Minggu, 23 Februari 2020

DI MATA DUA ORANG CUCU


Nenek selalu mengajarkan cucu-cucunya untuk sabar saat menerima musibah dan bersyukur saat menerima nikmat.
“Seberapa besar musibah yang menimpa kita, kita harus bisa sabar menerimanya. Dan seberapa kecil nikmat yang kita terima, kita, kita harus pandai mensyukurinya. Semua itu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang terbaik bagi semua hambanya. Tak terkecuali kalian,” nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk.
Rani dan Rino hanya mengangguk-ngangguk mendengar petuah neneknya. Sebagai anak yang baru memsuki usia remaja, tentu untuk memahami kehidupan secara mendalam masih belum terlalu bisa. Paling tidak, mereka telah diberikan pemahaman sejak masih labil. Dengan begitu mereka tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.
Rino tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan tangguh menghadapi takdir. Di pundaknya tertanggung adik kembarnya sekaligus nenek yang sudah hampir membuka pintu baru. Untung masih ada paman. Beliaulah yang menggantikan posisi bapak dan ibu. Tak jarang paman harus pontang-panting mati-matian demi menghidupi keluarga sudaranya yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Semua itu dia lakukan dengan ikhlas tanpa embel-embel apapun.
Sedangkan Rani tumbuh menjadi perempuan cantik yang pemalu. Di wajahnya seperti terlukis senja paling indah dan dzikir angin yang membentuk gelombang rindu bagi siapapun yang melihatnya. Kedua perawakan anak ini memang asli diturunkan oleh kedua orang tua mereka. orang tua yang belum sempat melihat mereka bisa tegak berdiri.
Sejak tiga tahun terakhir, nenek memang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Mulai dari penyakit luar hingga dalam, semuanya bercampur menjadi satu dalam diri nenek. Rino dan Rani sebenarnya tidak tega saat mendengar batuk nenek yang mengisyaratkan kematian. Tapi umur tidak ada yang tahu. Buktinya, kedua orang tua mereka telah lebih dulu menemui Tuhan dibanding neneknya.
Rino dan Rani banyak belajar kehidupan kepada neneknya. Usia beliau yang sudah mencapai angka 70 tentu telah banyak menampung pengalaman dan penuh perjuangan. Konon katanya, orang dulu jika mau makan harus mencari bahan-bahannya sendiri langsung di sawah-sawah. Tanaman pagar dijadikan menu pelengkap rasa. Tapi anehnya, orang-orang dulu tetap saja sehat meski dalam keadaan seperti itu. Tidak seperti sekarang yang semuanya serba tersedia dan penyakit semakin merajalela.
“Kami berangkat ke sekolah dulu Nek,” pamit Rino sekaligus Rani mengikuti di belakangnya.
Diciumnya tangan sang nenek yang sudah bau tanah dan dipenuhi keriput. Mata beliau yang masih tergolong sehat memancarkan cahaya keikhlasan melepas cucu-cucunya pergi menuntut ilmu. Tak lupa sang nenek mengusap kepala kedua cucunya sambil membaca doa keselamatan agar mereka senantiasa berada dalam lindungan Tuhan. Doa itu sudah turun-temurun dari keluarga mereka.
Tidak ada yang bisa dikendarai selain kaki sendiri. Satu buku dan satu pulpen menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang melarat. Tidak ada tas yang bisa digunakan untuk menampung segala barang yang dibawa. Jadi mereka harus membawa dengan tangan mereka sendiri.
Matahari masih belum terlalu panas. Wajar saja, mereka berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi sebab jarak yang lumayan jauh. Dan tentu mereka tidak ingin telat masuk sekolah walau hanya satu menit. Jiwa disiplin dan tanggung jawab benar-benar telah melakat dalam diri mereka.
##@@##
Berbagai macam pelajaran mereka terima dengan pikiran jernih. Dalam diri mereka tersimpan keiikhlasan dan daya juang yang sangat tinggi. Tak peduli pada teman-temannya yang menang dalam segi ekonomi dan fasilitas, mereka tetap pada prinsip yang dipegang teguh “Menjadi Yang Terbaik” dalam bidang keilmuan.
Di semester satu pertama, mereka langsung berhasil meraih peringkat satu dan dua di kelas. Mereka seperti bermain di taman permainan yang isinya adalah berbagai jenis ilmu. Kenikmatan belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar mendorong mereka untuk terus membaca dan menghafalkan. Sungguh prestasi yang sangat gemilang oleh dua anak kembar miskin itu.
Satu semester berlalu dengan sangat cepat hingga tiba pemberian nilai.
“Wah, nilaimu bagus-bagus nak,” salah satu orang tua yang hadir memuji nilai Rani.
“Kamu juga tidak kalah saing,” kata bapak yang lain pada Rino.
Keduanya mendapatkan penghargaan khusus dari kepala sekolah dan beberapa guru. Teman-teman yang lain ada yang iri melihat kebahagiaan Rani dan Rino. Apablagi kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan kalah dengan keluarga melarat.
Sesampainya di rumah, kabar itu langsug disampaikan pada nenek yang batuknya sudah semakin nyaring. Mendengar kabar itu, senyum nenek spontan semakin mengembang. Terlihat raut kebahagiaan di wajah beliau yang semakin tua. Hingga kemudian beliau menyampaikan petuah lagi.
“Selamat cu atas prestasinya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian ingat, bahwa inti dari kalian mencari ilmu adalah bukan tentang prestasi. Kalian akan menghadapi perjuangan yang lebih hebat setelah menerima ilmu di sekolah. Tidak hanya sebatas mengamalkan dan mempertahankan, tapi juga bagaimana kalian bisa membersihkan hati dari segala penyakit dalam menggapai ridho-NYA,”  nenek mengakhiri petuahnya dengan batuk yang semakin parau.
Keduanya mengangguk. Kebanggan yang awalnya menggebu-gebu mulai menurun setelah mendapatkan penjelasan dari sang nenek. Kemudian mereka keluar menuju kamarnya meninggalkan nenek sendirian.
Di dalam kamar, seperti biasa mereka kembali membaca beberapa buku kemudian mendiskusikannya bersama. Beberapa persoalan mereka temukan jawabannya, dan beberapa lagi masih belum terungkap. Selain menjadi ruang belajar, kamar mereka sekaligus menjadi ruang imajinasi di mana cinta dan kata-kata bersetubuh melahirkan puisi. Ya, mereka kadang-kadang suka menjadi penyair.
Senja beranjak pulang dari tempat bermainnya. Di sudut-sudut langit, gelap mulai menunjukkan wajahnya. Sebentar lagi pasukan bulan dan bintang akan segera menyerbu Rani dan Rino serta penduduk setempat.
Tepat saat adzan maghrib berkumandang, paman Rani datang membawa kabar buruk yang akan menjadi awal dari kesedihan yang lain. Wajahnya yang sudah lelah tampak semakin kusut dengan berita yang entah akan disampaikan bagaimana pada yang lain. 
Ya, sang paman telah kehilangan pekerjaannya setelah melakukan kesalahan. Dengan begitu, dia sudah tidak bisa lagi membiayai sekolah Rani dan Rino. Dan mirisnya, pembayaran uang sekolah sudah tinggal tiga hari lagi.
##@@##
Semester kembali berganti.
Mau tidak mau, akhirnya paman meyampaikan berita itu pada mereka. kabar yang bertolak belakang dengan kegembiraan mereka beberapa waktu yang lalu.
“Jadi bagaimana paman?” tanya Rani.
“Untuk sementara kalian berhenti sekolah dulu,” ucapan itu sulit sekali keluar dari mulut paman.
Keduanya langsung terdiam. Tidak ada suara apapun kecuali angin yang lewat kemudian berlalu. Mata Rani dan Rino saling berpandangan. Tampak sebuah kekecewaan yang sangat mendalam dari mata mereka. tapi mereka hanya diam tanpa kata-kata menahan tangis agar tidak tumpah di hadapan paman yang baik hati.
Esok harinya paman langsung pergi ke sekolah untuk memberikan kabar bahwa Rani dan Rino tidak bisa membayar SPP sekolah. Dengan begitu berarti Rani dan Rino terpaksa tidak bisa mengikuti sekolah. Keputusan sekolah yang begitu ketat seolah memutus cita-cita Rani dan Rino. Padahal mereka termasuk anak rajin berprestasi yang layak diperjuangkan. Tapi apalah daya, peraturan tetaplah peraturan.
“Dengan mohon maaf yang sebesar-besarnya, anak bapak tidak bisa melanjutkan sekolah di sini,” tegas kepala sekolah.
Rino yang mendengarnya dari arah luar spontan sangat terpukul. Cita-citanya untuk menjadi orang sukses di masa depan sedang dilanda kabut hitam.
Akhirnya paman Rani pulang dengan membawa sedih yang sangat mendalam. Tatapannya mulai redup tak seperti saat baru berangkat dari rumah. Pikirannya lanhsung tertuju para Rni dan Rino yang sangat semangat belajar. Apa jadinya dua anak berprestasi harus berhenti gara-gara masalah ekonomi.
Di rumah, nenek sudah duduk di ruang tengah sambil menonton berita TV. Di depannya tersaji buah mangga yang sudah dipotong kecil-kecil. Tak lupa sebotol air mineral juga ada di sana. Paman masuk dengan raut wajah berbeda.
“Ada apa?” tanya lirih nenek sambil menatap paman.
Paman tak langsung menjawab. Dia menatap nenek sejenak. Kemudian dia duduk di samping nenek. Berusaha menyusun strategi agar apa yang disampaikan tidak menyakiti hati nenek. Tapi sayang, nenek pasti lebih paham bagaimana makna raut wajah seseorang.
Akhirnya paman menceritakan semuanya mulai dari awal hingga akhir. Perihal dirinya yang dipecat akibat melakukan kesalahan, perihal Rino dan Rani yang dikeluarkan dari sekolah, dan segala kesuh kesah yang hampir membuatnya gila. Mendengar hal itu, nenek hanya terdiam. Di matanya seperti terbakar api kesedihan yang masih ditutup-tutupi.
Paman Rani mulai paham. Ia tidak ingin membawa suasana menjadi lebih buruk. Dialihkannya pembicaraan pada sebuah acara televisi yang sudah berganti.
Sedangkan di dalam kamar, Rino dan Rani sudah berderai air mata. Bantal yang mereka jadikan alas sudah basah sampai ke dalam-dalam. Suasana kamar yang biasanya selalu riang gembira kini berganti sunyi dan mengerikan. Imajinasi telah pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka berdua harus menghapus harapan yang sempat dibangun.
##@@##
Takdir tak bisa ditolak. Rasa kecewa yang didukung oleh penyakit dan restu dari maut membuat nenek harus pulang ke rumah keabadian. Awalnya, nenek mengalami pusing yang sangat berat, kemudian beliau tidak enak makan, hingga akhirnya dan masuk rumah sakit.
Lagi-lagi keluarga Rani harus menanggung biaya yang tidak sedikit. Musibah demi musibah berganti menghampiri. Belum selesai tangis kemarin kering, kini sudah datang tangis yang lebih deras lagi. Nenek divonis meninggal beberapa menit setelah tidak ada kepastian perawatan lebih intensif dengan biaya yang lebih tinggi.
Tangis pun meledak dari semua orang. Terutama Rani dan Rino yang masih belum menginjak dewasa dan belum siap menghadapi kerasnya kehidupan. Takkan terdengar lagi petuah nenek di beberapa kesempatan yang membuat mereka menjadi lebih baik. Doa demi doa dipanjatkan untuk keselamatan nenek di alam kubur hingga aalam akhirat.
Prosesi jenazah dilakukan beramai-ramai oleh pendduk sekitar. Banyak dari para tengga yang ikut berpartisipasi menguburkan jenazah nenek Rino. Bagi mereka, nenek ini hanyalah orang biasa yang meninggalkan dunia. Tapi di mata Rani dan Rino, beliau tidak hanya sekedar nenek, tapi juga sebagai pahlawan moral yang akan selalu hidup sepanjang masa.

Sabtu, 22 Februari 2020

MATI DALAM MIMPI


Jauh sebelum dunia diciptakan, mungkin banyak sekali yang Tuhan rencanakan dari awal sampai akhir. Mulai dari pertemuan hingga perpisahan, persahabatan hingga permusuhan, dan rasa cinta yang selalu saja menyimpan rahasia. Semua itu tertulis lengkap di lauh mahfudz yang menjadi rahasia paling sempurna.
Di sini, aku sebagai laki-laki kuat tidak pernah mau menjadi seperti ini. Entah apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan, aku pun tak pernah tahu. Rasa itu selalu saja hadir mengganggu konsentrasi yang selalu kususun dengan rapi. Aku sempat berpikir, bagaimana orang-orang hebat itu melakukannya? Apa mungkin aku berbeda dari yang lainnya? Ah entahlah. Semuanya sangat membingungkan.
Sebagai anak satu-satunya, biasanya seluruh perhatian dan kasih sayang orang tua sepenuhnya aku didapatkan. Sebab tidak ada pesaing yang akan mengurangi jatah uang dan barang-barang yang harus dibeli. Tapi sayang itu tak terjadi padaku. Sebagai anak satu-satunya, aku dituntut banyak hal dengan batas waktu yang ditentukan. Ah sial.
Hal pertama-tama yang harus dibangun oleh seorang laki-laki dalam menghadapi semua situasi adalah rasa berani. Kelihatannya ini memang mudah, tapi jangan salah, aku sudah mencobanya beberapa kali tapi selalu saja gagal. Aku harus mampu bertarung dengan diriku sendiri saat keadaan bersekutu dengan orang lain dan aku hanya sendirian.
“Ayo lah, aku pasti bisa,” ucapku pada diri sendiri saat tampil di festival lomba menyanyi.
Ini bukan pertama kali aku mencoba ikut lomba. Terhitung sudah tiga kali aku mencoba naik panggung di depan banyak pasang mata. Dan semuanya berakhir dengan memalukan. Sungguh aku harus banyak memperbaiki diri lagi.
“Halah, kamu tidak akan bisa. Sudah lah, tidak usah memaksakan diri,” diriku yang lain memberikan suntikan negatif.
Setelah membaca doa sambil memejamkan mata, mengambil nafas, akhirnya aku melangkah menuju panggung. Lampu kelap-kelip dan lampu sorot langsung tertuju padaku. Riuh gemuruh penonton bercampur dengan aroma makanan yang dijual oleh pedagang asongan. Semuanya lebur dalam euforia malam minggu yang sangat menakjubkan.
Aku berdiri tepat di depan ribuan pasang mata. Kulihat sejanak satu persatu wajah penonton yang tidak jelas siapakah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan kaum muda yang sedang dahaga cinta. Tak lupa kuingat kembali Tuhan. Dzat yang telah menciptakan dan menyempatkan aku berdiri di sini.
Setelah menyiapkan segala sesuatu ke operator, aku pun mulai bernyanyi salah satu lagu kesukaanku. Judulnya “Surat Cinta Untuk Starla”. Lagu ini sekaligus menjadi bahan nostalgiaku dengan seorang perempuan istimewa yang sempat singgah di hidupku. Siapa tahu dengan begitu aku bisa menghayati lagu yang sedang kunyanyikan.
Lagu dimulai. Aku bernyanyi selama kurang lebih 5 menit degan gaya khasku sendiri. Awalnya masih baik-baik saja. Tepat saat memasuki menit ketiga, rasa itu kembali hadir mengganggu semuanya. Aku dihantui rasa khawatir dan diikat rasa takut yang menjakar ke seluruh peredaran darah. Sepertinya sebentar lagi darah ini akan mendidih dan meluap ke mana-mana.
Akhirnya, suaraku tak senada dengan musik ditambah lagi suaraku yang cempreng membuat banyak telinga tersiksa.
##@@##
Hari baru kabar baru. Sekolahku langsung geger dipenuhi berita ketakutanku tadi malam di atas panggung. Rupanya banyak teman-teman sekolah yang juga ikut menonton di sana. Apa mungkin rasa khawatir itu timbul sebab adanya mereka? Ah entahlah, rasa ini masih belum bisa kubunuh sepenuhnya sejak beberapa tahun yang lalu.
Sebanyak 100 lebih siswa yang ada di sekolah, sepertinya lebih separuh yang sudah tahu perihal kejadian semalam. Mulut orang-orang zaman sekarang emang lebih cepat dari HP bahkan angin sekalipun. Sebagian teman ada yang memberikan motivasi untuk terus belajar, dan sebagian yang lain ada yang malah menjatuhkan.
“Dasar bodoh!”
“Makanya latihan dulu sebelum tampil,”
“Ya udah tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirin,”
Dari peristiwa itu, aku menemukan banyak respon dari banyak kepala. Hingga akhirnya aku paham, mana yang benar-benar teman, dan mana yang sekedar datang saat butuh saja. Ingin rasanya aku lempar kepala orang yang menghinaku dengan batu bata yang sangat besar.
Aku pulang dengan perasaan sedih. Bayangkan, teman-teman kelasku banyak yang menertawakanku saat jam istirahat. Seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat melakukan. Padahal menurutku, aku masih belajar menjadi lebih baik. Oh Tuhan, berikan hamba kekuatan.
Sepanjang jalan pulang aku hanya bisa menangis sambil menunduk memperhatikan jalan. Sesekali aku menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalanku. Aku sempat berpikir hidup ini memang tidak adil. Banyak sekali perbedaan antara aku dan yang lain. Dan dalam posisi sekarang, akulah yang dirugikan. Aku tak sanggup tuk sekedar mengalahkan diriku sendiri, apalagi orang lain.
Perjalanan terasa lebih lama. Pikiranku mulai pergi kemana-mana. Membandingkan hidup teman yang satu dengan yang lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangunan di pinggir jalan. Entah bangunan apa itu, yang jelas banyak sekali orang yang berhenti di sana.
Ada yang sibuk berduaan dengan pacar, ada yang menyuapi anaknya, dan ada yang hanya sibuk sendiri memandangi HP dan menscroll status teman satu persatu. Aku kemudian bergabung ke sana dan lebih memilih duduk dan diam sejenak. Kuletakkan tas yang berisi buku dan alat tulis di samping kananku. Aku pun diam.
Jam masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Biasanya, aku sudah pulang sejak sejam yang lalu. Tapi karena aku materi tambahan pada kelas akhir, akhirnya aku baru pulang. Angin berdesir pelan. Suara klakson terdengar bersahut-sahutan antara yang satu dan yang lain. Bercampur dengan debu-debu yang selalu menerbangkan cerita ke sudut cakrawala.
“Kacangnya dek?” seorang bapak tua datang menawarkan kacang.
“Oh tidak pak, terima kasih,” tolakku halus.
##@@##
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada ibu. Perihal teman-teman yang mengejekku atas kejadian semalam, perihal guru-guru yang sudah meragukan kemampuan bicaraku, dan perihal segala sesuatu yang kurasakan dalam hati. Semua itu kuungkapkan dengan harapan ibu bisa memberiku motivasi agar tetap kuat bertahan dan berjuang menggapai harapan. Tapi sayang, ibu hanya menanggapi semua itu dengan biasa saja.
“Sudahlah, kamu ini laki-laki, masak seperti itu saja sudah ngeluh,” Ibu kemudian berlalu ke dapur.
Aku kembali menundukkan kepala di ruang tengah. Seseorang yang kukira akan mampu untuk memadamkan bara luka ternyata malah semakin mengobarkan api di setiap sudut hati. Aku sekarang mulai berpikir apakah di dunia ini memang tidak ada sama sekali orang yang peduli padaku?
Satu menit kemudian bapak datang. Sebagai seorang sales, dia harus banyak bicara seharian menawarkan suatu barang pada orang-orang. Jika untung maka akan banyak pembeli yang berminat pada barang bapak. Sebaliknya, jika tidak ada orang yang tertarik, maka hanya suara saja yang habis.
Beliau kemudian duduk di depanku. Melepas bajunya hingga terlihat kaos putih tipis yang melekat di badannya. Keringat berucucuran dari setiap arah tubuh beliau. Kuperhatikan sejenak wajah beliau. Tampak bahwa beliau benar-benar lelah setelah seharian berjalan mencari palanggan dan berusaha tersenyum di hadapan mereka. Aku merasa bersalah jika menyerah saat melihat wajah beliau.
“Ada apa?” tanya bapak setelah sadar aku manatapnya dari tadi.
Pikiranku kabur. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kembali apa yang telah kuceritakan pada ibu. Semoga saja bapak mau memberikan solusi terbaik atas permasalahan ini. namun lagi-lagi sayang, bapak malah menambah beban berat di pikiranku.
“Gitu saja sudah sakit hati! Kamu ini laki-laki! Harus kuat!” bapak langsung beranjak.
Deg. Aku merasakan ada beban besar yang jatuh pada kepala dan hatiku secara bersamaan.
Aku pun pergi ke kamar dan menguncinya dari dalam. Saat ini tidak ada yang boleh masuk. Aku ingin menenangkan diri sejenak bersama kata-kata yang selalu mau menerimaku apa adanya. Sebelum itu, aku ingin mandi tuk membasuh segala luka yang dari tadi bertubi-tubi diberikan oleh banyak orang.
Di dalam kamar, aku hanya duduk di balik jendela sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang. Tak lupa bulan juga ada di sana. Mereka seperti sebuah keluarga yag sangat rukun menghiasi semesta. Ada yang besar, kecil, dan ada yang sangat kecil. Konon katanya jika ada bintang jatuh maka segeralah berdoa, sebab waktu itu adalah salah satu waktu mustajab. Entah benar atau tidak, aku pun tak tahu.
Aku mulai berpikir tentang diriku sendiri. Sudah banyak percobaan yang kulakukan tapi selalu berujung kegagalan. Mungkin setelah ini akan ada gagal lagi yang harus kurasakan. Ingin sekali aku bertemu dengan rasa itu kemudian membunuhnya secara terang-terangan agar tidak datang lagi saat aku tampil di depan umum. Tak peduli pada apapun resikonya. Sebab ini sudah terlalu sakit.
Malam ini aku tidak berhasil menemukan apa-apa dari perenungn terhadap malam. Hanya saja, emosi terus membuncah dalam dada hingga aku tertidur dalam kemarahan besar.
##@@##
Aku sekarang bisa melihatnya. Dia berupa semacam manusia yang sangat mengerikan dan selalu bersedih di manapun berada. Tak jelas apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang jelas, dia tidak pernah mau tersenyum sedikit pun. Sebab dia memang tercipta dari luka, kesedihan, dan beberapa dendam yang sangat dalam.
Pelan-pelan aku mengikutinya dari belakang. Dia semakin cepat berlari, aku pun mengikutinya. Aku berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya. Dia pun berhenti pada sebuah pemakaman di salah satu kuburan kosong dan tampak masih baru seleai digali.
Aku mulai merasa takut. Dia berhenti tanpa bergerak sedikit pun. Di tanganku sudah siap sebilah pisau yang sudah kuasah dengan air mata. Sedikit saja kulit manusia terkena ujung pisau ini, maka niscaya darah segar akan langsung mengalir. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, rasa itu akan menghilang untuk selamanya.
Aroma kematian semakin tercium. Tanpa menunggu waktu lagi, kugores pisau ini tepat di lehernya seperti sedang menyembelih hewan. Dia pun menggelepar-gelepar layaknya ayam yang baru selesai disembelih. Aku melihatnya dengan perasaan menang karena telah menyelesaikan misi.
Namun apa yang selanjutnya terjadi?
Dia kemudian menarikku ke lubang itu hingga aku tidak bisa bangun lagi.

Jumat, 21 Februari 2020

DIBUNUH ATAU TIDAK?


Tidak ada yang pernah tahu sebelumnya tentang ini. Perihal senyum yang tak lagi seindah dulu, tawa yang tak lagi selebar dulu, dan kecantikan yang tak lagi sesuci dulu.
“Ada apa Nak?” tanya ibu dengan cemas.
“Tidak ada apa-apa kok bu,” jawabnya berbohong.
Semua orang mungkin tidak akan mengerti. Tapi perlahan-lahan, semuanya akan terungkap dengan jelas. Siapa yang jujur dan siapa yang bohong. Siapa yang berusaha menutupi derita di balik mata indah itu, dan siapa yang pantas menerima hukuman atas semua ini. Sungguh ini akan menjadi sangat berat bagi mereka.
Malam yang indah dengan purnama yang bertengger di angkasa tak seperti suasana hati Fitri. Perempuan itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar sambil menulis sesuatu di kertas kosong. Kejadian beberapa hari yang lalu sungguh telah membuatnya syok. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi apalah daya, kejadian kemarin akan tetap tumbuh menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak.
Hari-hari di penuhi dengan tangis dalam sunyi. Fitri tidak berani untuk berbicara banyak kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang terkenal galak bisa saja memakannya hidup-hidup jika sampai mengerti inti masalah yang sedang terjadi. Ditambah lagi omongan tetangga yang lebih tajam dari samurai pendekar.
Fitri teringat pada seseorang. Dia adalah ahli ramal yang terkenal bisa memprediksi sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Beberapa orang percaya dengan orang itu dan sebagian yang lain tidak percaya. Awalnya, Fitri adalah bagian dari yang tidak percaya dengan itu. Tapi sejak kejadian beberapa minggu yang lalu, ia mencoba sesuatu yang mungkin bisa menolong dirinya dalam bertindak.
Di hari minggu, Fitri harus rela mengorbankan jatah bermainnya demi menyelesaikan sesuatu yang belakangan ini membuat dirinya tidak nyaman. Sesuatu yang menurut sebagian orang adalah hal lumrah sebagai anak muda. Tidak mungkin jika dia masih menunda-nunda lagi masalah ini. Sebab menunda berarti memperbesar masalah dan mempersulit solusi bagi Fitri.
“Hati-hati kalau mau bertemu dengan beliau,” saran salah satu tetangga yang tahu Fitri akan ke sana.
“Kenapa emang?” Fitri tidak mengerti.
“Tidak sedikit dari kalangan perempuan yag tiba-tiba menghilang selepas pergi dari tempat beliau. Entah itu karena alasan ekonomi, hukum, budaya, maupun yang lain. Saya harap kamu bisa menjaga diri dengan baik. Apalagi kamu masih muda,” perempuan ber-anak satu itu mengingatkan.
“Terus saya harus bagaimana?”
“Perbanyak baca sholawat,” ibu itu kemudian pergi.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Fitri tanyakan tentang beliau. Tapi sayang ibu keburu pergi tanpa jejak sedikit pun. Fitri memandangi sekitar. Beberpa kupu-kupu melintas membawa doa seorang kekasih pada kekasihnya. Fitri berharap semoga kelak ia juga bisa seperti itu.
Suasana desa Fitri tergolong agamis. Setiap waktu sholat, masjid pasti selalu ramai dengan orang berjamaah. Setiap minggu ada kajian keislaman yang dalam rangka meningkatkan pemahaman sekaligus nilai spritual keagamaan warga. Tak jarang tokoh ulama terkemuka hadir di tengah-tengah mereka. menciptakan suasana indah sebagaimana islam datang sebagai rahmatan lil alamin.
##@@##
Fitri berhadapan dengan bapak tua berjenggot putih dan kulit keriput. Di depannya terdapat dupa dengan kembang tujuh rupa diiringi asap dan bau yang sudah akrab di hidung Fitri. Batinnya bergejolak. Ini adalah hal yang paling dia benci dulu, tapi sekarang dirinya sudah mau masuk dalam pintu alam ghaib. Sungguh perasaannya tak karuan.
Bapak tua itu memejamkan mata, kepalanya mengangguk-ngangguk, dan mulutnya bergetar seperti sedang membaca mantra yang entah itu apa. Sesekali tangannya terangkat dan bergoyang-goyang seperti sedang memanggil roh-roh ghaib dari alam lain. Suasana ruangan itu benar-benar sedikit menegangkan. Tapi Fitri berusaha untuk tetap tenang dengan segala apapun yang terjadi.
“Mbah..,” Fitri memanggil pelan.
“Aku sudah tahu apa maksud kedatanganmu ke sini,” si Mbah langsung memotong kata-kata yang hendak diucapkan Fitri.
Fitri langsung terdiam. Ia menegakkan posisi duduknya. Membenarkan letak tas yang dibawanya dari rumah. Kemudian menunduk layaknya seorang santri yang sedang berhadapan dengan kyai.
“Kenapa bisa jadi seperti itu?” si Mbah bertanya dalam posisi mata terpejam.
Fitri mengambil nafas. Kemudian menjawab pertanyaan Mbah dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin seorang pun yang tahu, bahkan seekor semut sekalipun.
“Itu sebuah kecelakaan Mbah,” Fitri sedikit tergugup.
Suasana sunyi sejenak.
“Hahaha..,” si Mbah langsung tertawa setelah enabur bunga merah di atas dupa.
Fitri tidak mengerti. Terbersit dalam benaknya bahwa si Mbah adalah orang gila yang kebetulan saja menjadi ahli ramal. Tapi mungkin dirinya lebih gila lagi karena percaya saja dengan orang gila.
“Tidak usah membohongi Mbah nak, semuanya bisa terlihat di sini,” si Mbah menunjukkan cermil kecil di samping dupa.
Fitri mencoba mendekat. Dilihatnya cermin kecil yang ada di samping dupa. Tapi Fitri tida melihat apapun kecuali wajahnya sendiri. Matanya memicing mencoba mencari sesuatu yang mungkin terselip di antara debu-debu yang menempel di kaca. Tapi sayang Fitri tetap tidak menemukan apa-apa.
“Sudahlah, jujur saja pada Mbah, toh Mbah tetap tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hahaha..,” suara Mbah terdengar semakin bersemangat ketika tertawa.
Fitri merasa terpojok. Tidak ada gunanya dia berbohong pada si Mbah. Kelihatanya si Mbah memang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fitri menarik nafas sejenak. Menghilangkan rasa takut dan was-was yang bisa hinggap dengan cepat. Sedangkan posisi keduanya masih tetap sama seperti tadi.
Tiga detik berlalu. Akhirnya Fitri memutuskan untuk bercerita panjang lebar. Entah konsekuensi apa yang akan dia terima. Intinya, dia benar-benar ingin aman dari segala tuduhan dan cemoohan. Di samping itu, dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi di generasi selanjutnya.
##@@##
Ternyata benar. Ramalan dari si Mbah dua puluh tahun yang lalu menjadi kenyataan. Rumah besar dan mobil mewah menghiasi kehidupan Fitri dan keluarganya. Tidak ada satu pun barang urahan yang terpajang di setiap sudut rumah. Semuanya serba mewah dengan kualitas terbaik baik dari produk dalam negeri hingga luar negeri.
Dua anak Fitri tumbuh subur dan menjadi idola di sekolahnya masing-masing. Prestasi dicapai dengan mudah bahkan berturut-turut tak terkalahkan. Senyum bahagia dan tawa gembira tumpah ruah di keluarga Fitri. Sebagai keluarga berkecukupan, tak jarang Fitri dan suaminya memberikan santunan pada anak yatim sekitar yang kekurangan. Tidak hanya itu, mereka juga tak segan-segan untuk mensedekahkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid.
“Alhamdulillah ya mas, semuanya berjalan lancar,” ucap Fitri pada suatu pagi yang tak terlalu dingin.
“Iya dek, semua ini berkat pertolongan Tuhan,” balas suami Fitri setelah menyeruput kopi yag masih hangat.
Keduanya duduk di taman belakang rumah yang dipenuhi bunga-bunga. Disampingnya terdapat kolam yang cukup besar dengan air yang sangat jernih. Di sisi kanan juga terdapat cangkruk kayu untuk bersantai menikmati kebersamaan keluarga, teman, maupun kerabat jauh yang datang untuk menyambung silaturrahmi.
Matahari semakin naik. Panas semakin mnyengat seiring jarum jam yang terus berputar menunjuka angka-angka. Sesekali angin datang membawa kabar pada ingatan tentang kenangan yang sempat terjadi tempo lalu. Sejenak pikiran Fitri kembali pada dua puluh tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya harus menghapus banyak air mata dan mengobati luka dengan doa-doa.
“Ada apa sayang?” tanya suami Fitri setelah mengetahui istrinya melamun.
“Oh, tidak apa-apa kok Mas,” jawab Fitri galagapan.
Keduanya kembali menikmati pagi. Hari minggu adalah hari libur sekolah dan libur kerja. Rencananya mereka sekeluarga akan pergi jalan-jalan ke pantai. Tempat di mana senja tinggal dan gelombang rindu bertaburan.
Dari arah pintu belakang, putri kedua Fitri datang sambil membawa hasil gambarnya yang dia kerjakan tadi shubuh. Anak yang satu ini memang memiliki jiwa seni yang sangat luar biasa. Sehingga tak heran di kelas dia dijuluki dengan nama si tangan ajaib. Dari tangannya lahir beberapa gambar yang sangat bagus. Namun anehnya, dia tidak pernah mengikutkan hasil karyanya pada lomba-lomba yang ada.
“Ini Ma, bagus nggak?” Putri keduanya menjuurkan sebuah gambar pada Fitri.
Fitri menerima gambar itu dengan tersenyum. Begitu ia buka secara lebih jelas, Fitri langsung terperanjat dengan apa yang ada di dalam gambar itu. Yaitu orang pertama yang telah berhasil membuatnya merasakan luka yang sangat lama. Padahal jauh sebelum itu, kehidupan Fitri masih sangat indah dipenuhi dengan cinta dan canda tawa.
“Wulan tahu dari mana wajah ini?” tanya Fitri dengan halus.
Raut wajah Wulan sedikit berubah. Tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi terkait gambar ini.
“Sini sini, duduk dulu,” suami Fitri yang tiada lain ayah Wulan menyuruhnya duduk.
Setelah berada di posisi yang tepat, akhirnya Wulan menceritakan asal muasal gambar itu. Sebenarnya itu adalah wajah seorang lelaki yang hadir daalam mimpi Wulan semalam. Di mimpi Wulan, laki-laki itu akan datang dengan niat jahat untuk menghancurkan keluarga Fitri. Laki-laki itu sempat mengancam dengan berbagai kalimat yang membuat Wulan takut. Tai sayang Wulan tidak bisa mengingat persis bagaimana alur dan percakapan yang terjadi dalam mimpi.
“Oh ya Tuhan..,” Fitri memandang dengan tatapan kosong.
Sang suami kemudian mengambil gamabr itu dari tangan Fitri. Dilihatnya gambar itu dengan serius seperti sedang mengerjakan soal matematika yang paling sulit. Wajah itu sangat asing bagi suami Fitri. Dalam benaknya dia berpikir, mungkin dia adalah bagian dari masa lalu istrinya yang tidak terlalu penting diungkit.
“Oh iya ada satu lagi,” celetuk Wulan setelah dari tadi mengingat-ingat.
Mata Fitri dan suaminya spontan tertuju pada Wulan secara bersamaan.
“Apa nak?” suami Fitri mengubah posisi duduknya.
“Laki-laki itu sempat mengancam akan membunuh Mama,” mata Fitri mulai berkaca-kaca.
Kedua orang tua Wulan terkejut, terutama Fitri. Sebab dia adalah target utama dari laki-laki itu. Kejadian ini benar-benar persis dengan apa yang pernah diramalkan oleh si Mbah dua puluh tahun yang lalu. Fitri kemudian beranjak pergi kemar dan menguncinya dari dalam. Rupanya kenangan itu telah berhasil masuk dalam pikiran Fitri sepenuhnya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dulu, jauh sebelum Fitri mendatangi si Mbah, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang sangat ia cintai. Dua bulan lamanya mereka menjalani kisah cinta sebagaimana sepasang kekasih yang memiliki dunianya sendiri. Tapi sayang, keduanya terjerumus dalam lubang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka melakukan hubungan intim hingga melahirkan Wulan yang saat itu masih tidak tahu apa-apa.
Kemudian Fitri konsultasi pada dukun, apakah lebih baik bayi itu dibunuh atau dibiarkan saja. Ternyata, si Mbah menyarankan agar bayi itu terus dirawat karena akan mendatangkan keberuntungan. Dengan cepat Fitri meminta nikah pada orang tuanya agar janinnya yang masih sangat kecil tidak ketahuan oleh semua orang. Sedangkan kekasih Fitri langsung menghilang setelah mengetahui dia hamil.
Dan sekarang, dia akan datang lagi dengan membawa ancaman yang baru.



Selasa, 11 Februari 2020

KEMBALI YANG MENAKUTKAN



Setiap malam Arin selalu didatangi ketakutan. Hal itu bermula sejak kematian neneknya yang sudah dapat tujuh hari. Padahal sebelumnya, Arin dikenal sebagai perempuan pemberani meski disuruh berjalan sendiri di tengah malam dengan jarak yang sangat jauh.
“Yang sabar ya Nak,” salah satu tetangga menguatkan Arin saat itu.
Kata-kata itu sering datang ke telinga Arin selepas jasad neneknya sudah dipeluk tanah.
Sebagai cucu satu-satunya, Arin masih ingat betul bagaimana dulu ia sering bergurau dengan neneknya. Tak peduli meski selisih umur yang sangat jauh, tapi nenek-cucu itu seolah teman akrab yang bisa mengerti satu sama lain.
Biasanya, setiap malam nenek akan menceritakan banyak hal kepada Arin. Mulai dari pangeran dari negeri mekkah yang mencari kekasihnya, si kancil yang suka mencuri, hingga daun-daun yang jatuh selalu tabah menerima takdir. Entah cerita itu benar-benar terjadi atau hanya dibuat-buat, yang jelas Arin sangat menikmati cerita nenek.
Dari saking dekatnya dengan nenek, Arin lebih sering tidur dengan nenek ketimbang ibunya. Padahal kamar nenek sangat sempit jika ditempati lebih dari satu orang. Ditambah lagi suasana pengap yang membuat tidur tidak enak, tapi Arin malah bisa tidur nyenyak di sana.
Ibu Arin yang hanya bekerja sebagai penjual nasi pecel tak bisa melarang Arin untuk terus dengan neneknya. Meski kadang terbersit rasa iri dalam hati. Sebagai seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, membimbingnya berjalan, dan mengajarinya banyak hal, tentu akan tersa sakit bila diduakan dengan neneknya.
Tak jarang Arin menolak permintaan ibunya untuk tidur bersama. Alasannya adalah karena tidur bersama nenek lebih enak dan lebih menyenangkan. Sungguh sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi Ibu Arin berusaha berskiap baik-baik saja, meski jauh di dalam hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di suatu sore, Ibu Arin memutuskan untuk tidak berjualan untuk keperluan suatu hal. Keperluan yang sebenarnya cukup aneh tapi sangat penting untuk diketahui. Dia akan pergi ke orang pintar untuk menanyakan beberapa hal terkait fenomena dia, anak, kemudian nenek. Sebab menjadi tidak wajar apabila anak lebih sayang kepada neneknya dibanding ibunya. Apalagi usia Arin yang masih belum sepenuhnya dewasa.
Rumah orang pintar (Ki Japrak) lumayan jauh dari desa Ibu Arin. Menurut cerita, jika ingin datang dan bertanya sesuatu pada Ki Japrak, maka syarat utamanaya adalah harus jalan kaki dari tempat tinggal menuju rumah beliau. Tak peduli jaraknya puluhan,ratusan, bahkan ribuan kilo meter. Semuanya tetap sama.
Sebelum berangkat, Arin seperti biasa mencium tangan ibunya dengan penuh ta’dzim. Kemudian mencium tangan neneknya ditambah cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Beberapa pesan disampaikan oleh nenek. Terakhir Arin berangkat ke sekolah bersama teman-teman.
Setelah itu, nenek akan pergi ke kamarnya emudian mengunci dari dalam. Ibu Arin tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Setiap kali Ibu Arin mengajak duduk bersama dan berbicara, ada saja alasan untuk menolak. Terkadang ngantuk, kadang pusing, dan kadang marah-marah sendiri tidak jelas.
Malam harinya, keluarga kecil itu seperti biasa makan bersama di meja tua yang sudah berumur puluhan tahun. Bukan karena tidak mau mengganyi meja, tapi memang mereka kekurangan dana untuk membeli perlengkapan baru. Jangankan perlengkapan baru, biaya sekolah Arin saja masih sering cari utangan ke tetangga.
“Bagaimana sekolahmu nduk?” Nenek bertanya pelan.
“Alhamdulillah lancar nek,” Arin menjawab dengan sangat antusias.
 Pertanyaan itu diulang setiap malam oleh nenek. Ibu Arin yang mendengar itu sampai muak seperti tidak ada pertanyaan lain yang bisa dilontarkan. Anehnya Arin selalu menjawabnya dengan riang gembira kemudian berlanjut pada pembahasan yang lain.
Sedangkan Ibu Arin lebih banyak diam mendengarkan dua orang di sampingnya berbicara puas. Jika seandainya bukan dirinya yang bersiasat untuk bicara, niscaya dia tidak akan diajak bicara oleh Arin dan nenek. Sungguh sesuatu yang sangat ganjal bagi sebuah keluarga masa kini.
“Ibu besok kayaknya tidak jualan,” Ibu Arin angkat bicara saat keduanya diam.
Tidak ada yang menjawab antara Arin dan nenek. Haya suara jangkrik yang menyaut pernyataan dari ibu tadi. Hingga beberapa suapan kemudian nenek menyambung pernyataan Ibu Arin.
“Kenapa?” mata nenek seperti sedang curiga.
Ibu Arin hanya menggeleng. Ia tidak mau rencananya diketahui oleh dua orang yang telah membuatnya asing di rumah sendiri. Jika mereka tahu, tentu akan menggagalkan rencana yang telah disusun dengan matang. Makan malam berakhir dengan ucapan “Selamat tidur” dari Arin. Entah untuk siapa. Yang jelas bukan untuk Ibunya.
Di dalam kamar, Arin tidur di sebelah nenek sambil memeluk pinggangnya yang sudah kurus. Nenek seperti biasa menggunakan pakaian yang sedikit terbuka yang biasa digunakan sehari-hari di rumah. Sedangkan Arin sudah siap tidur dengan baju tidurnya.
Sedangkan di kamar sebelah, Ibu Arin hanya menahan tangis yang entah mengapa datang tiba-tiba tanpa aba-aba. Keharmonisan Arin dengan neneknya sangat dekat membuat hati tidak terima sebagai ibu kandung. Seharusnya dia yang paling dekat dengan Arin, baru kemudian neneknya. Tapi sayang kenyataan berbicara lain.
Kamar Ibu Arin lumayan besar. Itu karena memang pilihan dirinya saat menikah dengan Satram yang sekarang hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi yang bisa dipeluk selain guling dan boneka. Andai saja Arin ada di sisinya, mungkin suasana akan teras berbeda. Lebih nikmat, lebih hangat, dan lebih nayaman.
“Kisah malam ini tentang sepasang kekasih yang menjalin cinta tanpa restu orang tua,” nenek Arin membenarkan letak berbaringnya.
Arin hanya tersenyum, dari beberapa cerita kemarin, batu dan daun saja bisa menjadi cerita yang menarik. Apalagi ada cinta-cintanya, pastinya akan lebih seru. Arin memjamkan mata dan melebarkan telinga. Bersiap menerima apa yang akan disampaikan oleh nenek. Dirinya seperti mempunyai mesin cerita yang bisa dipesan cerita apa yang dipesan.
##@@##
 Ibu Arin menyiapkan semuanya. Mulai dari bekal perjalanan, uang, dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi nanti. Nenek Arin yang menyaksikan itu merasa janggal dengan perlakuan anaknya. Seperti orang yang mau pindh rumah saja.
“Mau kemana?” suara nenek mengagetkan Ibu Arin.
“Oh, ini ada urusan sebentar,” Ibu Arin sedikit tergagap.
Untungnya, nenek Arin tak terlalu kepo dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan anaknya. Nenek pun berlalu menuju kamarnya.
Perjalanan di mulai. Ibu Arin harus melalui hutan yang lumayan besar untuk sampai di sana. Beberapa hewan melata menatap Ibu Arin dengn tatapan aneh. Semoga saja mereka tidak sedang kelaparan.
Satu jam perjalanan akhirnya selesai. Ibu Arin telah sampai di lokasi. Di hadapannya telah duduk bersila Ki Japrak. Seketika Ki Japrak menjelaskan pokok permasalahan.
“Jadi di mata Arin nenek itu adalah kamu, dan  kamu adalah nenek,” Ki Japrak menaburkan bunga-bunga.
Setelah paham dengan semua pokok permasalahan, Ibu Arin memutuskan untuk mengembalikan semuanya pada keadaan semula. Resikonya, sang nenek kemungkinan besar akan meninggal dunia dan Arin akan mengalami kelainan.
Dengan biaya yang telah ditentukan, Ibu Arin akhirnya mengambil jalan itu. Jalan yang akan mengubah segalanya.
##@@##
Seminggu kemudian. Nenek ditemukan meninggal di dalam kamar dalam keadaan mata terbuka. Sungguh mengerikan. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan di sana. Beberapa polisi berusaha mempelajari apa yang baru saja terjadi. Tapi sayang gagal.
Sejak saat itu, penglihatan Arin kembali normal. Dan saat itu pula, ia merasakan ketakutan sepanjang malam akibat sering didatangi oleh sang nenek. Seolah ia mau mengajaknya pergi entah ke mana.

Sabtu, 08 Februari 2020

TENTANG KABAR












Bila kabar tak kunjung datang
Aku masih setia duduk di sini
Bersama kopi dari seduhan sunyi yang sendu
Hingga malam kehilangan wajahnya yang kelam

Kasih, bila kabar telah datang
Aku akan pergi ke sudut semesta
Bertemu dengan segala perasaan
Kemudian menuliskan namamu di sana 

Kamis, 06 Februari 2020

SIAPAKAH AKU?


Setiap hari aku tidak bisa menemukan kehidupan nyata di depan mata. Angka-angka beterbangan memenuhi segala ruang: lemari, meja, bawah kasur, hingga tempat sepatu yang tak pernah mendapatkan perhatian. Semuanya memberikan tanda tanya sekaligus efek magis yang harus dipecahkan oleh para ilmuan. Dan aku terjebak di sana.

Pagi hari selalu saja seperti itu. Orang-orang selalu berhasil menemukan keindahan sunrise yang memantulkan cahaya kebaikan di setiap biasnya. Menghirup udara segar dan sejuk yang tak bisa ditukar dengan harga semahal apapun. Memandangi gunung yang menjulang, laut yang terbentang, dan menikmati kenangan yang terus melekat dalam kening. Sungguh indah rasanya.
Tampak para pedagang pergi ke pasar, para petani pergi ke sawah, dan para siswa pergi ke sekolah untuk menngambil hikmah dari setiap ilmu yang memancarkan anugerah. Sedangkan aku selalu saja di sini. Di dalam pikiranku sendiri. Membaca rumus semesta dan menafsirkannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang aku menjelma malaikat, dan terkadang aku menjelma setan yang terkutuk.
Baiklah, mungkin aku memang ditakdirkan hidup di dunia berbeda yang jauh dari akal pikiran serta bebas dari batas. Meski tidak mempunya teman pasti, tapi di sini aku bisa lebih banyak mengerti bahwa hidup hanya sebatas huru-hara, bahwa yang keji akan dicaci, bahwa yang terpuji akan menjadi tinggi, dan bahwa cinta tak pernah mengenal kata sengsara.
Di sini, aku banyak belajar merangkum waktu menjadi gumpalan kehidupan yang takkan pernah akan kembali lagi. Menelaah satu persatu kebijakan pemerintah yang kadang membuat rakyat bawah gelisah. Kemudian menyuarakannya lewat kata-kata yang tak pernah berhenti lahir dari rahim penyair. Semoga saja semua ini bisa dipahami.
Dimas yang secara resmi menjadi teman baikku selalu mengingatkanku untuk berubah. Membuka mata kepada orang lain yang tak pernah mau mengerti keadaanku. Tapi jujur aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah terlalu nyaman di sini. Bermain bersama diri sendiri yang harus dipaksa menjadi dua, tiga, bahkan banyak orang dengan berbagai jenis karakter.
Bila tiba waktu bosan, aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk menurunkan hujan sekaligus pelangi yang membentang antara harapan dan kenangan. Dengan begitu, aku bisa bertemu dengan bidadari kayangan yang turun bersama rintik suci dan sedikit bercengkerama dengannya. Karena sejak dulu, aku memang sangat penasaran dengan kehidupan di sana.
“Selamat sore,” bidadari berselendang hijau menyapa.
Dari ketujuh bidadari yang turun, yang berselendang hijau adalah yang paling cantik menurutku. Meski semuanya cantik, tapi mataku dapat dengan teliti mengklasifikasikan tingkatan kecantikan seorang bidadari. Rasa gugup spontan memenuhi dada. Sebab kecantikan bidadari memang tidak bisa diukur dengan nalar dan kata-kata.
“Selamat sore juga,” gugup semakin menjadi-jadi.
Mereka sedang mandi di sungai sebagaimana cerita yang sudah sering didengar. Tapi sayang tidak ada adegan pencurian selendang saat ini. Hanya sebatas saling sapa dan bertukar pandang yang kadang menumbuhkan pohon kerinduan dalam lubuk hati paling dalam. Semoga saja itu tidak terjadi.
##@@##
Tuhan, aku sangat yakin Engkau mendengar jeritan ini meski sangat pelan di antara bising  sepeda dan deru mobil mewah. Telah banyak kuhabiskan air mata, jerih payah, dan darah yang mungkin sebentar lagi akan tumpah. Aku mohon berikan hambamu ini jalan. Jalan menuju kehidupan nyata yang sampai saat ini masih terhalang tembok besar.
Gambar-gambar di kamar selalu memberiku motivasi untuk tetap terus hidup. Padang savana, lautan, pegunungan, hingga langit ke delapan yang kuciptakan dari pikiranku sendiri. Ah, entahlah, sepetinya aku sudah terlalu jauh berjalan. Hingga aku tak sempat memperhatikan gerimis yang sebentar lagi akan reda, api yang sebentar lagi akan mati, dan harapan yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Semuanya masih terasa asing bagiku.
Buku-buku di rak lemari selalu mengajariku ilmu yang tak pernah disampaikan oleh guru-guru. Sebab aku pasti membeli buku yang tak sesuai dengan mata pelajaran. Baik itu fiksi, non fiksi, maupun buku yang masih tidak memiliki jenis. Ya, aku memang selalu menyukai perbedaan. Oleh sebab itu aku selalu berbeda dari yang lain.
Setiap hari minggu, Dimas pasti datang ke rumah dengan membawa berita baru. Berita tentang teman-teman, kenangan, maupun cinta yang sebentar lagi akan membuahkan kebersamaan. Di antara banyak berita itu, aku sangat suka berita tentang cinta. Sebuah rasa yang timbul tanpa alasan tapi selalu saja bisa dipertanggung jawabkan. Di dalamnya banyak orang yang menjadi besar.
Setelah itu, dia pasti mengajakku pergi ke sebuah taman berbunga luka. Di sekitarnya terdengar jeritan seorang kekasih yang masih tidak mau ditinggal pergi. Nama-nama terpampang jelas dan rapi dalam goresan batu nisan. Di sana kami hanya duduk mengamati pemandangan sekitar. Menghisap rokok hasil curian dari bapak yang tak pernah memperhatikan berapa jumlah rokoknya.
“Gimana?” Dimas bertanya sambil mengerluarkan asap.
“Ya, aku sudah bisa merasakannya,” aku melihat bayang-bayang nenek bangun.
“Kalau begitu lakukanlah!”
Aku pun beranjak dan pergi ke tempat peristirahatan nenek. Perempuan yang tak sempat kulihat wajahnya. Perempuan yang katanya dengan gagah berani melawan rakyat belanda dengan tangan kosong. Tidak hanya itu, beliau juga mampu menerawang masa depan layaknya dukun yang selalu bergelut dengan dupa.
Aku mendekat. Bau kematian terasa hangat di hidungku. Sedangkan suasana hampir gelap dan matahari sebentar lagi akan tenggelam dalam pangkuan Tuhan. Matanya laksana cahaya yang menerangi jalan orang pencari kebenaran. Dan di sini aku adalah salah satu kebohongan yang pernah ada. Dari persekutuan cinta yang sangat rumit dan membingungkan.
Sekitar lima menit kemudian, percakapanku dengan nenek selesai. beliau langsung menghilang seperti debu yang ditelan angin. Sedangkan aku dibuat sedikit syok dengan pemandangan tadi. Aku segera kembali ke tempat Dimas. Kami pun langsung pergi dari area taman sebelum ada nenek-nenek lain yang muncul. Sepuluh menit kemudian aku dan Dimas sudah sampai di rumah.
##@@##
Aku kembali ke rutinitas. Menjauh dari kenyataan dan sibuk sendiri di pojok kamar. Musik kusetel dalam volume nyaring. Menghilangkan segala jenis kesepian yang bisa saja tiba-tiba masuk di celah-celah suara. Di hadapanku telah terbuka buku merah peninggalan kakek yang kutemukan dalam lemari tua. Buku yang mencurigakan ini membuatku bertanya-tanya tentang banyak hal. Perlahan kubuka halaman demi halaman.
Halaman 1
“Dunia bernar-benar akan menjadi berbeda. Sikap toleransi sekaligus dengki akan semakin meningkat. Sayangnya, toleransi di sini adalah toleransi terhadap kesalahan. Banyak kalangan millenial yang nanti akan terjebak dalam dosa kecil secara terus menerus. Bahkan para orang tua tidak sadar bahwa mereka juga telah ikut andil di dalamnya”

Aku berusaha memahami pasal ini sambil mengerutkan dahi. Minuman yang dari tadi menemani perlahan-lahan habis.

Halaman 2
“Minoritas akan kalah dengan mayoritas. Ketika kejahatan sudah merajalela, maka tinggal menunggu saatnya Tuhan menghancurkan semesta dan segala isinya. Tak peduli kalangan bawah, menengah, bahkan atas sekalipun. Semuanya akan habis bersama kefanaan yang lain. Begitu pula dalam sosial. Cucuku yang mempunyai perbedaan tentu akan mengalami kehidupan yang berbeda dari yang biasa. Dalam dirinya terjangkit sebuah penyakit yang diwariskan oleh neneknya. Kesembuhan itu akan terjadi ketika seseorang itu datang”

Halaman 3
“Seseorang itu adalah perempuan berkacamata senja yang setiap hari memungut harapan di bibir pantai. Di lehernya terdapat sebuah kalung peninggalan sunan kalijaga yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Mulai dari penyakit jasmani hingga rohani. Tidak hanya itu, perempuan itu juga nantinya yang harus menjadi pendamping hidup jika ingin hidupnya bahagia”

Aku tersentak. Rupanya benar, semua ini adalah sebuah titipan dari nenek yang entah tak bisa kupahami sepenuhnya. Begitu banyak tanda tanya yang harus dipecahkan. Aku bingung harus ke mana. Sedangkan malam semakin kejam dengan mengeluarkan hantu-hantunya dari penjara terkutuk.
Setelah berpikir kemana-mana tak tentu arah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Pergi dari dunia lain yang mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semuanya masih dikemas rapi dalam sebuah rahasia.
Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku bisa bermimpi.
##@@##
Hari yang baru. Dalam mimpi semalam, aku menemukan perempuan itu. Perempuan yang setiap hari memungut harapan di bibir pantai. Cantik parasnya, putih kulitnya, anggun senyumnya, dan masih banyak lagi keindahan dari sorot matanya. Dia berlari-berlari sambil membawa botol berisi minuman keras yang tinggal sedikit. Tampaknya dia memang suka mabuk.
Kudekati perempuan itu. Mencoba berkenalan dengan cara yang baik dan santun. Tapi sayang semuanya sia-sia. Perempuan itu malah berlari kencang seperti orang gila selepas aku memperkenalkan diri. Keanggunan itu pun lenyap seketika. Dia seperti kesurupan tujuh jin yang masuk berbarengan ke dalam jiwanya. Dengan sekuat tenaga kuikuti dia dari belakang.
Sampai pada sebuah pohon, perempuan itu berhenti sambil melepaskan kalung yang ada di lehernya. Dia berdiri di bibir pantai, memandangi gelombang, dan menutup mata seolah sedang melakukan sebuah ritual panjang. Tangan kanannya terkepal menggenggam kalung itu. Dan aku hanya bisa mengintipnya dari belakang.
Gelombang pertama datang, perempuan itu mengangkat tangan kanannya. Gelombang kedua datang, perempuan itu kembali mengangkat tangan kanannya. Dilakukannya gerakan itu sampai tujuh kali berturut-turut. Aku semakin bingung dengan semua keadaan ini.
Tepat pada putaran ke tujuh, perempuan itu membuang kalung itu tepat di mulut ikan paus. Sedangkan perempuan itu menenggelamkan dirinya dalam laut. Aku yakin ini bukan sebuah kebetulan, tapi adalah jawaban dari sebuah permasalahan. Jawaban yang semakin membuatku bingung harus bagaimana. Anehnya, mipi ini terasa begitu nyata bagiku.
##@@##
Aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Kucoba mengingat-ingat kembali mimpi semalam. Tapi sayang tidak bisa. Sebentar lagi adzan shubuh berkumandang. Aku pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu, kemudian sholat, dan mengadukan semuanya pada Tuhan.
Pagi ini lebih bersinar dari kemarin. Kehidupan nyata akhirnya berhasil kumasuki setalah melalui alur yang aneh dan menakutkan. Sekarang aku sudah bisa berbicara secara baik dengan orang lain, dianggap keberadaannya oleh teman-teman, dan tentu lebih dicintai oleh orang tua dan kerabat dekat lainnya.