Apa yang
lebih menakutkan dari kenangan mantan yang selalu gentayangan?
Apa yang
lebih menyakitkan dari perpisahan menuju kematian?
Juga yang
lebih mengkhawatirkan dari rasa was-was untuk bisa hidup layak di masa depan?
***
Doni masih
duduk terdiam di kamarnya. Rasanya ia tak mampu lagi tuk sekedar mendongakkan
kepala. Seperti ada beban yang begitu berat. Beban yang perlahan-lahan akan membawa
Doni pada pintu kegilaan.
Semua itu
bermula dari perpisahan Doni dan pacarnya yang bernama Dela. Kisah cinta mereka
dimulai sejak berada di kelas satu SMA. Waktu itu, dengan sedikit keberanian
dan kegilaan, Doni berhasil menaklukkan hati Dela setelah percobaan yang kesekian
kali. Sungguh luar biasa.
Layaknya
orang yang dirundung asmara, Doni dan Dela mulai banyak meluangkan waktu untuk
berdua. Walaupun hanya sebentar dan membahas hal-hal yang tidak penting. Karena
menurut mereka, bersama dengan kekasih adalah suatu kepentingan dan kebahagiaan
yang tak bisa ditukar dengan apapun.
"Kamu
akan selalu setia kan?" Tanya Dela pada suatu waktu.
"Pasti.
Sampai tak ada lagi waktu bagiku tuk menghirup udara segar," jawab Doni
dengan senyum gombalnya.
Keduanya
melanjutkan percakapan tentang banyak hal. Seperti rencana masa depan saat
sudah menikah, nama anak pertama, kedua, dan seterusnya. Bahkan juga tata letak
rumah yang katanya akan dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh,
sepertinya konsep hidup mereka sudah tuntas dibahas dalam satu kali duduk.
***
Layaknya
seperti hubungan yang lain, badai itu datang memporak-porandakan pondasi yang
sudah dibangun. Ibu Dela tidak merestui hubunganya dengan Doni. Bukan apa-apa,
berhubung Doni masih berstatus sebagai pemuda nganggur yang kerjaannya hanya
nongkrong dari cafe ke cafe.
"Tapi
bu, Doni kan orangnya baik. Dela sangat mencintainya," jelasnya dengan
nada memelas.
Sang ibu
tak menggubris. Dengan alasan agar Dela bisa hidup layak di masa depan, sang
Ibu tetap tak merestui. Tak hanya itu, sang ibu malah sudah menyiapkan calon
lain yang siap untuk dia angkat menjadi seorang menantu. Namanya Ridho. Anak
seorang pengusaha kaya yang sekaligus teman akrab dari ibunya dulu.
"Sudahlah.
Kamu percaya saja sama ibu. Ibu sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu,
Nak" jawab sang ibu setelah Dela berkali-kali membantah.
"Apakah
Ibu sudah menyiapkan calon buat Dela?" Tanyanya dengan mata yang mulai
mengkristal.
"Iya.
Namanya Ridho. Anak teman ibu dulu,"
Dela
langsung terdiam. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan
ibunya. Di sisi yang lain, Dela selalu merasa tak bisa melawan keputusan ibunya
dalam hal apapun itu. Tanpa berkata-kata lagi, Dela langsung pergi ke kamarnya.
Sedangkan sang ibu hanya bisa melihat dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
Kabar
dengan cepat melesat bagai angin. Berbagai persiapan telah dilakukan dengan
matang. Mulai dari dekorasi, konsumsi undangan, foto preweed, dan hal-hal yang
sekiranya diperlukan menuju acara pernikahan. Sungguh, semuanya terasa begitu
cepat. Dela harus rela menerima keputusan kedua orang tuanya. Begitu pun dengan
Doni, dia harus rela menerima garis takdir yang sudah ditetapkan untuknya.
***
Di
hari-hari yang baru tanpa Dela, Doni tampak kehilangan gairah hidup untuk
banyak hal. Bahkan untuk sekedar melakukan hal-hal kecil saja seperti tak
mampu. Tidak ada lagi makan tepat waktu, istirahat yang cukup, tertawa yang
lepas, juga mimpi-mimpi yang sempat dibangun demi masa depan. Semuanya hancur seketika.
Kini,
kebiasaan Doni hanyalah duduk di taman belakang rumah saat sore hari.
Membayangkan momen indah bersama Dela datang kembali. Tersenyum sambil
memandang hewan-hewan kecil yang melintas, rombongan awan yang beriringan, juga
harapan dan janji yang sempat disumpahkan untuk selalu bersama.
"Aku
masih di sini Del. Kenangan bersamamu masih begitu hangat. Aku tak percaya kau
pergi begitu cepat. Padahal sudah cukup lama kita bersama. Merajut mimpi-mimpi
masa depan yang besar. Dan sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aku pun tak
tahu, apakah aku sanggup mewujudkan mimpi-mimpi itu sendiri," ucap Doni
dengan pelan.
Waktu terus
berlalu. Doni masih sibuk meratapi nasibnya yang malang. Senja tak lagi indah
dan angin tak lagi dingin. Doni merasa jiwanya hampa tanpa rasa. Seperti ingin
menangis, seperti ingin mengumpat, seperti ingin bunuh diri saja. Waktu
berhasil ia lalui tanpa sedikit pun mendengar detiknya.
Malam sudah
datang. Doni beranjak dari tempat duduknya. Mengambil secarik kertas dan pulpen
di pojok kamar. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada satu lembar putih itu.
Entahlah, ia hanya tak bisa menyusun bahan apa saja yang akan ditulis. Tapi
Doni yakin, satu lembar putih itu tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup.
Ungkapan
hati yang entah bersifat apa:
"Terimakasih
telah sempat menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Menjadi bagian yang
selalu aku jaga sepanjang waktu, hingga aku lupa menjaga diriku sendiri. Hingga
aku lupa bahwa aku juga punya tangis yang sewaktu-waktu bisa tumpah di banyak
tempat.
Terimakasih
atas semua kesempatan yang pernah ada. Kesempatan bersama dan bercerita tentang
kehidupan. Sejak saat itu, aku sudah berhasil mengantongi senyummu untuk kubawa
kemana saja hingga sekarang. Dan sekarang aku tak tahu bagaimana cara melupakan
semuanya.
***
Waktu
kembali berganti. Doni berhasil menghapus sebagian masa lalunya dan menerima
masa depan untuk hidup bersama orang lain. Namanya Nada. Perempuan yang datang
saat Doni terpuruk dan menarik tangannya untuk bangkit. Meskipun berawal dari
saling merasa asing, keduanya berhasil mengikat janji suci pernikahan.
"Aku
mau ke luar dulu Mas," ucap Nada yang langsung berlalu.
"Iya
dek. Hati-hati di jalan," balas Doni.
Usia
pernikahan mereka masih tiga hari. Perlahan-lahan Doni sudah mulai melupakan
Dela. Semua kenangan itu telah terkubur rapi di dadanya. Dan berkat menikah
dengan Nada pula, kehidupan Doni berubah menjadi lebih baik. Terutama dari segi
ekonomi.
Kabar buruk
kembali melanda Doni. Angin berkabar bahwa Nada telah meninggal akibat terjatuh
dari sepeda motor. Tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana kronologisnya.
Seperti sengaja disembunyikan. Seperti ada kekuatan lain yang menutupi itu
semua. Tiba-tiba saja, Nada sudah terkapar tanpa nafas.
"Apa??
Dimana?? Kok bisa??" Tanya Doni dengan nada super cemas.
Tanpa pikir
panjang lagi, Doni langsung menuju TKP. Disana, ia sudah mendapati istrinya
dalam keadaan mata tertutup dan kepala penuh darah. Dengan cepat jenazah
langsung dibawa ke kamar mayat. Doni hanya bisa bersedih tanpa air mata.
Sebentar lagi istrinya akan berada dalam pelukan tanah.
***
Doni
kembali sendirian. Semuanya terjadi begitu cepat. Gairah mencari pasangan hidup
lagi sudah menghilang. Kini hanya tersisa rasa was-was untuk hidup nyaman di
masa depan. Doni mulai membayangkan masa-masa tua nanti.
"Bagaimana
nanti jika aku sakit, terus siapa yang akan merawat? Bagaimana jika nanti aku
kesepian, siapa yang akan membuatku merasa nyaman? Bagaimana nanti kalau aku
hampir mati, siapa yang akan membisikkan kalimat Tuhan di telingaku?" Ucap
Doni dalam batinnya.
Di
kamarnya, Doni hanya bisa duduk meratapi nasib. Meskipun dia mempunyai banyak
tetangga yang baik, yang selalu menyapa di pagi hari, tapi tetap saja ia merasa
kosong saat berada di kamar. Seperti tidak ada kehidupan. Seperti ada mantan
dan mendiang istrinya yang gentayangan.
"Lupakan,
lupakan, lupakan," ucap Doni pada dirinya sendiri sebelum tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar