Jika
seorang pilot masih membutuhkan pesawat, bahan bakar, pelindung dan banyak
perlatan untuk menyentuh langit, maka aku cukup dengan secangkir kopi dan
sebatang rokok untuk masuk ke langit, bahkan sampai langit ketujuh. Langit yang
tak pernah disinggahi oleh manusia sejenius apapun yang telah berhasil meraih
lima gelar. di sana terdapat kehidupan yang sangat berbeda dengan di bumi. Jika
di bumi masih ada kejahatan dan sejenisnya, maka di sana tak mengenal itu
semua. Semua penduduk langit ketujuh hanya diajarkan bahagia dengan benar tanpa
ada perbuatan membenarkan.
Rumahku
berada di dataran tinggi dan kebetulan menghadap ke arah timur. Arah di mana
matahari akan tenggelam dengan segala kenangan yang telah berhasil ia sinari
dengan baik. Entah bapakku dulu sudah memperhitungkannya atau tidak, yang jelas
semua ini sangat indah sekali. Bahkan jika ada orang kaya yang akan membeli
rumah ini sebesar apapun, maka aku adalah makhluk terdepan yang akan
menggagalkan itu.
Angin
semilir menyejukkan kulit dan memainkan rambutku yang sudah agak panjang. aku
membetulkan posisi kursi dan meja sebelum pergi ke langit ke tujuh agar selama
perjalanan tidak ada hambatan.
"Nah, sip,"
kataku dengan senyum sederhana.
Aku
langsung duduk dengan secangkir kopi, sebungkus rokok, dan sebatang korek di
atas meja. Sengaja aku membeli satu bungkus rokok karena perjalanan kali ini
akan lebih lama dibanding kemarin. Semoga saja tidak ada yang mengganggu perjalanan
hingga sampai di tujuan. Baik itu faktor alam atau panggilan ibu yang tiba-tiba
menyuruhku ke pasar untuk membeli ikan.
Kuteguk
secangkir kopi hitam itu dengan sungguh-sungguh. Bertanda bahwa perjalanan
sebentar lagi akan dimulai. seperti halnya saat baru menghidupkan motor, tentu
perlu pemanasan terlebih dahulu sebelum berangkat, agar mesin tetap stabil dan
tidak kaget di tengah jalan.
Sebelum aku benar-benar
terbang, suara pengacau itu datang.
"Nak.. Nak,"
Ibu memanggil dari arah dapur.
"Ah,
jambret," umpatku dalam hati.
Mungkin
aku perlu mengumumkan kapan saja aku tidak bisa diganggu kecuali jika dalam
situasi sangat darurat. Sebab setiap manusia punya hak untuk itu. begitu pula
seorang pada orang tua.
"Ada apa Buk?"
jawabku tanpa bangun dari tempat duduk.
"Kesini
sebentar," katanya dari kejauhan.
Mau
tidak mau aku harus pergi ke sumber suara. Jangan sampai beliau ngamuk hingga
tak mau memasak sesuatu apapun untuk kita. Bisa menjadi kiamat bagiku dan ayah
tercinta. Sesampainya di sumber suara, terlihat ibu sedang membuka colokan yang
menancap di elpiji. barang yang tempo lalu membuat Pak Rohman harus kehilangan
rumahnya. ya, ledakannya sungguh sangat dahsyat sekali.
"Tolong belikan
elpiji di warung pak bambang nak," Ibu setelah memberiku uang 50 ribu an.
"Yang deket masjid
itu tha ma?" Tanyaku memastikan.
"Iya,"
Dengan
cepat aku mengambil sepeda motor ayah yang terparkir di garasi. Kebetulan hari
ini ayah tidak ada jadwal keluar, jadi kupakai saja sepedanya supaya lebih
cepat dan lekas kembali.
Jalanan
yang agak menurun membuatku harus berhati-hati dalam berkendara. Jika tidak,
maka dengan cepat aku akan sampai dalam keadaan tak bernyawa. Perlahan namun
pasti. berbagai jenis tumbuhan kutemui selama perjalanan. Sangat indah
Sesampainya di lokasi,
Pak Bambang terlihat sedang menata elpiji yang baru datang.
"Pak, beli
elpijinya satu," Aku menyodorkan uang 50 ribuan.
Bapak itu hanya
tersenyum dan mengambilkan elpiji yang masih ada isinya. Tidak ada banyak
percakapan di antara kami. Mungkin dikarenakan bapaknya juga sedang sibuk
hingga tak sempat untuk sekedar basa-basi.
"Terima kasih
pak," kataku setelah menerima uang kembalian dan barang yg kubeli.
Dengan
kecepatan yang lebih kencang, aku membawa sepeda ayah dengan berani. Meski
jalan berliuk-liuk seperti arena balapan yang kapan saja bisa membuatku terjungkal
dan jatuh ke jurang. Semoga saja tidak.
Aku
sampai dengan selamat. Sedangkan kopi yang dari tadi kuseduh sudah tak lagi
hangat. Ibu sudah menunggu di dapur. Bersiap-siap untuk menyulap bahan-bahan
mentah menjadi makanan siap saji yang tentu masih membutuhkan elpiji.
Aku
kembali duduk di tempat yang tadi. Menyeruput kopi yang sudah dingin setelah
ditiup angin. Rokok kunyalakan dengan sepenuh hati. Sebentar lagi aku akan
terbang ke langit ke tujuh. Langit yang tak perbah disentuh.
Asap
demi asap berhamburan dari mulutku. Tempat ini memang sangat indah dari
melebihi orang kira. Tidak ada kebohongan dan kejahatan sama sekali, yang ada hanyalah
kejujuran dan kebaikan. Langit di sini berbeda dengan langit pertama yang masih
dikunjungi banyak pesawat. Birunya pun lebih bersih dari yang ada di dunia.
Aku
masih dalam kondisi duduk. Tapi separuh diriku sudah sampai di langit ke tujuh.
Di sana aku melihat taman bermain yang dipenuhi anak-anak kecil yang tertawa
bahagia. tidak ada di antara mereka yang berkelahi atau bahkan melukai.
Burung-burung merpati terbang memenuhi sudut semesta. Ternyata di sana juga ada
sungai yang mengalir dengan sangat deras. Tidak ada kecelakaan atau orang yang
bunuh diri di sana. Tidak seperti di dunia, banyak sungai yang menelan korban
tanpa memperhatikan perasaan.
Aku
memilih duduk di bawah pohon yang sangat rindang, buahnya lebat, dan daunnya
sangat segar. Bukti bahwa semua ini adalah benar-benar kekuasaan Tuhan. di
depanku tersaji pelangi yang melengkung dari satu gunung ke gunung yang lain.
Konon gunung itu meletus minyak wangi setiap setahun sekali. Entah itu benar
atau tidak, yang jelas katanya seperti itu.
Dua
kelinci lucu berkejaran di sampingku. Jika diamati lebih teliti, kedua kelinci
itu adalah sepasang kekasih yang sedang bermain kejar-kejaran. Terlihat dari
bagaimana kelinci jantan itu menatap. Sungguh berbeda.
Angin
sepoi-sepoi menghampiriku dan menyapa rumput yang tak terlalu tinggi. Sesekali
datang dan sesekali menghilang. Rasanya aku tidak ingin pergi dari langit ke
tujuh. Di sini jauh lebih indah dari dunia yang penuh tipu daya. Tapi sayang,
senja yang menjadi momentum puncak dari keindahan langit ke tujuh sebentar lagi
akan tenggelam. Jika seandainya Tuhan mau mengabulkan satu permintaanku, maka
pasti aku akan meminta agar dunia selalu senja. Agar aku bisa duduk di teras
rumah dan menghabiskan beratus-ratus kopi dan rokok.
Tinggal lima menit
lagi.
"Senja, sampaikan
salamku padanya. Sebab aku yakin, di kejauhan sana, kekasihku yang sesungguhnya
juga sedang menatapmu seperti halnya aku," Aku kemudian menutup mata.
Aku
tidak tahu apakah senja bisa mendengar permintaanku atau tidak. Tapi paling
tidak, dengan begitu aku sudah mampu mengusir kegalauan akibat masih berstatus
jomblo. Status yang menurut anak muda kekinian adalah suatu bencana besar. Di
mana saat malam minggu tidak ada yang menemani, hanya berteman dengan media
sosial yang berdialog dengan sesama jomblo. Ah, sungguh mengenaskan..
Tapi
bagiku tidak begitu. Tidak mempunyai pasangan (jomblo) bukan berarti sebuah
musibah. Justru ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri karena mampu menahan
godaan setan yang terkutuk untuk melawan aturan Tuhan. Lagi pula ini masih
bukan masanya untuk hal-hal begituan. Sekarang waktunya untuk menimba ilmu
sebanyak mungkin untuk bekal masa depan yang lebih baik.
“Allahu akbar, Allahu
akbar,”
Kumandang adzan maghrib
telah terdengar. Dan senja baru saja hilang sebelum adzan muncul. Saatnya
kembali ke dunia nyata, berhubung kopi dan rokok juga telah menipis yang
dijadikan sebagai bahan bakar.
“Ke masjid nak,”
perintah Ibu dari kejauhan.
“Iya Bu,” jawabku
dengan nada tinggi juga.
Kini
aku telah sampai di rumah. Setelah separuh jiwaku berkelana di langit ke tujuh
meski hanya sebentar. Banyak hal yang kudapat di sana. Mulai dari keindahan,
kebaikan, dan pentingya keharmonisan antar sesama. Semoga saja dunia yang
semakin tak karuan ini dapat mencontoh kehidupan langit ke tujuh. Ah, tapi para
manusia itu tidak tahu.
Kuamati
kopi dan rokokku. Rokok tinggal dua batang, dan kopi sudah tinggal ampasnya.
Malam telah datang ditandai dengan bulan yang bertengger di atas langit. Entah
sempurna atau tidak, aku tak pernah memperdulikannya. Yang penting dunia ini
aman itu sudah cukup bagiku.
Sebenarnya
aku masih malas untuk pergi ke masjid. Sudah tiga hari ini aku sholat di kamar
akibat rasa malas. Tiga hari kemarin masih aman karena ibu kebetulan selalu
keluar saat sore dan pulang setelah isya tanpa menanyakan pergi ke masjid atau
tidak. Tapi sekarang, pasti ibu akan mencermahiku jika tidak segera berangkat.
“Naak..,” panggil Ibu
lagi.
“Enggeh bu, sebentar,”
Kadang
aku merasa jengkel jika disuruh-suruh seperti ini. Bukankah aku sudah dewasa
yang bisa mengatur waktuku sendiri tanpa ada paksaan untuk ini dan itu.
Sebelum
berangkat, aku mengambil wudhu terlebih dahulu tanpa mandi. Sebab jika masih
mandi, maka dapat dipastikan aku tidak akan nutut dengan imam. Dan aku tidak
mau hal itu terjadi.
Sarung
hitam, kemeja hitam, dan songkok hitam. Ah, aku juga tak mengerti mengapa
semuanya menjadi serba hitam. Bagiku penampilan adalah hal yang tak terlalu
penting tapi tidak boleh diabaikan. Berbeda dengan sebagian temanku yang kadang
sangat pilih-pilih dalam hal kostum. Entah itu warnanya harus sama, motifnya
harus sama, atau apapun yang harus. cocok semua.
“Berangkat dulu Buk,”
kataku yang sudah siap dengan sajadah di bahu.
“Iya,”
Sepanjang
perjalanan aku masih memikirkan kehidupan langit ke tujuh. Ternyata kehidupan
itu hanya ada saat senja datang sampai menghilang. Singkat sekali. Sebenarnya
sangat eman bila hanya menikmati sebentar. Tapi apa boleh buat, bisa
mengunjunginya sudah anugerah tersendiri bagiku.
Satu menit kemudian aku
sampai di masjid. Dan imam sudah berada di posisi rakaat terkahir.
“Untung masih nutut,”
batinku sambil berlari dan mengucap takbir saat sudah di posisi.
“ALLAHU AKBAR,”
Aku kembali hanyut
dalam dunia lain. Dunia hamba bisa bercakap-cakap dengan Tuhannya.
Dengan
tanpa malu, aku langsung mengutarakan segala keinginanku selama ini yang masih
belum tercapai kepada Tuhan. Barang kali dengan begitu Tuhan sudi mengubah
garis takdirku sesuai dengan keinginan.
“Tuhan, aku mohon
kepada-Mu, sudah banyak jalan yang aku lalui untuk mencapai harapan yang masih
sebatas bayangan. Tapi apalah daya, usahaku tak mampu melawan takdir-Mu. Jadi
izinkah hamba memohon kali ini, sungguh, hamba sangat mengharapkan itu Tuhan,”
Bahasa Tuhan tidak
mampu dipahami oleh hambanya. Mulai dari yang melata, berdiri, duduk,
berbaring, dan lain sebagainya.
“Assalamualaikum
Warahmatullah,”
Aku
pulang dengan perasaan lega dua kali lipat setelah sholat. Melebihi orang yang
baru selesai melunasi semua hutangnya. Entah, ini hanya soal rasa.
Dalam
perjalanan pulang aku tersesat. Jalan kali ini berbeda dengan apa yang kulewati
tadi. Di depanku tiba-tiba ada tangga putih yang menuju ke langit. Sempat aku
berpikir bahwa ini adalah mimpi, tapi setelah pipi ini kutepuk beberapa kali,
ternyata ini semua adalah nyata.
“Mungkin Tuhan memang
ingin bertemu denganku secara langsung,” kataku dalam hati.
Setelah
mengumpulkan keberanian, akhirnya kuputuskan untuk menaiki tangga itu. Tangga
yang menembus langit pertama, kedua, hingga sampai ke tujuh. Di sana terdapat
buku catatan yang sangat besar berisi segala perilaku manusia di muka bumi.
Mulai dari yang muda hingga tua, miskin atau kaya, dan juga mulya bahkan hina.
Entahlah, aku tidak mengerti dengan maksud semua ini. Yang kupikirkan saat itu
hanya satu, yaitu pulang.
Aku
berjalan sesuka hati. Mengelilingi taman, mandi di sungai, dan berjemur di
bawah terik yang bisa kita atur sendiri kapasitasnya. Lima jam lamanya tak
terasa dan lewat begitu saja. Hingga akhirnya matahari datang dengan segala
amanah yang dititipkan Tuhan.
“Waktunya aku pulang,”
seruku dalam hati.
Di
lain hari, semoga aku bisa mampir lagi di langit ke tujuh. Nyaman rasanya jika
bisa terus hidup di sana. Menghabiskan siswa usia dengan senyum dan tawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar