Hari ini aku dan dua orang temanku sepakat untuk pergi ke suatu tempat yang tinggi di daerah Malang. Pemandangannya yang sangat bagus serta rintangan yang harus dilalui semakin membuat kami termotivasi untuk bisa menapakkan kaki di sana. Apalagi melihat beberapa teman kami yang sudah Posting foto di sana, membuat gairah perjalanan ini semakin bergelora.
Perlu diketahui, dua
temanku itu bernama Edi dan Firman.
Rencana ini dibangun sebelum kelulusan sekolah diumumkan. Ya, kelulusan yang
melepas identitas kami sebagai seorang siswa. Masa di mana semuanya masih serba
abu-abu. Cinta sejati masih abu-abu, masa depan masih abu-abu, dan masih banyak
abu-abu yang lainnya.
Aku masih ingat betul
bagaimana semua ini berawal dari perkataan Firman yang menggebu-gebu,
“Pokoknya kita kalau lulus sekolah, kita harus ke sana,” kata Firman
dengan logat situbondonya yang khas.
Aku dan Edi yang
mendengarkan itu hanya tertawa tipis mengiyakan perkataan Firman. Bukan
apa-apa, gaya bicaranya yang ditarik-ditarik pasti membuat pendengar tertawa.
“Tapi kita harus benar-benar menyiapkan segala sesuatunya,” tambah Edi.
Dalam kelas kami terkenal
dengan panggilan group “Cah Semprul” yang selalu menyajikan sensasi baru dalam
kelas. Entah itu dengan guyonan yang receh, tingkah laku yang aneh, ataupun
apapun yang di luar dugaan.
##@@##
“LULUS”
Kata itulah yang muncul
dibalik surat terbungkus amplop rahasia yang mampu membuat penerimanya sakit
jantung.
“Yuuhuuuu”
“Yeess..”
“Horeee..”
Ungkapan-ungkapan itu muncul
dengan sendirinya dari mulut-mulut kami dan yang lain. Sebuah kegembiraan yang
sangat besar setelah selama tiga tahun lalang melintang dengan buku LKS dan
paket yang harus kami bawa setiap hari. Tidak lupa tugas yang selalu membuat
pusing kepala, mata terbuka, dan tangan dengan pena yang bergerak kemana-mana.
Kehebohan itu meledak dengan
dahsyat di depan kantor sekolah, kantin, halaman depan, hingga ke seluruh
sudut-sudut yang tak terlihat. Semua merasakan kebahagiaan itu bahkan sampai
pada hewan peliharaan mereka. Tapi sayangnya kami tidak punya.
Setelah menerima surat itu,
kami memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat kesenangan kami. Tempat yang
dipenuhi ilalang, percik air, dan burung-burung yang terbang di atas kepala. Di
sana tidak ada kecewa, luka, atau pun tangis. Yang ada hanya kebahagiaan tanpa
sedikit pun pura-pura. Tempat itu tidak sengaja kami temukan dulu di sela-sela
libur sekolah. Dan itu adalah tempat rahasia di sudut dunia. Tempat yang masih
belum memiliki nama.
Kami duduk di bawah pohon
besar yang daunnya terbuat dari kertas emas dan di dalamnya tertulis semua
takdir. Di sana kita dapat melihat bagaimana keadaan lingkungan bertahun-tahun
ke depan. Mulai dari rumah kami yang semakin bagus, pagar yang semakin tinggi
dengan ukiran dan warna yang mempesona, hingga semua barang-barang yang semakin
mewah.
Tapi bukan itu yang kami
perhatikan. Sebab kami sudah berjanji untuk tidak mementingkan masalah dunia
dan kemewahan. Kami lebih fokus pada kekeluargaan yang terjalin erat tanpa
adanya sedikit pun rasa benci, dendam, marah dan sifat-sifat tercela lainnya.
“Coba lihat di atasmu, kelak kamu akan jadi wartawan handal Boy,” ucap
Firman pada Edi yang memandang luas ke depan.
Edi tersenyum tapi tampak
tidak ikhlas. Aku dan Firman memang sudah tahu apa cita-citanya. Ia ingin
menjadi seorang guru biasa yang mengajar di desa meski bayarannya murah dan tak
cukup dibelikan barang mewah. Sungguh mulia sekali niat Edi. Sesuai dengan
watak bapaknya yang selalu bersikap apa adanya.
Kami duduk berjejer di bawah pohon itu. Aku berada di tengah
antara Edi dan Firman. Ilalang mengelilingi kami dengan ukuran yang hampir sama
semua. Hewan-hewan kecil sejenis semut terlihat merayap di sela-sela ilalang
sambil memikul makanan yang dibawa untuk keluarganya.
“Indah sekali di sini, ingin rasanya aku tidak kembali
ke sana. Tempat yang dipenuhi dosa-dosa,” kata Edi dengan polosnya.
“Hmm.. iya,” tambah Firman.
Dalam hati aku juga ikut
setuju. Bahwa tempat ini adalah sebenar-benarnya kebahagiaan. Tidak seperti di
sana, kebahagiaan hanya semata-mata untuk orang jahat yang menumpuk-numpuk
uang.
Pikiran kami terbelah tiga.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh dua orang temanku itu. Kertas kelulusan
yang tadi kami terima telah kami simpan di tas masing-masing. Orang tua pasti
akan sangat bahagia ketika mendengar anaknya lulus sekolah sempurna tanpa
syarat. Begitu pula orang tua kami.
“Jalan-jalan yuk,” ajakku tanpa melihat mereka berdua.
Satu detik kemudian mereka masih belum merespon.
Tiga detik kemudian Firman merespon,
“Ayuk,”
Aku pun langsung berdiri
yang kemudian diikuti oleh Firman. Tapi Edi masih tetap duduk dengan mata
kosongnya.
“Kamu kenapa Ed?” tanya Firman.
Dia hanya mendesah pelan.
Dalam pikirannya seperti terjadi badai panjang dan memporak-porandakan seluruh
sistem damai yang telah dibangun oleh orang-orang baik di sekitarnya: keluarga,
teman, guru, dan kenalan baik yang baru ataupun yang lama.
“Hey,” sapa Firman mencoba mengembalikan kesadaran Edi.
Dia terperanjat. Kemudian melihat aku dan Firman.
“Ikut?” tanyaku.
“Ke mana?” tanyanya bingung.
Rupanya Edi memang kehilangan pendengarannya tadi.
“Jalan-jalan,”
“Ayo,” Edi beranjak.
Kami bertiga berjalan pelan.
Tidak hanya pohon dan ilalang yang ada di sini. Melainkan makhluk-makhluk indah
yang keluar dari kata biasa. Di sini benar-benar berbeda. Tidak seperti di sana
yang kebaikan diubah menjadi kejahatan. Dan sebaliknya kejahatan dipoles
menjadi kebaikan. Sungguh memprihatinkan.
“Lihat itu, indah banget,” tunjuk Firman pada salah satu bunga.
Jika seandainya seorang
penyair berada di sini, maka ratusan bahkan ribuan puisi akan lahir dengan
lancar tanpa ada sedikit hambatan. Sebab suara, suasana, warna dari segala yang
ada mampu menjadi sumber inspirasi menjadi puisi yang sempurna.
Aku melihat ke arah yang
ditunjuk Firman. Belum pernah aku menemukan bunga sejenis itu sebelumnya. Warna
tengahnya merah, sampingnya agak biru, kemudian ada semacam bulu putih
tipis-tipis yang yang memperindah penampilannya. Jika dicium dari dekat, maka
akan menimbulkan aroma wangi seperti minyak kesturi. Sungguh indah.
“Waah, mantuul nih,” kataku setelah menikmatinya.
Sedangkan Edi hanya
melihatku dari kejauhan. Dia tak merasakan apa yang aku dan Firman rasakan.
Entah itu karena dia memang tidak mau tahu atau memang tidak bisa tahu akan
itu. Kuharap dia baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, aku
dan Firman yang lebih banyak mendominasi percakapan. Edi lebih banyak diam
kemudian merespon dengan gerakan anggukan atau gelengan. Tidak seperti
biasanya. tampaknya ada sesuatu yang megganjal dalam pikiran Edi.
Jika berbicara luas, tempat
ini seperti tak terbatas. Sejauh apapun memandang, sejauh apapun berjalan, maka
tempat ini masih menyisakan lahan untuk disusuri lagi dan lagi. Pelangi
melintang dari sudut timur ke sudut barat. Warna-warnanya masih segar dan sedap
dipandang. Di bawahnya terlihat dua gunung utama yang diikuti bukit-bukit di sampingnya.
Bentuk jalan yang meliuk-liuk dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya semakin
menambah daya indah tersendiri.
Kami terus berjalan.
##@@##
Sampai pada suatu danau,
kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk kembali di bawah pohon yang
tidak terlalu besar. Kupetik satu daun yang ternyata berisi takdir kita.
JALAN-JALAN KE SUATU TEMPAT.
Kuambil daun itu dan
kutunjukkan pada Firman dan Edi. Keduanya merespon baik dan senang dengan itu.
Terpancar senyum bahagia dari wajah mereka. Meski wajah Edi masih terlihat
kusut seperti tadi. Tapi lumayan lah, setidaknya dia tersenyum.
“Kapan ya?” tanyaku penasaran.
Firman kemudian merampasnya dariku.
“Kalau menurutku sih, hampir ini deh kayaknya,” sambil menyipitkan mata
seperti dukun ahli yang sudah benar menebak ribuan kali.
“Halah, sok tahu kamu,” timpal aku sambil mengusap wajahnya yang sok sok
an.
Kami tertawa.
Gelombang air danau yang
berada di depan kami berkecipak-kecipuk dengan syahdu. Meski tak terdengar
dengan jelas, tapi aku yakin bahwa danau itu megeluarkan suara.
Aku akhirnya mendekati Edi.
Duduk disampingnya. Kemudian merangkul bahunya yang kiri dengan tangan kiriku.
Firman kemudian menyusul mendekati kami.
“Ada apa Ed?” tanyaku dengan nada iba.
“Iya Ed, kami lihat kamu tidak seperti biasanya,” tambah Firman.
“Kalau ada masalah, tidak apa-apa cerita sama kami, kita kan sahabat,
siapa tahu bisa membantu,” Aku semakin memelankan suara.
Edi masih tak bersuara. Di matanya seperti tersimpan
suatu rahasia yang sangat berat dan sangat mengganggu jalan pikirannya.
“Entahlah kawan, aku tidak tahu mau memulainya dari mana,” kata Edi
membingungkan.
Kesedihannya semakin tampak. Matanya semakin
mengkristal.
“Kamu bisa memulainya dari awal, atau terserah kamu dah yang enak,” Aku
berusaha menenangkan jiwanya yang tak bergoncang.
Firman hanya diam tanpa mengeluarkan komentar apapun.
“Jadi gini, aku tuh sedih karena orang tuaku mau cerai,”
Aku dan Firman yang mendengar itu spontan kaget.
“Kenapa? Kok bisa?” tanya Firman.
“Ada deh pokoknya, masalah pribadi,” jawab Edi singkat mengakhiri
cerita.
“Ya Allah, semoga kedua orang tuamu cepat baikan lagi,” kataku
menguatkan Edi.
“Amiin,”
##@@##
Selalu kucoba untuk
meyakinkan orang tua untuk pergi ke gunung, kenyataan masih berbicara lain. Ibu
yang paling tidak setuju aku pergi ke gunung. Bukan apa-apa, beliau takut nanti
aku lelah, tidak kuat, tergelincir, bahkan jatuh hingga tak ditemukan lagi
jejaknya. Sementara Ayah, dia lebih mudah untuk aku bujuk. Meskipun jawabannya
tidak jauh beda dengan ibu. “TIDAK”
“Takdir itu bohong,” umpatku dalam hati setelah masuk kamar.
Buku-buku yang tertata rapi
akhirnya kulempar-lempar ke semua penjuru. Aku tak peduli apakah itu kitab
agama atau bukan. Karena kekesalanku sudah mencapai puncaknya.
Keesokan harinya kami
kembali berkumpul di tempat kesukaan kami. Di situ aku langsung menceritakan
bagaimana repon orang tuaku saat mengutarakan niat untuk muncak. Ternyata,
tidak hanya aku yang tidak diperbolehkan, Firman dan Edi pun juga demikian.
Cuma motifnya saja yang berbeda.
“Sudahlah, aku tak ingin berdebat lagi dengan orang tua,” kata Edi
setelah semuanya bercerita.
Hari ini adalah hari
pernyataan bahwa takdir yang kami temukan tidak terjadi sesuai dengan apa yang
tertulis. Aneh rasanya. Padahal kami sangat yakin bahwa takdir akan tetap sebagaimana
mestinya. Apakah mungkin Tuhan sedang main-main dengan kita? Atau kita saja
yang salah masuk tempat? Entahlah, kami memutuskan untuk tidak terlalu
memperdebatkan itu.
Di atas kepala, terlihat
sebuah pesawat yang melintas diikuti asap putih yang membuntutinya dari
belakang. Waktu kecil, kami selalu meneriaki pesawat dengan meminta uang. Entah
itu terdengar atau tidak, yang jelas itu menjadi kesenangan tersendiri bagi
kami. Meski suara harus tersedak.
Satu jam kami di sana dengan
pembicaraan ngalor ngidul tanpa semangat seperti biasanya. Sesuatu yang
berharga telah hilang dalam jiwa kami walau hanya sekedar keinginan dari
harapan yang sudah di depan mata.
##@@##
Suasana di rumahku seperti
suasana biasanya. Angin pagi, senyum mentari, daun-daun yang mengembun, serta
beberapa hewan yang mondar-mandir mencari makanan untuk diri sendiri ataupun
keluarganya.
Kebetulan televisi rumah
saat itu menyala. Beberapa promosi produk menghiasi sajian utama. Hingga tiba
pada sebuah berita terkini:
Ditemukan
5 orang tewas dalam rombongan pendakian panderman dengan ciri-ciri sebagai
berikut: yang pertama rambut panjang, mata sipit, dan agak gemuk. Yang kedua
kurus, rambut pendek, yang ketiga gundul, yang keempat kribo, dan yang terakhir
tak terdeteksi. Kecelakaan ini disebabkan oleh adanya kebakaran hutan secara
mendadak yang menyebabkan beberapa
pendaki meninggal.
“Alhamdulillah,” batinku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar