Selasa, 11 Februari 2020

KEMBALI YANG MENAKUTKAN



Setiap malam Arin selalu didatangi ketakutan. Hal itu bermula sejak kematian neneknya yang sudah dapat tujuh hari. Padahal sebelumnya, Arin dikenal sebagai perempuan pemberani meski disuruh berjalan sendiri di tengah malam dengan jarak yang sangat jauh.
“Yang sabar ya Nak,” salah satu tetangga menguatkan Arin saat itu.
Kata-kata itu sering datang ke telinga Arin selepas jasad neneknya sudah dipeluk tanah.
Sebagai cucu satu-satunya, Arin masih ingat betul bagaimana dulu ia sering bergurau dengan neneknya. Tak peduli meski selisih umur yang sangat jauh, tapi nenek-cucu itu seolah teman akrab yang bisa mengerti satu sama lain.
Biasanya, setiap malam nenek akan menceritakan banyak hal kepada Arin. Mulai dari pangeran dari negeri mekkah yang mencari kekasihnya, si kancil yang suka mencuri, hingga daun-daun yang jatuh selalu tabah menerima takdir. Entah cerita itu benar-benar terjadi atau hanya dibuat-buat, yang jelas Arin sangat menikmati cerita nenek.
Dari saking dekatnya dengan nenek, Arin lebih sering tidur dengan nenek ketimbang ibunya. Padahal kamar nenek sangat sempit jika ditempati lebih dari satu orang. Ditambah lagi suasana pengap yang membuat tidur tidak enak, tapi Arin malah bisa tidur nyenyak di sana.
Ibu Arin yang hanya bekerja sebagai penjual nasi pecel tak bisa melarang Arin untuk terus dengan neneknya. Meski kadang terbersit rasa iri dalam hati. Sebagai seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, membimbingnya berjalan, dan mengajarinya banyak hal, tentu akan tersa sakit bila diduakan dengan neneknya.
Tak jarang Arin menolak permintaan ibunya untuk tidur bersama. Alasannya adalah karena tidur bersama nenek lebih enak dan lebih menyenangkan. Sungguh sesuatu yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi Ibu Arin berusaha berskiap baik-baik saja, meski jauh di dalam hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di suatu sore, Ibu Arin memutuskan untuk tidak berjualan untuk keperluan suatu hal. Keperluan yang sebenarnya cukup aneh tapi sangat penting untuk diketahui. Dia akan pergi ke orang pintar untuk menanyakan beberapa hal terkait fenomena dia, anak, kemudian nenek. Sebab menjadi tidak wajar apabila anak lebih sayang kepada neneknya dibanding ibunya. Apalagi usia Arin yang masih belum sepenuhnya dewasa.
Rumah orang pintar (Ki Japrak) lumayan jauh dari desa Ibu Arin. Menurut cerita, jika ingin datang dan bertanya sesuatu pada Ki Japrak, maka syarat utamanaya adalah harus jalan kaki dari tempat tinggal menuju rumah beliau. Tak peduli jaraknya puluhan,ratusan, bahkan ribuan kilo meter. Semuanya tetap sama.
Sebelum berangkat, Arin seperti biasa mencium tangan ibunya dengan penuh ta’dzim. Kemudian mencium tangan neneknya ditambah cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Beberapa pesan disampaikan oleh nenek. Terakhir Arin berangkat ke sekolah bersama teman-teman.
Setelah itu, nenek akan pergi ke kamarnya emudian mengunci dari dalam. Ibu Arin tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Setiap kali Ibu Arin mengajak duduk bersama dan berbicara, ada saja alasan untuk menolak. Terkadang ngantuk, kadang pusing, dan kadang marah-marah sendiri tidak jelas.
Malam harinya, keluarga kecil itu seperti biasa makan bersama di meja tua yang sudah berumur puluhan tahun. Bukan karena tidak mau mengganyi meja, tapi memang mereka kekurangan dana untuk membeli perlengkapan baru. Jangankan perlengkapan baru, biaya sekolah Arin saja masih sering cari utangan ke tetangga.
“Bagaimana sekolahmu nduk?” Nenek bertanya pelan.
“Alhamdulillah lancar nek,” Arin menjawab dengan sangat antusias.
 Pertanyaan itu diulang setiap malam oleh nenek. Ibu Arin yang mendengar itu sampai muak seperti tidak ada pertanyaan lain yang bisa dilontarkan. Anehnya Arin selalu menjawabnya dengan riang gembira kemudian berlanjut pada pembahasan yang lain.
Sedangkan Ibu Arin lebih banyak diam mendengarkan dua orang di sampingnya berbicara puas. Jika seandainya bukan dirinya yang bersiasat untuk bicara, niscaya dia tidak akan diajak bicara oleh Arin dan nenek. Sungguh sesuatu yang sangat ganjal bagi sebuah keluarga masa kini.
“Ibu besok kayaknya tidak jualan,” Ibu Arin angkat bicara saat keduanya diam.
Tidak ada yang menjawab antara Arin dan nenek. Haya suara jangkrik yang menyaut pernyataan dari ibu tadi. Hingga beberapa suapan kemudian nenek menyambung pernyataan Ibu Arin.
“Kenapa?” mata nenek seperti sedang curiga.
Ibu Arin hanya menggeleng. Ia tidak mau rencananya diketahui oleh dua orang yang telah membuatnya asing di rumah sendiri. Jika mereka tahu, tentu akan menggagalkan rencana yang telah disusun dengan matang. Makan malam berakhir dengan ucapan “Selamat tidur” dari Arin. Entah untuk siapa. Yang jelas bukan untuk Ibunya.
Di dalam kamar, Arin tidur di sebelah nenek sambil memeluk pinggangnya yang sudah kurus. Nenek seperti biasa menggunakan pakaian yang sedikit terbuka yang biasa digunakan sehari-hari di rumah. Sedangkan Arin sudah siap tidur dengan baju tidurnya.
Sedangkan di kamar sebelah, Ibu Arin hanya menahan tangis yang entah mengapa datang tiba-tiba tanpa aba-aba. Keharmonisan Arin dengan neneknya sangat dekat membuat hati tidak terima sebagai ibu kandung. Seharusnya dia yang paling dekat dengan Arin, baru kemudian neneknya. Tapi sayang kenyataan berbicara lain.
Kamar Ibu Arin lumayan besar. Itu karena memang pilihan dirinya saat menikah dengan Satram yang sekarang hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi yang bisa dipeluk selain guling dan boneka. Andai saja Arin ada di sisinya, mungkin suasana akan teras berbeda. Lebih nikmat, lebih hangat, dan lebih nayaman.
“Kisah malam ini tentang sepasang kekasih yang menjalin cinta tanpa restu orang tua,” nenek Arin membenarkan letak berbaringnya.
Arin hanya tersenyum, dari beberapa cerita kemarin, batu dan daun saja bisa menjadi cerita yang menarik. Apalagi ada cinta-cintanya, pastinya akan lebih seru. Arin memjamkan mata dan melebarkan telinga. Bersiap menerima apa yang akan disampaikan oleh nenek. Dirinya seperti mempunyai mesin cerita yang bisa dipesan cerita apa yang dipesan.
##@@##
 Ibu Arin menyiapkan semuanya. Mulai dari bekal perjalanan, uang, dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi nanti. Nenek Arin yang menyaksikan itu merasa janggal dengan perlakuan anaknya. Seperti orang yang mau pindh rumah saja.
“Mau kemana?” suara nenek mengagetkan Ibu Arin.
“Oh, ini ada urusan sebentar,” Ibu Arin sedikit tergagap.
Untungnya, nenek Arin tak terlalu kepo dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan anaknya. Nenek pun berlalu menuju kamarnya.
Perjalanan di mulai. Ibu Arin harus melalui hutan yang lumayan besar untuk sampai di sana. Beberapa hewan melata menatap Ibu Arin dengn tatapan aneh. Semoga saja mereka tidak sedang kelaparan.
Satu jam perjalanan akhirnya selesai. Ibu Arin telah sampai di lokasi. Di hadapannya telah duduk bersila Ki Japrak. Seketika Ki Japrak menjelaskan pokok permasalahan.
“Jadi di mata Arin nenek itu adalah kamu, dan  kamu adalah nenek,” Ki Japrak menaburkan bunga-bunga.
Setelah paham dengan semua pokok permasalahan, Ibu Arin memutuskan untuk mengembalikan semuanya pada keadaan semula. Resikonya, sang nenek kemungkinan besar akan meninggal dunia dan Arin akan mengalami kelainan.
Dengan biaya yang telah ditentukan, Ibu Arin akhirnya mengambil jalan itu. Jalan yang akan mengubah segalanya.
##@@##
Seminggu kemudian. Nenek ditemukan meninggal di dalam kamar dalam keadaan mata terbuka. Sungguh mengerikan. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan di sana. Beberapa polisi berusaha mempelajari apa yang baru saja terjadi. Tapi sayang gagal.
Sejak saat itu, penglihatan Arin kembali normal. Dan saat itu pula, ia merasakan ketakutan sepanjang malam akibat sering didatangi oleh sang nenek. Seolah ia mau mengajaknya pergi entah ke mana.

2 komentar:

Deddy HuSein mengatakan...

Menarik mas. Saran saya cuma perlu dibaca ulang, krn ada yg saltik. Hehe. Tp secara cerita oke. Jarang2 ada yg angkat tentang mistik2an. Hehe.

M. Kholilur Rohman mengatakan...

siap mas.. terima kasih atas masukannya