Kamis, 09 Januari 2020

TAS HITAM SI ANAK KECIL


Pagi itu, angin masih terasa sejuk membelai kulit-kulit warga sekitar. Suara panggilan ibu-ibu pada penjual sayur pun masih melengking di setiap telinga. Dan juga beberapa bapak yang duduk di teras rumah sambil menikmati segelas kopi dan selembar koran terbaru. Sungguh awal hari yang sangat menyenangkan.
“Vera berangkat dulu Pak,” anak gadis itu mencium tangan bapaknya dengan penuh khidmat.
“Iya, hati-hati di jalan,” tak lupa bapak membelai rambut anaknya beberapa kali.
Jarak antara rumah dan sekolah tak terlalu jauh. Cukup hanya berjalan selama 5 menit, maka akan sampai di pintu gerbang sekolah. Vera yang terbiasa jalan kaki dengan penuh riang gembira melangkah menuju sekolah. Dia memang tak ingin diantarkan dengan kendaraan. Sebab baginya, berjalan di pagi hari adalah olahraga tersendiri baginya.
Di sepanjang jalan, Vera mendapati banyak hal yang ia tak bisa didapatkan dari menunggang kendaraan. Suara percik sungai, sapaan dari bapak tukang sayur, dan beberapa bisik daun yang selalu mengucap hamdalah melihat anak-anak rajin menuntut ilmu. Dia benar-benar menikmatinya.
Sebelum sampai di sekolah, Vera terbiasa berhenti di sebuah pertigaan yang memisahkan jalan menuju sekolah dan jalan menuju gereja. Dia lalu menatap langit dengan mata tenang memikirkan kuasa Tuhan yang sungguh sangat luar biasa. Sejak kecil, dia memang diajarkan seperti itu oleh bapaknya. Sebab dengan langit, ia tak hanya bisa melihat awan, tapi juga bisa melihat wajah ibunya yang hanya satu tahun membelai dan menyusuinya.
“Ibu, Vera rindu,” ucapnya sambil menutup mata.
##@@##
Baru-baru ini, berita tentang kematian anak kecil merajalela dari satu jantung ke jantung yang lain. Riang gembira anak kecil yang menggendong tas di pinggir jalan semakin tipis. Tawa-tawa mereka semakin tak terdengar oleh rimbun daun dan ranting-ranting pohon. Bahkan jalanan pun rindu akan keramaian mereka yang selalu bahagia.
Di salah satu desa terpencil yang tak bernama, manusia sudah tak ada bedanya lagi dengan hewan. Keberingasan mereka dalam mendapatkan sesuatu sudah tak memandang mana anak mana bapak. Semua seolah menjadi orang lain atau bahkan musuh yang selalu mengintai dan kadang-kadang mematikan.
Sedangkan di sini, Vera adalah gadis kecil yang baru menginjak 6 tahun dan setara dengan anak SD kelas satu. Semangatnya dalam mencari ilmu sungguh sangat berbeda dari yang lain. Setiap hari dia tak henti menulis catatan demi mengasah ingatan yang bisa saja lupa dengan tiba-tiba. Tak lupa pula, ia selipkan beberapa kata di saku seragam yang selalu membuatnya bangga menjadi seorang siswa.
6 Juni 2000.
Bencana itu terjadi melanda Desa Lobuk yang berada di pinggir pantai. Gerombolan pemangsa manusia datang bergerombol dengan kapal besar dan layar bergambar tengkorak. Di dalamnya segala jenis senjata pembunuh tersedia rapi untuk mengambil nyawa-nyawa yang mereka kehendaki. Entah datang dari mana angin itu, semuanya terjadi begitu saja.
##@@##
Aaaaaa…..
Aaaaaa…..
Aaaaaa…..
Belum sampai Vera di gerbang sekolah, jeritan teman-temannya terdengar membelah cuaca cerah pagi itu. Burung-burung yang awalnya bercinta di ranting pohon, spontan terbang kabur kemana-mana. Dan ikan-ikan yang tadinya bermain di rumah kesayangan, kini harus keluar mencari keselamatan dari makhluk aneh bin menyeramkan.
Kapal itu telah sampai. Kapal yang berisi segerombolan makhluk pemangsa manusia. di tangan mereka terlihat senjata pembunuh paling ampuh di dunia. Mulai dari yang kecil hingga besar, semuanya lengkap dan siap mengambil nyawa apa dan siapa saja yang menjadi incaran.
Vera menghentikan langkah. Tatapannya ia pertajam menuju arah depan yang mendatangkan suara ketakutan. Dia heran dengan apa yang sebanrnya terjadi di depan sana. Sifat keberanian yang ada dalam dirinya membuat dia tetap teguh berdiri tegak di sana. Tiba-tiba banyak orang datang berlarian sambil berteriak tolong dengan sangat kencang.
“Tolong.. Tolong..,” Bapak penjual sayur terbirit-birit dengan keadaan tak karuan.
Vera hanya menatap heran.
“Hee ayo nak pergi, jangan di sini, berbahaya, ada makhluk aneh pemangsa manusia,” bapak itu memegang tangan Vera mengajak pergi.
Tapi Vera tetap tak mau beranjak. Ia lebih mementingkan menuntut ilmu dari pada terprovokasi oleh ucapan bapak tukang sayur. Dalam pikirannya berkecamuk banyak hal yang tak bisa diuraikan satu persatu. Semuanya berkaitan dengan mimpi yang baru saja melandanya semalam. Mimpi menakutkan perihal makhluk pemangsa manusia.
Bapak tukang sayur yang sudah kebanjiran keringat pun akhirnya pergi setelah ajakannya tak dihiraukan oleh Vera. Sebab baginya, keselamatan adalah hal yang sangt penting untuk diutamakan.
Di sisi yang berbeda, makhluk pemangsa manusia itu telah berhasil merobohkan beberapa warung kayu yang ada di pinggir jalan. Kedatangannya yang tak disangka-sangka membuat warga sekitar tak sempat membereskan cucian yang belum kering, memberikan makan anak, dan menyiapkan barang-barang penting yang perlu dibawa kabur.
“Hahahaha,” mereka tertawa sambil menebaskan senjata mereka ke kepala-kepala manusia.
CRAAATT
TOLONG..
Suara itu bergantian diringi aliran darah yang terus keluar dari setiap tebasan mereka.
Mata mereka lebih besar dari biasanya, telinga mereka lebih lebar dari bisanya, dan kaki tangan mereka, lebih kuat dari tenaga manusia normal. Jangankan mobil, pohon beringin mampu mereka angkat sampai ke akar-akarnya. Mereka seperti pasukan Ya’juj Makjuj yang siap mengabarkan akhir dunia pada semua makhluk.
Vera terus melangkah membawa keberanian yang telah ia tanam dalam-dalam. Setiap kali ada pohon, Vera bersembunyi di baliknya demi menjaga keselamatan yang bisa saja terenggut seketika. Daun-daun besar ia jadikan pelindung menutupi tubuhnya yang kecil. Dan tas hitam yang ia gendong, selalu dipeluknya ketika merasa ketakutan.
Bercak-bercak darah menghiasi sepanjang jalan. Setelah mereka membunuh manusia, makhluk itu dengan tega memotong organ manusia menjadi kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam kantong hitam besar. Bahkan, ada yang langsung memakannya mentah-mentah. Sebuah kejadian gila yang benar-benar membuat nyawa tak lagi berharga.
AARRGGHH…
HUUUAAAA…
Keganasan itu semakin dekat ke arah Vera. Tapi Vera masih tetap pada posisinya. Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan semoga dirinya diselamatkan dari segala macam mara bahaya. Doa yang diajarkan bapaknya saat masih 4 tahun dulu masih ia ingat betul dan ia baca berulang-ulang. Kata beliau, dengan doa ini, kita berharap kepada Tuhan agar selalu dalam lindungan-NYA.
Dari celah-celah daun besar, Vera melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana makhluk itu menghabisi nyawa teman-temannya. Tampak Ratna berlari kencang sambil berteriak minta tolong. Tapi sayang, kecepatan makhluk itu sungguh luar biasa. Dicengkeramnya kerah baju Ratna dari belakang hingga ia tertarik ke atas. Kaki-kaki Ratna bergerak berusaha melepaskan diri. Matanya terpejam ketakutan. Segala macam usaha dilakukan demi terlepas dari cengkeraman makhluk itu. Tapi sayang, semuanya sia-sia.
“Hah, Ratna,” Vera terkejut.
Tanpa menunggu lagi, makhluk itu menggores leher Ratna dengan samurai tajam yang apabila ranting tersentuh olehnya akan patah seketika. Samurai itu lebih tajam dari samurai seorang petapa yang telah berbulan-bulan menirakati ilmu kanuragan di tengah sungai kebadian yang hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang khusus.
AAAA…
Leher Ratna patah. Terlihat jelas bagaimana urat-urat lehernya keluar berhamburan. Dengan sangat lahap makhluk itu memakan semuanya tanpa sisa. Vera yang menyaksikannya dari balik pohon hanya bisa menelan ludah yang mungkin akan menjadi terakhir kali ia bisa menelan ludahnya sendiri. Dan jauh di belakang sana, masih banyak tragedi kematian yang lebih sadis dari apa yang dialami Ratna.
Makhluk itu berjalan pelan. Tapi saat mangsanya lari, kecepatan mereka lebih kencang dari kuda mesir yang sudah terlatih berlari di tengah padang pasir. Entah berapa kilo per-jam, semuanya tak bisa diukur dengan alat ukur biasa.
Vera berjanji untuk tidak takut terhadap apapun kecuali pada Tuhan. Hal itu yang bapaknya tanamkan sejak dia berusia 4 tahun. Pola pendidikan yang luar biasa menjadikan Vera menjadi gadis kecil yang pintar dan cerdas. Sudah banyak tugas yang ia kerjakan dengan gemilang. Dan sudah banyak kali ia berhasil mencari solusi dari masalah yang ia hadapi.
##@@##
Kabar kedatangan makhluk pemangsa manusia itu dengan cepat tersebar. Warga yang masih selamat dengan cepat mengemasi beberapa barang penting dan lari sejauh-jauhnya. Tak peduli seberapa jauh daratan yang harus dilewati, tak peduli seberapa luas samudera yang harus di seberangi, dan tak peduli seberapa besar gelombang yang harus di lompati. Yang terpenting bagi mereka adalah selamat dan bisa tetap hidup hingga hari esok.
Mendengar kabar itu, bapak Vera langsung bergegas mencari anaknya yang tadi pagi pergi ke sekolah. Dia tak memperdulikan semua barang mewah jika seandainya hilang dirampok orang. Karena bagi Bapak, keselamatan seorang anak adalah yang paling utama dari yang lain.
Veraa..!
Veraa..!
Beberapa kali sang bapak harus bersembunyi dari makhluk aneh yang melintas. Sebab bukan tidak mungkin, dirinya juga akan menjadi santapan lezat jika sampai terlihat sedikit saja oleh mata pemangsa manusia itu.
Sambil melihat kanan kiri, sang bapak terus mencari dan mencari keberadaan anaknya yang entah masih selamat atau tidak. Ia hanya terus berdoa kepada Tuhan semoga anaknya senantiasa diberikan keselamatan di mana pun berada.
Jalanan menjadi sunyi. Aspal jalan banyak dihinggapi bercak darah orang-orang tak bersalah. Jeritan minta tolong masih terngiang-ngiang di telinga sang bapak. Dia seolah berada di tempat baru yang sangat menakutkan dan dipenuhi kematian.
Beberapa kali ia bolak-balik di jalan menuju sekolah. Dilihatnya beberrapa lubang yang mungkin Vera terjatuh di sana. Dilihatnya beberapa kolong jembatan yang mungkin Vera bersembunyi di sana. Dan juga dilihatnya beberapa pohon yang berdiri tegak yang mungkin Vera terselip di sana.
Pohon pertama dan kedua tidak ada tanda-tanda Vera di sana. Kini tiba giliran pohon ketiga yang posisinya paling dekat dengan sekolah. Jika seandainya Vera tak ada di sana, maka sudah dapat dipastikan ia berada di perut makhluk itu dengan kondisi yang bukan lagi sebagai gadis cantik. Tapi sebagai pecahan hidup.
“Itu dia tasnya Vera,” sang bapak langsung menuju pohon itu.
Sesampainya di sana, tak ada siapa-siapa kecuali tas hitam ajaib peninggalan dari nenek Vera. Sempat terbersit sebuah pikiran bahwa Vera telah mati. Mendung di mata bapak pun tak lagi bisa dibendung. Setelah kehilangan istri tercinta sekarang dia harus kehilangan anak satu-satunya.
Kemudian bapak itu jongkok dan membuka tas hitam itu. Betapa terkejutnya dia setelah melihat Vera ternyata bersembunyi di dalam tas itu yang kemudian tersenyum pada bapaknya.
“Alhamdulilah, ternyata kau selamat nak,”

Tidak ada komentar: