Selasa, 24 Desember 2019

BEL BERBUNYI

Malam ini aku benar-benar merasa kesepian. Bayangkan, dari total sepuluh penghuni rumah besar ini, semuanya pergi menyisakan aku dan seorang satpam. Ayah dan Ibu sedang pergi kondangan, kakak seperti biasa kencan sama gebetannya, padahal masih belum jadi pacar. Adikku kembali ke pondok tadi sore, pembantu rumah tangga sedang sakit dan tidak bisa masuk. Ditambah lagi satu tukang kebun dan dua pembantu rumah tangga lainnya yang mengambil cuti.
Aku yang masih berjiwa muda, tentu tidak akan cocok dengan satpam tua yang sukaannya VC an dengan istri saat tidak ada kerjaan. Baru kalau ada suara orang minta tolong, suara barang pecah, atau maling yang tertangkap basah, baru dia akan kembali siaga. Tapi aku mengakui, dalam bertugas dia memang disiplin dalam segala hal. Bahkan jika ditugaskan untuk tidak tidur tiga hari sekalipun, Ia akan tetap sanggup.
Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Sholat Isya’ di masjid seberang sudah setengah jam yang lalu selesai. Dan entah mengapa, kali ini suara detik jam dinding membuatku takut. Desir angin yang membawa rasa dingin juga terasa berbeda. Rumah ini seolah menjadi hotel hantu dan aku menjadi satu-satunya resepsionis dari kalangan manusia. Sungguh mengerikan.
Dengan cepat aku membuang pikiran itu jauh-jauh. Aku tidak boleh menjadi stres sendiri gara-gara pikiran yang aneh. Kucoba mengusir rasa gabut dengan membuka buku-buku yang tertata rapi di atas meja belajar. Tapi sayang, usaha ini tidak berhasil. Buku itu sama sekali tidak memberikan efek positif pada pikiranku. Namanya juga tidak suka baca buku.
Aahh..
Aku memutuskan merebahkan diri di kasur. Membuka WA barang kali ada chat yang masuk. Ternyata tidak ada. Hanya beberapa group yang ramai dengan pembahasan tidak jelas.
“Sungguh menyebalkan,” umpatku dalam hati.
Aku kembali bangun. Memutari ruang kamar yang dominan dengan warna biru. Warna kesukaanku. Sesekali kulihat jendela. Barang kali ada kuntilanak baik hati yang akan mengajakku bermain ayunan di seberang rumah. Jika seandainya ada, aku akan memilih bermain dengan hantu dibanding berdiam diri dalam sepi.
Ting.
Bunyi yang menandakan ada chat masuk. Dengan cepat aku membuka HP dan melihat nama siapa yang ada di urutan paling atas.
MAMA.
“Nak, Ayah sama Ibu ada urusan tambahan. Mungkin pulangnya agak lebih malam. Kamu baik-baik di sana ya,” katanya disertai emoticon love.
Aku menelan ludah. Ini bukan kabar baik, tapi kabar buruk.
Sebenarnya tidak baru pertama ini aku sendiri di rumah. Tapi aneh saja, rasa tidak nyaman, galau, boring, dan lainnya, tiba-tiba datang malam ini mengganggu pikiran dan merusak segalanya. Aku berusaha untuk tidur. Namun usaha itu tetap saja gagal.
Alangkah malangnya nasibku malam ini.
##@@##
Setelah berhasil membuka mata dari terpejam sekitar 8 jam, aku kira sudah pagi. Ternyata tidak. Sekelilingku masih gelap seperti tadi malam. Atau mungkin memang masih belum berganti hari? Aah tidak mungkin. Berulang kali kuusap mata agar bisa menangkap keadaan sekitar dengan sebenarnya.
Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tapi masih gelap. Aneh.
Kubuka jendela kamar lebar-lebar. Memastikan apakah benar ini nyata atau hanya halusinasi. Decitan suara saat jendela dibuka terdengar mengganggu telinga. Angin pun langsung menerpa wajahku yang  masih setengah sadar. Seketika aku terkesiap. Ini nyata.
Semua pemandangan berubah drastis. Rumah tetangga samping rumah yang biasanya berwarna merah kini berwarna darah. Lebih mengerikannya lagi, di depan rumah itu yang biasanya dikelilingi kucing-kucing, kini dipenuhi serigala gila yang tatapannya bisa membuat anak kecil pingsan. Sejenak serigala itu melihatku dengan tatapan bengis. Aku balas melihatnya. Aku langsung menutup jendela.
“Hah, ini tidak mungkin,” kataku sambil menyenderkan badan di tembok dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Aku keluar dari kamar. Di depanku langsung terpampang kata dan angka yang terbang di mana-mana. Di meja, kursi, dan laci yang seperti sudah berumur ratusan tahun. Aku bingung. Semua ini jelas-jelas tidak nyata. Beberapa kali kutepuk pipiku, tapi ini bukan mimpi.
Aku terpejam sambil memgang kepala dan rambut. Kepala ini terasa mau meledak dan memuntahkan segala risau yang melanda. Entah apa yang bisa aku lakukan saat ini. Semua ini mengingatkanku pada ulangan kemarin yang berakhir pada nilai merah. Aku gagal.
“Apa mungkin semua ini karena aku gagal di ulangan matematika dan bahasa indonesia?” tanyaku dalam hati.
“Bisa jadi,” jawabku sendiri.
Aku ingat betul sebelum malam tiba, paginya aku menerima tulisan merah dengan angka 20 setelah selama satu jam setengah aku bertarung dengan soal-soal. Dua mata pelajaran itu memang pelajaran yang paling kubenci dari dulu. Jangankan disuruh belajar, mendengar namanya saja sudah muak. Padahal bahasa indonesia bagi kebanyakan orang adalah pelajaran yang tergolong mudah. Tapi tidak bagiku. Aku lebih suka bahasa inggris.
Sedang matematika, banyak orang yang memusuhinya termasuk aku. Mungkin yang membaca tulisan ini juga begitu. Satu detik berlalu. Aku memutuskan untuk berlari keluar rumah. Menuju cahaya yang entah berasal dari arah mana. Cahaya itu hanya sekedar titik yang bisa kumasuki tanpa harus khawatir terjepit oleh keadaan.
Ternyata, jalan cahaya itu amat panjang. Aku sempat berpikir apakah ini yang namanya Shirotol Mustakim yang pasti dilalui oleh semua orang yang sudah mati. Atau memang aku yang sudah mati?
Bedanya, jalan itu tidak setajam pedang sebagaimana diceritakan dalam kitab-kitab. Jalan itu tidak bergaris, tidak berbatas, dan tidak bertanda. Cahaya itu bisa menyilaukan mata jika dilihat orang biasa. Tapi aku tidak. Benar-benar aneh.
Aku terus berlari. Semakin lama semakin kupanjangkan jangkauan langkah ini. Tak peduli pada apapun yang mencoba menghalangi.
Di depan sana, terlihat seperti pintu berwarna emas yang sangat indah. Di bagian pinggirnya ada ukiran-ukiran kuno yang tidak bisa ditiru oleh alat modern secanggih apapun. Meski tidak dapat dibaca, namun keindahan selalu ada di sana.
“Hampir sampai,” kataku dalam hati.
Aneh. Sangat aneh. Aku bahkan lupa dari mana masuk jalur cahaya ini. Berawal dari ketakutan, galau, pikiran stres, kemudian tampak setitik cahaya, dan aku masuk ke dalamnya. Di sepanjang perjalanan, tidak ada pohon, bunga, atau apapun. Aku tak bisa melihat burung di atas, tak bisa melihat semut dibawah, dan tak bisa melihat benda apapun. Sebab semuanya kosong.
Putih.
Tidak seperti yang aku kira. Perjalanan ternyata masih panjang. Padahal tadi diprediksi sebentar lagi sampai. Nyatatanya tidak. aku harus kembali berlari dan terus berlari untuk menuju pintu. Entah sampai kapan, mungkin sampai raga ini lelah parah atau bahkan kaki ini patah.
Semuanya kembali cerah.
##@@##
Aku membuka mata. Tapi tidak dari keadaan tidur. Semuanya tiba-tiba saja terjadi. Ruang kamar kembali bercahaya. Aku bisa melihat buku-buku tetap tertata rapi, celengan ayam yang berada di bawah meja, sepatu yang ada di pojokan, dan warna biru yang mendominasi.
Aku kembali mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Kata dan angka yang beterbangan, suasana yang gelap pekat, serigala dengan mata tajam, hingga setitik cahaya yang muncul dan sangat jauh menuju pintu. Aku berusaha memahami semua itu. Pasti ini adalah suatu tanda. Tapi tanda apa?
Saatnya makan.
Sebelum sampai di meja makan, aku sudah dapat menduga bahwa ibu hari ini masak ayam goreng, tumis, dan lengkap dengan sambal terasi yang menghangatkan mulut. Semua itu berkat hidungku yang penciumannya lebih tajam dari anjing jika dalam hal makanan. Sejanak kunikmati aroma itu sambil menggerak-gerakkan badan. Nikmat sekali.
Setelah membasuh muka dan tangan, aku langsung meluncur ke meja makan. Aku memang lebih sering makan dulu dibanding mandi dulu, sebab dengan begitu aku bisa membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Semua ini hanya tentang prinsip dan keyakinan.
“Selamat pagi sayang,” sapa ibu yang sedang sibuk di balik dapur.
Entah dari mana beliau melihatku. Mungkin dari suara-suara yang aku ciptakan.
“Hhm,”
Ayah dan kakaku masih belum terlihat. Baru kali ini aku yang sampai di meja makan duluan.
Ternyata benar. Ibu memasak ayam goreng, tumis, dan lengkap dengan sambal terasi. Tak lupa nasi putih juga ada di sana. Keluarga kami bukanlah keluarga yang hanya suka makan sayuran dan ayam. Di sampingnya juga sudah tersedia gelas dengan teko yang berisi penuh air putih. Keluargaku memang lebih suka minum air putih ketimbang air berwarna. Sebab lebih menyehatkan katanya.
Satu menit setelah aku duduk, Ayah kemudian datang dengan dasi merah yang menempel di kerah bajunya. Diikuti kakak dengan bau minyak “seribu malaikat” yang bisa kuhafal aromanya. Mereka berdua pun ikut duduk. Tidak ada kata apa-apa yang keluar dari mulut mereka. hingga akhirnya ibu datang memecah keheningan.
“Yuuhuuu, mari makan,” kata Ibu dengan nada riangnya.
Di keluarga kami yang paling rame adalah ibu. Ia tidak segan-segan melakukan apa saja demi keharmonisan dan kehangatan dalam keluarga. Pernah suatu ketika, ibu dan ayahku bertengkar mengenai suatu hal. Mereka tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya mereka  mogok bicara antar sesama.
Satu hari dua hari lewat. Pas di hari ketiga, ayah akhirnya harus mengibarkan bendera putih. Ia sudah tidak mampu melawan Ibu dengan segala emosinya. Mengapa tidak? jika Ibu sedang marah, maka jangan berharap ada makanan enak di meja makan. Palingan Cuma ada tahu dan tempe goreng. Itu sudah yang paling beruntung. Parahnya, bisa sampai tidak ada benda apapun di atas meja makan. Hingga akhirnya ayah harus memasak sendiri.
Pas di hari ketiga, saat Ayah harus bertekuk lutut di hadapan Ibu, Ibu juga mengaku bahwa dia sebenarnya sedang nge-prank ayah dengan segala tingkahnya. Mengetahui itu, tentu Ayah hampir langsung marah. Tapi semua itu berubah menjadi pelukan hangat. Aku yang menyaksikan dari kejauhan hanya tertawa geli melihat mereka berdua. Padahal udah tua tapi masih aja sempat seperti itu.
“Ini cobain masakan baru Ibu,” ucap Ibu sambil memberikan sepotong ayam ke piringku.
Aku menerimanya dengan senyum.
“Ekhem,” kata Ayah.
Aku bisa mengenali betul bahwa batuk itu adalah palsu. Mungkin lebih tepatnya batuk cemburu karena aku yang dikasih lebih dulu.
“Iya iya, ini untuk suami tercinta,” kata Ibu sambil mengulang seperti apa yang dilakukannya padaku.
Ayah tersenyum. Kakak hanya bersikap biasa saja. Mungkin dia sudah terbiasa seperti itu dengan pacarnya. Berbeda dengan aku.
Setelah semuanya mengambil nasi dan ayam secukupnya, tanpa menunda lagi kami langsung menghajar makanan tanpa ampun. Tangan Ayah yang paling besar di antara kami membuatnya selesai duluan. Ayah kembali mengambil nasi, rupanya satu piring tadi masih belum bisa membuatnya kenyang. Wajar saja beliau gemuk.
Di tengah-tengah prosesi makan, ingin rasanya aku bercerita pada mereka perihal apa yang menimpaku semalam. Tentang gelap, cahaya, serigala, pintu dan hal-hal yang kutemui lainnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya ini buka waktu yang tepat.
##@@##
Di sekolah, pikiranku masih tak bisa lepas dengan kejadian semalam. Mimpi itu seperti sebuah isyarat yang langsung melekat rekat dalam otak dan diingat oleh semua saraf yang berfungsi. Perkataan guru yang menjelaskan materi menjadi omong kosong tanpa arti.
Satu jam dalam kelas kuhabiskan percuma. Jika yang lain mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikan oleh guru, maka aku hanya mendapat ketakutan yang datang dari arah yang tidak jelas, abstrak, dan tak bisa ditebak.
Satu persatu temanku keluar kelas dengan wajah sumringah. Ada yang menuju kantin, taman, perpustakaan, dan sebagian kembali membuka buku pelajaran yang baru saja diterangkan. Sedangkan aku, masih terjebak di bangku kebodohan.
“Ada apa Fin?” tanyanya mengagetkanku.
“Eh, tidak apa-apa kok,”
“Sepertinya kamu sedang ada masalah,”
“Hmm..”
Aku memutuskan untuk bercerita.
“Jadi semalam itu, aku bermimpi buruk tapi tidak sepenuhnya buruk Kur,”
“Maksudnya? Gimana tuh?”
“Waktu itu, aku terbangun dari tidur, dan keadaan ternyata masih gelap, aku merasa sangat sadar saat itu. Kemudian kubuka jendela dan melihat rumah tetangga berubah berwarna darah, di sekitarnya dipenuhi anjing gila dengan tatapan mematikan. Di luar kamar, aku temui kata dan angka beterbangan di mana-mana. Disusul muncul titik cahaya dengan tiba-tiba dan aku pun dengan polos masuk ke dalamnya. Di sana tidak ada apa-apa tapi aku bisa menginjakkan kaki. Terakhir di ujung jalan ada sebuah pintu emas dengan ukiran kuno yang tak bisa dibaca. Untuk menjangkaunya aku membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan melebihi perkiraan. Tiba-tiba aku kembali sadar,” jelasku mengakhiri cerita.
Temanku termenung sejenak. Dalam pikirannya tampak berkecamuk sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang sangat sulit dijelaskan tapi sangat tampak dalam kehidupan sehari-hari. Aku menunggu dia bersuara. Semoga apa yang diucapkannya bisa mengangkisku dari kebingungan.
“Kalau dipikir-pikir, menurutku mimpimu itu adalah sebuah teguran terhadap dirimu sendiri,” katanya mantap.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Jadi begini, kamu itu terjebak dalam keadaan yang sangat sulit untuk menuju sebuah kesuksesan. Lingkungan sekitarmu yang sangat mudah dan mewah pada saat ini akan menjadi bumerang bagi masa depanmu kelak. Coba diingat-ingat kembali bagaimana seharusnya terang ternyata masih menjadi gelap. Ditambah lagi dengan rumah berwarna darah yang seolah-olah rumah itu adalah kamu, dan darah itu mengartikan kegagalan dan kematian sangat dekat denganmu, bahkan lebih dekat dibanding suatu hal yang sangat dekat menurutmu. Anjing itu adalah salah satu musuh nyata yang harus kau hadapi, karena dia dengan sangat jelas menatapmu. Kamu harus sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dan melangkah untuk itu. Sedang kata dan angka itu adalah teori yang harus kau tangkap entah dengan cara bagaimana. Semua itu masih belum kau lakukan. Dan cahaya itu, kau masuk ke dalamnya dengan upaya sederhana menuju impian yang masih sangat jauh di ujung sana. Kau menganggapnya sudah lumayan, tapi ternyata masih tidak ada apa-apanya. Kemudian yang terakhir, kau kembali pada kenyataan,” pungkasnya dengan mantap.
Aku yang dari tadi mendengarkan dengan khusyu’ sampai lupa cara berkedip. Ternyata temanku yang satu ini seperti dukun yang bisa menafsir mimpi sedetail itu. Berangkat dari penjelasan ini, aku akan kembali pada semangat baru dan berusaha konsisten untuk itu.
“Oh iya, paling itu juga ada hubungannya dengan nilaimu yang jelek waktu itu,” celetuknya sambil tertawa.
“Huus,” aku menempelkan telunjuk di depan bibir.
Bel kembali berbunyi. Aku pun kembali masuk dengan kembali membawa semangat yang sempat menghilang.

Tidak ada komentar: