Tanggal tersebut adalah
tanggal duka yang dialami desaku. Salah satu seorang tokoh masyarakat yang
sangat disegani dan diakui keilmuannya harus pergi menghadap Tuhan. Peristiwa
itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB saat orang-orang sedang sibuk siap-siap
pergi ke tempat kerja masing-masing. Tiba-tiba ada pengumuman dari masjid.
“Berita duka, diberitahukan kepada seluruh warga desa sukun, bahwasanya
KH. M. Muslim telah meninggal dunia. Demikian berita duka ini, atas
perhatiannya terima kasih,”
Suara itu jelas-jelas
memukul seluruh warga desa sukun yang kental dengan agama. Tokoh yang pro
rakyat, mengayomi rakyat, dan selalu menjadi solusi saat terjadi permasalahan
terutama tentang agama kini telah tiada. Terngiang petuah-petuah yang beliau
sampaikan pada suatu subuh lalu.
“Perlu diingat bersama, bahwa hidup hanya satu kali
terjadi. Gunakanlah waktu kalian semua untuk hal-hal yang baik dan mengandung
manfaat. Jangan sampai satu detik berlalu dengan kekosongan atau hal yang
membawa kalian pada kerugian,” dawuh beliau kala itu.
Di desaku, setiap selesai
shalat subuh berjamaah diadakan kuliah tujuh menit yang dipangku langsung oleh
beliau: KH. M. Muslim yang menjadi pengasuh pondok pesantren Al-hidayah di desa
kami. Meski pesantren tersebut kecil, tapi jangan salah, lulusan yang
dilahirkan dari rahim Al-Hidayah banyak yang mampu menyabet beasiswa ke luar
negeri. Ini bukti bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh maju tidaknya
suatu instansi. Tapi ditentukan oleh masing-masing diri.
Bertepatan pada hari jumat,
hari paling agung dalam ajaran islam di antara hari-hari yang lain. Jika
kristen mempunyai hari minggu, maka orang islam punya hari jumat. Hal tersebut
sudah dijelaskan dalam …. Entah
bagaimana bunyinya. Katanya, jika ada orang yang meninggal pada hari jumat,
maka dia termasuk orang-orang yang husnul khotimah. Dan aku yakin itu.
Tidak hanya warga desa sukun
yang berkabung saat itu, tapi alam juga merasakan kepergian orang yang sangat
alim ilmunya dan bijak dalam mengambil keputusan. Langit mulai mendung, angin
mulai membesar, menggugurkan daun-daun dan menghancurkan rumah yang hanya
terbuat dari triplek, dan suara-suara petir yang bersahut-sahutan. Aku dan
warga sekitar merasakan ketakutan. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk
melakukan prosesi penguburan.
Sebelum itu, KH. M. Muslim
memang dikabarkan dalam keadaan sakit. Umur beliau yang sudah masuk 70 tahun
tentu sudah bukan angka yang kecil lagi. Pengalaman hidupnya sejak zaman
belanda, orde lama, orde baru, hingga millenial jangan lagi ditanyakan. Beliau
sudah paham betul bagaimana dinamika kehidupan yang begitu rumit.
Menurut salah satu cerita,
beliau juga termasuk salah satu pejuang yang gagah berani melawan penjajah
dengan bambu runcing dan doa-doa. Kacang hijau mentah yang dilempar bisa
menjadi tentara yang tak mampu dikalahkan dengan peluru sebesar apapun. Sungguh
kekuatan yang benar-benar diluar nalar.
Suasana pondok pesantren
kebanjiran orang-orang yang terdiri dari santri, alumni, simpatisan, dan
beberapa kyai dari berbagai pelosok Negeri. Ini merupakan bukti bahwa beliau
memang orang yang diakui kealimannya meskipun orang alim tak pernah merasa
alim.
Tiga putra beliau yang
sedang menimba ilmu di tiga pondok peantren berbeda langsung pulang semua.
Terlihat raut kesedihan terpancar dari wajah mereka.
##@@##
Dalam kematiannya, KH.
Muslim diberikan keutamaan oleh Tuhan untuk bisa melihat berbagai fenomena di
alam yang berbeda. Jalan-jalan ke tempat yang tak dimiliki oleh dunia. Mulai
dari segi keindahannya hingga keburukannya.
“Wahai Malaikat, siapakah dia itu?” tanya KH. Muslim sambil menunjuk
orang yang memiliki perut besar sebesar karung ber ton-ton.
“Dia adalah manusia yang pada masa hidup di dunia suka
memakan harta riba, hasil curian, dan memanfaatkan anak yatim demi kepentingannya
sendiri. Maka jadilah perutnya itu besar yang di dalamnya berisi hewan melata
dan tak pernah berhenti menggigit seluruh sistem tubuhnya di dalam,”
KH. Muslim yang mendengar
itu hanya merasa iba pada orang itu. Padahal petunjuk telah diturunkan tapi masih
saja belum mengerti bagaimana cara menjalankan pikiran demi kehidupan. Berbeda
jika petunjuk tidak diturunkan.
Keduanya kembali berjalan.
Melewati api yang lebih panas seribu kali dari api dunia. Jika seandainya api
itu sepercik saja terkena pada benda, maka benda itu akan langsung hancur
seketika. Tak peduli benda itu seberat apapun, sebesar apapun, bahkan sekebal
apapun. Hal itu dari saking ganasnya api yang ada di alam sana.
Yang kedua, KH. Muslim
menemui orang yang duduk di taman bersama orang-orang dengan wajah bersinar
seperti mentari di pagi hari yang menyejukkan semesta. Tak terlihat sama sekali
rasa duka yang bersemayam di wajah mereka. Sebab dalam hatinya sudah terpatri
nama Tuhan dengan segala keagungannya.
“Itu siapa?” tanyanya lagi.
“Mereka adalah orang yang suka diskusi tentang islam,
saling berbagi ilmu, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak
ada rasa sok paling pintar di antara mereka. sebab mereka sadar, bahwa hanya
Tuhan yang maha mengetahui,” jawab sang malaikat.
KH. Muslim terharu
mendengarnya. Betapa indahnya menjadi salah satu di antara mereka atau orang
yang dekat dengan mereka. Menjalani hidup dengan sebaik mungkin dan terus
berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Selama perjalanan KH. Muslim
mendapat banyak cerita dari malaikat tentang Tuhan yang maha kuasa, setan yang
terlaknat, dan bagaimana manusia yang selalu seenaknya sendiri melakukan
sesuatu. Tetangga yang menjadi bahan ghibah, Kyai yang dinilai tidak becus
mengurus santri, hingga pejabat negara yang dikira tidak pro rakyat selama
menjabat.
KH. Muslim mendengarkan
dengan seksama. Semakin lama persoalan kehidupan semakin kompleks dan sulit
dipecahkan. Ingin rasanya ia kembali ke dunia dan memperbaiki semuanya dengan
sungguh-sungguh. Tak peduli apakah nantinya ada yang mendukung atau tidak. Yang
jelas, ini semua demi kebaikan kehidupan.
##@@##
Beras telah menjadi nasi.
Telur mentah telah masak dan ditumpuk di satu wadah. Dan teh telah dituangkan
ke gelas kecil dengan suhu panas yang bisa membuat lidah mati rasa jika
langsung diminum. Golongan ibu-ibu sibuk melakukan pekerjaan dapur yang tak
mampu ditangani oleh golongan laki-laki. Padahal dari segi kekuatan fisik,
laki-laki menang.
“Silahkan,”
“Monggo,”
Keluarga yang dikenai
musibah hanya bisa menangis meratapi kepergian beliau selamanya. Tak akan ada
lagi petuah-petuah bijak yang menyentuh hati paling dalam. Semuanya hanya
menyisakan kenangan. Kenangan yang takkan pernah terlupakan. Mulai dari gaya
bicaranya yang pelan, selera bercandanya yang sopan, hingga rasa kepedulian
yang tinggi meski terhdap rakyat kecil.
Pernah suatu ketika, beliau
pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki tanpa bekal apapun. Beliau memang
selalu seperti itu meski di hari biasa. Kebiasaan dari aktivitas tirakat telah
mengakar dalam diri beliau. Di jalan, beliau bertemu dengan seorang pengemis
yang mengaku tidak makan tiga hari. Logikanya, jika orang sudah tidak makan
tiga hari pasti dia akan mati. Tapi dia tidak dan beliau percaya akan itu.
Beliau dengan ikhlas bekerja
di suatu tempat untuk mendapatkan uang yang nantinya akan dikasihkan pada
pengemis itu. Pengemis yang masih tidak jelas latar belakangnya: bisa jadi
seorang penjahat, sebatang kara, atau bahkan sebenarnya orang kaya yang tidak
ada kerjaan.
“Angkat itu, cepat!”
“Ini kerja cuma segitu, lebih semangat lagi dong!”
Bentakan demi bentakan beiau
terima demi mendapatkan gaji sekaligus bonus bagi karyawan yang sangat rajin.
Dan beliau berhasil mendapatkannya.
“Ini pak sekedarnya, semoga bisa membantu kehidupan bapak,” kata beliau.
“Ya allah, terima kasih nak, kamu memang baik,” balas pengamen itu
dengan senyum yang agak miring.
Beliau pun ikut tersenyum.
Tidak ada rasa pamer atau mencari muka dari mata beliau. Sepenuhnya ikhlas
tanpa ada embel-embel apapun.
Masyarakat sekitar mulai
berdatangan dari segala arah. Acara tahlilan hari pertama ini ditaruh di
halaman depan Pondok Pesantren Al-Hidayah yang cukup luas. Ditambah lahan
parkir yang berada di sampingnya. Bahkan tak cukup segitu, melimpahnya
orang-orang yang datang hingga ke pinggir jalan dan membuat jalanan macet.
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illallah,”
“Lailaha illaallah,”
Alunan dzikir menggema
menembus langit ke tujuh, samudera terdalam, ujung dunia, bahkan ke angkasa
raya yang tak pernah dijumpai manusia. kesedihan benar-benar dirasakan oleh
keluarga, santri, alumni, dan masyarakat sekitar.
Ayahku yang juga santri
beliau berada di barisan paling depan dalam prosesi penguburan. Mulai dari
proses penggalian kubur, mendirikan terop, hingga persiapan-persiapan lain yang
tak bisa ditangani sendiri.
Pas ketika prosesi
memandikan mayit, Ayahku juga ada di sana untuk membasuh seluruh tubuh beliau.
Dibantu oleh pihak keluarga yang mengerti bagaimana cara memandikan mayit. Satu
persatu organ tubuh beliau basah oleh air yang mengalir dari selang yang menempel
di tempat wudhu mahasantri. Tiba-tiba hal aneh terjadi. Terpancar sinar dari wajah
beliau yang membuat mata kami yang memandikan silau.
“ALLAHU AKBAR” Seru kami bersamaan.
Ini adalah bukti bahwa
memang ada perbedaan antara orang biasa dan orang alim di sisi-NYA. Sebagian
dari kami yang tak sanggup dengan cahaya itu keluar dari tenda mencari
perlindungan. Tapi sebelum semuanya pergi, sinar itu meredup dan kami
melanjutkan pekerjaan. Jika orang mati pada biasanya terlihat kurus dan lemas,
beliau masih tetap berisi seperti biasa orang yang sangat sehat.
Lanjut pada sesi mengkafani,
di sini juga terjadi hal aneh yang berada di luar nalar manusia. Kain kafan
yang berada di bagian bawah dan hendak dililitkan ke mayit, tiba-tiba sekektika
terbungkus dengan sendirinya. Nyaris dari yang mengurus jenazah tidak melakukan
apapun.
“ALLAHU AKBAR,”
Allah telah menunjukkan
kepada orang-orang bahwa ini adalah orang pilihan yang memperoleh keistimewaan.
Kami yang menyaksikan itu semua merasa takjub dan mengucapkan kalimat thayyibah
beberapa kali. Bahkan, dari sakingnya kaget ada yang sampai pingsan karena
tidak kuat melihat keadaan.
Setelah itu jenazah langsung
dikeluarkan dari tenda kemudian diikuti penutupan keranda. Terlihat jelas isak
tangis keluarga yang ditinggalkan. Keranda kemudian ditutup dengan kain hijau
dengan kalimat lailaha illaallah font arab. Ditambah kembang-kembang yang
baunya menyengat hidung.
Kuburan telah siap. Sejak
berita meninggalnya beliau sampai ke telinga warga, semuanya berbondong-bondong
untuk menggali kubur, terutama bagi kalangan laki-laki yang memang ahli dalam hal
percangkulan. Dan semuanya didominasi oleh kalangan menengah ke bawah.
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB.
Gerbang pondok terbuka lebar
demi memberi jalan pada sang guru yang telah tak bernafas lagi. Tak hanya yang
bernyawa yang berduka, bahkan benda mati pun juga ikut berduka. Gerbang, tiang,
dan beberapa batu yang beliau lewati tampak sangat merasa kehilangan. Sungguh
kehilangan yang sempurna.
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illaallah,”
##@@##
Sepanjang perjalanan hanya
kalimat itu yang terdengar. Aku berada di belakang kiri dari keranda.
Teman-temanku juga ikut meramaikan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan
terkahir, karena kami semua adalah santrinya.
Orang-orang yang tak
mengerti di jalan umum menatap kami dengan penuh tanda tanya. Seolah lahir dari
otak mereka berbagai macam interpretasi tentang apa yang baru saja terjadi.
Tapi biarkanlah, itu bukan hal istimewa yang patut dipertimbangkan. Laju kami
tetap tak bertambah dan tak pula dikurangi.
Sebelum masuk masjid, beliau
telah menghilang terlebih dahulu. Kegaduhan pun terjadi dengan berbagai macam
ekspresi yang berangkat dari hati. Ada yang biasa saja, ada yang pingsan, dan
ada yang bertanya-tanya. Bahkan ada yang bahagia, yaitu mereka yang mengerti
arti cinta yang hakiki.
Dari sini, semua orang masih
belum mengenal siapa sebenarnya aku yang mengantarkan seorang kyai besar pada
kejadian yang dinamakan kematian. Aku tak ingin membuka sebenarnya, tapi apa
boleh buat, ini adalah akhir dari cerita. Bahwasanya aku adalah kematian yang
dijanjikan oleh seorang anak dan ditakdirkan untuk mengantarkan kematiannya
sendiri. KH. M. Muslim.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar