Di dalam masyarakat,
terdapat beberapa acara yang dilikuti dengan penyertaan bunga. Hal ini sebagai
bentuk kebahagiaan yang sangat tak terkira. Mulai dari bunga melati, mawar,
anggrek, hingga bunga-bunga desa yang masih belum memiliki nama. Semuanya
bercampur jadi satu dalam sebuah wadah, ada yang dijadikan kalung, dan ada yang
dijadikan sesajen. Tergantung dalam hal apa acaranya.
Dan sekarang, Futna
mendatangi sebuah pesta pernikahan salah satu temannya yang berada di desa
sebelah. Kawan akrabnya sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Aliyah itu akhirnya
memutuskan untuk mengakhiri masa perawannya. Selain dari faktor ekonomi yang
kurang mampu meneruskan kuliah, lagi pula dia adalah seorang perempuan.
Setinggi apapun menempuh jenjang pendidikan, tugas utamanya nanti pasti kasur,
sumur, dan dapur. Sebagai anak penurut, teman Futna langsung nurut saja ketika
mau dijodohkan dengan lelaki pilihan bapak. Tanpa banyak pertimbangan.
Di samping kanan pintu masuk
rumah, terdapat beberapa hiasan bunga yang memanjakan mata dan hidung. Aromanya
yang sangat harum membuat orang-orang betah di sana. Jangan salah, ini adalah
momen kebahagiaan yang hanya satu kali terjadi dalam hidup, maka harus
dimaksimalkan.
“Masyaallah, sungguh cantik kamu Del,” Futna memegang untaian bungan
yang melilit di rambut Dela.
“Halah, masih cantikan kamu Fut. Buktinya, pas Aliyah lebih banyak yang
naksir kamu ketimbang aku,” Dela membalas sambil diikuti tawa renyah dari
keduanya.
Sebagai keluarga sederhana,
tentu juga tidak baik jika menghabiskan harta dalam satu kali pakai. Masih banyak
kebutuhan masa depan yang lebih penting dari pada hura-hura.
Akad telah selesai
dilaksanakan. Rentetan acara yang dilaksanakan bisa tergolong semi modern
ketimbang pernikahan ala bapak-ibu kita yang hanya akad, ceramah, kemudian
resepsi. Di sini, masih ada sesi pembacaan puisi, nyanyi bareng, kemudian
seneng-seneng ala muda-mudi kekinian yang tentu tidak bertentangan dengan
budaya setempat.
Dari kedua mempelai langsung
mengambil posisi di …. Tamu undangan yang terdiri dari teman dekat, kerabat,
tetangga dan guru dari kedua mempelai berbaris menyalami kedua insan yang sudah
halal bercinta sesuai dengan syariat agama. Menjalin kasih sayang dalam bahtera
rumah tangga baru dalam menggapai ridho-NYA.
Meja-meja penuh dengan aneka
makanan dan minuman. Sebagian dibikin sendiri dan sebagian lain langsung
pesenan. Beberapa piring dan gelas kotor pun berjejer di mana-mana.
Dela tak bisa menahan tangis
saat momen sungkem terhadap bapak dan ibunya. Kedua manusia yang telah berhasil
merawatnya, menjaganya, mendidiknya, dan mempertemukan dengan pasangan hidup
yang baik. Sungguh sebuah jasa yang tak bisa ditukar dengan segunung emas,
selembah berlian, dan segala harta ang memenuhi dunia.
“Baik-baik nduk, jadilah istri yang sholehah, yang manut sama suami, dan
mencetak generasi-generasi hebat selanjutnya,” tangis Ibu Dela langsung pecah.
Keduanya berpelukan.
Futna yang menyaksikan dari
kejauhan ikut terharu dengan perpisahan mereka. kabarnya, setelah menikah Dela akan
ikut suaminya merantau ke kota. Hanya beberapa bulan dia akan pulang pada
ibunya. Tentu itu akan menjadi kerinduan yang sangat dahsyat.
##@@##
Setelah para tamu pulang,
kini Futna mendatangi temannya. Suasana haru pun tak bisa dihindari. Keduanya
berpelukan layaknya seorang sahabat yang tak ingin berpisah dalam kondisi
apapun. Tapi apalah daya, hidup memang tidak semuanya sesuai kehendak. Ada
harapan yang terkabul, dan ada pula yang terkubur.
Setelah berbicang cukup
lama, Futna menyerahkan kado dan bunga yang telah ia siapkan sejak dua hari
yang lalu. Meski tidak terlalu mewah, tapi itu akan menjadi sangat berharga
bagi Dela. Sebab persahabatan tidak diukur dengan harta dan merek barang, tapi
diukur dengan kesetiaan tanpa memandang keadaan.
“Jangan lupa undang aku nanti ya,” goda Dela yang menggandeng tangan
suaminya.
“Ah, apaan sih Del,” Futna tersipu malu.
Selisih umur yang tak
terlalu jauh membuat mereka bisa lepas saat berbicara dan bercanda. Tak jarang
keduanya saling berbagi cerita, bahagia, bahkan luka yang menganga. Laki-laki
yang dicintai Dela sejak tiga tahun terakhir ternyata bukan jodohnya. Sekarang
dia menikah dengan orang baru yang dikenalkan oleh sang ibu. Berselang satu
minggu, pernikahan pun langsung digelar.
Sedangkan Futna masih
menyandang status perawan. Hari-harinya dihabiskan di bangku kuliah, kantin,
café, dan beberapa tempat wisata dengan teman-temannya. Berbagai jenis kopi
telah ia teguk, beberapa jenis puisi telah ia ciptakan, dan beberapa jenis
bunga telah ia petik. Kajian tentang kehidupan telah berhasil ia pahami. Hingga
akhirnya ia bertemu dengan laki-laki bernama Fahmi.
Fahmi adalah mahasiswa
jurusan matematika fakultas saintek di UIN Maulana Malik Ibrahim. Wajahnya yang
tampan dan watak humoris membuat dirinya disukai banyak orang. Termasuk
kalangan dosen dan beberapa staf yang sering jual mahal terhadap mahasiswa.
Sering kali ia mendapat jalan pintas ketiak mengurus berkas di jurusan.
Semuanya bermula dari agenda
tak terduga yang diadakan oleh sebagian teman Futna menjelang UAS. Pendakian ke
gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl benar-benar mengubah hidup Futna.
Mulai dari hal kecil hingga besar, hal sederhana hingga rumit, dan hal yang
biasa hingga luar biasa. Semuanya berubah drastis.
Setelah sepakat atas
berbagai hal, Futna dan teman-temannya mulai menyiapkan segala peralatan. Tak
lupa sebelum itu Futna mempelajari apa yang harus disiapkan oleh seorang
pendaki. Sebab bukan tidak mungkin, hal-hal yang sepertinya tidak terjadi
tiba-tiba saja terjadi. Dan hal-hal yang diprediksi tidak ada tiba-tiba saja
datang menghadang. Apapun itu.
Beberapa tugas telah dibagi
rata. Ada yang bertugas mencari kamera, ada yang bertugas mencari tempat sewa
tenda, dan ada yang bertugas menagih uang iuran sesuai dengan kesepakatan.
Semuanya berjalan lancar hingga dua hari untuk persiapan pendakian selesai.
Malam itu, Futna merebahkan
tubuhnya di atas kasur kamar. Ditatapnya langit-langit kamar yang berwarna biru
seperti langit bumi. Pikirannya bertabrakan satu sama lain. Rasa khawatir dan
rasa takut sesekali menghampiri benak Futna. Tapi dengan cepat ia mengusirnya.
Hingga kemudian ia berhasil terpejam dan pergi ke alam mimpi.
##@@##
Ada yang mengatakan bahwa
dengan mendaki kita akan mengetahui bagaimana sebenarnya watak seseorang.
Apakah dia termasuk orang tangguh, gampang mengeluh, atau bahkan bersikap acuh
tak acuh. Semuanya akan tampak di depan mata.
Sebelum memulai pendakian,
Futna dan yang lain berdoa terlebih dahulu. Memohon kepada Tuhan agar diberikan
kelancaran dan keksuksesan mencapai tujuan, yaitu puncak. Sebuah permukaan yang
sangat tinggi meski tak setinggi puisi penyair yang mampu menembus batas dan
membuat batas baru.
“Ok, Bismillah berangkat,” ucap Fuad sebagai ketua rombongan.
Tidak ada Dela di sini.
Sebab Dela kebetulan sedang menjalani tugas penelitian yang tak kunjung selesai
sejak seminggu yang lalu. Dosen memintanya untuk terus fokus dan meminggirkan
semua agneda jalan-jalan yang telah direncanakan. Sungguh sebuah musibah bagi
tersendiri bagi seorang mahasiswa.
Mereka yang sebelumnya ada
yang tidak saling mengenal, kini sudah saling mengenal secara keseluruhan.
Meski hanya sedikit, tapi semua itu akan berkembang seiring langkah yang terus
naik meanggung berat badan. Fahmi yang mempunyai tubuh agak kecil tetap kuat
membawa tas besar yang sangat berat. Tidak terlihat raut mengeluh sedikit pun
di wajahnya.
“Tunggu bentar mas,” Futna mulai ngos-ngosan.
Fahmi yang berada di posisi
paling depan kemudian berhenti. Menunggu Futna yang tampaknya sudah dilanda
kelelahan. Tanpa sengaja, Fahmi menemukan bunga indah yang sebelumnya tak
pernah ia temui di dataran rendah. Diserahkannya bunga itu kepada Futna.
“Wah, indah banget,” Futna terkagum.
Fahmi hanya tersenyum simpul
melihat ekspresi Futna. Dalam hatinya berharap semoga Futna tidak salah paham
dengan maksud diberikannya bunga itu. Sebab tak jarang, seorang wanita yang
salah paham dengan setangkai bunga yang diberikan oleh laki-laki. Pantas saja
jika bunga menyimpan rahasia. Rahasia yang hanya bisa dibuka senuhnya oleh dzat
yang mahas kuasa.
“Bunga apa namanya?” tanya Futna penasaran.
Fahmi menggeleng. Kali ini dia benar-benar tidak tahu apa jawaban dari
pertanyaan Futna.
Perjalanan dilanjutkan.
Beberapa kali kalangan perempuan meminta untuk berhenti dan istirahat sejenak.
Ada yang duduk di tanah, ada yang duduk di batu, dan ada yang hanya berdiri
sambil menghisap rokok. Semuanya tampak kelelahan.
Tak lama dari itu, semuanya
pun sampai di puncak arjuno dengan selamat. Meski Fitri harus mengoceh beberapa
kali, Dina yang kakinya terluka akibat tersandung, ataupun telinga yang hampir
rusak akibat mendengar Faisal bernyanyi selama perjalanan. Semuanya tampak
indah dari atas puncak.
“Masyaallah, sungguh indah ciptaanmu,” Futna terpejam menghayati suasana
yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kemudian semuanya langsung siap-siap membangun tenda dan menyiapkan
peralatan.
##@@##
Tidak terlalu banyak hal-hal
yang dilakukan selama di puncak. Mereka hanya bercanda, ngopi, dan tak lupa
mendokumentasikan kegiatan yang kelak akan menjadi kenangan. Kenangan yang
dirindukan. Dan bukti kepada anak cucu bahwa kaki ini pernah menjamah puncak
gunung yang membelai langit.
Saatnya turun.
Futna berharap dapat
menemukan bunga itu lagi. Bunga yang membuat hatinya senang, pikirannya tenang,
dan menghilangkan segala tegang. Tak peduli apakah ia harus melewati turunan
yang begitu terjal sekalipun. Sebab tekadnya sudah sangat bulat. Entah hal apa
yang membuatnya semangat seperti itu. Atau jangan-jangan karena bunga itu
diberikan oleh Fahmi hingga membuat bunga itu begitu istimewa? Bisa jadi.
“Hati-hati guys,” Faisal mengingatkan dari depan.
Turun dari gunung tak kalah
sulit dengan saat mendaki gunung. Kedua kaki harus mampu menahan beban badan
yang seolah didorong untuk terus maju menerobos apa saja yang ada di depan. Ditambah
lagi beban tas yang tak ringan. Membuat perjuangan untuk turun semakin
menantang.
“Nah itu dia,” Futna menemukan bunga itu.
Dengan penuh hati-hati Futna
pergi menuju bunga itu. Teman-teman lain yang melihatnya berbeda arah langsung
mengingatkannya untuk tidak ke sana. Sebab di sana terdapat jurang yang
langsung menuju pintu kematian.
“Jangan ke sana Fut,” teriak salah satu yang lain.
Futna tidak menghiraukan
perkataan temannya. Bunga yang ia dambakan dan akan diberikan kepada Fahmi
sudah ada di depan mata. Segala rasa takut berhasil ia usir. Tinggal melangkah
sedikit demi sedikit kemudian memetik bunga itu.
Namun sayang, takdir tak
bisa ditolak. Futna menginjak tanah permukaan miring dengan posisi yang tidak
seimbang. Ia pun terpeleset dan jatuh ke jurang yang tak bisa dipandang batas
akhirnya. Sedangkan bunga yang telah berhasil ia petik, masih ia genggam bahkan
didekap dalam dada. Semuanya pun terdiam. Kemudian berteriak bersama-sama.
“Futnaaa!!”
##@@##
Setelah dievakuasi, jenazah Futna
ditemukan dalam keadaan yang tak karuan. Semuanya berduka terutama keluarga
yang telah ditinggalkan. Dela pun datang membawa bunga terakhir dengan maksud
yang berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar