Jumat, 03 Januari 2020

PANGGILAN KEDUA


Hari-hari berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari timur, kemudian tenggelam di barat. Langit masih cerah dengan kebiru-biruannya yang menggoda. Laut yang selalu mendeburkan dzikir menganggungkan sang pencipta. Dan semesta yang tak pernah kekurangan kata-kata dalam mengungkapkan segala rasa yang hadir seketika.
Di ruangan khusus, aku bersama beberapa imajinasi sedang berdiskusi perihal sesuatu yang akan kami ciptakan. Perbincangan ini tak perlu microphone agar bisa terdengar dengan jelas, tak perlu data dalam setumpuk kertas layaknya rapat ala-ala kantor dinas, dan juga tak butuh segala sesuatu yang biasanya digunakan diskusi. Aku dan imajinasi cukup menyampaikan pendapat satu sama lain dengan cara kami masing-masing.
Cuaca di luar sedang mendung. Tampaknya sebentar lagi langit akan menangis setelah tadi menyaksikan kelakuan manusia yang sudah keterlaluan. Pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, dan beragam bentuk kejahatan dengan motif yang berbeda-beda. Ditambah lagi pihak pemerintah yang semakin tidak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk.
Kupandangi jalanan sekitar lewat jendela kaca kamar kesayangan. Tampak seekor kodok sedang melompat di tengah rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Beberapa helai daun berguguran akibat serangan angin yang cukup kencang. Dan beberapa anak terlihat sedang riang bermain kejar-kejaran di bawah senyum mentari yang masih hangat.
Sebelum itu, aku telah menyiapkan secangkir kopi kesukaanku. Torabika susu. Minuman itu laksana ramuan ajaib yang mampu menentramkan pikiran saat sedang dilanda masalah. Apalagi saat hujan saat seperti ini, kopi selalu menjadi teman paling tepat menemani sepi yang selalu sunyi.
Imajinasiku masih tetap di tempatnya. Dia juga mengamati sekitar yang masih ramai dengan rintik. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah sama dengan yang kupikirkan? Yang jelas aku tak pernah mengajaknya bertengkar dalam hal yang kita pandang dari sudut yang berbeda. Sebab aku yakin, semua itu pasti ada nilai magisnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar. Sepertinya ibu sudah pulang dari pasar. Tempat jual beli kebaikan dan keburukan. Meski tak jarang pasar menjadi ajang cari kesalahan orang lain baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak. semoga saja ibu tidak termasuk orang-orang seperti itu.
“Nak, sudah sholat?” Ibu bertanya dari balik pintu.
“Sudah bu,” aku mengeraskan suara.
Dalam hal-hal tertentu, aku kadang berbohong kepada orang tua. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin diganggu saat sedang berdiskusi dengan imajinasi. Jarang-jarang dia datang ke kamarku kemudian berlama-lama sambil membicarakan banyak hal. Mulai dari pacar, mantan, masa depan dan segala hal yang masih dirahasiakan Tuhan.
Suasana di luar kamar masih gerimis. Burung-burung mulai berani terbang mencari kehidupan dari satu sangkar ke sangkar yang lain. Dari satu ketinggian ke ketinggian yang lain. Semangat dan sikap burung yang tidak tamak rezeki menjadi contoh teladan bagi manusia.
“Ah, iya,” kataku sambil menempelkan pena di kepala.
##@@##
Aku kembali pada saat cinta masih menjadi sesuatu yang indah bagiku. Rasa yang selalu saja menimbulkan bahagia bagi siapa saja. Hingga aku diantarkan pada satu nama indah yang membuatku menulis puisi hingga saat ini. Dialah Lina.
Lina adalah tetanggaku yang tinggal di desa sebelah. Sejak kecil dan setiap sore, kami pasti pergi ke sebuah bukit dimana kita bisa melihat senja dengan dekat. Melihat awan-awan yang berbentuk persegi, segitiga, bahkan ke bentuk yang kami tidak tahu namanya. Di sana kami menjadi anak kecil paling bahagia.
“Lin, kamu tahu kenapa matahari itu selalu memberikan kehangatan bagi kita?” aku mulai berlagak serius seolah orang ahli biologi yang sudah banyak memakan teori.
Lina menatapku sejenak, kemudian menggelengkan kepala.
“Karena kita adalah sebuah kecocokan,” aku tersenyum memandangan persiapan senja.
Lina mengerutkan dahi. Di kepalanya tertanda sebuah ketidakpahaman akan apa yang kusampaikan. Memang, anak seusia kami belum saatnya untuk mengenal hal-hal asmara yang mengarah pada sebuah hubungan spesial. Hubungan yang mengubah jalan hidup menjadi sepuluh kali lipat lebih bahagia, atau mungkin sebaliknya.
Lina beranjak. Ia pergi ke sebuah pohon besar yang entah apa itu namanya. Di sana dia memetik beberapa bunga yang tumbuh di sekitar pohon dan menghirupnya dalam-dalam. Aku yang menyaksikannya dari kejauhan hanya tersenyum melihat itu.
“Eh Lin, sini, sebentar lagi senja datang,” aku berteriak sambil melambaikan tangan pada Lina.
Dia menaruh bunga itu. Kemudian berlari ke arahku. Kami duduk di tempat biasa sambil tertawa renyah seperti jajan anyar yang baru dibeli di toko ternama.
Ya, suasana inilah yang paling indah dibanding semua permainan dengan anak lain. Kami tidak pernah saling memukul, menghujat, atau mencari kesalahan satu sama lain. Seolah kami sudah paham bagaimana tatakrama yang seharusnya dilakukan dalam bergaul.
Senja datang. Dia berwarna merah kekuning-kuningan laksana emas paling istimewa di segala penjuru semesta. Matahari melihat kami sejenak. Rupanya dia mengerti bahwa kami selalu memperhatikannya setiap sore. Entah apa yang dia rasakan sekarang, mungkin malu, senang, atau malah tidak suka.
Langit semakin petang. Sebagai anak kecil, tentu biasanya orang tua akan mencari anaknya bila sampai sekarang belum ada di rumah untuk persiapan mengaji. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. Karena kami mendapatkan keistimewaan sendiri.
Kami bertukar setangkai rumput sekaligus senyum yang telah dipersiapkan dari kemarin. Dari sini aku dapat belajar banyak hal tentang keikhlasan, persahabatan, atau bahkan cinta yang katanya orang-orang dapat membuat diri menjadi buta. Buta budaya, buta sosial, atau bahkan buta agama.
Lima menit kami menghabiskan senja bersama sebelum akhirnya matahari benar-benar tenggelam ke peranduannya. Kembali kepada kehidupannya sendiri.
Setelah itu, kami pun pulang membawa kebahagiaan yang kami tampung dalam hati masing-masing. Aku masih ingat betul bagaimana senyuman Lina saat itu. Senyuman yang mampu membuat raja hutan terbengong lama meki dalam keadaan lapar dan di depannya ada mangsa. Entah anugerah apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku pun tak tahu.
##@@##
Rumahku dan Lina berada di posisi strategis dibanding dengan yang lain. Selain kami dekat dengan pegunungan, rumah kami juga dekat dengan pantai yang melahirkan gelombang dan berisik anak kecil. Di sana banyak pengunjung dari luar daerah yang rela datang jauh-jauh untuk menyaksikan matahari tenggelam dalam rahim kenangan.
Pagi itu, kendaraan masih tidak terlalu banyak meintas di jalan raya. Kebaikan embun yang datang membasahi tumbuhan terlihat di mana-mana. Di tanaman depan rumah, tanaman tetangga, hingga tanaman kecil yang masih berusaha bertahan hidup di tengah kaki-kai kejam yang suka membunuh tanpa mengenal waktu.
Usiaku lebih cepat dibanding waktu. Kami berdua menginjak fase remaja di mana cinta sudah berhak untuk berdiam dalam jiwa, menyalakan rindu, dan menciptakan kenangan-kenangan yang indah di berbagai sisi semesta.
Kami tak pernah saling bersepakat untuk menjalin hubungan spesial untuk beberapa waktu. Namun, canda tawa yang kami ciptakan dari cerita dan guyonan receh selalu membuatku nyaman berada di sisinya. Dari situ aku memutuskan untuk menembaknya beberapa kali dengan puisi dalam bentuk rahasia.
Aku tak pernah tahu apa yang dia rasakan. Namun jika dilihat dari  matanya, di sana tampak jelas bagaimana matahari sedang hangat dan langit sedang cerah. Gelombang lautan juga tenang seiring desir angin yang selalu mendamaikan hati orang-orang. Tak nampak sedikit pun gelisah setelah kusimpulkan dari berbagai fenomena.
Pernah suatu ketika, Lina mengatakan bahwa dia tidak ingin kehilanganku. Sebuah ungkapan yang sangat ekstrim dikatakan seorang perempuan pada laki-laki yang sudah dikenal sejak lama. Namun, makna dari kalimat tersebut bukanlah sebuah alasan untuk dia bisa menerimaku apa adanya. Aku harus tahu diri.
Di sini, dengan penuh keberanian aku mengubah hatinya. Mengubah segala kejelekan tentang diriku dalam kepalanya menjadi kebaikan. Mengubah wajahku yang pas-pasan menjadi sangat tampan melebihi artis korea yang sering main film. Bahkan lebih indah dari senja pertama yang pernah disuguhkan semesta.
Tuhan, ini mungkin akan menjadi hal pertama sekaligus terakhir yang akan kulakukan kepadanya. Di mana kami akan saling sepakat untuk berpaling dari takdir, menjauh dari Tuhan, dan kabur dari segala aturan. Kemudian kami akan pergi ke sebuah padang savana, di mana hanya kekuatan cinta dan rindu yang ada. Selain itu hanya ruang yang ada untuk kami. Aku dan Lina.
“Apa yang akan kita lakukan di sini dengan waktu yang tak terbatas?” Lina menatapku dengan penuh cinta tanpa sedikitpun curiga.
##@@##
Aku benar-benar melakukannya.
Sebuah cinta yang dulunya tertolak kini diterima atas kesepakatan sepihak tanpa ada paksaan dari siapapun. Biarkanlah tidak mengerti dengan kehidupan yang kuciptakan sendiri dengan imajinasi yang tiba-tiba tumbuh tanpa aba-aba. Mungkin dia hanya akan terkejut saat melihat bagaimana aku mengeksekusi bibirnya kala itu. Bibir yang ronanya melihat bunga mawar.
Pada kata terakhir, imajinasi mohon pamit dengan caranya sendiri yang tak bisa dibahasakan oleh suatu apapun. Aku yang sudah merasa tertolong hanya bisa mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa. Berkat bantuannya aku bisa hidup kembali bersamanya meski pada dimensi yang berbeda. Dimensi di mana cinta tak harus bertukar mata, bercumbu ria, atau bahkan saling memasukkan yang membuat diri menjadi. Semunay hanya cukup dengan kata-kata.
“Makan dulu nak,” Ibu tampaknya mulai  marah.
Aku beranjak dari duduk dan melipat kenangan yang baru saja selesai kuabadikan dalam laci kecil. Di sana berkumpul berbagai hadiah dari teman-teman yang ikut bahagia atas prestasiku. Ya, aku pernah memenangkan sayembara menulis fiksi tingkat provinsi setelah mengalahkan dua puluh peserta lain.
Dengan mengucapkan lafadz syukur pada Tuhan, kuputuskan keluar memenuhi panggilan ibu yang sudah dari tadi menyelesaikan makanan. Lagi pula kenangan takkan pernah mengenyangkan perut seorang pecinta yang ditinggal jauh oleh wanitanya tanpa sebab apa-apa. Sebab tak pernah ada apa-apa di sana.
“Iya bu,” jawabku mantap.
Sesampainya di dapur, sudah tersaji nasi putih dan ikan laut yang ditangkap langsung oleh tangan bapak. Tangan yang senantiasa mendidikku menjadi laki-laki pemberani meski badai semakin kencang dan gelombang semakin besar menghadang.
Sepuluh menit kemudian, aku pun kenyang dan imajinasi kembali hadir di sisiku. 

Tidak ada komentar: