Minggu, 29 Desember 2019

ADILA

Adila, sekarang kau harus tahu, bahwa rindu yang sebelumnya kau isi dengan air mata, kini telah pecah menjelma kepingan benci, airnya mengalir mengikuti arah mata angin, semakin lama semakin dingin.
Adila, di antara beberapa luka yang pernah kurasa, tidak ada luka yang paling sakit kecuali darimu, luka yang membuatku lupa segalanya, bahkan untuk sekedar mengantuk pun aku tak bisa.
Adila, sekarang aku sudah bebas seperti burung yang keluar dari sangkar, terbang ke mana-mana: ke langit, ke laut, bahkan ke wanita lain yang sedang duduk di taman itu, kemudian mendekapnya dalam sayapku.

Adila, kau tak perlu heran dengan keadaan ini, sebab semuanya telah diatur oleh diriku sendiri, hanya aku: yang tahu semua rahasia.



Jumat, 27 Desember 2019

DAUN-DAUN TAKDIR


Hari ini aku dan dua orang temanku sepakat untuk pergi ke suatu tempat yang tinggi di daerah Malang. Pemandangannya yang sangat bagus serta rintangan yang harus dilalui semakin membuat kami termotivasi untuk bisa menapakkan kaki di sana. Apalagi melihat beberapa teman kami yang sudah Posting foto di sana, membuat gairah perjalanan ini semakin bergelora.
Perlu diketahui, dua temanku  itu bernama Edi dan Firman. Rencana ini dibangun sebelum kelulusan sekolah diumumkan. Ya, kelulusan yang melepas identitas kami sebagai seorang siswa. Masa di mana semuanya masih serba abu-abu. Cinta sejati masih abu-abu, masa depan masih abu-abu, dan masih banyak abu-abu yang lainnya.
Aku masih ingat betul bagaimana semua ini berawal dari perkataan Firman yang menggebu-gebu,
“Pokoknya kita kalau lulus sekolah, kita harus ke sana,” kata Firman dengan logat situbondonya yang khas.
Aku dan Edi yang mendengarkan itu hanya tertawa tipis mengiyakan perkataan Firman. Bukan apa-apa, gaya bicaranya yang ditarik-ditarik pasti membuat pendengar tertawa.
“Tapi kita harus benar-benar menyiapkan segala sesuatunya,” tambah Edi.
Dalam kelas kami terkenal dengan panggilan group “Cah Semprul” yang selalu menyajikan sensasi baru dalam kelas. Entah itu dengan guyonan yang receh, tingkah laku yang aneh, ataupun apapun yang di luar dugaan.
##@@##
“LULUS”
Kata itulah yang muncul dibalik surat terbungkus amplop rahasia yang mampu membuat penerimanya sakit jantung.
“Yuuhuuuu”
“Yeess..”
“Horeee..”
Ungkapan-ungkapan itu muncul dengan sendirinya dari mulut-mulut kami dan yang lain. Sebuah kegembiraan yang sangat besar setelah selama tiga tahun lalang melintang dengan buku LKS dan paket yang harus kami bawa setiap hari. Tidak lupa tugas yang selalu membuat pusing kepala, mata terbuka, dan tangan dengan pena yang bergerak kemana-mana.
Kehebohan itu meledak dengan dahsyat di depan kantor sekolah, kantin, halaman depan, hingga ke seluruh sudut-sudut yang tak terlihat. Semua merasakan kebahagiaan itu bahkan sampai pada hewan peliharaan mereka. Tapi sayangnya kami tidak punya.
Setelah menerima surat itu, kami memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat kesenangan kami. Tempat yang dipenuhi ilalang, percik air, dan burung-burung yang terbang di atas kepala. Di sana tidak ada kecewa, luka, atau pun tangis. Yang ada hanya kebahagiaan tanpa sedikit pun pura-pura. Tempat itu tidak sengaja kami temukan dulu di sela-sela libur sekolah. Dan itu adalah tempat rahasia di sudut dunia. Tempat yang masih belum memiliki nama.
Kami duduk di bawah pohon besar yang daunnya terbuat dari kertas emas dan di dalamnya tertulis semua takdir. Di sana kita dapat melihat bagaimana keadaan lingkungan bertahun-tahun ke depan. Mulai dari rumah kami yang semakin bagus, pagar yang semakin tinggi dengan ukiran dan warna yang mempesona, hingga semua barang-barang yang semakin mewah.
Tapi bukan itu yang kami perhatikan. Sebab kami sudah berjanji untuk tidak mementingkan masalah dunia dan kemewahan. Kami lebih fokus pada kekeluargaan yang terjalin erat tanpa adanya sedikit pun rasa benci, dendam, marah dan sifat-sifat tercela lainnya.
“Coba lihat di atasmu, kelak kamu akan jadi wartawan handal Boy,” ucap Firman pada Edi yang memandang luas ke depan.
Edi tersenyum tapi tampak tidak ikhlas. Aku dan Firman memang sudah tahu apa cita-citanya. Ia ingin menjadi seorang guru biasa yang mengajar di desa meski bayarannya murah dan tak cukup dibelikan barang mewah. Sungguh mulia sekali niat Edi. Sesuai dengan watak bapaknya yang selalu bersikap apa adanya.
Kami duduk berjejer  di bawah pohon itu. Aku berada di tengah antara Edi dan Firman. Ilalang mengelilingi kami dengan ukuran yang hampir sama semua. Hewan-hewan kecil sejenis semut terlihat merayap di sela-sela ilalang sambil memikul makanan yang dibawa untuk keluarganya.
“Indah sekali di sini, ingin rasanya aku tidak kembali ke sana. Tempat yang dipenuhi dosa-dosa,” kata Edi dengan polosnya.
“Hmm.. iya,” tambah Firman.
Dalam hati aku juga ikut setuju. Bahwa tempat ini adalah sebenar-benarnya kebahagiaan. Tidak seperti di sana, kebahagiaan hanya semata-mata untuk orang jahat yang menumpuk-numpuk uang.
Pikiran kami terbelah tiga. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh dua orang temanku itu. Kertas kelulusan yang tadi kami terima telah kami simpan di tas masing-masing. Orang tua pasti akan sangat bahagia ketika mendengar anaknya lulus sekolah sempurna tanpa syarat. Begitu pula orang tua kami.
“Jalan-jalan yuk,” ajakku tanpa melihat mereka berdua.
Satu detik kemudian mereka masih belum merespon.
Tiga detik kemudian Firman merespon,
“Ayuk,”
Aku pun langsung berdiri yang kemudian diikuti oleh Firman. Tapi Edi masih tetap duduk dengan mata kosongnya.
“Kamu kenapa Ed?” tanya Firman.
Dia hanya mendesah pelan. Dalam pikirannya seperti terjadi badai panjang dan memporak-porandakan seluruh sistem damai yang telah dibangun oleh orang-orang baik di sekitarnya: keluarga, teman, guru, dan kenalan baik yang baru ataupun yang lama.
“Hey,” sapa Firman mencoba mengembalikan kesadaran Edi.
Dia terperanjat. Kemudian melihat aku dan Firman.
“Ikut?” tanyaku.
“Ke mana?” tanyanya bingung.
Rupanya Edi memang kehilangan pendengarannya tadi.
“Jalan-jalan,”
“Ayo,” Edi beranjak.
Kami bertiga berjalan pelan. Tidak hanya pohon dan ilalang yang ada di sini. Melainkan makhluk-makhluk indah yang keluar dari kata biasa. Di sini benar-benar berbeda. Tidak seperti di sana yang kebaikan diubah menjadi kejahatan. Dan sebaliknya kejahatan dipoles menjadi kebaikan. Sungguh memprihatinkan.
“Lihat itu, indah banget,” tunjuk Firman pada salah satu bunga.
Jika seandainya seorang penyair berada di sini, maka ratusan bahkan ribuan puisi akan lahir dengan lancar tanpa ada sedikit hambatan. Sebab suara, suasana, warna dari segala yang ada mampu menjadi sumber inspirasi menjadi puisi yang sempurna.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Firman. Belum pernah aku menemukan bunga sejenis itu sebelumnya. Warna tengahnya merah, sampingnya agak biru, kemudian ada semacam bulu putih tipis-tipis yang yang memperindah penampilannya. Jika dicium dari dekat, maka akan menimbulkan aroma wangi seperti minyak kesturi. Sungguh indah.
“Waah, mantuul nih,” kataku setelah menikmatinya.
Sedangkan Edi hanya melihatku dari kejauhan. Dia tak merasakan apa yang aku dan Firman rasakan. Entah itu karena dia memang tidak mau tahu atau memang tidak bisa tahu akan itu. Kuharap dia baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, aku dan Firman yang lebih banyak mendominasi percakapan. Edi lebih banyak diam kemudian merespon dengan gerakan anggukan atau gelengan. Tidak seperti biasanya. tampaknya ada sesuatu yang megganjal dalam pikiran Edi.
Jika berbicara luas, tempat ini seperti tak terbatas. Sejauh apapun memandang, sejauh apapun berjalan, maka tempat ini masih menyisakan lahan untuk disusuri lagi dan lagi. Pelangi melintang dari sudut timur ke sudut barat. Warna-warnanya masih segar dan sedap dipandang. Di bawahnya terlihat dua gunung utama yang diikuti bukit-bukit di sampingnya. Bentuk jalan yang meliuk-liuk dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya semakin menambah daya indah tersendiri.
Kami terus berjalan.
##@@##
Sampai pada suatu danau, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk kembali di bawah pohon yang tidak terlalu besar. Kupetik satu daun yang ternyata berisi takdir kita.
JALAN-JALAN KE SUATU TEMPAT.
Kuambil daun itu dan kutunjukkan pada Firman dan Edi. Keduanya merespon baik dan senang dengan itu. Terpancar senyum bahagia dari wajah mereka. Meski wajah Edi masih terlihat kusut seperti tadi. Tapi lumayan lah, setidaknya dia tersenyum.
“Kapan ya?” tanyaku penasaran.
Firman kemudian merampasnya dariku.
“Kalau menurutku sih, hampir ini deh kayaknya,” sambil menyipitkan mata seperti dukun ahli yang sudah benar menebak ribuan kali.
“Halah, sok tahu kamu,” timpal aku sambil mengusap wajahnya yang sok sok an.
Kami tertawa.
Gelombang air danau yang berada di depan kami berkecipak-kecipuk dengan syahdu. Meski tak terdengar dengan jelas, tapi aku yakin bahwa danau itu megeluarkan suara.
Aku akhirnya mendekati Edi. Duduk disampingnya. Kemudian merangkul bahunya yang kiri dengan tangan kiriku. Firman kemudian menyusul mendekati kami.
“Ada apa Ed?” tanyaku dengan nada iba.
“Iya Ed, kami lihat kamu tidak seperti biasanya,” tambah Firman.
“Kalau ada masalah, tidak apa-apa cerita sama kami, kita kan sahabat, siapa tahu bisa membantu,” Aku semakin memelankan suara.
Edi masih tak bersuara. Di matanya seperti tersimpan suatu rahasia yang sangat berat dan sangat mengganggu jalan pikirannya.
“Entahlah kawan, aku tidak tahu mau memulainya dari mana,” kata Edi membingungkan.
Kesedihannya semakin tampak. Matanya semakin mengkristal.
“Kamu bisa memulainya dari awal, atau terserah kamu dah yang enak,” Aku berusaha menenangkan jiwanya yang tak bergoncang.
Firman hanya diam tanpa mengeluarkan komentar apapun.
“Jadi gini, aku tuh sedih karena orang tuaku mau cerai,”
Aku dan Firman yang mendengar itu spontan kaget.
“Kenapa? Kok bisa?” tanya Firman.
“Ada deh pokoknya, masalah pribadi,” jawab Edi singkat mengakhiri cerita.
“Ya Allah, semoga kedua orang tuamu cepat baikan lagi,” kataku menguatkan Edi.
“Amiin,”
##@@##
Selalu kucoba untuk meyakinkan orang tua untuk pergi ke gunung, kenyataan masih berbicara lain. Ibu yang paling tidak setuju aku pergi ke gunung. Bukan apa-apa, beliau takut nanti aku lelah, tidak kuat, tergelincir, bahkan jatuh hingga tak ditemukan lagi jejaknya. Sementara Ayah, dia lebih mudah untuk aku bujuk. Meskipun jawabannya tidak jauh beda dengan ibu. “TIDAK”
“Takdir itu bohong,” umpatku dalam hati setelah masuk kamar.
Buku-buku yang tertata rapi akhirnya kulempar-lempar ke semua penjuru. Aku tak peduli apakah itu kitab agama atau bukan. Karena kekesalanku sudah mencapai puncaknya.
Keesokan harinya kami kembali berkumpul di tempat kesukaan kami. Di situ aku langsung menceritakan bagaimana repon orang tuaku saat mengutarakan niat untuk muncak. Ternyata, tidak hanya aku yang tidak diperbolehkan, Firman dan Edi pun juga demikian. Cuma motifnya saja yang berbeda.
“Sudahlah, aku tak ingin berdebat lagi dengan orang tua,” kata Edi setelah semuanya bercerita.
Hari ini adalah hari pernyataan bahwa takdir yang kami temukan tidak terjadi sesuai dengan apa yang tertulis. Aneh rasanya. Padahal kami sangat yakin bahwa takdir akan tetap sebagaimana mestinya. Apakah mungkin Tuhan sedang main-main dengan kita? Atau kita saja yang salah masuk tempat? Entahlah, kami memutuskan untuk tidak terlalu memperdebatkan itu.
Di atas kepala, terlihat sebuah pesawat yang melintas diikuti asap putih yang membuntutinya dari belakang. Waktu kecil, kami selalu meneriaki pesawat dengan meminta uang. Entah itu terdengar atau tidak, yang jelas itu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami. Meski suara harus tersedak.
Satu jam kami di sana dengan pembicaraan ngalor ngidul tanpa semangat seperti biasanya. Sesuatu yang berharga telah hilang dalam jiwa kami walau hanya sekedar keinginan dari harapan yang sudah di depan mata.
##@@##
Suasana di rumahku seperti suasana biasanya. Angin pagi, senyum mentari, daun-daun yang mengembun, serta beberapa hewan yang mondar-mandir mencari makanan untuk diri sendiri ataupun keluarganya.
Kebetulan televisi rumah saat itu menyala. Beberapa promosi produk menghiasi sajian utama. Hingga tiba pada sebuah berita terkini:
Ditemukan 5 orang tewas dalam rombongan pendakian panderman dengan ciri-ciri sebagai berikut: yang pertama rambut panjang, mata sipit, dan agak gemuk. Yang kedua kurus, rambut pendek, yang ketiga gundul, yang keempat kribo, dan yang terakhir tak terdeteksi. Kecelakaan ini disebabkan oleh adanya kebakaran hutan secara mendadak yang  menyebabkan beberapa pendaki meninggal.   
“Alhamdulillah,” batinku.

Kamis, 26 Desember 2019

KABAR CUACA TERKINI


Pagi ini rupanya tak seindah kemarin, sayang
Saat mentari terbit dari arah timur tepat di kedua matamu
Kemudian berhenti di ubun-ubun sepanjang kita mau
Menyaksikan kita yang melakukan ini itu
Tak peduli meski ia cemburu

Siang ini rupanya tak sepanas kemarin, sayang
Saat sentuhan jari-jarimu menantang hasratku
Dalam pergulatan akbar di bawah selimut biru

Malam ini rupanya sangat dingin, sayang
Saat kau tinggalkan aku bersama kata-kata
Yang kemudian membeku menjelma puisi tentang kita

Kita pun abadi dalam segala waktu dan cuaca



Rabu, 25 Desember 2019

BIRU

Di pagi yang pertama
Kata segala, kita telah menjadi berbeda dari sebelumnya
Meski langit tetap pada ketinggiannya yang tak terkira
Dan laut masih bergelombang pada kedalaman birunya

Di pagi yang kedua
Semesta telah berhasil kubeli
Dengan pembayaran tunai tanpa sedikit pun hutang
Untuk kita nikmati berdua yang membiru di segala penjuru

Di pagi yang ketiga
Tak pernah bosan kulangitkan namamu menembus biru-NYA
Menggapai hal-hal yang sebelumnya masih menjadi rahasia
Untuk kita berdua

Di pagi yang seterusnya
Terima kasih kuucapkan kepada dzat yang membirukan laut dan langit
Betapa birunya cinta kita, telah lebih pekat dari keduanya
Semoga Tuhan memberkati itu
Hingga waktu berlibur pada kehendak-NYA


Selasa, 24 Desember 2019

BEL BERBUNYI

Malam ini aku benar-benar merasa kesepian. Bayangkan, dari total sepuluh penghuni rumah besar ini, semuanya pergi menyisakan aku dan seorang satpam. Ayah dan Ibu sedang pergi kondangan, kakak seperti biasa kencan sama gebetannya, padahal masih belum jadi pacar. Adikku kembali ke pondok tadi sore, pembantu rumah tangga sedang sakit dan tidak bisa masuk. Ditambah lagi satu tukang kebun dan dua pembantu rumah tangga lainnya yang mengambil cuti.
Aku yang masih berjiwa muda, tentu tidak akan cocok dengan satpam tua yang sukaannya VC an dengan istri saat tidak ada kerjaan. Baru kalau ada suara orang minta tolong, suara barang pecah, atau maling yang tertangkap basah, baru dia akan kembali siaga. Tapi aku mengakui, dalam bertugas dia memang disiplin dalam segala hal. Bahkan jika ditugaskan untuk tidak tidur tiga hari sekalipun, Ia akan tetap sanggup.
Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Sholat Isya’ di masjid seberang sudah setengah jam yang lalu selesai. Dan entah mengapa, kali ini suara detik jam dinding membuatku takut. Desir angin yang membawa rasa dingin juga terasa berbeda. Rumah ini seolah menjadi hotel hantu dan aku menjadi satu-satunya resepsionis dari kalangan manusia. Sungguh mengerikan.
Dengan cepat aku membuang pikiran itu jauh-jauh. Aku tidak boleh menjadi stres sendiri gara-gara pikiran yang aneh. Kucoba mengusir rasa gabut dengan membuka buku-buku yang tertata rapi di atas meja belajar. Tapi sayang, usaha ini tidak berhasil. Buku itu sama sekali tidak memberikan efek positif pada pikiranku. Namanya juga tidak suka baca buku.
Aahh..
Aku memutuskan merebahkan diri di kasur. Membuka WA barang kali ada chat yang masuk. Ternyata tidak ada. Hanya beberapa group yang ramai dengan pembahasan tidak jelas.
“Sungguh menyebalkan,” umpatku dalam hati.
Aku kembali bangun. Memutari ruang kamar yang dominan dengan warna biru. Warna kesukaanku. Sesekali kulihat jendela. Barang kali ada kuntilanak baik hati yang akan mengajakku bermain ayunan di seberang rumah. Jika seandainya ada, aku akan memilih bermain dengan hantu dibanding berdiam diri dalam sepi.
Ting.
Bunyi yang menandakan ada chat masuk. Dengan cepat aku membuka HP dan melihat nama siapa yang ada di urutan paling atas.
MAMA.
“Nak, Ayah sama Ibu ada urusan tambahan. Mungkin pulangnya agak lebih malam. Kamu baik-baik di sana ya,” katanya disertai emoticon love.
Aku menelan ludah. Ini bukan kabar baik, tapi kabar buruk.
Sebenarnya tidak baru pertama ini aku sendiri di rumah. Tapi aneh saja, rasa tidak nyaman, galau, boring, dan lainnya, tiba-tiba datang malam ini mengganggu pikiran dan merusak segalanya. Aku berusaha untuk tidur. Namun usaha itu tetap saja gagal.
Alangkah malangnya nasibku malam ini.
##@@##
Setelah berhasil membuka mata dari terpejam sekitar 8 jam, aku kira sudah pagi. Ternyata tidak. Sekelilingku masih gelap seperti tadi malam. Atau mungkin memang masih belum berganti hari? Aah tidak mungkin. Berulang kali kuusap mata agar bisa menangkap keadaan sekitar dengan sebenarnya.
Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tapi masih gelap. Aneh.
Kubuka jendela kamar lebar-lebar. Memastikan apakah benar ini nyata atau hanya halusinasi. Decitan suara saat jendela dibuka terdengar mengganggu telinga. Angin pun langsung menerpa wajahku yang  masih setengah sadar. Seketika aku terkesiap. Ini nyata.
Semua pemandangan berubah drastis. Rumah tetangga samping rumah yang biasanya berwarna merah kini berwarna darah. Lebih mengerikannya lagi, di depan rumah itu yang biasanya dikelilingi kucing-kucing, kini dipenuhi serigala gila yang tatapannya bisa membuat anak kecil pingsan. Sejenak serigala itu melihatku dengan tatapan bengis. Aku balas melihatnya. Aku langsung menutup jendela.
“Hah, ini tidak mungkin,” kataku sambil menyenderkan badan di tembok dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Aku keluar dari kamar. Di depanku langsung terpampang kata dan angka yang terbang di mana-mana. Di meja, kursi, dan laci yang seperti sudah berumur ratusan tahun. Aku bingung. Semua ini jelas-jelas tidak nyata. Beberapa kali kutepuk pipiku, tapi ini bukan mimpi.
Aku terpejam sambil memgang kepala dan rambut. Kepala ini terasa mau meledak dan memuntahkan segala risau yang melanda. Entah apa yang bisa aku lakukan saat ini. Semua ini mengingatkanku pada ulangan kemarin yang berakhir pada nilai merah. Aku gagal.
“Apa mungkin semua ini karena aku gagal di ulangan matematika dan bahasa indonesia?” tanyaku dalam hati.
“Bisa jadi,” jawabku sendiri.
Aku ingat betul sebelum malam tiba, paginya aku menerima tulisan merah dengan angka 20 setelah selama satu jam setengah aku bertarung dengan soal-soal. Dua mata pelajaran itu memang pelajaran yang paling kubenci dari dulu. Jangankan disuruh belajar, mendengar namanya saja sudah muak. Padahal bahasa indonesia bagi kebanyakan orang adalah pelajaran yang tergolong mudah. Tapi tidak bagiku. Aku lebih suka bahasa inggris.
Sedang matematika, banyak orang yang memusuhinya termasuk aku. Mungkin yang membaca tulisan ini juga begitu. Satu detik berlalu. Aku memutuskan untuk berlari keluar rumah. Menuju cahaya yang entah berasal dari arah mana. Cahaya itu hanya sekedar titik yang bisa kumasuki tanpa harus khawatir terjepit oleh keadaan.
Ternyata, jalan cahaya itu amat panjang. Aku sempat berpikir apakah ini yang namanya Shirotol Mustakim yang pasti dilalui oleh semua orang yang sudah mati. Atau memang aku yang sudah mati?
Bedanya, jalan itu tidak setajam pedang sebagaimana diceritakan dalam kitab-kitab. Jalan itu tidak bergaris, tidak berbatas, dan tidak bertanda. Cahaya itu bisa menyilaukan mata jika dilihat orang biasa. Tapi aku tidak. Benar-benar aneh.
Aku terus berlari. Semakin lama semakin kupanjangkan jangkauan langkah ini. Tak peduli pada apapun yang mencoba menghalangi.
Di depan sana, terlihat seperti pintu berwarna emas yang sangat indah. Di bagian pinggirnya ada ukiran-ukiran kuno yang tidak bisa ditiru oleh alat modern secanggih apapun. Meski tidak dapat dibaca, namun keindahan selalu ada di sana.
“Hampir sampai,” kataku dalam hati.
Aneh. Sangat aneh. Aku bahkan lupa dari mana masuk jalur cahaya ini. Berawal dari ketakutan, galau, pikiran stres, kemudian tampak setitik cahaya, dan aku masuk ke dalamnya. Di sepanjang perjalanan, tidak ada pohon, bunga, atau apapun. Aku tak bisa melihat burung di atas, tak bisa melihat semut dibawah, dan tak bisa melihat benda apapun. Sebab semuanya kosong.
Putih.
Tidak seperti yang aku kira. Perjalanan ternyata masih panjang. Padahal tadi diprediksi sebentar lagi sampai. Nyatatanya tidak. aku harus kembali berlari dan terus berlari untuk menuju pintu. Entah sampai kapan, mungkin sampai raga ini lelah parah atau bahkan kaki ini patah.
Semuanya kembali cerah.
##@@##
Aku membuka mata. Tapi tidak dari keadaan tidur. Semuanya tiba-tiba saja terjadi. Ruang kamar kembali bercahaya. Aku bisa melihat buku-buku tetap tertata rapi, celengan ayam yang berada di bawah meja, sepatu yang ada di pojokan, dan warna biru yang mendominasi.
Aku kembali mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Kata dan angka yang beterbangan, suasana yang gelap pekat, serigala dengan mata tajam, hingga setitik cahaya yang muncul dan sangat jauh menuju pintu. Aku berusaha memahami semua itu. Pasti ini adalah suatu tanda. Tapi tanda apa?
Saatnya makan.
Sebelum sampai di meja makan, aku sudah dapat menduga bahwa ibu hari ini masak ayam goreng, tumis, dan lengkap dengan sambal terasi yang menghangatkan mulut. Semua itu berkat hidungku yang penciumannya lebih tajam dari anjing jika dalam hal makanan. Sejanak kunikmati aroma itu sambil menggerak-gerakkan badan. Nikmat sekali.
Setelah membasuh muka dan tangan, aku langsung meluncur ke meja makan. Aku memang lebih sering makan dulu dibanding mandi dulu, sebab dengan begitu aku bisa membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Semua ini hanya tentang prinsip dan keyakinan.
“Selamat pagi sayang,” sapa ibu yang sedang sibuk di balik dapur.
Entah dari mana beliau melihatku. Mungkin dari suara-suara yang aku ciptakan.
“Hhm,”
Ayah dan kakaku masih belum terlihat. Baru kali ini aku yang sampai di meja makan duluan.
Ternyata benar. Ibu memasak ayam goreng, tumis, dan lengkap dengan sambal terasi. Tak lupa nasi putih juga ada di sana. Keluarga kami bukanlah keluarga yang hanya suka makan sayuran dan ayam. Di sampingnya juga sudah tersedia gelas dengan teko yang berisi penuh air putih. Keluargaku memang lebih suka minum air putih ketimbang air berwarna. Sebab lebih menyehatkan katanya.
Satu menit setelah aku duduk, Ayah kemudian datang dengan dasi merah yang menempel di kerah bajunya. Diikuti kakak dengan bau minyak “seribu malaikat” yang bisa kuhafal aromanya. Mereka berdua pun ikut duduk. Tidak ada kata apa-apa yang keluar dari mulut mereka. hingga akhirnya ibu datang memecah keheningan.
“Yuuhuuu, mari makan,” kata Ibu dengan nada riangnya.
Di keluarga kami yang paling rame adalah ibu. Ia tidak segan-segan melakukan apa saja demi keharmonisan dan kehangatan dalam keluarga. Pernah suatu ketika, ibu dan ayahku bertengkar mengenai suatu hal. Mereka tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya mereka  mogok bicara antar sesama.
Satu hari dua hari lewat. Pas di hari ketiga, ayah akhirnya harus mengibarkan bendera putih. Ia sudah tidak mampu melawan Ibu dengan segala emosinya. Mengapa tidak? jika Ibu sedang marah, maka jangan berharap ada makanan enak di meja makan. Palingan Cuma ada tahu dan tempe goreng. Itu sudah yang paling beruntung. Parahnya, bisa sampai tidak ada benda apapun di atas meja makan. Hingga akhirnya ayah harus memasak sendiri.
Pas di hari ketiga, saat Ayah harus bertekuk lutut di hadapan Ibu, Ibu juga mengaku bahwa dia sebenarnya sedang nge-prank ayah dengan segala tingkahnya. Mengetahui itu, tentu Ayah hampir langsung marah. Tapi semua itu berubah menjadi pelukan hangat. Aku yang menyaksikan dari kejauhan hanya tertawa geli melihat mereka berdua. Padahal udah tua tapi masih aja sempat seperti itu.
“Ini cobain masakan baru Ibu,” ucap Ibu sambil memberikan sepotong ayam ke piringku.
Aku menerimanya dengan senyum.
“Ekhem,” kata Ayah.
Aku bisa mengenali betul bahwa batuk itu adalah palsu. Mungkin lebih tepatnya batuk cemburu karena aku yang dikasih lebih dulu.
“Iya iya, ini untuk suami tercinta,” kata Ibu sambil mengulang seperti apa yang dilakukannya padaku.
Ayah tersenyum. Kakak hanya bersikap biasa saja. Mungkin dia sudah terbiasa seperti itu dengan pacarnya. Berbeda dengan aku.
Setelah semuanya mengambil nasi dan ayam secukupnya, tanpa menunda lagi kami langsung menghajar makanan tanpa ampun. Tangan Ayah yang paling besar di antara kami membuatnya selesai duluan. Ayah kembali mengambil nasi, rupanya satu piring tadi masih belum bisa membuatnya kenyang. Wajar saja beliau gemuk.
Di tengah-tengah prosesi makan, ingin rasanya aku bercerita pada mereka perihal apa yang menimpaku semalam. Tentang gelap, cahaya, serigala, pintu dan hal-hal yang kutemui lainnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya ini buka waktu yang tepat.
##@@##
Di sekolah, pikiranku masih tak bisa lepas dengan kejadian semalam. Mimpi itu seperti sebuah isyarat yang langsung melekat rekat dalam otak dan diingat oleh semua saraf yang berfungsi. Perkataan guru yang menjelaskan materi menjadi omong kosong tanpa arti.
Satu jam dalam kelas kuhabiskan percuma. Jika yang lain mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikan oleh guru, maka aku hanya mendapat ketakutan yang datang dari arah yang tidak jelas, abstrak, dan tak bisa ditebak.
Satu persatu temanku keluar kelas dengan wajah sumringah. Ada yang menuju kantin, taman, perpustakaan, dan sebagian kembali membuka buku pelajaran yang baru saja diterangkan. Sedangkan aku, masih terjebak di bangku kebodohan.
“Ada apa Fin?” tanyanya mengagetkanku.
“Eh, tidak apa-apa kok,”
“Sepertinya kamu sedang ada masalah,”
“Hmm..”
Aku memutuskan untuk bercerita.
“Jadi semalam itu, aku bermimpi buruk tapi tidak sepenuhnya buruk Kur,”
“Maksudnya? Gimana tuh?”
“Waktu itu, aku terbangun dari tidur, dan keadaan ternyata masih gelap, aku merasa sangat sadar saat itu. Kemudian kubuka jendela dan melihat rumah tetangga berubah berwarna darah, di sekitarnya dipenuhi anjing gila dengan tatapan mematikan. Di luar kamar, aku temui kata dan angka beterbangan di mana-mana. Disusul muncul titik cahaya dengan tiba-tiba dan aku pun dengan polos masuk ke dalamnya. Di sana tidak ada apa-apa tapi aku bisa menginjakkan kaki. Terakhir di ujung jalan ada sebuah pintu emas dengan ukiran kuno yang tak bisa dibaca. Untuk menjangkaunya aku membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan melebihi perkiraan. Tiba-tiba aku kembali sadar,” jelasku mengakhiri cerita.
Temanku termenung sejenak. Dalam pikirannya tampak berkecamuk sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang sangat sulit dijelaskan tapi sangat tampak dalam kehidupan sehari-hari. Aku menunggu dia bersuara. Semoga apa yang diucapkannya bisa mengangkisku dari kebingungan.
“Kalau dipikir-pikir, menurutku mimpimu itu adalah sebuah teguran terhadap dirimu sendiri,” katanya mantap.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Jadi begini, kamu itu terjebak dalam keadaan yang sangat sulit untuk menuju sebuah kesuksesan. Lingkungan sekitarmu yang sangat mudah dan mewah pada saat ini akan menjadi bumerang bagi masa depanmu kelak. Coba diingat-ingat kembali bagaimana seharusnya terang ternyata masih menjadi gelap. Ditambah lagi dengan rumah berwarna darah yang seolah-olah rumah itu adalah kamu, dan darah itu mengartikan kegagalan dan kematian sangat dekat denganmu, bahkan lebih dekat dibanding suatu hal yang sangat dekat menurutmu. Anjing itu adalah salah satu musuh nyata yang harus kau hadapi, karena dia dengan sangat jelas menatapmu. Kamu harus sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dan melangkah untuk itu. Sedang kata dan angka itu adalah teori yang harus kau tangkap entah dengan cara bagaimana. Semua itu masih belum kau lakukan. Dan cahaya itu, kau masuk ke dalamnya dengan upaya sederhana menuju impian yang masih sangat jauh di ujung sana. Kau menganggapnya sudah lumayan, tapi ternyata masih tidak ada apa-apanya. Kemudian yang terakhir, kau kembali pada kenyataan,” pungkasnya dengan mantap.
Aku yang dari tadi mendengarkan dengan khusyu’ sampai lupa cara berkedip. Ternyata temanku yang satu ini seperti dukun yang bisa menafsir mimpi sedetail itu. Berangkat dari penjelasan ini, aku akan kembali pada semangat baru dan berusaha konsisten untuk itu.
“Oh iya, paling itu juga ada hubungannya dengan nilaimu yang jelek waktu itu,” celetuknya sambil tertawa.
“Huus,” aku menempelkan telunjuk di depan bibir.
Bel kembali berbunyi. Aku pun kembali masuk dengan kembali membawa semangat yang sempat menghilang.

Senin, 23 Desember 2019

KOPI UPAJIWO

Pada malam yang gelapnya sempurna
Aku duduk bersama bayang-bayang yang selalu mengerti keadaan
Kemudian desir angin membawa namamu dalam ingatan
Diikuti sepi membawa senyummu dalam harapan

Saat itu, segala tentangmu masuk dalam kopi
Melebur dalam pahitnya sedang aku masih menikmatinya
Pelan-pelan namun pasti
Kau menjelma puisi ketika teguk terkhir berhasil kulalui


Minggu, 22 Desember 2019

HUJAN BULAN JULI

Tak ada yang lebih mesra dari hujan bulan juli
Dipaparkannya rindu yang telah tua dengan segenap rasa

Tak ada yang lebih indah dari hujan bulan juli
Diterimanya seorang yang istimewa menjadi bagian dari keluarga

Tak ada yang lebih hangat dari hujan bulan juli
Disalurkannya hasrat cinta dengan sungguh-sungguh saat malam tiba





Minggu, 24 Februari 2019

DI BAWAH SELIMUT BIRU



Di sebagian malam yang sama
Ada kebahagiaan yang bertaburan di atas ranjang
Tentang perjalanan dua orang musafir
Yang bersembunyi di balik selimut biru itu

Pertama-tama keduanya melakukan persiapan
Memeriksa setiap keadaan satu sama lain dengan mengalirkan kedua tangan
Kemudian perlahan-lahan melucuti pakaian satu persatu
Di situlah ledakan pertama yang mereka ciptakan

Semakin lama, petualangan pun semakin mengasyikan
Naik turun melewati gunung kembar cokelat berpucuk hitam
Menyusuri padang tubuh yang bergelora
Menyesap sari-sari cinta yang sengaja diumbar

Entah sampai kapan petualangan itu akan selesai
Yang jelas, dua musafir tubuh itu tak mau berhenti merangkak
Mereka tetap berpacu saling melingkar satu sama lain
Hingga akhirnya tumpahlah peluh, desah dan cairan masa depan




Malang, 02 Oktober 2018