Jumat, 01 April 2022

Surat Terakhir


Rutin setiap minggu, Ale selalu mengirim surat tuk sekadar berkabar tentang keadaan hari ini. Bahkan dari saking rutinnya dia mengirim surat, aku sudah mulai berani mengadu Ale dengan penulis-penulis kekinian yang selalu memanfaatkan warna senja, debur ombak, dan bising sepeda motor di jalanan sebagai bahan tulisan. Bahkan, lama-kelamaan, membaca surat Ale sama seperti membaca cerpen di ruang sastra. 

Surat itu sudah sampai satu jam yang lalu. Namun aku tak langsung membacanya karena ada pekerjaan dapur yang harus diselesaikan. Seperti menggoreng telur, mencuci piring, dan menata barang yang berantakan. 

Setelah urusan dapur selesai, aku kembali ke ruang tengah. Duduk santai sambil membuka surat yang sejak tadi dianggurkan. Timbul tanda tanya tentang kalimat apa yang sedang ditulis Ale. Seorang pemuda yang bersikeras keluar rumah untuk menantang kehidupan di luar.
Untuk kakakku tersayang.. 

"Ah, kalimat itu yang pasti berada di paling atas," kataku. 

Di Kota, aku merasa menjadi orang lain yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seperti ngopi sampai dini hari, minum arak, begadang di diskotik terdekat, hingga melupakan identitas keagamaan yang dulu pernah diajarkan oleh Bapak. Setelah kupikir-pikir kembali, rasa-rasanya perubahan ini lebih mengarah pada hal negatif. 

Kakak tahu sendiri kan, dulu aku itu orangnya suka ngaji di masjid, suka belajar di sore hari, suka nulis di malam hari. Tapi semua itu kini berubah. Tidak ada lagi baca buku atau nulis puisi. Aku seperti terhanyut oleh kebiasaan orang-orang sekitar. Jujur kadang aku bingung sendiri kak. Apakah aku lebih baik beradaptasi terus menerus? Atau berbalik arah tuk memegang prinsip hidup walau harus melawan arus? 

Di sini, orang paling banyak bicaranya yang dihormati, orang paling anti agama yang disegani, orang paling banyak minum araknya yang ditakuti, ya aku rasa kakak akan tahu bagaimana kelanjutannya. Sedangkan orang-orang sepertiku dulu malah tidak mendapatkan tempat. Keberadaannya hanya sebagai pelengkap cerita yang sering disuruh ini dan itu. 

Berawal dari itu, sebenarnya aku ingin cepat pulang. Kembali ke masa lalu yang penuh dengan ketenanangan. Kembali ke rumah sederhana yang sanggup membuatku bahagia. Dan kembali pada Tuhan yang katanya sudah menyiapkan surga untuk hambanya yang taat beragama. 

(TTD: Ale Setiawan) 

Aku tertegun membaca surat dari Ale. Bukan apa-apa, surat itu tak seperti biasanya yang hanya menanyakan kabar dan menjelaskan indahnya kehidupan Kota. Mulai dari gemerlap malamnya yang tak pernah redup, keramaian yang tak pernah surut, atau diskon terbaru yang bisa membuat dompet kehilangan penduduknya. 

Tapi tidak untuk kali ini. Ungkapan itu seperti sebuah rasa yang sudah terpendam lama. Sengaja dikubur untuk bisa tetap hidup normal seperti halnya yang lain. Agar bisa berbaur dengan yang lain. Agar bisa dihargai dan dihormati sama yang lain. Namun perlahan-lahan gundukan itu semakin besar dan meledak pada tulisan itu. 

Belum sempat aku menulis surat balasan, Rozi (anak pertamaku) yang masih berumur 3 bulan terdengar menangis. Arahnya dari kamar dekat dapur. Spontan kuletakkan lagi kertas dan pulpen di atas meja. Kemudian menghampiri Rozi yang terbangun dari tidurnya. 

Sesampainya di kamar, benar saja, Rozi sudah menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Kristal di kedua matanya sudah pecah. Layaknya ibu pada umumnya, kuangkat Rozi dari tempat tidur. Dan begitu kuangkat Rozi, tempat tidurnya sudah basah. Dengan bau khas yang tak bisa dipungkiri hidung, aku langsung mencuci tempat tidur Rozi. 

Sekitar setengah jam kemudian, urusan Rozi sudah selesai. Dia kembali tertidur setelah dibawa jalan-jalan di depan rumah. Memang sejak lahir ke dunia, cara mendiamkan Rozi adalah dengan dibawa jalan-jalan ke luar. Entah itu ke taman depan rumah, pasar belakang rumah, atau lapangan sepak bola samping rumah. 

*
Malam sudah tiba. Kini waktunya menulis surat balasan untuk Ale. Seseorang yang kuanggap adik sejak 3 tahun yang lalu. Berawal dari event kepenulisan tingkat Nasional, kami berkenalan setelah rasa penasaran. 

"Kamu sejak kapan suka nulis?" Tanya Ale dengan santai.
"Sejak SMA. Kalau sampean?" Jawabku lalu bertanya balik.
"Wah mantap. Baru-baru ini sih, mungkin sekitar satu tahun yang lalu," ucap Ale. 

Kami pun berdiskusi tentang dunia kepenulisan yang sempat kami lalui. Seperti bagaimana cara mencari ide, cara menyusun kata menjadi kalimat yang baik, mempertahankan konsistensi, hingga tujuan besar hidup yang ingin dicapai dalam dunia kepenulisan. 

"Sebenarnya, dalam menulis itu, teori tak terlalu penting," kataku setelah banyak teori yang dijelaskan Ale.
"Iya sih, cuma kita harus tahu bagaimana memulai dan mengakhiri sesuatu," balasnya.
"Maksudnya?"
"Jadi begini, teori secara tidak langsung adalah pedoman atau jalan untuk mencapai sesuatu secara lebih hebat. Kita bisa saja berjalan tanpa panduan, tapi kemungkinan besar itu akan berlangsung lama," katanya panjang lebar.
"Ok lah," 

Sejak saat itu, kami berkenalan lebih dalam. Bukan sebagai seorang kekasih yang selalu meninggalkan emot love di akhir chat. Tapi lebih kepada saudara yang saling tukar pendapat dan pemikiran. 

"Kak, aku dikontrak Jawa Pos Radar Surabaya," ucap Ale dalam kolom chat WA. 

Aku yang kebetulan sedang bersantai di ruang tengah spontan terkejut. 

"Wah, keren. Gimana tuh kok bisa masuk di sana?" Tanyaku dengan penuh antusias.
"Panjang ceritanya kak. Tapi ada satu hal yang kurasa nggak enak," emot sedih mewakili perasaan Ale saat itu.
"Apa tuh?"
"Jadi aku ditugaskan untuk mengungkap satu kasus besar," katanya.
"Wadduh. Taruhannya pasti juga besar,"
"Iya kak. Bisa jadi nyawa melayang di pinggir jalan," 

Aku masih ingat betul, saat itu percakapan kita terus berlanjut hingga aku lupa batasnya. Segala macam tugas, beban, kegagalan, keberhasilan, dan apapun itu pasti Ale ceritakan dengan rinci. Dan entah mengapa, meskipun Ale bisa dikatakan terlalu sering mengganggu waktuku, aku tak pernah merasa keberatan. 

Hingga tiba pada suatu waktu. Ale ditugaskan di sebuah tempat yang susah sinyal. Satu hari sebelum berangkat, dia bilang kalau akan mengirim pesan lewat surat. Secara rutin dikirim setiap minggu. Entahlah, saat itu aku tak terlalu yakin dengan apa yang disampaikan Ale. Hingga akhirnya aku percaya dengan bukti yang sampai di depan rumah. 

Surat pertama:
Halo kakak. Bagaimana kabarmu disana? Alhamdulillah di sini aku baik-baik saja. Oh iya, aku tadi berhasil menyelesaikan naskah tentang politik. Dan ternyata mendapatkan apresiasi yang besar dari pemimpin redaksi. 

Surat kedua:
Halo kakak. Bagaimana nih kabarnya? Denger-denger kakak udah nikah yaa? Wah selamat ya kak. Semoga selalu bahagia di dunia sampai akhirat. Oh iya nih, aku baru saja memenangkan kejuaran sastra tingkat nasional. Yang ngadakan lomba dari kampus UB. Lebih lengkapnya bisa dilihat di akun instagramku dong. 

Surat ketiga:
Hay hay hay. Wah udah lama nggak ketemu nih kak. Katanya kakak mau buat buku, mana nih kok aku nggak dikasih? Apa harus nunggu aku dulu biar cepet selesai? Wkwkwk. 

Persisnya, surat-surat yang dikirm setiap minggu tak hanya berisi itu saja. Namun aku tak bisa menggambarkan secara jelas dan detail. Hingga akhirnya tiba pada suatu waktu, isi surat itu tak lagi tentang pertanyaan kabar, capaian terbaru, atau mungkin pengalaman paling menyenangkan dan menyakitkan. 

Surat itu benar-benar berbeda. Seperti ada ledakan yang tersimpan di dalamnya. Seperti ada luka yang begitu dalam. Seperti ada masa depan yang begitu suram. Dan ada keinginan yang tak bisa dijelaskan secara total. Maka sejak itulah sampai waktu yang tak pernah ditentukan.


Tidak ada komentar: