Senin, 21 Maret 2022

Lupakan Sebanyak Tiga Kali


Apa yang lebih menakutkan dari kenangan mantan yang selalu gentayangan?

Apa yang lebih menyakitkan dari perpisahan menuju kematian?

Juga yang lebih mengkhawatirkan dari rasa was-was untuk bisa hidup layak di masa depan?

***

Doni masih duduk terdiam di kamarnya. Rasanya ia tak mampu lagi tuk sekedar mendongakkan kepala. Seperti ada beban yang begitu berat. Beban yang perlahan-lahan akan membawa Doni pada pintu kegilaan.

Semua itu bermula dari perpisahan Doni dan pacarnya yang bernama Dela. Kisah cinta mereka dimulai sejak berada di kelas satu SMA. Waktu itu, dengan sedikit keberanian dan kegilaan, Doni berhasil menaklukkan hati Dela setelah percobaan yang kesekian kali. Sungguh luar biasa.

Layaknya orang yang dirundung asmara, Doni dan Dela mulai banyak meluangkan waktu untuk berdua. Walaupun hanya sebentar dan membahas hal-hal yang tidak penting. Karena menurut mereka, bersama dengan kekasih adalah suatu kepentingan dan kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apapun.

"Kamu akan selalu setia kan?" Tanya Dela pada suatu waktu.

"Pasti. Sampai tak ada lagi waktu bagiku tuk menghirup udara segar," jawab Doni dengan senyum gombalnya.

Keduanya melanjutkan percakapan tentang banyak hal. Seperti rencana masa depan saat sudah menikah, nama anak pertama, kedua, dan seterusnya. Bahkan juga tata letak rumah yang katanya akan dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh, sepertinya konsep hidup mereka sudah tuntas dibahas dalam satu kali duduk.

***

Layaknya seperti hubungan yang lain, badai itu datang memporak-porandakan pondasi yang sudah dibangun. Ibu Dela tidak merestui hubunganya dengan Doni. Bukan apa-apa, berhubung Doni masih berstatus sebagai pemuda nganggur yang kerjaannya hanya nongkrong dari cafe ke cafe.

"Tapi bu, Doni kan orangnya baik. Dela sangat mencintainya," jelasnya dengan nada memelas.

Sang ibu tak menggubris. Dengan alasan agar Dela bisa hidup layak di masa depan, sang Ibu tetap tak merestui. Tak hanya itu, sang ibu malah sudah menyiapkan calon lain yang siap untuk dia angkat menjadi seorang menantu. Namanya Ridho. Anak seorang pengusaha kaya yang sekaligus teman akrab dari ibunya dulu.

"Sudahlah. Kamu percaya saja sama ibu. Ibu sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu, Nak" jawab sang ibu setelah Dela berkali-kali membantah.

"Apakah Ibu sudah menyiapkan calon buat Dela?" Tanyanya dengan mata yang mulai mengkristal.

"Iya. Namanya Ridho. Anak teman ibu dulu,"

Dela langsung terdiam. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Di sisi yang lain, Dela selalu merasa tak bisa melawan keputusan ibunya dalam hal apapun itu. Tanpa berkata-kata lagi, Dela langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan sang ibu hanya bisa melihat dan mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

Kabar dengan cepat melesat bagai angin. Berbagai persiapan telah dilakukan dengan matang. Mulai dari dekorasi, konsumsi undangan, foto preweed, dan hal-hal yang sekiranya diperlukan menuju acara pernikahan. Sungguh, semuanya terasa begitu cepat. Dela harus rela menerima keputusan kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Doni, dia harus rela menerima garis takdir yang sudah ditetapkan untuknya.

***

Di hari-hari yang baru tanpa Dela, Doni tampak kehilangan gairah hidup untuk banyak hal. Bahkan untuk sekedar melakukan hal-hal kecil saja seperti tak mampu. Tidak ada lagi makan tepat waktu, istirahat yang cukup, tertawa yang lepas, juga mimpi-mimpi yang sempat dibangun demi masa depan. Semuanya hancur seketika.

Kini, kebiasaan Doni hanyalah duduk di taman belakang rumah saat sore hari. Membayangkan momen indah bersama Dela datang kembali. Tersenyum sambil memandang hewan-hewan kecil yang melintas, rombongan awan yang beriringan, juga harapan dan janji yang sempat disumpahkan untuk selalu bersama.

"Aku masih di sini Del. Kenangan bersamamu masih begitu hangat. Aku tak percaya kau pergi begitu cepat. Padahal sudah cukup lama kita bersama. Merajut mimpi-mimpi masa depan yang besar. Dan sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aku pun tak tahu, apakah aku sanggup mewujudkan mimpi-mimpi itu sendiri," ucap Doni dengan pelan.

Waktu terus berlalu. Doni masih sibuk meratapi nasibnya yang malang. Senja tak lagi indah dan angin tak lagi dingin. Doni merasa jiwanya hampa tanpa rasa. Seperti ingin menangis, seperti ingin mengumpat, seperti ingin bunuh diri saja. Waktu berhasil ia lalui tanpa sedikit pun mendengar detiknya.

Malam sudah datang. Doni beranjak dari tempat duduknya. Mengambil secarik kertas dan pulpen di pojok kamar. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada satu lembar putih itu. Entahlah, ia hanya tak bisa menyusun bahan apa saja yang akan ditulis. Tapi Doni yakin, satu lembar putih itu tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup.

Ungkapan hati yang entah bersifat apa:

"Terimakasih telah sempat menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Menjadi bagian yang selalu aku jaga sepanjang waktu, hingga aku lupa menjaga diriku sendiri. Hingga aku lupa bahwa aku juga punya tangis yang sewaktu-waktu bisa tumpah di banyak tempat.

Terimakasih atas semua kesempatan yang pernah ada. Kesempatan bersama dan bercerita tentang kehidupan. Sejak saat itu, aku sudah berhasil mengantongi senyummu untuk kubawa kemana saja hingga sekarang. Dan sekarang aku tak tahu bagaimana cara melupakan semuanya.

***

Waktu kembali berganti. Doni berhasil menghapus sebagian masa lalunya dan menerima masa depan untuk hidup bersama orang lain. Namanya Nada. Perempuan yang datang saat Doni terpuruk dan menarik tangannya untuk bangkit. Meskipun berawal dari saling merasa asing, keduanya berhasil mengikat janji suci pernikahan.

"Aku mau ke luar dulu Mas," ucap Nada yang langsung berlalu.

"Iya dek. Hati-hati di jalan," balas Doni.

Usia pernikahan mereka masih tiga hari. Perlahan-lahan Doni sudah mulai melupakan Dela. Semua kenangan itu telah terkubur rapi di dadanya. Dan berkat menikah dengan Nada pula, kehidupan Doni berubah menjadi lebih baik. Terutama dari segi ekonomi.

Kabar buruk kembali melanda Doni. Angin berkabar bahwa Nada telah meninggal akibat terjatuh dari sepeda motor. Tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana kronologisnya. Seperti sengaja disembunyikan. Seperti ada kekuatan lain yang menutupi itu semua. Tiba-tiba saja, Nada sudah terkapar tanpa nafas.

"Apa?? Dimana?? Kok bisa??" Tanya Doni dengan nada super cemas.

Tanpa pikir panjang lagi, Doni langsung menuju TKP. Disana, ia sudah mendapati istrinya dalam keadaan mata tertutup dan kepala penuh darah. Dengan cepat jenazah langsung dibawa ke kamar mayat. Doni hanya bisa bersedih tanpa air mata. Sebentar lagi istrinya akan berada dalam pelukan tanah. 

***

Doni kembali sendirian. Semuanya terjadi begitu cepat. Gairah mencari pasangan hidup lagi sudah menghilang. Kini hanya tersisa rasa was-was untuk hidup nyaman di masa depan. Doni mulai membayangkan masa-masa tua nanti.

"Bagaimana nanti jika aku sakit, terus siapa yang akan merawat? Bagaimana jika nanti aku kesepian, siapa yang akan membuatku merasa nyaman? Bagaimana nanti kalau aku hampir mati, siapa yang akan membisikkan kalimat Tuhan di telingaku?" Ucap Doni dalam batinnya.

Di kamarnya, Doni hanya bisa duduk meratapi nasib. Meskipun dia mempunyai banyak tetangga yang baik, yang selalu menyapa di pagi hari, tapi tetap saja ia merasa kosong saat berada di kamar. Seperti tidak ada kehidupan. Seperti ada mantan dan mendiang istrinya yang gentayangan.

"Lupakan, lupakan, lupakan," ucap Doni pada dirinya sendiri sebelum tidur.


Tidak ada komentar: