Minggu, 21 Mei 2023

SINERGITAS LINTAS SEKTOR DALAM MENYONGSONG PRODUKSI FILM NASIONAL BHANDAGIRI

Di Kabupaten Malang, khususnya di Kecamatan Lawang, terdapat organisasi independen yang bergerak di bidang sosial masyarakat yang bernama Lingkar Sosial (LINKSOS). Organisasi ini lahir pada tahun 2019 yang dikomandani oleh Ken Kerta sebagai Founder. Secara khusus, pergerakan LINKSOS terletak pada ranah penciptaan lingkungan inklusivitas bagi para penyandang disabilitas. Tentunya, gerakan kemanusiaan ini dibentuk dari banyak arah, salah satunya ialah melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Melalui akses UMKM, penyandang disabilitas mampu membuat batik yang berhasil terpajang di Hotel IBIS. Tidak hanya itu, UMKM penyandang disabilitas Lingkar Sosial juga telah bekerja sama dengan pihak Jasa Tirta dan Batik Sundari Pasuruan. Kolaborasi tersebut merupakan buah dari hasil kerja keras yang panjang dalam berkarya. Mengingat penyandang disabilitas masuk dalam kategori kelompok rentan dan keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, konsistensi mereka dalam membatik sungguh sangat luar biasa.

Menurut cerita salah satu penyandang disabilitas pengrajin batik bernama Qodarul Irma Yulia, setiap hari rabu pengrajin batik dari kalangan penyandang disabilitas rutin datang ke bengkel produksi untuk membatik. Meski tidak ada target tertentu produk yang harus dihasilkan, tapi semangat mereka dalam berkarya dan menghasilkan sebuah produk sangatlah besar. Sehingga, tak heran jika melalui produktivitas tersebut banyak perusahaan luar yang melirik dan bekerja sama dengan LINKSOS. Jika sudah demikian, maka target pembuatan batik pun akan disesuaikan dengan keinginan pihak mitra.

Melalui lajur edukasi, Linksos mengkampanyekan kesadaran inklusif disabilitas melalui aktif berjejaring dengan mahasiswa dan kerjasama dengan media massa. Selain itu, para penyandang disabilitas juga bergerak sebagai pecinta alam yang tak segan-segan untuk mendaki gunung setiap minggu. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah di tengah keterbatasan fisik dan stereotipe masyarakat tentang penyandang disabilitas yang katanya “Lemah”, “Tidak mampu”, dan sejenisnya. Padahal nyatanya, tidak demikian.

Melalui jalan kesehatan, Linksos berhasil membuat posyandu disabilitas. Perlu diketahui, di Kabupaten Malang, di setiap desa dampingan, terdapat Surat Keputusan (SK) yang mengesahkan kepengurusan posyandu disabilitas. Sehingga pengurus posyandu ini berhak mengikuti rapat desa. Seperti Karang Taruna, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan lain sebagainya. Dengan adanya SK tersebut, secara otomatis mereka berhak ikut rapat dan menyampaikan pendapat di muka rapat. Serta juga berhak mendapatkan anggaran di setiap tahunnya. Dengan demikian, posisi penyandang disabilitas benar-benar ditempatkan setara dengan masyarakat non disabilitas.

Sebagai informasi tambahan, dari tiga wilayah cakupan yang telah disebutkan di atas, Linksos menaungi 37 kelurahan. 15 desa di Pasuruan, 1 kelurahan di Kota Malang, dan sisanya di Kabupaten Malang. Dari 37 Kelurahan tersebut, Linksos memiliki 12 posyandu disabilitas. Sedangkan total disabilitas sampai saat ini berjumlah 1.859 orang. Dan juga melibatkan 195 kader (relawan). Data tersebut terus diupdate setiap bulan secara konsisten.

Semua komponen di atas baik yang bersifat UMKM, edukasi masyarakat, kesehatan, dan kelestarian alam akan melakukan kolaborasi massif dan bersatu menjadi sebuah proyek film Nasional Bandhagiri yang tentunya, tak lepas dari menyuarakan lingkungan inklusivitas sebagai ide besar guna membawa nasib para penyandang disabilitas ke arah yang lebih baik di masa depan. Selain itu, ini juga akan berdampak positif terhadap UMKM lingkungan sekitar per-filman sebagai bentuk kebangkitan bersama. Secara tidak langsung, UMKM sekitar kawasan per-filman juga akan kecipratan efek positif dari proyek Nasional ini. Entah itu berbentuk pelanggan yang baru, informasi penting, calon mitra usaha masa depan, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Bandhagiri sendiri adalah bahasa sansekerta yang memiliki dua arti. Bhanda yang berarti sabuk pengikat/ dikelilingi, dan Giri yang berarti Gunung. Dalam artian, gunung menjadi salah satu icon penting dalam proses pembuatan ini. Adapun beberapa gunung yang dimaksud ialah Gunung Semeru, Gunung Arjuno, Gunung Kawi, Gunung Tengger, Gunung Anjasmoro, Gunung Kendeng Selatan. Wilayah episentrum kawasan Bhandagiri tersebut adalah Malang Raya. Dan, yang lebih hebatnya adalah proses pembuatan film ini direncanakan akan melibatkan Dian Sastrwowardoyo sebagai salah satu pemeran film.

Proyek pembuatan film ini merupakan bentuk optimalisasi potensi yang ada di Malang raya. Mulai dari pariwisata, destinasi kreatif, kelestarian lingkungan alam, infrastruktur, kebudayaan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan lain-lainnya. Semua itu bersatu padu menjadi sebuah karya yang dikemas dalam bentuk film sebagai bahan tontonan publik dan ajang edukasi tentang kesetaraan dan kekuatan yang dimiliki para penyandang disabilitas. Mengingat sebagian kelompok dalam film tersebut akan diperankan oleh para penyandang disabilitas itu sendiri.

Oleh sebab itu, tak heran jika persiapan pembuatan film Bhandagiri ini membutuhkan waktu yang panjang dan sinergitas antar sektor yang solid. Selain tiga kepala daerah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang & Kota Batu), juga harus melibatkan Bakorwil Jawa Timur, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Badan Pelayanan Pendapatan Daerah (BPPD), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jasa Tirta, dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari tingkat daerah Malang Raya hingga Provinsi Jawa Timur. Bahkan, juga harus melibatkan elemen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai tujuan untuk membangun Kawasan Bhandagiri. Selanjutnya, juga harus melibatkan Kementerian terkait untuk program kerja pembangunan secara Nasional.

Semangat bergerak dan bangkit bersama yang ditunjukkan oleh LINKSOS dan beragam unit di dalamnya, serta beberapa organ yang disebutkan di atas adalah bentuk manifestasi masa depan yang perlu dijaga, dirawat, dan ditumbuh-kembangkan seiring perkembangan zaman. Dan mungkin nantinya, tidak hanya UMKM atau organisasi yang disebutkan di atas yang bisa terlibat dalam produksi film Nasional Bhandagiri, tapi juga unit usaha atau organisasi lainnya. Termasuk JNE dalam proses pengiriman barang misalnya.

Perlu diketahui, produksi film Nasional Bhandagiri ini tentunya melibatkan seluruh unit yang ada di dalam LINKSOS. Baik dari sisi UMKM, kelurahan inklusi, posyandu disabilitas, maupun dari kelompok pecinta alam. Semua itu dikemas dalam satu kesatuan menjadi alur yang apik, cerita yang menarik, dan pastinya mengandung misi kemanusiaan dalam bentuk film Nasional Bhandagiri. Berangkat dari narasi tersebut, secara jelas ini adalah bentuk kebangkitan bersama, termasuk di bidang UMKM untuk tidak sekadar mencari banyak keuntungan, tapi juga menembak akal sehat dan hati nurani agar sadar akan pentingnya inklusivitas.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kolaborasi dan sinergitas lintas sektor dalam upaya bangkit bersama menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan secara matang, terukur, dan membawa dampak positif bagi seluruh elemen yang terlibat. Baik terhadap UMKM lintas usaha, pemerintah daerah, pemerintah pusat, organisasi independen, dan lain sebagainya. Lebih-lebih produksi film Nasional Bhandagiri ini didominasi dan dikhususkan bagi kalangan disabilitas yang ingin menyuarakan keluh-kesahnya tentang kesetaraan dan lingkungan inklusif.

 

#JNE32tahun

#JNEBangkitBersama

#jnecontentcompetition2023

#ConnectingHappiness

Tidak ada komentar: