Minggu, 05 Januari 2020

PERJANANAN RAHASIA


10 Juli 2006.
Tanggal tersebut adalah tanggal duka yang dialami desaku. Salah satu seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani dan diakui keilmuannya harus pergi menghadap Tuhan. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB saat orang-orang sedang sibuk siap-siap pergi ke tempat kerja masing-masing. Tiba-tiba ada pengumuman dari masjid.
“Berita duka, diberitahukan kepada seluruh warga desa sukun, bahwasanya KH. M. Muslim telah meninggal dunia. Demikian berita duka ini, atas perhatiannya terima kasih,”
Suara itu jelas-jelas memukul seluruh warga desa sukun yang kental dengan agama. Tokoh yang pro rakyat, mengayomi rakyat, dan selalu menjadi solusi saat terjadi permasalahan terutama tentang agama kini telah tiada. Terngiang petuah-petuah yang beliau sampaikan pada suatu subuh lalu.
“Perlu diingat bersama, bahwa hidup hanya satu kali terjadi. Gunakanlah waktu kalian semua untuk hal-hal yang baik dan mengandung manfaat. Jangan sampai satu detik berlalu dengan kekosongan atau hal yang membawa kalian pada kerugian,” dawuh beliau kala itu.
Di desaku, setiap selesai shalat subuh berjamaah diadakan kuliah tujuh menit yang dipangku langsung oleh beliau: KH. M. Muslim yang menjadi pengasuh pondok pesantren Al-hidayah di desa kami. Meski pesantren tersebut kecil, tapi jangan salah, lulusan yang dilahirkan dari rahim Al-Hidayah banyak yang mampu menyabet beasiswa ke luar negeri. Ini bukti bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh maju tidaknya suatu instansi. Tapi ditentukan oleh masing-masing diri.
Bertepatan pada hari jumat, hari paling agung dalam ajaran islam di antara hari-hari yang lain. Jika kristen mempunyai hari minggu, maka orang islam punya hari jumat. Hal tersebut sudah dijelaskan  dalam …. Entah bagaimana bunyinya. Katanya, jika ada orang yang meninggal pada hari jumat, maka dia termasuk orang-orang yang husnul khotimah. Dan aku yakin itu.
Tidak hanya warga desa sukun yang berkabung saat itu, tapi alam juga merasakan kepergian orang yang sangat alim ilmunya dan bijak dalam mengambil keputusan. Langit mulai mendung, angin mulai membesar, menggugurkan daun-daun dan menghancurkan rumah yang hanya terbuat dari triplek, dan suara-suara petir yang bersahut-sahutan. Aku dan warga sekitar merasakan ketakutan. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk melakukan prosesi penguburan.
Sebelum itu, KH. M. Muslim memang dikabarkan dalam keadaan sakit. Umur beliau yang sudah masuk 70 tahun tentu sudah bukan angka yang kecil lagi. Pengalaman hidupnya sejak zaman belanda, orde lama, orde baru, hingga millenial jangan lagi ditanyakan. Beliau sudah paham betul bagaimana dinamika kehidupan yang begitu rumit.
Menurut salah satu cerita, beliau juga termasuk salah satu pejuang yang gagah berani melawan penjajah dengan bambu runcing dan doa-doa. Kacang hijau mentah yang dilempar bisa menjadi tentara yang tak mampu dikalahkan dengan peluru sebesar apapun. Sungguh kekuatan yang benar-benar diluar nalar.
Suasana pondok pesantren kebanjiran orang-orang yang terdiri dari santri, alumni, simpatisan, dan beberapa kyai dari berbagai pelosok Negeri. Ini merupakan bukti bahwa beliau memang orang yang diakui kealimannya meskipun orang alim tak pernah merasa alim.
Tiga putra beliau yang sedang menimba ilmu di tiga pondok peantren berbeda langsung pulang semua. Terlihat raut kesedihan terpancar dari wajah mereka.
##@@##
Dalam kematiannya, KH. Muslim diberikan keutamaan oleh Tuhan untuk bisa melihat berbagai fenomena di alam yang berbeda. Jalan-jalan ke tempat yang tak dimiliki oleh dunia. Mulai dari segi keindahannya hingga keburukannya.
“Wahai Malaikat, siapakah dia itu?” tanya KH. Muslim sambil menunjuk orang yang memiliki perut besar sebesar karung ber ton-ton.
“Dia adalah manusia yang pada masa hidup di dunia suka memakan harta riba, hasil curian, dan memanfaatkan anak yatim demi kepentingannya sendiri. Maka jadilah perutnya itu besar yang di dalamnya berisi hewan melata dan tak pernah berhenti menggigit seluruh sistem tubuhnya di dalam,”
KH. Muslim yang mendengar itu hanya merasa iba pada orang itu. Padahal petunjuk telah diturunkan tapi masih saja belum mengerti bagaimana cara menjalankan pikiran demi kehidupan. Berbeda jika petunjuk tidak diturunkan.
Keduanya kembali berjalan. Melewati api yang lebih panas seribu kali dari api dunia. Jika seandainya api itu sepercik saja terkena pada benda, maka benda itu akan langsung hancur seketika. Tak peduli benda itu seberat apapun, sebesar apapun, bahkan sekebal apapun. Hal itu dari saking ganasnya api yang ada di alam sana.
Yang kedua, KH. Muslim menemui orang yang duduk di taman bersama orang-orang dengan wajah bersinar seperti mentari di pagi hari yang menyejukkan semesta. Tak terlihat sama sekali rasa duka yang bersemayam di wajah mereka. Sebab dalam hatinya sudah terpatri nama Tuhan dengan segala keagungannya.
“Itu siapa?” tanyanya lagi.
“Mereka adalah orang yang suka diskusi tentang islam, saling berbagi ilmu, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada rasa sok paling pintar di antara mereka. sebab mereka sadar, bahwa hanya Tuhan yang maha mengetahui,” jawab sang malaikat.
KH. Muslim terharu mendengarnya. Betapa indahnya menjadi salah satu di antara mereka atau orang yang dekat dengan mereka. Menjalani hidup dengan sebaik mungkin dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Selama perjalanan KH. Muslim mendapat banyak cerita dari malaikat tentang Tuhan yang maha kuasa, setan yang terlaknat, dan bagaimana manusia yang selalu seenaknya sendiri melakukan sesuatu. Tetangga yang menjadi bahan ghibah, Kyai yang dinilai tidak becus mengurus santri, hingga pejabat negara yang dikira tidak pro rakyat selama menjabat.
KH. Muslim mendengarkan dengan seksama. Semakin lama persoalan kehidupan semakin kompleks dan sulit dipecahkan. Ingin rasanya ia kembali ke dunia dan memperbaiki semuanya dengan sungguh-sungguh. Tak peduli apakah nantinya ada yang mendukung atau tidak. Yang jelas, ini semua demi kebaikan kehidupan.
##@@##
Beras telah menjadi nasi. Telur mentah telah masak dan ditumpuk di satu wadah. Dan teh telah dituangkan ke gelas kecil dengan suhu panas yang bisa membuat lidah mati rasa jika langsung diminum. Golongan ibu-ibu sibuk melakukan pekerjaan dapur yang tak mampu ditangani oleh golongan laki-laki. Padahal dari segi kekuatan fisik, laki-laki menang.
“Silahkan,”
“Monggo,”
Keluarga yang dikenai musibah hanya bisa menangis meratapi kepergian beliau selamanya. Tak akan ada lagi petuah-petuah bijak yang menyentuh hati paling dalam. Semuanya hanya menyisakan kenangan. Kenangan yang takkan pernah terlupakan. Mulai dari gaya bicaranya yang pelan, selera bercandanya yang sopan, hingga rasa kepedulian yang tinggi meski terhdap rakyat kecil.
Pernah suatu ketika, beliau pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki tanpa bekal apapun. Beliau memang selalu seperti itu meski di hari biasa. Kebiasaan dari aktivitas tirakat telah mengakar dalam diri beliau. Di jalan, beliau bertemu dengan seorang pengemis yang mengaku tidak makan tiga hari. Logikanya, jika orang sudah tidak makan tiga hari pasti dia akan mati. Tapi dia tidak dan beliau percaya akan itu.
Beliau dengan ikhlas bekerja di suatu tempat untuk mendapatkan uang yang nantinya akan dikasihkan pada pengemis itu. Pengemis yang masih tidak jelas latar belakangnya: bisa jadi seorang penjahat, sebatang kara, atau bahkan sebenarnya orang kaya yang tidak ada kerjaan.
“Angkat itu, cepat!”
“Ini kerja cuma segitu, lebih semangat lagi dong!”
Bentakan demi bentakan beiau terima demi mendapatkan gaji sekaligus bonus bagi karyawan yang sangat rajin. Dan beliau berhasil mendapatkannya.
“Ini pak sekedarnya, semoga bisa membantu kehidupan bapak,” kata beliau.
“Ya allah, terima kasih nak, kamu memang baik,” balas pengamen itu dengan senyum yang agak miring.
Beliau pun ikut tersenyum. Tidak ada rasa pamer atau mencari muka dari mata beliau. Sepenuhnya ikhlas tanpa ada embel-embel apapun.
Masyarakat sekitar mulai berdatangan dari segala arah. Acara tahlilan hari pertama ini ditaruh di halaman depan Pondok Pesantren Al-Hidayah yang cukup luas. Ditambah lahan parkir yang berada di sampingnya. Bahkan tak cukup segitu, melimpahnya orang-orang yang datang hingga ke pinggir jalan dan membuat jalanan macet.
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illallah,”
“Lailaha illaallah,”
Alunan dzikir menggema menembus langit ke tujuh, samudera terdalam, ujung dunia, bahkan ke angkasa raya yang tak pernah dijumpai manusia. kesedihan benar-benar dirasakan oleh keluarga, santri, alumni, dan masyarakat sekitar.
Ayahku yang juga santri beliau berada di barisan paling depan dalam prosesi penguburan. Mulai dari proses penggalian kubur, mendirikan terop, hingga persiapan-persiapan lain yang tak bisa ditangani sendiri.
Pas ketika prosesi memandikan mayit, Ayahku juga ada di sana untuk membasuh seluruh tubuh beliau. Dibantu oleh pihak keluarga yang mengerti bagaimana cara memandikan mayit. Satu persatu organ tubuh beliau basah oleh air yang mengalir dari selang yang menempel di tempat wudhu mahasantri. Tiba-tiba hal aneh terjadi. Terpancar sinar dari wajah beliau yang membuat mata kami yang memandikan silau.
“ALLAHU AKBAR” Seru kami bersamaan.
Ini adalah bukti bahwa memang ada perbedaan antara orang biasa dan orang alim di sisi-NYA. Sebagian dari kami yang tak sanggup dengan cahaya itu keluar dari tenda mencari perlindungan. Tapi sebelum semuanya pergi, sinar itu meredup dan kami melanjutkan pekerjaan. Jika orang mati pada biasanya terlihat kurus dan lemas, beliau masih tetap berisi seperti biasa orang yang sangat sehat.
Lanjut pada sesi mengkafani, di sini juga terjadi hal aneh yang berada di luar nalar manusia. Kain kafan yang berada di bagian bawah dan hendak dililitkan ke mayit, tiba-tiba sekektika terbungkus dengan sendirinya. Nyaris dari yang mengurus jenazah tidak melakukan apapun.
“ALLAHU AKBAR,”
Allah telah menunjukkan kepada orang-orang bahwa ini adalah orang pilihan yang memperoleh keistimewaan. Kami yang menyaksikan itu semua merasa takjub dan mengucapkan kalimat thayyibah beberapa kali. Bahkan, dari sakingnya kaget ada yang sampai pingsan karena tidak kuat melihat keadaan.
Setelah itu jenazah langsung dikeluarkan dari tenda kemudian diikuti penutupan keranda. Terlihat jelas isak tangis keluarga yang ditinggalkan. Keranda kemudian ditutup dengan kain hijau dengan kalimat lailaha illaallah font arab. Ditambah kembang-kembang yang baunya menyengat hidung.
Kuburan telah siap. Sejak berita meninggalnya beliau sampai ke telinga warga, semuanya berbondong-bondong untuk menggali kubur, terutama bagi kalangan laki-laki yang memang ahli dalam hal percangkulan. Dan semuanya didominasi oleh kalangan menengah ke bawah.
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB.
Gerbang pondok terbuka lebar demi memberi jalan pada sang guru yang telah tak bernafas lagi. Tak hanya yang bernyawa yang berduka, bahkan benda mati pun juga ikut berduka. Gerbang, tiang, dan beberapa batu yang beliau lewati tampak sangat merasa kehilangan. Sungguh kehilangan yang sempurna.
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illaallah,”
“Lailaha illaallah,”
##@@##
Sepanjang perjalanan hanya kalimat itu yang terdengar. Aku berada di belakang kiri dari keranda. Teman-temanku juga ikut meramaikan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terkahir, karena kami semua adalah santrinya.
Orang-orang yang tak mengerti di jalan umum menatap kami dengan penuh tanda tanya. Seolah lahir dari otak mereka berbagai macam interpretasi tentang apa yang baru saja terjadi. Tapi biarkanlah, itu bukan hal istimewa yang patut dipertimbangkan. Laju kami tetap tak bertambah dan tak pula dikurangi.
Sebelum masuk masjid, beliau telah menghilang terlebih dahulu. Kegaduhan pun terjadi dengan berbagai macam ekspresi yang berangkat dari hati. Ada yang biasa saja, ada yang pingsan, dan ada yang bertanya-tanya. Bahkan ada yang bahagia, yaitu mereka yang mengerti arti cinta yang hakiki.
Dari sini, semua orang masih belum mengenal siapa sebenarnya aku yang mengantarkan seorang kyai besar pada kejadian yang dinamakan kematian. Aku tak ingin membuka sebenarnya, tapi apa boleh buat, ini adalah akhir dari cerita. Bahwasanya aku adalah kematian yang dijanjikan oleh seorang anak dan ditakdirkan untuk mengantarkan kematiannya sendiri. KH. M. Muslim.

Tidak ada komentar: