Kamis, 06 Februari 2020

SIAPAKAH AKU?


Setiap hari aku tidak bisa menemukan kehidupan nyata di depan mata. Angka-angka beterbangan memenuhi segala ruang: lemari, meja, bawah kasur, hingga tempat sepatu yang tak pernah mendapatkan perhatian. Semuanya memberikan tanda tanya sekaligus efek magis yang harus dipecahkan oleh para ilmuan. Dan aku terjebak di sana.

Pagi hari selalu saja seperti itu. Orang-orang selalu berhasil menemukan keindahan sunrise yang memantulkan cahaya kebaikan di setiap biasnya. Menghirup udara segar dan sejuk yang tak bisa ditukar dengan harga semahal apapun. Memandangi gunung yang menjulang, laut yang terbentang, dan menikmati kenangan yang terus melekat dalam kening. Sungguh indah rasanya.
Tampak para pedagang pergi ke pasar, para petani pergi ke sawah, dan para siswa pergi ke sekolah untuk menngambil hikmah dari setiap ilmu yang memancarkan anugerah. Sedangkan aku selalu saja di sini. Di dalam pikiranku sendiri. Membaca rumus semesta dan menafsirkannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang aku menjelma malaikat, dan terkadang aku menjelma setan yang terkutuk.
Baiklah, mungkin aku memang ditakdirkan hidup di dunia berbeda yang jauh dari akal pikiran serta bebas dari batas. Meski tidak mempunya teman pasti, tapi di sini aku bisa lebih banyak mengerti bahwa hidup hanya sebatas huru-hara, bahwa yang keji akan dicaci, bahwa yang terpuji akan menjadi tinggi, dan bahwa cinta tak pernah mengenal kata sengsara.
Di sini, aku banyak belajar merangkum waktu menjadi gumpalan kehidupan yang takkan pernah akan kembali lagi. Menelaah satu persatu kebijakan pemerintah yang kadang membuat rakyat bawah gelisah. Kemudian menyuarakannya lewat kata-kata yang tak pernah berhenti lahir dari rahim penyair. Semoga saja semua ini bisa dipahami.
Dimas yang secara resmi menjadi teman baikku selalu mengingatkanku untuk berubah. Membuka mata kepada orang lain yang tak pernah mau mengerti keadaanku. Tapi jujur aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah terlalu nyaman di sini. Bermain bersama diri sendiri yang harus dipaksa menjadi dua, tiga, bahkan banyak orang dengan berbagai jenis karakter.
Bila tiba waktu bosan, aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk menurunkan hujan sekaligus pelangi yang membentang antara harapan dan kenangan. Dengan begitu, aku bisa bertemu dengan bidadari kayangan yang turun bersama rintik suci dan sedikit bercengkerama dengannya. Karena sejak dulu, aku memang sangat penasaran dengan kehidupan di sana.
“Selamat sore,” bidadari berselendang hijau menyapa.
Dari ketujuh bidadari yang turun, yang berselendang hijau adalah yang paling cantik menurutku. Meski semuanya cantik, tapi mataku dapat dengan teliti mengklasifikasikan tingkatan kecantikan seorang bidadari. Rasa gugup spontan memenuhi dada. Sebab kecantikan bidadari memang tidak bisa diukur dengan nalar dan kata-kata.
“Selamat sore juga,” gugup semakin menjadi-jadi.
Mereka sedang mandi di sungai sebagaimana cerita yang sudah sering didengar. Tapi sayang tidak ada adegan pencurian selendang saat ini. Hanya sebatas saling sapa dan bertukar pandang yang kadang menumbuhkan pohon kerinduan dalam lubuk hati paling dalam. Semoga saja itu tidak terjadi.
##@@##
Tuhan, aku sangat yakin Engkau mendengar jeritan ini meski sangat pelan di antara bising  sepeda dan deru mobil mewah. Telah banyak kuhabiskan air mata, jerih payah, dan darah yang mungkin sebentar lagi akan tumpah. Aku mohon berikan hambamu ini jalan. Jalan menuju kehidupan nyata yang sampai saat ini masih terhalang tembok besar.
Gambar-gambar di kamar selalu memberiku motivasi untuk tetap terus hidup. Padang savana, lautan, pegunungan, hingga langit ke delapan yang kuciptakan dari pikiranku sendiri. Ah, entahlah, sepetinya aku sudah terlalu jauh berjalan. Hingga aku tak sempat memperhatikan gerimis yang sebentar lagi akan reda, api yang sebentar lagi akan mati, dan harapan yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Semuanya masih terasa asing bagiku.
Buku-buku di rak lemari selalu mengajariku ilmu yang tak pernah disampaikan oleh guru-guru. Sebab aku pasti membeli buku yang tak sesuai dengan mata pelajaran. Baik itu fiksi, non fiksi, maupun buku yang masih tidak memiliki jenis. Ya, aku memang selalu menyukai perbedaan. Oleh sebab itu aku selalu berbeda dari yang lain.
Setiap hari minggu, Dimas pasti datang ke rumah dengan membawa berita baru. Berita tentang teman-teman, kenangan, maupun cinta yang sebentar lagi akan membuahkan kebersamaan. Di antara banyak berita itu, aku sangat suka berita tentang cinta. Sebuah rasa yang timbul tanpa alasan tapi selalu saja bisa dipertanggung jawabkan. Di dalamnya banyak orang yang menjadi besar.
Setelah itu, dia pasti mengajakku pergi ke sebuah taman berbunga luka. Di sekitarnya terdengar jeritan seorang kekasih yang masih tidak mau ditinggal pergi. Nama-nama terpampang jelas dan rapi dalam goresan batu nisan. Di sana kami hanya duduk mengamati pemandangan sekitar. Menghisap rokok hasil curian dari bapak yang tak pernah memperhatikan berapa jumlah rokoknya.
“Gimana?” Dimas bertanya sambil mengerluarkan asap.
“Ya, aku sudah bisa merasakannya,” aku melihat bayang-bayang nenek bangun.
“Kalau begitu lakukanlah!”
Aku pun beranjak dan pergi ke tempat peristirahatan nenek. Perempuan yang tak sempat kulihat wajahnya. Perempuan yang katanya dengan gagah berani melawan rakyat belanda dengan tangan kosong. Tidak hanya itu, beliau juga mampu menerawang masa depan layaknya dukun yang selalu bergelut dengan dupa.
Aku mendekat. Bau kematian terasa hangat di hidungku. Sedangkan suasana hampir gelap dan matahari sebentar lagi akan tenggelam dalam pangkuan Tuhan. Matanya laksana cahaya yang menerangi jalan orang pencari kebenaran. Dan di sini aku adalah salah satu kebohongan yang pernah ada. Dari persekutuan cinta yang sangat rumit dan membingungkan.
Sekitar lima menit kemudian, percakapanku dengan nenek selesai. beliau langsung menghilang seperti debu yang ditelan angin. Sedangkan aku dibuat sedikit syok dengan pemandangan tadi. Aku segera kembali ke tempat Dimas. Kami pun langsung pergi dari area taman sebelum ada nenek-nenek lain yang muncul. Sepuluh menit kemudian aku dan Dimas sudah sampai di rumah.
##@@##
Aku kembali ke rutinitas. Menjauh dari kenyataan dan sibuk sendiri di pojok kamar. Musik kusetel dalam volume nyaring. Menghilangkan segala jenis kesepian yang bisa saja tiba-tiba masuk di celah-celah suara. Di hadapanku telah terbuka buku merah peninggalan kakek yang kutemukan dalam lemari tua. Buku yang mencurigakan ini membuatku bertanya-tanya tentang banyak hal. Perlahan kubuka halaman demi halaman.
Halaman 1
“Dunia bernar-benar akan menjadi berbeda. Sikap toleransi sekaligus dengki akan semakin meningkat. Sayangnya, toleransi di sini adalah toleransi terhadap kesalahan. Banyak kalangan millenial yang nanti akan terjebak dalam dosa kecil secara terus menerus. Bahkan para orang tua tidak sadar bahwa mereka juga telah ikut andil di dalamnya”

Aku berusaha memahami pasal ini sambil mengerutkan dahi. Minuman yang dari tadi menemani perlahan-lahan habis.

Halaman 2
“Minoritas akan kalah dengan mayoritas. Ketika kejahatan sudah merajalela, maka tinggal menunggu saatnya Tuhan menghancurkan semesta dan segala isinya. Tak peduli kalangan bawah, menengah, bahkan atas sekalipun. Semuanya akan habis bersama kefanaan yang lain. Begitu pula dalam sosial. Cucuku yang mempunyai perbedaan tentu akan mengalami kehidupan yang berbeda dari yang biasa. Dalam dirinya terjangkit sebuah penyakit yang diwariskan oleh neneknya. Kesembuhan itu akan terjadi ketika seseorang itu datang”

Halaman 3
“Seseorang itu adalah perempuan berkacamata senja yang setiap hari memungut harapan di bibir pantai. Di lehernya terdapat sebuah kalung peninggalan sunan kalijaga yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Mulai dari penyakit jasmani hingga rohani. Tidak hanya itu, perempuan itu juga nantinya yang harus menjadi pendamping hidup jika ingin hidupnya bahagia”

Aku tersentak. Rupanya benar, semua ini adalah sebuah titipan dari nenek yang entah tak bisa kupahami sepenuhnya. Begitu banyak tanda tanya yang harus dipecahkan. Aku bingung harus ke mana. Sedangkan malam semakin kejam dengan mengeluarkan hantu-hantunya dari penjara terkutuk.
Setelah berpikir kemana-mana tak tentu arah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Pergi dari dunia lain yang mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semuanya masih dikemas rapi dalam sebuah rahasia.
Terima kasih Tuhan. Akhirnya aku bisa bermimpi.
##@@##
Hari yang baru. Dalam mimpi semalam, aku menemukan perempuan itu. Perempuan yang setiap hari memungut harapan di bibir pantai. Cantik parasnya, putih kulitnya, anggun senyumnya, dan masih banyak lagi keindahan dari sorot matanya. Dia berlari-berlari sambil membawa botol berisi minuman keras yang tinggal sedikit. Tampaknya dia memang suka mabuk.
Kudekati perempuan itu. Mencoba berkenalan dengan cara yang baik dan santun. Tapi sayang semuanya sia-sia. Perempuan itu malah berlari kencang seperti orang gila selepas aku memperkenalkan diri. Keanggunan itu pun lenyap seketika. Dia seperti kesurupan tujuh jin yang masuk berbarengan ke dalam jiwanya. Dengan sekuat tenaga kuikuti dia dari belakang.
Sampai pada sebuah pohon, perempuan itu berhenti sambil melepaskan kalung yang ada di lehernya. Dia berdiri di bibir pantai, memandangi gelombang, dan menutup mata seolah sedang melakukan sebuah ritual panjang. Tangan kanannya terkepal menggenggam kalung itu. Dan aku hanya bisa mengintipnya dari belakang.
Gelombang pertama datang, perempuan itu mengangkat tangan kanannya. Gelombang kedua datang, perempuan itu kembali mengangkat tangan kanannya. Dilakukannya gerakan itu sampai tujuh kali berturut-turut. Aku semakin bingung dengan semua keadaan ini.
Tepat pada putaran ke tujuh, perempuan itu membuang kalung itu tepat di mulut ikan paus. Sedangkan perempuan itu menenggelamkan dirinya dalam laut. Aku yakin ini bukan sebuah kebetulan, tapi adalah jawaban dari sebuah permasalahan. Jawaban yang semakin membuatku bingung harus bagaimana. Anehnya, mipi ini terasa begitu nyata bagiku.
##@@##
Aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Kucoba mengingat-ingat kembali mimpi semalam. Tapi sayang tidak bisa. Sebentar lagi adzan shubuh berkumandang. Aku pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu, kemudian sholat, dan mengadukan semuanya pada Tuhan.
Pagi ini lebih bersinar dari kemarin. Kehidupan nyata akhirnya berhasil kumasuki setalah melalui alur yang aneh dan menakutkan. Sekarang aku sudah bisa berbicara secara baik dengan orang lain, dianggap keberadaannya oleh teman-teman, dan tentu lebih dicintai oleh orang tua dan kerabat dekat lainnya.

2 komentar:

Milk Qish mengatakan...

Dari cerita yang lain... Menurutku cerita ini lebih mengalir.. aku suka alurnya yang abstrak.. semangat kak kholiiil ��

M. Kholilur Rohman mengatakan...

terima kasih kakak..

boleh dong sharing-sharing terkait kepenulisan