Pada malam yang entah akan
menjadi kenangan atau hanya menjadi gumpalan tanpa aturan. Kisah cinta sepasang
kekasih dimulai dari hangat kopi dan dingin malam di salah satu sudut ruang
berlampu kuning. Sisi kanan dan kiri dipenuhi kayu-kayu jati yang disulap
menjadi kursi panjang yang siap menanggung segala risau yang mungkin akan
terjadi. Bahkan lebih dari itu.
Dua orang yang tidak ingin
disebut namanya, memulai percakapan dengan sangat jujur dari samudra batin paling
dalam. Sebuah kawah yang tak bisa diukur dengan meteran dan tak bisa diketahui
mana letak titik pijakan. Hanya kata-kata yang mampu menerjemahkan semuanya
dengan sangat hati-hati. Itu pun jika benar kenyataannya seperti itu.
Tidak ada kata paling awal
yang bisa diucapkan selain isyarat mata yang diam-diam memendam rindu. Asap
rokok yang menyebar dari beberapa sudut mulut ikut tertawa menyaksikan dua
orang yang masih membisu di antara ego dan harap yang sengaja disembunyikan.
Bukan apa-apa, keduanya masih teringat kejadian beberapa waktu silam.
Saat itu, keduanya masih
menjadi nama yang dipisahkan oleh takdir dengan jarak yang sangat jauh. Tidak
ada yang ingat kapan dan di mana waktu itu bermula. Sebab burung-burung masih
belum mengepakkan sayap, angin masih terlelap di mata para penyair, dan kata-kata
masih sibuk membenarkan dirinya masing-masing. Tidak ada yang peduli pada
mereka saat itu.
Pastinya, saat itu banyak
puisi yang telah lahir dari rahim seorang penyair. Setelah alam memberikannya
ilham, setelah cinta memberikannya luka, dan setelah rindu memberikannya candu.
Semua menjadi bahan olahan yang dengan sedikit sentuhan, menjadikan orang-orang
tersesat di jalan yang sebenarnya sering mereka lalui.
Senja istimewa datang. Warnanya yang kuning keemas-emasan
mengingatkan keduanya pada sebuah cincin yang tersemat di jari manis ibu.
Pemberian dari seorang bapak berbeda tapi dengan takaran cinta yang luar biasa.
Entahlah, cinta orang-orang terdahulu terhadap kekasihnya memang tidak bisa
ditebak dengan apapun. Tanpa kata pengantar dan pertukaran mata, mereka
tiba-tiba saja jatuh cinta setelah kedua orang tua sepakat menentukan tanggal
yang sama. Sesederhana itu.
Berita yang ditunggu-tunggu
akhirnya tiba. Keduanya terpilih sebagai orang paling sakit hati di antara
banyak orang yang pernah patah dan terluka. Ini bukan hanya sebatas fakta, tapi
lebih pada kemunafikan yang bercampur dengan harapan yang menggantung di setiap
malam langit kamar mereka. Kadang jatuh, kadang bangun, dan kadang tak
diketahui.
SELAMAT.
Kata itu adalah pintu
kebahagiaan yang pertama kali mereka temui. Sorak sorai dari teman, lawan, dan
beberapa relawan yang hadir pada kata itu ikut menyampaikan rasa yang tumbuh
dan sengaja ditumbuhkan. Tidak ada yang tahu mana yang jujur dan mana yang bohong.
Kecuali batu-batu yang selalu berdzikir dan mengucapkan salam pada baginda
Nabi.
Alam hanya berharap semoga
semuanya baik-baik saja. Meskipun sebenarnya dia telah tahu apa yang akan
dilakukan Tuhan kepada mereka yang selalu berbohong kepada banyak orang.
Malaikat yang mengelilingi arsy di langit ke tujuh ikut geram dengan apa yang
sedang mereka lakukan pada sebidang layar putih. Tempat segala kisah bernanung,
dan tempat segala rindu berkabung.
Sesingkat itu, keduanya
langsung mendapat restu untuk memperpendek jarak hingga hanya berbatas segelas
kenangan yang telah bercampur dengan segala kepahitan.
##@@##
“Apa lagi maumu?” sebuah serangan pertama datang dari pihak adam.
Makhluk berambut panjang itu
hanya menatap, kemudian meneguk puisi yang hitam pekat menjelma kopi. Di antara
kedua alisnya terlihat rasa cemas yang melebihi cemasnya seorang maling setelah
tertangkap warga. Dan di kedua matanya, masih teguh menyimpan rahasia meski
gelombang telah menghantamnya beberapa kali. Sungguh dia kuat sekali memegang
prinsip.
Ting.
Gesekan gelas kopi dan
cawannya tertangkap telinga. Setelah mengambil nafas beberapa kali, ia akhirnya
memutuskan untuk menjawab.
“Banyak gunung yang telah kita daki, banyak samudera yang telah kita
selami, dan banyak padang bunga yang telah kita kelilingi. Semuanya mengatakan
hal yang sama meski dengan cara yang berbeda. Aku pun sering dilanda bingung
sebelum tidur. Padahal aku ingin sekali bisa lelap tanpa ada sesuatu yang
hinggap kemudian menjadi perangkap. Aku harap kau mengerti dengan semua ini,”
Suara tokek terdengar
semakin keras menjeda percakapan mereka. Tampaknya mereka setuju dengan apa
yang disampaikan oleh wanita luka itu. Sedangkan pihak adam hanya bisa terdiam.
Mecoba merangkai kata menjadi pemahaman sederhana namun kaya makna.
“Kenangan adalah sebuah keabadiaan yang diimani oleh langit tertinggi
dan laut terdalam. Di antara kita tidak pernah terjadi apa-apa yang dilarang
oleh norma dan undang-undang cinta. Asal kau tahu, sejak saat itu, aku tidak
lagi mempunyai malam yang bisa menemaniku memaknai sunyi dan memecah rahasia
yang sengaja disembunyikan oleh hati. Bukankah itu adalah bencana yang sangat
besar melebihi tragedi tsunami banda aceh yang terjadi beberapa waktu yang
lalu?”
Asap rokok semakin
berkurang. Ketukan tangan pada keyboard seorang penulis pun semakin menghilang.
Rupanya, jarum jam sudah melangkah cukup jauh. Meninggalkan segala penyesalan
yang akan diberikan pada akhir cerita nanti.
“Sepertinya kau masih belum mengerti, bahwa hangat pantat bekas duduk
seseorang itu berbeda. Ada yang biasa saja, dan ada yang sangat panas hingga
menimbulkan percikan api yang dapat mematikan penduduk semut sekitar. Bukan
maksudku menyuruhmu untuk mengukur segala sesuatu yang terjadi. Hanya saja, kau
perlu mengira pada apa-apa yang sebelumnya kau anggap remeh bahkan tak pernah
kau hiraukan,”
Satu anggukan terjadi.
Anggukan yang berarti rambu-rambu untuk berhati-hati. Sebab pikiran bisa saja
pecah tiba-tiba tanpa adanya gejala. Dan itulah awal mula peperangan terjadi di
dunia.
“Ok Dik, tak perlu kau jelaskan lagi bagaimana kau selama ini
bersembunyi di balik kata-katamu sendiri. Sebab menurutku itu tidak ada
gunanya. Semuanya hanya akan berputar pada lintasan yang sama. Yakni keraguan,
kebohongan, atau bahkan kejujuran yang tidak bisa dijelaskan,”
Makhluk berambut panjang itu
tersenyum. Rupanya badai dalam batinnya mulai reda setelah disinari oleh
kalimat dalam dari pihak adam.
Kini tiga orang laki-laki di
pojokan bertambah tiga. Jadilah enam orang itu seperti gerombolan bajingan yang
menanti pagi dan menunggu mangsa secara bersamaan. Gelas-gelas mulai kehilangan
isinya. Dan bidang layar seorang penulis, masih terus tetap bersinar seperti
lampu kuning yang sudah dihinggapi debu.
Sebuah keistimewan memang
tidak semuanya tampak di depan mata. Adakalanya ia menjelma cela yang masih
sangat dini untuk dikatakan sebuah prestasi di muka bumi. Sebab orang-orang
memang memandang seenakya saja. Tanpa tahu bagaimana kerasnya seorang yang
sedang berusaha memetik takdir yang ia pesan kepada Tuhan.
“Apakah kau masih akan tetap lanjut?” serangan kedua datang tepat di
menit ke tiga puluh yang utuh.
“Sepertinya tidak. Aku ingin menjadi orang biasa yang berada di batas
wajar. Tersenyum saat bahagia, menangis saat terluka, dan menjelaskan segala
sesuatu tanpa adanya pura-pura. Sebagaimana yang ibu katakan dulu, jadilah
orang apa adanya tanpa memandang sesuatu dengan ada apanya,”
Dahi dari pihak adam
berkerut. Di dalam kepalanya bertumpuk banyak pertanyaan yang berebut untuk
keluar terlebih dahulu dari mulut yang satu. Jika seandainya ada mulut lain,
mungkin semua pertanyaan itu akan ambyar seketika. Menjadi ungkapan yang tak
bisa dipahami oleh siapa saja.
“Sebaiknya kau jangan tergesa-gesa dulu. Masih ada banyak hal yang harus
kau pertimbangkan. Perihal gunung yang telah kau bentuk, perihal senja yang
telah kau lukis, dan perihal semesta yang telah kau masukkan dalam rumah
kata-kata. Semua itu tak bisa kau biarkan begitu saja. Sebab mereka membutuhkan
kau sebagai Tuhannya,”
Percakapan keduanya naik
turun seperti tembok cina yang menjadi legenda dunia. Padahal posisi keduanya
sudah sangat nyaman dan istimewa. Tapi ada-ada saja sesuatu yang menjadi duri
di setiap pijakan yang mereka coba.
Derungan sepeda motor datang
dari arah selatan. Dari suaranya, mereka adalah gerombolan pemabuk yang mencari
kopi sebagai obat penetralisir dalam tubuh. Entah itu benar atau tidak, tapi
menereka menganggapnya seperti itu.
Suasana ruangan kembali
ramai. Asap-asap rokok kembali menyemerbak. Dan umpatan-umpatan terdengar
menggelegar. Ungkapan tersebut seolah sudah menjadi tasbih bagi mereka. Namun
bagusnya, mereka tak pernah memandang strata yang oleh sebagian orang dijadikan
tolak ukur dalam berbicara.
“Sudahlah mas, jangan kau bawa aku lagi pada masa-masa itu. Masa yang
membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Siapakah aku? Pantaskah aku
begini? Dan bagaiamanakah respon orang tuaku jika mereka tahu? Mungkin bagimu
ini adalah sesuatu yang mudah dan indah, tapi bagiku, ini tak lebih dari
sekedar basa-basi yang melahirkan kebusukan di mana-mana,”
Tampaknya dia memang serius dengan keputusannya yang sudah sebulat
purnama.
“Ok lah kalau begitu. Sekarang kau boleh pulang dan kembali pada mimpimu
yang mungkin sudah menunggumu di sana. Dan jangan lupa, aku menunggu besok pagi
di pelataran mentari untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting,”
Tanpa banyak berkata-kata lagi, dia pun berkemas dan bergegas pergi.
##@@##
“Tidak banyak yang ingin kusampaikan padamu sekarang. Hanya saja aku
berharap, semoga kau masih mengingatku sebagai salah satu kenangan indah yang
pernah singgah di hidupmu. Setelah kita yang jauh kemudian diperdekat oleh
waktu, kemudian tiba saatnya untuk jauh kembali menuju takdir,”
“Dik, sekarang aku akan pergi ke ujung dunia dengan perahu kertas yang
pernah kau berikan padaku. Perahu yang selalu mengajarkanku arti perjuangan dan
keikhlasan. Saat semuanya tidak sesuai dengan kehendak kita, dan saat semuanya
tiba-tiba berbalik begitu saja,”
“Di saat-saat tertentu, akan
kukrimkan pesan kerinduan padamu lewat kicau burung dan desir angin. Sebab tak
ada yang lebih cepat dari keduanya. Dan tentu keduanya tidak memerlukan biaya.
Sebab kau tahu sendiri, aku hanyalah seorang anak miskin yang dilahirkan dan
dibesarkan dari keringat seorang nelayan. Seorang yang rela mempertaruhkan
nyawanya ditengah gelombang laut yang ganas dan mematikan,”
“Terima kasih atas semuanya sayang. Harapanku yang terakhir, semoga di
lain waktu kita dapat berjumpa lagi pada situasi yang lebih indah dari ini. Di
mana sunyi tak lagi menjadi kejam, dan luka tak lagi menjadi menyakitkan.
Semoga saja Tuhan mengabulkan harapan hambanya yang satu ini,”
Makhluk berambut panjang itu
hanya mengangguk kemudian tersenyu, hingga akhirnya semuanya selesai setelah
matahari naik di waktu duha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar