Setiap
malam Arin selalu didatangi ketakutan. Hal itu bermula sejak kematian neneknya
yang sudah dapat tujuh hari. Padahal sebelumnya, Arin dikenal sebagai perempuan
pemberani meski disuruh berjalan sendiri di tengah malam dengan jarak yang
sangat jauh.
“Yang sabar ya Nak,” salah satu tetangga menguatkan
Arin saat itu.
Kata-kata itu sering datang ke telinga Arin selepas
jasad neneknya sudah dipeluk tanah.
Sebagai
cucu satu-satunya, Arin masih ingat betul bagaimana dulu ia sering bergurau
dengan neneknya. Tak peduli meski selisih umur yang sangat jauh, tapi
nenek-cucu itu seolah teman akrab yang bisa mengerti satu sama lain.
Biasanya,
setiap malam nenek akan menceritakan banyak hal kepada Arin. Mulai dari
pangeran dari negeri mekkah yang mencari kekasihnya, si kancil yang suka
mencuri, hingga daun-daun yang jatuh selalu tabah menerima takdir. Entah cerita
itu benar-benar terjadi atau hanya dibuat-buat, yang jelas Arin sangat
menikmati cerita nenek.
Dari
saking dekatnya dengan nenek, Arin lebih sering tidur dengan nenek ketimbang
ibunya. Padahal kamar nenek sangat sempit jika ditempati lebih dari satu orang.
Ditambah lagi suasana pengap yang membuat tidur tidak enak, tapi Arin malah
bisa tidur nyenyak di sana.
Ibu
Arin yang hanya bekerja sebagai penjual nasi pecel tak bisa melarang Arin untuk
terus dengan neneknya. Meski kadang terbersit rasa iri dalam hati. Sebagai
seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, membimbingnya berjalan, dan
mengajarinya banyak hal, tentu akan tersa sakit bila diduakan dengan neneknya.
Tak
jarang Arin menolak permintaan ibunya untuk tidur bersama. Alasannya adalah
karena tidur bersama nenek lebih enak dan lebih menyenangkan. Sungguh sesuatu
yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi Ibu Arin berusaha berskiap baik-baik
saja, meski jauh di dalam hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di
suatu sore, Ibu Arin memutuskan untuk tidak berjualan untuk keperluan suatu
hal. Keperluan yang sebenarnya cukup aneh tapi sangat penting untuk diketahui.
Dia akan pergi ke orang pintar untuk menanyakan beberapa hal terkait fenomena
dia, anak, kemudian nenek. Sebab menjadi tidak wajar apabila anak lebih sayang
kepada neneknya dibanding ibunya. Apalagi usia Arin yang masih belum sepenuhnya
dewasa.
Rumah
orang pintar (Ki Japrak) lumayan jauh dari desa Ibu Arin. Menurut cerita, jika
ingin datang dan bertanya sesuatu pada Ki Japrak, maka syarat utamanaya adalah
harus jalan kaki dari tempat tinggal menuju rumah beliau. Tak peduli jaraknya
puluhan,ratusan, bahkan ribuan kilo meter. Semuanya tetap sama.
Sebelum
berangkat, Arin seperti biasa mencium tangan ibunya dengan penuh ta’dzim.
Kemudian mencium tangan neneknya ditambah cium pipi kanan dan cium pipi kiri.
Beberapa pesan disampaikan oleh nenek. Terakhir Arin berangkat ke sekolah
bersama teman-teman.
Setelah
itu, nenek akan pergi ke kamarnya emudian mengunci dari dalam. Ibu Arin tidak
tahu apa yang sedang dilakukannya. Setiap kali Ibu Arin mengajak duduk bersama
dan berbicara, ada saja alasan untuk menolak. Terkadang ngantuk, kadang pusing,
dan kadang marah-marah sendiri tidak jelas.
Malam
harinya, keluarga kecil itu seperti biasa makan bersama di meja tua yang sudah
berumur puluhan tahun. Bukan karena tidak mau mengganyi meja, tapi memang
mereka kekurangan dana untuk membeli perlengkapan baru. Jangankan perlengkapan
baru, biaya sekolah Arin saja masih sering cari utangan ke tetangga.
“Bagaimana sekolahmu nduk?” Nenek bertanya pelan.
“Alhamdulillah lancar nek,” Arin menjawab dengan
sangat antusias.
Pertanyaan itu diulang setiap malam oleh
nenek. Ibu Arin yang mendengar itu sampai muak seperti tidak ada pertanyaan
lain yang bisa dilontarkan. Anehnya Arin selalu menjawabnya dengan riang
gembira kemudian berlanjut pada pembahasan yang lain.
Sedangkan
Ibu Arin lebih banyak diam mendengarkan dua orang di sampingnya berbicara puas.
Jika seandainya bukan dirinya yang bersiasat untuk bicara, niscaya dia tidak
akan diajak bicara oleh Arin dan nenek. Sungguh sesuatu yang sangat ganjal bagi
sebuah keluarga masa kini.
“Ibu besok kayaknya tidak jualan,” Ibu Arin angkat
bicara saat keduanya diam.
Tidak ada yang menjawab antara Arin dan nenek. Haya
suara jangkrik yang menyaut pernyataan dari ibu tadi. Hingga beberapa suapan
kemudian nenek menyambung pernyataan Ibu Arin.
“Kenapa?” mata nenek seperti sedang curiga.
Ibu
Arin hanya menggeleng. Ia tidak mau rencananya diketahui oleh dua orang yang
telah membuatnya asing di rumah sendiri. Jika mereka tahu, tentu akan
menggagalkan rencana yang telah disusun dengan matang. Makan malam berakhir
dengan ucapan “Selamat tidur” dari Arin. Entah untuk siapa. Yang jelas bukan
untuk Ibunya.
Di
dalam kamar, Arin tidur di sebelah nenek sambil memeluk pinggangnya yang sudah
kurus. Nenek seperti biasa menggunakan pakaian yang sedikit terbuka yang biasa
digunakan sehari-hari di rumah. Sedangkan Arin sudah siap tidur dengan baju
tidurnya.
Sedangkan
di kamar sebelah, Ibu Arin hanya menahan tangis yang entah mengapa datang
tiba-tiba tanpa aba-aba. Keharmonisan Arin dengan neneknya sangat dekat membuat
hati tidak terima sebagai ibu kandung. Seharusnya dia yang paling dekat dengan
Arin, baru kemudian neneknya. Tapi sayang kenyataan berbicara lain.
Kamar
Ibu Arin lumayan besar. Itu karena memang pilihan dirinya saat menikah dengan
Satram yang sekarang hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi yang bisa dipeluk
selain guling dan boneka. Andai saja Arin ada di sisinya, mungkin suasana akan
teras berbeda. Lebih nikmat, lebih hangat, dan lebih nayaman.
“Kisah malam ini tentang sepasang kekasih yang
menjalin cinta tanpa restu orang tua,” nenek Arin membenarkan letak
berbaringnya.
Arin
hanya tersenyum, dari beberapa cerita kemarin, batu dan daun saja bisa menjadi
cerita yang menarik. Apalagi ada cinta-cintanya, pastinya akan lebih seru. Arin
memjamkan mata dan melebarkan telinga. Bersiap menerima apa yang akan
disampaikan oleh nenek. Dirinya seperti mempunyai mesin cerita yang bisa
dipesan cerita apa yang dipesan.
##@@##
Ibu Arin menyiapkan semuanya. Mulai dari bekal
perjalanan, uang, dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi nanti. Nenek Arin
yang menyaksikan itu merasa janggal dengan perlakuan anaknya. Seperti orang
yang mau pindh rumah saja.
“Mau kemana?” suara nenek mengagetkan Ibu Arin.
“Oh, ini ada urusan sebentar,” Ibu Arin sedikit
tergagap.
Untungnya,
nenek Arin tak terlalu kepo dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan anaknya.
Nenek pun berlalu menuju kamarnya.
Perjalanan
di mulai. Ibu Arin harus melalui hutan yang lumayan besar untuk sampai di sana.
Beberapa hewan melata menatap Ibu Arin dengn tatapan aneh. Semoga saja mereka
tidak sedang kelaparan.
Satu
jam perjalanan akhirnya selesai. Ibu Arin telah sampai di lokasi. Di hadapannya
telah duduk bersila Ki Japrak. Seketika Ki Japrak menjelaskan pokok
permasalahan.
“Jadi di mata Arin nenek itu adalah kamu, dan kamu adalah nenek,” Ki Japrak menaburkan bunga-bunga.
Setelah
paham dengan semua pokok permasalahan, Ibu Arin memutuskan untuk mengembalikan
semuanya pada keadaan semula. Resikonya, sang nenek kemungkinan besar akan
meninggal dunia dan Arin akan mengalami kelainan.
Dengan
biaya yang telah ditentukan, Ibu Arin akhirnya mengambil jalan itu. Jalan yang
akan mengubah segalanya.
##@@##
Seminggu
kemudian. Nenek ditemukan meninggal di dalam kamar dalam keadaan mata terbuka.
Sungguh mengerikan. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan di sana. Beberapa polisi
berusaha mempelajari apa yang baru saja terjadi. Tapi sayang gagal.
Sejak
saat itu, penglihatan Arin kembali normal. Dan saat itu pula, ia merasakan
ketakutan sepanjang malam akibat sering didatangi oleh sang nenek. Seolah ia
mau mengajaknya pergi entah ke mana.

2 komentar:
Menarik mas. Saran saya cuma perlu dibaca ulang, krn ada yg saltik. Hehe. Tp secara cerita oke. Jarang2 ada yg angkat tentang mistik2an. Hehe.
siap mas.. terima kasih atas masukannya
Posting Komentar