Malam ini aku benar-benar
merasa kesepian. Bayangkan, dari total sepuluh penghuni rumah besar ini, semuanya
pergi menyisakan aku dan seorang satpam. Ayah dan Ibu sedang pergi kondangan, kakak
seperti biasa kencan sama gebetannya, padahal masih belum jadi pacar. Adikku
kembali ke pondok tadi sore, pembantu rumah tangga sedang sakit dan tidak bisa
masuk. Ditambah lagi satu tukang kebun dan dua pembantu rumah tangga lainnya
yang mengambil cuti.
Aku yang masih berjiwa muda,
tentu tidak akan cocok dengan satpam tua yang sukaannya VC an dengan istri saat
tidak ada kerjaan. Baru kalau ada suara orang minta tolong, suara barang pecah,
atau maling yang tertangkap basah, baru dia akan kembali siaga. Tapi aku
mengakui, dalam bertugas dia memang disiplin dalam segala hal. Bahkan jika
ditugaskan untuk tidak tidur tiga hari sekalipun, Ia akan tetap sanggup.
Jam menunjukkan pukul 19.30
WIB. Sholat Isya’ di masjid seberang sudah setengah jam yang lalu selesai. Dan
entah mengapa, kali ini suara detik jam dinding membuatku takut. Desir angin
yang membawa rasa dingin juga terasa berbeda. Rumah ini seolah menjadi hotel
hantu dan aku menjadi satu-satunya resepsionis dari kalangan manusia. Sungguh
mengerikan.
Dengan cepat aku membuang
pikiran itu jauh-jauh. Aku tidak boleh menjadi stres sendiri gara-gara pikiran
yang aneh. Kucoba mengusir rasa gabut dengan membuka buku-buku yang tertata rapi
di atas meja belajar. Tapi sayang, usaha ini tidak berhasil. Buku itu sama
sekali tidak memberikan efek positif pada pikiranku. Namanya juga tidak suka
baca buku.
Aahh..
Aku memutuskan merebahkan
diri di kasur. Membuka WA barang kali ada chat yang masuk. Ternyata tidak ada.
Hanya beberapa group yang ramai dengan pembahasan tidak jelas.
“Sungguh menyebalkan,” umpatku dalam hati.
Aku kembali bangun. Memutari
ruang kamar yang dominan dengan warna biru. Warna kesukaanku. Sesekali kulihat
jendela. Barang kali ada kuntilanak baik hati yang akan mengajakku bermain
ayunan di seberang rumah. Jika seandainya ada, aku akan memilih bermain dengan
hantu dibanding berdiam diri dalam sepi.
Ting.
Bunyi yang menandakan ada
chat masuk. Dengan cepat aku membuka HP dan melihat nama siapa yang ada di urutan
paling atas.
MAMA.
“Nak, Ayah sama Ibu ada urusan tambahan. Mungkin pulangnya agak lebih
malam. Kamu baik-baik di sana ya,” katanya disertai emoticon love.
Aku menelan ludah. Ini bukan kabar baik, tapi kabar buruk.
Sebenarnya tidak baru
pertama ini aku sendiri di rumah. Tapi aneh saja, rasa tidak nyaman, galau,
boring, dan lainnya, tiba-tiba datang malam ini mengganggu pikiran dan merusak
segalanya. Aku berusaha untuk tidur. Namun usaha itu tetap saja gagal.
Alangkah malangnya nasibku malam ini.
##@@##
Setelah berhasil membuka
mata dari terpejam sekitar 8 jam, aku kira sudah pagi. Ternyata tidak.
Sekelilingku masih gelap seperti tadi malam. Atau mungkin memang masih belum
berganti hari? Aah tidak mungkin. Berulang kali kuusap mata agar bisa menangkap
keadaan sekitar dengan sebenarnya.
Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tapi masih gelap. Aneh.
Kubuka jendela kamar
lebar-lebar. Memastikan apakah benar ini nyata atau hanya halusinasi. Decitan
suara saat jendela dibuka terdengar mengganggu telinga. Angin pun langsung
menerpa wajahku yang masih setengah
sadar. Seketika aku terkesiap. Ini nyata.
Semua pemandangan berubah
drastis. Rumah tetangga samping rumah yang biasanya berwarna merah kini
berwarna darah. Lebih mengerikannya lagi, di depan rumah itu yang biasanya
dikelilingi kucing-kucing, kini dipenuhi serigala gila yang tatapannya bisa
membuat anak kecil pingsan. Sejenak serigala itu melihatku dengan tatapan
bengis. Aku balas melihatnya. Aku langsung menutup jendela.
“Hah, ini tidak mungkin,” kataku sambil menyenderkan badan di tembok
dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Aku keluar dari kamar. Di
depanku langsung terpampang kata dan angka yang terbang di mana-mana. Di meja,
kursi, dan laci yang seperti sudah berumur ratusan tahun. Aku bingung. Semua
ini jelas-jelas tidak nyata. Beberapa kali kutepuk pipiku, tapi ini bukan
mimpi.
Aku terpejam sambil memgang kepala dan rambut. Kepala
ini terasa mau meledak dan memuntahkan segala risau yang melanda. Entah apa
yang bisa aku lakukan saat ini. Semua ini mengingatkanku pada ulangan kemarin
yang berakhir pada nilai merah. Aku gagal.
“Apa mungkin semua ini karena aku gagal di ulangan matematika dan bahasa
indonesia?” tanyaku dalam hati.
“Bisa jadi,” jawabku sendiri.
Aku ingat betul sebelum
malam tiba, paginya aku menerima tulisan merah dengan angka 20 setelah selama
satu jam setengah aku bertarung dengan soal-soal. Dua mata pelajaran itu memang
pelajaran yang paling kubenci dari dulu. Jangankan disuruh belajar, mendengar
namanya saja sudah muak. Padahal bahasa indonesia bagi kebanyakan orang adalah pelajaran
yang tergolong mudah. Tapi tidak bagiku. Aku lebih suka bahasa inggris.
Sedang matematika, banyak
orang yang memusuhinya termasuk aku. Mungkin yang membaca tulisan ini juga
begitu. Satu detik berlalu. Aku memutuskan untuk berlari keluar rumah. Menuju
cahaya yang entah berasal dari arah mana. Cahaya itu hanya sekedar titik yang
bisa kumasuki tanpa harus khawatir terjepit oleh keadaan.
Ternyata, jalan cahaya itu
amat panjang. Aku sempat berpikir apakah ini yang namanya Shirotol Mustakim yang pasti dilalui oleh semua orang yang sudah
mati. Atau memang aku yang sudah mati?
Bedanya, jalan itu tidak
setajam pedang sebagaimana diceritakan dalam kitab-kitab. Jalan itu tidak
bergaris, tidak berbatas, dan tidak bertanda. Cahaya itu bisa menyilaukan mata
jika dilihat orang biasa. Tapi aku tidak. Benar-benar aneh.
Aku terus berlari. Semakin lama semakin kupanjangkan
jangkauan langkah ini. Tak peduli pada apapun yang mencoba menghalangi.
Di depan sana, terlihat
seperti pintu berwarna emas yang sangat indah. Di bagian pinggirnya ada
ukiran-ukiran kuno yang tidak bisa ditiru oleh alat modern secanggih apapun.
Meski tidak dapat dibaca, namun keindahan selalu ada di sana.
“Hampir sampai,” kataku dalam hati.
Aneh. Sangat aneh. Aku bahkan lupa dari mana masuk
jalur cahaya ini. Berawal dari ketakutan, galau, pikiran stres, kemudian tampak
setitik cahaya, dan aku masuk ke dalamnya. Di sepanjang perjalanan, tidak ada
pohon, bunga, atau apapun. Aku tak bisa melihat burung di atas, tak bisa
melihat semut dibawah, dan tak bisa melihat benda apapun. Sebab semuanya
kosong.
Putih.
Tidak seperti yang aku kira.
Perjalanan ternyata masih panjang. Padahal tadi diprediksi sebentar lagi
sampai. Nyatatanya tidak. aku harus kembali berlari dan terus berlari untuk
menuju pintu. Entah sampai kapan, mungkin sampai raga ini lelah parah atau
bahkan kaki ini patah.
Semuanya kembali cerah.
##@@##
Aku membuka mata. Tapi tidak
dari keadaan tidur. Semuanya tiba-tiba saja terjadi. Ruang kamar kembali
bercahaya. Aku bisa melihat buku-buku tetap tertata rapi, celengan ayam yang
berada di bawah meja, sepatu yang ada di pojokan, dan warna biru yang
mendominasi.
Aku kembali mengingat-ingat apa yang baru saja
terjadi. Kata dan angka yang beterbangan, suasana yang gelap pekat, serigala
dengan mata tajam, hingga setitik cahaya yang muncul dan sangat jauh menuju
pintu. Aku berusaha memahami semua itu. Pasti ini adalah suatu tanda. Tapi
tanda apa?
Saatnya makan.
Sebelum sampai di meja
makan, aku sudah dapat menduga bahwa ibu hari ini masak ayam goreng, tumis, dan
lengkap dengan sambal terasi yang menghangatkan mulut. Semua itu berkat
hidungku yang penciumannya lebih tajam dari anjing jika dalam hal makanan.
Sejanak kunikmati aroma itu sambil menggerak-gerakkan badan. Nikmat sekali.
Setelah membasuh muka dan
tangan, aku langsung meluncur ke meja makan. Aku memang lebih sering makan dulu
dibanding mandi dulu, sebab dengan begitu aku bisa membersihkan gigi dari
sisa-sisa makanan yang menempel. Semua ini hanya tentang prinsip dan keyakinan.
“Selamat pagi sayang,” sapa ibu yang sedang sibuk di balik dapur.
Entah dari mana beliau melihatku. Mungkin dari suara-suara yang aku
ciptakan.
“Hhm,”
Ayah dan kakaku masih belum terlihat. Baru kali ini aku yang sampai di
meja makan duluan.
Ternyata benar. Ibu memasak
ayam goreng, tumis, dan lengkap dengan sambal terasi. Tak lupa nasi putih juga
ada di sana. Keluarga kami bukanlah keluarga yang hanya suka makan sayuran dan
ayam. Di sampingnya juga sudah tersedia gelas dengan teko yang berisi penuh air
putih. Keluargaku memang lebih suka minum air putih ketimbang air berwarna.
Sebab lebih menyehatkan katanya.
Satu menit setelah aku
duduk, Ayah kemudian datang dengan dasi merah yang menempel di kerah bajunya.
Diikuti kakak dengan bau minyak “seribu malaikat” yang bisa kuhafal aromanya.
Mereka berdua pun ikut duduk. Tidak ada kata apa-apa yang keluar dari mulut
mereka. hingga akhirnya ibu datang memecah keheningan.
“Yuuhuuu, mari makan,” kata Ibu dengan nada riangnya.
Di keluarga kami yang paling
rame adalah ibu. Ia tidak segan-segan melakukan apa saja demi keharmonisan dan
kehangatan dalam keluarga. Pernah suatu ketika, ibu dan ayahku bertengkar
mengenai suatu hal. Mereka tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya
mereka mogok bicara antar sesama.
Satu hari dua hari lewat.
Pas di hari ketiga, ayah akhirnya harus mengibarkan bendera putih. Ia sudah
tidak mampu melawan Ibu dengan segala emosinya. Mengapa tidak? jika Ibu sedang
marah, maka jangan berharap ada makanan enak di meja makan. Palingan Cuma ada
tahu dan tempe goreng. Itu sudah yang paling beruntung. Parahnya, bisa sampai
tidak ada benda apapun di atas meja makan. Hingga akhirnya ayah harus memasak
sendiri.
Pas di hari ketiga, saat
Ayah harus bertekuk lutut di hadapan Ibu, Ibu juga mengaku bahwa dia sebenarnya
sedang nge-prank ayah dengan segala tingkahnya. Mengetahui itu, tentu Ayah
hampir langsung marah. Tapi semua itu berubah menjadi pelukan hangat. Aku yang
menyaksikan dari kejauhan hanya tertawa geli melihat mereka berdua. Padahal
udah tua tapi masih aja sempat seperti itu.
“Ini cobain masakan baru Ibu,” ucap Ibu sambil memberikan sepotong ayam
ke piringku.
Aku menerimanya dengan senyum.
“Ekhem,” kata Ayah.
Aku bisa mengenali betul
bahwa batuk itu adalah palsu. Mungkin lebih tepatnya batuk cemburu karena aku yang
dikasih lebih dulu.
“Iya iya, ini untuk suami tercinta,” kata Ibu sambil mengulang seperti
apa yang dilakukannya padaku.
Ayah tersenyum. Kakak hanya
bersikap biasa saja. Mungkin dia sudah terbiasa seperti itu dengan pacarnya.
Berbeda dengan aku.
Setelah semuanya mengambil
nasi dan ayam secukupnya, tanpa menunda lagi kami langsung menghajar makanan
tanpa ampun. Tangan Ayah yang paling besar di antara kami membuatnya selesai
duluan. Ayah kembali mengambil nasi, rupanya satu piring tadi masih belum bisa
membuatnya kenyang. Wajar saja beliau gemuk.
Di tengah-tengah prosesi
makan, ingin rasanya aku bercerita pada mereka perihal apa yang menimpaku
semalam. Tentang gelap, cahaya, serigala, pintu dan hal-hal yang kutemui
lainnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya ini buka waktu yang tepat.
##@@##
Di sekolah, pikiranku masih
tak bisa lepas dengan kejadian semalam. Mimpi itu seperti sebuah isyarat yang
langsung melekat rekat dalam otak dan diingat oleh semua saraf yang berfungsi.
Perkataan guru yang menjelaskan materi menjadi omong kosong tanpa arti.
Satu jam dalam kelas
kuhabiskan percuma. Jika yang lain mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikan
oleh guru, maka aku hanya mendapat ketakutan yang datang dari arah yang tidak
jelas, abstrak, dan tak bisa ditebak.
Satu persatu temanku keluar
kelas dengan wajah sumringah. Ada yang menuju kantin, taman, perpustakaan, dan
sebagian kembali membuka buku pelajaran yang baru saja diterangkan. Sedangkan
aku, masih terjebak di bangku kebodohan.
“Ada apa Fin?” tanyanya mengagetkanku.
“Eh, tidak apa-apa kok,”
“Sepertinya kamu sedang ada masalah,”
“Hmm..”
Aku memutuskan untuk bercerita.
“Jadi semalam itu, aku bermimpi buruk tapi tidak
sepenuhnya buruk Kur,”
“Maksudnya? Gimana tuh?”
“Waktu itu, aku terbangun dari tidur, dan keadaan
ternyata masih gelap, aku merasa sangat sadar saat itu. Kemudian kubuka jendela
dan melihat rumah tetangga berubah berwarna darah, di sekitarnya dipenuhi
anjing gila dengan tatapan mematikan. Di luar kamar, aku temui kata dan angka
beterbangan di mana-mana. Disusul muncul titik cahaya dengan tiba-tiba dan aku
pun dengan polos masuk ke dalamnya. Di sana tidak ada apa-apa tapi aku bisa
menginjakkan kaki. Terakhir di ujung jalan ada sebuah pintu emas dengan ukiran
kuno yang tak bisa dibaca. Untuk menjangkaunya aku membutuhkan waktu yang
sangat lama bahkan melebihi perkiraan. Tiba-tiba aku kembali sadar,” jelasku
mengakhiri cerita.
Temanku termenung sejenak.
Dalam pikirannya tampak berkecamuk sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang sangat
sulit dijelaskan tapi sangat tampak dalam kehidupan sehari-hari. Aku menunggu
dia bersuara. Semoga apa yang diucapkannya bisa mengangkisku dari kebingungan.
“Kalau dipikir-pikir, menurutku mimpimu itu adalah sebuah teguran
terhadap dirimu sendiri,” katanya mantap.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Jadi begini, kamu itu terjebak dalam keadaan yang
sangat sulit untuk menuju sebuah kesuksesan. Lingkungan sekitarmu yang sangat
mudah dan mewah pada saat ini akan menjadi bumerang bagi masa depanmu kelak.
Coba diingat-ingat kembali bagaimana seharusnya terang ternyata masih menjadi
gelap. Ditambah lagi dengan rumah berwarna darah yang seolah-olah rumah itu
adalah kamu, dan darah itu mengartikan kegagalan dan kematian sangat dekat
denganmu, bahkan lebih dekat dibanding suatu hal yang sangat dekat menurutmu.
Anjing itu adalah salah satu musuh nyata yang harus kau hadapi, karena dia
dengan sangat jelas menatapmu. Kamu harus sangat hati-hati dalam mengambil
keputusan dan melangkah untuk itu. Sedang kata dan angka itu adalah teori yang
harus kau tangkap entah dengan cara bagaimana. Semua itu masih belum kau
lakukan. Dan cahaya itu, kau masuk ke dalamnya dengan upaya sederhana menuju
impian yang masih sangat jauh di ujung sana. Kau menganggapnya sudah lumayan,
tapi ternyata masih tidak ada apa-apanya. Kemudian yang terakhir, kau kembali
pada kenyataan,” pungkasnya dengan mantap.
Aku yang dari tadi
mendengarkan dengan khusyu’ sampai lupa cara berkedip. Ternyata temanku yang
satu ini seperti dukun yang bisa menafsir mimpi sedetail itu. Berangkat dari
penjelasan ini, aku akan kembali pada semangat baru dan berusaha konsisten
untuk itu.
“Oh iya, paling itu juga ada hubungannya dengan nilaimu yang jelek waktu
itu,” celetuknya sambil tertawa.
“Huus,” aku menempelkan telunjuk di depan bibir.
Bel kembali berbunyi. Aku pun kembali masuk dengan kembali membawa
semangat yang sempat menghilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar