Jumat, 27 Desember 2019

DAUN-DAUN TAKDIR


Hari ini aku dan dua orang temanku sepakat untuk pergi ke suatu tempat yang tinggi di daerah Malang. Pemandangannya yang sangat bagus serta rintangan yang harus dilalui semakin membuat kami termotivasi untuk bisa menapakkan kaki di sana. Apalagi melihat beberapa teman kami yang sudah Posting foto di sana, membuat gairah perjalanan ini semakin bergelora.
Perlu diketahui, dua temanku  itu bernama Edi dan Firman. Rencana ini dibangun sebelum kelulusan sekolah diumumkan. Ya, kelulusan yang melepas identitas kami sebagai seorang siswa. Masa di mana semuanya masih serba abu-abu. Cinta sejati masih abu-abu, masa depan masih abu-abu, dan masih banyak abu-abu yang lainnya.
Aku masih ingat betul bagaimana semua ini berawal dari perkataan Firman yang menggebu-gebu,
“Pokoknya kita kalau lulus sekolah, kita harus ke sana,” kata Firman dengan logat situbondonya yang khas.
Aku dan Edi yang mendengarkan itu hanya tertawa tipis mengiyakan perkataan Firman. Bukan apa-apa, gaya bicaranya yang ditarik-ditarik pasti membuat pendengar tertawa.
“Tapi kita harus benar-benar menyiapkan segala sesuatunya,” tambah Edi.
Dalam kelas kami terkenal dengan panggilan group “Cah Semprul” yang selalu menyajikan sensasi baru dalam kelas. Entah itu dengan guyonan yang receh, tingkah laku yang aneh, ataupun apapun yang di luar dugaan.
##@@##
“LULUS”
Kata itulah yang muncul dibalik surat terbungkus amplop rahasia yang mampu membuat penerimanya sakit jantung.
“Yuuhuuuu”
“Yeess..”
“Horeee..”
Ungkapan-ungkapan itu muncul dengan sendirinya dari mulut-mulut kami dan yang lain. Sebuah kegembiraan yang sangat besar setelah selama tiga tahun lalang melintang dengan buku LKS dan paket yang harus kami bawa setiap hari. Tidak lupa tugas yang selalu membuat pusing kepala, mata terbuka, dan tangan dengan pena yang bergerak kemana-mana.
Kehebohan itu meledak dengan dahsyat di depan kantor sekolah, kantin, halaman depan, hingga ke seluruh sudut-sudut yang tak terlihat. Semua merasakan kebahagiaan itu bahkan sampai pada hewan peliharaan mereka. Tapi sayangnya kami tidak punya.
Setelah menerima surat itu, kami memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat kesenangan kami. Tempat yang dipenuhi ilalang, percik air, dan burung-burung yang terbang di atas kepala. Di sana tidak ada kecewa, luka, atau pun tangis. Yang ada hanya kebahagiaan tanpa sedikit pun pura-pura. Tempat itu tidak sengaja kami temukan dulu di sela-sela libur sekolah. Dan itu adalah tempat rahasia di sudut dunia. Tempat yang masih belum memiliki nama.
Kami duduk di bawah pohon besar yang daunnya terbuat dari kertas emas dan di dalamnya tertulis semua takdir. Di sana kita dapat melihat bagaimana keadaan lingkungan bertahun-tahun ke depan. Mulai dari rumah kami yang semakin bagus, pagar yang semakin tinggi dengan ukiran dan warna yang mempesona, hingga semua barang-barang yang semakin mewah.
Tapi bukan itu yang kami perhatikan. Sebab kami sudah berjanji untuk tidak mementingkan masalah dunia dan kemewahan. Kami lebih fokus pada kekeluargaan yang terjalin erat tanpa adanya sedikit pun rasa benci, dendam, marah dan sifat-sifat tercela lainnya.
“Coba lihat di atasmu, kelak kamu akan jadi wartawan handal Boy,” ucap Firman pada Edi yang memandang luas ke depan.
Edi tersenyum tapi tampak tidak ikhlas. Aku dan Firman memang sudah tahu apa cita-citanya. Ia ingin menjadi seorang guru biasa yang mengajar di desa meski bayarannya murah dan tak cukup dibelikan barang mewah. Sungguh mulia sekali niat Edi. Sesuai dengan watak bapaknya yang selalu bersikap apa adanya.
Kami duduk berjejer  di bawah pohon itu. Aku berada di tengah antara Edi dan Firman. Ilalang mengelilingi kami dengan ukuran yang hampir sama semua. Hewan-hewan kecil sejenis semut terlihat merayap di sela-sela ilalang sambil memikul makanan yang dibawa untuk keluarganya.
“Indah sekali di sini, ingin rasanya aku tidak kembali ke sana. Tempat yang dipenuhi dosa-dosa,” kata Edi dengan polosnya.
“Hmm.. iya,” tambah Firman.
Dalam hati aku juga ikut setuju. Bahwa tempat ini adalah sebenar-benarnya kebahagiaan. Tidak seperti di sana, kebahagiaan hanya semata-mata untuk orang jahat yang menumpuk-numpuk uang.
Pikiran kami terbelah tiga. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh dua orang temanku itu. Kertas kelulusan yang tadi kami terima telah kami simpan di tas masing-masing. Orang tua pasti akan sangat bahagia ketika mendengar anaknya lulus sekolah sempurna tanpa syarat. Begitu pula orang tua kami.
“Jalan-jalan yuk,” ajakku tanpa melihat mereka berdua.
Satu detik kemudian mereka masih belum merespon.
Tiga detik kemudian Firman merespon,
“Ayuk,”
Aku pun langsung berdiri yang kemudian diikuti oleh Firman. Tapi Edi masih tetap duduk dengan mata kosongnya.
“Kamu kenapa Ed?” tanya Firman.
Dia hanya mendesah pelan. Dalam pikirannya seperti terjadi badai panjang dan memporak-porandakan seluruh sistem damai yang telah dibangun oleh orang-orang baik di sekitarnya: keluarga, teman, guru, dan kenalan baik yang baru ataupun yang lama.
“Hey,” sapa Firman mencoba mengembalikan kesadaran Edi.
Dia terperanjat. Kemudian melihat aku dan Firman.
“Ikut?” tanyaku.
“Ke mana?” tanyanya bingung.
Rupanya Edi memang kehilangan pendengarannya tadi.
“Jalan-jalan,”
“Ayo,” Edi beranjak.
Kami bertiga berjalan pelan. Tidak hanya pohon dan ilalang yang ada di sini. Melainkan makhluk-makhluk indah yang keluar dari kata biasa. Di sini benar-benar berbeda. Tidak seperti di sana yang kebaikan diubah menjadi kejahatan. Dan sebaliknya kejahatan dipoles menjadi kebaikan. Sungguh memprihatinkan.
“Lihat itu, indah banget,” tunjuk Firman pada salah satu bunga.
Jika seandainya seorang penyair berada di sini, maka ratusan bahkan ribuan puisi akan lahir dengan lancar tanpa ada sedikit hambatan. Sebab suara, suasana, warna dari segala yang ada mampu menjadi sumber inspirasi menjadi puisi yang sempurna.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Firman. Belum pernah aku menemukan bunga sejenis itu sebelumnya. Warna tengahnya merah, sampingnya agak biru, kemudian ada semacam bulu putih tipis-tipis yang yang memperindah penampilannya. Jika dicium dari dekat, maka akan menimbulkan aroma wangi seperti minyak kesturi. Sungguh indah.
“Waah, mantuul nih,” kataku setelah menikmatinya.
Sedangkan Edi hanya melihatku dari kejauhan. Dia tak merasakan apa yang aku dan Firman rasakan. Entah itu karena dia memang tidak mau tahu atau memang tidak bisa tahu akan itu. Kuharap dia baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, aku dan Firman yang lebih banyak mendominasi percakapan. Edi lebih banyak diam kemudian merespon dengan gerakan anggukan atau gelengan. Tidak seperti biasanya. tampaknya ada sesuatu yang megganjal dalam pikiran Edi.
Jika berbicara luas, tempat ini seperti tak terbatas. Sejauh apapun memandang, sejauh apapun berjalan, maka tempat ini masih menyisakan lahan untuk disusuri lagi dan lagi. Pelangi melintang dari sudut timur ke sudut barat. Warna-warnanya masih segar dan sedap dipandang. Di bawahnya terlihat dua gunung utama yang diikuti bukit-bukit di sampingnya. Bentuk jalan yang meliuk-liuk dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya semakin menambah daya indah tersendiri.
Kami terus berjalan.
##@@##
Sampai pada suatu danau, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk kembali di bawah pohon yang tidak terlalu besar. Kupetik satu daun yang ternyata berisi takdir kita.
JALAN-JALAN KE SUATU TEMPAT.
Kuambil daun itu dan kutunjukkan pada Firman dan Edi. Keduanya merespon baik dan senang dengan itu. Terpancar senyum bahagia dari wajah mereka. Meski wajah Edi masih terlihat kusut seperti tadi. Tapi lumayan lah, setidaknya dia tersenyum.
“Kapan ya?” tanyaku penasaran.
Firman kemudian merampasnya dariku.
“Kalau menurutku sih, hampir ini deh kayaknya,” sambil menyipitkan mata seperti dukun ahli yang sudah benar menebak ribuan kali.
“Halah, sok tahu kamu,” timpal aku sambil mengusap wajahnya yang sok sok an.
Kami tertawa.
Gelombang air danau yang berada di depan kami berkecipak-kecipuk dengan syahdu. Meski tak terdengar dengan jelas, tapi aku yakin bahwa danau itu megeluarkan suara.
Aku akhirnya mendekati Edi. Duduk disampingnya. Kemudian merangkul bahunya yang kiri dengan tangan kiriku. Firman kemudian menyusul mendekati kami.
“Ada apa Ed?” tanyaku dengan nada iba.
“Iya Ed, kami lihat kamu tidak seperti biasanya,” tambah Firman.
“Kalau ada masalah, tidak apa-apa cerita sama kami, kita kan sahabat, siapa tahu bisa membantu,” Aku semakin memelankan suara.
Edi masih tak bersuara. Di matanya seperti tersimpan suatu rahasia yang sangat berat dan sangat mengganggu jalan pikirannya.
“Entahlah kawan, aku tidak tahu mau memulainya dari mana,” kata Edi membingungkan.
Kesedihannya semakin tampak. Matanya semakin mengkristal.
“Kamu bisa memulainya dari awal, atau terserah kamu dah yang enak,” Aku berusaha menenangkan jiwanya yang tak bergoncang.
Firman hanya diam tanpa mengeluarkan komentar apapun.
“Jadi gini, aku tuh sedih karena orang tuaku mau cerai,”
Aku dan Firman yang mendengar itu spontan kaget.
“Kenapa? Kok bisa?” tanya Firman.
“Ada deh pokoknya, masalah pribadi,” jawab Edi singkat mengakhiri cerita.
“Ya Allah, semoga kedua orang tuamu cepat baikan lagi,” kataku menguatkan Edi.
“Amiin,”
##@@##
Selalu kucoba untuk meyakinkan orang tua untuk pergi ke gunung, kenyataan masih berbicara lain. Ibu yang paling tidak setuju aku pergi ke gunung. Bukan apa-apa, beliau takut nanti aku lelah, tidak kuat, tergelincir, bahkan jatuh hingga tak ditemukan lagi jejaknya. Sementara Ayah, dia lebih mudah untuk aku bujuk. Meskipun jawabannya tidak jauh beda dengan ibu. “TIDAK”
“Takdir itu bohong,” umpatku dalam hati setelah masuk kamar.
Buku-buku yang tertata rapi akhirnya kulempar-lempar ke semua penjuru. Aku tak peduli apakah itu kitab agama atau bukan. Karena kekesalanku sudah mencapai puncaknya.
Keesokan harinya kami kembali berkumpul di tempat kesukaan kami. Di situ aku langsung menceritakan bagaimana repon orang tuaku saat mengutarakan niat untuk muncak. Ternyata, tidak hanya aku yang tidak diperbolehkan, Firman dan Edi pun juga demikian. Cuma motifnya saja yang berbeda.
“Sudahlah, aku tak ingin berdebat lagi dengan orang tua,” kata Edi setelah semuanya bercerita.
Hari ini adalah hari pernyataan bahwa takdir yang kami temukan tidak terjadi sesuai dengan apa yang tertulis. Aneh rasanya. Padahal kami sangat yakin bahwa takdir akan tetap sebagaimana mestinya. Apakah mungkin Tuhan sedang main-main dengan kita? Atau kita saja yang salah masuk tempat? Entahlah, kami memutuskan untuk tidak terlalu memperdebatkan itu.
Di atas kepala, terlihat sebuah pesawat yang melintas diikuti asap putih yang membuntutinya dari belakang. Waktu kecil, kami selalu meneriaki pesawat dengan meminta uang. Entah itu terdengar atau tidak, yang jelas itu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami. Meski suara harus tersedak.
Satu jam kami di sana dengan pembicaraan ngalor ngidul tanpa semangat seperti biasanya. Sesuatu yang berharga telah hilang dalam jiwa kami walau hanya sekedar keinginan dari harapan yang sudah di depan mata.
##@@##
Suasana di rumahku seperti suasana biasanya. Angin pagi, senyum mentari, daun-daun yang mengembun, serta beberapa hewan yang mondar-mandir mencari makanan untuk diri sendiri ataupun keluarganya.
Kebetulan televisi rumah saat itu menyala. Beberapa promosi produk menghiasi sajian utama. Hingga tiba pada sebuah berita terkini:
Ditemukan 5 orang tewas dalam rombongan pendakian panderman dengan ciri-ciri sebagai berikut: yang pertama rambut panjang, mata sipit, dan agak gemuk. Yang kedua kurus, rambut pendek, yang ketiga gundul, yang keempat kribo, dan yang terakhir tak terdeteksi. Kecelakaan ini disebabkan oleh adanya kebakaran hutan secara mendadak yang  menyebabkan beberapa pendaki meninggal.   
“Alhamdulillah,” batinku.

Tidak ada komentar: