Setiap hari aku tidak bisa
menemukan kehidupan nyata di depan mata. Angka-angka beterbangan memenuhi
segala ruang: lemari, meja, bawah kasur, hingga tempat sepatu yang tak pernah
mendapatkan perhatian. Semuanya memberikan tanda tanya sekaligus efek magis
yang harus dipecahkan oleh para ilmuan. Dan aku terjebak di sana.
Pagi hari selalu saja
seperti itu. Orang-orang selalu berhasil menemukan keindahan sunrise yang memantulkan cahaya kebaikan
di setiap biasnya. Menghirup udara segar dan sejuk yang tak bisa ditukar dengan
harga semahal apapun. Memandangi gunung yang menjulang, laut yang terbentang,
dan menikmati kenangan yang terus melekat dalam kening. Sungguh indah rasanya.
Tampak para pedagang pergi
ke pasar, para petani pergi ke sawah, dan para siswa pergi ke sekolah untuk
menngambil hikmah dari setiap ilmu yang memancarkan anugerah. Sedangkan aku
selalu saja di sini. Di dalam pikiranku sendiri. Membaca rumus semesta dan
menafsirkannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang aku menjelma
malaikat, dan terkadang aku menjelma setan yang terkutuk.
Baiklah, mungkin aku memang
ditakdirkan hidup di dunia berbeda yang jauh dari akal pikiran serta bebas dari
batas. Meski tidak mempunya teman pasti, tapi di sini aku bisa lebih banyak
mengerti bahwa hidup hanya sebatas huru-hara, bahwa yang keji akan dicaci,
bahwa yang terpuji akan menjadi tinggi, dan bahwa cinta tak pernah mengenal
kata sengsara.
Di sini, aku banyak belajar
merangkum waktu menjadi gumpalan kehidupan yang takkan pernah akan kembali
lagi. Menelaah satu persatu kebijakan pemerintah yang kadang membuat rakyat
bawah gelisah. Kemudian menyuarakannya lewat kata-kata yang tak pernah berhenti
lahir dari rahim penyair. Semoga saja semua ini bisa dipahami.
Dimas yang secara resmi
menjadi teman baikku selalu mengingatkanku untuk berubah. Membuka mata kepada
orang lain yang tak pernah mau mengerti keadaanku. Tapi jujur aku tidak bisa
melakukannya. Aku sudah terlalu nyaman di sini. Bermain bersama diri sendiri
yang harus dipaksa menjadi dua, tiga, bahkan banyak orang dengan berbagai jenis
karakter.
Bila tiba waktu bosan, aku
selalu berdoa kepada Tuhan untuk menurunkan hujan sekaligus pelangi yang
membentang antara harapan dan kenangan. Dengan begitu, aku bisa bertemu dengan
bidadari kayangan yang turun bersama rintik suci dan sedikit bercengkerama
dengannya. Karena sejak dulu, aku memang sangat penasaran dengan kehidupan di
sana.
“Selamat sore,” bidadari berselendang hijau menyapa.
Dari ketujuh bidadari yang
turun, yang berselendang hijau adalah yang paling cantik menurutku. Meski
semuanya cantik, tapi mataku dapat dengan teliti mengklasifikasikan tingkatan
kecantikan seorang bidadari. Rasa gugup spontan memenuhi dada. Sebab kecantikan
bidadari memang tidak bisa diukur dengan nalar dan kata-kata.
“Selamat sore juga,” gugup semakin menjadi-jadi.
Mereka sedang mandi di
sungai sebagaimana cerita yang sudah sering didengar. Tapi sayang tidak ada
adegan pencurian selendang saat ini. Hanya sebatas saling sapa dan bertukar
pandang yang kadang menumbuhkan pohon kerinduan dalam lubuk hati paling dalam.
Semoga saja itu tidak terjadi.
##@@##
Tuhan, aku sangat yakin Engkau
mendengar jeritan ini meski sangat pelan di antara bising sepeda dan deru mobil mewah. Telah banyak
kuhabiskan air mata, jerih payah, dan darah yang mungkin sebentar lagi akan
tumpah. Aku mohon berikan hambamu ini jalan. Jalan menuju kehidupan nyata yang
sampai saat ini masih terhalang tembok besar.
Gambar-gambar di kamar
selalu memberiku motivasi untuk tetap terus hidup. Padang savana, lautan,
pegunungan, hingga langit ke delapan yang kuciptakan dari pikiranku sendiri.
Ah, entahlah, sepetinya aku sudah terlalu jauh berjalan. Hingga aku tak sempat
memperhatikan gerimis yang sebentar lagi akan reda, api yang sebentar lagi akan
mati, dan harapan yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Semuanya masih
terasa asing bagiku.
Buku-buku di rak lemari
selalu mengajariku ilmu yang tak pernah disampaikan oleh guru-guru. Sebab aku
pasti membeli buku yang tak sesuai dengan mata pelajaran. Baik itu fiksi, non
fiksi, maupun buku yang masih tidak memiliki jenis. Ya, aku memang selalu
menyukai perbedaan. Oleh sebab itu aku selalu berbeda dari yang lain.
Setiap hari minggu, Dimas
pasti datang ke rumah dengan membawa berita baru. Berita tentang teman-teman,
kenangan, maupun cinta yang sebentar lagi akan membuahkan kebersamaan. Di
antara banyak berita itu, aku sangat suka berita tentang cinta. Sebuah rasa
yang timbul tanpa alasan tapi selalu saja bisa dipertanggung jawabkan. Di
dalamnya banyak orang yang menjadi besar.
Setelah itu, dia pasti
mengajakku pergi ke sebuah taman berbunga luka. Di sekitarnya terdengar jeritan
seorang kekasih yang masih tidak mau ditinggal pergi. Nama-nama terpampang
jelas dan rapi dalam goresan batu nisan. Di sana kami hanya duduk mengamati
pemandangan sekitar. Menghisap rokok hasil curian dari bapak yang tak pernah
memperhatikan berapa jumlah rokoknya.
“Gimana?” Dimas bertanya sambil mengerluarkan asap.
“Ya, aku sudah bisa merasakannya,” aku melihat bayang-bayang nenek
bangun.
“Kalau begitu lakukanlah!”
Aku pun beranjak dan pergi
ke tempat peristirahatan nenek. Perempuan yang tak sempat kulihat wajahnya.
Perempuan yang katanya dengan gagah berani melawan rakyat belanda dengan tangan
kosong. Tidak hanya itu, beliau juga mampu menerawang masa depan layaknya dukun
yang selalu bergelut dengan dupa.
Aku mendekat. Bau kematian terasa
hangat di hidungku. Sedangkan suasana hampir gelap dan matahari sebentar lagi
akan tenggelam dalam pangkuan Tuhan. Matanya laksana cahaya yang menerangi
jalan orang pencari kebenaran. Dan di sini aku adalah salah satu kebohongan
yang pernah ada. Dari persekutuan cinta yang sangat rumit dan membingungkan.
Sekitar lima menit kemudian,
percakapanku dengan nenek selesai. beliau langsung menghilang seperti debu yang
ditelan angin. Sedangkan aku dibuat sedikit syok dengan pemandangan tadi. Aku
segera kembali ke tempat Dimas. Kami pun langsung pergi dari area taman sebelum
ada nenek-nenek lain yang muncul. Sepuluh menit kemudian aku dan Dimas sudah
sampai di rumah.
##@@##
Aku kembali ke rutinitas.
Menjauh dari kenyataan dan sibuk sendiri di pojok kamar. Musik kusetel dalam
volume nyaring. Menghilangkan segala jenis kesepian yang bisa saja tiba-tiba
masuk di celah-celah suara. Di hadapanku telah terbuka buku merah peninggalan
kakek yang kutemukan dalam lemari tua. Buku yang mencurigakan ini membuatku
bertanya-tanya tentang banyak hal. Perlahan kubuka halaman demi halaman.
Halaman 1
“Dunia bernar-benar akan menjadi berbeda. Sikap
toleransi sekaligus dengki akan semakin meningkat. Sayangnya, toleransi di sini
adalah toleransi terhadap kesalahan. Banyak kalangan millenial yang nanti akan
terjebak dalam dosa kecil secara terus menerus. Bahkan para orang tua tidak
sadar bahwa mereka juga telah ikut andil di dalamnya”
Aku berusaha memahami pasal ini sambil mengerutkan dahi. Minuman yang
dari tadi menemani perlahan-lahan habis.
Halaman 2
“Minoritas akan kalah dengan mayoritas. Ketika
kejahatan sudah merajalela, maka tinggal menunggu saatnya Tuhan menghancurkan
semesta dan segala isinya. Tak peduli kalangan bawah, menengah, bahkan atas
sekalipun. Semuanya akan habis bersama kefanaan yang lain. Begitu pula dalam sosial.
Cucuku yang mempunyai perbedaan tentu akan mengalami kehidupan yang berbeda
dari yang biasa. Dalam dirinya terjangkit sebuah penyakit yang diwariskan oleh
neneknya. Kesembuhan itu akan terjadi ketika seseorang itu datang”
Halaman 3
“Seseorang itu adalah perempuan berkacamata senja yang
setiap hari memungut harapan di bibir pantai. Di lehernya terdapat sebuah
kalung peninggalan sunan kalijaga yang mampu menyembuhkan segala macam
penyakit. Mulai dari penyakit jasmani hingga rohani. Tidak hanya itu, perempuan
itu juga nantinya yang harus menjadi pendamping hidup jika ingin hidupnya
bahagia”
Aku tersentak. Rupanya
benar, semua ini adalah sebuah titipan dari nenek yang entah tak bisa kupahami
sepenuhnya. Begitu banyak tanda tanya yang harus dipecahkan. Aku bingung harus
ke mana. Sedangkan malam semakin kejam dengan mengeluarkan hantu-hantunya dari
penjara terkutuk.
Setelah berpikir kemana-mana
tak tentu arah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Pergi dari dunia lain yang
mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang tak bisa
dijelaskan dengan kata-kata. Semuanya masih dikemas rapi dalam sebuah rahasia.
Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku bisa bermimpi.
##@@##
Hari yang baru. Dalam mimpi
semalam, aku menemukan perempuan itu. Perempuan yang setiap hari memungut
harapan di bibir pantai. Cantik parasnya, putih kulitnya, anggun senyumnya, dan
masih banyak lagi keindahan dari sorot matanya. Dia berlari-berlari sambil
membawa botol berisi minuman keras yang tinggal sedikit. Tampaknya dia memang suka
mabuk.
Kudekati perempuan itu.
Mencoba berkenalan dengan cara yang baik dan santun. Tapi sayang semuanya
sia-sia. Perempuan itu malah berlari kencang seperti orang gila selepas aku
memperkenalkan diri. Keanggunan itu pun lenyap seketika. Dia seperti kesurupan
tujuh jin yang masuk berbarengan ke dalam jiwanya. Dengan sekuat tenaga kuikuti
dia dari belakang.
Sampai pada sebuah pohon,
perempuan itu berhenti sambil melepaskan kalung yang ada di lehernya. Dia
berdiri di bibir pantai, memandangi gelombang, dan menutup mata seolah sedang
melakukan sebuah ritual panjang. Tangan kanannya terkepal menggenggam kalung
itu. Dan aku hanya bisa mengintipnya dari belakang.
Gelombang pertama datang,
perempuan itu mengangkat tangan kanannya. Gelombang kedua datang, perempuan itu
kembali mengangkat tangan kanannya. Dilakukannya gerakan itu sampai tujuh kali
berturut-turut. Aku semakin bingung dengan semua keadaan ini.
Tepat pada putaran ke tujuh,
perempuan itu membuang kalung itu tepat di mulut ikan paus. Sedangkan perempuan
itu menenggelamkan dirinya dalam laut. Aku yakin ini bukan sebuah kebetulan,
tapi adalah jawaban dari sebuah permasalahan. Jawaban yang semakin membuatku
bingung harus bagaimana. Anehnya, mipi ini terasa begitu nyata bagiku.
##@@##
Aku terbangun dalam keadaan
berkeringat. Kucoba mengingat-ingat kembali mimpi semalam. Tapi sayang tidak
bisa. Sebentar lagi adzan shubuh berkumandang. Aku pergi ke kamar mandi
mengambil air wudhu, kemudian sholat, dan mengadukan semuanya pada Tuhan.
Pagi ini lebih bersinar dari
kemarin. Kehidupan nyata akhirnya berhasil kumasuki setalah melalui alur yang
aneh dan menakutkan. Sekarang aku sudah bisa berbicara secara baik dengan orang
lain, dianggap keberadaannya oleh teman-teman, dan tentu lebih dicintai oleh
orang tua dan kerabat dekat lainnya.

2 komentar:
Dari cerita yang lain... Menurutku cerita ini lebih mengalir.. aku suka alurnya yang abstrak.. semangat kak kholiiil ��
terima kasih kakak..
boleh dong sharing-sharing terkait kepenulisan
Posting Komentar