Pagi itu, angin masih terasa
sejuk membelai kulit-kulit warga sekitar. Suara panggilan ibu-ibu pada penjual
sayur pun masih melengking di setiap telinga. Dan juga beberapa bapak yang
duduk di teras rumah sambil menikmati segelas kopi dan selembar koran terbaru.
Sungguh awal hari yang sangat menyenangkan.
“Vera berangkat dulu Pak,” anak gadis itu mencium tangan bapaknya dengan
penuh khidmat.
“Iya, hati-hati di jalan,” tak lupa bapak membelai rambut anaknya
beberapa kali.
Jarak antara rumah dan
sekolah tak terlalu jauh. Cukup hanya berjalan selama 5 menit, maka akan sampai
di pintu gerbang sekolah. Vera yang terbiasa jalan kaki dengan penuh riang
gembira melangkah menuju sekolah. Dia memang tak ingin diantarkan dengan
kendaraan. Sebab baginya, berjalan di pagi hari adalah olahraga tersendiri
baginya.
Di sepanjang jalan, Vera
mendapati banyak hal yang ia tak bisa didapatkan dari menunggang kendaraan.
Suara percik sungai, sapaan dari bapak tukang sayur, dan beberapa bisik daun
yang selalu mengucap hamdalah melihat anak-anak rajin menuntut ilmu. Dia
benar-benar menikmatinya.
Sebelum sampai di sekolah,
Vera terbiasa berhenti di sebuah pertigaan yang memisahkan jalan menuju sekolah
dan jalan menuju gereja. Dia lalu menatap langit dengan mata tenang memikirkan
kuasa Tuhan yang sungguh sangat luar biasa. Sejak kecil, dia memang diajarkan
seperti itu oleh bapaknya. Sebab dengan langit, ia tak hanya bisa melihat awan,
tapi juga bisa melihat wajah ibunya yang hanya satu tahun membelai dan menyusuinya.
“Ibu, Vera rindu,” ucapnya sambil menutup mata.
##@@##
Baru-baru ini, berita
tentang kematian anak kecil merajalela dari satu jantung ke jantung yang lain.
Riang gembira anak kecil yang menggendong tas di pinggir jalan semakin tipis.
Tawa-tawa mereka semakin tak terdengar oleh rimbun daun dan ranting-ranting
pohon. Bahkan jalanan pun rindu akan keramaian mereka yang selalu bahagia.
Di salah satu desa terpencil
yang tak bernama, manusia sudah tak ada bedanya lagi dengan hewan. Keberingasan
mereka dalam mendapatkan sesuatu sudah tak memandang mana anak mana bapak.
Semua seolah menjadi orang lain atau bahkan musuh yang selalu mengintai dan
kadang-kadang mematikan.
Sedangkan di sini, Vera
adalah gadis kecil yang baru menginjak 6 tahun dan setara dengan anak SD kelas
satu. Semangatnya dalam mencari ilmu sungguh sangat berbeda dari yang lain.
Setiap hari dia tak henti menulis catatan demi mengasah ingatan yang bisa saja
lupa dengan tiba-tiba. Tak lupa pula, ia selipkan beberapa kata di saku seragam
yang selalu membuatnya bangga menjadi seorang siswa.
6 Juni 2000.
Bencana itu terjadi melanda
Desa Lobuk yang berada di pinggir pantai. Gerombolan pemangsa manusia datang
bergerombol dengan kapal besar dan layar bergambar tengkorak. Di dalamnya
segala jenis senjata pembunuh tersedia rapi untuk mengambil nyawa-nyawa yang
mereka kehendaki. Entah datang dari mana angin itu, semuanya terjadi begitu
saja.
##@@##
Aaaaaa…..
Aaaaaa…..
Aaaaaa…..
Belum sampai Vera di gerbang
sekolah, jeritan teman-temannya terdengar membelah cuaca cerah pagi itu.
Burung-burung yang awalnya bercinta di ranting pohon, spontan terbang kabur
kemana-mana. Dan ikan-ikan yang tadinya bermain di rumah kesayangan, kini harus
keluar mencari keselamatan dari makhluk aneh bin menyeramkan.
Kapal itu telah sampai.
Kapal yang berisi segerombolan makhluk pemangsa manusia. di tangan mereka
terlihat senjata pembunuh paling ampuh di dunia. Mulai dari yang kecil hingga
besar, semuanya lengkap dan siap mengambil nyawa apa dan siapa saja yang
menjadi incaran.
Vera menghentikan langkah.
Tatapannya ia pertajam menuju arah depan yang mendatangkan suara ketakutan. Dia
heran dengan apa yang sebanrnya terjadi di depan sana. Sifat keberanian yang
ada dalam dirinya membuat dia tetap teguh berdiri tegak di sana. Tiba-tiba
banyak orang datang berlarian sambil berteriak tolong dengan sangat kencang.
“Tolong.. Tolong..,” Bapak penjual sayur terbirit-birit dengan keadaan
tak karuan.
Vera hanya menatap heran.
“Hee ayo nak pergi, jangan di sini, berbahaya, ada makhluk aneh pemangsa
manusia,” bapak itu memegang tangan Vera mengajak pergi.
Tapi Vera tetap tak mau
beranjak. Ia lebih mementingkan menuntut ilmu dari pada terprovokasi oleh
ucapan bapak tukang sayur. Dalam pikirannya berkecamuk banyak hal yang tak bisa
diuraikan satu persatu. Semuanya berkaitan dengan mimpi yang baru saja
melandanya semalam. Mimpi menakutkan perihal makhluk pemangsa manusia.
Bapak tukang sayur yang
sudah kebanjiran keringat pun akhirnya pergi setelah ajakannya tak dihiraukan
oleh Vera. Sebab baginya, keselamatan adalah hal yang sangt penting untuk
diutamakan.
Di sisi yang berbeda,
makhluk pemangsa manusia itu telah berhasil merobohkan beberapa warung kayu
yang ada di pinggir jalan. Kedatangannya yang tak disangka-sangka membuat warga
sekitar tak sempat membereskan cucian yang belum kering, memberikan makan anak,
dan menyiapkan barang-barang penting yang perlu dibawa kabur.
“Hahahaha,” mereka tertawa sambil menebaskan senjata mereka ke
kepala-kepala manusia.
CRAAATT
TOLONG..
Suara itu bergantian diringi aliran darah yang terus keluar dari setiap
tebasan mereka.
Mata mereka lebih besar dari
biasanya, telinga mereka lebih lebar dari bisanya, dan kaki tangan mereka,
lebih kuat dari tenaga manusia normal. Jangankan mobil, pohon beringin mampu
mereka angkat sampai ke akar-akarnya. Mereka seperti pasukan Ya’juj Makjuj yang
siap mengabarkan akhir dunia pada semua makhluk.
Vera terus melangkah membawa
keberanian yang telah ia tanam dalam-dalam. Setiap kali ada pohon, Vera
bersembunyi di baliknya demi menjaga keselamatan yang bisa saja terenggut
seketika. Daun-daun besar ia jadikan pelindung menutupi tubuhnya yang kecil.
Dan tas hitam yang ia gendong, selalu dipeluknya ketika merasa ketakutan.
Bercak-bercak darah
menghiasi sepanjang jalan. Setelah mereka membunuh manusia, makhluk itu dengan
tega memotong organ manusia menjadi kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam
kantong hitam besar. Bahkan, ada yang langsung memakannya mentah-mentah. Sebuah
kejadian gila yang benar-benar membuat nyawa tak lagi berharga.
AARRGGHH…
HUUUAAAA…
Keganasan itu semakin dekat
ke arah Vera. Tapi Vera masih tetap pada posisinya. Dalam hati ia berdoa kepada
Tuhan semoga dirinya diselamatkan dari segala macam mara bahaya. Doa yang
diajarkan bapaknya saat masih 4 tahun dulu masih ia ingat betul dan ia baca
berulang-ulang. Kata beliau, dengan doa ini, kita berharap kepada Tuhan agar
selalu dalam lindungan-NYA.
Dari celah-celah daun besar,
Vera melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana makhluk itu menghabisi
nyawa teman-temannya. Tampak Ratna berlari kencang sambil berteriak minta
tolong. Tapi sayang, kecepatan makhluk itu sungguh luar biasa. Dicengkeramnya
kerah baju Ratna dari belakang hingga ia tertarik ke atas. Kaki-kaki Ratna
bergerak berusaha melepaskan diri. Matanya terpejam ketakutan. Segala macam usaha
dilakukan demi terlepas dari cengkeraman makhluk itu. Tapi sayang, semuanya
sia-sia.
“Hah, Ratna,” Vera terkejut.
Tanpa menunggu lagi, makhluk
itu menggores leher Ratna dengan samurai tajam yang apabila ranting tersentuh
olehnya akan patah seketika. Samurai itu lebih tajam dari samurai seorang
petapa yang telah berbulan-bulan menirakati ilmu kanuragan di tengah sungai
kebadian yang hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang khusus.
AAAA…
Leher Ratna patah. Terlihat
jelas bagaimana urat-urat lehernya keluar berhamburan. Dengan sangat lahap
makhluk itu memakan semuanya tanpa sisa. Vera yang menyaksikannya dari balik
pohon hanya bisa menelan ludah yang mungkin akan menjadi terakhir kali ia bisa
menelan ludahnya sendiri. Dan jauh di belakang sana, masih banyak tragedi
kematian yang lebih sadis dari apa yang dialami Ratna.
Makhluk itu berjalan pelan.
Tapi saat mangsanya lari, kecepatan mereka lebih kencang dari kuda mesir yang
sudah terlatih berlari di tengah padang pasir. Entah berapa kilo per-jam,
semuanya tak bisa diukur dengan alat ukur biasa.
Vera berjanji untuk tidak
takut terhadap apapun kecuali pada Tuhan. Hal itu yang bapaknya tanamkan sejak
dia berusia 4 tahun. Pola pendidikan yang luar biasa menjadikan Vera menjadi
gadis kecil yang pintar dan cerdas. Sudah banyak tugas yang ia kerjakan dengan
gemilang. Dan sudah banyak kali ia berhasil mencari solusi dari masalah yang ia
hadapi.
##@@##
Kabar kedatangan makhluk
pemangsa manusia itu dengan cepat tersebar. Warga yang masih selamat dengan
cepat mengemasi beberapa barang penting dan lari sejauh-jauhnya. Tak peduli
seberapa jauh daratan yang harus dilewati, tak peduli seberapa luas samudera
yang harus di seberangi, dan tak peduli seberapa besar gelombang yang harus di
lompati. Yang terpenting bagi mereka adalah selamat dan bisa tetap hidup hingga
hari esok.
Mendengar kabar itu, bapak
Vera langsung bergegas mencari anaknya yang tadi pagi pergi ke sekolah. Dia tak
memperdulikan semua barang mewah jika seandainya hilang dirampok orang. Karena
bagi Bapak, keselamatan seorang anak adalah yang paling utama dari yang lain.
Veraa..!
Veraa..!
Beberapa kali sang bapak
harus bersembunyi dari makhluk aneh yang melintas. Sebab bukan tidak mungkin,
dirinya juga akan menjadi santapan lezat jika sampai terlihat sedikit saja oleh
mata pemangsa manusia itu.
Sambil melihat kanan kiri,
sang bapak terus mencari dan mencari keberadaan anaknya yang entah masih
selamat atau tidak. Ia hanya terus berdoa kepada Tuhan semoga anaknya
senantiasa diberikan keselamatan di mana pun berada.
Jalanan menjadi sunyi. Aspal
jalan banyak dihinggapi bercak darah orang-orang tak bersalah. Jeritan minta
tolong masih terngiang-ngiang di telinga sang bapak. Dia seolah berada di
tempat baru yang sangat menakutkan dan dipenuhi kematian.
Beberapa kali ia bolak-balik
di jalan menuju sekolah. Dilihatnya beberrapa lubang yang mungkin Vera terjatuh
di sana. Dilihatnya beberapa kolong jembatan yang mungkin Vera bersembunyi di
sana. Dan juga dilihatnya beberapa pohon yang berdiri tegak yang mungkin Vera
terselip di sana.
Pohon pertama dan kedua
tidak ada tanda-tanda Vera di sana. Kini tiba giliran pohon ketiga yang
posisinya paling dekat dengan sekolah. Jika seandainya Vera tak ada di sana,
maka sudah dapat dipastikan ia berada di perut makhluk itu dengan kondisi yang
bukan lagi sebagai gadis cantik. Tapi sebagai pecahan hidup.
“Itu dia tasnya Vera,” sang bapak langsung menuju pohon itu.
Sesampainya di sana, tak ada
siapa-siapa kecuali tas hitam ajaib peninggalan dari nenek Vera. Sempat
terbersit sebuah pikiran bahwa Vera telah mati. Mendung di mata bapak pun tak
lagi bisa dibendung. Setelah kehilangan istri tercinta sekarang dia harus
kehilangan anak satu-satunya.
Kemudian bapak itu jongkok
dan membuka tas hitam itu. Betapa terkejutnya dia setelah melihat Vera ternyata
bersembunyi di dalam tas itu yang kemudian tersenyum pada bapaknya.
“Alhamdulilah, ternyata kau selamat nak,”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar