fani berdiri di barisan
paling belakang setelah mengamankan kantong plastiknya di celana hitamnya.
Kernet bis terlihat bertanya sekaligus menarik uang pada penumpang yang masih
belum bayar. Disampingnya ada seorang ibu-ibu yang menggendong bayi sekitar
umur sepuluh bulan. Terpancar cahaya masa depan dari mata anak itu. Mungkin
kelak dia akan menjadi orang besar.
Selama perjalanan Fani tak
ada niat untuk membuka kantong plastiknya tuk sekedar memastikan berapa rupiah
yang ia dapatkan. Fani hanya sesekali bersiul mengusir jenuh yang datang tanpa
aba-aba. Ia berharap ada pengamen perempuan yang masuk kemudian bernyanyi
sebagai hiburan bagi dirinya.
Bis berjalan pelan. Harapan
Fani tak terkabul. Sepuluh menit kemudian bis berhenti di pasar baru dan Fani
pun turun dengan santainya.
Pas ketika Fani menginjakkan
kakinya ke tanah, matahari langsung menyambutnya dengan sinar panas yang membuat
kulit Fani hitam jika terus berlama-lama di bawahnya. Lima orang yang menunggu
di pinggir jalan langsung masuk ke pintu di mana Fani keluar. Nafas Fani seolah
terlepas dari beban begitu sepenuhnya keluar dari bis.
Kebetulan di depan sana,
Fani menemukan tempat duduk umum yang dihiasi oleh bunga-bunga dan pohon cemara
yang agak besar. Fani memutuskan untuk istirahat di sana sekaligus melepas
lelah dan menghitung rupiah yang baru saja dia dapatkan.
Tiga ribu rupiah.
Nomial yang didapatkan hari
ini jauh lebih sedikit dibanding hari kemarin. Di hati paling dalam dia merasa
sedih menerima itu semua, tapi apalah daya, semua yang diberikan Tuhan harus
disyukuri.
Waktu sudah menunjukkan
pukul 10.00 WIB. Jam segitu biasanya Fani langsung pulang menuju rumah. Dia
memang tidak seharian bekerja mengamen, apalagi di usianya yang masih tergolong
kanak-kanak. Namun bedanya kali ini, terintas dalam benak Fani untuk kembali
berjuang di bis berikutnya.
Selama menunggu bis, Fani
hanya duduk santai menikmati panas yang sebenarnya bukan sebuah kenikmatan.
Pohon cemara yang berada di sekitarnya tak mampu tuk melindunginya dari
sengatan panas yang semakin menggila. Gerobak bakso berwarna biru tampak ramai
di seberang jalan. Dan perut Fani sebenarnya sedang keroncong tapi sengaja ia
tahan.
##@@##
Bis akhirnya datang. Di kaca
depan tak tertera tujuan mana yang akan disinggahi terakhir. Dan Fani memang
terpikir untuk itu.
Fani kembali melambaikan
tangan. Bis berhenti. Ia kembali masuk dengan membawa harapan yang lebih besar dari
sebelumnya.
Semoga saja.
Dalam segala hal, melakukan
hal yang kedua kalinya biasanya akan lebih enjoy dari yang pertama. Sebab sudah
mendapat pengalaman di moment yang pertama. Tapi anehnya, Fani merasakan hal
yang berbeda. Ia merasakan ada sebuah ancaman yang sedang mengincar dirinya.
Entah itu apa.
Kursi-kursi di bis tidak
sepenuh tadi. Kasihan sekali nasib bis ini. lebih banyak yang kosong dibanding
yang terisi. Sempat harapan besar di saat masuk itu musnah, tapi Fani tetap
berusaha optimis. Ia bermain dengan sebaik mungkin. Sebelum itu, ia meminta
kepada kernet untuk mematikan musik yang sedang diputar oleh supir dengan nada
yang sangat sopan.
Tiga menit Fani menghibur
penumpang, atau yang lebih tepatnya mengganggu penumpang yang tidur. Sebab dari
mereka kebanyakan yang sudah pergi ke dunia mimpi.
Pelan-pelan Fani berjalan
melakukan hal yang sama dengan tadi. Menyuguhkan sekantong plastik untuk
meminta keikhlasan rupiah dari penumpang yang peduli. Mulai dari depan semuanya
masih terlihat biasa saja. Sampai pada barisan belakang, seorang laki-laki
dengan topi ala koboy dan kaca mata hitam membuat Fani tak enak hati. Hal yang
membuat Fani bahagia, dia memberikan uang sepuluh ribuan. Namun tatapannya
seolah masih ada sesuatu yang belum selesai. dan itu akan terjadi pada diri
Fani.
Fani kembali duduk dengan
tenang atau yang lebih tepatnya berusaha tenang. Posisinya tepat berada di
belakang laki-laki itu di barisan bagian kanan. Entah mengapa Fani tiba-tiba
memilih tempat duduk itu. Kemudian seorang bapak tua menawarinya kacang seharga
lima ratus rupiah dengan nada sedikit memaksa. Tapi Fani tetap tidak mau.
Bis berhenti sejenak,
tampaknya ada penumpang yang ingin ikut bis itu menuju suatu tempat. Fani
bersikap biasa saja. Dia masih belum ingin turun di situ. Seorang wanita
sekitar berumur dua puluh tahun berkerudung hitam, baju coklat, dan dengan
bawahan hitam pula masuk. Tas yang dibawanya tampak berat. Terlihat dari
keringat dan mimik wajahnya yang bersungguh-sungguh untuk mengangkatnya. Dengan
cepat kernet membantunya meletakkan barang dan dia duduk di depan orang
misterius tadi. Kuharap laki-laki itu tidak berbuat jahat pada wanita itu.
“Terima kasih,” ucap wanita itu setelah menerima kembalian dari kernet.
Bis kembali berjalan seperti biasa.
Jika diperhatikan dengan
seksama, perempuan itu tampaknya adalah seorang mahasiswi semester tiga yang
hendak pulang kampung. Fani yang masih tergolong kanak-kanak tentu tidak sesuai
dengan perempuan itu. Ia butuh tambahan umur sekitar sepuluh atau sebelas tahun
lagi untuk bisa mendekati perempuan itu. Kemudian menjadikannya teman hidup.
Di dekat supir, si kernet
duduk manis sambil menikmati gorengan yang ia beli saat bis berhenti sejenak.
Fani yang melihat itu langsung direspon oleh perutnya. Tapi lagi-lagi dia harus
menahan hasrat itu karena masih ada yang lebih penting. Yaitu makanan pokok.
##@@##
Jauh di sana, Ibu telah
sampai di rumah dari tempatnya mengemis. Sedang bapak masih berada di tempat
biasa dia mengemis. Meskipun begitu, keluarga dengan ekonomi yang sangat
memprihatinkan ini masih bisa tetap bahagia. Ini bukti bahwa bahagia tidak
sepenuhnya datang dari kecukupan harta, tingginya jabatan, dan hal-hal yang
berbau duniawi. Mereka masih bisa tersenyum dengan keadaan yang sangat sulit.
“Fani kok belum datang ya?” tanya Ibu pada dirinya sendiri.
“Ah, mungkin masih bermain di sungai,” jawabnya sendiri berpikir
positif.
Fani sejak dulu memang
sering bermain di sungai. Jika seandainya jam pulang dia belum datang, maka
sembian puluh persen dapat dipastikan dia berada di sungai. Kadang bersama
dengan teman-temannya yang lain, dan kadang pula sendirian. Memandang ikan-ikan
yang berenang dengan begitu indahnya di antara aliran air yang dapat membasuh
kenangan.
Ibu memutuskan untuk pergi
ke dapur. Dapur yang didesain oleh tangan bapak sendiri dengan bahan sederhana
dan ala kadarnya. Hanya ada batu, wajan, dan beberapa kayu hasil tebangan bapak
di sore hari. Masakan yang paling sering dimunculkan hanya tahu dan tempe
goreng. Sebab hanya itu yang mampu dibeli dan simple dalam pembuatannya.
Dilengkapi dengan sambal terasi yang mampu menggoyang mulut. Maka makan pun
akan menjadi sangat nikmat.
Satu jam berlalu.
Bapak akhirnya datang
membawa uang seribuan lengkap dengan keringat akibat jalan kaki di siang hari.
Daerah jakarta memang akan sangat menyiksa di waktu siang. Cuaca akan membakar
kulit hingga masak bahkan gosong. Tapi hal tersebut sudah biasa bagi keluarga
Fani, hingga semuanya sudah tak terasa lagi.
Ibu menyambut bapak dengan
senyum yang sangat indah. Bapak langsung mengecup kening ibu dengan penuh
perasaan. Sungguh moment yang sangat istimewa dimiliki oleh mereka yang sudah
resmi menikah atas dasar cinta yang sesungguhnya.
“Fani ke mana dek?” tanya pada
Ibu dengan nada halus.
“Kurang tahu ya pak, jam segini biasanya sudah pulang, paling masih main
di sungai,” jawab Ibu tak kalah halus.
Sungguh keberanian yang
sangat luar biasa dimiliki oleh Bapak dan Ibu yang membiarkan anaknya mandiri
di usia yang masih kanak-kanak dan perlu pengawasan ketat dari orang tua.
Sungguh karena himpitan ekonomi dan tidak adanya orang atas yang sadar atas
kemelaratan mereka membuat semuanya harus seperti itu.
“Ya sudah aku istirahat dulu,” kata Bapak yang kemudan berdiri.
“Oh, enggeh,”
##@@##
Bis berhenti. Fani turun dan
orang misterius itu juga ikut turun. Perasaan tidak enak mulai mendatangi Fani.
Meski masih kecil, ia dapat merasakannya. Fani sudah tak mengenal ia berada di
lingkungan mana. Rupanya dia terlalu menikmati perjalanan hingga lupa kembali.
Dia membuntuti dari
belakang, Fani semakin mempercepat langkah. Hingga akhirnya Fani berubah
berlari. Dan orang itu juga ikut berlari. Ternyata benar, dia memang mengincar
Fani.
“Hey nak, tunggu,” kata orang itu sambil berlari.
Fani tak menghiraukan. Ia
semakin mempercepat langkah. Tapi sayang, cengkeraman laki-laki itu berhasil
menangkap Fani.
“Lepaskan!” berontak Fani sambil mengayun-ayunkan tangannya dengan kuat.
“Hey, dengarkan saya dulu, saya bukan orang jahat,” laki-laki itu
berusaha menjelaskan siapa dirinya.
“Tidak pak, jangan bunuh saya. Tolong.. Tolong..,” jerit Fani.
Laki-laki itu dengan cepat
langsung mendekap mulut Fani dan menggendongnya dengan paksa ke tempat yang
aman. Melewati jalanan sempit, pohon-pohon lebat, dan bekas hujan semalam yang
bercipratan ke mana-mana.
“Aku bisa membantumu, setelah mendengar kamu menyanyi tadi, tampaknya
kamu punya potensi yag sangat kuat. Lelaki itu memegang dua pundak Fani meyakinkan.
“Aku punya dapur rekaman, dan kebetulan saya lagi orang untuk mengisi
itu. Dan tampaknya kamu cocok untuk itu,”
Fani yang dari tadi ngoceh akhirnya berhenti tiba-tiba.
##@@##n
Waktu dengan cepat berlalu.
Fani akhirnya menjadi bintang setelah melewati beberapa fase yang sulit.
Pertama, dia telah membuat khawatir kedua orang tua
karena tidak kembali ke rumah selama sebulan. Dalam waktu yang cukup lama itu,
Fani dikabarkan sudah hilang atau meninggal diterkam kehidupan.
Kedua, sekembalinya ke rumah, dia tidak mendapat restu
untuk melanjutkan karier menjadi seorang penyanyi yang biasa nongol di TV
dengan penampilan yang sangat mempesona.
Ketiga, dia harus terus berlatih menjadi seperti apa
yang diinginkan pihak produsen dengan diam-diam.
Keempat, waktu tidak dengan mudah mengubah hati orang
tua Fani untuk bisa mengubah keputusan.
Dan yang terakhir dia harus terus menjaga nama baik
keluarga. Karena sebagai apapun dan dalam keadaan bagaimana pun, keluarga Fani
menekankan bahwa jangan sampai merusak kehormatan.
Dengan penuh kesabaran tantangan itu berhasil Fani lalui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar