Hari-hari berjalan seperti
biasa. Matahari terbit dari timur, kemudian tenggelam di barat. Langit masih
cerah dengan kebiru-biruannya yang menggoda. Laut yang selalu mendeburkan
dzikir menganggungkan sang pencipta. Dan semesta yang tak pernah kekurangan
kata-kata dalam mengungkapkan segala rasa yang hadir seketika.
Di ruangan khusus, aku
bersama beberapa imajinasi sedang berdiskusi perihal sesuatu yang akan kami
ciptakan. Perbincangan ini tak perlu microphone agar bisa terdengar dengan
jelas, tak perlu data dalam setumpuk kertas layaknya rapat ala-ala kantor
dinas, dan juga tak butuh segala sesuatu yang biasanya digunakan diskusi. Aku
dan imajinasi cukup menyampaikan pendapat satu sama lain dengan cara kami
masing-masing.
Cuaca di luar sedang
mendung. Tampaknya sebentar lagi langit akan menangis setelah tadi menyaksikan
kelakuan manusia yang sudah keterlaluan. Pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, dan
beragam bentuk kejahatan dengan motif yang berbeda-beda. Ditambah lagi pihak
pemerintah yang semakin tidak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk.
Kupandangi jalanan sekitar
lewat jendela kaca kamar kesayangan. Tampak seekor kodok sedang melompat di
tengah rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Beberapa helai daun
berguguran akibat serangan angin yang cukup kencang. Dan beberapa anak terlihat
sedang riang bermain kejar-kejaran di bawah senyum mentari yang masih hangat.
Sebelum itu, aku telah
menyiapkan secangkir kopi kesukaanku. Torabika susu. Minuman itu laksana ramuan
ajaib yang mampu menentramkan pikiran saat sedang dilanda masalah. Apalagi saat
hujan saat seperti ini, kopi selalu menjadi teman paling tepat menemani sepi
yang selalu sunyi.
Imajinasiku masih tetap di
tempatnya. Dia juga mengamati sekitar yang masih ramai dengan rintik. Entah apa
yang sedang dipikirkannya. Apakah sama dengan yang kupikirkan? Yang jelas aku
tak pernah mengajaknya bertengkar dalam hal yang kita pandang dari sudut yang
berbeda. Sebab aku yakin, semua itu pasti ada nilai magisnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu
terdengar. Sepertinya ibu sudah pulang dari pasar. Tempat jual beli kebaikan
dan keburukan. Meski tak jarang pasar menjadi ajang cari kesalahan orang lain
baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak. semoga saja ibu tidak termasuk
orang-orang seperti itu.
“Nak, sudah sholat?” Ibu bertanya dari balik pintu.
“Sudah bu,” aku mengeraskan suara.
Dalam hal-hal tertentu, aku
kadang berbohong kepada orang tua. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin
diganggu saat sedang berdiskusi dengan imajinasi. Jarang-jarang dia datang ke
kamarku kemudian berlama-lama sambil membicarakan banyak hal. Mulai dari pacar,
mantan, masa depan dan segala hal yang masih dirahasiakan Tuhan.
Suasana di luar kamar masih
gerimis. Burung-burung mulai berani terbang mencari kehidupan dari satu sangkar
ke sangkar yang lain. Dari satu ketinggian ke ketinggian yang lain. Semangat
dan sikap burung yang tidak tamak rezeki menjadi contoh teladan bagi manusia.
“Ah, iya,” kataku sambil menempelkan pena di kepala.
##@@##
Aku kembali pada saat cinta
masih menjadi sesuatu yang indah bagiku. Rasa yang selalu saja menimbulkan
bahagia bagi siapa saja. Hingga aku diantarkan pada satu nama indah yang
membuatku menulis puisi hingga saat ini. Dialah Lina.
Lina adalah tetanggaku yang
tinggal di desa sebelah. Sejak kecil dan setiap sore, kami pasti pergi ke
sebuah bukit dimana kita bisa melihat senja dengan dekat. Melihat awan-awan
yang berbentuk persegi, segitiga, bahkan ke bentuk yang kami tidak tahu
namanya. Di sana kami menjadi anak kecil paling bahagia.
“Lin, kamu tahu kenapa matahari itu selalu memberikan kehangatan bagi
kita?” aku mulai berlagak serius seolah orang ahli biologi yang sudah banyak
memakan teori.
Lina menatapku sejenak, kemudian menggelengkan kepala.
“Karena kita adalah sebuah kecocokan,” aku tersenyum memandangan
persiapan senja.
Lina mengerutkan dahi. Di
kepalanya tertanda sebuah ketidakpahaman akan apa yang kusampaikan. Memang,
anak seusia kami belum saatnya untuk mengenal hal-hal asmara yang mengarah pada
sebuah hubungan spesial. Hubungan yang mengubah jalan hidup menjadi sepuluh
kali lipat lebih bahagia, atau mungkin sebaliknya.
Lina beranjak. Ia pergi ke
sebuah pohon besar yang entah apa itu namanya. Di sana dia memetik beberapa
bunga yang tumbuh di sekitar pohon dan menghirupnya dalam-dalam. Aku yang
menyaksikannya dari kejauhan hanya tersenyum melihat itu.
“Eh Lin, sini, sebentar lagi senja datang,” aku berteriak sambil
melambaikan tangan pada Lina.
Dia menaruh bunga itu.
Kemudian berlari ke arahku. Kami duduk di tempat biasa sambil tertawa renyah
seperti jajan anyar yang baru dibeli di toko ternama.
Ya, suasana inilah yang
paling indah dibanding semua permainan dengan anak lain. Kami tidak pernah
saling memukul, menghujat, atau mencari kesalahan satu sama lain. Seolah kami
sudah paham bagaimana tatakrama yang seharusnya dilakukan dalam bergaul.
Senja datang. Dia berwarna
merah kekuning-kuningan laksana emas paling istimewa di segala penjuru semesta.
Matahari melihat kami sejenak. Rupanya dia mengerti bahwa kami selalu
memperhatikannya setiap sore. Entah apa yang dia rasakan sekarang, mungkin
malu, senang, atau malah tidak suka.
Langit semakin petang.
Sebagai anak kecil, tentu biasanya orang tua akan mencari anaknya bila sampai
sekarang belum ada di rumah untuk persiapan mengaji. Tapi itu tidak berlaku
bagi kami. Karena kami mendapatkan keistimewaan sendiri.
Kami bertukar setangkai
rumput sekaligus senyum yang telah dipersiapkan dari kemarin. Dari sini aku
dapat belajar banyak hal tentang keikhlasan, persahabatan, atau bahkan cinta
yang katanya orang-orang dapat membuat diri menjadi buta. Buta budaya, buta
sosial, atau bahkan buta agama.
Lima menit kami menghabiskan
senja bersama sebelum akhirnya matahari benar-benar tenggelam ke peranduannya.
Kembali kepada kehidupannya sendiri.
Setelah itu, kami pun pulang
membawa kebahagiaan yang kami tampung dalam hati masing-masing. Aku masih ingat
betul bagaimana senyuman Lina saat itu. Senyuman yang mampu membuat raja hutan
terbengong lama meki dalam keadaan lapar dan di depannya ada mangsa. Entah
anugerah apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku pun tak tahu.
##@@##
Rumahku dan Lina berada di
posisi strategis dibanding dengan yang lain. Selain kami dekat dengan
pegunungan, rumah kami juga dekat dengan pantai yang melahirkan gelombang dan
berisik anak kecil. Di sana banyak pengunjung dari luar daerah yang rela datang
jauh-jauh untuk menyaksikan matahari tenggelam dalam rahim kenangan.
Pagi itu, kendaraan masih
tidak terlalu banyak meintas di jalan raya. Kebaikan embun yang datang
membasahi tumbuhan terlihat di mana-mana. Di tanaman depan rumah, tanaman
tetangga, hingga tanaman kecil yang masih berusaha bertahan hidup di tengah
kaki-kai kejam yang suka membunuh tanpa mengenal waktu.
Usiaku lebih cepat dibanding
waktu. Kami berdua menginjak fase remaja di mana cinta sudah berhak untuk
berdiam dalam jiwa, menyalakan rindu, dan menciptakan kenangan-kenangan yang
indah di berbagai sisi semesta.
Kami tak pernah saling
bersepakat untuk menjalin hubungan spesial untuk beberapa waktu. Namun, canda
tawa yang kami ciptakan dari cerita dan guyonan receh selalu membuatku nyaman
berada di sisinya. Dari situ aku memutuskan untuk menembaknya beberapa kali
dengan puisi dalam bentuk rahasia.
Aku tak pernah tahu apa yang
dia rasakan. Namun jika dilihat dari
matanya, di sana tampak jelas bagaimana matahari sedang hangat dan
langit sedang cerah. Gelombang lautan juga tenang seiring desir angin yang
selalu mendamaikan hati orang-orang. Tak nampak sedikit pun gelisah setelah
kusimpulkan dari berbagai fenomena.
Pernah suatu ketika, Lina
mengatakan bahwa dia tidak ingin kehilanganku. Sebuah ungkapan yang sangat
ekstrim dikatakan seorang perempuan pada laki-laki yang sudah dikenal sejak
lama. Namun, makna dari kalimat tersebut bukanlah sebuah alasan untuk dia bisa
menerimaku apa adanya. Aku harus tahu diri.
Di sini, dengan penuh
keberanian aku mengubah hatinya. Mengubah segala kejelekan tentang diriku dalam
kepalanya menjadi kebaikan. Mengubah wajahku yang pas-pasan menjadi sangat
tampan melebihi artis korea yang sering main film. Bahkan lebih indah dari
senja pertama yang pernah disuguhkan semesta.
Tuhan, ini mungkin akan
menjadi hal pertama sekaligus terakhir yang akan kulakukan kepadanya. Di mana
kami akan saling sepakat untuk berpaling dari takdir, menjauh dari Tuhan, dan
kabur dari segala aturan. Kemudian kami akan pergi ke sebuah padang savana, di
mana hanya kekuatan cinta dan rindu yang ada. Selain itu hanya ruang yang ada
untuk kami. Aku dan Lina.
“Apa yang akan kita lakukan di sini dengan waktu yang tak terbatas?”
Lina menatapku dengan penuh cinta tanpa sedikitpun curiga.
##@@##
Aku benar-benar melakukannya.
Sebuah cinta yang dulunya
tertolak kini diterima atas kesepakatan sepihak tanpa ada paksaan dari
siapapun. Biarkanlah tidak mengerti dengan kehidupan yang kuciptakan sendiri
dengan imajinasi yang tiba-tiba tumbuh tanpa aba-aba. Mungkin dia hanya akan
terkejut saat melihat bagaimana aku mengeksekusi bibirnya kala itu. Bibir yang
ronanya melihat bunga mawar.
Pada kata terakhir,
imajinasi mohon pamit dengan caranya sendiri yang tak bisa dibahasakan oleh
suatu apapun. Aku yang sudah merasa tertolong hanya bisa mengucapkan terima
kasih dan sampai jumpa. Berkat bantuannya aku bisa hidup kembali bersamanya
meski pada dimensi yang berbeda. Dimensi di mana cinta tak harus bertukar mata,
bercumbu ria, atau bahkan saling memasukkan yang membuat diri menjadi. Semunay
hanya cukup dengan kata-kata.
“Makan dulu nak,” Ibu tampaknya mulai
marah.
Aku beranjak dari duduk dan
melipat kenangan yang baru saja selesai kuabadikan dalam laci kecil. Di sana
berkumpul berbagai hadiah dari teman-teman yang ikut bahagia atas prestasiku.
Ya, aku pernah memenangkan sayembara menulis fiksi tingkat provinsi setelah
mengalahkan dua puluh peserta lain.
Dengan mengucapkan lafadz
syukur pada Tuhan, kuputuskan keluar memenuhi panggilan ibu yang sudah dari
tadi menyelesaikan makanan. Lagi pula kenangan takkan pernah mengenyangkan
perut seorang pecinta yang ditinggal jauh oleh wanitanya tanpa sebab apa-apa.
Sebab tak pernah ada apa-apa di sana.
“Iya bu,” jawabku mantap.
Sesampainya di dapur, sudah
tersaji nasi putih dan ikan laut yang ditangkap langsung oleh tangan bapak.
Tangan yang senantiasa mendidikku menjadi laki-laki pemberani meski badai
semakin kencang dan gelombang semakin besar menghadang.
Sepuluh menit kemudian, aku pun kenyang dan imajinasi kembali hadir di
sisiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar