Senin, 06 Januari 2020

LANGIT KETUJUH


Jika seorang pilot masih membutuhkan pesawat, bahan bakar, pelindung dan banyak perlatan untuk menyentuh langit, maka aku cukup dengan secangkir kopi dan sebatang rokok untuk masuk ke langit, bahkan sampai langit ketujuh. Langit yang tak pernah disinggahi oleh manusia sejenius apapun yang telah berhasil meraih lima gelar. di sana terdapat kehidupan yang sangat berbeda dengan di bumi. Jika di bumi masih ada kejahatan dan sejenisnya, maka di sana tak mengenal itu semua. Semua penduduk langit ketujuh hanya diajarkan bahagia dengan benar tanpa ada perbuatan membenarkan.
Rumahku berada di dataran tinggi dan kebetulan menghadap ke arah timur. Arah di mana matahari akan tenggelam dengan segala kenangan yang telah berhasil ia sinari dengan baik. Entah bapakku dulu sudah memperhitungkannya atau tidak, yang jelas semua ini sangat indah sekali. Bahkan jika ada orang kaya yang akan membeli rumah ini sebesar apapun, maka aku adalah makhluk terdepan yang akan menggagalkan itu.
Angin semilir menyejukkan kulit dan memainkan rambutku yang sudah agak panjang. aku membetulkan posisi kursi dan meja sebelum pergi ke langit ke tujuh agar selama perjalanan tidak ada hambatan.
"Nah, sip," kataku dengan senyum sederhana.
Aku langsung duduk dengan secangkir kopi, sebungkus rokok, dan sebatang korek di atas meja. Sengaja aku membeli satu bungkus rokok karena perjalanan kali ini akan lebih lama dibanding kemarin. Semoga saja tidak ada yang mengganggu perjalanan hingga sampai di tujuan. Baik itu faktor alam atau panggilan ibu yang tiba-tiba menyuruhku ke pasar untuk membeli ikan.
Kuteguk secangkir kopi hitam itu dengan sungguh-sungguh. Bertanda bahwa perjalanan sebentar lagi akan dimulai. seperti halnya saat baru menghidupkan motor, tentu perlu pemanasan terlebih dahulu sebelum berangkat, agar mesin tetap stabil dan tidak kaget di tengah jalan.
Sebelum aku benar-benar terbang, suara pengacau itu datang.
"Nak.. Nak," Ibu memanggil dari arah dapur.
"Ah, jambret," umpatku dalam hati.
Mungkin aku perlu mengumumkan kapan saja aku tidak bisa diganggu kecuali jika dalam situasi sangat darurat. Sebab setiap manusia punya hak untuk itu. begitu pula seorang pada orang tua.
"Ada apa Buk?" jawabku tanpa bangun dari tempat duduk.
"Kesini sebentar," katanya dari kejauhan.
Mau tidak mau aku harus pergi ke sumber suara. Jangan sampai beliau ngamuk hingga tak mau memasak sesuatu apapun untuk kita. Bisa menjadi kiamat bagiku dan ayah tercinta. Sesampainya di sumber suara, terlihat ibu sedang membuka colokan yang menancap di elpiji. barang yang tempo lalu membuat Pak Rohman harus kehilangan rumahnya. ya, ledakannya sungguh sangat dahsyat sekali.
"Tolong belikan elpiji di warung pak bambang nak," Ibu setelah memberiku uang 50 ribu an.
"Yang deket masjid itu tha ma?" Tanyaku memastikan.
"Iya,"
Dengan cepat aku mengambil sepeda motor ayah yang terparkir di garasi. Kebetulan hari ini ayah tidak ada jadwal keluar, jadi kupakai saja sepedanya supaya lebih cepat dan lekas kembali.
Jalanan yang agak menurun membuatku harus berhati-hati dalam berkendara. Jika tidak, maka dengan cepat aku akan sampai dalam keadaan tak bernyawa. Perlahan namun pasti. berbagai jenis tumbuhan kutemui selama perjalanan. Sangat indah
Sesampainya di lokasi, Pak Bambang terlihat sedang menata elpiji yang baru datang.
"Pak, beli elpijinya satu," Aku menyodorkan uang 50 ribuan.
Bapak itu hanya tersenyum dan mengambilkan elpiji yang masih ada isinya. Tidak ada banyak percakapan di antara kami. Mungkin dikarenakan bapaknya juga sedang sibuk hingga tak sempat untuk sekedar basa-basi.
"Terima kasih pak," kataku setelah menerima uang kembalian dan barang yg kubeli.
Dengan kecepatan yang lebih kencang, aku membawa sepeda ayah dengan berani. Meski jalan berliuk-liuk seperti arena balapan yang kapan saja bisa membuatku terjungkal dan jatuh ke jurang. Semoga saja tidak.
Aku sampai dengan selamat. Sedangkan kopi yang dari tadi kuseduh sudah tak lagi hangat. Ibu sudah menunggu di dapur. Bersiap-siap untuk menyulap bahan-bahan mentah menjadi makanan siap saji yang tentu masih membutuhkan elpiji.
Aku kembali duduk di tempat yang tadi. Menyeruput kopi yang sudah dingin setelah ditiup angin. Rokok kunyalakan dengan sepenuh hati. Sebentar lagi aku akan terbang ke langit ke tujuh. Langit yang tak perbah disentuh.
Asap demi asap berhamburan dari mulutku. Tempat ini memang sangat indah dari melebihi orang kira. Tidak ada kebohongan dan kejahatan sama sekali, yang ada hanyalah kejujuran dan kebaikan. Langit di sini berbeda dengan langit pertama yang masih dikunjungi banyak pesawat. Birunya pun lebih bersih dari yang ada di dunia.
Aku masih dalam kondisi duduk. Tapi separuh diriku sudah sampai di langit ke tujuh. Di sana aku melihat taman bermain yang dipenuhi anak-anak kecil yang tertawa bahagia. tidak ada di antara mereka yang berkelahi atau bahkan melukai. Burung-burung merpati terbang memenuhi sudut semesta. Ternyata di sana juga ada sungai yang mengalir dengan sangat deras. Tidak ada kecelakaan atau orang yang bunuh diri di sana. Tidak seperti di dunia, banyak sungai yang menelan korban tanpa memperhatikan perasaan.
Aku memilih duduk di bawah pohon yang sangat rindang, buahnya lebat, dan daunnya sangat segar. Bukti bahwa semua ini adalah benar-benar kekuasaan Tuhan. di depanku tersaji pelangi yang melengkung dari satu gunung ke gunung yang lain. Konon gunung itu meletus minyak wangi setiap setahun sekali. Entah itu benar atau tidak, yang jelas katanya seperti itu.
Dua kelinci lucu berkejaran di sampingku. Jika diamati lebih teliti, kedua kelinci itu adalah sepasang kekasih yang sedang bermain kejar-kejaran. Terlihat dari bagaimana kelinci jantan itu menatap. Sungguh berbeda.
Angin sepoi-sepoi menghampiriku dan menyapa rumput yang tak terlalu tinggi. Sesekali datang dan sesekali menghilang. Rasanya aku tidak ingin pergi dari langit ke tujuh. Di sini jauh lebih indah dari dunia yang penuh tipu daya. Tapi sayang, senja yang menjadi momentum puncak dari keindahan langit ke tujuh sebentar lagi akan tenggelam. Jika seandainya Tuhan mau mengabulkan satu permintaanku, maka pasti aku akan meminta agar dunia selalu senja. Agar aku bisa duduk di teras rumah dan menghabiskan beratus-ratus kopi dan rokok.
Tinggal lima menit lagi.
"Senja, sampaikan salamku padanya. Sebab aku yakin, di kejauhan sana, kekasihku yang sesungguhnya juga sedang menatapmu seperti halnya aku," Aku kemudian menutup mata.
Aku tidak tahu apakah senja bisa mendengar permintaanku atau tidak. Tapi paling tidak, dengan begitu aku sudah mampu mengusir kegalauan akibat masih berstatus jomblo. Status yang menurut anak muda kekinian adalah suatu bencana besar. Di mana saat malam minggu tidak ada yang menemani, hanya berteman dengan media sosial yang berdialog dengan sesama jomblo. Ah, sungguh mengenaskan..
Tapi bagiku tidak begitu. Tidak mempunyai pasangan (jomblo) bukan berarti sebuah musibah. Justru ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri karena mampu menahan godaan setan yang terkutuk untuk melawan aturan Tuhan. Lagi pula ini masih bukan masanya untuk hal-hal begituan. Sekarang waktunya untuk menimba ilmu sebanyak mungkin untuk bekal masa depan yang lebih baik.
“Allahu akbar, Allahu akbar,”
Kumandang adzan maghrib telah terdengar. Dan senja baru saja hilang sebelum adzan muncul. Saatnya kembali ke dunia nyata, berhubung kopi dan rokok juga telah menipis yang dijadikan sebagai bahan bakar.
“Ke masjid nak,” perintah Ibu dari kejauhan.
“Iya Bu,” jawabku dengan nada tinggi juga.
Kini aku telah sampai di rumah. Setelah separuh jiwaku berkelana di langit ke tujuh meski hanya sebentar. Banyak hal yang kudapat di sana. Mulai dari keindahan, kebaikan, dan pentingya keharmonisan antar sesama. Semoga saja dunia yang semakin tak karuan ini dapat mencontoh kehidupan langit ke tujuh. Ah, tapi para manusia itu tidak tahu.
Kuamati kopi dan rokokku. Rokok tinggal dua batang, dan kopi sudah tinggal ampasnya. Malam telah datang ditandai dengan bulan yang bertengger di atas langit. Entah sempurna atau tidak, aku tak pernah memperdulikannya. Yang penting dunia ini aman itu sudah cukup bagiku.
Sebenarnya aku masih malas untuk pergi ke masjid. Sudah tiga hari ini aku sholat di kamar akibat rasa malas. Tiga hari kemarin masih aman karena ibu kebetulan selalu keluar saat sore dan pulang setelah isya tanpa menanyakan pergi ke masjid atau tidak. Tapi sekarang, pasti ibu akan mencermahiku jika tidak segera berangkat.
“Naak..,” panggil Ibu lagi.
“Enggeh bu, sebentar,”
Kadang aku merasa jengkel jika disuruh-suruh seperti ini. Bukankah aku sudah dewasa yang bisa mengatur waktuku sendiri tanpa ada paksaan untuk ini dan itu.
Sebelum berangkat, aku mengambil wudhu terlebih dahulu tanpa mandi. Sebab jika masih mandi, maka dapat dipastikan aku tidak akan nutut dengan imam. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.
Sarung hitam, kemeja hitam, dan songkok hitam. Ah, aku juga tak mengerti mengapa semuanya menjadi serba hitam. Bagiku penampilan adalah hal yang tak terlalu penting tapi tidak boleh diabaikan. Berbeda dengan sebagian temanku yang kadang sangat pilih-pilih dalam hal kostum. Entah itu warnanya harus sama, motifnya harus sama, atau apapun yang harus. cocok semua.
“Berangkat dulu Buk,” kataku yang sudah siap dengan sajadah di bahu.
“Iya,”
Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan kehidupan langit ke tujuh. Ternyata kehidupan itu hanya ada saat senja datang sampai menghilang. Singkat sekali. Sebenarnya sangat eman bila hanya menikmati sebentar. Tapi apa boleh buat, bisa mengunjunginya sudah anugerah tersendiri bagiku.
Satu menit kemudian aku sampai di masjid. Dan imam sudah berada di posisi rakaat terkahir.
“Untung masih nutut,” batinku sambil berlari dan mengucap takbir saat sudah di posisi.
“ALLAHU AKBAR,”
Aku kembali hanyut dalam dunia lain. Dunia hamba bisa bercakap-cakap dengan Tuhannya.
Dengan tanpa malu, aku langsung mengutarakan segala keinginanku selama ini yang masih belum tercapai kepada Tuhan. Barang kali dengan begitu Tuhan sudi mengubah garis takdirku sesuai dengan keinginan.
“Tuhan, aku mohon kepada-Mu, sudah banyak jalan yang aku lalui untuk mencapai harapan yang masih sebatas bayangan. Tapi apalah daya, usahaku tak mampu melawan takdir-Mu. Jadi izinkah hamba memohon kali ini, sungguh, hamba sangat mengharapkan itu Tuhan,”
Bahasa Tuhan tidak mampu dipahami oleh hambanya. Mulai dari yang melata, berdiri, duduk, berbaring, dan lain sebagainya.
“Assalamualaikum Warahmatullah,”
Aku pulang dengan perasaan lega dua kali lipat setelah sholat. Melebihi orang yang baru selesai melunasi semua hutangnya. Entah, ini hanya soal rasa.
Dalam perjalanan pulang aku tersesat. Jalan kali ini berbeda dengan apa yang kulewati tadi. Di depanku tiba-tiba ada tangga putih yang menuju ke langit. Sempat aku berpikir bahwa ini adalah mimpi, tapi setelah pipi ini kutepuk beberapa kali, ternyata ini semua adalah nyata.
“Mungkin Tuhan memang ingin bertemu denganku secara langsung,” kataku dalam hati.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya kuputuskan untuk menaiki tangga itu. Tangga yang menembus langit pertama, kedua, hingga sampai ke tujuh. Di sana terdapat buku catatan yang sangat besar berisi segala perilaku manusia di muka bumi. Mulai dari yang muda hingga tua, miskin atau kaya, dan juga mulya bahkan hina. Entahlah, aku tidak mengerti dengan maksud semua ini. Yang kupikirkan saat itu hanya satu, yaitu pulang.
Aku berjalan sesuka hati. Mengelilingi taman, mandi di sungai, dan berjemur di bawah terik yang bisa kita atur sendiri kapasitasnya. Lima jam lamanya tak terasa dan lewat begitu saja. Hingga akhirnya matahari datang dengan segala amanah yang dititipkan Tuhan.
“Waktunya aku pulang,” seruku dalam hati.
Di lain hari, semoga aku bisa mampir lagi di langit ke tujuh. Nyaman rasanya jika bisa terus hidup di sana. Menghabiskan siswa usia dengan senyum dan tawa.

Tidak ada komentar: