Selasa, 07 Januari 2020

DARI PIHAK ADAM DAN MAKHLUK BERAMBUT PANJANG


Pada malam yang entah akan menjadi kenangan atau hanya menjadi gumpalan tanpa aturan. Kisah cinta sepasang kekasih dimulai dari hangat kopi dan dingin malam di salah satu sudut ruang berlampu kuning. Sisi kanan dan kiri dipenuhi kayu-kayu jati yang disulap menjadi kursi panjang yang siap menanggung segala risau yang mungkin akan terjadi. Bahkan lebih dari itu.
Dua orang yang tidak ingin disebut namanya, memulai percakapan dengan sangat jujur dari samudra batin paling dalam. Sebuah kawah yang tak bisa diukur dengan meteran dan tak bisa diketahui mana letak titik pijakan. Hanya kata-kata yang mampu menerjemahkan semuanya dengan sangat hati-hati. Itu pun jika benar kenyataannya seperti itu.
Tidak ada kata paling awal yang bisa diucapkan selain isyarat mata yang diam-diam memendam rindu. Asap rokok yang menyebar dari beberapa sudut mulut ikut tertawa menyaksikan dua orang yang masih membisu di antara ego dan harap yang sengaja disembunyikan. Bukan apa-apa, keduanya masih teringat kejadian beberapa waktu silam.
Saat itu, keduanya masih menjadi nama yang dipisahkan oleh takdir dengan jarak yang sangat jauh. Tidak ada yang ingat kapan dan di mana waktu itu bermula. Sebab burung-burung masih belum mengepakkan sayap, angin masih terlelap di mata para penyair, dan kata-kata masih sibuk membenarkan dirinya masing-masing. Tidak ada yang peduli pada mereka saat itu.
Pastinya, saat itu banyak puisi yang telah lahir dari rahim seorang penyair. Setelah alam memberikannya ilham, setelah cinta memberikannya luka, dan setelah rindu memberikannya candu. Semua menjadi bahan olahan yang dengan sedikit sentuhan, menjadikan orang-orang tersesat di jalan yang sebenarnya sering mereka lalui.
Senja istimewa datang.  Warnanya yang kuning keemas-emasan mengingatkan keduanya pada sebuah cincin yang tersemat di jari manis ibu. Pemberian dari seorang bapak berbeda tapi dengan takaran cinta yang luar biasa. Entahlah, cinta orang-orang terdahulu terhadap kekasihnya memang tidak bisa ditebak dengan apapun. Tanpa kata pengantar dan pertukaran mata, mereka tiba-tiba saja jatuh cinta setelah kedua orang tua sepakat menentukan tanggal yang sama. Sesederhana itu.
Berita yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Keduanya terpilih sebagai orang paling sakit hati di antara banyak orang yang pernah patah dan terluka. Ini bukan hanya sebatas fakta, tapi lebih pada kemunafikan yang bercampur dengan harapan yang menggantung di setiap malam langit kamar mereka. Kadang jatuh, kadang bangun, dan kadang tak diketahui.
SELAMAT.
Kata itu adalah pintu kebahagiaan yang pertama kali mereka temui. Sorak sorai dari teman, lawan, dan beberapa relawan yang hadir pada kata itu ikut menyampaikan rasa yang tumbuh dan sengaja ditumbuhkan. Tidak ada yang tahu mana yang jujur dan mana yang bohong. Kecuali batu-batu yang selalu berdzikir dan mengucapkan salam pada baginda Nabi.
Alam hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja. Meskipun sebenarnya dia telah tahu apa yang akan dilakukan Tuhan kepada mereka yang selalu berbohong kepada banyak orang. Malaikat yang mengelilingi arsy di langit ke tujuh ikut geram dengan apa yang sedang mereka lakukan pada sebidang layar putih. Tempat segala kisah bernanung, dan tempat segala rindu berkabung.
Sesingkat itu, keduanya langsung mendapat restu untuk memperpendek jarak hingga hanya berbatas segelas kenangan yang telah bercampur dengan segala kepahitan.
##@@##
“Apa lagi maumu?” sebuah serangan pertama datang dari pihak adam.
Makhluk berambut panjang itu hanya menatap, kemudian meneguk puisi yang hitam pekat menjelma kopi. Di antara kedua alisnya terlihat rasa cemas yang melebihi cemasnya seorang maling setelah tertangkap warga. Dan di kedua matanya, masih teguh menyimpan rahasia meski gelombang telah menghantamnya beberapa kali. Sungguh dia kuat sekali memegang prinsip.
Ting.
Gesekan gelas kopi dan cawannya tertangkap telinga. Setelah mengambil nafas beberapa kali, ia akhirnya memutuskan untuk menjawab.
“Banyak gunung yang telah kita daki, banyak samudera yang telah kita selami, dan banyak padang bunga yang telah kita kelilingi. Semuanya mengatakan hal yang sama meski dengan cara yang berbeda. Aku pun sering dilanda bingung sebelum tidur. Padahal aku ingin sekali bisa lelap tanpa ada sesuatu yang hinggap kemudian menjadi perangkap. Aku harap kau mengerti dengan semua ini,”
Suara tokek terdengar semakin keras menjeda percakapan mereka. Tampaknya mereka setuju dengan apa yang disampaikan oleh wanita luka itu. Sedangkan pihak adam hanya bisa terdiam. Mecoba merangkai kata menjadi pemahaman sederhana namun kaya makna.
“Kenangan adalah sebuah keabadiaan yang diimani oleh langit tertinggi dan laut terdalam. Di antara kita tidak pernah terjadi apa-apa yang dilarang oleh norma dan undang-undang cinta. Asal kau tahu, sejak saat itu, aku tidak lagi mempunyai malam yang bisa menemaniku memaknai sunyi dan memecah rahasia yang sengaja disembunyikan oleh hati. Bukankah itu adalah bencana yang sangat besar melebihi tragedi tsunami banda aceh yang terjadi beberapa waktu yang lalu?”
Asap rokok semakin berkurang. Ketukan tangan pada keyboard seorang penulis pun semakin menghilang. Rupanya, jarum jam sudah melangkah cukup jauh. Meninggalkan segala penyesalan yang akan diberikan pada akhir cerita nanti.
“Sepertinya kau masih belum mengerti, bahwa hangat pantat bekas duduk seseorang itu berbeda. Ada yang biasa saja, dan ada yang sangat panas hingga menimbulkan percikan api yang dapat mematikan penduduk semut sekitar. Bukan maksudku menyuruhmu untuk mengukur segala sesuatu yang terjadi. Hanya saja, kau perlu mengira pada apa-apa yang sebelumnya kau anggap remeh bahkan tak pernah kau hiraukan,”
Satu anggukan terjadi. Anggukan yang berarti rambu-rambu untuk berhati-hati. Sebab pikiran bisa saja pecah tiba-tiba tanpa adanya gejala. Dan itulah awal mula peperangan terjadi di dunia.
“Ok Dik, tak perlu kau jelaskan lagi bagaimana kau selama ini bersembunyi di balik kata-katamu sendiri. Sebab menurutku itu tidak ada gunanya. Semuanya hanya akan berputar pada lintasan yang sama. Yakni keraguan, kebohongan, atau bahkan kejujuran yang tidak bisa dijelaskan,”
Makhluk berambut panjang itu tersenyum. Rupanya badai dalam batinnya mulai reda setelah disinari oleh kalimat dalam dari pihak adam.
Kini tiga orang laki-laki di pojokan bertambah tiga. Jadilah enam orang itu seperti gerombolan bajingan yang menanti pagi dan menunggu mangsa secara bersamaan. Gelas-gelas mulai kehilangan isinya. Dan bidang layar seorang penulis, masih terus tetap bersinar seperti lampu kuning yang sudah dihinggapi debu.
Sebuah keistimewan memang tidak semuanya tampak di depan mata. Adakalanya ia menjelma cela yang masih sangat dini untuk dikatakan sebuah prestasi di muka bumi. Sebab orang-orang memang memandang seenakya saja. Tanpa tahu bagaimana kerasnya seorang yang sedang berusaha memetik takdir yang ia pesan kepada Tuhan.
“Apakah kau masih akan tetap lanjut?” serangan kedua datang tepat di menit ke tiga puluh yang utuh.
“Sepertinya tidak. Aku ingin menjadi orang biasa yang berada di batas wajar. Tersenyum saat bahagia, menangis saat terluka, dan menjelaskan segala sesuatu tanpa adanya pura-pura. Sebagaimana yang ibu katakan dulu, jadilah orang apa adanya tanpa memandang sesuatu dengan ada apanya,”
Dahi dari pihak adam berkerut. Di dalam kepalanya bertumpuk banyak pertanyaan yang berebut untuk keluar terlebih dahulu dari mulut yang satu. Jika seandainya ada mulut lain, mungkin semua pertanyaan itu akan ambyar seketika. Menjadi ungkapan yang tak bisa dipahami oleh siapa saja.
“Sebaiknya kau jangan tergesa-gesa dulu. Masih ada banyak hal yang harus kau pertimbangkan. Perihal gunung yang telah kau bentuk, perihal senja yang telah kau lukis, dan perihal semesta yang telah kau masukkan dalam rumah kata-kata. Semua itu tak bisa kau biarkan begitu saja. Sebab mereka membutuhkan kau sebagai Tuhannya,”
Percakapan keduanya naik turun seperti tembok cina yang menjadi legenda dunia. Padahal posisi keduanya sudah sangat nyaman dan istimewa. Tapi ada-ada saja sesuatu yang menjadi duri di setiap pijakan yang mereka coba.
Derungan sepeda motor datang dari arah selatan. Dari suaranya, mereka adalah gerombolan pemabuk yang mencari kopi sebagai obat penetralisir dalam tubuh. Entah itu benar atau tidak, tapi menereka menganggapnya seperti itu.
Suasana ruangan kembali ramai. Asap-asap rokok kembali menyemerbak. Dan umpatan-umpatan terdengar menggelegar. Ungkapan tersebut seolah sudah menjadi tasbih bagi mereka. Namun bagusnya, mereka tak pernah memandang strata yang oleh sebagian orang dijadikan tolak ukur dalam berbicara.
“Sudahlah mas, jangan kau bawa aku lagi pada masa-masa itu. Masa yang membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Siapakah aku? Pantaskah aku begini? Dan bagaiamanakah respon orang tuaku jika mereka tahu? Mungkin bagimu ini adalah sesuatu yang mudah dan indah, tapi bagiku, ini tak lebih dari sekedar basa-basi yang melahirkan kebusukan di mana-mana,”
Tampaknya dia memang serius dengan keputusannya yang sudah sebulat purnama.
“Ok lah kalau begitu. Sekarang kau boleh pulang dan kembali pada mimpimu yang mungkin sudah menunggumu di sana. Dan jangan lupa, aku menunggu besok pagi di pelataran mentari untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting,”
Tanpa banyak berkata-kata lagi, dia pun berkemas dan bergegas pergi.
##@@##
“Tidak banyak yang ingin kusampaikan padamu sekarang. Hanya saja aku berharap, semoga kau masih mengingatku sebagai salah satu kenangan indah yang pernah singgah di hidupmu. Setelah kita yang jauh kemudian diperdekat oleh waktu, kemudian tiba saatnya untuk jauh kembali menuju takdir,”
“Dik, sekarang aku akan pergi ke ujung dunia dengan perahu kertas yang pernah kau berikan padaku. Perahu yang selalu mengajarkanku arti perjuangan dan keikhlasan. Saat semuanya tidak sesuai dengan kehendak kita, dan saat semuanya tiba-tiba berbalik begitu saja,”  
 “Di saat-saat tertentu, akan kukrimkan pesan kerinduan padamu lewat kicau burung dan desir angin. Sebab tak ada yang lebih cepat dari keduanya. Dan tentu keduanya tidak memerlukan biaya. Sebab kau tahu sendiri, aku hanyalah seorang anak miskin yang dilahirkan dan dibesarkan dari keringat seorang nelayan. Seorang yang rela mempertaruhkan nyawanya ditengah gelombang laut yang ganas dan mematikan,”
“Terima kasih atas semuanya sayang. Harapanku yang terakhir, semoga di lain waktu kita dapat berjumpa lagi pada situasi yang lebih indah dari ini. Di mana sunyi tak lagi menjadi kejam, dan luka tak lagi menjadi menyakitkan. Semoga saja Tuhan mengabulkan harapan hambanya yang satu ini,”
Makhluk berambut panjang itu hanya mengangguk kemudian tersenyu, hingga akhirnya semuanya selesai setelah matahari naik di waktu duha.   

Tidak ada komentar: