Adila, sekarang kau harus tahu, bahwa rindu yang
sebelumnya kau isi dengan air mata, kini telah pecah menjelma kepingan benci,
airnya mengalir mengikuti arah mata angin, semakin lama semakin dingin.
Adila, di antara beberapa luka yang pernah kurasa, tidak
ada luka yang paling sakit kecuali darimu, luka yang membuatku lupa segalanya,
bahkan untuk sekedar mengantuk pun aku tak bisa.
Adila, sekarang aku sudah bebas seperti burung yang
keluar dari sangkar, terbang ke mana-mana: ke langit, ke laut, bahkan ke wanita
lain yang sedang duduk di taman itu, kemudian mendekapnya dalam sayapku.
Adila, kau tak perlu heran dengan keadaan ini, sebab
semuanya telah diatur oleh diriku sendiri, hanya aku: yang tahu semua
rahasia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar