Minggu, 29 Desember 2019

ADILA

Adila, sekarang kau harus tahu, bahwa rindu yang sebelumnya kau isi dengan air mata, kini telah pecah menjelma kepingan benci, airnya mengalir mengikuti arah mata angin, semakin lama semakin dingin.
Adila, di antara beberapa luka yang pernah kurasa, tidak ada luka yang paling sakit kecuali darimu, luka yang membuatku lupa segalanya, bahkan untuk sekedar mengantuk pun aku tak bisa.
Adila, sekarang aku sudah bebas seperti burung yang keluar dari sangkar, terbang ke mana-mana: ke langit, ke laut, bahkan ke wanita lain yang sedang duduk di taman itu, kemudian mendekapnya dalam sayapku.

Adila, kau tak perlu heran dengan keadaan ini, sebab semuanya telah diatur oleh diriku sendiri, hanya aku: yang tahu semua rahasia.



Tidak ada komentar: