Pada malam yang gelapnya sempurna
Aku duduk bersama bayang-bayang yang selalu mengerti keadaan
Kemudian desir angin membawa namamu dalam ingatan
Diikuti sepi membawa senyummu dalam harapan
Saat itu, segala tentangmu masuk dalam kopi
Melebur dalam pahitnya sedang aku masih menikmatinya
Pelan-pelan namun pasti
Kau menjelma puisi ketika teguk terkhir berhasil kulalui

Tidak ada komentar:
Posting Komentar